Samsul Bahri
PENDAHULUAN A. Modernisasi
C. Perkembangan Kota dan Budaya Masyarakatnya
Perkembangan kehidupan masyarakat kota-kota besar sekarang tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengertahuan dan peradaban manusia. Khidupan masyarakat sudah didominasi oleh asas ekonomi yang mulai berkembang sejak revolusi industri melanda dunia di balahan barat (Inggris) dan terus merambah ke belahan dunia lainnya. Institusi-institusi yang ada dalam kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat berarti dan menimbulkan pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Itu artinya berbagai institusi di masyarakat seperti :politik, pendidikan,agama,,ilmu pengetahuan,seni (termasuk didalamnya sebagian arsitektur), keluarga.dan seterusnya telah bergantung pada mekanisme ketersediaan sumber-sumber ekonomi.
Kalr Marx, ahli sosiologi, melihat dasar-dasar ekonomi itu sendiri infrastruktur tempat superstruktur sosial dan budaya yang lainnya dibangun dan harus menyesuaikan diri. Artinya kegiatan-kegiatan dalam tiap institusi non-ekonomi harus bergerak dalam mekanisme batas-batas yang ditentukan oleh tuntutan ekonomi. Individu dan faktor-faktor ekonomi dalam usahanya untuk ‘’hidup sesuai dengan pendapatnya’’. Juga ditekankan oleh Marx, tuntutan –tuntutan untuk mencari nafkah agar bisa tepat hidup dapat memakan waktu dan energi sedemikian besarnya, sehingga tidak mungkin untuk mengembangkan kemampuan lainnya. Kenyataan yang terakhir ini kiranya merupakan fenomena baru di lingkungan masyarakat pekerja di kota-kota besar yang lingkungannya sudah dipengaruhi oleh dominasi kepentingan ekonomi. Kesibukan bekerja sebagai upaya pemenuhan nafkah untuk hidup telah menjadikan orang tidak berkesempatan untuk mengembangkan sisi lain dari hidupnya. Manusia pekerja menjadi roboat dari pekerjaanya sendiri, sehingga wajar saja jika pola-pola perilakunya menjadi ‘’kurang memanusia’. Pengaruh ekonomi yang telah mendominasi peradaban manusia, terutama di kota-kota besar, telah merubah wajah kota menjadi ajang pertumbuhan kepentingan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya jenis lapangan kerja dan pekerjaan itu sendiri. Jumlah pekerja yang mendatangi kota tidak terbendung lagi banyaknya hal
Rumah Susun sebagai Bentuk Budaya Bermukim Masyarakat Modern
Samsul Bahri
ini sejalan dengan teori kebutuhan manusia untuk mendapatkan kesempatan lebih luas mempertahankan kelangsungan dan eksistensi hidupnya di dunia. Semua orang tertarik untuk mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan hidup layak di kota – kota dan membiarkan mekanisme ekonomi yang jelas tidak menjanjikan kehidupan lain selain aspek ekonomi itu sendiri.
d. Kebutuhan Tempat Tinggal Versus Keterbatasan Lahan
Salah satu kebutuhan yang tidak terlepas dari manusia ke manapun manusia adalah kebutuhan akan tempat tinggal. Semakin banyak jumlah populasi di kota maka kebutuhan pengadaan tempat tinggal muncul menjadi problema baru yang harus dipecahkan. Sementara itu kondisi alam yang relatif stabil telah menjadi semakin tidak berdaya menampung setiap perkembangan yang terjadi. Keterbatasan lahan menjadikan upaya pemenuhan kebutuhan tempat tinggal tidak dapat terjawab secara langsung, selagi budaya bermukim masih mewarisi tradisi lama. Dalam keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal tersebut, manusia menerapkan solusi perpeahan masalah dengan cara membangun tempat tinggal secara vertikal. Banyak cara yang bisa ditempuh dalam upaya pemenuhan kebutuhan dan fungsi rumah yang tepat bagi penghuninya. Salah satu upaya pemenuhan rumah dalam skala besar sesuai dengan tuntutan perkembangan kota adalah Rumah Susun. Untuk sementara solusi ini mampu menjawab persoalan, yaitu persoalan ekonomi.
