• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Kontribusi Sektor Pertanian dalam PDRB

Dalam dokumen Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Ek (Halaman 84-91)

1. Kontribusi sektor pertanian dalam PDRB a. Sebelum Pemekaran

Sektor pertanian di Kabupaten Induk mendominasi PDRB daerahnya. Untuk mengetahui bagaimana kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Induk sebelum dilakukannya pemekaran daerah, bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 25. Kontribusi Sektor Pertanian dalam PDRB Kabupaten Induk di Provinsi Sumatera Barat Sebelum Pemekaran.

Tahun Kabupaten Induk

Padang Pariaman Sijunjung Pasaman Solok

1987 43,94 - - - 1988 44,38 - - - 1989 44,62 - - - 1990 43,09 - - 1991 42,45 - - - 1992 41,98 - - - 1993 36,29 - - - 1994 35,38 - - - 1995 32,72 32,75 35,11 36,73 1996 31,85 32,29 35,26 36,04 1997 31,03 31,84 34,72 35,30 1998 33,31 32,88 36.73 37,44 1999 - 32,79 37,32 38,08 2000 - 28,28 49,94 41,92 2001 - 27,88 50,28 42,03 2002 - 28,10 50,66 42,47 2003 - 28,95 51,02 42,72 Rata-rata 38,42 30,64 42,35 39,19

Kontribusi sektor pertanian terbesar sebelum dilakukan pemekaran yaitu di Kabupaten Pasaman sebesar 42,35 persen, kemudian diikuti Kabupaten Solok sebesar 39,19 persen, dan Kabupaten Padang Pariaman sebesar 38,42 persen. Sedangkan kontribusi sektor pertanian yang paling terkecil yaitu di Kabupaten Sijunjung yaitu sebesar 30,64 persen.

b. Seletelah Pemekaran

Daerah Kabupaten Induk maupun Kabupaten DOHP merupakan daerah agraris, kehidupan masyarakat bergantung pada sektor pertanian. Kontribusi sektor pertanian dalam PDRB untuk Kabupaten Induk dan DOHP dapat dilihat pada lampiran 6.

Sektor pertanian merupakan sektor yang menyumbang pendapatan terbesar dalam pembentukan PDRB DOHP dan Kabupaten Induk.

Tabel 26. Kontribusi Sektor Pertanian dalam PDRB Kabupaten DOHP di Provinsi Sumatera Barat Setelah Pemekran (persen).

Tahun Kabupaten Kep. Mentawai Dharmasraya Solok Selatan Pasaman Barat

2000 54,58 - - - 2001 54,67 - - - 2002 54,62 - - - 2003 55,14 - - - 2004 55,61 39,70 39,08 30,93 2005 55,06 39,55 38,86 31,99 2006 54,25 39,39 38,54 21,79 2007 54,25 39,29 38,21 32.09 2008 54,17 37,31 37,96 32,35 2009 53,93 37,45 37,68 32,60 2010 53,83 37,10 37,08 32,82 2011 53,80 36,78 36,60 33,04 2012 53,50 36,28 36,10 33,27 Rata-rata 54,42 38,09 37,79 32,08

Sumber: BPS Sumatera Barat (data diolah)

Kontribusi sektor pertanian terbesar di Kabupaten DOHP yaitu di Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan rata-rata sebesar 54,42 persen, yang kemudian diikuti

oleh Kabupaten Dharmasraya rata-rata sebesar 38,09 persen, dan Kabupaten Solok Selatan rata-rata sebesar 37,79 persen. Sedangkan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB terkecil yaitu di Kabupaten Pasaman Barat dengan rata-rata sebesar 32,08 persen.

Tabel 27. Kontribusi Sektor Pertanian dalam PDRB Kabupaten Induk di Provinsi Sumatera Barat Setelah Pemekaran (persen)

Tahun Kabupaten Padang Pariaman Sijunjung Solok Pasaman

2000 31,79 - - - 2001 31,81 - - - 2002 31,43 - - - 2003 31,17 - - - 2004 31,01 29,21 42,76 51,49 2005 29,72 28,64 42,71 51,69 2006 25,65 27,94 42,58 51,80 2007 25,11 26,73 42,41 51,96 2008 25,01 26,57 42,21 51,86 2009 24,57 26,31 42,06 51,93 2010 23,89 26,22 42,16 51,84 2011 23,27 26,10 42,13 51,80 2012 22,68 25,97 42,03 51,74 Rata-rata 27,90 27,08 42,34 51,79

Sumber: BPS Sumatera Barat (data diolah)

Kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Kabupaten Induk terbesar yaitu di Kabupaten Pasaman dengan rata-rata sebesar 51,79 persen, yang kemudian diikuti oleh Kabupaten Solok dengan rata-rata sebesar 42,34 persen, dan Kabupaten Sijujung rata-rata sebesar 27,08 persen. Sedangkan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Kabupaten Induk terkecil yaitu di Kabupaten Padang Pariaman yang rata-rata sebesar 26,42 persen.

