• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

49 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengembangan Soal Model PISA

Pengembangan soal model PISA yang dilakukan mengacu pada model pengembangan soal dari Tessmer dalam Zulkardi dan Kohar (2018) yang meliputi langkah-langkah berikut :

1. Tahap Preliminary a. Analisis Kurikulum

Analisis ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kelas IX di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Kegiatan wawancara ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mengenai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Ibu Nila Anggriyani, S.Si selaku guru matematika SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto menjelaskan bahwa kurikulum yang digunakan selama pembelajaran adalah kurikulum 2013 revisi. Adapun metode mengajar selama pandemi disesuaikan dengan pembelajaran daring yaitu dengan aplikasi google classroom, google meet, dan video pembelajaran dengan penugasan melalui google form atau edulastic. Sumber belajar yang digunakan oleh siswa SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto menggunakan buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan buku media autentik yang bisa ditemui di toko buku.

Evaluasi pembelajaran biasa dilaksanakan setiap akhir kompetensi dasar, berupa pemberian soal atau tugas proyek. Bentuk soal yang biasa digunakan adalah pilihan ganda dan uraian dengan referensi soal berasal dari buku materi dan internet. Siswa sudah terbiasa untuk mengerjakan soal dengan uraian di masa pandemi sehingga bukan hal baru bagi siswa untuk menggunakan aplikasi-aplikasi di telepon selular untuk mengakses maupun mengirim jawaban pada soal. Bu Nila juga menjelaskan bahwa soal-soal yang dibuat untuk evaluasi belum banyak mengandung konteks

(2)

tertentu dan belum banyak menyisipkan soal berbentuk HOTS (High Order Thinking Skills).

Selain menggali mengenai kondisi pembelajaran di sekolah, peneliti juga mengidentifikasi materi pembelajaran yang telah selesai diajarkan oleh guru sejak kelas VII hingga kelas IX tengah semester awal sebagai pembanding bagi materi soal model PISA yang dikembangkan.

Berikut jabaran materi yang sudah diajarkan di sekolah dan jabaran kaitan materi dengan konten dalam PISA.

1) Materi di Sekolah

a) Kelas VII dan Kelas VIII

Pada materi kelas VII terdapat materi Bilangan, Himpunan, Bentuk Aljabar, Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel, Perbandingan, Aritmatika Sosial, Garis dan Sudut, Segiempat dan Segitiga, dan Penyajian Data. Materi kelas VIII mencakup materi Pola Bilangan, Bidang Kartesius, Relasi dan Fungsi, Persamaan Garis Lurus, Persamaan Linear Dua Variabel, Teorema Pytagoras, Lingkaran, Bangun Ruang Sisi Datar, Statistika, dan Peluang.

b) Materi Kelas IX

Batasan materi yang menjadi bahan desain soal adalah materi tengah semester gasal kelas IX sesuai dengan yang telah diajarkan di sekolah. Materi tersebut diantaranya Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar, dan Persamaan Kuadrat.

2) Kaitan Materi di Sekolah dengan Konten PISA

Materi-materi di sekolah sangat berkaitan erat dengan konten yang ada dalam PISA. Beberapa materi yang sesuai dengan konten yang ada dalam PISA antara lain :

a) Change and Relationship (Perubahan dan Hubungan)

Salah satu ciri khusus konten perubahan dan hubungan adalah materi persamaan, pertidaksamaan, aljabar, dan

(3)

perbandingan. Maka materi yang termasuk ke dalam konten ini adalah bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, perbandingan, aritmatika sosial, relasi dan fungsi, persamaan linear dua variabel, dan persamaan kuadrat.

b) Quantity (Bilangan)

Konten ini berhubungan dengan operasi bilangan, menaksir suatu operasi hitung, pola bilangan, dan angka. Materi yang termasuk ke dalam konten ini adalah bilangan, himpunan, aritmatika sosial, bilangan berpangkat dan bentuk akar, dan pola bilangan.

a) Shape and Space (Bentuk dan Ruang)

Konten bentuk dan ruang berhubungan dengan materi geometri. Materi yang termasuk ke dalam konten ini adalah garis dan sudut, segiempat dan segitiga, bidang kartesius, persamaan garis lurus, teorema phytagoras, dan bangun ruang sisi datar.

b) Uncertainty and Data (Ketidakpastian dan Data)

Ciri khusus yang menandai konten ketidakpastian dan data adalah adanya materi statistika. Materi yang termasuk ke dalam konten ini adalah penyajian data,statistika, dan peluang

Desain soal tidak disusun berdasarkan kurikulum yang ada, tetapi hanya didasarkan pada konteks dan level sesuai dengan tujuan dan rumusan masalah penelitian sehingga peneliti hanya mengambil beberapa kompetensi dasar dari kurikulum 2013.

b. Analisis Siswa

Kegiatan analisis siswa difokuskan pada siswa kelas IX semester gasal SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto tahun pelajaran 2021/2022 sebagai subjek uji coba. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru didapati bahwa siswa kelas reguler memiliki kemampuan matematika yang lebih heterogen sehingga peneliti hanya mengambil subjek penelitian siswa kelas reguler.

(4)

berada di usia 14-15 tahun. Hal ini sesuai dengan tujuan PISA bahwa soal PISA bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun atau setara tingkat akhir pendidikan dasar.

c. Analisis Kondisi Sekolah

Analisis kondisi sekolah merupakan analisis tambahan guna mengetahui kegiatan-kegiatan siswa yang biasa dilakukan di sekolah.

Analisis ini digunakan untuk melihat keadaan sekolah sebagai bahan desain soal sehingga soal lebih kontekstual dengan kehidupan sekolah siswa sesuai dengan konteks yang ingin dituju oleh peneliti. Analisis kondisi sekolah dilakukan dengan melakukan wawancara guru matematika SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto yaitu Ibu Nila Anggriyani, S.Si dan melakukan dokumentasi di sekolah. Menurut Ibu Nila, sebelum pandemi Covid-19, siswa-siswi SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto memiliki banyak kegiatan. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya pramuka, tari saman, panggung hiburan di akhir semester, dan kegiatan lomba antar kelas. Kegiatan lain berupa pertukaran pelajar dan lomba tingkat internasional selalu terlaksana di setiap tahunnya.

Setiap kegiatan siswa dapat menjadi ide konteks untuk mendesain soal model PISA karena kegiatan-kegiatan tersebut sangat dekat dengan siswa. Hal tersebut juga diutarakan oleh Ibu Nila yang menganggap bahwa soal yang baik adalah soal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari dan memiliki konteks. Kegiatan dokumentasi dilaksanakan di sekitar area sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengambil foto area sekolah sebagai bahan soal. Peneliti hanya mengambil foto area sekolah dikarenakan ketika kegiatan survei ke sekolah, siswa belum melaksanakan pembelajaran tatap muka.

d. Analisis Literatur

Analisis literatur dilakukan dengan mencari referensi mengenai framework PISA, buku-buku matematika SMP, dan jurnal-jurnal terkait pengembangan soal model PISA terdahulu yang mendukung penyusunan

(5)

soal model PISA. Materi yang terdapat dalam soal model PISA disusun berdasarkan konteks dan konten sesuai tujuan penelitian dengan mengambil referensi berdasarkan soal-soal PISA terdahulu, soal-soal PISA yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya, dan berdasarkan buku-buku pelajaran yang memuat soal-soal PISA.

Aspek yang diukur dalam PISA antara lain aspek konten atau isi yang terdiri atas kuantitas (quantity), ruang dan bentuk (space and shape), perubahan dan hubungan (change and relationship), ketidakpastian dan data (uncertainty and data); aspek proses yang terdiri dari komponen proses reproduksi (reproduction cluster), komponen proses koneksi (connection cluster) dan komponen proses refleksi (reflection cluster);

aspek konteks atau situasi terdiri dari konteks pribadi, konteks pendidikan dan pekerjaan, konteks umum dan konteks keilmuan.

Adapun contoh-contoh soal yang digunakan sebagai acuan adalah contoh soal PISA tahun 2006, 2012, 2015, dan 2018. Contoh-contoh soal PISA ini diperoleh dari OECD (2019). Berikut analisis soal PISA yang menjadi acuan peneliti dalam mengembangkan soal model PISA level 4, 5, dan 6.

1) Contoh soal PISA level 4

Gambar 4.1. Contoh Soal PISA Level 4

(6)

Pada Gambar 4.1, soal PISA level 4 ini membahas mengenai pintu yang dapat berputar. Soal sejenis ini dimungkinkan hanya sedikit siswa yang memahami konteks soal tersebut karena masih sedikit tempat di Indonesia khususnya di Purwokerto yang memakai pintu berputar, sehingga diperlukan adanya penyesuaian konteks agar siswa dapat memahami soal tersebut.

