BAB III POTRET PERMANENT CONFLICT :
D. Perkembangan Ahmadiyah
1. Ahmadiyah Cabang Ujung Pandang
Saat itu adalah bulan April 1970 atau tepatnya tanggal 22 Shahadat 1349 HS, awal mula yang akan membawa berkat bagi
Jemaat Ahmadiyah Indonesia, khususnya bagi Jemaat di Ujung Pandang.
Saleh A. Nahdi bersama keluarga tiba di Ujung Pandang dan akan bertugas menjadi Muballigh Jemaat Ahmadiyah Sulawesi Selatan. Tidak lama sejak saat itu, Jemaat Ahmadiyah cabang Ujung Pandang diresmikan.
Sebelumnya di kota ini telah bermukim beberapa keluarga Jemaat yang kebetulan sedang menjalankan juga di daerah ini. Merka adalah Dra. Nurul Mukhlisah (sejak tahun 1964), Drs. Abdul Sobur (1969), Kol. HS Muhamad sekeluarga (1968), Ir. Zakir Halim sekeluarga dan dr. Diapari sekeluarga (1968/1969), Lettu Udara Yuwono sekeluarga di pangkalan udara Mandai (1970). Mereka belum merupakan satu kesatuan dalam organisasi Jemaat yang bernaung di bawah cabang resmi, walaupun Kol H.S Muhammad senantiasa mengusahakan shalat Jum’at bersama di rumah-rumah tertentu.
Pada waktu diresmikan anggota Lajnah Imaillah baru ada 5 orang, masing-masing Ny. Rani Saleh A. Nahdi, Ny. Yuwono, Dra. Nurul Mukhlisah, Ny. A. Muhamaad dan Ny. Tahirah Zakir yang beberapa bulan kemudian pindah ke Jakarta sehingga belum dapat membentuk cabang Lajnah. Tidak lama kemudian baiat dua orang wanita, Ny. Tawang Daeng Tajuddin dan Ny. Abdul Hamid Nangka. Pada akhir tahun 1970 Dra. Nurul Mukhlisah berangkat ke Australia dalam rangka tugas belajar selama 1 ½ tahun. Walaupun belum dapat dibentuk, tugas-tugas sebagai Lajnah tetap dilaksanakan.
Dengan kembalinya Dra. Nurul Mukhlisah ke Ujung Pandang dari Australia, dan pindahknya Ny. Abdul Sobur untuk mendampingi suaminya di Ujung Pandang, pada tahun 1351 HS/1972 M Lajnah Imailah Ujung Pandang telah dapat dibentuk. Pengurus pertama itu diketuai oleh Ny. Yuwono sedang Ny. Rani Saleh A. Nahdi sebagai penasehat. Pada akhir tahun itu pula Let. Kol A. Mahmud bersama keluarga sehingga pengurus diperkuat oleh Ny. Aisyah A. Mahmud.
Kegiatan waktu itu terutama mengikuti kegiatan Jemaat, yakni pengajian 2 kali seminggu yang diadakan di rumah Utusan, di rumah-rumah para anggota searah bergilir dan kadang-kadang di tempat lain sesuai dengan perkembangan tabligh pada saat itu yang sangat maju. Selain itu membantu pembiayaan penerbitan dan memperbanyak buku-buku Jemaat yang diperlukan untuk tujuan tabligh.
Pada tanggal 15 Sulh 1352 HS/1973 M bertepatan dengan hari raya Idul Adha, dilaksanakan shalat Id di rumah Drs. Nurul Muhklisah yang dilanjutkan dengan pembaiat 31 orang penduduk asli Ujung Pandang, 15 orang diantaranya wanita. Dengan demikian bertambahlah anggota Lajnah dan Nasirat sehingga bertambah pula tugas yang diurus dalam mengarahkan dan membina anggota.
