BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Remaja
4. Ciri-Ciri Masa Remaja
Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya. Perkembangan masa remaja adalah suatu tahap perkembangan anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial.
Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock (2002):
a. Periode yang penting.
Merupakan periode penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan berakibat panjang.
b. Periode peralihan.
Merupakan periode ini status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan bukan orang dewasa.
c. Periode perubahan.
Merupakan periode perubahan sikap dan perilaku sejajar dengan perubahan fisik, jika perubahan fisik terjadi secara pesat perubahan perilaku serta perubahan sikap terjadi secara pesat.
d. Usia bermasalah.
Merupakan periode remaja sulit mengatasi masalah, hal ini disebabkan selama masa kanak-kanak sebagian besar masalahya diselesaikan oleh orang tua.
Sehingga remaja tidak berpengalaman mengatasinya.
e. Mencari identitas.
Merupakan periode pada awal masa remaja, menyesuaikan diri dengan kelompok masih penting, kemudian lambat laun mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan teman-teman sebaya.
f. Usia yang menimbulkan ketakutan.
Merupakan periode adanya tanggapan remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak, membuat orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi remaja menjadi takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
g. Masa yang tidak realistis.
Merupakan periode remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang di inginkan dan bukan sebagaimana adanya.
h. Ambang masa dewasa.
Remaja mulai bertindak seperti orang dewasa.
5. Kebutuhan-Kebutuhan Remaja
Memahami masalah remaja yang mendasar sangat penting untuk mengetahui motif atau disebut kebutuhan remaja, karena needs menentukan perilaku remaja dalam penyesuaian diri mereka. Menurut Willis (2008) motif atau kebutuhan remaja sebagai berikut:
a. Kebutuhan Biologis.
Kebutuhan biologis berasal dari dorongan-dorongan biologis. Seperti kebutuhan untuk makan, minum, bernapas dan istirahat. Serta dorongan seks, pada masa remaja dorongan seks tampak lebih menonjol, sehingga akan berpengaruh pada tingkah lakunya. Hal ini berdampak pada masalah seksual yang menjurus kepada perilaku seksual seperti menggandrungi pornografi dan melakukan perbuatan-perbuatan asusila. Perbuatan seperti ini yang menyebabkan remaja tertular penyakit AIDS dan penyakit kelamin lainnya.
b. Kebutuhan Psikologi.
Kebutuhan psikologis adalah segala dorongan yang menyebabkan orang bertindak mencapai tujuannya. Kebutuhan ini bersifat individual seperti kebutuhan agama dan kebutuhan akan rasa aman.
c. Kebutuhan Sosial.
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berhubungan dengan orang lain diluar dirinya. Pada anak remaja kebutuhan sosial meliputi kebutuhan untuk aktualisasi diri.
D. Perilaku Seks Remaja Ditinjau dari Pemberian Program Pendidikan Seks Di Sekolah (Studi Pada SMAN X Ternate dengan SMAN Y Ternate)
Perkembangan arus modernisasi dan menipisnya moral anak bangsa perlu menjadi perhatian semua kalangan. Remaja yang seharusnya menjadi aset berharga negara kini telah menjadi candu seks bebas. Hurlock (2002) membagi masa menjadi dua yaitu remaja awal dan masa remaja akhir yang berumur sekitar tujuh belasan tahun. Remaja berada di ambang perbatasan orang dewasa. Remaja sadar akan tanggung jawab dalam berperilaku untuk menguasai tugas perkembangan dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis sehingga memainkan peran yang tepat. BKKBN (2011) menunjukkan bahwa masalah–masalah pergaulan bebas pada remaja yang terjadi adalah perilaku seks selain narkoba.
Perilaku seks bebas bukan sebuah fenomena baru, tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa namun merambah pada kalangan remaja yang masih pelajar. Mereka menjalin sebuah hubungan yang disebut berpacaran. Menurut Sarwono (2012) perilaku seks merupakan dorongan hasrat seksual baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Perilaku seksual bisa berbentuk macam-macam. Mulai dari perasaan suka atau tertarik, berkencan, bercumbu, hingga senggama atau berhubungan seksual.
Adapun hasil penelitian di Purwokerto oleh Trisnawati,dkk (2010) tentang perilaku seksual remaja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya menunjukan perilaku seksual remaja sebagian besar 87,2% tidak beresiko terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan hanya 12,8% mengaku melakukan perilaku seksual yang beresiko terhadap kehamilan.
