• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Penelitian ini mengenai pengaruh faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIVdi kota Surakarta. Subjek penelitian didapatkan dari Poliklinik-poliklinik Voluntary Consultation Testing (VCT) di Surakarta, meliputi Poliklinik VCT RSUD

dr. Moewardi dan Puskesmas-puskesmas yang melayani VCT di Surakarta.

Data diambil menggunakan kuesioner yang wajib diisi oleh semua subjek dan diikuti dengan pemeriksaan fisik dan pengambilan darah untuk pemeriksaan sifilis. Total didapatkan 170 subjek penderita HIV, terdiri dari laki-laki sebanyak 99 orang dan perempuan sebanyak 71 orang. Dari 170 subjek tersebut didapatkan hasil 46 subjek yang menderita sifilis (27,1%) dan 44 (95,7%) penderita sifilis memiliki titer VDRL ≥1/2 sedangkan 2 (4,3%) penderita sifilis memiliki titer VDRL <1/2.

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian Penderita HIV

Jumlah %

Kasus

Sifilis (+) 46 27,1%

Sifilis (-) 124 72,9%

VDRL

Titer ≥1/2 44 95,7%

Titer <1/2 2 4,3%

2. Analisis Univariat (Karakteristik Subjek Penelitian)

Analisis univariat menggambarkan distribusi dan prosentasi dari setiap variabel bebas, yaitu dari faktor sosiodemografik, faktor perilaku kesehatan yang berisiko dan faktor perilaku seksual.

a. Data Sosiodemografi Subjek Penelitian

Data demografi subjek penelitian yang mencakup tempat bertemu, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan dan

(2)

commit to user

status pernikahan didapatkan dari kuesioner, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2.Proporsi Faktor Sosiodemografi Subjek Penelitian

Frekuensi (n) %

Jenis kelamin

Laki-laki 99 58,2

Perempuan 71 41,8

Usia

< 18-22 tahun 14 8,2

23-27 tahun 24 14,1

28-32 tahun 29 17,1

33-37 tahun 30 17,6

38-42 tahun 24 14,1

43-47 tahun 15 8,8

48-52 tahun 21 12,4

≥ 53 tahun 13 7,6

Tingkat pendidikan

Tidak sekolah 5 2,9

SD 15 8,8

SLTP 32 18,8

SLTA 97 57,1

Perguruan Tinggi 21 12,4

Pekerjaan

Pegawai negeri sipil 2 1,2

Usaha mandiri 75 44,1

Kantor/institusi swasta

35 20,6

Pelajar 4 2,4

Buruh 28 16,5

Petani 2 1,2

Tidak bekerja 23 13,5

Pensiun 1 0,6

Tempat bertemu

Tempat kerja 70 41,2

Sekolah/kampus 23 13,5

Gym/klub kesehatan 13 7,6

Liburan/perjalanan bisnis

44 25,9

Bar/klub malam/karaoke

5 2,9

Pesta 1 0,6

Sosial media 14 8,2

Tingkat Pendapatan

≤ Rp.1.600.000 139 81,8

>Rp. 1.600.000 31 18,2

Status pernikahan

Belum menikah 61 35,9

Menikah 89 52,4

Cerai 20 11,7

Dari 170 subjek penelitian, jenis kelamin paling banyak laki-laki sebanyak 99 orang (58,2%) diikuti oleh jenis kelamin perempuan sebanyak

(3)

commit to user

71 orang (41,8%), usia terbanyak adalah diatas 33-37 tahun sebanyak 30 orang (17,6%) diikuti oleh usia 28-32 tahun sebanyak 29 orang (17,1%).

Tingkat pendidikan terbanyak adalah SLTA sebanyak 97 orang (57,1%) diikuti dengan SLTP sebanyak 32 orang (18,8%). Pekerjaan terbanyak adalah sebagai usaha mandiri sebanyak 75 orang (44,1%) diikuti dengan pegawai kantor/institusi swasta sebanyak 35 orang (20,6%). Tempat bertemu paling banyak pada tempat kerja sebanyak 70 orang (41,2%) diikuti oleh liburan/perjalanan bisnis sebanyak 44 orang (25,9%). Mayoritas pendapatan subjek dibawah UMR yaitu ≤ Rp.1.600.000 sebanyak 139 orang (81,8%) sedangkan yang mempunyai pendapatan diatas UMR

>Rp.1.600.000 hanya sebanyak 31 orang (18,2%) dan status pernikahan terbanyak yaitu menikah sebesar 89 orang (52,4%) diikuti belum menikah yaitu sebanyak 61 orang (35,9%).