2) Contoh soal PISA level 5

Gambar 4.2. Contoh soal PISA level 5

Sumber : OECD (2019)

Pada Gambar 4.2., soal PISA level 5 ini membahas mengenai pendakian gunung Fuji. Soal sejenis ini dimungkinkan akan membingungkan siswa, mengingat siswa setara SMP belum lazim melakukan kegiatan pendakian gunung. Selain itu, siswa juga tidak bisa memperkirakan dan membayangkan bentuk gunung Fuji karena

(7)

gunung tersebut tidak berada di kawasan Indonesia, sehingga diperlukan penyesuaian konteks agar siswa dapat memahami soal.

c) Contoh soal PISA level 6

Gambar 4.3. Contoh soal PISA level 6

Sumber : OECD (2019)

Pada Gambar 4.3, soal PISA membahas mengenai pekerjaan tukang kayu. Konteks dalam soal ini diperkirakan banyak siswa yang sudah memahami, namun bentuk soal kurang sesuai dengan tujuan peneliti. Peneliti hendak melihat langkah-langkah penyelesaian permasalahan yang dilakukan siswa, sehingga jika memakai soal berbentuk pilihan ganda dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam melihat tahapan penyelesaian pengerjaan soal yang dilakukan siswa.

Selain itu, untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul mengenai tidak semua siswa dapat memahami konteks yang tersaji dalam soal PISA, maka diperlukan pula adanya penyesuaian konteks agar lebih dekat dengan keseharian siswa. Berdasarkan analisis tersebut, diperlukan adanya penyesuaian konteks soal sekaligus

(8)

tujuan penelitian yang dikehendaki.

Analisis selanjutnya adalah mengidentifikasi keterampilan dasar yang dimunculkan berdasarkan soal PISA level 4-6, menghubungkan soal dengan konteks sekolah, serta menghubungkan soal dengan materi yang terdapat dalam kurikulum. Analisis ini digunakan sebagai dasar penyusunan desain soal PISA level 4-6 konteks sekolah untuk mengukur kemampuan berpikir kritis.

e. Spesifikasi Tujuan

Efek potensial yang merupakan tujuan dari penelitian ini adalah soal model PISA yang dapat mengukur kemampuan berpikir kritis siswa kelas IX SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Di tahap ini, dilakukan penyesuaian antara analisis literatur dengan indikator kemampuan berpikir kritis. Adapun indikator kemampuan berpikir kritis yang bertujuan sebagai efek potensial dari soal adalah merumuskan masalah, identifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik kesimpulan.

2. Tahap Formative Evaluation a. Self Evaluation

Pada tahap self evaluation dilaksanakan perancangan desain berupa penyusunan kisi-kisi dan acuan penskoran, dan perancangan awal desain soal (prototipe awal). Setelah perancangan desain dilaksanakan, peneliti melakukan evaluasi pribadi mengenai desain soal dari segi konteks, konten, dan bahasa sebelum dilanjutkan tahap expert review dan one-to- one evaluation.

1) Penyusunan Kisi-kisi dan Acuan Penskoran

Analisis literatur dan spesifikasi tujuan merupakan dasar dari penyusunan soal. Sebelum soal disusun, terlebih dahulu disusun kisi- kisi dan acuan penskoran sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis. Penyusunan kisi-kisi disesuaikan dengan aspek utama yang diukur dalam PISA dengan memperhatikan tujuan penelitian yaitu

(9)

level soal dan konteks sekolah sekaligus menggunakan indikator kemampuan berpikir kritis.

Pada penyusunan acuan penskoran, skor akan disesuaikan sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis yaitu merumuskan masalah, identifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik kesimpulan. Adapun kisi-kisi yang telah disusun dapat terlihat pada Lampiran 2.

2) Perancangan Awal

Pada tahap perancangan awal ini, semua data yang diperoleh dari tahap preliminary akan dijadikan acuan sekaligus bahan untuk mengembangkan soal. Proses pengembangan soal menghasilkan prototipe 1 dan dilakukan evaluasi secara mandiri oleh peneliti (self evaluation) yang selanjutnya akan disempurnakan melalui tahap formative evaluation.

Produk lain dari perancangan awal selain desain awal atau prototipe 1 adalah kunci jawaban dan pedoman penskoran yang memperhatikan kisi-kisi dan indikator kemampuan berpikir kritis. Di dalam desain soal pada prototipe 1 terdapat petunjuk pengerjaan soal, dan 10 butir soal PISA level 4, 5, dan 6 konteks sekolah yang ditentukan pula konten dan proses untuk setiap soalnya. Alokasi waktu pengerjaan soal juga ditentukan pada tahap ini dengan memperhitungkan jam pelajaran selama satu kali pertemuan yaitu selama 2 x 30 menit.

b. Tahap Expert Review

Tahap Expert Review merupakan tahap validasi dari ahli. Peneliti meminta bantuan kepada 2 orang dosen pendidikan matematika yaitu Dr.

Imam Sujadi, M.Si. dan Arum Nur Wulandari, S.Pd., M.Pd. Kedua validator tersebut dipilih berdasarkan pengalamannya dibidang pengembangan dan evaluasi pendidikan khususnya soal PISA. Adapun validator dari guru dipilih Nila Anggriyani, S.Si. selaku guru mata pelajaran matematika kelas IX SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto.

(10)

kondisi langsung siswa di sekolah serta memahami secara langsung mengenai materi yang diajarkan serta bentuk evaluasi pembelajaran yang biasa dilaksanakan di sekolah.

Dari tahap ini, diperoleh data kuantitatif dari angket dan data kualitatif dari walk-through. Berikut data kuantitatif dari angket expert review oleh ahli yang ditunjukkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Penilaian Angket Expert Review

Data kuantitatif dari angket expert review tersebut menunjukkan bahwa soal dikatakan sangat valid dari semua aspek. Aspek konten memperoleh rata-rata skor 4,59 dengan kategori sangat valid, aspek konstruk memperoleh rata-rata skor 4,46 dengan kategori sangat valid, dan aspek bahasa memperoleh rata-rata skor 4,79 dengan kategori sangat valid.

Desain soal dapat dikatakan valid dan layak untuk digunakan sesuai dengan hasil penilaian kuantitatif angket expert review pada aspek konten, konstruk, dan bahasa. Perhitungan lengkap mengenai data kuantitatif angket expert review terlampir pada Lampiran 19.

Selain data kuantitatif, para ahli juga memberikan saran dan catatan mengenai desain soal baik yang dirangkum dalam data kualitatif. Data kualitatif yang diperoleh dari catatan ahli pada walk-through digunakan peneliti sebagai pedoman untuk merevisi desain soal prototipe 1. Adapun yang menjadi catatan ahli adalah mengenai aspek konten, konstruk, dan

Validasi Konten Validasi Konstruk

Validasi Bahasa Rata-rata skor

tiap aspek

4,59 4,46 4,79

Kategori level kevalidan

Sangat valid Sangat valid Sangat valid

(11)

bahasa baik pada kisi-kisi, desain soal model PISA, dan kunci jawaban yang disesuaikan dengan indikator kemampuan berpikir kritis. Analisis komentar dan saran dari ahli ditunjukkan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Saran Validator terhadap Prototipe 1 Bagian Desain Soal Saran Validator

Kisi-kisi Soal 1. Kata kerja operasional harus disesuaikan dengan level PISA

2. Alokasi waktu diperhitungkan kembali Petunjuk Pengerjaan

Soal

1. Bagian “… tulislah penyelesaiannya dengan baik dan benar” harus diperjelas dengan cara atau hanya hasil saja (petunjuk pengerjaan nomor 4)

2. Petunjuk mengenai informasi umum harus tertulis pada petunjuk pengerjaan soal

Soal Nomor 1 1. Grafik diusahakan dapat diperlebar hingga hari ke-10 2. Data pada grafik kurang logis

Soal Nomor 2 Kalimat “… 2000 buah karcis ..” masih bermakna ganda

Soal Nomor 4 1. Gambar membingungkan dan perlu diperjelas di jalur penunjuk jalan dan jarak

2. Keterangan rumah dan sekolah diperbesar Soal Nomor 5 Tabel jawaban dihilangkan

Soal Nomor 6 Soal ditambahkan kurs jual dan kurs beli agar lebih kontekstual

Soal Nomor 7 Warna huruf pada ukuran gambar harusnya menggunakan warna kontras

Soal Nomor 9 Variabel tidak didefinisikan dengan jelas

Soal Nomor 10 Mengganti frasa “jumlah siswa” dengan “banyak siswa”

Kunci Jawaban Kunci nomor 1, kunci jawaban salah dan harus ada pernyataan bahwa pola bilangan tersebut merupakan pola bilangan bertingkat

c. Tahap One-to-One Evaluation

Bersamaan dengan validasi soal yang dilakukan oleh ahli, peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa. Kegiatan wawancara dilakukan dengan menggunakan media google meet dan whatsapp. Tujuan dari wawancara ini hanya untuk mengetahui keterbacaan soal. Desain soal

(12)

oleh guru mata pelajaran berdasarkan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Kegiatan One-to-one Evaluation dilakukan dengan memberikan desain soal kepada siswa melalui whatsapp dan meminta siswa untuk mencoba mengerjakan. Setelah siswa selesai mengerjakan, selanjutnya dilaksanakan wawancara yang khusus membahas mengenai keterbacaan soal.

