• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEBUNAN TEH SIDAMANIK SEBELUM TAHUN 1968

2.2 Perkebunan Teh Sidamanik Sebelum Tahun 1968

Teh (Camelia Sinensis) merupakan tanaman yang berasal dari Cina, diperkirakan dari propinsi Szechwan, pada tahun 221-265 sesudah Masehi. Di Eropa tanaman teh mulai dikenal sejak awal abad ke-17. Pada saat itu, teh di Eropa telah menjadi salah satu gaya hidup. Dua negara Eropa yangberperan dalam proses penyebaran tanaman teh ke negara-negara lain yaitu Inggris dan Belanda. Oleh segelintir orang dari kedua negara tersebut, tanaman teh dibawa ke Jepang, Indonesia, Srilanka dan negara-negara lainnya.

Sidamanik merupakan salah satu wilayah kerajaan Siantar yang ada di Simalungun Provinsi Sumatera Utara yang dijadikan sebagai lahan perkebunan teh oleh pihak Belanda yang didirikan pada tahun 1924 oleh Handles Vereninging Amsterdam (HVA). Pendirian perkebunan ini tidak terlepas dari keberhasilan Belanda dalam mendapatkan konsesi tanah oleh raja-raja Siantar yang sebelumnya Belanda mendapat penolakan dari Kerajaan-kerajaan di Simalungun. Melalui penandatangan Korte Verklaring (plakat pendek) Pemerintah Belanda berhasil mendapatkan tanah untuk lahan perkebunan bagi pengusaha-pengusaha asing. Setelah penandatanganan Korte Verklaring ini Kolonial Belanda mulai menerapkan bentuk

22 Sejarah Singkat Perkebunan Teh Sidamanik, dalam PT.Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Sidamanik. Selayang Pandang 2015. hal.2-3

pemerintahan baru, dengan pengakuan otonomi terhadap raja-raja Simalungun, namun demikian masih pengawasan Pemerintah Belanda itu sendiri.23

Pembukaan perkebunan ini di awali tahun 1863 dimana pada saat itu daerah Simalungun menjadi sasaran para pengusaha perkebuanan untuk perluasan pekebunan asing yang meliputi daerah kerajaan Siantar, Tanah Jawa, dan Panei yang merupakan daerah yang subur dan cocok untuk perkebunan. Dengan adanya Korte Verklaring tersebut telah memberi jalan bagi pengusaha perkebunan untuk mengembangkan perkebunan. Antara tahun 1910-1920, modal Jerman dan Inggris yang diwakili oleh Rubber Plantation Inestmen Trust, berhasil memperoleh konsesi tanah yang luas dari raja Siantar dan Tanah Jawa. Sejak saat itu langkah ini diikuti oleh pengusaha Belanda Handles Vereeniging Amsterdam (HVA) untuk melakukan pengembangan perkebunan teh di sebuah Kecamatan yaitu Sidamanik.24 Dimana pada saat itu Sidamanik masuk dalam distrik kerajaan Siantar

Beberapa tahun kemudian, orang-orang Eropa Belanda berdatangan kewilayah tersebut untuk membuka lahan perkebunan. Perkebunan-perkebunan tersebut hingga saat ini masih tetap berdiri. Teh menjadi salah satu pendapatan pemerintah Kolonial Belanda yang mampu memberikan keuntungan besar untuk devisa negara. Pada masa Kolonial teh ini menjadi salah satu primadona di Eropa.