Pada tanggal 23 Tabligh 1352 HS/ Feburari 1973 M diadakan pembaharuan susuna pengurus yang lebih langkap, Ny. Yuwono tetap menjadi ketua. Dengan bertambahnya anggota Nasirat maka dibentuk pula Nasirat Cabang Ujung Pandang. Kegiatan selain mengikuti shalat tarawih pada bulan puasa yang diadakan dirumah – rumah anggota secara bergilir dan shalat tahajjud bersama pada setiap Kamis akhir bulan, seminggu yani hari Rabu dan Minggu di rumah Ny. Aisyah A. Mahmud kadang – kadang di rumah anggota kaumnya yang dimaksudkan juga untuk bertabligh kepada handai taulan dan tetangga. Karena tempat tinggal anggota saling berjauhan, waktu pengajian dikurangi menjadi seminggu sekali. Pada setiap pengajian, hadir sekitar 80 % anggota Lajnah dan Nasirat Tgl 30 Aman 1352 HS/ 1973 M., telah baiat berjumlah 6 orang di antaranya seorang wanita yang disusul 2 orang lagi. Pada tahun ini, seorang Ahmadi warga negara Pakistan yaitu dari M. Jamil beserta keluarga, serorang tenaga ahli PBB (UNESCO) yang diperbantukan di Indonesia, tiba dan bermukim pula di Ujung Pandang. Beliau telah menanamkan andil besar dalam pembangunan mesjid dan rumah missi di Ujung Pandang Ny. M Jamila adalah seorang ibu
yang memegang arisan untuk kaum ibu.
Masa gemilang dari Jemaat Ahmadiyah Ujung Pandang telah membangkitkan dan mengobarkan bibit dengki dan irihati orang – orang tertentu yang tidak senang melihat kemajuan Jemaat. Fitnah dan cacian mulai mewarnai khotbah, dahwah, ceramah, pidato yang dengan gencar disuarakan lewat media apa saja yang memungkinkan mereka laksanakan. Masyarakat dengan diam – diam mulai mereka dengar. Kegoncangan terjadi setelah 2 orang anggota Jemaat Ujung Padang ditahan oleh pihak Kodim setempat, yaitu H. Hamjah Daeng Sau dan anaknya Drs. Minhajat Hamja. Tetapi berkat do’a kepada Allah SWT disamping usaha, beberapa anggota penahanan ini tidak sampai berlarut-larut. Namun telah cukup menimbulkan kegoncangan. Di kabupaten Bone, Tahir ditahan pula oleh penguasa setempat.
Cobaan demi cobaan tidak menggetarkan hati wara Jemaa, khususnya Lajnah, sebaliknya malah semakin mempertebal iman dan taqwa. Dalam masa ini kegiatan-kegiatan pengajian yang bersifat resmi terpaksa dihentikan untuk sementara waktu menanti suasana tentang kembali.
Dalam suasana prihatin seperti itu, Rais-ut-Tabligh Maulana Mohammad Sadiq HA pada tanggal 11 Fatah 1352 HS/Desember 1973 M, berkunjung ke Ujung pandang dan telah mendapat sambutan yang hangat dan antusias dari seluruh warga Jemaat. Kunjungan ini telah menambah terjalinnya suasana kemesraan rohani.
Sebelumbya yaitu pada tanggal 2 Nubuwwah 1352 HS / 1972 M, telah dilakuakn peletakan batu pertama pembuatan rumah Jemaat yang terdiri dari tempat sembahyang dan rumah missi yang sekarang disebut Wisma Nusrat. Pembangunan wisma tersebut dapat terlaksana berkat do’a dan sumbangan dari warga Jemaat lainnya di seluruh Indonesia. Wisma tersebut telah mulai dipakai sebagai rumah Missi dan tempat shalat bersama sejak tanggal 1353
HS/ April 1974 M,. Peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. tahun ini telah diadakan di tempat itu dengan mengundang ghair yang tinggal di sekitar tempat itu dan menyambut baik walaupun suasana masih belum reda.
Pada pertengahan tahun 1354 HS / 1975 M, telah terbentuk susunan pengurus baru yang diketahui oleh Ny. Dra. Nurul Mukhlisah. Pada periode ini kegiatan terutama dalam bidang tarbiyah mulai ditingkatkan. Pelajaran yang diberikan berupa pengajian, pelajaran membaca Al-Quran, berpidato, ketrampilan wanita maupun cara berorganisasi.
Pada akhir tahun 1976 Ny. Aisiyah Mahmud pindah ke Jakarta . susunan pengurus diubah, Ny. Dra. Harlim Minhayat yang semula menjabat wakil ketua menggantika Ny. Aisiah Mahmud sebagai sekretaris Khas, sedang jabatan wakil ketua ditiadakan. Pada tahun 1977, Dra Nurul Mukhlisah berangkat ke luar negeri selama dua tahun, diikuti pula oleh Ny. Rani Saleh A. Nahdi yang menjadi penasehat Lajnah Imaillah Ujung Pandang lagi karena pindah ke Yogyakarta. Ketika terjadi musibah bencana alam dan kebakaran di Kotamadya Ujung Pandang, Lajnah Imaillah ikut menyumbang pakaian untuk para korban.