b. Data Faktor Perilaku Kesehatan Yang Berisiko

Tabel 3. Proporsi Faktor Perilaku Kesehatan Berisiko

Jumlah %

Riwayat transfusi darah/tato/tindik

Ya 22 12,9

Tidak 148 87,1

Penggunaan obat-obatan terlarang non injeksi/alcohol

Ya 25 14,7

Tidak 145 85,3

Pengguna narkoba suntik/PENASUN

Ya 12 7,1

Tidak 158 92,9

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa sebagian besar subjek penelitian yaitu sebanyak 148 orang (87,1%) tidak mempunyai riwayat transfusi darah/tato/tindik sedangkan sebanyak 22 orang (12,9%) mempunyai riwat transfuse darah/tato/tindik, dan terbanyak subjek tidak menggunakan obat-obatan terlarang non injeksi/alkohol sebanyak 145 orang (85,3%) diikuti oleh pengguna obat-obatan terlarang non injeksi/alkohol yaitu sebanyak 25 orang (14,7%) serta mayoritas subjek bukan merupak pengguna narkoba suntik/PENASUN yaitu sebesar 158 orang (92,9%).

(4)

commit to user c. Data Faktor Pengetahuan

Tabel 4. Proporsi Faktor Pengetahuan Tentang IMS dan

Jumlah %

Pengetahuan tentang IMS

Ya 48 28,2

Tidak 122 71,8

Pengetahuan tentang HIV

Ya 78 45,9

Tidak 92 54,1

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa kebanyakan subjek tidak memiliki pengetahuan terhadap IMS yaitu sebanyak 122 orang (71,8%) sedangkan subjek yang mempunyai pengetahuan terhadap IMS hanya sebesar 48 orang (28,2%), serta proporsi yang hampir sama antara subjek yang tidak memiliki pengetahuan tentang HIV (54,1%) maupun yang mempunyai pengetahuan terhadap HIV (45,9%).

d. Data Faktor Perilaku seksual

Tabel 5. Proporsi Faktor Perilaku Seksual

Frekuensi (n) %

Usia pertama kali berhubungan

< 20 tahun 71 41,8

≥ 20 tahun 99 58,2

Pelanggan seks komersial

Ya 55 32,4

Tidak 115 67,6

Orientasi seksual

Lelaki seks lelaki 49 28,8

Biseksual 14 8,2

Heteroseksual 104 61,2

Wanita seks sesama wanita 3 1,8

Jumlah pasangan seksual

1 62 36,5

>1 108 63,5

Penggunaan kondom

Selalu 2 1,2

Jarang/tidak pernah 168 98,8

Berdasarkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa sebagian besar yaitu 99 orang (58,2%) subjek berhubungan seksual pertama kali setelah usia 20 tahun dan sebangian besar subjek yaitu 115 orang (67,6%) tidak menjadi pelanggan seks komersial. Orientasi seksual terbanyak heteroseksual sebanyak 104 orang (61,2%) diikuti lelaki seks lelaki sebanyak 49 orang (28,8%) dan sebagian besar mempunyai pasangan seksual > 1 yaitu

(5)

commit to user

sebanyak 108 orang (63,5%) serta mayoritas subjek penelitian jarang/tidak pernah menggunakan kondom yaitu sebesar 168 orang ( 98,8%).

3. Analisi bivariat

a. Analisis bivariat variabel bebas terhadap Infeksi Sifilis

Tabel 6. Analisis bivariat sosiodemografik terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV di Surakarta

Variabel bebas Sifilis P

Negatif (%) Positif (%)

Jenis kelamin 0,000*

Laki-laki 55 (44,4%) 44 (95,7%)

Perempuan 69 (55,6%) 2 (4,3%)

Usia 0,000*

< 18-22 tahun 5 (4,0%) 9 (19,6%)

23-27 tahun 12 (9,7%) 12 (26,1%)

28-32 tahun 19 (15,3%) 10 (21,7%)

33-37 tahun 25 (20,1%) 5 (10,9%)

38-42 tahun 21 (16,9%) 3 (6,5%)

43-47 tahun 11 (8,9%) 4 (8,7%)

48-52 tahun 18 (14,5%) 3 (6,5%)

≥ 53 tahun 13 (10,5%) 0 (0%)

Tingkat pendidikan 0,054

Tidak sekolah 4 (3,2%) 1 (2,2%)

SD 14 (11,3%) 1 (2,2%)

SLTP 27 (21,8%) 5 (10,9%)

SLTA 63 (50,8%) 34 (73,9%)

Perguruan tinggi 16 (12,9%) 5 (10,9%)

Pekerjaan 0,006*

Pegawai negeri sipil 2 (1,6%) 0 (0%)

Usaha mandiri 55 (43,5%) 20 (39,1%)

Kantor/institusi swasta 17(35,7) 18 (39,2%)

Pelajar 2 (1,6%) 2 (4,3%)

Buruh 24 (19,4%) 4 (8,7%)

Petani 2 (1,6%) 0 (0 %)

Tidak bekerja 21 (16,9%) 2 (4,3%)

Pensiun 1 (0,8%) 0 (0%)

