BAB II ISI LANDASAN TEORI
2.1 Teori yang Mendukung
2.1.5 Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Pendidikan selalu mengikuti kurikulum yang berlaku. Kurikulum mempunyai hubungan erat dengan pendidikan. Permendikbud (2014) menyatakan bahwa kurikulum merupakan salah satu unsur dalam pendidikan yang memberikan kontribusi untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas dan potensi dari siswa tersebut. Kurikulum merupakan suatu perangkat pembelajaran yang dijadikan dasar dalam mengembangkan proses pembelajaran yang berisi kegiatan siswa yang secara umum untuk mencapai suatu tujuan pendidikan dan secara khusus untuk mencapai tujuan pembelajaran (Kurinasih&Sani: 2014).
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan pendidikan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan seorang pendidik sebagai suatu pedoman kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan (UU No 20 Tahun 2003 dalam Sanjaya, (2008)). Kurikulum merupakan suatu pedoman perencanaan yang meliputi tujuan yang harus dicapai, isi materi, pengalaman belajar, strategi dan cara yang dikembangkan, evaluasi yang dibuat untuk melihat pencapaian, serta penerapan dari suatu dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata (Sanjaya: 2008). Berbeda dengan Sitepu (2012) yang mengatakan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan yang melipui tujuan, isi dan bahan pelajaran serta suatu cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan siswa. Kemendikbud (2013) dalam Kunandar (2014) menyatakan bahwa kurikulum dikembangkan melalui 11 prinsip yang meliputi :
(1) kurikulum menganut satuan pendidikan atau jenjang pendidikan; (2) kurikulum didasarkan Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan; (3) kurikulum dikembangkan berbasis kompetensi yang berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik; (4) kurikulum dapat dipelajari dan dikuasai siswa; (5) kurikulum harus memberikan peluang kepada siswa dalam mengembangkan kemampuan dan minat. Prinsip yang selanjutnya yaitu (6) kurikulum berpusat pada potensi,
perkembangan, kebutuhan serta kepentingan siswa; (7) kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, tekhnologi, dan seni; (8) kurikulum harus relevan dengan kebutuhan siswa; (9) kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan siswa; (10) kurikulum harus memperhatikan kepentingan nasional dan daerah; dan yang terakhir (11) penilaian hasil belajar digunakan untuk mengetahui kekurangan siswa. Kesebelas prinsip di atas merupakan komponen yang penting dalam melakukan perubahan kurikulum.
Pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli memiliki persamaan yaitu kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan meliputi tujuan, isi, dan cara melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu perangkat pendidikan yang mengatur tujuan, isi pelajaran, dan pedoman pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Pendidikan di Indonesia dari tahun 1945 sudah mengalami sepuluh kali perubahan kurikulum.
Pertama, Rencana Pelajaran 1947 merupakan kurikulum pertama di Indonesia dengan mengunakan istilah rencana pelajaran. Rencana Pelajaran ini memuat hal-hal pokok yang meliputi daftar mata pelajaran, alokasi waktu, serta garis besar proses pengajaran. Kegiatan pembelajaran lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat daripada pendidikan pikiran. Materi pembelajaran berdasarkan kenyataan yang berhubungan dengan
kejadian sehari-hari, namun perhatian lebih mengacu pada kesenian dan pendidikan jasmani (Trianto: 2009).
Kedua, Rencana Pelajaran 1950 ini muncul dikarenakan adanya UU Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah. Rencana Pelajaran 1950 hampir sama dengan Rencana Pelajaran 1947. Rencana Pelajaran ini termasuk kurikulum dengan mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated curriculum) (Suparlan: 2011).
Ketiga, Rencana Pelajaran 1952 dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini menerapkan peraturan yaitu setiap mata pelajaran diajarkan oleh satu orang guru. Masa Rencana Pelajaran 1952 terbentuk kelas masyarakat. Kelas masyarakat adalah sekolah khusus bagi lulusan SR 6 Tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas ini mengajarkan keterampilan bagi anak yang tidak mampu sekolah ke jenjang SMP, sehingga bisa langsung bekerja (Trianto: 2009).
Keempat, Rencana Pelajaran 1964 merupakan penyempurnaan dari Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini terdapat pembagian kelompok cipta, rasa, karsa, dan krida (Suparlan: 2011).