Dari hasil wawancara diperoleh bahwa bentuk soal yang biasa digunakan oleh guru di sekolah adalah pilihan ganda dan uraian. Desain soal yang diberikan dirasa cukup berbeda dengan yang biasa diberikan oleh guru, siswa berpendapat bahwa soal dari guru langsung menuju pada pertanyaan, berbeda dengan desain soal yang disusun oleh peneliti. Siswa merasa bahwa pernah mengerjakan beberapa soal yang mirip dengan desain soal, yaitu pada pelaksanaan AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) atau pada kegiatan lomba yang pernah diikuti. Dari komentar siswa, materi yang ada pada soal sudah pernah diajarkan di sekolah namun siswa lupa cara mengerjakannya. Dari segi tampilan, secara keseluruhan sudah dapat dilihat dengan jelas, namun pada grafik nomor 9 yang dirasa masih kurang jelas dan perlu diperbaiki. Dari segi kebahasaan, seluruh siswa memahami maksud dari soal. Terdapat beberapa soal yang dirasa belum pernah dijumpai di sekolah yaitu soal nomor 2, 5, dan 6, namun setelah dibaca lebih detail, mereka dapat memahami maksud dari soal.

Berdasarkan saran dan masukan ahli serta wawancara siswa, terdapat keputusan perbaikan prototipe 1 yang dijabarkan berdasarkan bagian-bagian desain soal sebagai berikut :

1) Kisi-kisi Soal

Terdapat 2 hal yang direvisi dari kisi-kisi soal, yaitu mengenai alokasi waktu dan perubahan kata kerja operasional pada kisi-kisi.

a) Alokasi waktu

Alokasi waktu pengerjaan direncanakan selama 60 menit dikarenakan menyesuaikan jam belajar mengajar di sekolah.

(13)

Namun, sesuai saran ahli, waktu pengerjaan soal ditambah menjadi 90 menit dengan mempertimbangkan pendapat guru dalam penentuan alokasi waktu.

b) Perubahan kata kerja operasional pada kisi-kisi

Berdasarkan evaluasi validator, kata kerja operasional pada indikator kemampuan berpikir kritis masih belum sesuai dengan level PISA. Peneliti memperbaiki penulisan kata kerja operasional dengan mengganti baris indikator kemampuan berpikir kritis menjadi kemampuan yang diujikan, dan menyesuaikan isi dari baris kemampuan yang diujikan dengan didasarkan pada level PISA seperti yang terlihat di Gambar 4.5 pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Keputusan Revisi pada Kata Kerja Operasional

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.4. Kata Kerja Operasional Sebelum Revisi

Gambar 4.5. Kata Kerja Operasional Setelah Revisi

(14)

2) Petunjuk Pengerjaan Soal

Keputusan revisi pada petunjuk pengerjaan soal berupa perbaikan redaksi penulisan pada petunjuk pengerjaan soal nomor 4 dan penambahan petunjuk mengenai informasi umum.

a) Perbaikan Redaksi Penulisan pada Petunjuk Pengerjaan Soal Nomor 4

Berdasarkan hasil walk-through oleh ahli dan wawancara oleh siswa, terdapat saran dari validator bahwa kalimat petunjuk pengerjaan nomor 4 masih kurang jelas. Peneliti mengambil keputusan revisi dengan memperjelas redaksi “… tulislah penyelesaian …” yang dapat dilihat pada Gambar 4.6. menjadi “ … tulislah langkah-langkah penyelesaian dan hasilnya dengan baik dan benar;”.sesuai dengan terlihat di Gambar 4.7 pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Keputusan Revisi Petunjuk Pengerjaan Soal Nomor 4

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.6. Petunjuk Pengerjaan Soal Nomor 4 Sebelum Revisi

Gambar 4.7. Petunjuk Pengerjaan Soal Nomor 4 Setelah Revisi

b) Penambahan Petunjuk Mengenai Informasi Umum pada Petunjuk Pengerjaan

Pada desain awal soal atau prototipe 1 soal model PISA, tidak terdapat petunjuk mengenai informasi umum pada petunjuk pengerjaan. Dimungkinkan siswa tidak memahami fungsi dari informasi umum tersebut sehingga diambil keputusan perbaikan

(15)

dengan melakukan penambahan petunjuk informasi umum pada petunjuk pengerjaan soal seperti pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8. Keputusan Penambahan Informasi Umum pada Petunjuk Pengerjaan

3) Soal Nomor 1

Berdasarkan hasil walk-through, diperoleh saran dari ahli pada soal nomor 1 untuk memperbaiki grafik dan data pada soal. Data pada soal dinilai masih kurang logis, serta diperlukan adanya penambahan hari pada grafik hingga hari ke-10 agar dapat mengamati langkah siswa dalam mengerjakan soal. Peneliti melakukan perbaikan pada data soal dan menambah hari pada grafik hingga hari ke-10 sesuai dengan permasalahan pada soal. Adapun perbaikan data dan grafik pada soal nomor 1 dapat terlihat di Gambar 4.10 pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Keputusan Revisi Data dan Grafik Soal Nomor 1

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.9. Grafik dan Data Nomor 1 Sebelum Revisi

Gambar 4.10. Grafik dan Data Nomor 1 Setelah Revisi

(16)

4) Soal Nomor 2

Berdasarkan saran ahli pada kegiatan walk-through, terdapat makna ganda pada redaksi soal nomor 2. Validator menyarankan untuk memperjelas frasa “2000 buah karcis” pada soal nomor 2 sebelum revisi.

Peneliti mengambil keputusan perbaikan untuk menambah kalimat “Karcis hanya digunakan untuk biaya masuk sehingga biaya tambahan kamera tidak tertera pada karcis” agar tidak terjadi makna ganda. Keputusan revisi dari peneliti dapat terlihat pada Tabel 4.6 dengan mempertimbangkan saran dari ahli.

Tabel 4.6. Keputusan Revisi Redaksi Soal Nomor 2

Sebelum Revisi Setelah Revisi

(17)

Paragraf sebelum revisi :

‘’Sekolah akan mengadakan acara pentas seni di ruang auditorium.

Panitia menyediakan sebanyak 2000 buah karcis yang dapat dibeli pengunjung dengan biaya masuk sebesar Rp 15.000 per orang. Jika membawa kamera, akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 10.000 per orang.’’.

Paragraf setelah revisi :

“Sekolah akan mengadakan acara pentas seni di ruang auditorium.

Panitia menyediakan sebanyak 2000 buah karcis yang dapat dibeli pengunjung dengan biaya masuk Rp 15.000 per orang. Jika membawa kamera, akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 10.000 per orang. Karcis hanya digunakan untuk biaya masuk sehingga biaya tambahan kamera tidak tertera pada karcis.”

5) Soal Nomor 4

Berdasarkan hasil walk-through, diperoleh saran dari validator untuk memperbaiki denah pada soal nomor 4. Petunjuk arah dan jarak dinilai masih kurang jelas (baik secara skala maupun gambar), tulisan petunjuk rumah dan sekolah masih belum jelas seperti pada Gambar 4.11 sehingga diambil keputusan revisi untuk memperbarui denah dengan mempertepat skala dan memperjelas jarak, serta memperjelas tulisan pada denah seperti pada Gambar 4.12.