Tempat bertemu 0,003*

Tempat kerja 48 (38,7%) 22 (47,8%)

Sekolah/kampus 21 (16,9%) 2 (4,3%)

Gym/klub kesehatan 9 (7,3%) 4 (8,7%)

Liburan/perjalanan bisnis 37 (28,9%) 7 (15,2%)

Bar/klub malam/karaoke 4 (3,2%) 1 (2,2%)

Pesta 0 (0%) 1 (2,2%)

Sosial media 5 (4,0%) 9 (19,6%)

Tingkat pendapatan 0,353

≤Rp 1.600.000 100 (80,6%) 39 (84,8%)

>Rp 1.600.000 24 (19,4%) 7 (15,2%)

Status pernikahan 0,000*

Belum menikah 24 (19,4%) 37 (80,4%)

Menikah 81 (65,3%) 8 (17,4%)

Cerai 19 (15,3%) 1 (2,2%)

*signifikansi p< 0,05

(6)

commit to user

Analisis bivariat dan multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Dari hasil analisis bivariat, didapatkan variabel bebas yang berpengaruh secara signifikan terhadap infeksi sifilis adalah jenis kelamin (p=0,000), usia (p=0,000), pekerjaan (p= 0,006), tempat bertemu (p=0,003), status pernikahan (p=0,000) pengetahuan IMS (p=0,007) dan pengetahuan HIV (p=0,000) (Tabel 7 dan 9).

Tabel 7. Analisis bivariat perilaku kesehatan berisiko terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV di Surakarta

Variabel bebas Sifilis P

Negatif (%) Positif (%)

Riwayat transfusi darah/tato/tindik 0,581

Ya 16 (12,9%) 6 (13,0%)

Tidak 108 (87,1%) 40 (87,0%)

Penggunaan obat-obatan terlarang non injeksi/alkohol

0,1333

Ya 21 (16,9%) 4 (8,7%)

Tidak 103 (83,1%) 42 (91,3%)

Pengguna narkoba suntik/PENASUN 0,321

Ya 10 (8,1%) 2 (4,3%)

Tidak 114 (91,9%) 44 (95,7%)

*signifikansi p< 0,05

Tabel 8. Analisis bivariat pengetahuan IMS dan HIV terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV di Surakarta

Variabel bebas Sifilis P

Negatif (%) Positif (%)

Pengetahuan tentang IMS 0,007*

Ya 28 (22,6%) 20 (43,5%)

Tidak 96 (77,4%) 26 (56,5%)

Pengetahuan tentang HIV 0,000*

Ya 46 (37,1%) 32 (69,6%)

Tidak 78 (62,9%) 14 (30,4%)

*signifikansi p< 0,05

b. Analisis bivariat variabel antara terhadap Infeksi Sifilis

Analisis bivariat dan multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel antara terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Dari hasil analisis bivariat, didapatkan variabel antara yang berpengaruh secara signifikan terhadap infeksi sifilis adalah usia pertama kali berhubungan (p=0,000), orientasi seksual (p=0,000) dan jumlah pasangan seksual (p=0,004) (Tabel 10).

(7)

commit to user

Tabel 9.Analisis bivariat perilaku seksual yang berisiko terhadap infeksi sifilis pada penderita HIVTabel 10.

Variabel antara Sifilis P

Negatif (%) Positif (%)

Usia pertama kali berhubungan 0,000*

< 20 tahun 41 (33,1%) 30 (65,2%)

≥ 20 tahun 83 (66,9%) 16 (34,8%)

Pelanggan/penjaja seks komersial 0,552

Ya 40 (32,3%) 15 (32,6%)

Tidak 84 (67,7%) 31 (67,4%)

Orientasi seksual 0,000*

Lelaki seks lelaki 13 (10,5%) 36(78,3%)

Biseksual 7 (5,6%) 7 (15,2%)

Heteroseksual 101 (81,5%) 3 (6,5%)

Wanita seks sesama wanita 3 (2,4%) 0 (0%)

Jumlah pasangan seksual 0,004*

1 53 (42,7%) 9 (14,5%)

>1 71 (57,3%) 37(80,4%)

Penggunaan kondom 0,531

Selalu 2 (1,6%) 0 (0%)

Jarang/tidak pernah 122 (98,4%) 46 (100%)

*signifikansi p< 0,05

4. Analisis Regresi Logistik terhadap Infeksi Sifilis

Table 10.Model Akhir Regresi Logistik Ganda infeksi Sifilis

Variabel OR 95% CI P

Orientasi Seksual 0,000*

LSL 185.354 34.378-999.354 0,000*

Biseksual 49.027 7.453-322.506 0,000*

*signifikansi p < 0,05

Berdasarkan analisis multivariat antar faktor risiko dan terjadinya infeksi sifilis keseluruhan (Tabel 11) hanya didapatkan 1 faktor yang dapat dipertahankan, yaitu orientasi seksual. Secara umum faktor risiko orientasi seksual memiliki pengaruh yang signifikan (nilai p=0,000) dan pada pemeriksaan masing-masing kategori didapatkan bahwa orientasi seksual lelaki seks lelaki memiliki risiko 185 kali lebih besar untuk terkenan infeksi sifilis dengan nilai p=0,000<0,005 dan biseksual memiliki risiko 49 kali lebih besar untuk terkenan sifilis dengan dengan nilai p=0,000<0,005.

