• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahun 1940-1960: Penyebarluasan Daerah

BAB III POTRET PERMANENT CONFLICT :

C. Tahun 1940-1960: Penyebarluasan Daerah

1. Jemaat Ahmadiyah Citalahab

Tahun 1959, Naad anggota Jemaat Ciparay yang pada waktu itu usianya + 55 tahun, pergi seorang diri dari Ciparay ke Citalahab, bekerja di perkebunan Citalahab, Desa Bojong Jengkol Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Setelah 6 bulan, Naad pulang ke Ciparay, lalu kembali lagi ke Citalahab dengan membawa istrinya. Di Citalahab, selain bekerja di perkebunan, Naad juga menggarap tanah yang kosong, hasil dari bekerja dan bercocok tanam tersebut dapat di belikan tanah seluas + 2 hektar di kampung Simpang Samid. Selain bekerja dan bercocok tanam, Naad rajin bertabligh.

Satu tahun kemudian (1960) anak menantu dari Naad yang berada di Ciparay sebanyak 3 keluarga, di antaranya yaitu: Uben, Ajiji, Ici Sanusi, ikut berbaiat. Setelah datang anak menantu Naad, anggota Jemaat yang berada di Citalahab semakin bertambah dan sering melaksanakan tabligh, walaupun tanggapan yang ditabligh bermacam-macam, ada yang mengatakan “Dari pada iman kepada Mirza Ghulam Ahmad lebih baik mati”. Dan yang lainnya banyak yang mengeluarkan hinaan dan caci maki.kepada Naad dan anak menantunya sering melaksanakan tabligh, ternyata ucapan mereka dizhahirkan oleh Allah Ta’ala. Dalam jangka waktu + 6 bulan, sesudah ucapan–ucapan tersebut mereka meninggal dunia, dengan perantaraan jatuh dari pohon aren, dan masuk lubang, ada juga satu keturunan dihilangkan, tidak memiliki keturunan.Setelah dizahirkan ucapan-ucapan mereka oleh Allah Ta’ala dan disaksikan oleh masyarakat, maka banyak masyarakat mulai simpati terhadap Ahmadiyah bahkan ada yang bai’at seorang ustadz dan beberapa orang lainnya.

Anggota Jemaat yang berada di Citalahab bertambah, ketua Ciparay merencanakan membentuk ranting Jemaat Citalahab. Ketua Ciparay, Adang Rahmat dan salah seorang pengurusnya yaitu Baehaki berkunjung ke Citalahab. Lima bulan kemudian sesudah kedatangan Idrom, ketua Ciparay merencanakan membentukan ranting jemaat Citahalab. Setelah bermusyawarah, mengenai pembentukan ranting, semua sepakat bahwa pembentukan ranting dilaksanakan selesai sembahyang Jum’at , kemudian mengundang Mandor Desa, Kadus Jejeh untuk menghadiri pembentukan ranting Jemaat Citalahab . Jejeh bersedia,n namun Jum’at pagi, Jejeh kedatangan tamu dari kecamatan. Ia menceritakan akan menghadiri pembentukan ranting jemaat Ahmadiyah Citalahab, tetapi pihak kecamatan melarang Jejeh untuk menghadirinya, kemudian tamu tersebut, menitipkan surat kepada Jejeh, yang isinya semua anggota Jemaat Ahmadiyah yang berada di Citalahab supaya datang ke kecamatan pada Sabtu pagi.

Hari Sabtu pagi semua anggota Jemaat yang berada di Citalahab berangkat ke kantor kecamatan. Di kantor kecamatan sudah menunggu beberapa aparat pemerintah di antaranya:

1. dari kepolisian 2. koramil 3. naib (KUA) 4. dari penerngan .

Aparat mengatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah organisasi gelap dan rencana pembentukan ranting tidak dibenarkan, karena melalui rapat gelap. Kemudian Jemaat memberikan penjelasan mengenai keadaan Jemaat Ahmadiyah dan memperlihatkan juga anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Selanjutnya aparat menyuruh anggota Jemaat menandatangani surat pernyataan keluar, karena Ahmadiyah itu kafir dan bukan Islam. Namun maksud aparat mengeluarkan Jemaat tidak berhasil,

tidak seorang pun menandatangani surat pernyataan keluar tersebut .