Perkebunan teh berkembang dengan sangat baik di tangan pemerintah Kolonial Belanda dan bahkan volume ekspor teh terus meningkat seiring dengan kenaikan

23 Korte Verklaring merupakan sebuah palakat pendek yang ditanda tangani oleh Kolonial Belanda dengan raja-raja Simalungun untuk mendapatkan konsesi tanah dari wilayah Simalungun

24 Budi Agustono dkk, Sejarah Etnis Simalungun, Pematang Siantar: Museum Simalungun, 2012.

produksi teh dalam negri, namun untuk peningkatan konsumsi teh dalam negeri masih rendah. Kondisi ini telah memberikan keuntungan yang sangat banyak bagi Belanda. Sedikitnya ada tiga perkebunan teh yang sampai saat ini masih berdiri yang sekarang dikelola PT Perkebunan Nusantara IV. Ketiga perkebunan tersebut adalah perkebunan teh Sidamanik, perkebunan teh BahButong, dan perkebunan teh Toba Sari.25

Pembukaan perkebunan ini tidak jarang belanda selalu di hadapan pada masalah yang timbul dalam perkebunan seperti tenga kerja untuk mengerjakan perkebunan. Diketahui bahwasannya penduduk asli dari daerah Sidamanik itu senidiri enggan untuk berkerja di perkebunan karena bagi mereka berkerja diperkebunan sangat berat dan mereka lebih memilih untuk bertani, karena pada dasarnya mayoritas masyarakat Sidamanik bermata pencaharian sebagai petani.

Akhirnya pihak perkebunan di Sumatera Tumur mendatangkan kuli dari luar daerah, seperti pulau jawa, cina, dan keling. Perekrutan kuli tersebut sering dilakukan dengan cara penipuan yaitu dengan cara diajak nonton pertunjukan wayang, atau meyebutkan Johor sebagai tempat tujuan. Pada kenyataannya, mereka disebrangkan ke deli secara diam-diam. Para agen pencari kuli menbujuk calon kuli dengan memberikan janji akan memperoleh gaji yang besar. Begitu juga untuk para perkerja di perkebunan teh mereka di datangkan melalui agen kuli yang kemudian di

25 Sebelumnya perkebunan teh di Simalungun ada enam perkebunan teh hanya saja tiga dari perkebunan teh yang ada telah di konversikan dari tanaman teh menjadi kelapa sawit. Adapun perkebunan teh yang telah dikonversikan yaitu perkebunan teh Marjandi, Perkebunan teh Bahbirung Hulu, dan perkebunan teh Sibosar, untuk perkebunan Sibosar sendiri sampai saat ini perkebunan tersebut telah ditutup.

tempatkan di daerah-daerah perkebunan untuk diperkerjakan sebagai kuli perkebunan sebelum mereka di berangkatkan ke daerah tujuan, para calon kuli harus menandatangani kontrak dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun.26 Mereka juga akan menerima uang (upah) selama mereka berkerja sebagai kuli. Setelah menandatangani kontrak tersebut pihak perkebunan meminta kepatuhan para pekerja dalam berkerja.

Para kuli ini diperkerjakan sebagai penggarap lahan, penanam, penyortir, pemetik, penimpang, dan para pekerja dalam pabrik yang kemudian mengolah teh menjadi teh yang berkualitas. Pengolahan tanaman dilakukan di bawah pengawasan seorang Administratur (Eropaa) dengan bantuan empat atau enam asisten (Mandor) yang juga berasal dari orang Eropa.

Diatas lahan perkebunan tersebut tidak hanya digunakan untuk menanam teh, tetapi juga dibangun sarana dan prasarana penunjang perkebunan. Ketika awal pendirian perkebunan, HVA juga membangun sebuah pabrik teh pada tahun 1926 yang terletak ditengah-tengah perkebunan teh. hal ini dimaksudkan agar daun teh yang telah dipetik dapat langsung dibawa kepabrik dalam keadaan segar untuk segera diolah serta dapat mempermuda berlangsungnya kegiatan produktivits. Daun-daun yang telah dipetik dibawah dengan menggunakan keranjang bakol oleh para pemetik teh, langsung menuju pabrik.27 Sarana penunjang lainnya yang dibangun didaerah perkebunan adalah rumah untuk para pegawai Belanda, dan perkampungan untuk para perkerja.

26 Wawancara dengan Minan, Desa Bahbutong, 22 Februarai 2016.

27 Djiman H, “Makala Utama pascapanen: Pertimbangan teknis pengolahan teh hitam skala besar study kasus PT Perkebunan Nusantara IV, hal. 109

Dokumen terkait