• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahun 1960 – 1980 : Perluasan hingga

BAB III POTRET PERMANENT CONFLICT :

F. Tahun 1960 – 1980 : Perluasan hingga

1. Jemaat Ahmadiyah Cabang Sadasari

Pada waktu Ny. Sujinah, anggota Lajnah Imaillah Manislor pindah ke desa Sadasari Majalengka, disini telah ada beberapa

Ahmadi di terutama yang mendapat pelajaran dari Manislor. Meskipun mendapat tantangan dari masyarakat sekeliling bahkan dari sanak saudaranya sendiri, kaum Ahmadi ini dibantu oleh Nasuhi dan H. Basyari Hasan terus dengan giat melakukan tabligh secara perlahan – lahan kepada kaum bapak dan kaum ibu yang mendengarkan pengajian yang diadakan.

Ny. Sujinah ikut bertabligh pula kepada kaum ibu di sini. Anggota yang pertama baiat ialah Ny. Sutimah Kasim, Ny. Supimah Jarkoni, Ny, Saemah Halumi, Ny. Nuriah Usup.

Sekitar tahun 1960 M/1339 HS terbentuklah ranting Sadasari yang bernaung di bawah Lajnah Imaillah cabang Manislor. Pada waktu itu anggotanya telah bertambah 7 orang yang baru baiat yaitu Ny. Sumanah, Ny. Aminah, Ny. Iyoh Narwiyah, Ny. Miah, Ny. Satmah, Ny. Sinar dan Ny. Rodiah. Kegiatannya belum terorganisisir secara rapih, namun dalam setiap pekerjaan selalu diselesaikan secara gotong – royong dan selain itu mengikuti pula kegiatan dan pengajian yang diadakan oleh cabang setempat.

Pada 1967, diketuai oleh Ny. Salioh dibantu oleh Ny. Onong sebagai Sekretaris Khas/Muhasib. Pada tahun 1973 Lajnah Imaillah ranting Sadasari diresmikan menjadi cabang dengan ketua Ny. Sinar.

Kegiatan sesudah menjadi cabang lebih teratur, antara lain muawwanah, pengajian khusus Lajnah Imaillah di pimpin oleh Didik dan Sufni, selain mengadakan kegiatan khusus mengumpulkan dana-dana yang dianjurkan. Pada perayaan peringatan hari – hari besar Islam yang diadakan bersama-sam dengan kaum bapak, Lajnah membantu menyelenggarakan konsumsinya.

Pendidikan untuk athfal / banath diadakan setiap malam. Jumlah anggota pada waktu itu diresmikan menjadi cabang ada 20 orang, sekarang bertambah menjadi 29 orang. Jabatan ketua pada tahun 1975 hingga 1978 dipegang oleh Ny. Narwiyah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada waktu itu selain meneruskan kegiatan terdahulu, Lajnah Imaillah turut gotong royong membangun rumah Missi. Kini Lajnah Imaillah memiliki peralatan untuk penyelenggaraan jamuan.

Pada tanggal 15 – 12 – 1969, Allah SWT menurunkan karunia – Nya di Parakansalak dengan baiatnya seorang ibu yaitu Ny. Jubaedah, yang kemudian pada tahun – tahun berikutnya diikuti oleh ibu-ibu lain, sehingga bula April 1972 berjumlah 10 orang. Pada waktu itu ibu-ibu Lajnah Parakansalak masih menjadi anggota Lajnah Imaillah cabang Sukabumi.

Keadaan Lanjah Imaillah Parakansalak semakin lama semakin kuat dengan bertambahnya ibu-ibu yang bai’at, di antaranya adalah Ny. Juwaeraiah yang baiat pada tanggal 2 Juni 1973; dan pada akhir tahun 1974 tercatat 25 orang ibu yang baiat, sehingga pada akhir bulan Februari jumlah anggota bertambah menjadi 45 orang. maka atas berkat dan rahmat Allah Allah SWT, pada tanggal 13 April 1975 berdirilah Lajnah Imaillah Parakansalak, dengan diketuai oleh Ny. Juju Juwaeriah.