Rata-rata kontribusi sektor pertanian dalam PDRB kabupaten DOHP pada periode 2004 – 2012 yaitu sebesar 40,6 persen, sedangkan rata-rata kontribusi sektor pertanian dalam PDRB kabupaten induk yaitu sebesar 36,91 persen. hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi di Kabupaten DOHP masih sangat dominan sektor pertaniannya dibandingkan dengan Kabupaten Induk.

2. Laju pertumbuhan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB a. Sebelum Pemekaran

Laju pertumbuhan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Kabupaten Induk sebelum dilakukan pemekaran bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 28. Laju Pertumbuhan Sektor Pertanian di Kabupaten induk di Provinsi Sumatera Barat Sebelum dilakukan Pemekaran.

Tahun Kabupaten Induk

Padang Pariaman Sijunjung Pasaman Solok

1988 8,42 - - - 1989 7,57 - - - 1990 3,45 - - - 1991 3,57 - - - 1992 6,19 - - - 1993* 153,49 - - - 1994 5,21 - - - 1995 1,63 - - - 1996 5,00 6,01 7,52 5,79 1997 1,82 3,36 2,88 2,66 1998 2,30 -0,40 2,41 2,11 1999 2,25 1,22 3,13 3,25 2000** - 31,87 106,24 139,75 2001 - 2,60 4,16 4,05 2002 - 5,49 5,22 5,43 2003 - 7,84 5,39 5,49

Sumber: BPS Sumatera Barat (data diolah)

Catatan: *) tahun 1993 – 1999 menggunakan data ADHK 1993 **)tahun 2000 – 2003 menggunakan data ADHK 2000

Berdasarkan Tabel 28 di atas laju pertumbuhan sektor pertanian laju pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten induk sebelum dilakukan pemekran terlihat berfluktuatif.

Dan berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan teknik Berganda Berganda untuk mengetahui laju pertumbuhan sektor pertanian sebelum pemekaran. Maka diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 29. Hasil Analisis Laju Pertumbuhan Sektor Pertanian di Kabupaten Induk sebelum pemekaran di Provinsi Sumatera Barat (%) dengan Menggunakan Analisis Trend Perkembangan

Laju pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten Sijunjung sebelum dilakukan pemekaran yaitu sebesar 6,8 persen, kabupaten Pasaman sebesar 13,5 persen, Kabupaten Solok 15,5 persen dan Kabupaten Padang Pariaman sebesar 12,3 persen.

b. Setelah Pemekaran

Laju pertumbuhan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Kabupaten DOHP maupun kabupaten induk pada setelah terjadinya pemekaran berfluktuatif setiap tahunnya. Untuk kabupaten DOHP, laju pertumbuhan kontribusi sektor pertanian Kabupaten Pasaman Barat cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten DOHP lainnya.  Sedangkan untuk kabupaten induk, laju pertumbuhan kontribusi sektor pertanian Kabupaten Pasaman cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten induk lainnya

Tabel 30. Laju Pertumbuhan Sektor Pertanian di Kabupaten DOHP dan Kabupaten Induk di Provinsi Sumatera Barat setelah pemekaran (persen)

Tahun Kabupaten DOHP Kabupaten Induk Kepulaun Mentawai Dharmasraya Pasaman Barat Solok Selatan Padang Pariaman

Sijunjung Pasaman Solok

2001 4,21 - - - 3,91 - - - 2002 5,99 - - - 3,39 - - - 2003 6,62 - - - 3,85 - - - 2004 5,04 - - - 4,75 - - - 2005 2,36 5,07 8,55 5,08 5,35 3,25 6,02 5,75 2006 2,52 5,85 7,29 4,97 2,73 3,37 5,99 5,70 2007 4,42 6,20 7,42 5,17 3,87 1,03 6,26 5,82 2008 4,37 1,15 7,28 5,42 5,83 4,68 5,86 5,86 2009 4,15 7,06 7,08 5,34 2,09 4,54 6,27 5,85 2010 4,70 5,50 7,10 4,57 2,27 5,17 5,96 6,30 2011 4,86 5,62 7,12 4,97 2,77 5,26 6,06 6,06 2012 4,65 5,19 7,22 5,00 3,32 5,56 6,05 5,99

Sumber: BPS Sumatera Barat (data diolah)