e. Rumah Susun Sebagai Fenomena Budaya Bermukim
baik Maslow maupun Benjamin Handier yang mempertimbangkan sisi fungsi dan kebutuhan sebagai bagian penting dalam pengadaan rumah (bangunan), dalam kondisi kota-kota sekarang ini, tidak lagi sepenuhnya dapat dipertahankan pandangannya secara utuh. Banyak hal baru yang harus “diperbaharui” untuk menjadikan budaya bermukim rumah susun sebagai bagian dari peradaban manusia. Tinggal di rumah susun tidak sama dengan tinggal di rumah biasa (rumah individu), baik perilaku maupun suasana lingkungannya berbeda jauh sekali. Perubahan-perubahan gaya hidup, kebiasaan, dan adat istiadat sangat terasa jika seseorang berpindah dari rumah tunggal ke rumah susun. Tentunya setiap orang akan memiliki kemampuan yang berbeda dalam beradaptasi, dan tidak semua orang memiliki kemampuan melakukannya. Bagi golongan orang yang sudah erat dan tidak terpisahkan dengan tradisinya akan sulit melakukan adaptasi yang diinginkan, akibatnya yang ada hanyalah pemaksaan saja. Masyarakat pekerja di kota-kota yang umumnya adalah pendatang (gejala urbanisasi) masalah budaya bermukim merupakan salah satu
problema tersendiri di samping persoalan ekonomi yang menuntut penyelesaian guna mempertahankan hidup di kota. Kemampuan dan keterampilan untuk bertahan hidup menjadi seni dan sekaligus senjata bagi setiap pekerja yang hidup di kota-kota besar seperti : Jakarta, Surabaya, dan lainnya. Sekalipun sulit hidup di kota, namun tidak mengurangi minat masyarakat desa untuk mendatangi kota tersebut. Akibatnya daya dukung “ruang” kota menjadi semakin terbatas. Program pengadaan perumahan bagi pekerja menjadi penting belakangan ini. Selain dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar manusia, rumah tinggal dan kedekatan jarak rumah dengan tempat kerjanya merupakan salah satu persoalan yang mamu memberikan pengaruh kuat bagi tingkat produktivitas pekerja itu sendiri. Solusi pendanaan rumah dengan konsep Rumah Susun menjadi pilihan yang menarik untuk dikembangkan akhir-akhir ini, dan apabila mungkin maka akan terus dipertahankan sebagai konsep yang dapat diterapkan di setiap kota yang kekurangan lahan untuk perumahan. Tinggal sekarang bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan budaya yang kelak akan semakin jelas muncul dalam konsep rumah susun itu. Tentunya sekarang belum sedemikian jelas terlihat baik buruknya fenomena baru itu karena umumnya yang relatif masih baru bagi masyarakat di beberapa tempat. Di beberapa kasus pembangunan rumah susun telah dikembangkan konsep budaya bermukim yang disesuaikan dengan kebudayaan dan kondisi yang ada. Salah satu diantaranya adalah rumah susun Dupak di Surabaya, yang dibuat oleh Johan Silas (Arsitek), yang mengembangkan metode kampung susun. Artinya gaya hidup kampung yang telah ada pasa dipertahankan sebagian besar, hanya saja kalau dulunya kampung-kampung tersebut berada pada daerah yang horisontal maka di rumah susun tersebut kampung-kampung disusun secara vertikal. Konsep ini masih relatif baru dan berlangsung belum cukup lama sehingga perlu diperhatikan terus perkembangan yang terjadi untuk kemudian dapat disimpulkan kelebihan dan kekurangannya.
