• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Sosial Berbasis Kearifan Lokal Pada Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi

Dalam dokumen Laporan Hasil Penelitian (Halaman 31-44)

Bentuk dari praktik sosial yang hendak dijelaskan pada bagian ini adalah melihat eksisnya beragam nilai-nilai adat sebagai dasar dari tradisi yang berlaku secara sosial di masyarakat. Tradisi yang dimaksud bisa terus eksis dan berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi, dimungkinkan karena berperannya institusi adat yang terwujud dalam struktur adat dua belas (ada 12 pemangku adat). Struktur adat ini berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal atau bentuk pengetahuan lokal tentang pentingnya menjaga solidaritas sosial antar anggota masyarakat, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dari suatu persoalan, cara memperlakukan alam, dan ajaran-ajaran luhur lainnya. Selain itu, kami juga memotret dinamika suatu gerakan sosial yang berbasis kearifan lokal yang inovatif dan cukup berhasil merevitalisasi nilai kultur dan natur mereka menjadi lebih menarik secara gagasan dan tindakan.

1. Ragam Nilai dan Tradisi Pembentuk Praktik Sosial

Di atas rumah panggung peninggalan orang tuanya, di dusun Baleanging, Hado menceritakan tentang asal usul masyarakat teko yang ada di Manimbahoi, Kec. Parigi.8 Menurut Hado, nenek moyang mereka sebenarnya berasal dari kampung yang sekarang dikenal dengan Sinjai Barat. Di sana juga nama kampungnya Teko Toa. Nenek-nenek kami dulu bermigrasi mencari lahan baru untuk pemukiman. Kalau menurut sejarah tutur yang diceritakan, Sombaya ri Gowa atau Raja Gowa yang memberikan kawasan yang sekarang ini kami huni, “kalau nama desa Manimbahoi di sini diambil dari nama kampung yang ada di Sinjai,

8 Wawancara dengan Ahmad Hado (50 tahun) pada tanggal 5 September 2021 di rumah pribadinya di dusung Baleangging.

30

tempat nenek-nenek kami berasal” kata Hado. Sebagai bukti fisik, kuburan nenek moyang masih ada dan terawat dengan baik karena rutin melakukan tradisi yang dalam bahasa lokal disebut a‟battasa‟ jera‟ yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun sekali. Terakhir masyarakat adat sampulo arua ri Teko melakukan tradisi itu pada tahun lalu di tanggal 10 September 2020. Tradisi ini dilakukan melalui serangkaian prosesi atau ritual adat, seperti: bersih-bersih kampung, termasuk kuburan-kuburan tua. Pemangku adat yang berjumlah 12 orang kemudian memimpin jalannya prosesi menuju ke lokasi kuburan tetua kampung di dusun Borongkopi. Setelah prosesi itu, semua orang yang mengikuti acara (termasuk warga dari luar) untuk makan-makan di rumah adat atau di semua rumah yang ada di kampung. Karena semua rumah menyiapkan makanan untuk tamu sebagai bentuk tradisi yang terus dijalankan.

Selain tradisi atau ritual adat yang diceritakan di atas, ada beberapa tradisi lagi yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Pelaksanaan tradisi ini bisa terus berlangsung salah satunya karena peran penting para pemangku adat sebagai institusi adat. Masyarakat adat sampulo arua riteko ini memiliki 12 pemangku adat yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing, yaitu:

Gelar Pemangku Adat Nama Pemangku Adat

Peran dan Fungsi

Galla Toa Kamaruddin Melaksanakan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam lingkungan komunitas adat serta memecahkan masalah atau persoalan adat

Galla tangnga Muh. Saleh sda

Galla lolo Ahmad Tari sda

Tau Toa Tatte Menampung dan

memutuskan suatu perkara yang tidak bisa diselesaikan dan membacakan ikrar

31

Tabel.1. Pemangku Adat Teko

Sumber: Ahmad Hado (dokumen masyarakat adat ri teko) Untuk gelar pemangku adat Galla Toa, Galla Tangga, dan Galla Lolo, memiliki kedudukan yang relatif sama, begitupun peran dan fungsi dalam pelantikan

pemangku adat

(pergantian)

Anak gallarrang toa T. dg.Ngunjung Mengatur dan memutuskan suatu perkara adat

Anak gallarrang lolo C. dg. Nyallang sda

Sanroa Baeda Melaksanakan ritual

dalam bentuk syukuran apabila selesai panen atau menyambut datangnya musim kemarau dan hujan, termasuk juga bidang kesehatan

