• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keuangan DaerahBAB 6

A. PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD DKI Jakarta sampai Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD DKI Jakarta sampai Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD DKI Jakarta sampai Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD DKI Jakarta sampai Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD DKI Jakarta sampai dengan kuartal ketiga berjalan relatif lamban, khususnya pada pos belanja.

dengan kuartal ketiga berjalan relatif lamban, khususnya pada pos belanja. dengan kuartal ketiga berjalan relatif lamban, khususnya pada pos belanja. dengan kuartal ketiga berjalan relatif lamban, khususnya pada pos belanja.

dengan kuartal ketiga berjalan relatif lamban, khususnya pada pos belanja. Sebagai gambaran, dalam dua tahun terakhir, realisasi belanja APBD DKI Jakarta sampai dengan triwulan III di bawah angka 50,0%. Dengan pola realisasi APBD seperti ini, maka mengharapkan APBD sebagai stimulus fiskal pada paruh pertama tahun anggaran relatif sukar. Sesuai pola yang selama ini terjadi, belanja APBD pada umumnya melonjak di triwulan IV.

1 Pengesahan APBD dilaksanakan dengan Perda No. 2/2008 pada tanggal 18 Maret 2008. Sementara itu, APBDP 2008 baru disahkan pada tanggal 29 Agustus 2008.

a. Realisasi Pendapatan APBD 2008

Realisasi pendapatan sementara APBD 2008 sampai dengan triwulan III 2008 Realisasi pendapatan sementara APBD 2008 sampai dengan triwulan III 2008 Realisasi pendapatan sementara APBD 2008 sampai dengan triwulan III 2008 Realisasi pendapatan sementara APBD 2008 sampai dengan triwulan III 2008 Realisasi pendapatan sementara APBD 2008 sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 53,4%, relatif masih rendah (Tabel VI.2).

mencapai 53,4%, relatif masih rendah (Tabel VI.2). mencapai 53,4%, relatif masih rendah (Tabel VI.2). mencapai 53,4%, relatif masih rendah (Tabel VI.2).

mencapai 53,4%, relatif masih rendah (Tabel VI.2). Realisasi pendapatan daerah yang rendah ini terutama bersumber dari masih rendahnya realisasi dana perimbangan (41,5%) dan juga Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru mencapai 63%. Pada Pos dana Perimbangan transfer dana bagi hasil pajak belum sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah pusat sehingga realisasinya rendah. Sementara itu, rendahnya realisasi pos PAD bersumber dari rendahnya realisasi pendapatan lain-lain (24,8%) sementara sumber pendapatan asli daerah terbesar, yaitu pajak daerah baru terealisasi 68,5%. Diharapkan pencapaian realisasi penerimaan pajak daerah sampai dengan akhir tahun akan meningkat, terutama yang berasal dari pajak kendaraan bermotor. Data menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di DKI Jakarta masih meningkat cukup tinggi. Selain itu, Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Pendapatan Daerah berusaha mengoptimalkan potensi pajak daerah, disamping melalui upaya intensifikasi juga akan dilakukan melalui peningkatan tarif pajak kendaran bermotor. Untuk keseluruhan tahun, Pemda DKI Jakarta optimistis pendapatan daerah bisa mencapai maksimal 95 persen dari yang ditargetkan.

Tabel Tabel Tabel Tabel

VI.1-Tabel VI.1-APBD DKI Jakarta dan Realisasi Triwulan III 2007 dan Triwulan III 2008 (Miliar Rupiah) Pendapatan Pendapatan Pendapatan Pendapatan Pendapatan

Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah 10.084,310.084,310.084,310.084,310.084,3 6.268,66.268,66.268,66.268,66.268,6 62,262,262,262,262,2 10.381,510.381,510.381,510.381,510.381,5 6.537,96.537,96.537,96.537,96.537,9 63,063,063,063,063,0

Pajak Daerah 8.334,3 5.338,7 64,1 8.484,3 5.811,4 68,5

Retribusi Daerah 625,6 379,9 60,7 363,6 258,0 71,0

Laba Perusahaan Milik Daerah 139,4 129,7 93,0 171,0 131,1 76,7

Lain-Lain Pendapatan 985,1 420,3 42,7 1.362,7 337,3 24,8 Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan 7.572,17.572,17.572,17.572,17.572,1 4.487,44.487,44.487,44.487,44.487,4 59,359,359,359,359,3 8.380,08.380,08.380,08.380,08.380,0 3.480,73.480,73.480,73.480,73.480,7 41,541,541,541,541,5 Lain-Lain Penerimaan Yang Sah

Lain-Lain Penerimaan Yang Sah Lain-Lain Penerimaan Yang Sah Lain-Lain Penerimaan Yang Sah

