• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Hasil Penelitian"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Hasil Penelitian

Resiliensi Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi (Studi Atas Praktik Sosial dan Revitalisasi Kultur-Natur

Masyarakat Adat di Dataran Tinggi, Kab. Gowa) Oleh:

Imamul Hak, M.A.

198612032019031011 Fak. Ushuluddin dan Filsafat

2021

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian

1 1 5 5

BAB II KAJIAN KONSEPTUAL A. Kajian Kepustakaan

B. Pendekatan Teoritik

6 6 9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian Etnografi B. Jenis Penelitian

C. Subjek Penelitian

D. Metode Pengumpulan & Analisis Data

12 12 14 15 15

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

B. Proses Adaptasi Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi

C. Praktik Sosial Berbasis Kearifan Lokal Pada Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi

D. Perjuangan dan Eksistensi Masyarakat Adat

16 16 20 29 42

BAB V KESIMPULAN 61

DAFTAR PUSTAKA

(3)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Eksistensi komunitas masyarakat adat tengah mengema sebagai gerakan politik semakin massif dan meluas. Di level Internasional terdapat berbagai macam gerakan politik berbasis Indigeones People, yang banyak menginspirasi kebangkitan gerakan masyarakat adat di Indonesia utamanya di masa reformasi-paska orde baru. Gerakan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dengan gelombang pasang surut menandai tuntutan pengakuan (recognation) atas eksistensi mereka dari negara. Bahkan ada semboyan yang terkenal dari salah satu organisasi masyarakat adat bernama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berbunyi “Jika negara tidak mengakui kami, maka kami juga tidak mengakui negara”. Tuntutan politik tersebut adalah hasil perjuangan panjang masyarakat adat secara politik, ekonomi dan budaya. Selama ini, masyarakat adat tidak diakui keberadaannya secara hukum, tetapi hukum formal mengafirmasi hukum adat sebagai salah satu sumber hukum nasional. Selain itu, tindakan negara dan pihak swasta dalam mengesploitasi tanah, wilayah dan teritori adat seringkali berlangsung secara terbuka dan represif. Hutan yang diklaim sebagai wilayah adat diubah statusnya untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan.

Teritori adat orang marind anam di Papua diambil paksa oleh pihak perusahaan dengan kompensasi yang kecil saja, lantas wilayah berburu dan produksi pangan utama – sagu – mereka dirubah menjadi sawah dan lahan perkebunan swasta.

Perjalanan panjang perjuangan masyarakat adat di Indonesia yang berdarah-darah dan memakan banyak korban, itu sangat dipengaruhi oleh watak rezim pengurus negara. Artikulasi perjuangan masyarakat adat yang beririsan dengan relasi kuasa begitu menentukan dan determinan pada model dan pilihan-pilihan yang ditempuh oleh masyarakat adat.

Perubahan dasar gerakan dan transisi gerakan masyarakat adat sangat nampak dari semboyan dan motto perjuangan dari yang pertama - seperti disebutkan di atas kemudian berubah seiring dengan tuntutan politiknya

(4)

2

menjadi “Memperkuat posisi dan peranan masyarakat adat untuk mewujudkan keadilan dan demokrasi kerakyatan di era otonomi daerah”.

Saat ini, gerakan masyarakat adat menghadapi cobaan karena transisi demokrasi yang tidak tuntas. Indikasinya dapat dilihat dari munculnya berbagai bentuk pembajakan terhadap isu masyarakat adat oleh aktor- aktor politik dan ekonomi di daerah yang mencoba membangun oligarki pasca rezim orde baru. Di masa depan saya membayangkan tentang pentingnya masa depan gerakan masyarakat adat yang berpangkal pada tiga prinsip utama. Pertama, gerakan masyarakat adat harus mempromosikan keadilan, menentang eksploitasi dan hierarki, mejaga jarak dari kepentingan elite, dan mencegah setiap usaha untuk menghidupkan feodalisme. Kedua, gerakan masyarakat adat dapat menggunakan identitas etnis sebagai titik tolak , tetapi mengartikulsikannya tidak dalam semangat etnosentrik. Ketiga, tetap memposisikan diri sebagai lawan atas negara neoliberal yang berkecendrungan mengubah prinsip komunalitas menjadi privatisasi, dimana negara seakan mau mengalihkan tanggungjawabnya kepada komunitas atau korporasi.

Ironisnya, praktik represi, kriminalisasi dan eksploitasi terhadap masyarakat adat tidak berhenti bahkan di masa Pandemi Covid-19 ini.

Padahal masyarakat adat yang masih memiliki tanah dan wilayah adat bisa bertahan tanpa mengandalkan subsidi atau bantuan negara. Model ketahanan pangan ini justru dimiliki sepenuhnya oleh masyarakat adat.

Selain itu, masyarakat adat juga memiliki pengetahuan tradisional melalui tanaman herbal dan penyembuh yang mampu menjaga imunitas tubuh dari serangan virus dan penyakit. Kearifan lokal masyarakat adat tentang tanaman herbarium merupakan suatu kemewahan tersendiri di saat masyarakat urban di kota-kota besar kewalahan dan panik saat obat- obatan, suplemen dan vaksin untuk Covid-19 belum ditemukan. Gejala panik dan ketidakjelasan penanganan pandemi di kota-kota membuat angka penyebaran virus meningkat tajam.

Berbagai macam bentuk ketidakadilan, ketidakadilan lingkungan, agraria, sosial dan gender, yang mendera masyarakat adat sebagai konseksuensi atas penguasaan ruang hidup berupa hutan dan tanah-tanah ulayat masyarakat adat mendorong beragam bentuk perlawanan berbasiskan masyarakat adat dan berkembang menjadi gerakan sosial.

(5)

3

Dalam kondisi yang seperti itulah masyarakat adat tampil menyuarakan nasibnya, protes-protes rakyat dihadapi dengan sikap represif oleh penguasa. Tidak sedikit yang menjadi korban atas perlawanan masyarakat adat, teror, intimidasi, penembakan, penyiksaan, dituduh sebagai bagian dari gerakan komunis, menjadi ritual yang dilakukan oleh pemerintahan otoriter Soeharto untuk membungkam setiap protes dan perlawanan masyarakatnya.1

Selain dengan menempuh aksi-aksi langsung (direct action), perlawanan masyarakat adat juga dilakukan dengan cara lain. Salah satunya ialah dengan melakukan pemetaan partisipatif, yang mulai dikembangkan pada awal 1990an sebagai perlawanan terhadap

“penghapusan” masyarakat adat dan masyarakat lokal lainnya dalam peta modern yang dibuat atau disponsori negara, sekaligus perlawanan terhadap penyingkiran masyarakat adat dan masyarakat lokal lainnya dari wilayah hidup mereka, merupakan salah satu bentuk gerakan tandingan.

Merebaknya Pandemi Covid-19 secara global membuat kondisi masyarakat adat semakin rentan dan termarjinalkan. Masalah paling mendasar yang dihadapi oleh komunitas masyarakat adat di indonesia adalah soal kerentanan akan kedaulatan pangan, karena wilayah kelola, ruang hidup, tempat berburu dan melakukan aktivitas produksi utama mereka dirampas. Teresklusinya masyarakat adat dari ruang hidupnya setelah dirampas oleh korporasi besar untuk perkebunan skala besar atau proyek infrastruktur. Menurut laporan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bahwa selama masa Pandemi terdapat 37 kasus konflik agraria baru, 39 orang petani, masyarakat adat dan nelayan yang dikriminalisasi karena kasus itu, ada 2 orang meninggal dunia.2

Konflik agraria yang berujung pada kriminalisasi petani dan masyarakat adat seperti di atas semakin dipertajam oleh kehadiran mega proyek seperti food estate-cetak sawah di kalimantan, merauke, dan Papua. Program tersebut dianggap sebagai salah satu solusi dari kerawangan pangan karena efek dari pandemi. Masalahnya sebagian lahan untuk mega projek itu berada di atas lahan pertanian tradisional masyarakat adat di Kalimantan.

1Dianto Bachriadi & Anton Lucas, Merampas Tanah Rakyat; Kasus Tapos dan Cimacan. Jakarta: KPG. 2001.

2https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201217142238-20-583423/koalisi-

kerentanan-masyarakat-adat-diperparah-pandemi-corona. Diakses pada 25 September 2021.

(6)

4

Dinamika dan kontestasi yang dialami oleh komunitas masyarakat adat seperti deskripsi di atas mungkin tidak terjadi kepada semua masyarakat adat. Gambaran kontras atas situasi krisis di atas ditunjukkan oleh sejumlah praktik masyarakat adat di beberapa daerah. Orang Badui atau Urang Kenekes di Banten mungkin bisa jadi contoh menarik, karena mereka mampu mengontrol dan membatasi efek penyebaran Covid-19 dengan cara melakukan karantina wilayah berdasarkan pedoman hidup atau pikukuh.3

Pikukuh orang Badui yang dijadikan pedoman hidup dalam merefleksikan penyebab dan dampak Pandemi ini yaitu; “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, artinya gunung jangan diratakan, lingkungan jangan dirusak”. Mereka juga menyakini pikukuh yang dipegang teguh bahwa semua penyakit (sasalan) punya obatnya.