Anrong pa’rasangang Ridwan Membidangi lingkungan

Tubarania Japa‟ Menjaga kestabilan dan keamanan

Pinatia Sarro Mengatur waktu

bercocok tanam padi sesuai waktu yang baik dan tata kelola irigasi sawah

Suroa Nasi‟ Mengurusi dan

membina masyarakat dalam acara perkawinan (penentuan mahar dan sunrang)

Gurua (Imam) Baharuddin Berfungsi sebagai Penghulu

32

mereka. Ketiga gelar ini berfungsi sebagai bagian adat yang mengurusi segala hal yang berkaitan dengan tradisi, ritual, aturan dan permasalahan yang terjadi di dalam wilayah adat. Namun dalam proses pelaksanaan ritual atau tradisi rutin bisa diwakilkan oleh salah satu dari tiga Galla itu.

Ketiga Galla ini disebut dalam bahasa lokal dengan sebutan bahungang tallua. Secara teknis, dalam organisasi formal-ketiga pemangku adat itu bisa juga disebut sebagai pelaksana harian. Semua pemangku adat memiliki peran dan fungsi tertentu, dan sudah berlangsung selama beberapa generasi. Aspek lain yang menjadi perhatian di sini adalah pelaksanaan tradisi atau bisa juga disebut ritual adat yang masih rutin dilakukan setiap tahunnya, menyesuaikan kebiasaan siklus masa tanam, dan perayaan syukur atas panen yang dirayakan secara sederhana.

Tradisi Adat, Kawasan Konservasi dan Pandemi

Kepulan uap kopi menusuk indra penciuman, aroma khas kopi hitam yang gurih dan pahit seperti menghangatkan tubuh dari cuaca dingin yang mulai kami rasakan malam itu. “di sini itu kami minum kopi asli” kata Hado, selaku tuan rumah yang dengan keramahannya bersedia menampung kami untuk sementara waktu selama melakukan penelitian.

Pembuka obrolan dengan membahas tentang kopi-sesuai hidangan tuan rumah kepada kami. Kopi salah satu komoditas yang dihasilkan warga desa, lumayan untuk pendapatan tambahan. Cuma cara pemetikan orang di sini itu yang masih terlalu dini. Biar masih hijau sudah dipetik.

Harusnya kan nanti kalau merah baru dipetik. Tapi begitulah, alasannya daripada dimakan monyet jadi petani panen lebih awal. Kebiasaan itu yang bikin harga kopi di sini murah. Mayoritas kopi kering dijual ke pengepul. Tapi kalau punya jaringan sendiri di kota atau pemilik warkop itu lumayan bisa lebih mahal sedikit. Saya punya kenalan yang jadi pembeli. Tapi harus disortir dulu baru dijual.

Kalau untuk sawah, dalam setahun bisa panen dua kali. Tapi kebiasaan orang di sini masa tanam hingga panen memakan waktu 4-5 bulan dan hanya bisa memakai bibit lokal saja, kalau pakai bibit lain tidak cocok, padinya tidak berisi. Nanti di periode tanam ke dua sawah dialihkan jadi kebun untuk holtikultura. Kami umumnya menanam cabe dan tomat. Lokasi pemukiman, sawah dan kebun-kebun kami di sini itu masuk zona merah. Kawasan konservasi. Untuk pemukiman, di dusun ini

33

saja Cuma 2 atau 3 rumah yang bersertifikat, yang lain tidak bisa memiliki sertifikat karena masuk zona kawasan hutan konservasi oleh Kehutanan. Kami ini tinggal di enclave kawasan hutan konservasi. Aturan adat juga sebenarnya melarang melakukan transaksi tanah kepada orang luar. Apalagi itu sawah untuk makan. Bisa dijual kepada keluarga atau warga lain yang domisili di sini.

Selama Pandemi krisis yang kami alami itu karena hasil panen tomat dan cabe tidak bisa dijual ke pasar. Jalur distribusi terhambat karena PSBB, PPKM dan kebijakan pembatasan itu. Tapi kami sebagai komunitas masyarakat adat masih bisa melakukan satu tradisi rutin

„abbatasa jera‟ tahun 2020 lalu meski masa pandemi. Antusias masyarakat juga tinggi, bahkan dari luar desa juga tidak sedikit yang datang.

