DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 PRODUK HASIL
Jus merupakan produk hasil proses produksi dalam suatu industri minuman dengan bahan baku buah segar. Menurut Varnam dan Sutherland (1994), jus dapat didefinisikan sebagai cairan yang diperas dengan tekanan atau alat mekanis lain dari bagian yang dapat dimakan dari buah. Jus seringkali keruh, mengandung komponen-komponen seluler dalam suspensi koloid dengan beberapa jumlah jaringan yang terpecah dengan baik. Jus juga mengandung material berminyak dan berlilin, pigmen karotenoid yang berasal dari kulit atau daging buah.
Tahap-tahap pengolahan jus buah secara umum adalah pemilihan dan penentuan kematangan buah, pencucian dan sortasi, ekstraksi, homogenisasi, penyaringan, deaerasi, pengawetan dan pembotolan atau pengalengan. Untuk buah-buahan tertentu, dapat dilakukan modifikasi terhadap pengolahan tersebut, tergantung pada sifat buah dan jus yang diinginkan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jus buah antara lain: buah yang digunakan haruslah segar, banyak tersedia dan mengandung kadar air yang tinggi, tidak hambar serta tidak rusak dan tidak busuk (Arhurst, 1995).
Cara penyimpanan bahan atau produk pangan adalah dengan cara penyimpanan dingin (chilling storage) di bawah 150C dan di atas titik beku bahan atau produk. Penyimpanan dingin merupakan salah satu cara menghambat turunnya mutu jus buah, di samping penambahan zat-zat pengawet kimia dan konsentrasi gula yang tinggi. Pendinginan akan menurunkan laju pertumbuhan mikroba pada bahan produk yang disimpan. Menurut Pollard dan Timberlake (1974), suhu penyimpanan yang ideal bagi jus buah adalah 5,4-14,40C. Suhu rendah di atas suhu pembekuan dan di bawah 150C dapat mengurangi laju metabolisme. Dengan menyimpan bahan pangan pada suhu sekitar -20C sampai 100C, diharapkan dapat memperpanjang masa simpan produk pangan. Suhu rendah dapat memperlambat aktivitas metabolisme dan menghambat pertumbuhan mikroba.
2.3
MANAJEMEN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
2.3.1
Persediaan
2.3.1.1 Pengertian persediaan
Persediaan merupakan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Keberadaan persediaan berkaitan dengan faktor waktu, faktor ketidakpastian, faktor diskontinuitas, dan faktor ekonomi (Handoko, 2000).
Menurut Bedworth dan Bailey (1982), persediaan memiliki fungsi penting yang dapat meningkatkan efisiensi operasional suatu perusahaan. Dengan adanya persediaan maka proses produksi tidak terhambat oleh kekurangan bahan baku. Selain itu, prosedur untuk memperoleh dan menyimpan bahan baku yang dibutuhkan dapat dilaksanakan dengan biaya minimum.
Persediaan adalah aktiva lancar yang terdapat pada perusahaan dalam bentuk persediaan bahan mentah (bahan baku, bahan setengah jadi dan barang jadi) (Prawirosentono, 2001). Menurut Gitosudarmo (2002), persediaan adalah bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan. Sedangkan menurut Soemarsono (1999), persediaan diartikan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali atau digunakan dalam kegiatan perusahaan.
Pengendalian persediaan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material sedemikian rupa sehingga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan di lain pihak investasi persediaan material dapat ditekan secara optimal (Indrajit dan Djokopranoto, 2003).
2.3.1.2 Tujuan dan Fungsi Persediaan
Tujuan dari persediaan adalah untuk mencapai efisiensi dan efektifitas optimal dalam penyimpanan material (Indrajit dan Djokopranoto, 2003). Menurut Johns dan Harding (1996), tujuan pengendalian persediaan adalah meminimalkan investasi dalam sediaan, namun tetap konsisten dengan penyediaan tingkat pelayanan yang diminta.