Tabel 4.7. Keputusan Revisi Denah pada Soal Nomor 4

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.11. Denah Sebelum Revisi Gambar 4.12 Denah Setelah Revisi

(18)

6) Soal Nomor 5

Berdasarkan hasil walk-through, terdapat saran dari validator untuk menghilangkan tabel jawaban soal nomor 5 seperti yang terlihat pada Gambar 4.13. Hal ini bertujuan agar dapat diamati langkah- langkah pengerjaan sekaligus hasil akhir sesuai dengan kreativitas dan kemampuan siswa. Keputusan revisi yang diambil peneliti adalah menghapus tabel jawaban sehingga tabel jawaban sudah tidak tersedia lagi pada prototipe 2.

Gambar 4.13. Soal Nomor 5 Sebelum Revisi

7) Soal Nomor 6

Berdasarkan catatan walk-through oleh validator, diperoleh catatan bahwa soal nomor 6 masih kurang kontekstual dan diperlukan penambahan kurs jual dan kurs beli agar lebih sesuai dengan kondisi asli atau lebih kontekstual. Soal sebelum revisi dapat dilihat pada Gambar 4.14. Untuk selanjutnya, dilakukan keputusan perbaikan oleh peneliti untuk mencantumkan kurs jual dan kurs beli sesuai dengan kurs yang berlaku serta memperbaiki redaksi soal agar lebih kontekstual. Soal setelah revisi dapat dilihat pada Gambar 4.15.

Tabel 4.8. Keputusan Revisi Soal Nomor 6

Sebelum Revisi Setelah Revisi

(19)

Gambar 4.14. Soal Nomor 6 Sebelum Revisi

Gambar 4.15. Soal Nomor 6 Setelah Revisi

8) Soal Nomor 7

Pada soal nomor 7, terdapat saran dari validator untuk mengubah warna huruf pada ukuran gambar karena dimungkinkan akan sulit terbaca oleh siswa. Sebelum revisi, huruf pada gambar berwarna hitam seperti yang terlihat pada Gambar 4.16. Untuk selanjutnya, peneliti mengambil keputusan perbaikan dengan mengganti huruf dengan warna yang kontras dengan gambar yaitu warna putih. Perbaikan perubahan warna huruf pada gambar dapat terlihat pada Gambar 4.17.

Tabel 4.9. Keputusan Revisi Soal Nomor 7

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.16. Warna Huruf Sebelum Revisi

Gambar 4.17. Warna Huruf Setelah Revisi

(20)

9) Soal Nomor 9

Pada soal nomor 9, validator memberikan saran untuk menambah keterangan variabel pada diagram. Dapat terlihat pada Gambar 4.18. yang menunjukkan gambar belum direvisi, variabel Kelas IX A dan Kelas IX B pada diagram masih kurang jelas serta memerlukan redaksi variabel “Banyak Siswa” dan “Rentang Nilai Ujian”.

Berdasarkan saran dari validator tersebut, peneliti mengambil keputusan perbaikan dengan menuliskan variabel “Banyak Siswa” dan

“Rentang Nilai Ujian” serta mengubah variabel “Kelas IX A” dan “ Kelas IX B” menjadi “Nilai Kelas IX A” dan “Nilai Kelas IX B” pada diagram. Hasil perbaikan nomor 9 dapat dilihat pada Gambar 4.19.

Tabel. 4.10. Keputusan Revisi Soal Nomor 9

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.18. Diagram Nomor 9 Sebelum Revisi

Gambar 4.19. Diagram Nomor 9 Setelah Revisi

(21)

10) Soal Nomor 10

Pada soal nomor 10, terdapat saran dari validator untuk memperbaiki frasa redaksi penulisan. Frasa soal yang perlu direvisi adalah mengganti frasa “jumlah siswa” menjadi “banyak siswa”.

Peneliti mengambil keputusan perbaikan dengan memperbaiki frasa seperti yang terlihat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11. Keputusan Revisi Soal Nomor 10

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Frasa sebelum direvisi pada kalimat :

“Untuk kelas IX A dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang memiliki nilai rata-rata ulangan 80 dan terdapat siswa dengan nilai tertinggi yaitu Hasta.”

Frasa setelah direvisi pada kalimat :

“Untuk kelas IX A dengan banyak siswa sebanyak 32 orang memiliki nilai rata-rata ulangan 80 dan terdapat siswa dengan nilai tertinggi yaitu Hasta.”

11) Kunci Jawaban Nomor 1

Berdasarkan hasil walk-through, diperoleh saran dari ahli untuk memperbaiki kunci jawaban pada soal nomor 1 dikarenakan terdapat perbedaan informasi soal pada soal nomor 1 dengan kunci jawaban soal nomor 1. Keputusan perbaikan yang dilakukan peneliti adalah mengubah kunci jawaban sesuai dengan informasi soal nomor 1 dan kunci jawaban yang sudah sesuai dengan soal dapat dilihat pada Lampiran 16.

d. Tahap Small Group

Soal yang telah direvisi diujicobakan pada tahap small group.

Kegiatan ujicoba melibatkan enam orang siswa yaitu dua siswa dengan

(22)

siswa dengan kemampuan rendah yang dipilih oleh guru mata pelajaran terkait. Kegiatan Small Group ini dilaksanakan melalui media google meet. Tahapan pelaksanaan tahap small group yang telah dilaksanakan adalah memberikan desain soal kepada siswa untuk dikerjakan selama 90 menit, lalu siswa mengisi angket kepraktisan soal setelah mengerjakan soal.

Adapun tujuan dari small group adalah melihat kepraktisan desain soal baik dari segi kemudahan dalam penggunaan, ekonomis dan praktis, fleksibilitas, dan kecukupan alokasi waktu. Pengambilan data pada tahap small group dilakukan dengan angket kepraktisan yang diisi oleh siswa setelah mengerjakan soal dan diisi oleh guru setelah siswa selesai mengerjakan soal. Adapun hasil analisis dari kepraktisan soal dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Analisis Kepraktisan Desain Soal oleh Guru dan Siswa Rata-rata

Aspek

Kemudahan Penggunaan

Ekonomis dan Praktis

Fleksibilitas Alokasi Waktu

Siswa 4,33 4,38 - 4,28

Guru 4,33 4,50 4,00 4,00

Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

Berdasarkan hasil analisis kepraktisan desain soal oleh siswa dan guru tersebut, diperoleh kategori tinggi untuk aspek kemudahan penggunaan, ekonomis dan praktis, dan alokasi waktu. Untuk aspek fleksibilitas hanya diukur untuk angket kepraktisan guru dikarenakan siswa dimungkinkan belum memahami aspek fleksibilitas desain soal.

Pada aspek fleksibilitas diperoleh kategori tinggi dengan skor 4,00.

Berdasarkan analisis kepraktisan desain soal tersebut, soal dikategorikan

(23)

praktis. Analisis lengkap mengenai kepraktisan desain soal dapat dilihat pada Lampiran 20.

Siswa juga memberikan saran kepada peneliti mengenai prototipe 2 yang telah disusun, yaitu ketidakterbacaan angka pada diagram kartesius nomor 8 seperti yang terlihat dalam Gambar 4.20. Angka tersebut masih berwarna putih sehingga sulit untuk terbaca oleh siswa Peneliti mengambil keputusan perbaikan dengan mengubah warna angka pada diagram kartesius agar lebih dapat terlihat. Adapun perbaikan yang telah dilakukan dapat dilihat pada Gambar 4.21.

Tabel 4.13. Keputusan Revisi Tahap Small Group untuk Soal Nomor 8

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.20. Soal Nomor 8 Sebelum Revisi

Gambar 4.21. Soal Nomor 8 Setelah Revisi

e. Tahap Field Test

Tahap Field Test merupakan tahap terakhir pengembangan soal. Di tahap ini, soal diujikan di kelas besar dengan subjek sebanyak 24 orang dan bukan subjek tahapan-tahapan sebelumnya (tahap one-to-one evaluation dan tahap small group). Kelas dipilihkan oleh guru mata pelajaran dan kelas yang dipilih merupakan kelas reguler. Uji coba dilaksanakan melalui media google meet pada tanggal 1 Oktober 2021.

(24)

menit dan diawasi oleh peneliti dengan menggunakan google meet serta akan diberikan angket efek potensial setelah siswa selesai mengerjakan soal. Kegiatan Field Test ini bertujuan untuk melihat reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran soal serta mengukur efek potensial kemampuan berpikir kritis.

1) Reliabilitas

Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui kekonsistenan soal jika diuji berulang-ulang. Teknik Alpha yang dikembangkan oleh Cronbach (Budiyono : 2015) digunakan untuk memperoleh koefisien reliabilitas soal.

Adapun berdasarkan hasil analisis reliabilitas soal diperoleh nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,89 dengan interpretasi tinggi.