Masyarakat adat Teko terdaftar sebagai anggota di Aliansi Masyarakat Adat (Aman) Kabupaten Gowa pada tahun 2017. Menurut pak Hado selaku pemangku adat (Galla Lolo) sekaligus orang yang menginisiasi mendaftarkan masyarakat adat Teko bergabung ke-dalam keanggotaan Aman, bahwa eksistensi masyarakat adat Teko di daerah maupun di nasional harus diperjuangkan. Nilai kearifan lokal yang telah terwariskan oleh leluhur masyarakat adat Teko berupaya dijaga kelestariannya dan mendapat legalitas dari pemerintah sebagai identitas masyarakat Indonesia yang beragam budaya dan adat istiadat.

Meskipun secara kelembagaan adat Teko telah terdominasi oleh pemerintahan desa, namun beberapa praktik-praktik kelembagaan adat masih dijalankan oleh dua belas pemangku adat seperti pertemuan tengah tahun atau mereka meyebutnya Ulu Bara‟, Ulu Timoro, kemudian pertemuan tahunan disebut A‟bali Sumanga‟, ketiga pertemuan tersebut dilakukan di rumah Pinati atau di balla tinggia (rumah adat). Adapun pembahasan di dalamnya, menuru Hado, itu dikhususkan untuk pengembangan pertanian bagi masyarakat adat Teko‟ sebagai basis utama penghidupannya.

Pertama, Ummuntuli Ulu Bara‟, pertemuan ini dilakukan disaat awal memasuki musim hujan. Penentuan jadwal tanam bagi masyarakat, dan jenis bibit tanaman apa yang harus ditanam, adalah bagian dari pembahasan dalam pertemuan Ummuntuli Ulu Bara‟, selain itu, pertemuan tersebut dijadikan sebagai salah satu ritual sebagai upaya untuk

34

menyambut musim hujan agar masyarakat terhindar dari musibah dikala musim hujan sedang berlangsung.

Penentuan jadwal tanam dalam pertemuan Ummuntuli Ulu Bara‟

dilakukan agar semua masyarakat bersamaan menabur benih, hal ini dilakukan agar kelak di musim panen berlimpah dan menghidari serangan hama, beserta beberapa kepercayaan lokal lainnya yang terintegrasi dalam praktik pertanian mereka.

Pak Hado mengatakan alasan, mengapa harus bersamaan dipanen dan menanam, agar padi yang ditanam masyarakat tidak diserang hama, karena biasanya orang yang terlambat memanen tanamanya diserang lebih banyak. Dengan demikian jika masyarakat bersamaan jadwal tanamnya, pastinya akan bersamaan pula dipanen, meskipun ada yang terlambat dua hari sampai empat hari, tetapi dampaknya tidak terlalu besar. Penentuan jadwal tanam tersebut berjalan sesuai dengan kesepakatan bersama, jika penentuan jenis bibit apa yang harus ditanam telah disepakati dan serentak dipraktikkan.

Jenis bibit yang ditanam masyarakat adat Teko juga ditentukan dalam pertemuan Ummuntuli Ulu Bara‟ karena, berbeda jenis bibit, waktu panennya pasti berbeda. Menurut Saleh selaku pemangku adat Teko‟

(Galla Tangnga), mengatakan bahwa bibit padi lokal biasanya cukup lama bahkan mencapai delapan bulan, baru bisa dipanen. Seperti di Dusun Pattiro, padi lokal mulai dari jadwal tanam sampai panen, biasa mencapai delapan bulan. Tetapi di Dusun Borongkopi hanya enam bulan. Jenis bibit yang sama tetapi dengan wilayah yang berbeda bisa menentukan jadwal panen masyarakat. Dengan itu, pertemuan Ummuntuli Ulu‟ Bara‟

memiliki peran cukup penting untuk menfasilitasi pengembangan sektor pertanian masyarakat adat di Manimbahoi.

Bibit murni dari pemerintah tidak cocok untuk ditanam di kampung. Dirinya pernah mencoba menanam dan tidak berhasil, karena jenis bibit ditentukan berdasarkan wilayah masing-masing, seperti di Borong Kopi. Bibit padi celebes tidak cocok untuk wilayah yang relatif lebih tinggi seperti di dusun Baleanging, sedangkan di dusun Borongkopi cocok. Jenis bibit padi yang cocok untuk wilayah mereka, bibit padi Buri jenis bibit padi lokal.