KESIMPULAN
Perkembangan masyarakat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Arsitektur, namun seringkali tidak dapat terlaksana dengan baik (sempurna). Pada kenyatannya pendekatan yang dilakukan selama era arsitektur modern dengan cara-cara rasional, deterministik, standarisasi dianggap sering hanya menciptakan suatu huubngan yang renggang, tidak harmonis antara manusia sebagai pemakai dan ruang (wadah) tempat kegiatan. Rumah susun sebagai produk dari modernisasi yang sedang berkembang sekarang ini belum sepenuhnya dapat diterima dalam kaitan dengan budaya bermukim manusia. Seringkali yang terjadi adalah pembangnan rumah susun yang diibaratkan sebagai suatu pemerkosaan atas hak-hak pribadi pemakainya.
Pemakai dalam keadaan terpaksa tidak mempunyai alternatif lain selain hanya menerima kenyataan yang ada. Sama halnya dengan pembangunan perumahan massal lainnya (real estate oleh Perumnas, BTN, dan lainnya), rumah susun tidak mampu memberikan pemecahan pemunuhan kebutuhan manusia secara utuh. Hal tersebut dapat terjadi karena selama ini rumah susun dibangun atas dasar pertimbangan ekonomi dan teknis semata. Kalaupun ada pertimbangan unsur manusia didalamnya, itu hanya sebagian kecil yang kalah dominan dibanding unsur ekonomi dan teknis tadi. Rumah susun baru akan bermanfaat bila dipandang sebagai suatu usaha menjawab kebutuhan manusia dari berbagai aspek kehidupan, tidak hanya dari sisi kuantitasnya saja tapi juga sisi kualitasnya. Sebagai budaya bermukim, rumah susun tentunya perlu waktu lama dan konsisten untuk terus dikembangkan sebagai tradisi baru dalam kehidupan umat manusia. Terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang sudah memiliki tradisi lama yang berakar kuat di kalangan masyarakatnya.
1. Hukum tiga tanpa merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai keperadapan Perancis abad ke 19 yang sangat maju”, teori
Sosiologi Klasi dan Modern, (1994), hlm. 84. 2. Sokanto, Soerjono, 1990. Sosiologi Suatu
Pengantar, hlm. 382-386. 3. Ibid, hlm. 383.
4. Eugene Raskin dalam Architecture and People mengatakan : “……… most of mankind spends the major part of its time indoors, in environments of its own creation……… We are born indoors, live, love, brings up our families, worship, work, grow old, sincken and indoors”. 5. Dalam bukunya “Motivation and Personality”
(1954), Abraham Maslow mempelopori suatu pendekatan kepada manusia yang didasarkan atas studi dari THE FINEST PSYCOLOGICAL SPECIMENTS yang memperlihatkan manusia sebagai mahluk yang lebih cakap/arif (capable), rational dan percaya diri, dari teori-teori sebelumnya. Studi ini membawa Maslow untuk mengembangkan diri, dari teori-teori sebelumnya. Studi ini membawa Maslow untuk mengembangkan teori motivasi (Human Motivation) yang lebih populer dengan istilah HIRARCHY OF NEEDS (tingkat kebutuhan manusia), untuk menjelaskan hbungan antara kepribadian dan motivasi manusia.
6. Newmark, Norma L., & Thompson, Patricia, J., 1977. Self Space & Shelter., hal. 8.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rabinwitz, Harvey, Z (1979), Evaluasi Purnahuni, dalam : Synder, James C Pengantar Arsitektur. Penerbit Airlangga, Jakarta.
2. ____ (1991) Tata Cara Perencanaan Kepadatan Bangunan Lingkungan Rumah Susun Hunia. Departemen P. U. Jakarta.
3. ___ (1983). Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana Tidak Bertingkat. Departemen P. U. Direktorat Jendral Cipta Karya, Jakarta.