Keyakinan mereka pada aturan adat dan pemimpinnya ini yang jadi kunci mendasar untuk lolos dari Pandemi.

Cerita Suku Anak Dalam di Jambi mungkin juga bisa diajukan untuk menambah pengalaman dan pelajaran berharga terkait upaya masyarakat adat beradaptasi dan melakukan resiliensi komunitas. Jadi ketika mendengar kabar tentang penyebaran wabah Covid-19 mulai meningkat, dengan segera pimpinan adat memerintahkan untuk melakukan besesandingon, mereka langsung masuk hutan untuk karantina tanpa ada yang berani melanggar perintah adat tersebut. Ingatan komunal akan wabah campak yang menewaskan puluhan orang rimba yang mendorong mereka tidak berani melanggar perintah adat.4

Model perjuangan di atas juga dipraktikan oleh masyarakat adat di dataran tinggi Gowa, Sulawesi Selatan. Masa pandemi Covid-19 ini mereka berupaya menampilkan artikulasi lain yaitu dengan membuat laboratorium herbal yang akan menjadi sentral pengetahuan lokal tentang tanaman obat. Praktik politik tersebut bisa dilihat sebagai salah satu gagasan politik-kultural mereka untuk menyuarakan perjuangan atas pengakuan masyarakat adat oleh negara dan berusaha lepas dari bayang- bayang rezim kehutanan dari ruang hidup bersama mereka.

3https://projectmultatuli.org/kontras-hikayat-manusia-modern-masyarakat-adat- bertahan-menghadapi-wabah-covid-19/. Diakses pada tanggal 27 September 2021.

4 Ibid.

(7)

5 B. Rumusan Masalah

Fokus penelitian ini mengarah kepada dua topik utama, yakni: pola resiliensi komunitas masyarakat adat di masa pandemi Covid-19 dan mekanisme adaptasi atas situasi krisis yang disebkan oleh Pandemi.

Masyarakat adat yang penghidupannya sangat bergantung pada proses produksi komoditas cabe dan tomat-pertanian holtikultura mengalami kerugian yang sangat mempengaruhi pendapatan dan penghasilan utama mereka sebagai petani produsen kecil komoditas. Selain itu penelitian ini juga hendak memahami dinamika dan proses artikulasi tersebut sebagai proses perjuangan masyarakat adat di daerah pedalaman (frontier).Untuk itu, yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana komunitas masyarakat adat di dataran tinggi, Gowa mampu beradaptasi dan merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal – Natur dan Kultur, untuk bertahan selama masa pandemi covid-19? Berdasarkan rumusan permasalahan umum di atas, adapun pertanyaan kunci dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apa saja nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat yang mendasari proses adaptasi selama masa pandemi?

2. Bagaimana pengetahuan lokal tersebut mengkondisikan praktik sosial?

3. Bagaimana praktis sosial itu terartikulasi sebagai upaya perjuangan pengakuan eksistensi masyarakat adat?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan dan memahami nilai kearifan lokal komunitas masyarakat adat di dataran tinggi Gowa.

2. Menjelaskan proses dan dinamika perubahan sebagai suatu praktik sosial komunitas masyarakat adat di Gowa.

3. Menjelaskan makna artikulasi sebagai upaya perjuangan rekognisi dan eksistensi komunitas masyarakat adat di Gowa.

(8)

6 BAB II

KAJIAN KONSEPTUAL

A. Kajian Kepustakaan

Studi Claudia D‟ andrea di Sulawesi Tengah menampilkan suatu bentuk perjuangan masyarakat adat Katu atas wilayah adat mereka di dalam zona taman nasional Lore Lindu. Orang Katu berhasil memenangkan klaim atas wilayah adat mereka karena ditopang oleh artikulasi masyarakat adat sebagai identitasnya. Alhasil klaim itu menempatkan orang katu dalam medan perjuangan baru setelah berhasil dalam perjuangannya. Pada buku Kopi, Adat dan Modal (2013) karya antropolog Claudia D‟ Andrea juga menyajikan satu kisah tentang orang Katu sebagai subjek kajian digambarkan dengan ciri petani adat yang mampu memenangkan klaim dalam bentuk pengakuan atas penguasaan tanah ulayatnya dari Rezim Taman Nasional Lore Lindu. Paska pengakuan itu, petani Katu yang secara ekonomi juga telah terhubung dengan pasar melalui komoditi kopi dan kakao mengartikulasikan dinamika identitas dan penguasaan tanah adat (teritorial) dalam beragam rangkaian perjuangan yang berbeda dengan bentuk perjuangan petani di tempat lain.

Perjuangan mereka dalam memberikan tafsir baru atas masyarakat adat adalah cerita dan kajian penting dalam studi D‟ Andrea ini. Praktek kehidupan petani Katu yang juga turut serta dalam usaha mengakumulasi modal dan mencari cara demi sumber-sumber ekonomi yang menguntungkan dan mensejahterakan, hal demikian akan sangat ganjil jika dilihat dalam kerangka perjuangan masyarakat „adat‟ yang romantik.

Pada ranah ini keunikan perjuangan petani adat Katu sangat mencolok.

Aturan-aturan adat yang baru diproduksi tidak dalam usaha melestarikan sistem „tradisional‟, malah yang terjadi adalah sebaliknya, dalam artian bahwa artikulasi perjuangan petani adat dalam bentuk supremasi aturan- aturan adat yang baru juga mengakomodir aspirasi modernitas lewat praktek laku-hidup yang adaptif merespon kehadiran pasar global melalui tanaman komoditas pasar.

(9)

7

Cerita di atas menambah wawasan kita akan tipologi petani saat ini.

Imajinasi dan harapan yang sering dikaitkan pada petani pegunungan bahwa mereka tetap melestarikan tradisi agar bisa bertahan dalam hentakan badai ekonomi yang berorientasi pasar, sepertinya harus direfleksikan kembali.

Terkait dengan pengalaman komunitas masyarakat adat untuk melakukan adaptasi dan upaya resiliensi digambarkan oleh studi Sunarno dan Sulistyowati yang mengkaji nilai dan perilaku sosial dalam konteks resiliensi komunitas di masa pandemi Covid-19. Penelitian yang dilakukan di Desa Tempurejo, kec. Wate, kabupaten Kediri, Jawa Tengah, ini mampu melakukan kelentingan komunitas karena adanya rasa memiliki (sense of belonging) antara sesama warga dan anggota yang berada di dalamnya. Bentuk-bentuk perilaku sosial yang dijalankan secara komunal oleh anggota komunitas, yaitu: pertama, gotong royong yang semakin menguat sejak masa pandemi. Para warga rutin melakukan siskamling dalam menjaga keamanan lingkungan. Kedua, musyawarah yang berlangsung untuk mendesiminasi kebijakan pemerintah daerah dan keputusan pemerintah lokal tentang perlindungan dan penyebaran pandemi. Dan yang ketiga, keselarasan dengan alam, wilayah desa yang berupa persawahan dan hutan sebagai basis penghasilan utama warga.5 Sayangnya, penelitian ini kurang mendalam melihat bentuk nilai dan perilaku sosial masyarakat yang berkaitan dengan basis produksi dan ketahanan pangan komunitas di pedesaan yang menjadi penopang utama mereka menghadapi krisis sebagai dampak pandemi.

Studi kasus lain yang membahas tentang kerentanan dan kelentingan petani dan nelayan kecil di pedesaan oleh Dharmawan dan Auliatun Nissa.6 Mereka melihat dinamika sosial-ekonomi yang dialami oleh masyarakat kecil di pedesaan yang dipengaruhi oleh tekanan ekologis.

Adapun temuan studi pustaka ini, mengidentifikasi empat jenis stresor yang dihadapi langsung, yaitu; variabilitas iklim, perluasan pertanian modal, pembangunan infrastruktur pedesaan, kompetisi aktor ekonomi.

5 Sunarno dan Endang Sulistyowati. Resiliensi Komunitas di Tengah Pandemi Covid-19.

Jurnal Mediapsi Vol. 7, No. 1, 2021, hal. 37-52.

6 Arya Hadi Dharmawan dan Zulfa Nur Auliatun Nissa. Rural Livelihood Vulnerability and Resilience: a Typology Drawn from Case Studies of Small-Scale Farmers and Fishermenn in Indonesia. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 08 (01) 2020, hal. 1-13.