Pada tanggal 24 Maret 1974, Lajnah Imaillah ranting Parakansalak mengirimkan 2 orang wakilnya untuk menghadiri ramah tamah yang diadakan LI cabang Bogor, yang acaranya antara lain ceramah tentang pendidikan anak-anak dalam Islam oleh Ny. Nurul nisak Sumarlo dan Jasa-jasa Rasulluloh s.a.w terhadap kaum wanita oleh Ny. Siti Hasanah Rasli (alm) dan acara tanya-jawab yang mengundang ibu-ibu ghair yang hadir pada waktu itu.

Pada bulan April 1975, wakil dari ranting Parakansalak diutus oleh LI cabang Sukabumi untuk menghadiri Ijtima LI bertempat di Mesjid Hidayah jalan Balikpapan, Jakarta. Pada Ijtima tersebut, LI Parakansalak turut serta dalam semua kegiatan dan perlombaan yang diadakan

Kegiatan dalam bidang tabligh masih terus dilakukan oleh ibu-ibu meskipun ada rintangan dan hinaan dari orang-orang yang

membenci Ahmadiyah; perkembangan anggota tetap meningkat, sehingga pada akhir tahun 1975 jumlah anggota LI tercatat 49 orang berusaha 16 tahun menjadi Lajnah, maka jumlah anggota bertambah menjadi 73 orang.

Dalam bidang Tarbiyat, ibu-ibu Lajnah Parakansalak tidak mau ketinggalan. Mereka senantiasa mengikuti shalat berjamaah, terutama Maghrib, Isya dan Shubuh, juga Tahajjud. Setiap malam diadakan dars Al Quran yang mula-mula dilakukan di mesjid umum, namun setelah orang-orang mengetahui bahwa mereka dari Ahmadiyah, mereka dilarang oleh ketua mesjid untuk ikut mengadakan kegiatan di sana. Untunglah Haji Mahpudin menyediakan rumahnya yang luas untuk dipakai oleh Jamaat dalam melaksanakan ibadat berjamaah dan pengajian. Di sini pun tidak berlangsung lama karena orang – orang yang membenci Jemaat masih tetap memfitnah dan menghasut masyarakat dan menuntut supaya pindah dari rumah tersebut. Dari rumah itu, tempat ibadah pindah ke rumah Jajun (bekas ketua cabang Leuwimanggu ) selama beberapa bulan dan kemudian pindah lagi ke rumah Ibu Juju Juwaeriah; rumah ini tidak dapat menampung anggota yang semakin banyak, sehingga semua ruangan termasuk dapur terpaksan dipakai untuk shlat berjamaah.

Sejak kebutuhan masjid semakin terasa, mulailah para anggota mengumpulkan dana. Dalam waktu kurang lebih 4 hari saja, mesjid berukuran 4 x 8 meter itu telah berdiri dan telah mulai dipakai sejak baru dipasang atap dan lantainya dari papan dan bambu. Medjid ini hidup sehingga menimbulkan rasa benci dan iri dengan menyebarkan hasutan dan fitnahan kepada orang Ahmadi, di antaranya terdapat seorang kyai yang selalu mencaci habis-habisan di muka umum, ternyata akhirnya malah tidak dihormatiu dan tidak dihargai lagi di masyarkaat karena kelakuannya yang amoral. Maka benarlah yang telah difirmankan kepada Rasul _ Nya, Imam Mahdi a.s “Sesungguhnya aku akan menghinakan orang –orang yang

menghinakan engkau ...” karena hasutan dan fitnahan tidak berhasil melenyapkan Jemaat Illlahi ini, merka dengan penuh kebencian mulai melempari masjid dengan batu tepat setelah para Jemaat selesai sholat Terawaih pada tanggal 27 Ramadhan 1395 H. Keadaan masjid yang rusak dan sudah terasa sempit dengan bertambahnya anggota, mengguagah para anggota untuk mambangun mesjid yang lebih baik dan lebih besar. Dengan pengorbanan para anggota Jemaat dan ...

