• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Perjumpaan dan aktivitas orangutan sumatera

Pengamatan awal terhadap orangutan umumnya menemui hambatan yang disebabkan faktor topografi yang bergelombang berat dan ringan yaitu antara 16-60% dengan dominasi kelerengan >50% (OCSP 2008). Selain itu karena orangutan adalah satwa soliter yang cenderung hidup sendiri dan memiliki pergerakan lambat (sloth) dalam rimbunan pohon-pohon di hutan, sehingga menyebabkan orangutan menjadi sulit untuk ditemukan.

Selama penelitian orangutan berhasil dijumpai sebanyak 28 kali dengan 16 individu yang berbeda, tetapi dari 28 kali perjumpaan tidak semua berhasil dilanjutkan dengan pengamatan. Orangutan yang berhasil diamati aktivitas makannya hanya 5 individu jantan dan 2 individu betina. Hal ini dikarenakan beberapa orangutan yang dijumpai saat pencarian lokasinya keluar dari area penelitian, topografi curam sehingga tidak dapat dijangkau peneliti, dan kondisi cuaca yang buruk.

Berdasarkan hasil survei Tim SOCP Batang Toru, perjumpaan orangutan pada saat penelitian ini termasuk banyak dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 sampai 2009, orangutan hanya dijumpai ±20 individu dalam waktu 2 tahun. Sedangkan pada saat penelitian orangutan dijumpai 28 kali dari 16 individu dalam waktu 3 bulan. Kemungkinan kondisi ini disebabkan habitat orangutan yang semakin menyempit, sehingga menyebabkan ruang gerak orangutan menjadi semakin terbatas. Menurut Fredriksson dan Indra (2007) penyempitan habitat ini disebabkan karena adanya penebangan, baik secara legal yang dilakukan oleh HPH dan penebangan liar serta perambahan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan. Perizinan penebangan oleh HPH ini disebabkan karena status hutan Batang Toru adalah hutan produksi yang mana pada saat ini masih dalam proses pengajuan kepada Kementrian Kehutanan untuk dijadikan sebagai Hutan Lindung. Perjumpaan orangutan sumatera dapat dilihat pada Gambar 4.

Gamba Nilai perjumpaan pa dari 10 betina dan 4 janta dengan 5 jantan dan 5 be yakni 4 kali yang terdiri da kelaminnya. Data meny hingga Agustus mengalam

Intensitas perjumpa pakan di habitatnya. Pada semakin rendah karena o Begitu sebaliknya, jika semakin tinggi, karen mencari/menemukan sum Ketambe, musim buah semakin meningkat, sehi dengan meningkatnya m Agustus yang mengalami dari bulan Juni sampai de Selain itu, penyebab pe perjumpaan dengan ma orangutan yang tidak te (1992) bahwa orangutan 1 0 2 4 6 8 10 12 14 16 J P e r jum p a a n o r a n g u ta n ( In d iv idu )

bar 4 Grafik perjumpaan orangutan sumatera. n paling tinggi adalah bulan Juni, yakni 14 kali y

ntan. Pada bulan Juli perjumpaan orangutan ada 5 betina. Perjumpaan paling rendah adalah bula ri dari 2 jantan, 1 betina dan 1 lagi tidak teridenti nyatakan bahwa perjumpaan orangutan dari lami penurunan.

paan orangutan dipengaruhi oleh musim buah ada saat musim buah tinggi, peluang perjumpaan

orangutan tidak banyak bergerak untuk mencar ka musim buah rendah maka perjumpaan oran

ena orangutan akan lebih banyak berge umber pakannya. Hasil penelitian Wich et al. h dimulai bulan Mei sampai dengan Septem sehingga perjumpaan ini dinyatakan berbandi musim buah. Perjumpaan orangutan dari bul

mi penurunan ini diduga karena meningkatnya m i dengan Agustus, seperti pada hasil fenologi t

penurunan perjumpaan ini diduga karena manusia dan penaksiran peneliti terhadap k tepat. Pendugaan ini didasarkan atas penelit

an sensitif atau takut dengan kehadiran manusia

4 5

2 10

5

2

Juni Juli Agustus

2011 . li yang terdiri dalah 10 kali bulan Agustus, ntifikasi jenis i bulan Juni h suatu jenis an orangutan cari makanan. angutan akan gerak untuk al. (2006) di ptember yang nding positif bulan Juni ke a musim buah i tahun 2011. na seringnya p pergerakan litian Sinaga nusia. Selain itu

Betina Jantan

29

Meijaard et al. (2006) menyatakan bahwa dalam pengamatan satwaliar peluang perjumpaan satwa adalah <1.