Kelima, Kurikulum 1968. Kurikulum 1968 adalah kurikulum yang pertama kali menggunakan istilah kurikulum di Indonesia (Suparlan: 2011). Kurikulum ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat sosialis. Pendidikan pada kurikulum ini menekankan pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 bersifatcorrelate subject curriculumyaitu materi tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikulum ini
dikelompokkan pada 3 kelompok besar yaitu pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 mengajarkan materi teoritis dan tidak mengkaitkan hal-hal faktual di lingkungan. (Trianto: 2009).
Keenam, Kurikulum 1975. Kurikulum ini lahir berdasarkan ketetapan MPR Nomor IV/ MPR/ 1973 tentang GBHN 1973, dengan tujuan pendidikan “membentuk manusia Indonesia untuk pembangunan nasional di berbagai bidang”. Metode, materi, dan tujuan pelajaran kurikulum ini tertuang secara gamblang dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang kemudian lahir rencana pelajaran setiap satuan bahasan (Trianto: 2009).
Ketujuh, Kurikulum 1984 merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975. Kurikulum ini berlaku berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomer 0461/ U/ 1983 tanggal 22 Oktober 1983 tentang Perbaikan Kurikulum. Lebih lanjut, Suparlan (2011) mengatakan bahwa kurikulum 1984 memiliki 4 aspek yang disempurnakan, yaitu: (1) pelaksanaan PSPB, (2) penyesuaian tujuan dan struktur program kurikulum, (3) pemilihan kemampuan dasar serta keterpaduan dan keserasian antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, (4) pelaksanaan pelajaran berdasarkan keruntutan belajar yang disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Trianto (2009) menambahkan bahwa kurikulum ini menerapkan sistem Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang meliputi mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan serta siswa menjadi subyek belajar kegiatan pembelajaran.
Kedelapan, Kurikulum 1994. Kurikulum ini mematok pendidikan menjadi 9 tahun (SD sampai SMP). Kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum
1975 melalui pendekatan tujuan dan kurikulum 1984 melalui tujuan pendekatan proses. Zahara Idris dan Lisma Jamal menyatakan bahwa kurikulum 1994 menerapkan muatan lokal serta penyempurnaan tiga kemampuan dasar yaitu membaca, menulis, dan menghitung yang fungsional (Trianto: 2009).
Kesembilan, Kurikulum 2004. Kurikulum ini belum sepenuhnya diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Kurikulum 2004 disebut sebagai KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Kompetensi merupakan penyatuan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap dalam kebiasaan dalam berpikir dan bersikap (Trianto: 2009). KBK memiliki empat komponen yang meliputi Kurikulum dan Hasil Belajar (KHB), Penilaian Berbasis Kelas (PBK), Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), serta Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) (Trianto: 2009).
Kesepuluh, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai berlaku mulai tahun 2006. KTSP adalah hasil perbaikan dari KBK yang telah diuji coba kelayakannya secara publik, melalui beberapa sekolah yang dijadikan sasaran proyek. Tujuan KTSP adalah menanamkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut (Trianto: 2009).
Lebih lanjut, Suparlan (2011) mengatakan bahwa kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia antara lain adalah Rencana Pelajaran 1947, Rencana Pelajaran 1950 (mata pelajaran terpisah-pisah/ terurai), Rencana Pelajaran 1958 (penyempurnaan dari Rencana Pelajaran 1950 dan digunakan sampai dengan tahun 1964), Rencana Pelajaran 1964 (merupakan penyempurnaan dari Rencana
Pelajaran 1958 dan digunakan sampai tahun 1968), Kurikulum 1968 (merupakan kurikulum terpadu pertama di Indonesia), Kurikulum 1975, Kurikulum 1984 (penyempurnaan dari kurikulum 1975), Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.
Perubahan kurikulum dari tahun ke tahun berjalan terus demi mencapai suatu tujuan pendidikan. Perubahan demi perubahan terlihat selalu mengacu pada kurikulum sebelumnya. Perubahan ini bertujuan untuk memperbaiki kurikulum sebelumnya agar lebih baik. Perbaikan tersebut guna mengembangkan pendidikan di Indonesia agar semakin maju. Total perubahan kurikulum di Indonesia adalah 10 kali yakni dimulai dari rencana pelajaran 1947 hingga KTSP 2006. Tahun ajaran 2014/ 2015 Indonesia merubah kurikulum kembali yaitu dari kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013.