(8)

commit to user

5. Hasil Analisis Jalur terhadap Infeksi Sifilis 1. Spesifikasi Model

Spesifikasi model menggambarkan bagaimana hubungan antar variabel yang akan diteliti. Terdapat 17 variabel bebas yang dikelompokkan kedalam 4 faktor risiko yaitu faktor sosiodemografik, faktor perilaku kesehatan yang berisiko, faktor perilaku seksual dan faktor pengetahuan. Ke-17 variabel ini akan diukur hubungannya terhadap infeksi sifilis dan terhadap setiap variabel itu sendiri (Gambar 3)

2. Identifikasi model

Untuk melihat apakah model analisis jalur untuk infeksi sifilis ini dapat diterima atau tidak (sesuai dengan data empirik) maka dapat dilihat dari beberapa indikator kesesuaian. Model pada Gambar 1 menunjukkan degree of freedom (df) sebesar 107 (df ≥ 0) yang berarti over identified, sehingga memungkinkan adanya penolakan model. Untuk mengetahui apakah model dapat diterima lebih lanjut maka dapat dilihat dari indikator kesesuaian model yang terdiri dari nilai RMSEA=0,048<0,05, nilai p = 0,004 > 0,5;

GFI = 0,915 > 0,90; TLI = 0,938 > 0,90, CFI = 0,956 > 0,90 yang berarti model tersebut memenuhi kriteria yang ditentukan dan dinyatakan sesuai dengan data empirik.

(9)

commit to user

Gambar 1. Hasil analisis jalur untuk sifilis

(10)

commit to user

Gambar 3 menunjukkan hasil perhitungan koefisien regresi tiap variabel menggunakan software program IBM SPSS AMOS 20.

Berdasarkan Gambar 3, nilai koefisien jalur antara variabel sosiodemografik ke sifilis mempunyai efek positif sebesar 0,757 dengan probabilitas sebesar 0,024 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Jalur antara perilaku kesehatan berisiko ke sifilis bernilai negatif sebesar -0,134 dengan probabilitas sebesar 0,433 > 0,05 sehingga pengaruhnya tidak signifikan.

Jalur antara pengetahuan dan sifilis bernilai negatif sebesar 0,129 dengan probabilitas sebesar 0,052 > 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat tidak signifikan. Jalur dari variabel perilaku seksual ke sifilis mempunyai nilai negatif sebesar -0.044 dengan probabilitas sebesar 0,932 > 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat tidak signifikan. Pada penelitian ini perilaku kesehatan yang berisiko dan perilaku seksual yang berisiko bernilai negatif/protektif terhadap sifilis mungkin karena ketidakjujuran subjek dalam menjawab pertanyaan kuesioner, sehingga terdapat bias dalam hasil.

Variabel sosiodemografik memiliki pengaruh negatif terhadap status perkawinan sebesar -1.301 dengan probabilitas sebesar 0,009 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Variabel sosiodemografik memiliki efek negatif terhadap pekerjaan sebesar -1.293 dengan probabilitas 0,033 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Variabel sosiodemografik memiliki pengaruh positif terhadap status pendidikan sebesar 0.643 dengan probabilitas sebesar 0,037 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Variabel sosiodemografik memiliki pengaruh negatif terhadap jenis kelamin sebesar -0,805 dengan probabilitas sebesar 0,010 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Variabel sosiodemografik memiliki pengaruh negatif terhadap usia sebesar -2,527 dengan probabilitas sebesar 0,015< 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

Variabel perilaku kesehatan mempunyai pengaruh positif terhadap minum alkohol sebesar 1,635 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

(11)

commit to user

Variabel pengetahuan mempunyai pengaruh positif terhadap pengetahuan IMS sebesar 0,619 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

Variabel perilaku seksual memiliki pengaruh positif terhadap status orientasi seksual sebesar 6,916 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Variabel perilaku seksual memiliki efek negatif terhadap jumlah pasangan seksual sebesar -0,715 dengan probabilitas 0,005 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

Korelasi antara riwayat pelanggan/penjaja seks komersial dan jenis kelamin adalah sebesar -0,074 dengan probabilitas 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pelanggan/penjaja seks komersial dan tempat bertemu adalah sebesar 0,369 dengan probabilitas 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pendidikan dan penghasilan adalah sebesar 0,121 dengan probabilitas 0,000

