1. Perjuangan Masyarakat Adat dari masa ke masa
Hukum memenjarakan laki dan perempuan yang mencuri seekor angsa dari tanah kepunyaan bersama.
Namun tersangka yang lebih besar lolos, yang mencuri tanah milik bersama dari angsa itu (Syair berbahasa Inggris dari abad ke-15)
Kutipan syair diatas merupakan refleksi atas perjuangan masyarakat adat di Indonesia yang telah berjuang dari masa ke masa untuk memperoleh haknya. Apa yang selama ini diperjuangkan oleh masyarakat yang tergolong kelompok marjinal itu jika dipandang dalam konteks negara adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ruang hidup kesatuan-kesatuan masyarakat adat. Perjuangan masyarakat adat yang saat ini mungkin bisa kita lihat secara gamblang adalah apa yang direpresentasikan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Dalam konteks representatif perjuangan masyarakat adat pada AMAN-lah, tulisan ini akan menelusuri dan memetakan gerakan masyarakat adat yang berjuang untuk kedaulatan atas sejarah, tanah dan hukum yang selama ini diabaikan oleh negara dan kelompok sipil lainnya.
Selain hal tersebut, perjuangan masyarakat adat yang menentang, melawan dan kompromis terhadap kekuasaan menjadi suatu dinamika tersendiri, sehingga penting juga untuk melihat maju-mundur dan nafas-panjang dinamika perjuangan masyarakat adat di Indonesia.
Diskursus tentang masyarakat adat di Indonesia sangat mendapatkan perhatian saat ini, kebangkitan dan dinamika perjuangan masyarakat menjadi salah satu alasan kenapa masyarakat adat sangat relevan untuk dilihat, dikaji dan dikritik. Disisi lain formulasi perjuangan masyarakat adat yang saat ini termanifestasi pada satu institusi bernama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sangat responsif dengan isu-isu kontemporer baik itu di sektor sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Kebangkitan gerakan masyarakat adat ini, ditandai dengan runtuhnya kekuasaan otoriter Soeharto dengan rezim orde barunya pada tahun 1998,
43
sehingga memberikan ruang gerak politik yang lebih besar bagi organisasi masyarakat sipil untuk beroperasi9.
Kebangkitan gerakan masyarakat adat juga ditandai oleh suatu proses transformasi, dimana dulunya terminologi „adat‟ yang definisinya terkesan damai menjadi suatu bentuk protes dan perlawanan, terutama atas negara. Atas nama adat, kebangkitan politik dan budaya di kalangan masyarakat Dayak Kalimantan Barat yang telah lama terpinggirkan telah melahirkan sebuah gerakan pemberdayaan diri dan membawa kepada kekerasan massa terhadap kaum pendatang di Provinsi tersebut. Atas nama adat, para petani gurem di Sulawesi dan Flores menantang legitimasi batas-batas taman nasional, sementara kaum elit lokal membajak potensi adat yang semakin menguat demi keuntungan pribadi.
Protes-protes serupa atas nama adat juga terjadi di daerah-daerah lain.
Marginalitas kelompok masyarakat adat terjadi karena bentuk relasi kuasa negara yang memposisikan mereka sebagai suatu entitas yang statis dan terisolasi dari dunia modern. Konstruksi pemikiran seperti itu mendudukkan masyarakat adat tidak hanya sebagai kelompok masyarakat yang rentan terhadap pembangunan, tetapi juga menyebabkan hak-hak masyarakat adat sebagai warga negara yang harus diperlakukan secara adil itu tidak terpenuhi. Studi yang dilakukan oleh Sangaji dan Li (2010) di Sulawesi Tengah10 bisa dijadikan contoh yang menarik untuk melihat bagaimana masyarakat adat diposisikan, didudukkan dan dimarginalkan oleh negara dalam kehidupan yang semestinya.
Terusir dari tanahnya karena mega proyek negara, tercerabut dari sarana prooduksinya karena hutan-hutan yang menyediakan ruang hidup bagi mereka dijual kepada pengusaha asing ataukah dijadikan suatu kawasan konservasi ataukah hadirnya rezim ekstraktif (tambang) mengharuskan mereka meninggalkan lahan-lahan pertanian dan menjadi buruh. Praktik-praktik seperti gambaran itulah yang membuat masyarakat adat seakan-akan menjadi „anak tiri‟ di Republik sendiri. Dalam konteks seperti itulah perjuangan masyarakat adat menemukan bentuknya. Essai
9 Lihat Sandra Moniaga, “Dari Bumiputera Ke Masyarakat Adat: Sebuah Perjalanan Panjang Dan Membingungkan” dalam Jamie S. Davidson dkk (penyunting), Adat Dalam Politik Indonesia, Jakarta:KITLV Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia (YOI).