(10)

8

Untuk itu, guna merespon kondisi kerentanan nafkah rumah tangga tersebut, masyarakat yang rentan yang digolongkan sebagai petani skala kecil ini melakukan dua model resiliensi ekstraksi sumber daya yang berada di bawah kendali rumah tangga dan menggunakan sumber eksternal. Sumber daya dari dalam keluarga ditunjukkan dalam bentuk;

berbagi aktifitas produksi pertanian, terlibat dalam kerja menanam kepada orang lain, memperkuat ikatan keluarga dan tetangga, mengembangkan pengetahuan tentang pengelolaan pertanian dan perkebunan, memakai kemampuan diluar sektor pertanian dan menggunakan bahan baku dan sumber penghidupan lainnya. Sementara model resiliensi dari sumber dari luar keluarga, yaitu: membangun dam irigasi dengan bantuan pemerintah, memakai subsidi untuk membeli pupuk kimia, memakai kebijakan pemerintah untuk harga pertanian, menggunakan bantuan sembako untuk yang miskin, memakai dukungan lembaga swadaya masyarakat, memakai kredit usaha dari pemerintah.7 Kelemahan mendasar dari penelitian dan studi pustaka ini bahwa kesimpulan dari penelitian tidak dapat menjadi bukti dasar untuk dijadikan kesimpulan yang umum atau digeneralisasi.

Fenomena resiliensi pada masyarakat tradisional juga diamati oleh Ayu Meita Ningsing berjudul “Fenomena Resiliensi Suku Semende Desa Aromantai”,8 penelitian lapangan ini menunjukkan bahwa tradisi atau adat Tunggu Tubang yang bertujuan untuk memelihara harta, warisan supaya tidak rusak, tidak hilang, dan tidak berkurang. Landasan nilai paling utama yang berlaku di Suku Semende untuk menjadi pedoman hidup, utamanya untuk memotivasi perilaku kelompok untuk bangkit dalam menghadapi segala macam persoalan yang menimpa mereka disebut guci.

Kerawanan yang sering dihadapi oleh suku Semende adalah bencana alam atau longsor. Dengan diinternalisasinya nilai spritual guci sangat membantu anggota komunitas Semende untuk bangkit dari situasi krisis paska bencana alam. Prinsip mendasar dari nilai atau tradisi adat itu menekankan agar setiap orang harus menjaga keharmonisan hubungan dan tolong-menolong antar mereka dengan tidak menjadi terpuruk atau meninggalkan kampung ketika bencana terjadi.

7 Ibid. hal. 10.

8 Ayu Meita Ningsih. Fenomena Resiliensi Suku Semende Desa Aromantai. Prosiding Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota-SPeSIA Vol.5, No.1, 2019.

(11)

9 B. Pendekatan Teoritik

Penelitian ini menggunakan dua konsep utama, yakni, Resiliensi Komunitas dan Praktis Sosial. Dua perangkat konseptual ini dipakai untuk kepentingan teoritik yang relevan dengan fenomena atau fakta-fakta lapangan yang diamati selama proses penelitian ini berlangsung.

B.1. Resiliensi Komunitas

Resiliensi merupakan suatu kemampuan individu untuk bangkit dari kondisi yang berat dan mampu mengatasi kondisi tersebut. Dengan kata lain resiliensi adalah kemampuan beradaptasi atas perubahan. Menurut Siebert (2005), resiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi perubahan terbesar yang menggangu dan bangkit kembali dari situasi atau peristiwa yang rumit dan traumatik. Pada masa pandemi seperti sekarang ini, kemampuan komunitas masyarakat adat bertahan dan keluar dari situasi krisis tersebut. Memahami bagaimana praktik adaptasi selama pandemi ini menjadi penting sebagai suatu kajian kontemporer.

Menurut Carri (2013) dalam Nasdian dkk9 resiliensi komunitas adalah kemampuan yang mencerminkan gagasan „adaptasi‟ untuk mengatasi masalah serta kesulitan. Komunitas kemudian menyesuaikan diri dengan kesulitan dengan cara mengubah fungsinya atau dengan memakai sumberdaya dengan cara yang inovatif. Dengan memiliki kemampuan itu, komunitas kemudian bisa dikatakan melakukan: (1) resiliensi adalah atribut inheren dan dinamis dari komunitas; (2) kemampuan beradaptasi adalah inti dari atribut ini; (3) setiap proses adaptasi harus mensyaratkan fungsi memperbaiki komunitas, dalam arti bahwa komunitas berhasil dalam lintasan yang positif; (4) resiliensi dimaknai dengan cara yang memungkinkan prediksi yang berguna dibuat mengenai kemampuan masyarakat untuk pulih dari kesulitan.

Sementara Van Breda menjelaskan bahwa resiliensi komunitas adalah kemampuan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki suatu komunitas untuk kembali bangkit dari situasi menekan, trauma, atau kejadian yang membuat guncangan sehingga komunitas tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Atau dengan kata lain, resiliensi komunitas merupakan gagasan tentang bagaimana masyarakat

9 Fredian Tonny Nasdian, dkk. Resiliensi Komunitas Kawasan Pertambangan dan Kerawanan Pangan di Kalimantan Selatan. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 08 (01) 2020, 47-63. hal. 49.

(12)

10

bertahan menghadapi tekanan dan tantangan hidup melalui fungsi relasi sosial.

Bruneau dkk (2003) mendefinisikan resiliensi komunitas sebagai kemampuan unit sosial, seperti organisasi atau masyarakat untuk memitigasi bencana dan melakukan agenda pemulihan dengan cara meminimalkan gangguan.10

Berangkat dari sejumlah pengertian tentang resiliensi komunitas yang dipaparkan di atas. Konsep resiliensi komunitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki secara sosial, kolektif untuk bertahan dan bahkan melakukan sejumlah inovasi paska mengalami krisis, tekanan dan semacamnya. Daya kelentingan tersebut hanya bisa diidentifikasi setlah lelalui suatu lintasan yang mempengaruhi stabilitas, kenormalan, bahkan kondisi umum yang dinamis.

Fenomena umum yang biasa kita saksikan ketika masa pandemi ini, utamanya yang terjadi di pedesaan, seperti: macetnya sirkulasi perdangan komoditas pertanian yang menyebabkan hilangnya sumber pendapatan utama petani produsen komoditas kecil, buruh tani, pedagang atau pengepul, dan dampak krusial lainnya. Kondisi seperti itu juga yang penulis temukan di pedesaan yang menjadi lokasi penelitian. Salah satu cara komunitas bisa bertahan dan keluar dari krisis pandemi itu karena kemampuan mengelola sumberdaya yang dikelola berbasis kearifan lokal, atau menjual suplus hasil pertanian untuk konsumsi. Secara umum, penulis melihat kemampuan dan kelentingan itu didasari oleh tradisi, relasi sosial, dan atau karena sumber penghasilan tidak bertumpu pada satu produksi saja, terdapat beragam produksi yang mampu menghasilkan pendapatan tambahan bagi keluarga.

B.2. Praktik Sosial

Teori praktik sosial merupakan pendekatan kritis yang berpegang pada hubungan dialektik antara struktur dan agensi dalam hubungan sosial yang konkrit. Pendekatan ini menganggap bahwa partisan melibatkan diri dalam praktik sosial melalui hubungan mereka dalam komunitas tertentu dalam praktik dan membangun identitas dalam hubungannya dengan komunitas tersebut sembari menjalani berbagai pengalaman yang berbeda. Dengan kata lain, masyarakat hanya bisa dipahami melalui relasi

10 Lihat, Sunarno dan Endang Sulistyowati. Jurnal Mediapsi Vol. 7, No. 1, 2021, hal. 41.

(13)

11

sosial dan di dalam relasi tersebut yang menyertai proses produksi sejalan dengan keberadaan mereka dalam ruang dan waktu tertentu.11

Melakukan pengamatan atas relasi sosial suatu masyarakat menjadi satu-satunya cara untuk memahami dan memberi arti pada kehidupan harian mereka serta seperangkat hubungan politik dan ekonomi dimana mereka berada. Pada tahap ini diperlukan kesungguhan untuk memahami perubahan secara dialektik dan prosesual, oleh karena itu peran peneliti juga dituntut untuk ikut serta dalam analisis relasi sosial tersebut.

11 Claudia D. Andrea. Kopi, Adat Dan Modal; Teritorialisasi dan Identitas Adat di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Yogyakarta: Sayogyo Institute, YTM dan Tanah Air Beta: 2013, hal. 43.

(14)

12 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian Etnografi

Penelitian lapangan ini akan dilakukan beberapa kampung yang tersebar di dataran tinggi Gowa, utamanya di dua kecamatan, yaitu; Parigi (Komunitas adat Teko-Manimbahoi) dan Tombolopao (Pattalassang). Dua kecamatan tersebut terdapat komunitas masyarakat adat yang sangat dinamis dan aktif dalam mengartikulasikan perjuangan pengakuan atas klaim wilayah adat mereka. Untuk memahami proses artikulasi, dinamika dan mekanisme perjuangan mereka selama pandemi ini, peneliti akan menggunakan metode etnografi dengan tinggal di kampung bersama komunitas untuk memahami, mengamati dan mempelajari aktifitas harian mereka, sehingga temuan-temuan lapangan menjadi suguhan data yang bermuatan antropologis.

