BAB II. LANDASAN TEORI
C. Hakikat Siswa atau Peserta Didik
4. Perkembangan Nilai-nilai Moral pada Remaja
Sarwono (1989) mengatakan bahwa salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol yang berkaitan dengan nilai adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan akan pentingnya tata nilai dan mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman, pegangan,
atau petunjuk dalam mencari jalannya sendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang semakin matang. Pembentukan nilai-nilai baru ini dilakukan dengan cara identifikasi dan imitasi terhadap tokoh atau model tertentu atau bisa saja berusaha mengembangkannya sendiri.
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal, yakni mulai mampu berfikir abstrak dan mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis, maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa,1988).
Michel meringkas lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu :
a. Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak.
b. Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
c. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. d. Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
e. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.
Furter (1965) mengatakan bahwa kehidupan moral merupakan problematika yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas mulai dari waktu anak dilahirkan. Dalam tinjauan fenomenologisnya yang luas Furter mengemukakan 3 macam dalil sebagai berikut:
a. Tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja.
b. Masa remaja sebagai periode masa muda harus dihayati betul-betul untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom.
c. Eksistensi muda sebagai keseluruhan merupakan masalah moral dan bahwa hal ini harus dilihat sebagai hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai.
Teori Kohlberg (dalam Desmita, 2009) tentang perkembangan moral merupakan perluasan, modifikasi, dan redefensi atas teori Piaget. Kohlberg tetap menggunakan pendekatan dasar Piaget, yaitu menghadapkan anak- anak dengan serangkaian cerita-cerita yang memuat dilema moral. Namun, cerita atau situasi yang dikembangkan Kohlberg lebih kompleks daripada teori yang digunakan Piaget. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil wawancara dengan anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yang dihadapkan pada suatu dilema moral, dimana mereka harus memilih antara
tindakan menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan peraturan.
Pada awalnya Kohlberg mengetengahkan adanya enam tahap perkembangan moral yang harus dilalui seorang anak untuk dapat sampai ke tingkat remaja atau tingkat kedewasaan. Dari keenam tahap perkembangan tersebut seseorang akan bergerak dari satu tingkat kematangan moral ke tingkat kedua dan baru kemudian ke tingkat yang ketiga. Kohlberg (dalam Sjarkawi, 2006) lebih menjelaskan ketiga tingkat perkembangan moral yang masing-masing tingkat memuat pula dua tahap perkembangan:
a. Tingkat Prakonvensional
Pada tingkat yang pertama ini, anak akan tanggap/responsif terhadap norma atau aturan budaya dan terhadap ungkapan serta label baik atau buruk, benar atau salah. Kendati demikian, seorang anak biasanya hanya akan menginterpretasikan norma-norma tersebut berdasarkan akibat-akibat atau konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dihadapinya atas berbagai tindakannya (misalnya: hukuman, ganjaran atau berbagai balasan lainnya). Selain itu, anak-anak juga cenderung menginterpretasikan norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik mereka yang menerapkan norma atau label tersebut. Tingkat prakonvensional dibagi menjadi dua bagian sebagai dua tahap, yaitu:
1) Orientasi hukuman dan kepatuhan
Akibat fisik perbuatannya adalah menentukan baik buruknya perbuatan itu tanpa melihat unsur kemanusiaannya. Menghindari hukuman dan tunduk pada kekuasaan yang tidak beralasan semuanya diukur dari dirinya sendiri. Artinya, tidak atas dasar rasa hormat kepada aturan moral yang mendasarinya yang didukung oleh hukuman dan otoritas.