Interpretasi tersebut menunjukkan bahwa soal reliabel atau konsisten jika diuji berulang-ulang.

2) Tingkat Kesukaran Soal

Data yang diperoleh pada tahap Field Test dianalisis menggunakan Microsoft Excel agar diperoleh tingkat kesukaran dari masing-masing butir soal. Kriteria tingkat kesukaran butir soal diukur berdasarkan kriteria dari Kusaeri dan Suprananto (2012). Adapun hasil dari analisis tingkat kesukaran butir soal dapat terlihat pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Hasil Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal

Nomor Soal Angka Indeks Kesukaran Kriteria

1 0,357 Sedang

2 0,477 Sedang

3 0,698 Sedang

4 0,508 Sedang

5 0,396 Sedang

6 0,310 Sedang

7 0,352 Sedang

(25)

8 0,281 Sukar

9 0,266 Sukar

10 0,367 Sedang

Berdasarkan Tabel 4.14, dari 10 soal yang diujicobakan pada tahap Field Test diperoleh 2 soal termasuk kategori sukar yaitu nomor 8 dan 9, serta terdapat sebanyak 8 butir soal termasuk dalam kategori sedang dengan kata lain sebanyak 20% soal termasuk kategori sukar dan 80% soal termasuk ke dalam kategori sedang.

3) Daya Pembeda Soal

Daya pembeda soal dianalisis berdasarkan jawaban siswa pada tahap field test dengan menggunakan Microsoft excel. Adapun hasil analisis daya beda soal dapat diamati pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15. Hasil Analisis Daya Pembeda Soal

Nomor Soal Indeks Daya Pembeda Kriteria

1 0,76 Baik

2 0,73 Baik

3 0,44 Baik

4 0,54 Baik

5 0,78 Baik

6 0,83 Baik

7 0,85 Baik

8 0,81 Baik

9 0,86 Baik

10 0,77 Baik

Berdasarkan hasil analisis daya pembeda soal, diperoleh keseluruhan soal memiliki kriteria baik. Menurut Budiyono (2017), soal memiliki daya pembeda baik jika nilai daya pembeda lebih dari 0,3, sehingga dalam hal ini soal model PISA level 4, 5, dan 6 konteks sekolah memiliki daya pembeda baik.

3. Efek Potensial Kemampuan Berpikir Kritis

(26)

praktis, dan memiliki efek potensial. Adapun yang menjadi fokus utama efek potensial dari pengembangan soal model PISA level 4-6 konteks sekolah ini adalah soal yang dapat memunculkan kemampuan berpikir kritis bagi siswa.

Analisis yang digunakan pada fokus efek potensial ini adalah analisis kuantitatif yang berasal dari hasil tes pada tahap field test yang disesuaikan dengan penilaian kemampuan berpikir kritis, dan angket efek potensial siswa.

a. Analisis Hasil Tes Tahap Field Test

Hasil pekerjaan siswa pada tahap Field Test dianalisis berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis. Indikator dari kemampuan berpikir kritis yang digunakan meliputi merumuskan masalah, mengidentifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik kesimpulan. Hasil tes siswa dapat dilihat pada Tabel 4.16.

Tabel 4.16. Hasil Tes Siswa Tahap Field Test

Nilai Banyak Siswa Persentase Kategori

80< X ≤ 100 0 0 % Sangat Baik

60< X ≤ 80 4 21% Baik

40< X ≤ 60 8 29% Cukup

20< X ≤ 40 9 37,5% Kurang

0≤X ≤ 20 3 12,5% Sangat Kurang

Berdasarkan data tersebut, 12 dari 24 siswa yang mengikuti tes hanya dapat mencapai kategori kurang dan sangat kurang, serta 12 dari 24 siswa sudah mencapai kategori cukup dan baik. Sementara itu, belum ada siswa yang mencapai nilai pada kategori sangat baik. Adapun rata-rata nilai siswa pada kegiatan tes kemampuan berpikir kritis ini sebesar 40,10 atau termasuk ke dalam kategori cukup.

b. Analisis Angket Efek Potensial

(27)

Angket efek potensial digunakan untuk melihat pendapat dan penilaian siswa mengenai desain soal yang didasarkan pada indikator kemampuan berpikir kritis. Pertanyaan-pertanyaan dalam angket mengukur efek-efek potensial yang muncul pada soal. Angket juga mengukur mengenai ketertarikan siswa terhadap desain soal dan perasaan yang muncul setelah mengerjakan soal model PISA level 4-6 konteks sekolah. Hasil analisis angket efek potensial dapat dilihat pada Tabel 4.17.

Tabel 4.17. Hasil Angket Efek Potensial

Aspek Skor Kategori

Pengalaman Mengerjakan Soal 4,10 Tinggi

Perasaan Tertantang 4,36 Tinggi

Ketertarikan 4,08 Tinggi

Perasaan Semangat 4,14 Tinggi

Munculnya Indikator Merumuskan Masalah 4,10 Tinggi Munculnya Indikator Mengidentifikasi Argumen 3,90 Sedang Munculnya Indikator Menyatakan Hasil 3,92 Sedang Munculnya Indikator Menarik Kesimpulan 4,04 Tinggi

Berdasarkan hasil angket efek potensial, siswa merasa mendapat pengalaman mengerjakan soal dengan skor 4,10 dan dikategorikan tinggi.

Lalu, siswa merasa tertantang setelah mengerjakan soal dan tertarik dengan desain soal dengan kategori tinggi. Siswa juga merasakan bertambahnya semangat dalam belajar matematika setelah mengerjakan soal model PISA dengan kategori tinggi. Jika didasarkan pada indikator kemampuan berpikir kritis, siswa sudah merasa bahwa soal memunculkan indikator merumuskan masalah dengan skor 4,10 dan kategori tinggi.

Namun, untuk indikator mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil hanya berada pada kategori sedang sehingga dimungkinkan soal hanya memunculkan indikator pada siswa-siswa tertentu saja atau siswa masih merasa belum bisa mengidentifikasi argumen dan menyatakan pendapat.

(28)

tinggi dengan skor rata-rata sebesar 4,04.

Berdasarkan komentar siswa setelah mengerjakan soal yang diisikan pada angket efek potensial, 5 orang menuliskan bahwa mereka mendapatkan pengalaman baru setelah mengerjakan soal. Siswa berpendapat bahwa meskipun mereka kesulitan dalam mengerjakan soal, mereka merasa mendapatkan pengalaman baru setelahnya. Lalu sebanyak 3 orang menyatakan bahwa mereka mendapatkan semangat ketika mengerjakan soal, sebanyak 5 orang merasa tertantang dengan soal model PISA level 4, 5, dan 6 konteks sekolah. Sebagian besar subjek merasa tertantang ketika mengerjakan soal karena mengulas sebagian besar materi yang telah lalu, serta 6 orang merasa tertarik dengan adanya soal model PISA level 4, 5, dan 6 konteks sekolah. Komentar-komentar ini dapat dilihat pada Lampiran 16.

c. Analisis Deskriptif Hasil Tes Tahap Field Test sesuai Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat sejauh mana siswa menjawab soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis. Pada analisis deskriptif ini diambil jawaban dari 3 orang siswa dengan kemampuan baik, cukup, dan kurang, sesuai dengan analisis hasil tes kemampuan berpikir kritis menggunakan model soal PISA level 4-6 konteks sekolah. Adapun subjek yang diambil adalah B untuk mewakili siswa dengan kemampuan baik, C untuk siswa dengan kemampuan cukup, dan K untuk siswa dengan kemampuan kurang.

1) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 1 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Pada soal nomor 1, subjek B sudah sepenuhnya menerapkan indikator kemampuan berpikir kritis yaitu merumuskan masalah, mengidentifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik

(29)

kesimpulan, hal ini terlihat pada jawaban subjek B pada Gambar 4.22.

Gambar 4.22. Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 1

Berdasarkan Gambar 4.22, jawaban Subjek B sudah menunjukkan indikator merumuskan permasalahan dengan menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal sesuai dengan bahasanya sendiri. Subjek juga sudah melakukan identifikasi argumen dengan memperkirakan pola-pola yang muncul pada hari ke-1 sampai ke-6, sehingga dapat menemukan pola selanjutnya hingga pola pada hari ke-10.

Pada indikator menyatakan hasil, subjek B sudah menyatakan hasil dengan tepat dan langkah pengerjaan yang jelas.

Lalu pada tahap kesimpulan, subjek belum membahasakan sesuai dengan bahasanya sendiri, namun kesimpulan yang ditulis sudah tepat.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Hasil pekerjaan soal nomor 1 subjek C dapat terlihat pada Gambar 4.23. Subjek C sudah berusaha menuliskan sesuai dengan indikator-indikator kemampuan berpikir kritis namun terdapat kesalahan ide dan langkah pengerjaan.