Perilaku seksual dalam penelitian ini menunjukan kissing 52%, necking 29,2%, petting 21,6%, oral seks 6%, anal seks 1,2% dan masturbasi 12%. Selain faktor sikap terhadap seksualitas, peran orang tua, sikap terhadap pelayanan kesehatan reproduksi remaja, perilaku seksual teman remaja, akses media pornografi di dapati hasil perilaku seksual remaja di Purwokerto berhubungan dengan tingkat pengetahuan remaja yang kurang sebanyak 65%.
Pemberian pendidikan seks pada generasi muda oleh orangtua maupun pendidik adalah sebuah langkah tepat dalam dunia pendidikan untuk mencegah perilaku menyimpang remaja. Hal ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Pakasi (2013) menunjukan bahwa sudah terdapat pendidikan seks di sekolah tersebut tetapi masih ada siswa yang berpendapat bahwa perempuan tidak akan hamil jika berhubungan seks pada masa subur yakni 36,3% dan meyakini mitos jamu atau obat herbal dapat mencegah kehamilan adalah 36,4%. Ada juga siswa yang tidak tahu sama sekali tentang kesehatan reproduksi sebanyak 18,5%, maupun kesehatan seksual yaitu 27,8%. Remaja pada sekolah tersebut menyadari pentingnya pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi mereka.
Sebanyak 97,9% siswa menginginkan diberi pendidikan seks, 37,9% siswa berpendapat materi kesehatan reproduksi perlu menjadi mata pelajaran khusus, 31% siswa setuju pendidikan seks diberikan diluar mata pelajaran dan 29% menginginkan materi pendidikan seks digabungkan dengan mata pelajaran yang sudah ada.
Mengantisipai perilaku seks remaja dapat dilakukan dengan pemberian program pendidikan seks agar remaja tidak salah dalam memahami informasi dari sumber yang tidak tepat. Siswa yang mendapat pendidikan seks disekolah tentu telah mengetahui berbagai
informasi kesehatan organ reproduksi seksualyang diperoleh dari guru baik melalui pendidikan formal (mata pelajaran) ataupun nonformal (kegiatan rohani islam) dengan tujuan mencegah siswa dari perilaku menyimpang, membantu siswa dalam membina hubungan yang baik dengan teman dan lawan jenis serta siswa dapat mengetahui konsekuensi dari perilaku seks seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan indikasi penularan penyakit lewat seks yang tidak sehat. Hal ini membuat siswa yang mendapat pendidikan seks cenderung memiliki perilaku seks lebih rendah.
Sementara, perilaku seks cenderung tinggi pada siswa yang tidak mendapat pendidikan seks. Hai ini di sebabkan pengetahuan siswa masih terbatas tentang masalah seks terkait cara mencegah serta dampak perilaku seks tidak sehat, sebab guru dalam pembelajaran tidak memberikan pendidikan seks. Pengaruh teman yang buruk, beredarnya situs-situs porno, kemudian siswa kurang memanfaatkan waktu luang untuk melakukan kegiatan bermanfaat diluar jam sekolah dan mudahnya mendapatkan alat kontrasepsi yang di jual secara bebas membuat mereka memiliki kesempatan melakukan hal-hal negatif dengan pasangan mereka.
Adapun bagan kerangka pikir yang dimaksudkan di atas dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan 1. Perilaku Seks Remaja Ditinjau dari Pemberian Program Pendidikan Seks (Studi Pada SMAN X Ternate dengan SMAN Y Ternate)
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir diatas, dapat dirumuskan sebuah hipotesis bahwa terdapat perbedaan perilaku seks antara siswa yang mendapat pendidikan seks di SMAN X Ternate dengan siswa yang tidak mendapat pendidikan seks di SMAN Y Ternate.
SISWA SMA
Tidak Mendapat Pendidikan
Seks di Sekolah Mendapat
Pendidikan Seks di Sekolah
Perilaku Seks
Siswa tidak mengetahui informasi kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku seks tidak sehat.
Siswa tidak mengetahui dampak perilaku seks.
Siswa mengetahui informasi kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku seks tidak sehat.
Siswa mengetahui dampak perilaku seks.
Cenderung Rendah
Cenderung Tinggi