Para pemangku adat Teko tidak melarang masyarakat untuk menggunakan jenis bibit lain namun para pemangku adat hanya

35

memperingati agar tidak menggunakan jenis bibit baru terlalu banyak ditanam, karena kemungkinannya tidak cocok. Sejumlah warga pernah mencoba hal tersebut sebagai permulaan di masyarakat dengan menggunakan jenis bibit baru, dan ternyata tidak cocok untuk wilayahnya, karena padi yang dihasilkan pada saat itu, banyak tidak berisi.

Menurut Saleh selaku pemangku adat (Galla Tangnga) penentuan bibit tersebut berlaku untuk semua jenis tanaman yang akan ditanam masyarakat. Mereka megatnisipasi untuk menggunakan jenis bibt baru karena kekhawatirnya tidak sesuai dengan wilayah dan berdampak terhadap hasil panen masyarakat. Di dalam pertemuan Ummuntuli Ulu‟

Bara‟ semua masyarakat yang hadiri diwajibkan memakan lappa-lappa yang telah disediakan. Makanan tersebut merupakan makanan leluhur mereka, dengan keyakinan hasil dari apa yang ditanam akan berlipat ganda. Itulah arti dari kata lappa-lappa.

Kedua, pertemuan Ummuntuli Ulu Timoro‟, dilakukan kala memasuki musim kemarau, selain mengevaluasi praktik bertani pada musim hujan kemarin, juga melakukan dan menentukan jenis bibit apa lagi yang harus ditanamnya, jadwal penentuan, dan semoga dimusim kemarau kita semua terhindar dari musibah. Menurut pak Hado, pertemuan tersebut, tidak terlalu berbeda dengan pertemuan Ummuntuli Ulu‟ Bara‟, yang membedakannya, menurutnya adalah hanya evaluasi yang dilakukan apakah sesuai dengan hasil kesepakatan pada saat pertemuan Ummuntuli Ulu‟ Bara‟, dan beberapa hambatan lainnya.

Ketiga, pertemuan tahunan, A‟bali Sumanga‟ yang memiliki arti membangun semangat masyarakat adat di Pattiro. Kegiatan tahunan ini, juga merayakan hasil panen masyarakat, atau pesta panen. Adapun jenis makanan yang disajikan dalam pertemuan tersebut tetap masih mekonsumsi makanan leluhur mereka yaitu lole yang memiliki arti solidaritas. Menkonsumsi lole pada saat A‟bali Sumaga‟ menurut keyakinan masyarakat adat Teko, bahwa semua apa yang dilakukan masyarakat secara bersama semakin kuat.

Selain itu pertemuan tahunan ini, menurut pak Hado, bertujuan untuk mengevaluasi semua praktik yang dilakukan disetiap pembahasan pertemuan setengah tahun tadi. Kemudian mengindentifikasi orang-orang yang tidak memiliki tanah atau orang-orang yang memiliki tanah tapi sedikit dan dianggap tidak mencukupi dalam pemenuhan sehari hari

36

keluarganya, dan para pemangku adat mencarikan orang yang bersedia untuk tanahnya ditesang atau dikerjakan dan kemudian hasilnya dibagi dua. Kemudian mencari orang yang ingin menukar tanah garapannya dengan tujuan memperdekat yang jauh, dalam arti penyesuaian jarak antara rumah dengan lokasi sawah.

Terkait dengan Kopi sebagai komoditas komersil sebelum introduksi cabe dan tomat (tanaman holtikultur) cukup memiliki nilai historis bagi masyarakat di dataran tinggi seperti di Majannang dan Manimbahoi.

Mereka mengingat dengan baik bahwa kopi adalah komoditi yang diperkenalkan oleh kolonial Belanda. Utamanya untuk jenis kopi robusta, karena itu penyebutan lain robusta dalam kamus lokal disebut „kopi balanda‟ atau Kopi Belanda. Pemberian nama kampung seperti dusun borong kopi juga seperti menegaskan suatu identitas tersendiri. Borong kopi bisa diartikan kampung, tempat, yang banyak tumbuh kopi. Karena itu tanaman yang diperkenalkan oleh kolonial ini tidak sekedar menjadi tanaman komoditas dagang saja, tetapi ikut serta membentuk identitas kampung-kampung di dataran tinggi.

Pengelolaan kopi masih dilakukan secara sederhana, petik, jemur, kupas, sortir lalu jual. Tetapi tidak semua hasil panen kopi dijual, sebagian disimpan untuk dikonsumsi. Pada masa pandemi ketika masa pembatasan yang berimbas juga kepada pemasaran hasil panen tanaman cabe dan tomat. Kopi menjadi sandaran penting untuk menunjang pendapatan masyarakat yang hasil panennya tidak terjual di pasar.