Perjumpaan orangutan pertama kali adalah orangutan betina dewasa (Gambar 5) dengan anak (Gambar 6). Menurut Tim Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) di Batang Toru, orangutan betina adalah Indah (Ibu) dan Iben (Anak). Orangutan ini sudah terhabituasi sehingga pada saat berjumpa dengan manusia tidak menunjukkan perilaku takut seperti halnya satwa atau primata lain. Berbeda dengan orangutan jantan, pada umumnya perilaku orangutan jantan di Batang Toru ketika berjumpa dengan manusia akan selalu menghindar. Pada saat pengamatan pergerakan orangutan ini sangat cepat dibandingkan dengan betina. orangutan jantan berusaha menghindar dari pengamat dengan mengeluarkan kissquek berkali-kali dan seruan panjang yang

disebut dengan “longcall”. Seruan ini hanya dapat dikeluarkan orangutan jantan,

karena orangutan jantan dewasa mempunyai kantung suara (air sack) yang terdapat pada lehernya. Selain itu kantung ini juga berfungsi untuk mengambil serta mengumpulkan beberapa liter udara (MacKinnon 1972). Perilaku menghindar lainnya ditunjukkan dengan mematahkan ranting atau cabang pohon dan berusaha untuk melempar kepada pengamat. Semua orangutan jantan yang diamati belum terhabituasi sehingga sulit dalam melakukan identifikasi.

Selama penelitian orangutan yang berhasil diidentifikasi hanya 3 individu. Identifikasi tersebut dilakukan dengan mengetahui jenis kelamin, kelas umur, dan ciri spesifik yang terlihat pada anggota tubuh. Berikut ini adalah penjelasan dari orangutan yang berhasil diidentifikasi.

1. Orangutan betina dewasa (Indah)

Indah adalah nama orangutan yang berjenis kelamin betina dewasa dengan umur ± 30-40 tahun. Tanda untuk mengenali orangutan ini ialah jari tengah di tangan kiri terlihat lebih pendek dari jari lainnya. Hal ini diperkirakan jari tersebut pernah mengalami patah. Selain itu urat di keningnya terlihat sangat jelas / menonjol dan warna kulit terlihat lebih gelap. Orangutan ini sudah terhabituasi sehingga mudah untuk diamati. Indah terlihat lebih santai ketika berjumpa dengan manusia. Orangutan ini mempunyai anak yang selalu digendong dan bersikap protektif terhadap anaknya (Iben).

cepat dan kondisi vegetas 2007). Selain itu orangut area stasiun penelitian ata dijangkau peneliti.

Lama waktu aktif aktivitas hariannya, mula aktivitas terakhir yang di membuat sarang. Waktu 06.22 WIB sampai denga antara pukul 15.38 WIB biasanya orangutan mela Keaktifan pagi hari ditanda umumnya kegiatan terse penelitian. Hasil penelit bangun pada pagi hari di sedangkan mengakhiri akt dengan jam 18.24 WIB. kalimantan bangun lebih Tapanuli Tengah. Hal in Sumatera Utara.

Aktivitas utama or berpindah, istirahat dan orangutan dapat dilihat pa

Gambar 9 P 0 Makan Berpindah Istirahat Lainnya

tasi yang rapat di stasiun penelitian (Fredriksson utan tidak dapat diamati karena pergerakannya n atau masuk ke area jurang yang tidak memungki

ktif merupakan periode aktif orangutan dalam ulai dari bangun pagi dan keluar dari sarang sam

dilakukan pada sore hari yang ditandai dengan ktu aktif orangutan di Batang Toru dimulai ant

gan 08.30 WIB dan mengakhiri aktivitasnya pada B sampai dengan 18.34 WIB. Sebelum memula

lakukan urinasi dan defikasi terlebih dahulu di l andai dengan berjalan, makan, dan sedikit beristi sebut merupakan aktivitas rutin sehari-hari sel litian Krisdijantoro (2007) bahwa orangutan dimulai antara pukul 05.35 sampai dengan jam

aktivitasnya pada sore hari antara pukul 17.44 W B. Hasil perbandingan ini menunjukkan bahwa bih cepat daripada orangutan sumatera di Ba ini dipengaruhi oleh perbedaan cuaca di Kalim

orangutan sumatera pada saat penelitian adal dan aktivitas lainnya. Hasil perbandingan aktivi

pada Gambar 9.

Perbandingan aktivitas harian orangutan sumat

39,31 31,23 27,58 1,87 0 10 20 30 40 Persentase

son dan Indra ya keluar dari kinkan untuk melakukan ampai dengan gan selesainya antara pukul pada sore hari ulai keaktifan di luar sarang. istirahat. Pada selama waktu n kalimantan m 06.41 WIB 17.44 WIB sampai hwa orangutan Batang Toru, limantan dan dalah makan, ktivitas harian atera. 50

33

Hasil penelitian menyatakan aktivitas paling tinggi adalah makan yakni 39,31%, selanjutnya berpindah 31,23%, istirahat 27,58%, dan aktivitas lainnya 1,87%. Frekuensi aktivitas makan paling tinggi terjadi pada siang hari antara pukul 10.00-14.58 WIB yaitu sebesar 42,32% dari total aktivitas makan, selanjutnya pada pagi hari antara pukul 07.00-10.58 WIB sebesar 31,38% dan aktivitas makan rendah pada sore hari antara pukul 15.00-18.58 WIB sebesar 26,29 %.

Hasil ini berbeda dengan penelitian aktivitas makan orangutan di Ulu Segama, Ranun (MacKinnon 1972), Ketambe (Rijksen 1978) dan Mentoko (Rodman 1988), bahwa orangutan banyak melakukan aktivitas makan di pagi dan sore hari, sebaiknya di siang hari aktivitasnya lebih didominasi oleh aktivitas istirahat. Fredriksson (1995) dalam Kuncoro (2004) memperkirakan perbedaan pola aktivitas makan tersebut dikarenakan terdapat perbedaan umur pada populasi orangutan yang diamati. Selanjutnya adalah aktivitas berpindah 31,23%, istirahat 27,58% dan aktivitas lainnya 1,87%. Hasil ini dapat dibandingkan dengan penelitian aktivitas orangutan di beberapa tempat seperti di Tanjung Puting, Kutai, dan Ulu Segama seperti yang terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Perbandingan aktivitas harian orangutan di beberapa lokasi berbeda

Daerah Pergerakan (%) Istirahat (%) Makan (%)

Kutai, kalimantan Timur (Rodman dan Mitani 1988)

11 39 46

Ulu Segama, sabah (MacKinnon 1972) 16,50 51,70 31 Tanjung puting, Kalimantan Tengah

(Galdikas 1978)

17,74 18,26 62,14

Terdapat perbedaan aktivitas harian antara orangutan di Batang Toru dengan orangutan di tiga lokasi pada Tabel 4. Ketiga lokasi pada Tabel 4 menunjukkan bahwa aktivitas istirahat lebih tinggi daripada aktivitas bergerak. Sedangkan orangutan di Batang Toru, aktivitas bergerak lebih tinggi daripada aktivitas istirahat. Perbedaan aktivitas harian ini diasumsikan terjadi karena pengaruh kondisi habitat. Studi orangutan sumatera di Batang Toru dilakukan pada habitat hutan dataran rendah dan perbukitan. Sedangkan di Tanjung Puting dilakukan pada habitat hutan dataran rendah yang bercampur dengan hutan rawa-rawa air tawar dan gambut (Galdikas 1978dalamFredriksson 1995dalamPeters 1995).

Hasil analisis sela aktivitas hariannya. Hasi dan orangutan betina dap

Gambar 10 Grafik perba

Jenis aktivitas tert waktu makan sebanyak 44,92 aktivitas harian lainnya. dan orangutan betina 2 28,21% dan orangutan be defikasi, dan sosialisasi), betina sebanyak 2,62%. jantan lebih banyak me besar. Berdasarkan data pengaruhnya dengan jeni betina, diduga karena pa kalori yang tinggi. Kondi makanan lain yang banya orangutan betina hanya melakukan aktivitas berpi banyak memakan buah kali. Buah ini berada pad proksimat buah ini me Selanjutnya aktivitas berg

32,53 44,92 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Makan

elanjutnya mengenai pengaruh jenis kelamin asil perbandingan aktivitas harian antara orang dapat dilihat pada Gambar 10.

rbandingan aktivitas harian orangutan jantan dan or betina.

ertinggi adalah makan, orangutan betina me 44,92% dan orangutan jantan sebanyak 32,53% a. Aktivitas bergerak orangutan jantan sebany 25,39%. Aktivitas istirahat orangutan jantan n betina 27,06%. Aktivitas lainnya (membuat sara

i), untuk orangutan jantan sebanyak 0,96% dan . Jika dilihat dari ukuran tubuh, seharusnya embutuhkan energi karena ukuran tubuhnya ta yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa nis kelamin. Persentase makan yang tinggi pada pakan yang dimakan oleh orangutan betina m ondisi ini menyebabkan orangutan tidak per yak atau mencari makan dalam waktu yang lam

a memakan pakan yang ada disekitarnya tanp berpindah-pindah. Hal ini terbukti bahwa orang

h yang berjenis Naigea neriifolium, yakni seba ada jalur pergerakan orangutan betina dan dari ha memiliki kandungan karbohidrat tinggi, yait bergerak lebih banyak dilakukan oleh orangutan j

38,29 28,21 0,96 25,39 27,06 2,62

Berpindah Istirahat Lainnya

in terhadap ngutan jantan an orangutan enghabiskan 32,53% dari total nyak 38,29% ntan sebanyak rang, urinasi, dan orangutan ya orangutan a yang lebih hwa tidak ada da orangutan mengandung perlu mencari ma, sehingga tanpa banyak ngutan betina ebanyak 143 i hasil analisis aitu 26,72%. n jantan yaitu Betina Jantan

35

38,29% dan orangutan betina 25,39%. Aktivitas pergerakan yang lebih tinggi ini diasumsikan dengan strategi orangutan dalam mencari pasangan. Orangutan jantan mencari orangutan betina yang tidak dalam pengawasan ataupun dalam kondisiconsortbersama orangutan jantan dominan (Atmoko 2000).

5.2 Preferensi pakan orangutan sumatera