Etnografi dan budaya adalah suatu hal yang sangat berkaitan. Saat seseorang harus melakukan suatu penelitian yang berhubungan dengan kebudaayan maka ia membutuhkan suatu metode penelitian yang disebut dengan etnografi. Untuk mengaplikasikan suatu metode etnografi, seorang peneliti harus belajar tentang kebiasaan ataupun budaya yang ada di daerah di mana ia akan melakukan penelitiannya. Hal ini menjelaskan bahwa etnografi merupakan sebuah pendekatan untuk mempelajari kehidupan sosial dan budaya sebuah masyarakat secara ilmiah melalui prosedur-prosedur penelitian yang telah ditetapkan.

Istilah etnografi juga bisa diartikan sebagai sejenis tulisan yang menggunakan bahan-bahan dari penelitian lapangan untuk menggambarkan kebudayaan manusia. Teori ini diperkuat oleh sejumlah ahli. Menurut Spradley (1980: 6-8) kebudayaan merupakan seluruh pengetahuan yang dipelajari manusia dan digunakan untuk menginterpretasi pengalaman dan membentuk tingkah laku, dan etnografii merupakan penelitian serta menjadi bagian dari metode penelitian kualitatif.12

Sebagai metode penelitian kualitatif, etnografi dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Spradley mengungkapkan beberapa tujuan penelitian etnografi. Pertama, untuk memahami rumpun manusia. Dalam

12 James P. Spradley. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.1997. hal.6-8.

(15)

13

hal ini, etnografi berperan dalam menginformasikan teori-teori ikatan budaya. Menawarkan suatu strategi yang baik sekali untuk menemukan teori grounded. Sebagai contoh, etnografi mengenai sanro sebagai bagian dari kebudayaan bugis dapat mengembangkan teori grounded mengenai pengobatan tradisional dan bahkan modern. Etnografi juga berperan untuk membantu memahami masyarakat yang kompleks. Kedua, etnografi ditujukan guna melayani manusia, yakni menyuguhkan problem solving bagi permasalahan di masyarakat, bukan hanya sekadar ilmu untuk ilmu.

Ada beberapa konsep yang menjadi fondasi bagi metode penelitian etnografi ini. Pertama, Spradley mengungkapkan pentingnya membahas konsep bahasa, baik dalam melakukan proses penelitian maupun saat menuliskan hasilnya dalam bentuk yang verbal. Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk mempelajari bahasa setempat, namun Spradley telah menawarkan sebuah cara, yakni dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan etnografis. Untuk hal ini, peneliti sekiranya sudah memiliki kemampuan bahasa yang mumpuni untuk menggali secara mendalam bagaimana pengobatan tradisional yang dilakoni oleh Sanro. Secara umum, masyarakat di Kabupaten Gowa yang menjadi lokus penelitian ini menggunakan bahasa bugis sebagai bahasa keseharian mereka, begitupun dengan interaksi yang berlangsung antara para sanro dengan pasiennya.

Konsep kedua adalah informan. Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi; secara harfiah, mereka menjadi guru bagi etnografer.13 Informasi yang disampaikan oleh para informan merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian ini, sebab sebagian besar data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara dari para informan.

Lebih lanjut, Spradley (1980) juga mengungkap tentang langkah- langkah melakukan wawancara etnografis sebagai penyari kesimpulan penelitian dengan metode etnografi. Langkah pertama adalah menetapkan seorang informan. Ada lima syarat yang disarankan Spradley untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis. Langkah kedua adalah melakukan wawancara etnografis.

13 Ibid. hal. 35.

(16)

14

Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus.

Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan dan pertanyaannya yang bersifat etnografis.

Langkah selanjutnya adalah membuat catatan etnografis. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari.

Langkah ke empat adalah mengajukan pertayaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif mengambil “keuntungan” dari kekuatan bahasa untuk menafsirkan setting. Etnografer perlu untuk mengetahui paling tidak satu setting yang di dalamnya informan melakukan aktivitas rutinnya. Langkah ke lima adalah melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini merupakan penyelidikan berbagai bagian sebagaimana yang dikonseptualisasikan oleh informan. Langkah ke enam, yakni membuat analisis domain. Analisis ini dilakukan untuk mencari domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan nama-nama benda.

Langkah ketujuh ditempuh dengan mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain. Langkah selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Langkah ke sembilan yakni mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini dapat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbol-simbol yang lain. Langkah ke sepuluh membuat analisis komponen. Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Langkah ke sebelas menemukan tema-tema budaya. Langkah terakhirnya yakni menulis sebuah etnografi.

B. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif.

Penelitian tersebut adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan,dll, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks tertentu yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.14

14 Lexi. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Cet ke-33: Bandung: Rosdakarya:

2014) h. 6.

(17)

15 C. Subjek Penelitian

Demi kepentingan akademis dan jangkauan studi, maka studi ini dibatasi untuk meneliti komunitas masyarakat adat yang terlibat dalam proses dan pola resiliensi komunitas masyarakat adat selama masa Pandemi Covid-19. Di mana masyarakat adat yang dimaksud adalah komunitas masyarakat adat Pattalassang dan adat Teko di Manimbahoi yang tersebar di dua kecamatan Parigi dan Tombolopao, dataran tinggi kab. Gowa, Sulawesi Selatan.

D. Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Studi ini menggunakan dua tingkatan metode pengumpulan data:

pada tingkatan; pertama data yang dikumpulkan adalah sejumlah literatur, publikasi media, dokumen terkait, dan data bersifat dokumentasi.

Langkah ini disebut studi literatur. Pada tingkatan kedua, data yang dikumpulkan adalah sejumlah pengakuan, pemahaman dan tendensi dari subjek peneliti. Pada tingkatan ini dilakukan wawancara lepas dan wawancara mendalam (indepth interview). Metode ini dilakukan dengan harapan dapat mengungkap apa yang menjadi alasan mendasar dari proses dan mekanisme dari risielensi masyarakat adat selama pandemi dan artikulasi perjuangannya.

Ketika data yang terkumpul, baik dokumen maupun hasil wawancara, telah dirasa cukup memberikan informasi bagi tujuan penelitian ini dan cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian ini maka data tersebut kemudian akan diolah dengan klasifikasi, reduksi dan sistematisasi data dalam argumentasi yang dituntun oleh teori yang digunakan.

(18)

16 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di dua komunitas masyarakat adat yang berada di dataran tinggi Kabupaten Gowa. Komunitas Masyarakat Adat Pattalassang di Kec. Tombolo Pao dan Komunitas Masyarakat Adat Sampulo Arua ri Teko desa Manimbahoi kecamatan Parigi. Komunitas Masyarakat Adat Pattalassang secara administratif berada di wilayah desa Pao, akan tetapi secara kultural juga terdapat perkampungan yang menjadi bagian dari desa Ta‟binjai. Komunitas ini berada pada satu bentang alam yang sama di kawasan pegunungan di seberang sungai Tanggara‟. Dipilihnya lokasi penelitian ini karena Pattalassang merupakan salah satu basis penting dari organisasi Aliansi Masyarakat Adat Gowa yang juga menempatkan sekretariatnya di desa ini. Sebagian besar pengurus Aman Gowa juga berdomisili dan menjadi perwakilan dari masyarakat adat Pattallassang. Oleh karena itu, penelitian di komunitas ini lebih banyak berfokus untuk memotret proses perjuangan komunitas melalui suatu praktik sosio-kultural berbasis kearifan lokal.

Komunitas masyarakat adat Sampulo Arua ri Teko (selanjutnya akan disebut masyarakat adat Teko saja) terletak di desa Manimbahoi, kecamatan Parigi kab. Gowa. Desa yang terletak di kaki gunung Bawakaraeng ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena keberadaan sistem dan nilai-nilai adat yang ditunjukkan secara konsisten dengan masih kuatnya peran pemangku adat sebagai pranata sosial dan kultural dalam sistem sosialnya. Para pemangku adat yang berjumlah dua belas (sampulo arua) memiliki peran dan fungsi masing-masing dan diwariskan secara turun-temurun. Bagaimana adat berfungsi bagi kehidupan masyarakat desa inilah yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini, terutama dinamika komunitas beradaptasi selama masa pandemi.

1. Letak Geografis dan Mata Pencaharian Masyarakat

Desa Pao adalah suatu desa yang berada di kecamatan Tombolo Pao bagian timur Kabupaten Gowa dengan jarak kurang lebih 105 km dari kota Sungguminasa dan berjarak 2 km dari ibu kota kecamatan serta mempunyai luas wilayah kurang lebih 25,17 km, dengan batas batas

(19)

17

wilayah sebagai berikut1: di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Tamaona, di sebelah timur berbatasan dengan desa Tabbinjai lalu di sebelah baratnya berbatasan dengan desa Erelembang, dan di sebelah selatan berbatasan langsung dengan kabupaten Bone.

