4.5 PERBANDINGAN ANTARA METODE PERUSAHAAN DENGAN METODE EOQ
4.5.1 Periode 2009 1 Apel
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah apel segar sebesar 136 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 24 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 273 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah apel segar sebesar 231 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 17 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree
sebesar 32 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 109 kali produksi/tahun. Perbedaan jumlah pembelian ini tentunya akan mempengaruhi besarnya total biaya pembelian yang harus dikeluarkan. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih kecil dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah apel segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 42 kg dan 87 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah apel segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 135 kg dan 24 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa apel segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 43.640.858 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 38.461.130. Adanya perbedaan total biaya ini menghasilkan sejumlah penghematan yang dapat diperoleh perusahaan, yaitu sebesar Rp 5.179.727. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 55.324.421 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 94.223.489. Adanya perbedaan ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
4.5.1.2 Jambu
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah jambu biji merah segar sebesar 741 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 97 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree
sebesar 6.546 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah jambu biji merah segar sebesar 964 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 69 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 128 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 429 kali produksi/tahun. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih kecil dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah jambu biji segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 339 kg dan 4.193 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah jambu biji segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 478 kg dan 78 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah jambu biji merah segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 369.915.610 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 330.480.661. Adanya perbedaan total biaya ini menghasilkan sejumlah penghematan yang dapat diperoleh perusahaan, yaitu sebesar Rp 39.434.949. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 540.823.262 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 459.142.781. Penghematan yang diperoleh perusahaan dari total biaya persediaan berupa puree sebesar Rp 81.680.481.
4.5.1.3 Nanas
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah nanas segar sebesar 404 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 15 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 526 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah nanas segar sebesar 295 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 21 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan
puree sebesar 38 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 128 kali produksi/tahun. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih besar dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah nanas segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 15 kg dan 274 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah nanas segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 172 kg dan 19 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah nanas segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 33.602.403 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 44.072.906. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 103.184.039 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 91.497.383. Penghematan yang diperoleh perusahaan dari total biaya persediaan berupa puree sebesar Rp 11.686.655.
4.5.1.4 Sirsak
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah sirsak segar sebesar 604 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 49 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 2.050 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah sirsak segar sebesar 633 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 46 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan
puree sebesar 86 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 290 kali produksi/tahun. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku untuk buah segar menurut metode EOQ lebih besar dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah sirsak segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 162 kg dan 592 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan
rata-rata buah sirsak segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 459 kg dan 53 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah sirsak segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 186.864.613 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 194.962.179. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 385.187.786 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 382.434.263. Penghematan yang diperoleh perusahaan dari total biaya persediaan berupa puree sebesar Rp 2.753.523.
4.5.1.5 Strawberi
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah strawberi segar sebesar 218 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 12 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree
sebesar 248 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah strawberi segar sebesar 186 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 13 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 26 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 89 kali produksi/tahun. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih besar dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah strawberi segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 29 kg dan 113 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah strawberi segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 182 kg dan 15 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah strawberi segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 47.358.654 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 48.736.653. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan, yaitu sebesar Rp 66.245.896 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 74.433.921. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan. 4.5.2Periode 2010
4.5.2.1 Apel
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah apel segar sebesar 312 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 22 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 527 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah apel segar sebesar 311 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 22 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree
sebesar 44 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 147 kali produksi/tahun. Perbedaan jumlah pembelian ini tentunya akan mempengaruhi besarnya total biaya pembelian yang harus dikeluarkan. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih kecil dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah apel segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 10 kg dan 55 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan
rata-rata buah apel segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 180 kg dan 25 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah apel segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 55.979.650 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 58.967.433. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 76.941.561 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 135.387.347. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
4.5.2.2 Jambu
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah jambu biji merah segar sebesar 1.072 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 97 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan
puree sebesar 7.104 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah jambu biji merah segar sebesar 1.227 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 88 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 163 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 547 kali produksi/tahun. Berdasarkan kuantitas barang dan frekuensi pembelian tersebut, total biaya pembelian bahan baku menurut metode EOQ lebih kecil dibanding metode yang diterapkan oleh perusahaan.
Jumlah persediaan rata-rata buah jambu biji segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 6.821 kg dan 3.557 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah jambu biji segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 544 kg dan 78 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah jambu biji merah segar menurut perusahaan sebesar Rp 496.765.900 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 502.949.608. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 703.895.941 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 683.527.569. Penghematan yang diperoleh perusahaan dari total biaya persediaan berupa puree sebesar Rp 20.368.373.
4.5.2.3 Nanas
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah nanas segar sebesar 634 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 19 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 783 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah nanas segar sebesar 408 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 29 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan
puree sebesar 53 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 177 kali produksi/tahun.