< 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pendidikan dan pekerjaan adalah sebesar -0,455 dengan probabilitas 0,000<0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pekerjaan dan penghasilan adalah sebesar -0,213 dengan probabilitas 0,000<0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara usia dan usia berhubungan adalah sebesar 0,191 dengan probabilitas 0,006 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara tempat bertemu dan penghasilan adalah sebesar 0,155 dengan probabilitas 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pengetahuan dan pemakaian kondom adalah sebesar -0,009 dengan probabilitas 0,019 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara jumlah pasangan seksual dan usia pertama kali berhubungan adalah sebesar -0,033 dengan probabilitas sebesar 0,032 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

Korelasi antara jumlah pasangan seksual dan riwayat pelanggan/penjaja seks komersial adalah sebesar 0,062 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara jenis kelamin dan jumlah pasangan seksual adalah sebesar -0,043 dengan probabilitas 0,004 <

(12)

commit to user

0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara jenis kelamin dan usia pertama kali berhubungan adalah sebesar -0,027 dengan probabilitas 0,036 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan. Korelasi antara pendidikan dan riwayat penjaja seks komersial adalah sebesar -0,046 dengan probabilitas 0,023 < 0,05 sehingga pengaruhnya bersifat signifikan.

Berdasarkan gambar analisis jalur terhadap infeksi sifilis, dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling berperan untuk faktor perilaku kesehatan yang berisiko adalah minum alkohol (1,635). Sedangkan untuk faktor pengetahuan yang paling berperan adalah pengetahuan terhadap IMS (0,619). Sedangkan untuk faktor perilaku seksual yang paling berperan adalah status orientasi seksual (6,916).

6. Rangkuman Hasil Penelitian

Tabel 11.Rangkuman Hasil Analisis Bivariat Sifilis

Faktor sosiodemografik - Jenis kelamin (p=0,000) - Usia (p=0,000)

- Pekerjaan (p=0,006) - Tempat bertemu (p=0,003) - Status pernikahan (p=0,000)

Pengetahuan - Pengetahuan tentang IMS (p=0,007)

- Pengetahuan tentang HIV (p=0,000) Faktor perilaku seksual - Usia pertama kali berhubungan (p=0,000)

- Orientasi seksual (p=0,000) - Jumlah pasangan seksual (p=0,004) Tabel 12.Rangkuman Hasil Analisis multivariat

Sifilis

Regresi logistic - Orientasi seksual lelaki seks lelaki memiliki risiko 185 kali lebih besar untuk terkenan infeksi sifilis

- Orientasi biseksual memiliki risiko 49 kali lebih besar untuk terkenan sifilis.

Tabel 13.Rangkuman Hasil Analisis Jalur

Sifilis

Terhadap Faktor Sosiodemografik - Jenis kelamin (p=0,010).

- Usia (p=0,015)

- Status pendidikan (p= 0,037) - Pekerjaan (p=0,033)

- Status perkawinan (p=0,009) Faktor Perilaku Kesehatan yang berisiko - Minum alkohol (p=0,000)

Faktor pengetahuan - Pengetahuan IMS (p=0,000)

Faktor perilaku seksual - Status orientasi seksual (p=0,000) - Jumlah pasangan seksual (p=0,005)

(13)

commit to user

B. PEMBAHASAN

1. Prevalensi Infeksi sifilis pada Penderita HIV

Pada penelitian ini, didapatkan prevalensi infeksi sifilis pada penderita HIV adalah sebesar 46 orang (27,1%) dengan rincian 44 orang (95,7%) memiliki titer VDRL sebesar ≥1/2 dan mendapatkan terapi, sedangkan hanya 2 pasien yang memiliki titer VDRL sebesar < 1/2 sehingga tidak diterapi. Prevalensi infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV pada penelitian ini sebanding dengan penelitian sebelumnya di Rwanda sebesar 27,4%

(Mutagoma et al., 2017), begitu juga hampir sama dengan penelitian- penelitian lain seperti di Brazil sebesar 18,9% (Callegari et al., 2013) dan di Cina sebesar 19,8% (Hu et al., 2014). Sedangkan di Indonesia belum ada penelitian khusus mengenai prevalensi infeksi sifilis pada populasi khusus penderita HIV, akan tetapi penelitian dilakukan pada populasi berisiko yaitu pada golongan LSL dan Transgender di surakarta dan didapatkan prevalensi infeksi sifilis dengan HIV lebih tinggi dibandingkan pada penelitian ini yaitu sebesar 27,7% (Soenardi, 2017).

Tingginya angka sifilis pada penderita infeksi HIV di Kota Surakarta menunjukkan bahwa sifilis mungkin merupakan penyakit yang tersembunyi yang sering tidak disadari. Hal tersebut dikarenakan pada orang yang menderita infeksi HIV mengalami gangguan kekebalan seluler dan humoral sehingga menurunkan pertahanan host terhadap kuman T. pallidum dan menyebabkan perubahan gejala klinis sifilis menjadi tidak khas.