Desa pao mempunyai daerah pegunungan dengan ketinggian 600- 1.750 meter dari permukaan laut, karena Desa Pao adalah daratan tinggi maka sangat cocok dengan perkembangan tanaman pangan. Meskipun Desa pao merupakan daratan tinggi, cuaca air hujan tergolong tinggi yang berakibat baik akan tersedianya pasokan air minum dan air irigasi yang sangat memadai sepanjang tahun.

Desa Pao terdiri dari 4 dusun, yaitu: dusun Pao, dusun Lembang, dusun Bangkeng batu dan dusun Pattallassang. Akan tetapi terdapat 2 dusun yang terletak di seberang sungai yaitu dusun Pattallassang dan dusun Bangkeng Batu, untuk menjangkau 2 dusun tersebut sangat sulit, terlebih lagi ketika musim hujan tiba. Kondisi jalan yang buruk dan infrastruktur yang tidak mendukung yang dikarenakan sebahagian besar akses jalan masih jalan tanah, dengan keadaan jalan yang belum baik dapat meresahakan warga karena jalan menjadi licin dan berlumpur.

Penduduk Desa Pao pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sawah dan petani sayur, disamping itu pula mereka berternak. Sebagian kecil warga berdagang hasil tanaman seperti berdagang eceran di pasar dan sebahagian berdagang antar kabupaten dan sampai keluar provinsi.

Selain itu, sebagian masyarakat Desa Pao juga bergelut dibidang pemerintahan.2 Merujuk data desa tahun 2017, jumlah populasi warga desa sebanyak 2.422 jiwa.

Sementara desa Manimbahoi di Parigi secara geografis berada diketinggian 900-1000 mdpl. Dengan batas-batas wialayah di sebelah timur berbatasan langsung dengan kabupaten Sinjai, di sebelah barat bersebelahan dengan desa mMjannang, sementara di utara berbatasan dengan kel. Bontolerung, kec. Tinggimoncong, dan di selatan berbatasan dengan desa Bilanrengi. Desa Manimbahoi terbagi menjadi 5 dusun, yaitu: dusun borong kopi, dusun kalolo, dusun bawakaraeng, dusun pattiro dan dusun balleanging. Merujuk data profil desa jumlah penduduk

1 Dokumen RPJMDES – Desa Pao Tahun 2017-2022, hal. 7. Dokumen diakses pada bulan Juli 2021.

2 Dokumen RPJMDES – Desa Pao Tahun 2017-2022, hal. 10. Dokumen diakses pada bulan Juli 2021.

(20)

18

di tahun 2018 yang terdata sebanyak 3.125 orang dengan perbandingan jumlah laki-laki sebanyak 1.539 dan perempuan sebanyak 1.586 orang.

Jarak desa Manimbahoi dari Ibu Kota Kecamatan Parigi yakni 2 km, dari Ibu kota kabupaten, yakni kota Sungguminasa, 76 km, dan dari Ibu kota propinsi Sulawesi Selatan, yakni kota Makassar, 86 km.

Mata pencaharian utama masyarakat di desa adalah mayoritas petani sawah yang persentasenya sebesar 98% dan selebihnya pegawai dan pedagang. Curah hujan yang cukup tinggi dan air irigasi yang cukup baik membuat musim panen padi bisa dilakukan dua kali dalam setahun dan menghasilkan rata-rata 7 ton/ha dalam setahun. Selain sawah, komoditas kopi juga menjadi sumber pendapatan tambahan. Sementara komoditas cabe dan tomat mulai menjadi tumpuan ekonomi sejak 7 tahun terakhir.

2. Pola Penggunaan Tanah dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Penggunaan tanah di Desa Pao yaitu berdasarkan hak garap karena warga masyarakat mengolah tanah/lahan secara bergilir. Tanah tersebut digilir satu tahun, dua tahun, tiga tahun atau bahkan ada yang puluhan tahun yang diatur secara adat, dimana tanah tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk ditanami padi ataupun sayuran. Desa Pao memiliki kawasan hutan yang sangat luas yang beraneka ragam tanaman yang ada di dalamnya seperti kayu Pinus, kayu Asa, kayu Tumea, rotan dan lain sebagainya. Masyarakat memanfaatkan hasil hutan dengan menyadap pinus dan menjual ke pihak pengusaha, mereka menyadap dua kali seminggu dengan harga yang rendah.

Potensi sumber daya alam yang juga dikembangkan di desa ini yaitu wisata air terjun „Bantimurung Gallang‟ yang saat ini dikelola oleh Bumdes Pao. Wisata air terjun ini lumayan mendapatkan kunjungan wisatawan dari luar daerah, meskipun masih terdapat beberapa kendala seperti akses jalan yang belum beraspal membuat akses ke lokasi wisata menjadi sedikit terkendala apalagi jika memasuki musim hujan, membuat jalan berbatu menjadi licin.

Penggunaan tanah di Manimbahoi relatif sama dengan di desa Pao, yakni berdasarkan hak garap kepada keluarga yang hak penggarapannya digilir berdasarkan kesepakatan dan perjanjian bersama anggota keluarga.

Tetapi di desa manimbahoi sebagian lokasi persawahan masuk dalam wilayah atau kawasan hutan lindung. Karena hal tersebut, hak

(21)

19

kepemilikan atas tanah atau sawah sepenuhnya diketahui saja secara turun-temurun, tidak berlaku sistem kepemilikan berdasarkan penguasaan tanah bersertifikat, karena itu legalitas atas tanah hanya berupa faktur pajak tanah.

Potensi alam yang dimiliki oleh desa ini yaitu danau tanralili yang menjadi objek wisata alam untuk berkemah atau kamping. Wisata danau Tanralili juga dikelola oleh Bumdes Manimbahoi. Wisata danau Tanralili sering dikunjungi oleh pemuda-pemudi yang bertujuan menikmati suasana alam yang tenang dengan kehadiran danau Tanralili sebagai pemikat utamanya. Lokasi wisata ini berada di dusun Bawakaraeng, dan kampung Lengkese sebagai tempat yang menjadi pos pemeriksaan dan pendataan wisatawan yang hendak ke danau Tanralili. Hampir setiap rumah warga di kampung Lengkese berfungsi ganda, sebagai tempat tinggal juga sebagai rumah persinggahan atau transit wisatawan sebelum melakukan perjalanan menuju danau tanralili. Rumah-rumah warga juga menjadi warung makan, tempat parkir dan toko kelontong, kehadiran wisata danau ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga kampung Lengkese, tetapi juga sekaligus rentan ketika terjadi bencana alam seperti longsor pada tahun 2004. Bencana alam itu merenggut puluhan korban jiwa dan memaksa warga untuk direlokasi ke tempat lain.

Warga yang bertahan di kampung Lengkese inilah yang menolak untuk direlokasi ke desa Belapunranga di kecamatan Paralloe.

Gambar 1. Sketsa Desa Manimbahoi Sumber: dokumen pribadi.

(22)

20

B. Proses Adaptasi Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi Pada bagian ini, penulis hendak mengambarkan situasi krisis yang dialami oleh komunitas karena merebaknya wabah virus covid-19 secara global dan menciptakan berbagai krisis disegala aspek. Namun yang paling merasakan dampak langsung dari situasi Pandemi adalah masyarakat kecil baik yang berada di kota dan di desa. Untuk kebutuhan penelitian ini, kami berupaya menelusuri dampak pandemi terhadap masyarakat adat. Caranya adalah dengan mengidentifikasi dampak pandemi terhadap petani kecil yang pendapatannya bergantung kepada tanaman cabe dan tomat, dan kopi. Fokus penelitian ini merekam proses adaptasi yang dilakukan oleh komunitas masyarakat adat di pedesaan, dampak apa saja yang mereka alami dan bagaimana mereka mampu beradaptasi selama proses atau masa pandemi ini berlangsung?

1. Dampak Langsung Pandemi Kepada Basis Produksi Masyarakat Bagaimana kondisi masyarakat yang paling rentan di desa selama masa pandemi? Proses identifikasi masyarakat yang miskin di desa, saya hendak merujuk pada data yang dimiliki oleh desa terutama warga yang menerima bantuan raskin, PKH dan BLT. Namun sebenarnya cukup problematis untuk menentukan warga yang tergolong miskin atau memakai bahasa yang lebih halus disebut prasejahtera. Persoalannya adalah indikator yang digunakan menentukan siapa yang disebut miskin.

Belum lagi kebenaran data yang tidak sesuai dengan fakta, sebagai contoh terdapat data orang miskin padahal faktanya warga tersebut adalah orang kaya. Dulunya orang itu memang miskin tapi seiring perjalanan waktu mengalami apa yang dikenal dalam ilmu sosial dengan istilah mobilitas vertikal atau naik kelas. Sehingga setiap saat pembagian namanya masih terdaftar. Jadi solusi dari pemerintah desa adalah bantuan tetap diberikan sesuai data tapi kemudian dialihkan ke orang lain yang lebih membutuhkan namun berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak disaksikan oleh pemerintah desa.3 Alih-alih menggunakan indikator kemiskinan itu, kami memilih untuk mewawancarai secara mendalam beberapa warga yang dipilih secara acak, dan menampilkan cerita tersebut berdasarkan pengalaman langsung yang mereka alami.