2. Jemaat Ahmadiyah Cabang Tawangmangu

Tawangmangu adalah kota peistirahatan, di atas kota Solo di kaki gunung Lawu. Penduduknya yang asli banyak yang tidak beragama secara jelas atau animis, tetapi banyak juga yang memeluk agama Islam maupun Kristen, setelah berbaur dengan pendatang baru.

Di salah satu desa yang bernama desa Kalisoro, konon ada sebuah langgar di mana warga desa mengadakan sembahyang Jum’at, dan diadkan pelajaran mangaji oleh salah seorang guru SD ( Sekolah Dasar). Ini terjadi pada pertengahan 1969, ketika banyak anak-anak kecil ikut mengaji di langgar terseut, antara lain juga anak-anak yang sekarang ini sudah menjadi Lajnah atau Khuddam di Tawangmangu.

Ketika tiba-tiba bapak guru tersebut pindah anak-anak tersebut rajin juga datang ke langgar untuk belajar mengaji sendiri meski tanpa pengasuh.

Hal ini kemudian diketahui oleh Ahmad Sutarno Sarino seorang anggota Brimob yang juga seorang Ahmadi, beliau ini adalah menantu dari Sukanda, seorang Ahmadi lama di Yogyakarta. Beliaulah yang mengajar mengaji, dan mengasuh mereka dengan kasih sayang, yang berjalan sampai satu tahun.

Pada tahun 1970 Hafiz Qudratullah adalah utusan di kota Yogyakarta, yang kemudian oleh Sutarno diperkenalakan kepada anak-anak pengajian. Sebelum kedatangan Hafiz Qudratullah, Sutarno sudah pernah bercerita tentang adanya Imam Mahdi, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan menjelaskan soal Kenabian dan soal Khilafat dalam Ahmadiyah. Hafiz Qqudratullah sangat senang, dan anak-anak pun begitu rajin mempelajari ilmu agam dan Al-quran dari beliau. Secara periodik, Hafiz Qudratullah datang ke Tawangmangu untuk memberikan pelajaran kepada adak-anak pengajian tersebut, sehingga tidak terasa hubungan mereka sebagai orang tua dengan anak rohaninya.

Sementara itu, beberapa saudara Ahmadi dair Yogyakarta, baik bapak maupun ibu, ada ynag ikut membina mereka. Banyak diantara anak-anak itu masih kecil-kecil, namun a pula yang hampir dewasa, yang menyatakan ingin baiat kepada Hafiz Qudratullah.

Pada tahun 1972, setelah mendapat nasehat dari Hafiz Qudratullah, yang baiat pada beliau ada 36 orang anak, 30 orang putra dan 6 orang putri. Mereka diizinkan baiat setelah lama mereka menyatakan keinginananya, dan setelah umurnya hampir mencukupi. Khuddam dan nasirat yang kecil-kecil ini, orang tuanya belum Ahmadi, bahkan ghair, yang diantaranya malah memusuhi Islam, sehingga anak-anak yang belum bisa bediri sendiri ini ada yang mengalami cobaan cukup berat, menurut ukuran anak, dari orang tuanya masing-masing.

Sekitar tahun 1974 Sutarno perintis Jemaat Ahmadiyah di Tawangmangu, pindah tugasnya dan Hafiz Qudratullah pun kemudian pulang meninggalkan Indonesia. Maka keadan anak-anak pengajian yang kini menjadi Ahmadi seakan-akan kehilangan tempat berlindung. Ada putra-putri Ahmadi yang kemudian dipaksa kawin oleh orang tuanya dengan anak ghair, calon yang ditunjuk oleh orang taunya. Dengan demikian keadaan anak-anak Ahmadi di Tawangmangu agak mengalami kemunduran, meski setiap bulan

selalu ada khuddam yang ditugaskan oleh Jemaat Yogyakarta untuk mengikuti sembahyang Jum’at di sana, sekaligus untuk melangsungkan hubungan batin antara warga jemaat.