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

2. Variabel Bebas terhadap infeksi Sifilis pada penderita Infeksi HIV.

a. Faktor Sosiodemografik terhadap Sifilis pada penderita infeksi HIV.

Hasil analisis bivariat antara faktor sosiodemografik terhadap sifilis pada penderita infeksi HIV menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, pekerjaan, tempat bertemu pasangan, dan status pernikahan memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita HIV dengan nilai

(14)

commit to user

p masing-masing adalah (p=000), (p=0,000), (p=0,006), (p=0,003) dan (p=0,000). Hasil bivariat tersebut sesuai dengan hasil penelitian Hu dkk yang melaporkan bahwa usia dan status pernikahan berhubungan dengan terjadinya sifilis pada penderita infeksi HIV, sedangkan hasil tersebut berlawanan dengan hasil penelitian oleh Callegari dkk yang menyebutkan bahwa tempat bertemu, usia, pekerjaan dan status pernikahan tidak berhubungan dengan terjadinya sifilis pada penderita infeksi HIV (Hu et al., 2014, Callegari et al., 2013).

Hasil analisis bivariat antara jenis kelamin memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,000).

Meskipun pada hasil analisis multivariat tidak satupun kategori dari jenis kelamin yang signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan negatif terhadap faktor sosiodemografik sebesar -0,805 (p=0,010). Demikian juga jenis kelamin memiliki korelasi yang signifikan dengan riwayat penjaja seks sebesar -0,074 (nilai p=0,000), memiliki korelasi yang signifikan dengan jumlah pasangan seksual sebesar - 0,043 (nilai p=0,004) dan memiliki korelasi yang signifikan dengan usia pertama kali berhubungan sebesar -0,027 (nilai p=0,036). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dan infeksi sifilis pada penderita infeksi menular seksual dan hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hu dkk yang melaporkan bahwa infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV cenderung mengenai jenis kelamin laki-laki (Hu et al., 2014).

Hasil analisis bivariat antara usia memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,000). Meskipun pada hasil analisis multivariat tidak satupun kategori dari usia yang signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV.

Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa usia memiliki hubungan negatif terhadap faktor sosiodemografik sebesar -2,527 (p=0,015). Demikian juga usia memiliki korelasi yang signifikan dengan

(15)

commit to user

usia pertama kali berhubungan sebesar 0,191 (nilai p=0,006). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi sifilis pada penderita infeksi HIV mayoritas mengenai usia muda sampai mengengah dan hasil tersebut sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu oleh Callegari, dkk dan Shimelis yang melaporkan bahwa infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV cenderung mengenai pupulasi usia muda sampai dengan menengah, terutama mengenai usia 20-40 tahun, oleh karena pada rentan usia tersebut merupakan aktif secara seksualilitas (Callegari et al., 2013; Shimelis et al., 2015).

Hasil analisis bivariat antara pekerjaan memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,006). Meskipun pada hasil analisis multivariat tidak satupun kategori dari pekerjaan yang signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV.

Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa pekerjaan memiliki hubungan negatif terhadap faktor sosiodemografik sebesar -1,293 (p=0,033). Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Rajvanshi dkk yang melaporkan bahwa penderita sifilis pada HIV ini mayoritas mengenai orang- orang yang bekerja, karena dengan bekerja mereka mempunyai penghasilan tetap dan cenderung berganti-ganti pasangan (Rajvanshi et al.,2018).

Hasil analisis bivariat antara tempat bertemu pasangan memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,003). Meskipun pada hasil analisis multivariat tidak satupun kategori dari tempat bertemu pasangan yang signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita HIV. Demikian juga pada hasil analisis jalur yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tempat bertemu pasangan dengan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi tempat bertemu pasangan memiliki korelasi yang signifikan dengan penghasilan sebesar 0,155 (nilai p=0,000) dan memiliki korelasi dengan penjaja seks sebesar 0,369 (nilai p=0,000). Dimana pada penelitian ini penderita bertemu dengan pasangan seksualnya mayoritas ditempat bekerja dan ditempat penjaja seks komersial saat penderita melakukan perjalanan

(16)

commit to user

kerja/bisnis. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Rajvanshi dkk yang melaporkan bahwa infeksi sifilis pada HIV ini mayoritas mengenai orang- orang yang berurbanisasi kekota/daerah industri untuk bekerja dan mereka bertemu pasangan seksualnya pada tempat bekerja atau tempat penjaja seks komersial (Rajvanshi RK et al.,2018).

Hasil analisis bivariat antara status pernikahan memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,000).