Menurut Assauri (1998), fungsi persediaan yang diadakan mulai dari persediaan yang berbentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, antara lain:
a. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan oleh perusahaan
b. Menghilangkan resiko dari material yang dipesan tidak memenuhi kualifikasi, sehingga harus dikembalikan
c. Menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan jika bahan itu tidak ada di pasaran
d. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi
e. Mencapai penggunaan mesin yang optimal 2.3.1.3 Jenis-Jenis Persediaan
Menurut Rangkuti (2002), setiap jenis persediaan memiliki karakteristik tersendiri dan cara pengolahan yang berbeda. Persediaan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis di antaranya sebagai berikut:
a. Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang berwujud serta komponen lain yang digunakan dalam proses produksi
b. Persediaan komponen rakitan (purchased parts/components) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen yang diperoleh dari perusahaan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk
c. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies) yaitu persediaan barang- barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi
d. Persediaan barang dalam proses (work in process) yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi
e. Persediaan barang jadi (finished goods) yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual atau dikirim kepada pelanggan
2.3.1.4 Biaya-Biaya Persediaan
Menurut Ahyari (2003), biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sehubungan dengan penyelenggaraan persediaan di dalam suatu persediaan terdiri dari tiga macam biaya. Biaya- biaya tersebut antara lain:
a. Biaya Pemesanan
Biaya pemesanan merupakan biaya-biaya yang terkait langsung dengann kegiatan pemesanan yang dilakukan oleh perusahaan. Hal yang diperhitungkan dalam biaya pemesanan adalah frekuensi pemesanan dilakukan, berapa pun jumlah unit yang dipesan pada setiap kali pemesanan tersebut.
Biaya pemesanan disebut juga ordering cost jika biaya tersebut dikeluarkan untuk pengadaan barang yang berasal dari pembelian. Biaya ini terdiri dari biaya persiapan pembelian, biaya pembuatan faktur, biaya ekspedisi dan administrasi serta biaya untuk dokumen lain yang menjamin lancarnya arus barang.
Biaya pemesanan disebut set up cost jika biaya tersebut dikeluarkan untuk pengadaan barang yang berasal dari produksi sendiri. Biaya ini meliputi biaya yang diperlukan untuk perbaikan mesin, pengadaan bahan baku dan tenaga kerja.
Pada prinsipnya biaya pemesanan ini akan diperhitungkan atas dasar frekuensi pembelian yang dilakukan oleh perusahaan. Semakin besar frekuensi pembelian maka semakin besar pula biaya persediaannya.
b. Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan akibat adanya sejumlah bahan baku yang disimpan di gudang/tempat penyimpanan. Biaya ini juga sering disebut carrying cost atau holding cost. Beberapa contoh dari biaya penyimpanan ini antara lain: biaya simpan bahan, biaya asuransi bahan, biaya kerusakan dalam penyimpanan, biaya pemeliharaan bahan, biaya sewa gudang, dan lainnya.
c. Biaya Tetap Persediaan
Biaya tetap persediaan (fixed inventory cost) adalah seluruh biaya yang timbul akibat adanya persediaan bahan yang tidak terkait langsung baik dengan frekuensi pembelian maupun jumlah unit yang disimpan dalam tempat penyimpanan bahan baku. Beberapa contoh dari biaya ini antara lain: biaya bongkar bahan, biaya sewa beban, dan lainnya.
2.3.2
Pengendalian Persediaan Bahan Baku
2.3.2.1 Pengertian Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan persediaan fisik pada perusahaan akan melibatkan investasi yang sangat besar. Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan seluruh bagian dengan tujuan agar usaha penjualan dapat berjalan efektif serta produk dan penggunaan sumber daya dapat berjalan secara maksimal.
Istilah pengendalian merupakan penggabungan dari dua pengertian yang sangat erat kaitannya, tetapi dari masing-masing pengertian tersebut dapat diartikan sendiri-sendiri yaitu perencanaan dan pengawasan. Pengawasan tidak akan memiliki arti tanpa adanya
perencanaan terlebih dahulu, dan juga sebaliknya, perencanaan tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa ada pengawasan.
Perencanaan adalah proses untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil pada masa yang akan datang (Widjaja, 1996). Menurut Horngren (1992), perencanaan kebutuhan bahan adalah suatu sistem perencanaan yang mulanya berfokus pada jumlah dan besar permintaan produk jadi, yang selanjutnya menentukan besar kebutuhan untuk bahan baku, komponen dan sub perakitan saat proses produksi.
Pengawasan bahan adalah suatu fungsi terkoordinasi di dalam organisasi yang terus menerus disempurnakan untuk mengelola bahan baku dan persediaan pada umumnya, serta melakukan pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen sah suatu transaksi yang berhubungan dengan pengawasan bahan, meliputi pengawasan fisik dan pengawasan nilai atau rupiah bahan (Supriyono, 1999). Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas pada penentuan atas tingkat dan komposisi persediaan, tetapi juga termasuk pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang ditentukan dan dengan tingkat biaya serendah-rendahnya.
Menurut Widjaja (1996), pengendalian adalah proses manajemen yang memastikan bahwa kegiatan yang dijalankan oleh anggota dan suatu organisasi sesuai dengan rencana dan kebijakannya. Pengendalian berkisar pada kegiatan memberikan pengamatan, pemantauan, penyelidikan dan pengevaluasian ke seluruh bagian manajemen agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
2.3.2.2 Tujuan Pengendalian Bahan Baku
Menurut Assauri (1998), tujuan pengawasan persediaan dapat diartikan sebagai usaha untuk:
1. Menjamin agar ketersediaan persediaan tetap terjaga sehingga proses produksi tidak terhenti
2. Menjaga agar penentuan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar sehingga biaya yang berkaitan dengan persediaan dapat ditekan
3. Menjaga agar frekuensi pembelian bahan baku lebih efektif
Tujuan dasar dari pengendalian bahan adalah kemampuan untuk melakukan pemesanan pada saat yang tepat ke pemasok terbaik untuk memperoleh kualitas dan kuantitas pada harga yang tepat (Matz, 1994). Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka perencanaan dan pengendalian persediaan yang tepat dibutuhkan agar kelangsungan proses produksi tetap terjaga.
2.3.2.3 Prinsip-Prinsip Pengendalian
Menurut Matz (1994), sistem dan teknik pengendalian persediaan harus didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1. Persediaan diciptakan dari pembelian : (a) bahan dan suku cadang, dan (b) tambahan biaya pekerja dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang jadi.
2. Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.
3. Perkiraan yang tepat atas jadwal penjualan dan produksi merupakan hal yang penting bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan yang efisien.
4. Kebijakan manajemen yang berupaya menciptakan keseimbangan antara keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien dengan biaya pemilikan
persediaan tersebut merupakan faktor yang paling utama dalam menentukan investasi persediaan.
5. Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan penyusunan rencana pengendalian produksi.
6. Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas persediaan. 7. Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.
2.3.2.4 Model Pengendalian Persediaan
Pada dasarnya kebijakan pengendalian persediaan meliputi dua aspek yaitu (1) pada saat kapan atau pada tingkat persediaan berapa harus dilakukan pemesanan atau pengadaan persediaan; dan (2) berapa banyak yang harus dipesan, diadakan atau diproduksi. Konsekuensi dari kedua aspek tersebut akan menentukan tingkat persediaan pada waktu tertentu dan rata-rata tingkat persediaan. Menurut Assauri (1998), kebijakan persediaan berkaitan dengan penentuan pemesanan dan tingkat persediaan yang optimum, berapa jumlah yang dipesan agar pemesanan tersebut ekonomis, dan kapan pemesanan itu dilakukan.
Berdasarkan sifat permintaan dan waktu tunggu, model persediaaan dapat bersifat
deterministik (diketahui dengan pasti) atau probabilistik (dijabarkan dengan sebuah fungsi probabilitas):
1. Model Persediaan Deterministik dan Probabilistik
a. Model Persediaan Deterministik
Menurut Taha (1997), permintaan deterministik dapat bersifat statis dalam arti bahwa laju pemakaian tetap konstan sepanjang waktu dan diketahui dengan pasti; permintaan deterministik dapat bersifat dinamis yaitu permintaan diketahui dengan pasti tetapi bervariasi dari satu periode ke periode berikutnya.
Model deterministik merupakan model yang didasarkan pada asumsi bahwa laju permintaan diketahui untuk suatu selang periode. Asumsi-asumsi yang digunakan pada umumnya yaitu bahan yang dipesan satu macam, kebutuhan per periode diketahui, dan bahan yang dibutuhkan segera dapat tersedia (Love, 1979).
b. Model Persediaan Probabilistik
Model probabilistik merupakan model yang melibatkan distribusi peluang permintaan maupun peluang waktu tunggu. Menurut Waters (1992), model probabilistik
dibedakan menjadi dua, yaitu model untuk permintaan diskrit dan model untuk permintaan kontinu. Model untuk permintaan diskrit digunakan untuk barang-barang yang sifat permintaannya tidak kontinu; sedangkan model permintaan kontinu digunakan untuk barang-barang dengan permintaan berkesinambungan atau terus menerus. Model untuk tingkatan seperti model permintaan kontinu adalah model service level atau model tingkat pelayanan.
2. Model Material Requirements Planning (MRP)
Material Requirements Planning (MRP) adalah suatu sistem perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses/fase. Dengan kata lain, MRP merupakan suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan mentah (komponen) yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak yang
dipesan untuk masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat (Rangkuti, 2004).
Sistem MRP merencanakan ukuran lot sehingga barang-barang tersebut tersedia pada saat dibutuhkan. Ukuran lot adalah kuantitas yang akan dipesan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan dengan kuantitas yang dapat meminimalkan biaya persediaan sehingga perusahaan akan memperoleh keuntungan.
2.4
METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY)
2.4.1
Pengertian EOQ (Economic Order Quantity)
EOQ merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilakukan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembelian) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh melalui pembelian dengan menggunakan biaya yang minimal (Gitosudarmo, 2002).
Menurut Yamit (1999), EOQ adalah jumlah pesanan yang dapat meminimumkan total biaya persediaan atau dengan kata lain pembelian yang paling optimal. EOQ diperhitungkan untuk menetapkan berapa total tetap bahan yang harus dibeli dalam setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan selama satu periode.
2.4.2
Kebijakan-Kebijakan EOQ (Economic Order Quantity)
2.4.2.1 Menentukan Jumlah Bahan Baku yang Ekonomis
Adanya pembelian bahan baku dalam jumlah yang optimal dapat menghasilkan total biaya persediaan yang paling minimal. Unsur-unsur yang mempengaruhi Economic Order Quantity (EOQ) antara lain : biaya penyimpanan per unit, biaya pemesanan tiap kali pesan, kebutuhan bahan baku untuk suatu periode tertentu, dan harga pembelian (Ahyari, 2003).
Menurut Supriyono (1999), terdapat beberapa anggapan dasar yang perlu diperhatikan dalam perhitungan EOQ yaitu:
1. Selama saat akan dilakukan pembelian, dana selalu tersedia
2. Pemakaian bahan relatif stabil dari waktu ke waktu selama periode tertentu 3. Bahan tersebut selalu tersedia setiap saat akan dilakukan pembelian 4. Fasilitas penyimpanan selalu tersedia berapa kali pun pembelian dilakukan 5. Bahan yang bersangkutan tidak mudah rusak dalam penyimpanan
2.4.2.2 Menentukan Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Persediaan pengaman merupakan suatu persediaan yang dicadangkan sebagai pengaman dari kelangsungan proses produksi. Persediaan pengaman diperlukan karena dalam kenyataannya jumlah bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi tidak selalu tepat seperti yang direncanakan (Ahyari, 2003).
Meskipun EOQ sudah ditentukan, masih ada kemungkinan terjadi out of stock dalam proses produksi. Menurut Gitosudarmo (2002), kemungkinan out of stock tersebut akan timbul jika penggunaan bahan baku dalam proses produksi lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini akan menimbulkan terjadinya kekurangan persediaan karena persediaan
sudah habis sebelum pembelian atau pemesanan yang berikutnya datang ke gudang bahan baku, sehingga terjadi out of stock.
2.4.2.3 Menentukan Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)
Jika besarnya persediaan pengaman telah diketahui, maka perusahaan dapat melakukan pemesanan kembali. Saat pemesanan kembali bahan baku ini disebut juga dengan istilah
Reorder Point. Reorder Point adalah saat atau waktu tertentu perusahaan harus mengadakan pemesanan bahan baku kembali agar pesanan yang sudah dilakukan sebelumnya dapat datang tepat waktu (Gitosudarmo, 2002).
Menurut Supriyono (1999), faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan Reorder Point
antara lain:
1. Waktu Tunggu (Lead Time)
Waktu tunggu merupakan waktu yang diperlukan dari saat pemesanan sampai bahan yang dipesan tersebut datang ke gudang. Semakin lama lead time maka semakin besar pula jumlah beban yang diperlukan dalam pemakaian.
2. Rata-Rata Pemakain Bahan Baku
Besarnya bahan yang diperlukan selama lead time adalah jumlah lead time (hari/bulan) dikalikan tingkat rata-rata pemakaian bahan baku.
3. Besarnya Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Persediaan pengaman merupakan jumlah persediaan bahan baku yang minimum harus ada untuk menjaga kemungkinan keterlambatan datangnya bahan yang sudah dipesan sehingga perusahaan tidak mengalami stock out atau mengalami gangguan kelancaran proses produksi. Reorder point ditentukan dari penjumlahan besar penggunaan bahan baku selama lead time dengan besar safety stock.
2.5
PENELITIAN TERDAHULU
Pujihastuti (2008) melakukan analisis persediaan bahan baku di PT X dengan menggunakan metode EOQ (Economic Order Quantity). Yanto (2008) melakukan analisis persediaan bahan baku berupa tomat segar (studi kasus di Bandung). Metode yang digunakan yaitu EOQ dengan pendekatan berdasarkan tingkat pelayanan. Penelitian lain dilakukan oleh Elisabeth (2004) yang melakukan analisis persediaan bahan baku ikan dalam usaha kerupuk udang di PT Mitra Marin Manunggal Sidoarjo, Jawa Timur. Hasil analisis dari penelitian- penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode EOQ, terjadi sejumlah penghematan terhadap biaya persediaan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
Penelitian-penelitian terdahulu tersebut memiliki relevansi dengan penelitian yang penulis lakukan. Keterkaitan tersebut berupa informasi adanya jumlah permintaan bahan baku, biaya- biaya persediaan, lead time, frekuensi dan kuantitas pemesanan, jumlah persediaan, jumlah pemesanan bahan baku dan persediaan pengaman (safety stock). Dalam penelitian ini, metode yang memiliki total biaya persediaan paling minimum dan ketepatan saat dan jumlah pemesanan bahan baku akan diusulkan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku yang lebih optimal untuk perusahaan.
Analisis persediaan bahan baku yang bersifat mudah rusak juga telah pernah dilakukan antara lain oleh Berk dan Gurler (2008), Broekmeulen dan van Donselaar (2007), serta William dan Patuwo (1999). Penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa model persediaan yang turut mempertimbangkan faktor kerusakan dari bahan baku.