2) Orientasi Instrumental Relatif
Perbuatan benar merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan pasar, dimana unsur-unsur keterusterangan dan rasa timbal balik menempati kedudukan yang cukup dominan. Semuanya dimengerti secara fisik dan pragmatis dan ada elemen kewajaran. Tindakan timbal balik seperti hal “kamu menggaruk punggungku, nanti akan kugaruk punggungmu”. Artinya, menggaruk atau tidak menggaruk yang diperbuat bukan karena loyalitas, rasa terima kasih, atau rasa keadilan.
b. Tingkat Konvensional
Pada tingkat perkembangan moral yang disebut konvensional ini upaya memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau masyarakat bangsanya dianggap sebagai sesuatu yang terpuji. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan seseorang tanpa harus
mengkaitkannya dengan akibat-akibat yang mungkin muncul, baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Sikapnya bukan saja mau menyesuaikan diri pada harapan-harapan orang tertentu atau dengan ketertiban sosial, tetapi loyalitas dan sikap ingin menjaganya, sehingga ia secara aktif mempertahankan, mendukung, membenarkan ketentuan, serta mengidentifikasikan dirinya dengan orang atau kelompok yang ada di dalamnya.
Tingkat konvensional ini mencakup dua tahap perkembangan moral yang lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Kedua tahap tersebut adalah:
1) Orientasi masuk kelompok “Anak Manis” atau “Anak Baik” Dalam pandangan anak-anak yang masih berada ditahap ini, yang dimaksud dengan perilaku baik atau tingkah laku bermoral adalah tingkah laku yang menyenangkan, membantu atau tindakan- tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain. Banyak usaha konformitas dengan gambaran stereotipe yang ada pada mayoritas, atau dengan perilaku yang dianggap umum atau lazim. Perilaku, sering dinilai menurut intensitasnya. “Dia bermaksud baik” untuk pertama kalinya menjadi hal yang penting dan utama. Setiap anak berusaha untuk diterima oleh lingkungannya dengan bersikap manis.
2) Orientasi hukum dan ketertiban
Dalam tahap ini, orientasi seorang anak akan senantiasa mengarah kepada otoritas, pemenuhan aturan-aturan, dan sekaligus upaya memeliharan ketertiban sosial. Perilaku yang baik adalah semata- mata melakukan kewajiban dan menunjukkan rasa hormat kepada otoritas, serta memelihara ketertiban sosial yang ada demi ketertiban itu sendiri.
c. Tingkat Pascakonvensional, Otonom, atau Berprinsip
Pada tingkat ketiga ini, terdapat usaha yang konkrit dalam diri seorang anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang dianggap memiliki validitas, yang diwujudkan tanpa harus mengkaitkannya dengan otoritas kelompok atau orang yang mendukung prinsip-prinsip tersebut serta terlepas juga dari apakah individu yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak.
Tingkat ketiga ini juga mencakup dua tahap perkembangan moral, yaitu:
1) Orientasi kontrak sosial legalistis
Tahap kelima ini dapat dikatakan merupakan tingkat kematangan moral yang cukup tinggi. Tahap ini menekankan pada unsur yang berkenaan dengan kemanfaatan dan mementingkan kegunaan (utilitarium). Perbuatan yang baik cenderung ditentukan dari segi hak-hak individual yang umum dan dari segi patokan yang sudah dikaji secara kritis dan disetujui oleh anggota masyarakat.
2) Orientasi prinsip kewajiban
Pada tahap yang paling tinggi menurut skema Kohlberg ini, perbuatan baik diartikan sebagai yang cocok dengan suara hati, sesuai dengan prinsip etika yang dipilih sendiri dengan berpedoman pada pemahaman kekomprehensifan secara logis, universal, disertai kekonsistenan yang ajeg. Pada dasarnya, prinsip- prinsip itu bukan aturan konkret, tetapi abstrak dan etis. Inti moralitas berupa prinsip-prinsip universal tentang keadilan, pertukaran hak, dan persamaan hak asasi manusia yang mengacu pada usaha penghormatan martabat manusia sebagai individu. Struktur tahap pertimbangan moral yang dijelaskan di atas dapat dipahami melalui interpretasi seperti berikut:
Tahap pertama, motif moral terutama didasarkan pada usaha untuk menghindari diri dari hukuman.