Meskipun pada hasil analisis multivariat tidak satupun kategori dari status pernikahan yang signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa status perkawinan memiliki hubungan negatif terhadap faktor sosiodemografik sebesar -1,301 (p=0,009). Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Hu dkk di Cina yang melaporkan bahwa infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV dominan mengenai orang-orang yang tidak menikah, oleh karena mayoritas penderitanya adalah berorientasi LSL, begitu juga pada penelitian ini dominan terjadi pada LSL (Hu et al., 2014).

Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa faktor sosiodemografik memiliki pengaruh yang signifikan secara langsung pada infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV sebesar 0,757 (nilai p=0,024). Hal ini berarti bahwa dengan peningkatan satu unit pada faktor sosiodemografik maka akan menurunkan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV sebesar 0,757 standar deviasi (SD)/ dengan memperbaiki sosiodemografik, maka kita dapat mengontrol turunnya angka kejadian infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV.

b. Faktor Perilaku Kesehatan yang berisiko terhadap Sifilis pada penderita infeksi HIV.

Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa antara faktor perilaku kesehatan yang berisiko, meliputi variabel riwayat transfusi darah/tato/tindik (p=0,581), riwayat pengguna obat-obatan terlarang non injeksi/alkohol (p=0,133) dan riwayat pengguna narkoba suntik/PENASUN (p=0,321) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap sifilis pada

(17)

commit to user

penderita infeksi HIV. Demikian juga pada analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor perilaku kesehatan yang berisiko tidak memiliki pengaruh terhadap sifilis pada penderita infeksi HIV. Meskipun pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa minum alkohol memiliki hubungan positif terhadap faktor perilaku seksual sebesar 1,635 (p=0,000), akan tetapi perilaku kesehatan tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,433>0,05), sehingga dengan perbaikan faktor perilaku seksual tidak akan menurunkan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Callegari dkk yang menyebutkan bahwa perilaku kesehatan yang berisiko tidak berhubungan dengan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (Callegari et al., 2014).

Hasil penelitian tersebut berlawanan dengan penelitian oleh shimelis dkk yang melaporkan bahwa penggunaan alkohol, secara statistik bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan dengan sifilis pada penderita infeksi HIV (Shimelis et al., 2015)

c. Faktor Pengetahuan terhadap Sifilis pada penderita infeksi HIV.

Hasil analisis bivariat antara faktor pengetahuan terhadap sifilis pada penderita infeksi HIV menunjukkan bahwa pengetahuan tentang IMS dan pengetahuan tentang HIV memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita HIV dengan nilai p masing-masing adalah (0,007) dan (p=0,000). Meskipun pada hasil analisis multivariat pengetahuan tentang IMS dan HIV tidak memiliki pengaruh terhadap sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa pengetahuan tentang IMS memiliki hubungan positif terhadap faktor sosiodemografik sebesar 0,619 (p=0,000). Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Raza MH, dkk melaporkan bahwa mayoritas penderita infeksi sifilis pada penderita HIV memiliki pengetahuan tentang IMS dan infeksi HIV sangat rendah. (Raza et al., 2015).

(18)

commit to user

3. Variabel Antara terhadap infeksi Sifilis pada penderita Infeksi HIV.

a. Faktor Perilaku seksual terhadap Sifilis pada penderita infeksi HIV.

Hasil analisis bivariat antara faktor perilaku seksual terhadap sifilis pada penderita infeksi HIV menunjukkan bahwa usia pertama kali berhubungan, orientasi seksual dan jumlah pasangan seksual memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita HIV dengan nilai p masing-masing adalah (p=0,000), (p=0,000) dan (p=0,004).

Hasil analisis bivariat antara usia pertama kali berhubungan seksual memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,000). Meskipun pada hasil analisis multivariat usia pertama kali berhubungan seksual tidak signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Demikian juga pada hasil analisis jalur juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia pertama kali berhubungan seksual dengan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi usia pertama kali berhubungan seksual memiliki korelasi yang signifikan dengan usia sebesar 0,191 (nilai p=0,006), dengan jumlah pasangan seksual sebesar -0,333 (nilai p=0,032) dan memiliki korelasi yang signifikan dengan jenis kelamin sebesar -0,027 (p=0,036).

Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Rajvanshi di India yang melaporkan bahwa penderita infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV cendderung mengenai orang-orang yang pertama kali berhubungan seksual

< 15 tahun (Rajvanshi et al., 2018). Hal tersebut dikarenakan semakin dini seseorang pertama kali melakukan hubungan seksual maka cenderung memiliki pasangan banyak (Stephen, 2011).

Hasil analisis bivariat antara orientasi seksual memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,000).

