TINDAKAN PENYITAAN TERHADAP HARTA KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK YANG TERSIMPAN DI BANK PADA
E. Perintah Memberi Kuasa Memberitahukan Saldo
Setelah jurusita pajak menerima berita acara pemblokiran rekening atas nama penanggung pajak dari bank, maka jurusita pajak memerintahkan kepada penanggung pajak untuk memberikan kuasa kepada bank agar memberitahukan saldo yang terdapat dalam rekeningnya pada bank tersebut kepada jurusita pajak.93
Kuasa mana diharuskan agar jurusita pajak dapat mengetahui berapa saldo yang terdapat di rekening penanggung pajak tersebut karena pejabat bank tidak akan mau memberitahukan berapa saldo yang terdapat direkening penanggung pajak
92
Wawancara dengan Bapak Ateng, Juru Sita Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cikarang Utara, tanggal 06 Juli 2009.
93
Lihat Pasal 4 ayat (1) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ/2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
karena pejabat bank diwajibkan oleh undang-undang untuk merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya sesuai dengan UU Perbankan.
Rahasia Bank adalah segala sesuatunya yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanan nasabah. Bank wajib merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Sedangkan keterangan mengenai nasabah selain nasabah penyimpan bukan merupakan keterangan yang wajib dirahasiakan oleh Bank. Namun ketentuan ini tidak berlaku bagi :
1. Kepentingan perpajakan;
2. Penyelesaian piutang bank yang sudah diserahkan kepada Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara/Panitia Urusan Piutang Negara;
3. Kepentingan peradilan dalam perkara pidana;
4. Kepentingan peradilan dalam perkara perdata antara bank dengan nasabah; 5. Tukar menukar informasi antar bank;
6. Permintaan, persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan yang dibuat secara tertulis;
7. Permintaan ahli waris yang sah dari nasabah penyimpan yang telah meninggal dunia.94
Pelaksanaan ketentuan tersebut terlebih dahulu wajib memperoleh perintah atau izin tertulis untuk membuka rahasia bank dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali untuk ketentuan dalam angka 4,5,6 dan 7 tidak memerlukan izin tersebut.
Untuk kepentingan perpajakan, Pimpinan Bank Indonesia berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan
94 Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/19/PBI/2000 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank oleh Gubernur Bank Indonesia, pasal. 2 ayat (4).
memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak berdasarkan permintaan tertulis dari Menteri Keuangan. Permintaan tersebut harus menyebutkan :
a. Nama pejabat pajak;
b. Nama nasabah penyimpan wajib pajak yang dikehendaki keterangannya; c. Nama kantor bank tempat nasabah mempunyai simpanan;
d. Keterangan yang diminta; dan
e. Alasannya diperlukan keterangan tersebut.95
Bank sebagai lembaga keuangan dalam melaksanakan kegiatan usahanya senantiasa bertumpu pada unsur kepercayaan masyarakat, terutama nasabah penyimpan yang menempatkan simpanannya di bank. Sebagai lembaga kepercayaan, bank wajib merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanan nasabah yang berada di bank. Dengan diberlakukannya UU Perbankan, maka ketentuan rahasia bank yang semula mencakup nasabah kreditur (penyimpan dana) dan nasabah debitur (peminjam dana), telah dibatasi hanya menyangkut nasabah penyimpan saja.
Apabila penanggung pajak bersedia untuk memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan di bank, maka penanggung pajak membuat surat pemberian kuasa kepada pimpinan bank agar memberitahukan saldo kekayaannya pada jurusita pajak.96
95 Ibid, pasal 4 ayat (3).
96
Lihat Pasal 4 ayat (2) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ/2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
Jadi untuk mengetahui saldo rekening atas nama penanggung pajak yang tersimpan di bank, harus ada kuasa dari penanggung pajak selaku pemilik rekening kepada bank untuk memberitahukan saldo rekeningnya kepada jurusita pajak.
Adakalanya penanggung pajak menolak memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada bank dengan tidak membuat surat pemberian kuasa kepada pimpinan bank, maka saat itu pula jurusita pajak membuat berita acara penolakan pemberian kuasa oleh penanggung pajak,97 yang mana berita acara dimaksud digunakan sebagai dasar bagi pejabat kantor pelayanan pajak untuk mengajukan permohonan kepada Gubernur Bank Indonesia melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank memberitahukan saldo kekayaan penanggung pajak yang tersimpan pada bank dimaksud.