Keempat orang itu di tahan di kantor Kapolsek Jampang Tengah selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, Adang dan Baehaki di bawa ke kejaksaan Sukabumi, sedangkan Idrom dan Uben tetap ditahan di Kapolsek Jampang Tengah.

Di kantor kejaksaan, polisi memberikan verbal, kemudian jaksa memberikan penjelasan bahwa masalah agama tidak perlu diselesaikan di kejaksaan, sambil memberikan data dengan sikap marah. Setelah dari kejaksaan, Adang Rahmat dan Baehaki tidak kembali ke Citalahab namun pulang ke Ciparay, tidak lupa menitipkan surat kepada polisi untuk Idrom dan Uben yang masih ditahan di kapolsek Jampang Tengah.Akhirnya, polisi menyuruh pulang kepada Idrom dan Uben karena masalah sudah dianggap selesai.

Sesudah kejadian tersebut, Idrom meminta surat rekomondasi keanggotaan dari cabang Ciparay ke Cabang Sukabumi.Setelah menggabungkan keanggotaan ke cabang Sukabumi, anggota yang berada di Citalahab sering dikunjungi oleh pengurus Cabang Sukabumi dan Mubaligh maupun mu’allim yang bertugas di Sukabumi diantaranya: Suhaemi Karim, Abdurrahman, Somadi, Gojali, Mubaligh Zaini Dahlan, Mu’allim Sulaeman.

Dengan bergabungnya keanggotaan ke cabang Sukabumi, keberadaan anggota semakin tenang dan kegiatan-kegiatan kejematan berlangsung lancar, namun dikarenakan tidak ada tempat untuk membina atau mendidik anak-anak, maka dibangun madrasah berukuran kurang lebih 5 x 8 meter, dengan biaya dari anggota yang peresmiannya mengundang dari pemerintah desa, kecamatan, koramil dan kepolisian. Juga mengundang pengurus jemaat Sukabumi diantaranya Ketua Cabang Subaemi Karim dan Gojali

Selain para undangan banyak lagi yang hadir di antaranya : Kepala Sekolah SD Caitalahab dan guru – gurunya Peresmian madarasah dilaksanakan hari Minggu dan acara peresmian dipimpin oleh Samsudin, ghair Ahmadi.

Dalam sambutannya, Ketua Jemaat Sukabumi menjelaskan keberadaan anggotannya yang berada yang berada di Citalahab, kemudian menyuruh ke depan, Idrom dan Mahmudi, karena dalam acara peresmian madrasah ini akan dilangsungkan juga pembentukan Ranting Jemaat Citalahab dengan kepengurusannya dan kemudian Ketua Cabang Sukabumi menetapkan kepengurusan yaitu :

Ketua Ranting : Idrom Sekretaris : Mahmudin

Saat berlangsungnya pembentukan ranting Jemaat Citalahab pihak aparat kepolisian menolak diteruskannya acara pembentukan ranting Jemaat Citalahab, dengan alasan tidak sesuai aturan. Akhirnya acara peresmian madrasah dan pembentukan ranting Jemaat Citalahab, dengan alasan tidak sesuai aturan. Akhirnya acara peresmian madrasah dan pembentukan ranting Jemaat Citalahab ditutup dengan do’a oleh Gojali pengurus Jemaat Cabang Sukabumi.

Hari Senin , Idrom dan Mahmudin dipanggil ke kecamatan, untuk diminta pertanggungjawabannya mengenai pembentukan ranting Citalahab, dengan kepengurusannya, kemudian akan bertanggung jawab untuk seterusnya apabila ada sesuatu yang berhubungan dengan ranting Jemaat Citalahab. Maka Idrom dan Mahmudin menyanggupinya.

Dari saat itu kepengurusan berjalan lancar selama kurang lebih satu tahun. Namun di akhir tahun 1974 dari pihak kecamatan memanggil kembali Idrom, yang maksudnya melarang Idrom

merangkap kepengurusan sebagai ketua ranting dan sebagai Rukun Tetangga (RT), dan dari pihak kecamatan menyuruh kepada Idrom supaya berhenti dari jabatan sebagai ketua ranting, tetapi Idrom menolaknya, lebih baik berhenti dari jabatan RT – nya.

Pihak pemerintah dan juga Idrom saling mempertahankan keinginan nya , yang pada akhirnya pihak pemerintah kecamatan menyuruh Idrom melaksanakan kedua jabatan tersebut.

Pada tahun setelah pembentukan Ranting jemaat Citalahab , maka pengurus Ranting mengajukan pembentukan Cabang Citalahab. Maka pada tahun 1975, ranting Jemaat Citalahab menerima SK terbentuknya Cabang Citalahab, dengan nomor Cabang (66).

Pada saat terbentuknya Cabang Citalahab jumlah anggotanya kurang lebih 110 orang dengan susunan pada saat dibentuk sebagai berikut :

Ketua Cabang : Idrom Sekretaris Khas : Sunarya Sekretaris Mal : Mahmudin Sekretaris Umur Amah : Abdurrahman Sekr. Umur Kharijiah : Muhammad Sholeh

2. Ahmadiyah di Tasikmalaya

Yang mula-mula berkenalan dengan Ahmadiyah diantaranya penduduk Tasikmalaya dan sekitarnya adalah aum pedagang. Mereka datang ke jakarta membawa barang - barang hasil kerajinan tangan antara lain tudung, yang antara tahun 1933-1935 banyak diekspor. Di Jakarta mereka bermalam di Hotel Mataram , Molenvliet Oost, (sekarang Jl. Hayam Wuruk ). Disitu mereka bertemu dengan seorang propagandis Ahmadiyah Moh. Tayyib, yang juga berasal dari Singaparna dekat Tasikmalaya. Percakapan antara mereka terus lancar saja. Sehingga pada pembicaraan yang

pertama pun mereka telah tahu Ahmadiyah agak banyak. Hal ini tidak mengherankan, oleh kerena di antara mereka ada yang sudah mengetahui Ahmadiyah melalui :

1. Majalah “Dewan Islam” terbitan Yogyakarta;

2. Surat kabar “Pemandangan “ yang terbit di Jakarta pada tahun 1933;

3. Verslag debat antara Persis v.s Ahmadiyah Tahun 1932 di Bandung dan di Jakarta tahun 1933;

Dan yang lainnya telah menyaksikan sendiri berlangsungnya debat di Jakarta. Hasil pendengeran dan penglihatan mereka itu, mereka bawa sebagai oleh-oleh kepada keluarga dan kaum kerabat di kampung halaman mereka.

Oleh-oleh itu sangat menarik perhatian mereka di kampung, terutama anak-anak mudanya, yang merasa penasaran ada orang yang mengaku Nabi. Di antara pada pemuda itu terdapat seorang yang bernama Enggit Syarif, yang ketia itu mendapat kabar dari Encu Syamsudin, sayang tidak dapt memberikan penjelasan. Kaarena penasaran, E. Syarif mendatangi kyai-kyai untuk menanyakan apa Ahmadiyah itu, tetapi juga tidak memuaskan selain mendapat fatwa untuk tidak perlu didekati. Ketika itu ia dengar, bahwa yang memimpin rapat pedebatan itu R. Moh. Muhyidin, yang dikenalnya sebagai Sekrertaris PB Paguyuban Pasundan dan sebagai pengarang asal usul kebudayaan dalam orgaan Pasundan dengan nama samaran kyai Hadimullah. Maka bertambah besarlah hasrat Syarif untuk menyelidiki Ahmadiyah. Dalam pada itu kebetulan ia memperoleh buku “Officiele Verslag Debat” di gang Kenari Jakarta, di mana Muhyiddin menjadi ketua persidangannya. Di samping itu ia menerima pula sebuah majalah “Islam’ terbitan Jemaat Ahmadiyah Padang

Foto Jemaaat Ahmadiyah Tasikmalaya 1975 Sumber : koleksi pribadi.

Masalah Ahmadiyah ini ia bawa kepada Sutsen (singkatan dari Sutisna Senjaya) ketua NU Cabang Tasikmalaya, seorang pemimpin yang disegani. Jawabannya tak menentu. Ini terjadi pada tahun 1934. Oleh karena tak merasa puas, pergilah ia kepada seorang kawannya bernama Surjah di Indihiang untuk memberitahukan soal Ahmadiyah itu. Atas permintaan Syarif, Surjah dan seorang kawannya bernama Endi berangkat ke Jakarta untuk menemui Moh. Tayyib, Propagandis Ahmadiyah itu. Akan tetapi ketika dalam perjalanan ke Jakarta mereka singgah di Garut , ternyata Moh. Tayyib sedang ada si kota tersebut . Setelah bertukar fikiran dan mendapat penjelasan yang memuaskan, mereka kembali ke Tasikmalaya. Setibanya di Tasikmalaya, Surjah langsung mengajak Syarif untuk mendirikan Jemaat Ahmadiyah di Tasikmalaya. Sebagai alimnya diitunjuk moh. Tayyib sendiri . Syarif merasa ragu oleh arena anggota belum ada dari pesiapan belum dilakukan. Surjah orang yang terkenal pemberani itu tidak kehabisan akal.

Ia terbitkan selebaran yang isinya singkat “Iman Mahdi sudah datang”. Selebaran-selebaran ini dibagi-bagikan di pasar, di jalan-jalan. Karena usahanya masyarakat Tasikmalaya menjadi gempar dan menimbulakan keinginan untuk menyelidikinya. Untung baginya karena pertemuan dengan Moh. Tayyib , menyebabkan Moh. Tayyib sering berkunjung ke Tasikmalaya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan penerangan Ahmadiyah. Inilah hasil usaha Surjah yang hanya bermodalkan keberanian dan semangat.

Pada tahun 1935 berdirilah sebuah Komite Ahmadiyah di Indihiang, dengan mereka yang besar untuk menarik perhatian masyarakat terhadap Ahamdiyah dan untuk menyatakan, bahwa Ahmadiyah yang di halang-halangi oleh ulama Tasikmalaya itu sekarang sudah mendapat “pasaran ‘ di daerah itu sendiri . Komite diketuai oleh Surjah dan sebagai sekretaris, E. Syarif . Anggota belum ada kecuali simpatisan-simpatisan yang mulai berdatangan. Tugasnya hanya satu: Tabligh dengan cara perdebatan umum dengan ulama-ulama , kaum thesofi dan Kristen., di mana M. Rahmat Ali H.A.O.T. dan / atau Sdr .Moh . Tayyib bertindak sebagai debatter-nya. “Selain usaha seperti di atas , sering juga Syarif dan Surjah membawa ‘makanan “ (istilah M . Rahmat Ali) berupa orang-orang yang akan menanyakan Ahmadiyah kepadanya . Di antara mereka ada yang di beli Taufig untuk menerima kebenaran yang di bawa oleh Hazrat masih Mau’ud a.s. yakni seorang Guru, kepala Sekolah swasta “Karang Kamulyan “bernama Suryasumirat.

Pada tahun 1941 keluarga Syarif pindah ke Tasikmalaya. Kini di Tasikmalaya ada 5 keluarga Ahmadi dan di bentuklah Cabang Tasikmalaya dengan Rasli sebagai ketuanya. Ini terjadi pada tanggal 1 Mei 1941. Dengan cara gotong royong, maka didirikanlah pada akhir tahun itu mesjid yang cukup luas di atas tanah wakaf dari Rasli sendiri, diresmikan pada awal 1942 oleh M. Malik Aziz Ahmad Khan.

Pada zaman Jepang kegiatan Ahmadiyah dibekukan. Walaupun demikian, tabligh dengan secara anjang sana dan diam-diam dijalankan terus. Berkat keuletan seluruh anggota beserta pimpinannya tewujudlah Jema’at Karsamenak, yang sebelumnya telah dirintis oleh H. Djaenal . Ia mentablighi dua orang pengurus NU bernama Abdul Manaf dan Maman. Dengan masuknya tokoh-tokoh NU Karsamenak ini Jemaat bertambah kuat. Karenanya Tablighpun lebih dipergiat lagi. Aksi ini tentu saja menimbulkan reaksi dari masyarakat setempat, tetapi tidak sampai melemahakan perjuangan anggota-anggota Jema’at.

Tahun 1949 hampir habis. Anggota–anggota Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya masih banyak tinggal bersama-sama – 2 atau 3 keluarga di sebuah rumah. Mereka membutuhkan rumah. Tetapi jangankan untuk menyewa atau membeli rumah, untuk makan pun seret. Dalam suasan yang demikian itu mulai Malik Aziz mangajukan usul, agar Jemaat bersam-sama membeli bekas kelenteng untuk di buat gedung pertemuan. Kebanyakan anggota Jemaat tercengang karena tak disangka mereka gagasan sebesar itu akan diajukan pada masa sesulit itu . Walaupun demikian , gagasan itu disetujui juga, setelah Maulvi Malik Aziz Ahmad Khan menegaskan dengan sungguh-sungguh tentang perlunya “Gedung Pertemuan” itu bagi Jemaat dan menerangkan tentang balasan Tuhan bagi Jemaat dan menerangkan tentang balasan Tuhan bagi orang-orang yang berkorban untuk agamanya sedikitnya akan dibalas 10 kali lipat. Selanjutnya ditandaskan olehnya , bahwa kita sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi usaha kita tak berhasil. Oleh karena itu dirikanlah dahulu rumah Allah, nanti Allah akan mendirikan rumah buat kita.

Dengan ucapan itu bangkitlah semangat berkorban seluruh anggota. penyumbang-penyumbang istimewa ketika itu tercatat Ny. Darma , Ibrahim , Syarif dan Didi. Dengan sumbangan itu dibeli gedung bekas kelenteng dan di atasnya di bangunlah gedung

pertemuan yang cukup baik. Dan betul saja, pengorbanan mereka diterima oleh Allah S.W.T disamping mereka memiliki gedung pertemuan menjadi kebanggaan jemaat Tasikmalaya, berdiri pulalah rumah – rumah gedung dan perusahaan milik anggota – anggota Jemaat.

3. Ahmadiyah di Singaparna

Sebagaimana telah diterangkan, seorang Ahmadi bernama Entony Moh. Tayyib ditugaskan untuk menjadi pembantu mubaligh dan beroperasi di daerah Garut dan Tasikmalaya, ia sebagai orang yang berasal dari Singaparna tidak melewatkan kesempatan untuk bertabligh ditempat itu. Dalam tugasnya ia dibantu oleh Ny. Sulaehanah. Pada waktu – waktu tertentu daerah Singaparna pernah dikunjungi oleh M. Rahmat Ali H.A.O.T., Abdul Wahid H.A dan Malik Aziz Ahmad Khan.

Pada tahun 1983 di Singaparna sudah ada 4 orang yang menerima ajakan Moh. Tayyib untuk masuk dalam Ahmadiyah yaitu Siti Masithah atau disebut juga ibu Itot, antara lain Ibu Momoh. Ibu Tayyib; Ny. Antra; D. Moh Junaedi dan Liem Hing An. Keempat orang tersebut lalu mengajak Argadiraksa, seorang tokoh Gerakan Mazhab Ahli Sunan (MAS) yang dipimpin oleh K.H. Moh. Anwar Sanusi, untuk menyelidiki Ahmadiyah. Hal ini sesuai dengan fatwa pemimpinya, bahwa kita tidak boleh menolak mentah-mentah sebelum menyelidikinya. Akan tidak boleh menolak mentah-mentah sebelum menyelidikinya. Akan tetapi ketika beberapa pengikutnya mengadakan persiapan dan mencarikan bahan penyelidikan, tiba-tiba K.H. Moh Anwar Sanusi melarang murid-muridnya untuk mengadakan hubungan dengan Moh. Tayyib dan M. Rahmat Ali dan menutup pintu untuk Ahmadiyah. Akan tetapi atas kebijaksanaan Argadiraksa dengan berdasarkan fatwa ulama bahwa segala kebenaran dari mana dan dari siapapun datangnya, hendaklah diterima, maka mulailah diadakan pengajian untuk

semua anggota MAS tiap minggu sekali, yaitu tiap hari Selasa di rumah Uwen di Kampung Kongsi Desa Cipakat. Adapun yang dipakai pokok dasar pengajian ilaah “Philosofi Islam “ karangan Hazrat Imam Mahdi a.s. Pengajian yang dipimpin oleh D. Moh Junaedi dan Argadiraksa. Apabila ada hal-hal yang belum dapat dijelaskan, ditunggukan jawabannya sampai Moh Tayyib dan M. Rahmat Ali datang Singaparna. Dengan demikian para peserta pengajian selalu mendapatkan keputusan dalam menyelidiki dan mempelajari agama Islam yang dibawa oleh Ahmadiyah itu.

Pada waktu itu maka Ahmadiyah di kalangan masyarakat Singaparna masih sangat dibenci dan dianggap salah. Setelah Sadili, seorang Ahmadi Tasikmalaya yang tinggal di Singaparna pada tahun 1940 mendengar, bahwa Ahmadiyah Tasikmalaya sedang bersiap-siap mengadakan perdebatan di Sukapura, ia mengusulkan agar hal itu diadakan di Sukasenang, Singparna. Usulnya diterima dan perdebatan antara Ahmadiyah dan K.H. Moh. Anwar H.A. dari pihak Ahmadiyah pada hari yang ditentukan sudah hadir , akan tetapi K.H. Moh. Anwar Sanusi tidak muncul.

Para anggota MAS yang melihat pemimpin mereka yang tidak mau manghadapi Ahmadiyah dan karena sering-sering mengadakan tahajud dan istikharah di samping berkat keuletan yang bertabligh, maka dengan karunia Allah SWT di Singaparna sekaligus telah masuk ke dalam Ahmadiyah dan bai,at dengan perantaraan M. Abdul Wahid H.A. sebanyak 60 orang , dipelopori oleh Nyi Djumisah Argadikraksa. Dengan maksudnya berpuluh-puluh orang ke dalam Ahmadiyah itu, maka pangajian dipindahkan ke Mesjid yang tadinya mereka dirikan atas nama MAS dan mulai saat itu menjadi milik Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia (AQDI).

Perlawanan dari masyarakat yang sebagaian besar ada di bawah pengaruh NU berjalan terus K.H. Moh Anwar Sanusi menjadi orang yang sangat anti dan tidak memusuhi semua utusan dan anggota Ahmadiyah. Sekali-sekali timbul juga perdebatan yang berpokok

sekitar “Khatamanannabiyyin” dan “La nabiyya ba’di” antara Ahamadiyah dengan bekas guru mereka yang menamakan dirinya Mufti Besar, akan tetapi selalu tidak ada ujung pangkalnya.

Maka pada tahun 1940 didirikanlah cabang Ahmadiyah Singaparna dengan susunan pengurusnya yang pertama sebagai berikut :

Ketua : Argadiraksa Wakil Ketua : Moh Jumriya Penulis Umum : D Moh Junaedi Keuangan : Uwen

Pembantu : Moh Dimyati Nayadiraksa

Pada tahun 1965 Cabang Singaparna mampu menyelenggarakan majlis Musyawarah , yang diselenggarakan di sebuah mesjid baru yang cukup besar di pinggir jalan besar.

4. Ahmadiyah di Bandung

Ketika awal tahun 1933 diadakan perdebatan yang pertama antara ahmadiyah dengan Persis di kota bandung , di sana belum ada seorang pengikut Ahmadiyah pun. Baru pada kahir tahun tinggal seorang pedagang , yang juga seorang Tabib Ahli Kuping Ahmadi pindahan dari Padang . ia bernama Abdul Samik , pernah belajar agama dari bai’at di Qadian. Ia mendiami sebuah rumah di Jalan pejagalan No. 35 Ia pun mempunyai beberapa kawan yang membantu usaha Abdul Samik membuat jamu-jamu , berasal dari Minangkabau, yaitu Nazir , Ata,Saud dan basyir. Kepada merekalah ia sampaikan tabligh Ahmadiyah ialah Basyir dan Nazir . Dan pada tahun 1938 bertambahlah dengan seorang Ahmadi pindahan dari Jakarta seorang pegawai Staats Spoorwegen (SS) bernama Ajusar , berasal dari Minangkabau . menurut Ahli warisnya setelah cukup sukses, Abdul Samik membawa saudara-saudara sekandungnya ke