(30)

Adapun berdasarkan analisis pada Gambar 4.23, subjek sudah menuliskan apa yang diketahui dari soal namun belum menuliskan yang ditanyakan. Dalam menuliskan rumusan masalah pada soal, hal yang seharusnya dicari penyelesaian masalahnya namun oleh subjek langsung dituliskan sesuai dengan apa yang menurutnya benar. Hal ini dimungkinkan terdapat kesalahan pemahaman soal.

Dalam menuliskan model matematika, subjek menuliskan model dan strategi yang salah karena ide yang muncul bukanlah menggunakan kalimat matematika berupa pola bilangan namun persentase. Hal ini berpengaruh dengan hasil akhir. Karena tahap sebelumnya sudah salah, maka pada tahap menyatakan hasil juga kurang tepat dan berpengaruh pula dengan kesimpulan yang kurang tepat.

(31)

c) Analisis Jawaban Subjek K

Pada hasil pekerjaan nomor 1 subjek K, subjek dinilai masih kesulitan dalam mengerjakan soal sesuai indikator kemampuan berpikir kritis. Hasil pekerjaan subjek K dapat dilihat pada Gambar 4.24

Gambar 4.24. Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 1

Berdasarkan hasil pekerjaan subjek K pada Gambar 4.24, subjek sudah menuliskan apa yang diketahui dari soal sesuai dengan bahasa sendiri, namun belum menuliskan apa yang ditanyakan pada soal. Subjek juga belum menuliskan pola bilangan awal sesuai grafik yang ada pada soal sehingga dapat dikategorikan subjek belum menuliskan identifikasi masalah. Untuk indikator menyatakan hasil, subjek tidak menuliskan langkah-langkah penyelesaian dan langsung menuliskan jawaban yang kurang tepat.

Pada indikator menarik kesimpulan, dikarenakan subjek menyatakan hasil yang kurang tepat maka kesimpulan yang diperoleh juga masih kurang tepat.

(32)

Kemampuan Berpikir Kritis a) Analisis Jawaban Subjek B

Hasil pekerjaan subjek B pada soal nomor 2 dapat dilihat pada Gambar 4.25. Subjek sudah mengerjakan sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis namun masih belum lengkap.

Gambar 4.25. Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 2

Berdasarkan Gambar 4.25., subjek B sudah merumuskan masalah pada soal dengan menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan dengan bahasa sendiri. Subjek juga telah menuliskan ide pengerjaan soal sesuai dengan identifikasi argumen dan mencoba menyatakan hasil. Namun, ide dan hasil yang dituliskan masih kurang lengkap karena tidak menuliskan kemungkinan-kemungkinan lain dari hasil tersebut meskipun hasil sudah benar.

Subjek juga telah menarik kesimpulan, namun kesimpulan tersebut kurang lengkap dikarenakan ide dan hasil yang diperoleh di tahap sebelumya masih belum lengkap. Subjek sudah mengerjakan soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis, namun masih kurang lengkap dalam mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil sehingga dalam menarik kesimpulan juga masih belum lengkap.

(33)

b) Analisis Jawaban Subjek C

Hasil pekerjaan subjek C nomor 2 dapat dilihat pada Gambar 4.26. Berdasarkan gambar tersebut, subjek belum menuliskan pekerjaan sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

Gambar 4.26. Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 2

Berdasarkan jawaban dari Subjek C pada Gambar 4.26., terlihat bahwa subjek belum merumuskan masalah, hanya menuliskan sebagian kecil informasi yang diketahui pada soal.

Identifikasi argumen dan penarikan hasil yang digunakan masih kurang lengkap karena tidak mengidentifikasi kemungkinan- kemungkinan penyelesaian soal sehingga hasil akhir masih kurang lengkap. Subjek juga tidak menuliskan penarikan kesimpulan dengan lengkap, sehingga subjek C masih belum menjawab soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.27. Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 2

(34)

Gambar 4.27. Berdasarkan Gambar 4.27, subjek K sudah menuliskan informasi yang diketahui dari soal, namun belum menuliskan informasi yang ditanyakan dari soal sehingga belum sepenuhnya memenuhi indikator merumuskan masalah. Subjek belum menuliskan identifikasi argumen dan langsung menyatakan hasil dari kemungkinan-kemungkinan penyelesaian pada soal.

Adapun hasil yang dituliskan sudah benar namun masih belum lengkap dan subjek juga tidak menuliskan penarikan kesimpulan.

Pekerjaan nomor 2 subjek K hanya memenuhi indikator merumuskan masalah dan menyatakan hasil.

3) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 3 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Hasil pekerjaan subjek B nomor 3 dapat dilihat pada Gambar 4.28. Subjek B sudah memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis berupa merumuskan masalah, identifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik kesimpulan.

Gambar 4.28 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 3

Berdasarkan Gambar 4.28, jawaban dari Subjek B sudah menuliskan rumusan masalah berupa informasi yang diketahui dan ditanyakan dari soal. Subjek juga sudah melakukan identifikasi argumen karena sudah menuliskan mode matematika dengan tepat.

(35)

Subjek juga sudah menggunakan strategi penyelesaian dan menyatakan hasil dengan tepat dan benar. Namun dalam menarik kesimpulan, subjek belum menuliskan secara lengkap kesimpulan dari penyelesaian soal nomor 3.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Hasil pekerjaan subjek C nomor 3 dapat dilihat pada Gambar 4.29. Subjek C sudah memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis berupa merumuskan masalah, identifikasi argumen, menyatakan hasil, dan menarik kesimpulan.

Gambar 4.29 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 3

Berdasarkan Gambar 4.29, subjek belum menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap. Namun, subjek sudah menuliskan identifikasi masalah dan menyatakan hasil secara tepat. Subjek C juga sudah menuliskan penarikan kesimpulan meskipun tidak dengan kalimat yang lengkap.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.30 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 3

(36)

Gambar 4.30. Berdasarkan Gambar 4.30, subjek K sudah menuliskan informasi yang diketahui pada soal namun belum menuliskan informasi yang ditanyakan dari soal sehingga untuk indikator merumuskan masalah masih belum lengkap. Namun, subjek sudah mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil dengan tepat serta sudah menuliskan penarikan kesimpulan dari permasalahan. Subjek K sudah menjawab sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis pada soal nomor 3.

4) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 4 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Hasil pekerjaan subjek B nomor 4 dapat dilihat pada Gambar 4.31. Subjek B hanya mampu merumuskan masalah, mengidentifikasi argumen, dan menyatakan hasil dari permasalahan namun belum mampu menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut.

Gambar 4.31. Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 4

Berdasarkan hasil pekerjaan pada Gambar 4.31, subjek B sudah menuliskan dengan tepat dan jelas sesuai dengan bahasanya sendiri informasi diketahui dan ditanyakan sehingga subjek sudah mampu merumuskan permasalahan dalam soal. Subjek juga sudah menuliskan model matematika dengan tepat namun model

(37)

matematika tersebut belum dijelaskan sehingga subjek belum mengidentifikasi argumen dengan lengkap. Subjek sudah menuliskan strategi dan hasil dengan tepat sehingga sudah dikatakan mampu menyatakan hasil dengan baik namun subjek belum menuliskan kesimpulan dari pekerjaan yang dilakukannya.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Pada soal nomor 4 sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis, subjek C hanya mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil namun belum mampu merumuskan masalah dan menarik kesimpulan. Hasil pekerjaan subjek C dapat dilihat pada Gambar 4.32.

Gambar 4.32 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 4

Berdasarkan Gambar 4.32, subjek C tidak menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal sehingga subjek belum mampu merumuskan permasalahan pada soal. Pada identifikasi argumen, subjek sudah membuat model matematika dengan tepat meskipun tidak diberikan penjelasan mengenai model tersebut. Subjek juga menuliskan strategi pengerjaan soal namun masih kurang tepat pada strategi mencari kecepatan rata-rata dan subjek juga tidak menuliskan kesimpulan pada soal.

(38)

Hasil pekerjaan subjek K nomor 4 dapat dilihat pada Gambar 4.33. Pada hasil pekerjaan nomor 3, subjek K hanya mampu merumuskan masalah dan menyatakan hasil namun masih belum lengkap dan belum mampu untuk mengidentifikasi argument dan menarik kesimpulan.