2010.
10 Tania M. Li, “Adat di Sulawesi Tengah: Penerapan Kontemporer”. Dalam Adat Dalam Politik Indonesia, disunting oleh J. S. Davidson dkk , Jakarta : YOI dan KITLV-Jakarta. 2010.
44
ini hendak mengajukan suatu premis pokok tentang dinamika gerakan masyarakat adat yang terbentuk selama dan sesudah rezim otoriter orde baru berkuasa.
Kebangkitan gerakan masyarakat adat yang semakin berwujud sebagai gerakan politik masyarakat tertindas mewarnai suatu proses transisi politik di Indonesia. Perubahan struktur kekuasaan politik tentu saja berelasi secara politik juga terhadap bentuk perjuangan masyarakat adat. Perubahan-perubahan itulah yang hendak dideskripsikan dalam tulisan singkat ini. Untuk melihat bagaimana artikulasi politik dan dinamika gerakan adat berlangsung digunakan pendekatan relasi kuasa, ialah dengan melihat wujud dan bentuk tuntutan masyarakat adat serta dominasi kuasa yang mendorong tuntutan itu hadir ataukah tidak berbunyi (dibungkam). Selain hal tersebut, dalam essai ini juga ingin menganalisis bagaimana gerakan masyarakat adat memposisikan dirinya dihadapan kuasa modal (kapitalisme) yang pasca putusan Mahkamah Konstitusi-35, hal tersebut mungkin saja terjadi.
Perlawanan diam-diam Masyarakat Adat
Pada tahun 1994, kementrian sosial menyebut masyarakat terasing adalah kelompok-kelompok masyarakat yang bertempat tinggal atau berkelana ke tempat-tempat yang secara geografis terpencil, terisolasi, dan secara sosial budaya terasing dan atau masih terbelakang dibandingkan dengan masyarakat bangsa Indonesia pada umumnya.
Terminologi masyarakat terasing diatas, oleh pemerintah disinonimkan dengan istilah masyarakat adat, sehingga dalam pandangan dan bayangan pemerintah masyarakat adat adalah masyarakat terasing yang kolot, hidupnya berpindah-pindah, terbelakang secara ekonomi dan pendidikan, dan sebutan suku terasing itu lebih sering atau lebih populer digunakan oleh pemerintah untuk mengidentifikasi salah satu kelompok bangsa ini11.
Padahal istilah yang lebih netral terhadap masyarakat adat itu telah dicetuskan pada pertemuan di Tana Toraja12 yang dimotori oleh Wahana
11 Lihat Arianto Sangaji. “Kritik Terhadap Gerakan Masyarakat Adat di Indonesia”.
Dalam Adat Dalam Politik Indonesi.
12 Tana Toraja secara administratif adalah salah satu kabupaten di Prov. Sulawesi Selatan, Namun, secara kultural, Toraja merujuk pada salah satu etnik lokal yang masih tetap memegang dengan kuat nilai-nilai budayanya. Dengan alasan itulah, kenapa Toraja
45
Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada tahun 199313. Pada pertemuan tersebut merumuskan masyarakat adat sebagai kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul (secara turun-temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan wilayah sendiri.
Sementara masyarakat adat sebenarnya memiliki karakteristik khusus sebagai empunya wilayah adat dengan beragam karakteristiknya. Mulai dari yang menempati wilayah pedesaan, pedalaman, hingga pesisir; baik di dataran rendah maupun dataran tinggi; dalam lanskap hutan belantara hingga padang rumput savana14.
Baru pada tahun 1999, pemerintah melakukan revisi terhadap terminologi masyarakat adat dan memakai kosakata yang lebih netral, perubahan itu tertuang dalam keputusan presiden (keppres) nomor 111 tahun 1999 dengan menggunakan istilah komunitas adat terpencil (KAT), dimana KAT merupakan kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial ekonomi maupun politik. Namun, definisi Toraja yang kemudian lebih diterima luas oleh penggiat masyarakat adat di Indonesia.