Meskipun distribusi penjualan kopi juga tidak normal, jalur distribusi ke konsumen di kota macet karena kafe-kafe mengalami imbas masa pembatasan sosial di kota. Pilihan terakhirnya adalah menjual beras untuk menopang penghidupan harian.

Selama masa pandemi yang membuat hasil tanaman komoditas pertanian menjadi tidak terjual di pasar, pilihan lain untuk mendapatkan uang tunai adalah menjual sebagian beras. Selain itu, komoditas kopi yang jadi andalan untuk menopang pendapatan uang tunai masyarakat.

Selain untuk dikonsumsi sendiri, kopi yang pengolahannya masih tergolong tradisional ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan karena produktifitas kopi cukup besar di desa.

37

Arera’ Sebagai Solidaritas Sosial Masyarakat Adat Teko

Bekerja secara kelompok dalam bertani itulah arti kata „arera‟, kurang lebih seperti ini, defenisi masyarakat adat di Manimbahoi dalam memahaminya. Sejak dari nenek moyang mereka bekerja secara kelompok dan hampir secara keseluruhan masyarakat adat Teko melakukan hal demikian. Namun beberapa orang telah meninggalkan tradisi Arera tersebut mulai ditinggalkan sejak masyarakat adat mengenal sistem pertanian holikultura sebagai sistem pertanian dominan di masyarakat adat Teko saat ini.

Di dalam sistem pertanian tertentu, seperti sistem pertanian holtikultur, praktik arera tidak digunakan masyarakat, karena sistem pertanian holikultural telah menggunakan beberapa teknologi pertanian seperti traktor, pompa air yang dianggap mempermudah kerja pertanian mereka dan tidak memerlukan tenaga yang banyak. Tetapi arera sebagai kerja bersama dalam masyarakat adat Teko masih tergunakan dalam sistem pertanian padi.

Seperti yang sering dilakukan pak Saleh dalam kelompok rera-nya.

Di dalam kelompok Saleh terdapat dua puluh orang anggota rera. Setiap anggota secara bergiliran dikerjakan sawahnya masing-masing.

Menurutnya itu lebih cepat dibandingkan dirinya kerja sendiri-sendiri.

rera tersebut berlaku saat masyarakat menanam padi seperti mencangkul, mencabut bibit dan membantu mengankatnya dari lokasi pembibitan ke lokasi tanam. Begitupun dengan panen, kelompok rera pak Saleh masih terpakai seperti membantu mengangkat gabah, memanen dan membersihkan gabah.

Kelompok tersebut berlaku bagi masyarakat adat Teko sejak dari nenek moyang mereka. Menurut pak Nasi‟ (78 Tahun) selaku orang yang dituakan di Dusun Pattiro, sekaligus salah satu pemangku adat Teko megatakan bahwa arera tersebut berlaku sebelum masyarakat mengenal sistem pertanian holikultural. Kelompok rera diawali ketika masyarakat menanam kopi. Kala itu masyarakat bersamaan berjalan untuk menanam kopi sampai kemudian belakangan berlaku dalam sistem pertanian padi, tetapi kelompok tersebut tidak tergunakan dalam sistem pertanian holikultural, seperti cabe dan tomat, yang kebanyakan orang tanam di Manimbahoi.

38

Dalam masyarakat adat Teko, terdapat banyak kelompok rera. Selain saling membantu, kelompok rera juga memiliki praktik, seperti sawah pak hado berada didekat rumahnya pak saleh, begitupun dengan pak saleh memiliki sawah dekat rumah pak hado, mereka berdua menukarnya untuk dikerjakan sementara, dengan tujuan jaraknya tidak terlalu jauh.

2. Revitalisasi Kultur dan Natur

Krisis karena pademi, dan klaim sepihak atas tanah masyarakat oleh dua korporasi tersebut telah merasuk terlalu dalam bagi penghidupan masyarakat adat di dataran tinggi Kabupaten Gowa, seperti yang telah dirasakan pak Hendra di atas. Masalah struktural masih terus menerus terwariskan. Bayang ketidakpastian hidup begitu dekat dengan masyarakat adat di pedalaman.