Dalam hal penanggung pajak tidak mau memberikan kuasa kepada bank, pejabat kantor pelayanan pajak dapat menempuh cara lain untuk mengetahui saldo rekening penanggung pajak tersebut, yaitu dengan cara meminta Gubernur Bank Indonesia melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank memberitahukan saldo rekening penanggung pajak yang tersimpan pada bank dimaksud kepada pejabat,98 dengan turut melampirkan berita acara penolakan yang telah ditandatangani penanggung pajak digunakan sebagai dasar bagi pejabat kantor pelayanan pajak untuk mengajukan permohonan kepada Gubernur Bank Indonesia melalui Menteri
97
Lihat Pasal 4 ayat (2) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ/2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
98
Pasal 4 ayat (1) huruf b Keputusan Menteri Keuangan No.563/KMK.04/2000 tentang Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penangung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
Keuangan untuk memerintahkan bank memberitahukan saldo kekayaan penanggung pajak yang tersimpan di bank tersebut.99
Surat permohonan tersebut diajukan oleh Pejabat Kantor Pelayanan Pajak kepada Direktur Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak dan tembusannya disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasan langsungnya.100 Surat Pejabat Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud diatas harus dilampiri konsep surat Menteri Keuangan kepada Gubernur Bank Indonesia101, dan konsep surat mana diteruskan kepada Menteri Keuangan.
Untuk kepentingan perpajakan, Pimpinan Bank Indonesia berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak,102 yang mana perintah tertulis tersebut diberikan berdasarkan permintaan tertulis dari Menteri Keuangan103 dan dalam permintaan tersebut harus menyebutkan nama pejabat pajak, nama nasabah penyimpan wajib pajak yang dikehendaki keterangannya, nama kantor bank tempat
99
Lihat Pasal 4 ayat (4) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ./2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
100
Lihat Pasal 4 ayat (5) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ./2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
101
Lihat Pasal 4 ayat (6) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-627/PJ./2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
102
Lihat Pasal 4 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
103
Lihat Pasal 4 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
nasabah mempunyai simpanan, keterangan yang diminta dan alasan diperlukannya keterangan tersebut.104
Menteri Keuangan berdasarkan surat yang diajukan oleh pejabat kantor pelayanan pajak mengajukan permohonan permintaan pemberitahuan saldo rekening penanggung pajak yang tersimpan pada bank. Permohonan permintaan tertulis tersebut ditujukan kepada Gubernur Bank Indonesia up. Direktorat Hukum Bank Indonesia105 dan harus ditandatangani dengan membubuhkan tandatangan basah oleh Menteri Keuangan.106
Pemberian perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank untuk kepentingan perpajakan dilaksanakan oleh Gubernur Bank Indonesia dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah surat permintaan diterima secara lengkap oleh Direktorat Hukum Bank Indonesia.107 Namun, Gubernur Bank Indonesia dapat menolak untuk memberikan perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank apabila surat permintaan yang diajukan tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan. Atas penolakan tersebut harus diberitahukan tertulis selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah surat permintaan diterima.108
104
Lihat Pasal 4 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
105
Lihat Pasal 9 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
106
Lihat Pasal 9 ayat (1) huruf a Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
107
Lihat Pasal 10 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
108
Lihat Pasal 10 ayat (4) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
Dari ke 20 (dua puluh) rekening wajib pajak yang telah dilakukan pemblokiran oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cikarang Utara, yang terdiri dari 5 (lima) rekening wajib pajak badan hukum dan 15 (lima belas) rekening wajib pajak orang perorangan. Seluruh wajib pajak badan hukum tersebut menolak untuk memberikan kuasa kepada bank untuk memberitahukan saldo dari rekeningnya kepada juru sita pajak. Seketika itu juga jurusita pajak membuat Berita Acara Penolakan Penandatanganan Surat Kuasa oleh penanggung pajak untuk memberitahukan saldo rekeningnya kepada juru sita pajak, yang mana berita acara tersebut akan digunakan sebagai dasar dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cikarang Utara melalui Menteri Keuangan untuk memohon kepada Gubernur Bank Indonesia agar bank yang bersangkutan memberitahukan saldo rekening dari wajib pajak badan hukum tersebut kepada juru sita pajak. Dari 15 (lima belas) wajib pajak perorangan bersedia untuk menandatangani surat kuasa kepada bank untuk memberitahukan saldo rekeningnya kepada juru sita pajak sebanyak 5 (lima) orang sedangkan sisanya tidak bersedia memberikan kuasa.
F. Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Di Bank