Lain-Lain Penerimaan Yang Sah 653,1653,1653,1653,1653,1 544,2544,2544,2544,2544,2 83,383,383,383,383,3 30,030,030,030,030,0 22,322,322,322,322,3 ---Total Pendapatan Daerah

Total Pendapatan Daerah Total Pendapatan Daerah Total Pendapatan Daerah

Total Pendapatan Daerah 18.309,418.309,418.309,418.309,418.309,4 11.300,311.300,311.300,311.300,311.300,3 61,761,761,761,761,7 18.791,518.791,518.791,518.791,518.791,5 10.040,810.040,810.040,810.040,810.040,8 53,453,453,453,453,4 B e l a n j a

B e l a n j a B e l a n j a B e l a n j a B e l a n j a

Belanja Administrasi dan OpsBelanja Administrasi dan OpsBelanja Administrasi dan OpsBelanja Administrasi dan OpsBelanja Administrasi dan Ops 13.929,113.929,113.929,113.929,113.929,1 7.576,27.576,27.576,27.576,27.576,2 54,454,454,454,454,4 14.934,114.934,114.934,114.934,114.934,1 7.938,77.938,77.938,77.938,77.938,7 53,253,253,253,253,2

Belanja Pegawai 7.980,2 4.849,3 60,8 8.034,8 5.312,9 66,1

Belanja Barang dan Jasa 4.709,4 2.333,2 49,5 6.684,0 2.610,8 39,1

Belanja Perjalanan Dinas 56,9 38,9 68,4 -

-Belanja Pemeliharaan 1.182,6 354,8 30,0 - -Belanja Lain-lain - - - 215,3 15,0 7,0 Belanja Modal Belanja Modal Belanja Modal Belanja Modal Belanja Modal 6.142,76.142,76.142,76.142,76.142,7 811,0811,0811,0811,0811,0 13,213,213,213,213,2 5.107,45.107,45.107,45.107,45.107,4 669,9669,9669,9669,9669,9 13,113,113,113,113,1

Belanja Bantuan Keuangan 858,0 467,1 54,4 433,0 50,1 11,6

Belanja Tidak Tersangka 21,0 5,0 23,8 48,8 5,0 10,2

Total Belanja Daerah Total Belanja Daerah Total Belanja Daerah Total Belanja Daerah

Total Belanja Daerah 20.950,720.950,720.950,720.950,720.950,7 8.859,48.859,48.859,48.859,48.859,4 42,342,342,342,342,3 20.523,320.523,320.523,320.523,320.523,3 8.663,78.663,78.663,78.663,78.663,7 42,242,242,242,242,2 Surplus (Defisit) Surplus (Defisit) Surplus (Defisit) Surplus (Defisit) Surplus (Defisit) (2.641,3)(2.641,3)(2.641,3)(2.641,3)(2.641,3) 2.440,92.440,92.440,92.440,92.440,9 (1.731,8)(1.731,8)(1.731,8)(1.731,8)(1.731,8) 1.377,11.377,11.377,11.377,11.377,1 (79,5)(79,5)(79,5)(79,5)(79,5) Total Pembiayaan Total Pembiayaan Total Pembiayaan Total Pembiayaan Total Pembiayaan (2.641,3)(2.641,3)(2.641,3)(2.641,3)(2.641,3) (37,8)(37,8)(37,8)(37,8)(37,8) 1,41,41,41,41,4 1.731,81.731,81.731,81.731,81.731,8 1.762,91.762,91.762,91.762,91.762,9 101,8101,8101,8101,8101,8

Uraian (Rp Miliar) Anggaran 2007 Realisasi Tw-III 2007* % Anggaran 2008 Realisasi Tw-III 2008* %

Sumber : Biro Keuangan Pemprov DKI Jakarta * s.d. bulan September

71

Proporsi PAD yang relatif lebih tinggi menjadikan Jakarta dianggap relatif mandiri Proporsi PAD yang relatif lebih tinggi menjadikan Jakarta dianggap relatif mandiri Proporsi PAD yang relatif lebih tinggi menjadikan Jakarta dianggap relatif mandiri Proporsi PAD yang relatif lebih tinggi menjadikan Jakarta dianggap relatif mandiri Proporsi PAD yang relatif lebih tinggi menjadikan Jakarta dianggap relatif mandiri dalam hal anggaran (Grafik VI.1)

dalam hal anggaran (Grafik VI.1) dalam hal anggaran (Grafik VI.1) dalam hal anggaran (Grafik VI.1)