Tahap kedua, motif moral terutama berupa usaha untuk memperoleh ganjaran atau agar perbuatan baiknya memperoleh imbalan.
Tahap ketiga, kesadaran moral berfungsi sebagai upaya agar tidak disalahkan atau agar tidak dibenci oleh kelompoknya atau oleh kelompoknya secara mayoritas.
Tahap keempat, kesadaran moral berfungsi sebagai upaya membebaskan diri dari teguran pejabat yang memegang kekuasaan, di samping itu juga untuk melestarikan aturan-aturan
umum serta membebaskan diri dari rasa bersalah yang merupakan akibatnya.
Tahap kelima, motif moral terletak pada keinginan untuk mempertahankan penghargaan atau hormat pengamat yang tidak berpihak, seseorang melakukannya sebagai usaha mempertahankan kesejahteraan umum.
Tahap keenam, konformitas terhadap prinsip moral berfungsi untuk menghindari diri dari rasa bersalah yang timbul dari dalam diri sendiri. (Wayan Ardhana dalam Sjarkawi, 2006)
Untuk memperjelas konsep tingkat pertimbangan moral tersebut diaplikasikan pada suatu isu moral dengan sebuah pertanyaan, sedangkan untuk mengetahui pertimbangan moral seseorang dapat dilihat dari jawaban berupa alasan atau pertimbangan yang diberikan atas pertanyaan tersebut. Struktur tingkat pertimbangan moral dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.
Tingkat dan Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
No. Tingkat Umur Nama
Contoh pertanyaan: “Mengapa kamu tidak mencuri uang itu?”
1. Tingkat 1 Prakonvensional
Tahap 1 6-8 tahun
Moralitas heteronomi (orientasi kepatuhan dan hukuman)
Jawaban: “Nanti saya dimarahi mama” atau “Nanti saya dihukumpak guru”
(Saya harus menaati orang yang berwenang, sebab kalau tidak...)
No. Tingkat Umur Nama
Tahap 2 8-10 tahun
Individualisme/instrumentalisme (orientasi minat pribadi)
Jawaban: “Kalau saya mencuri, nanti barang saya juga akan dicuri” (Saya akan begitu jika saya mau, tetapi jangan mengandaikan kepada saya)
2. Tingkat 2 Konvensional
Tahap 3 10-12 tahun
Reksa interpersonal [orientasi keserasian
interpersonal dan konformitas (sikap anak baik)] Jawaban: “Nanti saya dikatakan tidak
baik” atau “Orang yang
mencuri itu tidak disukai orang lain”
(Saya mungkin harus begitu, sebab semua orang mengharapkan saya berbuat begitu)
Tahap 4 12-15 tahun
Sistem sosial dan hati nurani [orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (moralitas hukum dan aturan)]
Jawaban: “Menurut hukum, mencuri itu dilarang” atau “Mencuri itu mengganggu atau merusak ketertiban masyarakat”
(Saya harus demikian, sebab kewajiban untuk menaati peraturan demi tegaknya hukum)
3. Tingkat 3 Pascakonvensional
Tahap 5 Di atas
15 tahun
Orientasi Kontrak sosial dan orientasi konsensus Jawaban: “Mencuri tidak boleh karena jelas
melanggar hak orang lain, akan tetapi dalam keadaan tertentu misalnya akan mati karena tidak makan dan makanan hanya dapat diperoleh dengan cara mencuri, maka boleh saja mengambil barang orang lain, karena hak hidup lebih tinggi daripada hak milik”
(Saya mungkin akan begitu, sebab peranan saya dalam masyarakat, tetapi saya sering
mempertahankan nilai-nilai relatif masyarakat) Tahap 6 Orientasi Prinsip kewajiban
Jawaban: “Jika Anda tidak mau diperlakukan seperti itu terhadap diri Anda, janganlah memperlakukan itu kepada orang lain” atau “Lebih baik memberi daripada menerima” (Saya akan begitu, sebab saya tahu bahwa hal itu benar untuk dilakukan)
D. Penyusunan Modul Bimbingan