Jumlah persediaan rata-rata buah nanas segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 0 kg dan 242 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah nanas segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 182 kg dan 24 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah nanas segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 53.177.568 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 68.784.892. Dalam persediaan berupa puree, total biaya
persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 124.787.234 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 138.495.142. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
4.5.2.4 Sirsak
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah sirsak segar sebesar 654 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 34 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 1.708 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah sirsak segar sebesar 565 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 41 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan
puree sebesar 77 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 259 kali produksi/tahun.
Jumlah persediaan rata-rata buah sirsak segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 252 kg dan 659 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah sirsak segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 294 kg dan 44 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah sirsak segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 145.460.255 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 161.209.812. Adanya perbedaan total biaya ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 338.129.356 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 318.990.105. Penghematan yang diperoleh perusahaan dari total biaya persediaan berupa puree sebesar Rp 19.139.251.
4.5.2.5 Strawberi
Menurut metode perusahaan, jumlah pembelian buah strawberi segar sebesar 253 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 12 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree
sebesar 241 kg/bulan. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah pembelian buah strawberi segar sebesar 208 kg/pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 15 kali pesan/tahun dan jumlah pengadaan puree sebesar 30 kg/periode produksi dengan frekuensi pengadaan sebanyak 100 kali produksi/tahun.
Jumlah persediaan rata-rata buah strawberi segar dan puree menurut metode perusahaan masing-masing sebesar 0 kg dan 99 kg. Sedangkan menurut metode EOQ, jumlah persediaan rata-rata buah strawberi segar dan puree di tempat penyimpanan masing-masing sebesar 111 kg dan 20 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat perbandingan total biaya persediaan yang dikeluarkan menurut metode perusahaan dan menurut metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku berupa buah strawberi segar menurut perusahaan adalah sebesar Rp 52.559.060 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 58.715.359. Dalam persediaan berupa puree, total biaya persediaan menurut perusahaan sebesar Rp 73.815.484 dan menurut metode EOQ sebesar Rp 87.745.829. Adanya perbedaan ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
Secara jelas, perbandingan total biaya persediaan berupa buah segar dan puree menurut metode perusahaan dan metode EOQ serta besar penghematan yang diperoleh, masing-masing dapat dilihat dalam Tabel 35.
Tabel 35. Total biaya persediaan buah segar dan puree menurut metode perusahaan dan metode EOQ serta penghematan yang diperoleh selama 2009-2010
Jenis bahan baku
TIC Menurut Perusahaan (Rp)
TIC Menurut Metode EOQ
(Rp) Besar Penghematan (Rp) 2009 2010 2009 2010 2009 2010 Buah Segar Apel 43.640.858 55.979.650 38.461.130 58.967.433 5.179.727 (2.987.783) Jambu 369.915.610 496.765.900 330.480.661 502.949.608 39.434.949 (6.183.708) Nanas 33.662.403 53.177.568 44.072.906 68.784.892 (10.410.504) (15.607.324) Sirsak 186.864.613 145.460.255 194.962.179 161.209.812 (8.097.566) (15.749.557) Strawberi 47.358.654 52.559.060 48.736.653 58.715.359 (1.377.999) (6.156.299) Puree Apel 55.324.421 76.941.561 94.223.489 135.387.347 (38.899.068) (58.445.786) Jambu 540.823.262 703.895.941 459.142.781 683.527.569 81.680.481 20.368.373 Nanas 103.184.039 124.787.234 91.497.383 138.495.142 11.686.655 (13.707.908) Sirsak 385.187.786 338.129.356 382.434.263 318.990.105 2.753.523 19.139.251 Strawberi 66.245.896 73.815.484 74.433.921 87.745.829 (8.188.025) (13.930.344)
Ket: ( ) bersifat negatif/rugi
Berdasarkan Tabel 35, dapat dilihat bahwa total biaya persediaan baik persediaan berupa buah maupun puree yang harus dikeluarkan menurut metode perusahaan, lebih kecil dibanding total biaya menurut metode EOQ (kecuali untuk puree jambu dan sirsak). Secara umum, penggunaan metode EOQ untuk menentukan pengadaan buah segar kurang dapat memberikan penghematan bagi perusahaan. Hal ini disebabkan perusahaan tidak mengadakan sejumlah persediaan berupa buah segar sehingga biaya penyimpanan untuk buah segar tidak besar. Sebaliknya dengan metode EOQ, biaya penyimpanan cukup besar karena di tempat penyimpanan selalu ada sejumlah persediaan yang disimpan, tanpa memperhatikan aspek kerusakan dari buah segar itu sendiri. Maka, metode EOQ ini dapat dilakukan jika aspek kerusakan dan faktor ketersediaan buah segar bersifat pasti.