3 Wawancara dengan Drs. Kamaruddin selaku Kepala Desa Manimbahoi pada tanggal 13 September 2021 di kantor Desa.

(23)

21

Hasan4 pernah membuang komoditas hasil panen dari lahan pertaniannya ke sungai, karena tidak memiliki harga dan tidak bisa terdistribusi ke pasar. Para pedagang yang biasa membeli hasil pertaniannya, tidak berangkat ke Makassar karena kebijakan pembatasan sosial pada saat itu. Menurutnya, dari peristiwa itulah istilah „daeng buang‟ mulai populer di kampungnya. Karena „daeng buang‟ konon menerima berapa pun jumlah hasil pertanian, selama petani menginginkan. Begitulah Hasan dan teman-temannya sesama petani saling menghibur ditengah situasi sulit karena ketiadaan hasil atau untung dari produksi komoditas cabe dan tomatnya yang mampu laku dijual di pasar.

Kondisi di atas merupakan cerminan atas situasi krisis yang ditimbulkan oleh masa Pandemi. Petani tetap memproduksi komoditas seperti cabe dan tomat tetapi komoditas yang mereka produksi tidak bisa dijual atau sampai ke konsumen di pasar atau di kota karena pemberlakuan aturan pembatasan aktifitas masyarakat untuk tidak berkumpul dan berinteraksi secara langsung di tempat-tempat umum seperti pasar. Alhasil, hasil panen petani seperti Hasan tidak mampu diangkut oleh pengepul yang biasa membeli komoditas hasil pertaniannya. Macetnya arus distribusi komoditas hasil pertanian dari produsen di desa menimbulkan kerugian yang sangat terasa bagi petani kecil seperti Hasan dan tentu saja semua petani kecil yang bergantung pada jalur distribusi hasil pertanian komoditas yang diantarai oleh pedagang atau pengepul. Karena hal itu masyarakat kecil seperti Hasan hanya bisa pasrah dan merelakan hasil panen cabe dan tomatnya menumpuk dan lalu berakhir di sungai atau di buang ke sungai, yang diplesetkan dengan istilah „deng buang‟ sebagai pelipur lara belaka.

Meskipun dalam pemenuhan makan setiap hari bagi masyarakat Pattiro ketika hasil pertanian holtikulturanya tidak memiliki pasar, Hasan dan keluarganya masih bisa memenuhinya, karena masih memiliki beberapa petak sawah yang menurutnya masih cukup untuk menutupi kebutuhan makan setiap hari seluuruh keluarganya sampai panen berikutnya. Bahkan terkadang jika butuh uang tunai mereka, menjual sesekali beras untuk mendapatkan uang untuk membiayai kebutuhan-

4 Wawancara dengan Hasan (46 tahun) pada tanggal 12 September 2021, di rumahnya di dusun Pattiro, Desa Manimbahoi.

(24)

22

kebutuhan lainnya. Selain sawah sebagai sarana penghidupan utama masyarakat adat di Pattiro, Hasan juga masih memiliki kebun kopi yang biasanya dipanen setiap tahun dan dianggap sedikit membantu kebutuhan finansial rumah tangganya.

Selang beberapa bulan masa pandemi dan kebijakan pembatasan sosial, masyarakat adat di Pattiro mendengar bahwa komoditas cabe dan tomat sudah dibeli di Makassar, informasi itu didapatkan dari tetangga kampungnya dan pedagang itu sendiri. Kemudian pak Hasan dan beberapa petani lainya, memulai kembali untuk menanam cabe dan tomat karena mereka menganggap sudah berpeluang untuk dijual lagi. Pak Hasan dan beberapa temannya selalu siap untuk mengambil resiko untuk memulai kembali menanam jenis tanaman tersebut, karena kopi hanya dipanen satu kali dalam setahun, begitu pun dengan padi. Mereka menganggap jika beras secara terus menerus dijual untuk menutupi kebutuhan setiap hari itu tidak akan cukup. Mereka secara terpaksa menggadaikan sawah, menjual ternak, dan pak Hasan sendiri mengambil uang KUR di BRI sebagai modal, untuk bertani holikultural kembali, dan sedikit disisipkan untuk keperluan finansial rumah tangganya, seperti sekolah dua orang anaknya dan kebutuhan-kebutuhan reproduksi lainnya.

Meskipun hasil tani mereka sudah memiliki pasar di Makassar, tetapi tidak memiliki harga yang pasti. Para petani di Pattiro mengetahui harga cabe dan tomat, setelah pedagang membawa komoditi petani ke pasar di kota Makassar. Menurut Hasan, pedagang itu tidak mau membeli barang yang belum pasti harganya, kepastian harga setelah komoditi sampai ke pasar dan terjadi transaksi dengan pembeli besar atau eceran. Dengan itu, para pedagang di Pattiro hanya menghitung jumlah barang dari petani, nanti setelah terjual baru memberi tahu harga barang tersebut dan membayarnya. Masyarakat adat di Pattiro menganggap dari pada tidak memiliki harga sama sekali, lebih bagus seperti ini, karena Hasan menganggap bahwa metode perdagangan seperti itu, terpaksa menjadi pilihan terakhir disituasi krisis.

Harga kebutuhan input produksi pertanian selama masa pandemi semakin naik, harga bibit cabe dalam satu kantong mencapai Rp.200.000, padahal sebelum pademi Rp.185.000/kantong. Begitu pun dengan harga pupuk dasar naik menjadi Rp.145.000/zak, yang sebelumnya seharga Rp.130.000/zak, dan pupuk lanjutan (Mutiara), pupuk yang biasa

(25)

23

digunakan setelah tanaman dipindahkan dari lokasi pembibitan ke ladang, juga ikut naik dengan harga Rp.500.000/zak, yang biasanya Rp.380.000/zak.5

Seperti yang dialami oleh Hasan dalam satu kali tanam cabe, biasanya menghabiskan bibit dua kantong, dengan pupuk sebanyak 10 zak, dan biaya sewa traktor Rp.400.000 untuk membuat ladang, gaji orang yang biasa dipanggilnya untuk menanam Rp.80.000/hari sebanyak lima orang, itu berlangsung selama tiga hari penanaman, begitu pun dengan panen. Hasan kemudian menghitung dan memperkirakan bahwa ongkos produksi cabe yang dikeluarkan mulai dari pembibitan sampai panen sekitar Rp. 7.000.000 belum termasuk tenaga sendiri dan istrinya yang merawat setiap hari.

Jika tanaman cukup subur, hasil panen dengan bibit dua kantong tadi kadang mencapai dua ton atau lebih dengan harga Rp.3.000/kg.

Menurutnya sebagai seorang petani holikultural dimasa krisis seperti ini, bertani itu seperti orang bermain judi karena tidak ada kepastian. Bertani dengan model seperti ini, membutuhkan biaya yang banyak, dengan ketidakpastian harga karena jalur distribusi ke pasar terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali, kondisi terburuk adalah membuang hasil panen yang tidak bisa terjual-seperti cerita „daeng buang‟ di atas, menjadi istilah harian bagi masyarakat Adat di Pattiro Desa Manimbahoi yang dimana semua orang tidak menginginkannya.

Melihat situasi penghidupan masyarakat adat di pedalaman dataran tinggi Kabupaten Gowa, memiliki dinamika dan masalah yang cukup kompleks, ditambah kehadiran pandemi covid-19 semakin memperburuk keadaan hidup mereka. Introduksi pasar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari buruknya keadaan tersebut. Struktur sosial yang dibangun oleh pasar telah gagal dalam menghadapi situasi krisis karena pandemi. Namun perkembangan relasi sosial ala pasar yang terbangun di pedalaman belum sampai kepada tahap maksimal, terdapat beberapa nilai yag masih digunakan masyarakat adat Teko sebagai salah satu varian yang membuat mereka masih bertahan hidup meskipun disituasi krisis seperti ini.

5 Wawancara dengan Muh. Saleh (45 tahun) pada tanggal 13 September 2021, di rumahnya di dusun Borong Kopi, Desa Manimbahoi.

(26)

24

Pengalaman serupa juga dialami oleh anggota komunitas adat Pattalassang yang mata pencaharian utamanya sebagai petani. Hendra6 adalah masyarakat adat di dataran tinggi Kabupaten Gowa yang merupakan salah satu orang dari banyaknya masyarakat adat terdampak pandemi Covid-19 dan klaim sepihak oleh rezim kehutanan dan korporasi perkebunan teh (Malino Highland). Sebelum kehadiran pandemi, Hendra memiliki kampung halaman yang diklaim oleh PT Nitto, sekarang menjadi Malino Highland, dan bekas kampung halamannya di La‟borolompoa yang merupakan tempat tinggal keduanya setelah terusir oleh PT Nitto, kini dikalim masuk dalam kawasan hutan oleh negara.