Kabupaten Induk Nilai i

Padang Pariaman 6,8

Sijunjung 13,5 Pasaman 15,5 Solok 12,3

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan teknik Berganda Berganda untuk mengetahui laju pertumbuhan sektor pertanian. Maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tebel 31. Hasil Analisis Laju Pertumbuhan Sektor Pertanian di Kabupaten DOHP dan Kabupaten Induk di Provinsi Sumatera Barat (%) dengan Menggunakan Analisis Trend Perkembangan

Dari Tabel 31 di atas dapat diketahui rata-rata tingkat laju pertumbuhan sektor pertanian setelah pemekaran di kabupaten DOHP yaitu: Kabupaten Pasaman Barat memiliki laju pertumbuhan sektor pertanian tertinggi sebesar 7,38 persen, yang kemudian diikuti oleh Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,19 persen, Kabupaten Solok Selatan sebesar 5,06 persen dan Kabupaten Kepulauan Mentawai sebesar 4,48 persen. Kemudian untuk kabupaten induk yaitu: Kabupaten Pasaman sebesar 6,04 persen, Kabupaten Solok sebesar 5,92 persen, Kabupaten Sijunjung sebesar 4,08 persen dan Kabupaten Padang Pariaman sebesar 3,67 persen.

Dari hasil analisis laju pertumbuhan sektor pertanian dalam PDRB daerah untuk semua kabupaten baik kabupaten induk maupun kabupaten DOHP berrnilai positif, hal ini menunjukkan bahwa sumbangan pendapatan sektor pertanian untuk PDRB daerah setelah pemekaran selalu mengalami peningkatan yang bisa dilihat dari data PDRB sektor pertanian yang terus meningkat setiap tahun. Walaupun sumbangan sektor pertanian ini mengalami peningkatan setiap tahunnya dalam PDRB daerah, namun kontribusi sektor pertanian sepanjang tahun 2004 – 2012 dalam PDRB semakin berkurang di semua kabupaten induk dan kabupaten DOHP kecuali Kabupaten Pasaman Barat.

Berdasarkan teori pembangunan ekonomi dualistik yang dikemukakan oleh Prof. Higgins (Jhingan,2008:209) bahwa sektor pertanian semakin lama kontribusinya

Kabupaten DOHP Kabupaten Induk

Kabupaten Nilai i Kabupaten Nilai i

Kep. Mentawai 4,48 Padang Pariaman 3,67

Dharmasraya 5,19 Sijunjung 4,08

Pasaman Barat 7,38 Pasamam 6,04

semakin berkurang dan sektor industri mengalami kemajuan hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi yang cukup pesat di sektor industri sedangkan di sektor pertanian teknologi sedikit saja atau tidak terjadi kemajuan teknologi.

Sesuai dengan teori yang dikemukakan di atas terlihat di beberapa daerah kontribusi sektor pertanian semakin lama semakin berkurang yaitu di Kabupaten Induk meliputi Kabupaten Padang Pariaman, Sijunjung, Pasaman dan Solok. Dan di Kabupaten DOHP meliputi Kabupaten Kepulauan Mentawai, Dharmasraya, dan Solok Selatan. Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat kontribusi sektor pertanian terus meningkat, hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Pasaman Barat terjadi peningkatan dalam bahan baku pertanian.

Kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Dharmasraya yang pada tahun 2004 sebesar 39,70 persen, kemudian pada tahun 2012 menjadi sebesar 36,28 persen. Kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Solok selatan pada tahun 2004 sebesar 39,08 persen, dan pada tahun 2012 menjadi sebesar 36,10 persen. Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki kontribusi sektor pertanian dalam PDRB daerahnya pada tahun 2000 sebesar 54,58 persen menjadi 53,50 persen pada tahun 2012. Sedangkan Kabupaten Pasaman Barat pada tahun 2004 kontribusi sektor pertanian dalam PDRB daerahnya yaitu sebesar 30,93 persen meningkat menjadi 33,27 persen pada tahun 2012.

Kemudian kontribusi sektor pertanian di kabupaten induk, kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Sijunjung pada tahun 2004 sebesar 29,21 persen menjadi 25,97 persen. Kabupaten Pasaman memiliki kontribusi sektor pertanian dalam PDRB daerahnya pada tahun 2004 sebesar 4,54 persen menjadi sebesar 4,30 persen pada tahun 2012. Kontribusi sektor pertanian di kabupaten Solok pada tahun 2004 sebesar 42,76 persen dan kemudian pada tahun 2012 menjadi 42,03 persen. Dan Kabupaten Padang Pariaman, pada tahun 2000 kontribusi sektor pertaniannya yaitu sebear 31,79 persen menjadi 22,68 persen pada tahun 2012.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Ek (Halaman 84-91)

Dokumen terkait