Gambar 4.33. Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 4

Berdasarkan Gambar 4.33, subjek K sudah menuliskan informasi yang diketahui namun tidak menuliskan informasi yang ditanyakan pada soal sehingga subjek K belum mampu merumuskan permasalahan pada soal secara lengkap. Subjek juga sudah menuliskan strategi penyelesaian soal namun kurang lengkap. Subjek belum menuliskan kesimpulan sesuai dengan yang ditanyakan dalam soal.

5) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 5 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Hasil pekerjaan subjek B nomor 5 dapat dilihat pada Gambar 4.34. Pada soal nomor 5, subjek B dikategorikan hanya mampu merumuskan masalah dan menarik kesimpulan.

Gambar 4.34. Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 5

(39)

Berdasarkan Gambar 4.34, subjek B sudah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal dengan baik sehingga sudah dikatakan mampu merumuskan masalah. Namun, tidak terdapat model matematika maupun strategi pada hasil pekerjaan sehingga subjek dikatakan belum mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil. Subjek hanya menarik kesimpulan tanpa disertai penjelasan lebih lanjut.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Gambar 4.35 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 5

Berdasarkan Gambar 4.35, subjek C tidak menuliskan informasi mengenai apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal sehingga subjek tidak merumuskan masalah sesuai indikator kemampuan berpikir kritis. Namun, subjek sudah menuliskan model matematika dengan tepat sesuai dengan bahasa yang ditulisnya sendiri. Subjek juga sudah mencoba membuat strategi untuk menyatakan hasil meskipun sudah benar namun masih kurang lengkap. Penarikan kesimpulan juga sudah tertulis meskipun masih kurang tepat dan lengkap. Pada jawaban soal nomor 5, subjek C sudah mampu menuliskan jawaban sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis kecuali pada indikator merumuskan masalah.

(40)

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.36. Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 5

Berdasarkan Gambar 4.36, subjek K sudah menuliskan informasi yang diketahui pada soal namun belum menuliskan informasi yang ditanyakan sehingga subjek dikatakan belum merumuskan masalah secara lengkap. Subjek belum menuliskan identifikasi argumen, namun sudah menuliskan strategi pemecahan masalah dengan memperkirakan kemungkinan. Strategi yang dilakukan subjek sudah tepat namun belum menyatakan hasil dengan benar dan lengkap. Subjek juga tidak menuliskan penarikan kesimpulan pada pekerjaannya. Subjek K dikatakan mampu merumuskan masalah dan menyatakan hasil namun masih kurang sempurna.

6) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 6 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Hasil pekerjaan subjek B nomor 6 dapat dilihat pada Gambar 4.37.

Gambar 4.37 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 6

(41)

Berdasarkan pekerjaan subjek B nomor 6 pada Gambar 4.29, subjek sudah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal namun masih belum lengkap, sehingga subjek sebenarnya sudah mampu merumuskan masalah namun masih kurang sempurna. Subjek tidak menuliskan model matematika maupun strategi yang digunakan sehingga subjek dikatakan belum mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil. Namun, subjek sudah menuliskan kesimpulan yang tepat namun kurang lengkap dari soal sehingga subjek hanya bisa merumuskan masalah dan menarik kesimpulan pada soal nomor 6 sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Hasil pekerjaan subjek C nomor 6 dapat dilihat pada Gambar 4.38. Berdasarkan gambar tersebut, subjek C dapat dikatakan sudah dapat merumuskan permasalahan dan menarik kesimpulan namun masih belum sempurna .

Gambar 4.38 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 6

Berdasarkan Gambar 4.38, subjek C sudah menuliskan informasi yang diketahui pada soal namun tidak menuliskan informasi yang ditanyakan sehingga subjek mampu merumuskan masalah namun masih kurang sempurna. Subjek tidak menuliskan model matematika maupun strategi yang digunakan, namun langsung menjawab pertanyaan dari soal. Subjek menarik kesimpulan dengan tepat namun masih kurang lengkap sehingga subjek dikatakan dapat menarik kesimpulan.

(42)

Gambar 4.39 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 6

Berdasarkan jawaban nomor 6 pada Gambar 4.39, subjek K sudah menuliskan dengan lengkap informasi yang diketahui dalam soal namun tidak dituliskan informasi yang ditanyakan sehingga subjek sudah dapat merumuskan masalah namun belum secara lengkap. Subjek tidak menuliskan strategi penyelesaian dan model matematika sehingga belum mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil. Subjek sudah menuliskan jawaban secara benar namun tidak dituliskan alasan menuliskan jawaban tersebut sehingga subjek dikatakan sudah menarik kesimpulan namun masih belum sempurna. Subjek K hanya mampu merumuskan masalah dan menarik kesimpulan pada pekerjaan nomor 6.

7) Analisis Jawaban Siswa Soal Nomor 7 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Gambar 4.40 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 7

(43)

Berdasarkan hasil pekerjaan subjek B pada Gambar 4.40, subjek sudah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal dengan lengkap sehingga subjek dapat dikatakan sudah mampu merumuskan masalah. Subjek juga sudah menuliskan model matematika yang tepat yaitu dengan menuliskan teorema Phytagoras dengan tepat sesuai dengan informasi yang diketahui pada soal sehingga subjek dikatakan mampu mengidentifikasi argumen.

Subjek juga sudah menuliskan strategi dengan tepat dan lengkap namun masih terdapat kesalahan perhitungan di bagian mencari sisi miring dari segitiga, sehingga subjek dapat dikatakan mampu menyatakan hasil. Namun, subjek tidak menuliskan kesimpulan dari jawaban sehingga pada soal nomor 7, subjek B mampu merumuskan masalah, mengidentifikasi argumen, dan menyatakan hasil namun belum mampu menarik kesimpulan.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Gambar 4.41 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 7

Berdasarkan Gambar 4.41, subjek C sudah menuliskan informasi yang diketahui dengan cara menggambar ulang soal, namun tidak dituliskan informasi yang ditanyakan pada soal.

Subjek sudah mampu merumuskan masalah namun masih belum

(44)

namun strategi yang digunakan masih kurang tepat. Oleh karena strategi yang digunakan masih kurang tepat, hasil yang dituliskan oleh subjek masih kurang tepat.

Subjek tidak menuliskan kesimpulan dari pekerjaan yang telah dilakukan. Pada soal nomor 7 ini, subjek C mampu merumuskan masalah namun masih kurang lengkap, belum mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil dikarenakan model dan strategi yang digunakan masih kurang tepat, dan belum mampu menarik kesimpulan.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.42 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 7

Berdasarkan Gambar 4.42, subjek K tidak menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal sehingga subjek belum mampu merumuskan masalah. Dalam pekerjaan soal nomor 7, subjek langsung menuliskan model matematika dan strategi yang digunakan namun masih belum tepat dan lengkap sehingga subjek belum mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil.

Subjek juga tidak menarik kesimpulan. Subjek K belum menjawab sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis pada soal nomor 7.

(45)

8) Analisis Jawaban Soal Nomor 8 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Gambar 4.43 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 8

Berdasarkan pekerjaan subjek B pada Gambar 4.43, dapat terlihat bahwa subjek telah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan dengan bahasanya sendiri sehingga subjek sudah dikatakan dapat merumuskan masalah pada soal. Subjek juga sudah menuliskan model matematika yang tepat pada soal nomor 8 tersebut. Strategi yang digunakan sudah tepat dengan hasil yang sudah benar pula. Subjek dapat dikategorikan sudah mampu mengidentifikasi argumen dan menyatakan hasil dengan baik.

Subjek sudah menuliskan kesimpulan yang tepat dan benar sehingga dapat dikatakan mampu menarik kesimpulan. Subjek B sudah mampu mengerjakan soal nomor 8 sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Pada soal nomor 8 ini, subjek C belum mampu mengerjakan soal matematika sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis. Adapun hasil pekerjaan subjek C nomor 8 dapat dilihat pada Gambar 4.44.