Menurutnya, klaim sepihak tersebut terjadi sejak pihak PT Nitto mendatanginya kala itu, dan pak Hendra masih mengingat dengan jelas nama-nama orang tersebut yakni Pak Nyikko, Pak Oppi, H. Hami‟.

Kemudian ketiga orang tersebut sebagai perwakilan dari PT Nitto mengatakan kepada seluruh masyarakat bahwa tanahnya hanya dipinjam pakai untuk pembibitan teh, dan masyarakat dijanjikan untuk mendapatkan bayaran dari pembibitan tersebut, jika mereka memberikannya. Hendra dan masyarakat lainnya akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Hal demikian membuat dia dan masyarakat terusir dari tanahnya. Beberapa masyarakat direlokasi ke kampung La‟borolompoa, di mana sisanya warga lainnya tidak diketahui kemana mereka pergi.

La‟borolompoa adalah tempat baru Hendra dan keluarga lainnya, dan tinggal beberapa puluh tahun sebelum pihak kehutanan menetapkan tempat sebagai kawasan hutan.

Sebelum pandemi covid-19 pak Hendra melakukan aktivitas sehari- hari bertani, dan terlibat selama empat tahun dalam perjuangan masyarakat adat dan gerakan sipil lainnya, untuk mendapatkan kembali hak atas tanahnya yang diklaim oleh dua korporasi tersebut. Namun sampai saat ini, masalah yang dirasakannya tak kunjung usai, dan masalah baru datang dengan hadirnya merebaknya pandemi covid-19 yang cukup berdampak atas kehidupan Hendra dan keluarganya.

Pada fase awal kemunculan covid-19 di Indonesia dengan pembatasan sosial sebagai kebijakan negara untuk memutus mata rantai virus tersebut, berdampak serius bagi penghidupan Hendra sebagai

6 Wawancara dengan Hendra (49 tahun) pada tanggal 21 Agustus 2021, di Arangangia, Pattalassang, Desa Pao.

(27)

25

masyarakat adat yang berada di pedalaman Kabupaten Gowa. Komoditi yang ia tanam seperti; kol, sawi, dan daun bawang, tidak dipanen dan dibiarkan tinggal membusuk di ladangnya. Para pedagang tidak membeli hasil panennya, karena tidak memiliki tujuan untuk dijual di pasar di Makassar sebagai tempat penjualan utama para pedagang di kampungnya.

Itulah alasan mengapa tidak memanen hasil taninya karena persoalan demikian.

Biaya produksi yang tinggi untuk bertani holtikultura, mengharuskan Hendra untuk tidak menanam lagi, meskipun dia mendengar cerita-cerita sesamanya petani, bahwa panen berikutnya akan terbuka pasar kembali dan pedagang akan membeli sayuran yang ditanamnya, tapi bagi Hendra, dia tidak akan menanam lagi sayuran dalam waktu dekat, karena tidak memiliki kendala di modal.

Belum selesai persoalan gagal jual hasil panennya, selang beberapa bulan pandemi, istr Hendra, jatuh sakit, dengan diagnosa penyakit kangker payudara. Akses yang cukup jauh ke Makassar untuk mendapat pelayanan kesehatan yang layak dengan diagnosa penyakit kangker payudara, yang merupakan penyakit cukup banyak memakan korban bagi masyarakat adat di pedalaman, dan belum menuai jalan keluar. Selain biaya operasi tinggi dan itu sesuatu yang sulit diakses bagi masyarakat adat di pegunungan, belum lagi, biaya perjalanan yang cukup berat bagi Hendra untuk membawa istrinya ke kota untuk berobat. Karena situasi dan kondisi istri Hendra yang sedang sakit dengan banyaknya hambatan, mereka hanya mampu melakukan pengobatan tradisional di kampungya.

Bulan Juni 2020, dengan berbagai macam jalur pengobatan tradisional ditempuhnya. Pada akhirnya dengan biaya pinjaman dan bantuan dari beberapa keluarga, dengan melihat kondisi istrinya yang semakin parah, kemudian dibawah ke kota untuk berobat, namun tidak dioperasi karena memikirkan biaya obat seharga sepuluh juta rupiah, ditambah biaya operasi banyak, keluarganya hanya memilih untuk membelikannya obat. Setelah tiga hari berada di kota Makassar untuk berobat di rumah keluarganya, diluar harapan istri Hendra, menghadap ke yang kuasa-meninggal dunia setelah berjuang dari derita penyakit.

Hendra memiliki tiga orang anak, dua diantaranya sudah berkeluarga, sisanya sedang tinggal bersama nenek setelah ibunya meninggal dunia.

Hendra tinggal dirumahnya sendiri, karena kesendiriannya, akhirnya dia

(28)

26

menyimpulkan untuk pindah ke kampung Pangajiang di Desa Parigi, di rumah kerabat dekatnya, untuk menghibur diri karena masih dalam keadaan berduka, itu terjadi di awal bulan Januari 2021.

Selama delapan bulan menetap di Pangajiang, Hendra mulai melakukan aktifitas utamanya lagi yakni bertani. Saat ini dia menanam porang karena menurutnya porang tidak memiliki biaya produksi yang tinggi. Selain menanam porang, Hendra kadang pergi membantu saudaranya untuk membuat peti sayuran dengan upah Rp.7.500/peti, menurutnya hal itu dilakukan untuk menambal kebutuhan sehari-harinya.

Selain pak Hendra bekerja sehari sebagai petani dan buruh dipembuatan peti sayuran milik saudaranya, dia tetap menyempatkan waktunya untuk terlibat dalam organisasi masyarakat adat dan gerakan sosial lainnya di dataran tinggi Kabupaten Gowa.

Pengalaman hidup yang dialami seperti kisah di atas menunjukkan betapa dalamnya krisis yang ditimbulkan oleh Pandemi terutama mereka yang tergolong sebagai masyarakat adat, dimana mereka sangat menggantungkan hidupnya pada produksi pertanian. kerentanan secara ekonomi dan sosial bisa terjadi karena petani kecil seperti Hasan dan Hendra hanya bertumpu pada penguasaan tanah yang kecil dan terbatas.

Ditambah oleh tidak berdayanya mereka atas harga komoditas yang mereka tanam, semuanya ditentukan oleh transaksi di pasar. Jika petani kecil seperti mereka tidak bisa mendapatkan untung dari surplus produksi komoditas yang mereka kelola, maka mereka secara otomatis kehilangan pendapatan utama. Dampak lainnya yang kemudian mereka rasakan adalah tidak punya modal lagi untuk memulai produksi komoditas kembali, ketidakpastian penjualan hasil pertanian adalah satu persoalan mendasar dari situasi yang diciptakan oleh Pandemi, ketidakmampuan untuk menghadirkan modal untuk produksi merupakan efek lanjutan dari situasi krisis tersebut.

(29)

27

Gambar2. Wawancara dengan Informan di dusun Balleanging Sumber: Dokumen Pribadi.

Pengalaman berbeda dialami oleh Saparuddin sebagai anggota komunitas adat di Teko desa Manimbahoi.7 Dia terpaksa mengerjakan sawah milik tetangganya karena sawah yang dimiliki tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan reproduksi dan seremoni keluarganya. Selain mengerjakan sawah orang lain dengan sistem bagi hasil, dia juga menyewa lahan kebun untuk ditanami komoditas tomat. Biaya sewa lahan sebesar Rp. 700.000/tahun, ditambah biaya input produksi, bibit, pupuk dan pestisida sebesar Rp. 1.500.000/sekali musim tanam. Dengan biaya modal produksi itu, Saparuddin mampu menghasilkan keuntungan yang jadi pendapatan utamanya sebesar Rp. 10.000.000, dengan harga tertinggi sebesar Rp. 100.000/kantong. Akan tetapi selama pandemi berlangsung, pembatasan aktifitas di pasar dan proses distribusi komoditas sayuran menjadi sangat terganggu, membuat Saparuddin berhitung ulang dan tanpa berpikir panjang menjual tomatnya dengan harga murah, sekedar

7 Wawancara dengan Saparuddin Calle (51 tahun) pada tanggal 18 September 2021, di dusun Baleanging, Desa Manimbahoi.

(30)

28

untuk menutupi modal produksi saja itupun, masih terhitung rugi. Pada masa pembatasan sosial sebagai kebijakan menurunkan penyebaran virus korona, harga komoditas seperti tomat menyentuh harga terendah, hanya dihargai Rp. 5.000/kantong. Dengan jatuhnya harga komoditas itu

“jangankan untung, modal saja tidak kembali” kata Saparuddin.

Kerugian produksi yang dialami petani kecil seperti Saparuddin tentu saja juga berlaku bagi petani-petani produsen komoditas kecil lainnya.