Situasi demikian, sebagai upaya eksistensi dan motivasi perjuangan masyarakat adat di dataran tinggi Kabupaten Gowa, untuk keluar dari masa sulit ini, dipantik oleh Aliansi Masyarakat Adat (Aman) Kabupaten Gowa yang merupakan salah satu organisasi masyarakat sipil yang bergerak mengawal isu masyarakat Adat dan beberapa persoalan lainnya.

Bersama Aman dan organisasi masyarakat sipil lainnya, masyarakat Adat di dataran tinggi Gowa, telah bertahun-bertahun melakukan advokasi terhadap hak atas tanah dan pengakuan hutan adat yang diklaim negara dan korporasi. Intimidasi, kriminalisasi kerap dialami masayarakat adat dalam proses perjuagan selama beberapa tahun terakhir. Peguatan komunitas adat yang masuk keanggotaan Aman di dataran tinggi Gowa, sesekali dilakukan penguatan komunitas seperti pendidikan adat untuk anak-anak muda, pembangunan baruga sebagai tempat pertemuan masyarakat adat, dan terakhir dilakukan pelatihan pengobatan herbal.

Beranjak dari pelatihan pengobatan herbal bagi komunitas adat di dataran tinggi Gowa yang diinisiasi oleh Aman Gowa, memiliki rencana tindak lanjut, untuk mengidentifikasi tanaman yang sering dijadikan pengobatan lokal oleh para sanro atau tabib di dataran tinggi. Karena tanaman herbal dominan berada pada tempat yang berbeda-beda dan lokasinya berada didalam hutan, anak-anak muda bersama beberapa tabib mencarinya beberapa hari dan mengumpulkan dalam satu tempat yang disebut Arangangia.

39

Masyarakat adat di dataran tinggi Gowa, membangun Arangangia sebagai herbarium diawal tahun 2020. Arangangia berada di sekitar wilayah adat Pattallassang yang berdampingan dengan baruga pertemuan dan secretariat Aman Gowa. Secara administrasi Arangangia masuk ke-dalam Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. Tempat tersebut dibangun secara swadaya selama enam bulan, dengan waktu pengerjaannya, dilakukan setiap hari sabtu. Arangangia merupakan bagian terkecil dari upaya untuk merawat pengetahuan lokal dibidang pengobatan bagi masyarakat adat. Proses kehadiran Arangangia adalah semangat dari para “sanro” atau tabib, dan beberapa anak-anak muda.

Gambar 3. Koleksi tanaman herbal di arangangia Sumber: Dok. AMAN Gowa

Sarana-sarana di Arangangia sendiri dibangun dengan material utama berupa bambu. Arangangia berkonsep bambu bukan karena material bambu ini mudah ditemui, melainkan karena nilai filosofis dan kesejarahannya. Bambu tidak tumbuh sebatang dua batang. Ia tidak bisa tumbuh dewasa sendirian. Para tetua mengambil banyak nilai filosofis dari rumpun yang dilihatnya tumbuh kolektif dengan saling melindungi satu sama lain. Bambu muda akan dilindungi bambu indukan ketika

40

kemarau panjang, badai menerjang atau cuaca buruk melanda.

Sebaliknya, jika cuaca dan kondisi alam sedang bagus, bambu indukan akan menjuntai dan membiarkan bambu muda tumbuh tegak melampauinya. Dari situ juga, oleh para tetua bambu kerap dilihat sebagai penanda-penanda alam. Secara historis, para pendahulu juga menggunakan bambu sebagai material utama tempat berlindungnya. Di dataran tinggi Gowa, bambu dinilai sebagai material yang cukup kuat terhadap ancaman erosi. Jadi, pemilihan bambu sebagai material utama bukan sekadar itu bernilai secara artistik, namun karena nilai luhur yang ada di baliknya.

Di Arangangia inilah disepakati untuk mengumpulkan berbagai sampel obat-obat tradisional. Karena hanya menyediakan sampel, Arangangia tidak menjadi penyedia obat-obatan tradisional berupa produk seperti lazimnya obat tradisional yang dipasarkan. Ketika orang-orang dengan penyakit tertentu ingin berobat, maka Arangangia

Di Arangangia inilah disepakati untuk mengumpulkan berbagai sampel obat-obat tradisional. Karena hanya menyediakan sampel, Arangangia tidak menjadi penyedia obat-obatan tradisional berupa produk seperti lazimnya obat tradisional yang dipasarkan. Ketika orang-orang dengan penyakit tertentu ingin berobat, maka Arangangia

Dalam dokumen Laporan Hasil Penelitian (Halaman 31-44)

Dokumen terkait