Kadang–kadang ibu-ibu Lajnah cabang Yogyakarta berkumpul ke Tawangmangu untuk menengok mereka, sambil membawakan buku-buku Jemaat dan majalah suara Lajnah secara teratur. Selanjutnya setelah langgar itu diperbaiki oleh kita/ Jemaat, maka sampai kini menjadi langgar yang dipakai untuk kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Tawangmangu.

Sementara pada tahun 1970, putra-putri Ahmadi yang dulu sebagai Nasirat, telah menjadi Lajnah Imaillah dan Jumlahnya menjadi meningkat, karena ada lagi putra-putri ghair yang baiat. Mualim Ahmad yang bertugas di Purwokerto, sering ditugaskan untuk membina Jemaat di Tawangmangu.

Pada tanggal 27 Januari 1980 dirumah saudari Naimah telah berkumpul 17 orang Ahmadi yang menghadiri peresmian berdirinya Lajnah Imaillah Tawangmangu. Ibu Nurul Nisak Sumarlo memberikan pengarahan yang penjelasan mengenai organisasi Lajnah Imaillah. Sebenarnya tercata 30 orang anggota Lajnah Imaillah, namun banyak yang dilarang datang, oleh suami mereka yang ghair atau oleh orang tuanya. Ibu Naimah telah terpilih menjadi ketua Lajnah yang pertama, dibantu pemudi Ahmadi laiinnya untuk menjadi pengurus. Uniknya di Tawangmangu, nama anak-anak semanya mendapat tambahan nama Islam yang diberikan oleh Hafiz Qudratullah setelah mereka baiat, seperti Naimah, Fathat, Najmah, Mubariqah, Mariyam, Aziz, Arif, Aslam, Basyir, Nasir dan lain-lainnya.

3. Jemaat Ahmadiyah Cabang Madiun

Dalam sejarah kebangsaan, Madiun cukup dikenal dengan peristiwa pemberontakan Madiun tahun 1948; hal ini mempengaruhi pandangan penduduknya terhadap masalah agama.

Melihat kenyataan ini, sampai sekarang cukup pun hanya sebagaian kecil penduduknya yang taat menjalankan agama. Namun demikian di daerah yang gersang agama ini, alhamdulillah sudah tertanam bibit rohani murid-murid Masih Mau’ud a.s. Walaupun jumlahnya hanya sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Madya yang demikian luas dan padat.

Pembawa khabar suka kedatangan Imam Mahdi a.s. yang mula-mula sekali adalah Budi Santoso yang baiat di Semarang melalui Abdullah Hasan. Kemudian khabar suka itu disampaikan kepada

teman-temannya dari Hadist, sehingga Imam Harsono menyatakan baiat pada tahun 1971 dengan mengirimkan surat baiat langsung ke Jakarta dan disusul oleh bapak-bapak yang lain dan kaum ibu yaitu Ny. Budi Santoso tahun 1971.

Dengan baiatnya beberapa kaum bapak dan kaum ibu, maka pada bulan November 1971 dibentuklah Jemaat Indonesia ranting Madiun di bawah Jemaat Ahmadiyah Indonesia cabang Surabaya, yang dihadiri oleh Raisut-Tabligh, Mlv. Muhammad Sadiq H.A. alm.

Pembentukan ranting ini diadakan sewaktu pengajian di rumah Ny. Sutomo dengan mengundang tokoh-tokoh organisasi / partai antara lain, dari PSII dan Parmusi. Tokoh-tokoh ini membuat pertanyaan pertama yang maksudnya ingin membelokkan pembicara terhadap masalah politik, namun raisut-tabligh menjawab bahwa Ahmadiyah bukan partai politik.

Bersamaan dengan pembentukan ranting JemaatAhmadiyah Madiun, pada tahun 1971, dibentuk pila ranting Madiun yang disponsori oleh Ny. Suciati Diapari Siregar. Susunan pengurus pertama diketuaai oleh Ny. Sutomo, dan anggota pada waktu itu berjumlah 10 orang. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pengajian mengikuti ibadah shalat Jumat , arisan bulanan dan kewanitaan.

LI ranting Madiun ini bernaung di bawah LI cabang Surabaya yang sering mengadakan peninjauan dan pemnbinaan ke ranting Madiun.

Pada tahun 1975 bersamaan pula dengan peresmian Jemaat Ahmadiyah Cabang Madiun diresmikan pula LI ranting Madiun manjadi cabang, diketuai oleh Ny. Edi Hidayat.

4. Jemaat ahmadiyah Cabang Ikatan Saudara

Pada tahun 1949 pada saat itu di Sulawesi Selatan sedang bergejolak pemberontakan gerombolan Kaharmuzakar, maka keluarga besar Abdul Aziz Daeng Patombong yang dipimpin oleh putra beliau Ambok Sakka Daeng Malintak (Almarhum) untuk mencari keamanan dan kedamaian beliau terpaksa meninggalkan kampung halaman (Bone Sulawesi Selatan) menuju ke Riau Sumatera untuk mencari tempat kedamaian yang baru tepatnya di Pulau Kijang. Disanalah beliau membuka lahan pertanian pasang surut dan juga lahan perkebunan kelapa yang membuat kehidupan keluarga cukup makmur dan memberikan harapan cerah lebih kurang 10 tahun. Pada saat anakanak mereka telah besar dan ingin melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, karena pada saat itu di pulau Kijang hanya ada Sekolah Dasar untuk melanjutkan pendidikannya lebih tinggi harus ke Pekan Baru, Padang atau ke Palembang. Maka pada saat anak Bapak Daeng Pasarak yang bernama Sayuti Aziz Ahmad tamat dari Sekolah Dasar di Sungai Batang ia tidak mau ketinggalan dengan temantemannya yang melanjutkan pendidikan ke Pekan Baru, Padang dan Palembang. Maka Sayuti Aziz Ahmad mendesak orang tuanya agar ia di sekolahkan juga, karena kemauan yang keras dari Sayuti Aziz Ahmad (yang kini Muballigh/ Raisuttabligh) dengan berat hati orang tuanya melepaskannya seorang diri dari Riau menuju ke Tanjung Karang Lampung, dan ia pun mendaftar masuk sekolah SMEP, dan di tempat ia bersekolah tidak ada sanak saudara. Setahun kemudian yaitu pada tahun 1959 Almarhum Bpk.Daeng Malintak (Paman) Sayuti Aziz menyusul ke Tanjungkarang Lampung dan membukan lahan pertanian di Tegineneng seluas 100 hektar ± 35 KM dari Tanjungkarang. Pada

mulanya beliau hendak membeli tanah di Haji Mena Natar tetapi tidak jadi karena kurang menyenangkan, maka pada suatu saat beliau bermimpi agar ia membeli tanah yang diapit oleh Jalan Kereta Api dan Jalan Raya dan di sana beliau mendirikan sebuah menara yang dibawahnya terdapat kolam yang bersisi air yang jernih. Di sanalah beliau mendirikan gubuk dan kampung itu diberi nama Ikatan Saudara. Tiga tahun kemudian Kakanda dan adikadik Daeng Malintak menyusul ke Lampung.

6. Jemaat Lampung.

Kira kira pada tahun 1961 di Tanjungkarang sudah ada beberapa keluarga Ahmadi yaitu Bpk.M. Suwono, M. Dungtjik T dan Bpk.O. Rosadi yang merupakan perintis Jemaat yang ada di Lampung pada saat itu menjadi Ranting istimewa dibawah bimbingan Bpk. Zaini Dahlan. Anggota Jemaat Lampung tersebar ditempat yang berjauhan dan agak sukar komunikasinya, sehingga harus dibagi dalam kelompok yaitu:

• Kelompok Betung • Daerah Ikatan Saudara. • Daerah Tanjungkarang.

Pada tahun 1963 pada saat itu diadakan perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw di Tanjungkarang/Teluk Betung yang pembicara adalah Bpk. Mlv. Zaini Dahlan setelah beliau berbicara, maka pembicara yang kedua Bpk. Daeng Malintak, yang diharapkan dapat menyangkal uraian Bpk. Mlv. Zaini Dahlan karena tidak sama dengan keyakinan mereka pada saat itu. Tetapi kenyataannya Bpk. Daeng Malintak tidak dapat berbuat apa apa, karena yang diuraikan oleh Bpk. Mlv.Zaini Dahlan tersebut. adalah benar dan tidak dapat dibantah karena berdasarkan Alquran dan Hadits, pada saat itu Bpk. Daeng Malintak langsung menghubungi Bpk. Mlv. Zaini Dahlan dan minta bukubuku dan diberikanlah sebuah buku dengan judul Kebenaran Almasih. Buku tersebut beliau pelajari dan bersembunyi

di Hotel selama satu minggu dan tidak pulang kerumah, maka keluargapun merasa gelisah dan menyangka bahwa beliau kawin lagi.

Seminggu kemudian beliau pulang ke Tegineneng dan membawa Bpk. Mlv. Zaini Dahlan ke rumahnya dan di sanalah beliau berdialog dengan leluasa. Setiap uraian/penjelasan yang dikemukakan oleh Bpk. Zaini Dahlan tidak dapat disangkal oleh Bpk. Daeng Malintak, pada malam harinya ia tidak dapat tidur memikirkan halhal luar biasa yang dikemukakan oleh Bpk. Zaini Dahlan, dan baru kali ini ia menemukan uraian ajaran Islam yang hakiki dan luar biasa, sesuai dengan pesan orang tuatua dahulu katanya. Kalau Imam Mahdi datang maka bergabunglah dengan mereka. Dengan penuh keyakinan Beliau pada tengah malam itu juga beliau membangunkan Bpk. Zaini Dahlan dan minta bai’at setelah shalat Istikharah dan saat itulah benih Jemaat mulai bersemi dan bertunas di Kampung Ikatan Saudara.

Tahun 1963 di Ikatan Saudara akan diadakan Perayaan Isra Miraj Nabi Muhammad saw dan telah ditetapkan pembicara adalah Bpk. Daeng Malintak dan pada saat Isra Miraj akan dimulai maka muncullah Bpk. Daeng Malintak dan membawa seorang Tua dan berjenggot putih dan mengenakan jubah, sehingga oleh keluarga Bpk. Daeng Malintak menyangka beliau itu adalah pendeta Kristen. Setelah beliau memberikan ceramah yang begitu menyentuh hati dan perasaan mereka mulai merasa lega dan simpatik dan sekaligus bangga karena telah menemukan orang yang akan menjadi guru mereka yang selama ini mereka cari.

Setelah acara selesai maka salah seorang adik sepupu Daeng Malintak yang bernama Mustafa yang saat itu ia seorang guru ngaji (Ustaz) mulai juga mengadakan perlawanan dengan mengemukakan dalil yang ia miliki untuk mematahkan pendapat Bpk. Zaini Dahlan, tetapi ia tidak mampu, maka mulai pada saat itu mulailah bai’at masal antara lain: Bpk. Abdul Aziz Daeng Patombong, (kakek Bpk.

Mlv. Sayuti Aziz) dan disusul oleh anak dan menantu beliau dan satu keluarga adik beliau. Kemudian disusul pula dengan bai’atnya beberapa keluarga Daeng Patanra Mamase, Daeng Palawa, Daeng Masiseng, Hi Jepu, Daeng Pasabbi dan Daeng Mamase. Pembai’atan masal ini terjadi tgl. 13 Februari 1963.