Demikian juga pada analisis multivariat, didapatkan hubungan yang bermakna antara orientasi seksual dan sifilis, terutama orientasi seksual LSL memiliki risiko 185,354 kali lebih besar untuk menderita sifilis (OR = 185,354; CI 95% = 34,378-999,354; p = 0,000 < 0,05) dan orientasi seksual biseksual juga menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap sifilis

(19)

commit to user

dengan memiliki risiko 49,027 kali lebih besar untuk terkena sifilis (OR = 49,027; CI 95% = 7,453-322,506; p = 0,000 < 0,05). Demikian juga pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa orientasi seksual memiliki hubungan positif terhadap perilaku seksual sebesar 6,916 (p = 0,000). Hasil penelitian ini memiliki risiko lebih besar dari penelitian-penelitian sebelumnya oleh Callegari dkk yang menyebutkan bahwa orientasi seksual LSL memiliki risiko sebesar 1,8 kali lebih besar terkena sifilis (OR 1,8, CI 95% = 1,6-4,1),penelitian Luppi dkk juga menyatakan bahwa LSL memiliki risiko sebesar 1,87 kali lebih besar terkena sifilis (OR 1,87, CI 95% = 1,38- 2,53) dan penelitian oleh Hu dkk juga melaporkan bahwa LSL memiliki risiko sebesar 2,68 kali lebih besar (OR 2,68, CI 95% = 1,53-4,69), oleh karena kalangan LSL melakukan hubungan seksual dengan cara yang tidak aman, seperti oral seks, berhubungan lewat anus, yang kesemuanya memiliki risiko tinggi dalam penularan infeksi (Callegari et al., 2014; Luppi et al., 2018; Hu et al., 2014).

Hasil analisis bivariat antara jumlah pasangan seksual memiliki hubungan signifikan terhadap infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV (p=0,004). Meskipun pada hasil analisis multivariat jumlah pasangan seksual tidak signifikan terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV. Akan tetapi pada hasil analisis jalur menunjukkan bahwa jumlah pasangan seksual memiliki hubungan negatif terhadap perilaku seksual sebesar -0,715 (p = 0,005). Demikian juga jumlah pasangan seksual memiliki korelasi yang signifikan dengan usia pertama kali berhubungan adalah sebesar -0,033 (p = 0,032), dengan riwayat pelanggan/penjaja seks komersial sebesar 0,062 (p = 0,000) dan memiliki korelasi yang signifikan dengan jenis kelamin sebesar -0,043 (p = 0,004). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV berhubungan dengan jumlah pasangan yaitu dominan mengenai orang-orang yang mempunyai pasangan seksual lebih dari satu dan hasil tersebut sesuai dengan penelitisn oleh Luppi dkk yang melaporkan infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV cenderung mengenai orang-orang yang mempunyai

(20)

commit to user

jumlah pasangan lebih dari 1 atau berganti-ganti pasangan (Luppi et al., 2017).

C. KETERBATASAN PENELITIAN

Keterbatasan pada penelitian ini adalah recall bias karena penelitian ini menggunakan kuesioner yang meminta subjek untuk mengisi, sebagai contoh seperti pada pertanyaan mengenai status perkawinan, pekerjaan, riwayat pelanggan/penjaja seks komrsial dan usia saat pertama berhubungan seksual.

 Mengingat kompleksnya faktor risiko infeksi sifilis pada penderita terkena infeksi HIV, variabel penelitian yang dipilih (untuk diketahui pengaruhnya terhadap terjadinya infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV) mungkin belum dapat menggambarkan secara keseluruhan permasalahan yang ada, sebagai contoh adalah tidak adanya variabel persepsi mengenai infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV.

 Prevalensi infeksi sifilis pada penderita infeksi HIV di Surakarta lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lain seperti India, Cina, Afrika), hal tersebut dapat dikarenakan perbedaan dalam metode pengambilan sampling.

(21)

commit to user

Gambar

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian Penderita HIV
Tabel 2.Proporsi Faktor Sosiodemografi Subjek Penelitian
Tabel 3. Proporsi Faktor Perilaku Kesehatan Berisiko
Tabel 4. Proporsi Faktor Pengetahuan Tentang IMS dan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan metode talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran

Az antant problémáival szemben a központi hatalmak erejét hirdeti az a karikatúra, mely szerint „A központi sündisznó” minden irányból megsebesíti az ellenséget: a

Tampaknya dalam Pasal 29 ayat 4 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan diatas

Waktu pemijahan pada ikan dapat diduga dengan melihat komposisi tingkat kematangan gonad ikan tersebut, waktu pemijahan ikan adalah bulan-bulan yang memiliki jumlah

Dead Reckoning adalah adalah prosedur matematika sederhana untuk menentukan lokasi sekarang kapal dengan memajukan beberapa posisi sebelumnya melalui kursus dikenal

Kemudian, menyatakan ketentuan Pasal 38 juncto Pasal 55 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi atau Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Berdasarkan penelitian yang ditelah dilakukan dapat disimpulkan bahwa senyawa sitotoksik yang diperoleh dari fraksi etil asetat tergolong dalam sitotoksik moderat terhadap

Nurul Ilmi Fajrin, 2015, Hubungan Antara Kemandirian Dengan Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim