BAB V ANALISIS DATA
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 3.1 Gambaran Umum Kota Tanjung Balai
1. Perkembangan dan Kondisi Sosial Masyarakat
Perkembangan kondisi sosial masyarakat di Kota Tanjungbalai menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari penyebab utama adanya permukiman kumuh. Kondisi sosial yang beragam menyebabkan permasalahan yang ada dimasyarakat menjadi kompleks. Kota Tanjungbalai juga terkenal dengan kondisi sosial yang sangat lekat satu dengan yang lainnya dan juga tidak terlepas dari faktor agama dan suku yang mayoritas masyarakat nya beragama Islam dan bersuku Batak. Hal ini jugalah yang terkadang menjadi salah satu faktor permukiman kumuh, yaitu masyarakat cenderung ingin bertempat tinggal ditempat yang bermayoritas agama ataupun bermayoritas suku yang sama, sehingga mengharapkan kontak sosial budaya yang lekat dan terkesan kekeluargaan. Hal demikian seharusnya tidak dapat dibiarkan, karena masyarakat yang berpikiran demikian cenderung lebih merasa nyaman bermukim dimana saja asalkan dengan mayoritas yang sama dengannya tanpa memikirkan aspek rumah hunian yang sesuai dengan syarat rumah layak huni.
Dan ketika pihak Dinas Perumahan dan Permukiman beserta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tanjungbalai melakukan sosialisasi tentang strategi pembangunan perumahan dan permukiman untuk meminimalisir permukiman kumuh ke masyarakat setempat, sebagian mereka terkesan cuek dan tidak mau tau dikarenakan mereka akan berfikir bahwa lingkungan baru berarti orang-orang yang baru juga. Masyarakat selalu
berfikir bahwa sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan takut untuk bersaing dengan orang yang baru.
Menurut Sajidah, selaku pegawai Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai tentang masyarakat permukiman kumuh:
“Sosialisasi dari pihak Dinas Perkim sudah ada, masyarakat nya sendiri sebagian merasa senang karena akan berpindah lokasi dan memiliki rumah yang lebih layak, namun sebagian masyarakat malah berfikir untuk tidak perlu pindah ke rusunawa tersebut dikarenakan masyarakat berfikir rumah yang mereka bangun dengan uang sendiri sudah lebih dari cukup daripada harus membayar uang sewa rumah yang tempatnya cenderung lebih jauh dari pusat kota.”
Menurut Bapak Doni Ardin, ST selaku Kepala Sub Bidang Tata Ruang Bappeda Kota Tanjungbalai, tentang masyarakat permukiman kumuh:
“Masyarakat Tanjungbalai umumnya yang tinggal di permukiman kumuh adalah sistem persaudaraan, kenapa demikian dikarenakan satu keluarga akan menetap ditempat yang sama ketika perekonomian keluarga mereka menengah kebawah atau bawah dibawah rata-rata pendapatan biasanya. Dengan sistem kekeluargaan yang turun temurun tersebut, akan lebih sulit untuk meyakinkan mereka agar pindah dan turut aktif dalam strategi peminimalisiran permukiman kumuh di Kota Tanjungbalai. Mereka akan takut ketika keluarga mereka tidak bisa menyanggupi persyaratan sewa rusunawa dan ketika mereka kembali ke permukiman kumuh, permukiman tersebut sudah digusur.”
Selain sosial budaya masyarakat, faktor ekonomi juga menjadi beban hambatan tersendiri untuk mengimplementasikan strategi pembangunan perumahan dan permukiman layak huni tersebut. Dikarenakan menurut masyarakat nya sendiri rata-rata penghasilan mereka tidak akan sanggup untuk membayar uang sewa di rusunawa, padahal kenyataannya adalah menurut
RPJMN 2004-2009 tujuan rusunawa dibangun adalah sebagai wujud keberpihakan bagi Masyarakat yang Berpenghasilan Rendah (MBR) .
Menurut Bapak Usdek, ST selaku Pengawas Bangunan Gedung di Dinas Pekerjaan Umum Kota Tanjung Balai mengatakan :
“Masyarakat yang tinggal dirusunawa adalah masyarakat dengan perekonomian menengah kebawah dan dibawah rata-rata, pekerjaan mereka pun tidak tetap.”
Selanjutnya Muhardi Al-hafis selaku Unit Pengawas Rusunawa menjelaskan :
“Masyarakat yang tinggal di Rusunawa sebagian besar adalah pindahan dari Kelurahan Sei Raja, Kampung Baru, dan Pasar Baru.
Kalau masalah rata-rata pendidikan keluarga di Rusunawa SD-SMA dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp.500000 sampai Rp.1.500000 dan dengan tanggungan anggota keluarga yang dibatasi yaitu 1 keluarga penghuni rusunawa harus mempunyai anak sekitar 2-4 anak saja tidak lebih. Sedangkan untuk rata-rata pekerjaan masyarakat rusunawa sendiri sangat beragam mulai dari nelayan, buruh lepas, tukang bentor, wiraswasta, dan berdagang.”
Lalu penulis mewawancarai beberapa masyarakat penghuni rusunawa, dengan Ibu Masnun selaku warga penghuni Rusunawa :
“Saya tinggal dirusunawa I ini sudah hampir 8 tahun lah dihitung tahun ini. Pekerjaan awal saya sebelum pindah ke rusunawa hanya ibu rumah tangga dirumah saja mengurus anak, setelah pindah ke rusunawa saya membuka kios kecil-kecilan yang alhamdulillah sedikit membantu pemasukan keluarga. Kios saya sendiri saya bangun di area terbuka yang memang diberikan khusus oleh pihak rusunawa untuk dipergunakan dengan layak udah sekitar 2 bulan lebih lah. Ya seperti saya membuka kios kecil, ada yang membuka warung makan dan warung kopi.”
Selanjutnya ada Bapak Juned, beliau menjelaskan tentang rusunawa sebagai berikut:
“Saya disini sudah berapa tahun saya lupa jelasnya saya disini sejak rusunawa I pertama kali dibangun, awal nya saya pindahan dari Teluk Nibung. Saya pindah kesinii awal nya hanya ingin mencoba hidup diluar lingkungan saya biasanya, karena saya lihat potensi saya disana juga sudah tidak ada lagi. Dulu saya tinggal di dekat gudang ikan Teluk Nibung, jadi bau ikan itu lengket sampai kerumah, anak saya ada yang masih kecil jadi atas saran tetangga juga ini pindah ke rusunawa, dulupun ada sosialisasi pindah ke rusunawa ya dicoba saja dulu. Jadi saya yang hanya berprofesi sebagai buruh lepas di Teluk Nibung pun mencoba membawa keluarga kesini, disini murah Cuma 50 ribu udah dapat kamar, walaupun rumah nya sederhana dan harus dirombak-rombak lagi kayak buat sekat untuk kamar, kamar anak, untuk ruang menonton ya masih ada jugala untungnya untuk keluarga, setidaknya layak huni.”
Lalu ada Ibu Riska :
“Saya pindahan dari Sei Tualang Raso anggota baru di rusunawa III, baru sekitar 1 tahun lah, karena tetangga yang lain pasti udah agak lebih lama dibanding saya. Dulu rumah saya dipinggir sungai, sering banjirlah kalau lagi pasang jadi suami bilang kenapa gak coba pindah ke rusunawa aja agak lebih bersih pun masih baru. Saya buka warung kopi kalau malam hari, kalau siang ini tutup soalnya agak jarang orang dirusunawa ini minum kopi atau duduk-duduk ke warung saya karena mungkin semua nya sibuk kerja di sianghari, tapi kalau sudah malam alhamdulillah rame juga sama bapak-bapak yang Cuma sekedar duduk-duduk minum kopi, becerita gitu aja. Menurut saya pribadi, Rusunawa III agak lebih mending kalau dibandingkan dengan Rusunawa I sama II, karena udah agak lapang juga sepertinya pun masih agak baru jadi fasilitasnya masih ada juga yang baru, saya dulu juga dapat kamar atau
udah ada sekat antar kamar dan ruang tamunya, jadi udah gak merombak-rombak lagi. Harga nya pun sama, cuman yang buat beda ya lantai nya saja semakin keatas semakin mahal. Tapi kalau di Rusunawa IV saya perhatikan juga udah ditempati semua sampai ke lantai paling atas, mungkin karena bersih dan masih baru. Saya rasa kalau kekurangan rusunawa ini cuma satu, kekerabatan atau tetangga-tetangga ini lah, lingkungan sosialnya kan hampir 24jam ketemu jadinya kadang ada yang iri atau gak senang agak susah untuk bertetangga terkadang. Tapi ya kan kembali di awak juga ya namanya tinggal di rusun ya harus begitu yakan.”