Majalah intern /lokal Al-Hisyam yang beredar gratis di kalangan anggota untuk penerbitan adalah sumbangan dari anggota Lajnah. Edaran Lajnah secara teratur disebarkan kepada anggota, yang merupakan sarana tabligh dibagikan bersama-sama buku-buku lainnya kepada ghair.
Dra. Nurul Mukhlisah yang sedang dalam rangka tugas di Malaysia, telah menyampaikan kepada perpustakan pusat nanyang University, sebanyak 35 buah buku-buku Jemaat termasuk Al-Quran dan terjemahannya. Pada setiap pengajian Lajnah yang diadakan secara bergilir di rumah-rumah anggota sebulan sekali, senantiasa diusahakan mengundang ghair. Pengajian yang diadakan oleh cabang sekali seminggu, selalu diikuti oleh kaum ibu.
2. Jemaat Ahmadiyah Denpasar, Bali
Mian Abdul Hayyee HP adalah mubaligh atau orang pertama membawa kabar suka kedatangan Imam Mahdi a.s. dalam tahun 1953 di Singaraja Bali. Kota Singaraja ketika itu merupakan ibukota propinsi kepulauan Sunda Kelapa yang meliputi pulau Bali, Sumbawa, Sumba dan Timor.
Selain beliau bertugas sampai tahun 1955 ada beberapa diantara mereka yang langsung baiat namun kemudian hubungan terputus karena sesudah Mian Abdul Hayyee HP pindah, tidak ada Utusan lain yang menggantikan di sini. Di antara orang yang ditablighi, yang baiat di Jakarata misalnya, Yusuf Ali dan putranya baiat di tanga Mubaligh Pembantu Mustari rauf, yang menjadi pembantu mubaligh pertama di Denpasar, baiat Ahmad Nurudin tahun 1969 di Mataram. Di tangan Mubaligh Pembantu Mustari Rauf, yang menjadi pembantu mubaligh pertama di Denpasar, baiat Anwar said dan istrinya Ny. Anie Sofia pada tahun 1975, Mahar Erfendi dan istrinya Ny. Sri Wahyuningrum tahun 1977.
Di tangan Hasan Tou, yang menggantikan Mustari Rauf, megambil baiat Ny. Muayanah yang disusul suaminya Moh. Noor A.M. dari singaraja. Ada lagi beberapa orang lain yang baiat namun kemudian tidak terus aktif, ada yang meninggal, pindah atau menjauh saja.
Tidak kurang pertentangan yang dialami oleh anggota Jemaat Ahmadiyah, seperti yang dialami oleh Ny. Sri Wahyuningrum tempatnya bekerja, sehingga terpaksa mengajuakn permohonan berhenti dari pekerjaannya sebgai guru SD. Begitu pula yang dialami oleh Anwar Said,SE dan Ny. Anie Sofia yang mendapat tekanan bertubi-tubi dari kepala kantor Asuransi Jasa Indonesia cabang Denpasar tempat mereka bekerja, akhirnya mereka mendapat tugas ke Banjarmasin sebagai kepala di sana.
Perlawanan menyeluruh terhadap Jemaat di Denpasar adalah dari kelompok orang anggota Persatuan Islam (Persis) di bawah
pimpinan antara lain : Safi’i Usman dengan markasnya Al Gurdoba di Sanglah Bali.
Pada tahun 1971, Ny. Titik Sadiqah Sapartningsih beserta suaminya Drs. Tujito pindah dari Purwokerto ke Denpasar dan bertugas di Touririst Beach Inn, Sanur. Tahun 1974 Ny. Tati bersama suaminya Umar Muhammad datang dari Ujung Pandang pindah ke Denpasar mendirikan cabang Ansuransi Timur Jauh dan pada tahun 1976, Ny.Dedeh Rodiah yang menikah dengan H.A. Iwan Darmawan datang dari Tasikmalaya.
Pada tanggal 15 Maret 1977 diadakan pertemuan di rumah Ny. Tati Umar di jalan Serma Made Pil No. 2 Sanglah Denpasar di mana saat itu hadir juga ny. Rani Saleh A. Nahdi dari Ujung Pandang, lalu dibentuklah pengurus pertama Lajnah Imaillah ranting Denpasar, yang diketuai oleh Ny. Tati Umar K.M.
Dengan surat keputusan Pengurus Besar tanggal 3 Februari 1977, yang dimulai tanggal 21 April 1977 ranting Denpasar diresmikan menjadi cabang, dengan ketua kemudian dikenal dengan nama Mansur Ahmad.
Walaupun dalam masa hanya tiga bulan saja tetapi Abdul Wahid H.A. sempat memasukkan l.k. 40 orang ke dalam Jemaat Ahmadiyah antaranya Haji L.Y.C. Manoppo (Mertua H. S. Y. Pontoh).
Kemudian Abdul Wahid digantikan oleh Malik Aziz Ahmad Khan. Beliau ini pun tidak lama namun sempat memasukkan kurang lebih 10 orang ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Beliau kembali ke Jakarta pada bulan Juli 1952. Perlu dicatat bahwa yang meletakkan batu pertama pendirian Mesjid Jemaat Ahmadiyah Cabang Kotamobagu adalah Malik Aziz Ahmad Khan. Pada Oktober 1961 tiba M. Mansur Ahmad sebagai utusan tetap dari pusat. Berpuluhpuluh orang telah bai’at di tangan beliau.
Perlu pula diketahui bahwa kini di Manado, Ibukota propinsi Sulawesi Utara telah berdiri pula Cabang Jemaat Ahmadiyah di bawah asuhan Ahmad Dimyati dan telah beberapa orang bai’at.
Selainnya, di sebelah Barat kota Manado (l.k. 400 km dari Manado) dan l.k. 200 km dari Motoboi Besar, pesisir Utara bagian Barat Kabupaten Bolaang Mongondow juga telah bai’at beberapa orang antaranya, Ahmad L. Pontoh dan L. Agas Pontoh keduanya adalah saudara kandung H.S. Yahya Pontoh. Mereka giat bertabligh dan mengharapkan kedatangan muballigh di daerah ini.
3. Ahmadiyah di Sulawesi Utara
Sebagaimana dinubuatkan oleh Masih Mau’ud a.s. bahwa Jemaat beliau akan tersebar ke seluruh pelosok dunia, maka berdirinya Jemaat Ahmadiyah di Sulawesi Utara merupakan salah satu bukti sempurnanya nubuwat itu.
Dengan perantaraan haji Yahya Pontoh pada tanggal 26 Juli 1948 berdirilah Jemaat Ahmadiyah di Sulawesi Utara dengan bai’atnya 12 orang dimotoi Besar, kabupaten Bolaang mongondow, Sulawesi Utara. Gelombang pertama terdiri 12 orang, kemudian menyusul gelombang kedua sebanyak 23 orang bai’at antara tanggal 11 Agustus 1949 sampai 2 Februari 1950. Mereka masuk dalam Jemaat setelah disampaikan tabligh beberapa bulan lamanya, ada di antaranya melihat mimpi-mimpi yang menunjukan kebenaran Imam Mahdi a.s.
Kemudian, Abdul Wahid H.a tiba di Motoboi Besar kurang lebih 3 bulan dan sepulangnya ke Jakarta,beliau mengajak serta 3 pemuda Sulawesi Utara yakni : Mansur A. Kadengkang, Abdul Karim dan Abdul Hanan dengan maksud untuk di sekolahkan pada sekolah Mubaligh di pusat, Rabwah , Pakistan. Dari ketiga pemuda tersebut 952 . perlu dicatat bahwa yang meletakkan batu pertama pendirian mesjid Jemaat Ahmadiyah Cabang Kotamobagu adalh Malik Aziz Ahmad Khan. Pada Oktober 1961 tiba M. Mansur Ahmad sebagai utusan tetap dari pusat dan masih tetap tinggal hingga sekarang. Berpuluh-puluh orang telah bai’at di tangan beliau.
Perlu pula diketahui bahwa kini di Manado, Ibukota Propinsi Sulawesi utara telah berdiri pula Cabang Jemaat Ahmadiyah di bawah asuhan Ahmad Dimyati dan telah beberapa orang baiat.
Selainnya, disebelah Barat kota Manado (I.k. 400 km dari Manado) dan I.k. 200 km dari Motoboi Besar, pesisir Utara bagian Barat Kabupaten Bolaang Mongondow juga telah bai’at bebeapa orang antaranya, Ahmad L. Pontoh dan L. Agas Pontohkeduanya adalah saudara kandung H.S. Yahya Pontoh. Mereka giat bertabligh dan mengarapkan kedatangan mubaligh di daerah ini.