Menurut Sangaji, rumusan untuk definisi masyarakat adat versi Toraja masih terlampau umum, yang menyulitkan pemakaianya secara deduktif dalam studi-studi empiris. Kritik Sangaji berbunyi seperti ini15 :
“masyarakat adat dianggap memiliki sistem nilai, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan wilayah sendiri. Akan tetapi, ini merupakan definisi yang terlalu ideal dan tidak mencerminkan realitas empiris di lapangan. Idealisasi ini karena masyarakat adat dipahami secara statis, seolah-olah sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, dan wilayah masyarakat adat merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan terisolasi dari pengaruh sistem nilai mana pun”.
Terjadinya perbedaan soal definisi masyarakat adat ini, cukup mengambarkan bahwa pemerintah tetap mendudukkan mereka sebagai entitas yang tidak dinamis dan terisolasi dari perkembangan masyarakat, sehingga pandangan itu berimplikasi terhadap posisi masyarakat adat
dipilih sebagai tempat pertemuan awal untuk merumuskan perjuangan masyarakat adat di Indonesia.
13 Ibid, lihat Moniaga. Hal. 310
14 Noer Fauzi Rachman. “Perjuangan Masyarakat Adat.” Kompas 29 Mei 2013.
15 Lihat Sangaji, 2010. Ibid. Hal. 349
46
yang menjadi objek pembangunan bahkan terkadang malah menjadi korban-korban yang mengatasnamakan pembangunan. Di masa pemerintahan orde baru yang otoriter dan semena-mena itulah, tulisan pada bagian ini ingin mengambarkan seperti apa dan bagaimana perjuangan masyarakat adat muncul dan bersuara secara diam-diam menentang kekuasaan.
Studi David Bourchier cukup menarik untuk disampaikan disini16, Bourchier melihat bahwa kebangkitan masyarakat adat tidak terlepas dari peran ornop-ornop yang menaruh perhatian serius terhadap situasi dan kondisi yang dialami oleh masyarakat adat. Pada tahun 1990-an, para aktivis ornop yang berafiliasi dalam kelompok seperti Sekretariat kerjasama pelestarian hutan indonesia (SKEPHI) dan kemudian jaringan pembela hak-hak masyarakat adat (Japhama), termotivasi oleh sebuah rasa simpati murni terhadap korban-korban sebuah rezim yang sangat terpusat dan menghisap dan seringkali mengabaikan kepekaan-kepekaan lokal dan hak-hak tradisional atas tanah.
Namun, kelompok-kelompok ornop ini bergerak lebih jauh, mereka melihat dalam „adat‟ terdapat potensi untuk melakukan mobilisasi perlawanan terhadap pengambilalihan tanah secara besar-besaran untuk keperluan transmigrasi, penebangan hutan, pertambangan, dan berbagai kepentingan lain yang diputuskan oleh para perencana pembangunan di Jakarta. Mereka juga percaya bahwa jika masyarakat adat dapat mengidentifikasi dirinya sebagai masyarakat adat dan bukannya menerima penamaan yang miring seperti suku terasing, maka mereka dapat mengklaim kembali martabatnya yang telah puluhan tahun diabaikan.
Penelitian Maribeth Erb di Manggarai17, Flores Barat mungkin cukup relevan untuk menunjukkan bagaimana rezim negara orba beroperasi menciptakan kemiskinan pada masyarakat adat yang telah lama mendiami tanah ulayat yang diwariskan dari nenek-moyang mereka. Erb mencatat bahwa dalam proses pembangunan proyek yang bertajuk “konservasi keanekaragaman hayati” yang didanai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), dirancang untuk menetapkan sejumlah kawasan lindung dan
16 David Bourchier, “Kisah Adat Dalam Imajinasi Politik Indonesia” dalam Adat Dalam Politik Indonesia. 2010. Ibid.
17 Maribeth Erb, “ Kebangkitan Adat Di Flores Barat”, dalam Ibid.2010.
47
penyangga di kawasan hutan Indonesia, salah satunya ada di Ruteng, Manggarai. Hutan-hutan di pegunungan Ruteng ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Ruteng (TWAR) pada tahun 1993 oleh pemerintah pusat. Upaya konservasi ini menyebabkan masyarakat adat tersingkir dari kebun-kebun kopi yang pada dasarnya menjadi sumber kehidupan utama masyarakat adat Ruteng.
Cerita yang hampir sama juga terjadi di pegunungan Lindu Sulawesi Tengah (Sangaji 2000; Li ; D‟Andrea 2013 ), dimana masyarakat adat Lindu dan Katu dipaksa untuk meninggalkan tanah-tanah ulayat mereka karena didaerah yang menjadi ruang hidup mereka itu akan dibangun suatu mega proyek pemerintah yakni PLTA di danau Lindu18. Namun, tidak hanya itu, masyarakat adat yang telah lama menggantungkan hidupnya dengan menanam kopi dengan memanfaatkan areal hutan harus tereksklusi oleh kepentingan pemerintah untuk menjadikannya kawasan konservasi yang beroperasi dengan nama Taman Nasional Lore Lindu.
Kenyataan pahitlah yang dialami masyarakat adat Indonesia di bawah rezim Orde Baru. Negara hadir dan berpengaruh pada kehidupan rakyat di pelosok dan wilayah-wilayah pedesaan, pedalaman, dan pesisir melalui paksaan dan rekayasa sosial19. Termasuk dengan menghadirkan konsesi tanah, pertambangan, perkebunan, dan kehutanan yang dikuasai perusahaan-perusahaan raksasa. Juga taman-taman nasional. Bentuk-bentuk lain yang menyertai semua itu adalah penggusuran dari wilayah hidup mereka dengan proyek-proyek permukiman kembali.
Secara teoritik, para ahli melihat bahwa apa yang dilakukan oleh negara dengan praktik penguasaan hutan dan tanah-tanah pertanian merupakan suatu mekanisme perampasan dan pemisahan. Salah satu mekanisme yang paling banter dipakai ialah Teritorialisasi, yang dipahami sebagai „proses yang dibuat oleh negara untuk mengontrol orang dan aktivitasnya dengan cara membuat garis di sekeliling ruang geografis, menghalangi orang-orang tertentu untuk masuk ke ruang
18 Lihat Arianto Sangaji, “ PLTA Lore Lindu; Orang Lindu Menolak Pindah”, YTM dan Pustaka Pelajar: 2000. Atau lihat Claudia D. Andrea, “ Kopi, Adat dan Modal:
Teritorialisasi dan Identitas Adat di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah.
Yogyakarta: Sayogyo Institute, YTM dan Tanah Air Beta.
19 Lih. Rachman, Kompas 2013.
48
tersebut, dan mengizinkan atau melarang aktivitas di dalam batas-batas dari ruang tersebut”20.
Terkait dengan proses teritorialisasi tersebut atau proses penguasaan negara terhadap hutan berlangsung melalui sedikitnya tiga tahapan teritorialisasi21. “Pertama-tama negara mengklaim semua tanah yang dianggap “bukan tanah milik siapa-siapa” sebagai milik negara. Pada tahap ini, negara bermaksud mendapatkan pendapatan dari ekstraksi sumberdaya alam. Tahap berikutnya adalah menetapkan batas-batas tanah yang dinyatakan sebagai milik negara untuk menekankan kontrol wilayah oleh negara terhadap hutan. Setelah batas-batas sebuah wilayah ditetapkan, wilayah itu akan menjadi tertutup dan negara melarang siapa pun untuk mengakses wilayah tersebut berikut sumberdaya hutan di dalamnya, kecuali jika negara mengizinkan atau memberikan konsesi.
Tahap terakhir adalah negara meluncurkan program yang membagi-bagi hutan ke dalam berbagai macam fungsi berdasarkan kriteria ilmiah, seperti lereng, curah hujan, dan tipe tanah. Hasil utama program ini adalah zonasi terhadap sebuah wilayah untuk mengatur tipe-tipe aktivitas yang diizinkan pada setiap zona”.
Penguasaan atas ruang hidup masyarakat adat tersebut yang dipraktekkan dengan konsep teritorialisasi itu tengah dilakukan sejak masa kolonial, namun pemerintah indonesia terutama rezim soeharto pada masa orde baru tetap mengadopsinya dan mengawinkan dengan konsep hutan kehutanan berskala industri sebagai salah satu alat utama untuk mengendalikan tanah dan sumber daya hutan. Tujuan dari pendekatan tersebut adalah dalam rangka lebih mendorong proses ekstraksi kayu, untuk lebih memastikan kelancaran proses tersebut, rezim Soeharto mengesahkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan, yang melanjutkan klaim pemerintah kolonial yang menyatakan bahwa semua lahan hutan adalah milik negara dan harus dikelola dengan sistem yang dikontrol pemerintah22.
Berbagai macam bentuk ketidakadilan, ketidakadilan lingkungan, agraria, sosial dan gender, yang mendera masyarakat adat sebagai
20 Mia Siscawati, Masyarakat Adat dan Perebutan Penguasaan Hutan. Wacana No.33/ 2014: 3-23. Yogyakarta: Insist Press. 2013.
21 Ibid, hal. 7
22 Ibid, lih. Mia Siscawati. 2014.
49
konseksuensi atas penguasaan ruang hidup berupa hutan dan tanah-tanah ulayat masyarakat adat mendorong beragam bentuk perlawanan berbasiskan masyarakat adat dan berkembang menjadi gerakan sosial.
Dalam kondisi yang seperti itulah masyarakat adat tampil menyuarakan nasibnya, protes-protes rakyat dihadapi dengan sikap represif oleh penguasa. Tidak sedikit yang menjadi korban atas perlawanan masyarakat adat, teror, intimidasi, penembakan, penyiksaan, dituduh sebagai bagian dari komunis (PKI), menjadi ritual yang dilakukan oleh pemerintahan otoriter soeharto untuk membungkam setiap protes dan perlawanan masyarakatnya23.
Selain dengan menempuh aksi-aksi langsung (Direct Action), perlawanan masyarakat adat juga dilakukan dengan cara lain. Salah satunya ialah dengan melakukan pemetaan partisipatif, yang mulai dikembangkan pada awal 1990an sebagai perlawanan terhadap
“penghapusan” masyarakat adat dan masyarakat lokal lainnya dalam peta modern yang dibuat atau disponsori negara, sekaligus perlawanan terhadap penyingkiran masyarakat adat dan masyarakat lokal lainnya dari wilayah hidup mereka, merupakan salah satu bentuk gerakan tandingan.
AMAN Sebagai Representasi Perjuangan Politik Pasca Orde Baru Bangkitnya gerakan sipil di Indonesia ditandai dengan tumbangnya kekuasaan orde baru, selama 32 tahun berbagai macam bentuk perjuangan harus merangkak atau bergerak dibawah tanah. Salah satu element gerekan sipil yang merasakan angin segar kebebasan pasca orde baru ialah masyarakat adat. Pada tahun 1999 di Jakarta, lebih dari 200 perwakilan masyarakat adat dari seluruh nusantara bertemu dan merumuskan dalam sebuah Kongres masyarakat adat nusantara (KMAN) suatu manifesto yang kemudian menjadi jargon politik gerakan masyarakat adat, peryataan itu berbunyi “ kalau negara tidak mengakui kami, maka kami pun tidak mengakui negara”. Pernyataan tersebut mencerminkan perasaan geram dan frustasi mereka atas ketidakmampuan negara dalam menyelesaikan sengketa yang berlarut-larut, bahkan sebagaian konflik tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun.
23 Dianto Bachriadi & Anton Lucas, Merampas Tanah Rakyat; Kasus Tapos dan Cimacan. Jakarta : KPG.2001.
50
Kongres masyarakat adat yang pertama ini, awalnya diinisiasi oleh AMA kalimantan barat, JKPP dan Japhama24, kongres mendapat dukungan kuat dari banyak organisasi dan jaringan LSM nasional. Pada kongres ini pula yang menghasilkan pembentukan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara atau disingkat AMAN. Sebagaimana amanat forum kongres, bahwa AMAN berfungsi untuk menjadi wadah pemersatu seluruh gerakan masyarakat adat di Indonesia yang dulunya bersifat sporadis, dengan dibentuknya AMAN maka seluruh gerakan masyarakat adat akan saling terhubung dan memiliki corong aspirasi secara nasional.
Pada September 2003, lebih dari 1.000 orang perwakilan masyarakat adat menyelenggarakan kongres masyarakat adat nusantara kedua (KMAN II). Kongres ini merupakan kegiatan puncak dari serangkaian pertemuan lokal dan regional menyusul adanya KMAN I. Sementara serangkaian isu kebijakan dan keorganisasian dibicarakan, namun yang lebih penting lagi bahwa para anggota perwakilan ini menegaskan kembali keprihatinan mereka terhadap konflik-konflik yang tidak terselesaikan, termasuk konflik yang melibatkan hak-hak atas tanah dan pengelolaan tanah serta sumber daya alam lainnya.
Menguatnya perlawanan masyarakat adat atas penguasaan negara sejak dibentuknya AMAN, bagi sebagaian aktivis dan pengiat studi tentang masyarakat adat merupakan suatu bentuk baru dari perjuangan terbuka untuk mewujudkan pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat25. Perjuangan AMAN adalah perjuangan mewujudkan keadilan sosial, dalam agenda perjuangan itu, AMAN juga mengusung perjuangan hak kewarganegaraan masyarakat adat dalam negara kesatuan republik indonesia. Agenda perjuangan tersebut merupakan kombinasi kuat yang berorientasi untuk mematahkan penyangkalan negara atas eksistensi masyarakat adat dan perampasan atas hak-haka atas tanah, kekayaan alam, dan wilayah kelola sekaligus ruang hidup masyarakat adat.
Dalam rangka mewujudkan agenda perjuangan masyarakat adat tersebut, AMAN menempuh berbagai jalan, salah satunya dengan
24 AMA merupakan akronim dari aliansi masyarakat adat Kalimantan Barat; JKPP singkatan dari jaringan kerja pemetaan partisipatif ; dan Japhama, jaringan pembelaan hak-hak masyarakat adat.
25 Lihat Mia Siscawati, opcit. 2014.
51
melakukan advokasi kebijakan26. Misalnya, AMAN menyiapkan Rancangan UndangUndang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat (RUU PPMA), yang secara resmi dokumennya telah diserahkan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie pada saat Kongres Nasional AMAN IV di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Mei 2012.
Sejak itu, AMAN terus memantau secara intensif proses pembahasan RUU PPMA di parlemen serta melakukan rangkaian kegiatan advokasi untuk menggalang dukungan politik dari berbagai pihak. Pada 11 April 2013, Rapat Paripurna DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Pramono Anung menyetujui ditetapkannya Rancangan Undang-Undang tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat menjadi RUU Usul Inisiatif DPR. Metode advokasi kebijakan ini dilakukan oleh AMAN sebagai upaya untuk menguatkan landasan hukum dan politik masyarakat adat dari penguasaan negara.
Langkah yang ditempuh oleh AMAN ini cukup efektif menghasilkan suatu legitimasi baru bagi eksistensi dan hak-hak atas tanah masyarakat adat, karena sejak 16 Mei 2013, hutan adat bukan lagi bagian dari kawasan hutan negara yang berada di bawah penguasaan Kementerian Kehutanan, tetapi hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan demikian dalam perkara Nomor 35/PUU-X/2012 berkenaan dengan gugatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bersama dua anggotanya, yakni Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu dan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Cisitu.
Putusan MK-35 menandai babak baru pengakuan negara terhadap masyarakat hukum adat di Indonesia. Putusan MK tersebut mengakui masyarakat adat sebagai “penyandang hak” (rights bearer) dan subjek hukum atas wilayah adatnya. Putusan tersebut memberikan pengakuan hukum bagi hutan adat yang sebelumnya diklaim penguasaannya oleh negara dan dialokasikan untuk beragam peruntukan, baik untuk kepentingan produksi berskala industri maupun kepentingan konservasi yang menempatkan pelestarian lingkungan di atas keadilan sosial. Lebih jauh, putusan MK tersebut perlu dimaknai sebagai pemulihan
26 Tania Li, “Masyarakat Adat dan Masalah Pengakuan”, dalam Noer Fauzi, Gerakan-Gerakan Rakyat Dunia Ketiga, Yogyakarta: Resist Book. 2005.
52
kewarganegaraan masyarakat adat27 (Rachman 2014). Putusan MK tersebut harus dijadikan rujukan bagi perubahan mendasar dalam pengelolaan kekayaan alam dan sumber-sumber agraria lainnya di Indonesia.
Tuntutan, perlawanan dan perjuangan masyarakat adat yang berartikulasi dalam semboyan dan jargon politik, dimana artikulasi itu mencerminkan arah perjuangan dari tuntutan akan pengakuan pemerintah menuju pelaksanaan artikulasi sosial dan politik, perubahan itu menandakan transisi gerakan masyarakat adat hingga saat ini28. Namun, yang penting untuk diamati saat ini adalah artikulasi sosial dan politik serta limitasi perjuangan AMAN pasca putusan MK 35. Ada beberapa kajian yang menarik untuk diwacanakan sebagai tantangan bagi gerakan masyarakat adat saat ini.
Analisis kritis dari Savitri29 yang berpendapat bahwa posisi masyarakat adat sebagai subjek hukum dapat “dipelintir” sedemikian rupa
Analisis kritis dari Savitri29 yang berpendapat bahwa posisi masyarakat adat sebagai subjek hukum dapat “dipelintir” sedemikian rupa