(46)

Berdasarkan Gambar 4.44, subjek C hanya menuliskan kesimpulan yang tepat namun tidak lengkap dan tidak melalui tahapan-tahapan merumuskan masalah, mengidentifikasi argumen, maupun menuliskan strategi sesuai indikator menyatakan hasil.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.45 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 8

Berdasarkan Gambar 4.45, subjek K hanya menuliskan informasi yang diketahui namun masih kurang lengkap dan tidak menuliskan informasi lain seperti informasi yang ditanyakan pada soal, model matematika dan strategi penyelesaian, dan tidak melakukan penarikan kesimpulan. Pada nomor 8, subjek K tidak mampu mengerjakan soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

9) Analisis Jawaban Soal Nomor 9 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Gambar 4.46 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 9

(47)

Hasil pekerjaan subjek B nomor 9 dapat dilihat pada Gambar 4.46. Berdasarkan pekerjaan pada Gambar 4.46, subjek B sudah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal dengan lengkap sehingga dapat dikatakan mampu merumuskan masalah. Subjek tidak menuliskan model matematika dan strategi pengerjaan soal namun langsung menuliskan kesimpulan dalam soal. Kesimpulan yang dituliskan oleh subjek sudah benar namun masih kurang lengkap sehingga pada pekerjaan nomor 9, subjek B hanya mampu merumuskan masalah dan menarik kesimpulan sesuai indikator kemampuan berpikir kritis.

b) Analisis Jawaban Subjek C

Hasil pekerjaan subjek C nomor 9 dapat dilihat pada Gambar 4.47.

Gambar 4.47 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 9

Berdasarkan Gambar 4.47, subjek C hanya menuliskan jawaban namun tidak menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal, model matematika dan strategi penyelesaian masalah. Jawaban yang dituliskan subjek kurang tepat meskipun sesuai dengan konteks soal. Subjek C dikategorikan belum mampu mengerjakan soal nomor 9 sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.48 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 9

(48)

Gambar 4.48. Berdasarkan hasil pekerjaan subjek pada Gambar 4.48 tersebut, subjek hanya menuliskan sebagian kecil informasi yang diketahui pada soal. Subjek tidak menuliskan lebih lanjut mengenai informasi lain berupa informasi yang ditanyakan, model matematika, strategi penyelesaian maupun kesimpulan sehingga subjek dikatakan belum mampu mengerjakan soal nomor 9 sesuai indikator kemampuan berpikir kritis.

10) Analisis Jawaban Soal Nomor 10 Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

a) Analisis Jawaban Subjek B

Gambar 4.49 Hasil Pekerjaan Subjek B Nomor 10

Berdasarkan Gambar 4.49, subjek B sudah menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan dengan lengkap sehingga subjek sudah merumuskan masalah dengan baik. Subjek tidak menuliskan model matematika sehingga subjek belum mampu mengidentifikasi argumen dalam soal. Namun demikian, subjek sudah mampu menyusun strategi dan menyatakan hasil dengan tepat dan baik dan benar. Subjek juga sudah menyimpulkan permasalahan dengan benar sehingga subjek dapat dikatakan sudah mampu mengerjakan soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis kecuali mengidentifikasi argumen.

(49)

b) Analisis Jawaban Subjek C

Gambar 4.50 Hasil Pekerjaan Subjek C Nomor 10

Berdasarkan pekerjaan Subjek C pada Gambar 4.50, subjek tidak menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal, dan tidak menuliskan model matematika sehingga subjek belum mampu merumuskan masalah dan mengidentifikasi argumen. Namun, subjek sudah mampu menyusun strategi untuk menyelesaikan permasalahan dengan tepat. Hanya saja di dalam strategi tersebut, subjek salah dalam memahami soal sehingga hasil akhir yang diperoleh belum tepat. Subjek juga sudah menarik kesimpulan namun belum tepat dikarenakan hasil yang diperoleh salah. Pada soal nomor 10, subjek C sebenarnya sudah mampu menyatakan hasil dan menarik kesimpulan namun masih belum sempurna, namun subjek masih belum bisa merumuskan permasalahan dan mengidentifikasi argumen.

c) Analisis Jawaban Subjek K

Gambar 4.51 Hasil Pekerjaan Subjek K Nomor 10

(50)

informasi yang diketahui pada soal namun informasi tersebut masih belum tepat dan lengkap. Subjek tidak menuliskan informasi lain seperti informasi yang ditanyakan pada soal, model matematika yang digunakan, strategi penyelesaian soal, dan penarikan kesimpulan. Pada soal nomor 10, Subjek K belum mampu mengerjakan soal sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis.

Sementara itu, persentase rata-rata efek potensial yang muncul pada siswa untuk setiap indikator kemampuan berpikir kritis dapat dilihat pada Tabel 4.18.

Tabel 4.18 Persentase Efek Potensial Tiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Indikator Persentase Siswa

Merumuskan Masalah 57%

Mengidentifikasi Argumen 23%

Menyatakan Hasil 35%

Menarik Kesimpulan 46%

Jika dilihat dari Tabel 4.18, sebanyak 57% siswa sudah mampu merumuskan masalah, sedangkan untuk mengidentifikasi masalah hanya berada di 23% dari keseluruhan siswa. Dalam menyatakan hasil dengan tepat, hanya ada 35% siswa yang mampu dan siswa yang melakukan penarikan kesimpulan sebanyak 46%.

Berdasarkan dari hasil angket efek potensial, hasil tes siswa, analisis deskriptif hasil tes, dan persentase efek potensial di tiap indikator kemampuan berpikir kritis, soal model PISA level 4-6 konteks sekolah dapat dikatakan mampu memunculkan efek potensial berpikir kritis pada siswa.

(51)

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengembangkan soal model PISA level 4-6 yang memiliki konteks sekolah yang dapat mengukur kemampuan berpikir kritis. Pengembangan soal model PISA ini mengacu pada model pengembangan soal Tessmer dalam Zulkardi dan Kohar (2018), yaitu tahap preliminary, dan formative evaluation yang terdiri atas expert review, one-to-one evaluation. small group, dan field test. Tahap preliminary merupakan tahap persiapan yang meliputi analisis kurikulum, analisis siswa, analisis kondisi sekolah, analisis literatur, dan spesifikasi tujuan.

Analisis kurikulum bertujuan untuk mengetahui kurikulum, materi, dan metode yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Adapun kurikulum yang dilaksanakan di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto pada tahun ajaran 2021/2022 adalah kurikulum 2013 revisi. Guru menggunakan metode mengajar yang disesuaikan dengan keadaan masa pandemi Covid-19 yaitu dengan menggunakan aplikasi google classroom, google meet, dan video pembelajaran dengan sumber belajar menggunakan buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan buku media autentik yang biasa ditemui di toko buku. Evaluasi pembelajaran yang digunakan oleh guru di masa pandemi adalah pemberian soal atau tugas proyek. Bentuk soal yang biasa digunakan untuk evaluasi pembelajaran adalah pilihan ganda dan uraian, dan soal yang digunakan masih belum banyak mengandung konteks atau kemampuan tertentu yang dalam hal ini dipahami oleh guru sebagai soal HOTS (high order thinking skills). Pernyataan dari guru tersebut berseberangan dengan pendapat Sani (2019) yang menyatakan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi harus dimiliki siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari- hari dan sekolah perlu membekali agar siap dalam menghadapi permasalahan di dunia nyata. Guru mata pelajaran berpendapat bahwa soal yang baik adalah soal yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan pernyataan Lutfianto dalam Putra (2016), cara yang dapat dilakukan agar siswa memiliki kemampuan yang dibutuhkan di masa sekarang adalah soal yang memiliki konteks dan diperjelas oleh Charmila (2016) bahwa soal yang memiliki konteks

Gambar

Gambar 4.3. Contoh soal PISA level 6
Tabel 4.3 Keputusan Revisi pada Kata Kerja Operasional
Tabel 4.6. Keputusan Revisi Redaksi Soal Nomor 2
Gambar 4.11. Denah Sebelum Revisi  Gambar 4.12 Denah Setelah Revisi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu keberadaan prostitusi pada wanita pada dasarnya adalah adanya ketidak berdayaan dari kaum wanita dalam aspek kehidupan apabila dibandingkan dengan kaum laki-laki,

Analisis harga pokok produksi yang meliputi pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead yang digunakan oleh perusahaan untuk menghitung

Berdasarkan Gambar 3, S2 dapat menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari persoalan, menuliskan informasi – informasi penting pada soal

Pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa siswa yang berkategori kurang baik mampu memahami soal dengan menuliskan data dan informasi yang sesuai pada soal, namun

Maka, karya bidang ini disusun untuk meningkatkan kembali brand awareness Klub Merby sebagai lembaga pendidikan yang fokus di bidang seni dan kreativitas serta

Konsep redesain pelabuhan bertema transisi ini diterapkan dalam perancangan total seluruh bangunan terminal guna meningkatkan pelayanan pelabuhan umum serta menambahkan

Pada soal nomor satu, subjek dengan gaya kognitif field independence memulai penyelesaikan masalah dengan menuliskan kembali informasi yang diperoleh dari soal,

subjek KMR (a) tidak menuliskan informasi dari soal. Kemudian subjek menuliskan nilai median yang diperoleh. pada proses pengerjaan soal, subjek tidak menuliskan