Hilangnya sumber pendapatan utama selama masa Pandemi setidaknya bisa ditutupi dengan menjual beras, yang itu hanya bisa digunakan untuk menutupi kebutuhan sekunder, seperti biaya sekolah, listrik dan lainnya.

Efek lain yang ditimbulkan oleh macetnya perdagangan komoditas pertanian ini yaitu ketiadaan biaya untuk melakukan produksi lagi, untuk membeli input-input produksi pertanian utama. Karena itu, agar bisa punya modal produksi lagi, solusinya adalah dengan meminjam kredit di BRI atau dikenal dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program pemberian utang lunak berbunga rendah ini diangsur setiap 6 bulan selama 3 tahun. Saparuddin telah membayar ansuran sekali sebesar 6 juta rupiah. Menurutnya KUR ini sangat membantu untuk memulai kembali usaha pertanian holti yang terpuruk karena situasi Pandemi yang memukul petani berlahan kecil seperti dia. Di desa selain KUR itu, pilihan untuk meminjam hanya kepada pengepul atau rentenir saja. Pilihan yang disebut terakhir tentu saja sangat dihindari karena beban bunga yang sangat tinggi, yakni 10% perbulannya.

Dampak langsung pandemi bagi komunitas masyarakat adat di pedesaan yang pekerjaan utamanya sebagai petani, atau petani berlahan kecil di pedesaan sangat besar, utamanya diaspek ekonomi. Kurang bahkan hilangnya sumber pendapatan utama keluarga petani menyebabkan mereka menjadi kelompok yang rentan menjadi miskin.

Namun, krisis tersebut tidak menjadi fakta umum, terutama di pedesaan karena menurut hemat kami disebabkan oleh masih berlakunya suatu pranata sosial di kampung yang bisa dilihat dalam bidang pertanian sawah, dimana hal itu juga cukup membantu petani penggarap seperti Saparuddin untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Pranata sosio- kultural tersebut tergambar dalam sistem bagi hasil atau disebut tesang dalam bahasa lokal merupakan sistem sosial lokal yang cukup membantu petani berlahan kecil agar bisa meningkatkan atau menghasilkan surplus

(31)

29

hasil pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pangan utama. Untuk penjelasan lebih jauh lagi akan dibahas bentuk-bentuk praktik sosial berbasis kearifan lokal yang berlaku pada komunitas masyarakat adat, dimana kami berpendapat bahwa tradisi yang masih berlaku sebagai sistem sosial tersebut berakar pada prinsip atau tata nilai yang mengkondisikan relasi sosial di masyarakat.

C. Praktik Sosial Berbasis Kearifan Lokal Pada Komunitas Masyarakat Adat di Masa Pandemi

Bentuk dari praktik sosial yang hendak dijelaskan pada bagian ini adalah melihat eksisnya beragam nilai-nilai adat sebagai dasar dari tradisi yang berlaku secara sosial di masyarakat. Tradisi yang dimaksud bisa terus eksis dan berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi, dimungkinkan karena berperannya institusi adat yang terwujud dalam struktur adat dua belas (ada 12 pemangku adat). Struktur adat ini berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal atau bentuk pengetahuan lokal tentang pentingnya menjaga solidaritas sosial antar anggota masyarakat, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dari suatu persoalan, cara memperlakukan alam, dan ajaran-ajaran luhur lainnya. Selain itu, kami juga memotret dinamika suatu gerakan sosial yang berbasis kearifan lokal yang inovatif dan cukup berhasil merevitalisasi nilai kultur dan natur mereka menjadi lebih menarik secara gagasan dan tindakan.

1. Ragam Nilai dan Tradisi Pembentuk Praktik Sosial

Di atas rumah panggung peninggalan orang tuanya, di dusun Baleanging, Hado menceritakan tentang asal usul masyarakat teko yang ada di Manimbahoi, Kec. Parigi.8 Menurut Hado, nenek moyang mereka sebenarnya berasal dari kampung yang sekarang dikenal dengan Sinjai Barat. Di sana juga nama kampungnya Teko Toa. Nenek-nenek kami dulu bermigrasi mencari lahan baru untuk pemukiman. Kalau menurut sejarah tutur yang diceritakan, Sombaya ri Gowa atau Raja Gowa yang memberikan kawasan yang sekarang ini kami huni, “kalau nama desa Manimbahoi di sini diambil dari nama kampung yang ada di Sinjai,

8 Wawancara dengan Ahmad Hado (50 tahun) pada tanggal 5 September 2021 di rumah pribadinya di dusung Baleangging.

(32)

30

tempat nenek-nenek kami berasal” kata Hado. Sebagai bukti fisik, kuburan nenek moyang masih ada dan terawat dengan baik karena rutin melakukan tradisi yang dalam bahasa lokal disebut a‟battasa‟ jera‟ yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun sekali. Terakhir masyarakat adat sampulo arua ri Teko melakukan tradisi itu pada tahun lalu di tanggal 10 September 2020. Tradisi ini dilakukan melalui serangkaian prosesi atau ritual adat, seperti: bersih-bersih kampung, termasuk kuburan-kuburan tua. Pemangku adat yang berjumlah 12 orang kemudian memimpin jalannya prosesi menuju ke lokasi kuburan tetua kampung di dusun Borongkopi. Setelah prosesi itu, semua orang yang mengikuti acara (termasuk warga dari luar) untuk makan-makan di rumah adat atau di semua rumah yang ada di kampung. Karena semua rumah menyiapkan makanan untuk tamu sebagai bentuk tradisi yang terus dijalankan.

Selain tradisi atau ritual adat yang diceritakan di atas, ada beberapa tradisi lagi yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Pelaksanaan tradisi ini bisa terus berlangsung salah satunya karena peran penting para pemangku adat sebagai institusi adat. Masyarakat adat sampulo arua riteko ini memiliki 12 pemangku adat yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing, yaitu:

Gelar Pemangku Adat Nama Pemangku Adat

Peran dan Fungsi

Galla Toa Kamaruddin Melaksanakan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam lingkungan komunitas adat serta memecahkan masalah atau persoalan adat

Galla tangnga Muh. Saleh sda

Galla lolo Ahmad Tari sda

Tau Toa Tatte Menampung dan

memutuskan suatu perkara yang tidak bisa diselesaikan dan membacakan ikrar

(33)

31

Tabel.1. Pemangku Adat Teko

Sumber: Ahmad Hado (dokumen masyarakat adat ri teko) Untuk gelar pemangku adat Galla Toa, Galla Tangga, dan Galla Lolo, memiliki kedudukan yang relatif sama, begitupun peran dan fungsi dalam pelantikan

pemangku adat

(pergantian)

Anak gallarrang toa T. dg.Ngunjung Mengatur dan memutuskan suatu perkara adat

Anak gallarrang lolo C. dg. Nyallang sda

Sanroa Baeda Melaksanakan ritual

dalam bentuk syukuran apabila selesai panen atau menyambut datangnya musim kemarau dan hujan, termasuk juga bidang kesehatan

Anrong pa’rasangang Ridwan Membidangi lingkungan

Tubarania Japa‟ Menjaga kestabilan dan keamanan

Pinatia Sarro Mengatur waktu

bercocok tanam padi sesuai waktu yang baik dan tata kelola irigasi sawah

Suroa Nasi‟ Mengurusi dan

membina masyarakat dalam acara perkawinan (penentuan mahar dan sunrang)

Gurua (Imam) Baharuddin Berfungsi sebagai Penghulu

Gambar

Gambar 1. Sketsa Desa Manimbahoi  Sumber: dokumen pribadi.
Gambar 3. Koleksi tanaman herbal di arangangia  Sumber: Dok. AMAN Gowa
Gambar 4. Foto Arangangia sebagai posko Gugus Tugas Covid-10  Aman Gowa
Gambar 5. Wawancara dengan Pemuda AMAN Gowa  Sumber: Dokumen Pribadi.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sikap terhadap kesehatan (healt attitude) pendapat atau penilaian orang terhadap hal-hal yang berakaitan dengan pemeliharaan kesehatan yaitu sikap terhadap

Puji syukur penjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, anugerah dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan sehingga dapat menyusun skripsi yang berjudul “Pengaruh

[r]

Apalagi jika salah satu karyawan tersebut tidak masuk kerja (izin ataupun sakit), maka akan dapat menghambat pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing

sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia baik secara individu maupun secara kelompok dan akibat dari hubungan

Media pendidikan audio adalah media yang hanya dapat didengar, berupa suara dengan berbagai alat penyampai suara yang bersumber dari mana saja. Hasil bunyi dan

dianjurkan untuk merencana alat ukur Parshall aliran nonmoduler karena diperlukan banyak waktu untuk menangani dua tinggi energi/head, dan pengukuran menjadi tidak teliti... ALAT

Artinya: Dari Ibnu Abbbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda Ka‟bah adalah kiblat bagi orang yang berada di dalam Masjid (al-Haram), dan Masjid (al-Haram)adalah kiblat bagi