dalam hal anggaran (Grafik VI.1). Dalam Peraturan Presiden (perpres) No 110 tahun 2007 tanggal 6 Desember 2007 tidak dicantumkan berapa DAU yang diterima Provinsi DKI Jakarta. DKI Jakarta dianggap telah mampu memenuhi kebutuhan fiskalnya. Sesuai dengan UU No.33/2004 tentang Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka mulai tahun 2008 DAU dialokasikan dalam formula murni (non hold harmless). Konsekuensinya, daerah yang memiliki kapasitas fiskal lebih, mendapatkan DAU yang lebih kecil dari tahun sebelumnya atau tidak memperoleh sama sekali. Dana tersebut untuk selanjutnya dialihkan ke daerah miskin (balancing). Namun untuk tahun 2008 Pemprov DKI memperoleh dana penyesuaian DAU sebesar 25% dari total DAU 2007. Selain itu, APBD 2008 juga mengalami penambahan pendapatan daerah sebesar Rp 96,90 miliar dari Pemerintah Pusat yang terdiri atas hibah untuk PT MRT Rp63 miliar dan bantuan Tunjangan Pendidikan senilai Rp 33,90 miliar.

Grafik VI.1 Grafik VI.1 Grafik VI.1 Grafik VI.1 Grafik VI.1

Proporsi PAD dan dana Perimbangan dalam Penerimaan Daerah

%

Sumber : Biro Keuangan Jakarta

0 15 30 45 60 75 2005 2006 2007 2008

Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan

Grafik VI.2 Grafik VI.2Grafik VI.2 Grafik VI.2 Grafik VI.2

Proporsi Belanja Pegawai dan Belanja Modal dalam Belanja Daerah

% 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2005 2006 2007 2008

Belanja Administrasi dan Ops Belanja Modal

Sumber : Biro Keuangan Jakarta

b. Realisasi Belanja APBD 2008

Realisasi belanja daerah sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 42,2%, hampir Realisasi belanja daerah sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 42,2%, hampir Realisasi belanja daerah sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 42,2%, hampir Realisasi belanja daerah sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 42,2%, hampir Realisasi belanja daerah sampai dengan triwulan III 2008 mencapai 42,2%, hampir sama dibandingkan realisasi pada periode waktu yang sama tahun sebelumnya sama dibandingkan realisasi pada periode waktu yang sama tahun sebelumnya sama dibandingkan realisasi pada periode waktu yang sama tahun sebelumnya sama dibandingkan realisasi pada periode waktu yang sama tahun sebelumnya sama dibandingkan realisasi pada periode waktu yang sama tahun sebelumnya (42,2%).

(42,2%). (42,2%). (42,2%).

(42,2%). Realisasi APBD yang belum optimal tersebut terjadi baik pada pos belanja administrasi operasional maupun belanja modal. Pada pos belanja rutin, realisasi baru mencapai Rp 7,94 triliun (53,2%). Realisasi yang rendah terutama berasal dari masih rendahnya belanja barang dan jasa (39,1%). Di sisi belanja modal, realisasinya bahkan jauh lebih rendah lagi. Dari jumlah yang dianggarkan Rp

5,11 triliun baru terealisir Rp 669,9 miliar (13,1%). Secara keseluruhan, di luar belanja pegawai, realisasi APBD yang rendah tersebut antara lain dipengaruhi oleh keterlambatan pengesahan RAPBD dan berlikunya proses penyelesaian dan pengesahan APBD-P 2008 yang antara lain harus mengakomodasi adanya

pemangkasan anggaran oleh DPRD2. Permasalahan yang lain lebih terkait

dengan masalah teknis pengeluaran anggaran. Untuk keseluruhan tahun, Pemda DKI optimis bisa menyerap 85 persen atau sebesar Rp. 17,26 triliun dari APBD DKI 2008.

Untuk informasi tambahan, proporsi belanja administrasi dan operasional pada Untuk informasi tambahan, proporsi belanja administrasi dan operasional pada Untuk informasi tambahan, proporsi belanja administrasi dan operasional pada Untuk informasi tambahan, proporsi belanja administrasi dan operasional pada Untuk informasi tambahan, proporsi belanja administrasi dan operasional pada tahun 2008 tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2007.

tahun 2008 tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. tahun 2008 tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. tahun 2008 tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2007.

tahun 2008 tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. Hal ini terkait dengan peningkatan belanja pada pos dimaksud, terutama yang bersumber dari kenaikan gaji PNS sebesar 20 persen, sebagaimana diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.10/2008. Tambahan pengeluaran juga terjadi untuk Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) Gakin sebesar Rp30 miliar menjadi sebesar Rp 280 Miliar, dana Bantuan Operasional Sekolah, rehab total, berat, dan sedang 171 gedung sekolah, biaya operasional dan dana kehormatan RT/RW Rp 196 miliar, pencairan dan PPMK sebesar Rp 267 Miliar, pelunasan Gaji PTT, Kesra Guru Bantu, perbaikan jalan lingkungan, PJU, pengerukan kali untuk pencegahan banjir, serta pengoperasian bus sekolah.

Dokumen terkait