Menurut Ibu Juli tentang rusunawa :
“Saya cuma ibu rumah tangga, tapi kalau suami saya buruh sama nelayan, karena nelayan kan ada waktu tertentu bisa turun ke laut, jadinya ya sampingan. Ekonomi saya disini juga lumayan lah, kan agak lebih dekat juga ke Teluk Nibung tempat suami kerja, punya kenderaan pribadi juga jadinya ya tidak ada keluhan. Cuman dirusunawa yang saya sayangkan kemana-mana saya jauh contohnya mengantar anak saya sekolah di SD di kampung baru kalau tidak ada kendaraan pribadi ya kendaraan umum jarang lewat disini, jadinya susah. Kalau jalan raya udah diaspal semua kok udah bagus semua, saya tinggal di Rusunawa IV udah sekitar 1 tahun lah kan ini baru siap juga sama kayak rusunawa V tapi agak lebih cepat yang IV.”
Selanjutnya Ibu Nia Riska Nasution, SE menjelaskan rincian harga sewa Rusunawa Kota Tanjungbalai :
“Harga sewa Rusunawa disini sesuai dengan lantai nya, semakin tinggi tingkatnya semakin naik pula harganya. Jadi masyarakat akan berlomba-lomba untuk menempati Rusunawa pada lantai paling bawah, karena itu tadi semakin ke atas semakin mahal harganya. Rusunawa IV dan V juga kita tetapkan agak lebih mahal karena tipe Rusunawa IV dan V juga agak lebih besar dari Rusunawa I, II dan III.”
Tabel 4.2
Beliau juga memberikan tabel harga sewa Rusunawa, sebagai berikut:
Harga Sewa Rusunawa I, II, III / bulan Lantai I Lantai II Lantai III Lantai IV Rp.50000 Rp.45000 Rp.40000 Rp.35rb
Harga Sewa Rusunawa IV dan V / bulan
Lantai I Lantai II Lantai III Lantai IV Rp.57000 Rp.52000 Rp.47000 Rp.42000
2. Kemitraan
Salah satu keunggulan suatu program didalam sebuah organisasi adalah dengan mengandalkan kemitraan yang bertujuan untuk lebih memberikan program atau kegiatan yang lebih unggul dan mampu berkompetensi dibidangnya, sehingga program tersebut dapat berjalan dengan baik kedepannya dan dengan tanggungjawab yang terbagi atas kemitraan yang besar. Sehingga program tersebut tidak akan takut untuk berhenti ditengah jalan karena sudah di proposisi oleh banyak stakeholder terkait.
Dalam hal ini program Rusunawa di laksanakan oleh UPT Rusunawa pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Tanjungbalai. Pada awal program kemitraan Rusunawa akan bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tanjungbalai dan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai untuk selanjutnya dilapangan adalah Unit Pengelola Teknis Rusunawa dibawah naungan dan tanggungjawab penuh dari Dinas Pekerjaan Umum. Untuk selanjutnya setelah Rusunawa selesai dibangun, kemitraan juga tidak akan putus dan tetap berjalan dengan baik, bahkan akan direkrut
kemitraan yang lebih sesuai dengan di lapangan, seperti Dinas Kebersihan dan Dinas Keamanan.
Menurut Ibu Idawati Tanjung, SH, M.Ap :
“Kemitraan yang terkait dengan rusunawa antara lain, Dinas Kebersihan dan Pasar yang bertugas untuk mengatur jadwal pengambilan sampah pada lingkungan perumahan Rusunawa, yang biasanya dijadwalkan pada setiap sore hari. Kemudian ada Dinas Keamanan yang mana bertugas untuk memantau aktifitas yang mencurigakan karena sering terjadinya kontak sosial antar warga rusunawa dan juga menjaga dan menjamin keamanan masyarakat rusunawa agar lebih aman dan nyaman. Sayangnya hal tersebut belum direalisasikan dikarenakan suatu hambatan, mungkin akan terealisasikan pada bulan April 2017 mendatang.”
Selain membangun kemitraan dengan badan instansi terkait, Dinas Pekerjaan Umum khususnya UPT Rusunawa menjalin kemitraan dengan masyarakat permukiman kumuh atau pendekatan kepada masyarakat. Dengan dilakukannya pendekatan dan pemberdayaan awal kepada masyarakat, diharapkan masyarakat mampu memahami tujuan dari peminimalisir permukiman kumuh dengan strategi permbangunan perumahan yang lebih layak huni, atau sekarang disebut Rusunawa.