Bandung , yaitu 2 orang kakaknya dan seorang adiknya, Muhammad Yatim, semuanya Ahmadi26

Foto jemaat Ahmadiyah Bandung, 1934 Sumber : koleksi pribadi

Pada waktu itu organisasi belum ada, karena jumlah anggota belum mencukupi syarat. pada akhir tahun itu juga pindahlah M. Abdul Wahid H.A. dari Garut ke Bandung. Tempat yang mula-mula didiami ialah Nyengseret. Disewa sebuah Pondok Panggung di Bawah serumpuan bambu. pada ketika itu tinggal juga di Bandung keluarga Aceng Basumi, merupakan keluarga Ahmadi dari Jakarta, dengan kedatangan M. Abdul Wahid H.A. itu pertablighan pun lebih diperdebat kemudian seorang demi seorang Bai’at sembayang Jumat pun didirikan. Sembahyang Jum’at yang pertama itu diikuti hanya 7 orang saja 4 laki-laki 3 perempuan, yakni: utusan HA dan 26 hasil wawancara dengan Sdr Rafik Ahmad, salah satu cucu Muhamad Yatim tanggal 3

Maret 2000

istri, utusan Malik Aziz Ahmad Khan, Abdul Samik dan istri, H. Marah Wahab dan Nyonya Rokayah, tempatnya di Pondok Bambu, Nyengseret.

Di Nyengseret M. Abdul Wahid HA sekeluarga hanya tinggal 40 hari saja. Setelah itu pindah ke Jalan Pejagalan No. 35 C dekat rumah Abdul Smik. Baru di sinilah Ahmadiyah mulai menampakkan wajahnya dengan memasang merek besar yang sengaja dibawa oleh Sukri Barmawi dari Garut. Pengurus Cabang pun segera dibentuk dengan susunan :

Ketua : Ajuzar Gelar Sutan Palindih Sekretaris Khas : A. Juberi

Sekretaris Keuangan : Mami Danumiharja Sekretaris Tabligh : R. Usman Subandi Sekretaris Maal : Abdul Samik

Organisasi Jemaat ini berjalan baik sampai Jepang datang. Ketika Jepang berkuasa organisasi resminya dibubarkan oleh Jepang dan mereknya pun diturunkan. Utusan sendiri, Abdul Samik, Ajusar beserta pengurus Ahmadiyah dari tempat lain ditawan Jepang selama 82 hari. Dalam tawanan ini pimpinan Jemaat menderita .Mereka baru dikeluarkan setelah diadakan pemeriksaan yang teliti dan mendalam . Akhirnya diketahui , bahwa penawanan itu hanya disebabkan oleh fitnah dai mereka yang anti terhadap Ahmadiyah . ini terjadi pada awal tahun 1944.

Pada zaman Jepang kecuali mendirikan sembahyang Jum’at , tidak ada kegiatan dan pertablighan yang berati dan oleh karena itu jumlah anggota pun tidak bertambah. Jepang menyerah kalah pada tahun 1945. Revolusi phisik dimulai . semua anggota Jemaat pun turut aktif berjuang menurut kemampuannya. Abdul Wahid sendiri bekerja di RRI Studio Bandung di seksi urdu dengan di bantu oleh Malik Aziz Ahmad Khan sampai peristiwa Bandung Lautan Api.

Penduduk kota mengungsi, termasuk anggota-anggota Jemaat pun begitu juga, ada yang ke Majalaya, Garut dan lain-lain tempat . Utusan Abdul Wahid sekeluarga mengungsi ke Garut.

Ada tahun 1948 pengungsi banyak yang kembali ke kota . Utusan Abdul Wahid kembali di Garut beserta beberapa anggota . Jemaat dan menyewa sebuah rumah di Gg. Makdudi Bojongloa. Ketika itu

Dokumen terkait