Pada tahun 1965 ketika itu Bpk. Mlv. Mohammad Ayyub bertugas sebagai Muballigh di Lahat SumSel. Sekalisekali beliau juga datang ke Jemaat Ikatan Saudara Lampung untuk memberikan tarbiyat pada Jemaat yang baru tumbuh itu, ketika beliau melihat bahwa di Kampung Ikatan Saudara ada tiga orang Pemuda yang baru selesai tamat SLTA beliau sangat besar perhatiannya kepada ketiga pemuda tersebut karena melihat keikhlasannya dalam Jemaat. Akhirnya Bpk. Mlv. Mohammad Ayyub menulis surat ke Bpk. Raisuttabligh di Jakarta (ketika itu Bpk. Sayyid Syah Muhammad AlJaelani) agar ketiga Pemuda itu yaitu: Sayuti Aziz, Muh.Mustafa dan Moh.Tahir dikirim ke Rabwah Pakistan untuk memperdalam ilmu agama Islam di Jamiah Ahmadiyah Rabwah Pakistan. Akhirnya permohonan beliau langsung diterima, beberapa bulan kemudian datanglah surat panggilan dari Wakilut Tabshir Rabwah Pakistan atas nama Sayuti Aziz Ahmad, Moh. Mustafa dan Moh.Tahir. Ketika ketiga orang ini siap akan berangkat ke Rabwah Pakistan, tibatiba timbul pemberontakan PKI. Akhirnya keberangkatan ke Rabwah tertundatunda. Bulan Juni 1966 tibatiba ada telegram dari Raisuttabligh Bpk. Mlv. Imamuddin HA yang ditujukan kepada Sayuti Aziz, agar segera berangkat ke Jakarta untuk selanjutnya diberangkatkan ke Rabwah Pakistan bersama tiga orang pemuda dari Jakarta, Zulkifli Lubis dan Lukman Idris Sulaeman dari Medan. Sungguh karunia besar bagi pemuda Sayuti Aziz karena dari antara temannya dua orang di Lampung Ikatan Saudara dia yang terpilih untuk berangkat ke Rabwah, mengingat keuangan Jemaat pada saat itu mengalami kesulitan Devisa tidak bisa beli tiket pesawat ke Luar Negeri. Dan yang memilih langsung nama Sayuti Aziz adalah Bpk

Raisuttabligh sendiri. Akhirnya bulan Juni 1966 seorang Pemuda dari Jemaat Ranting Ikatan Saudara diberangkatkan ke Rabwah Pakistan untuk belajar di Jamiah Ahmadiyah Rabwah Pakistan.

Tahun 1972 Sayuti Aziz menyelesaikan studynya di Jamiah dikirim kembali ke Indonesia sebagai Muballigh, setiba di Indonesia maka Raisuttabligh, Mln. Mohammad Sadiq H.A. pada waktu itu menugaskan Mlv. Sayuti Aziz sebagai Muballigh untuk Propinsi Lampung dan SumBagsel dan berkedudukan di Ikatan Saudara dengan bekerjasama dengan Muballigh Senior Mlnv. Mohammad Ayyub Almarhum yang berkedudukan di Lahat.

Setelah bertugas selama 24 tahun sebagai Muballigh, di beberapa tempat dan wilayah Indonesia, SumbagSel., Jabar, Jateng dan Luar Negeri seperti Philipina, Malaysia dan Singapore serta menjabat Direktur Jamiah berturutturut selama 10 tahun dari tahun 19851995. Maka pada bulan Juni 1996 Maulvi Sayuti Aziz Ahmad, Sy.yang bai’at di Ranting Ikatan Saudara adalah merupakan pemuda Perintis berdirinya Jemaat Ikatan Saudara diangkat oleh Sayyidina Hadhrat Khalifatul Masih ke IV atab menjadi Raisuttabligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia SK.No. 13587 Tgl. 18 May 1996.

Dengan diangkatnya Mlv. Sayuti Aziz sebagai Raisuttabligh yang menggantikan Maulana H. Mahmud Ahmad Cheema HA, Sy. Maka beliau merupakan Raisuttabligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang ke VII selama kurun waktu 75 tahun berdirinya Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Tn. M1n. Rahmat Ali Raisuttabligh

Dokumen terkait