BAB II KAJIAN PUSTAKA
E. Perkembangan Siswa Usia Sekolah Dasar
3. Perkembangan pada Siswa Usia Sekolah Dasar dalam
dasar yang rentang usianya antara 6-12 tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusuf dan Sugandhi (2011:12) yang menyatakan bahwa masa perkembangan yang terentang pada usia sekitar 6 hingga 10 atau 11 tahun yang sering disebut tahun-tahun sekolah dasar. Kemudian, Sukmadinata (2009:123) juga berpendapat bahwa kalau pada masa bayi dan kanak-kanak, dunia anak lebih banyak dalam rumah bersama keluarganya, maka pada masa anak yang berusia antara 6 – 12 tahun. Perkembangan-perkembangan yang terjadi pada siswa usia sekolah dasar adalah sebagai berikut.
a) Perkembangan Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang berarti mengetahui. Neisser (dalam Syah, 2013:22) berpendapat bahwa dalam arti luas,
cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Kognisi menurut Knoers dan Haditono (2006:208) adalah pengertian luas mengenai berpikir, mengamati, jadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian.
Siswa usia sekolah dasar pada saat keadaan normal dan sadar, pikirannnya berkembang secara berangsur-angsur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mar’at (2007:156) yang menyatakan bahwa kalau pada masa
sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkrit, rasional dan objektif. Pada masa ini, Piaget menamakannya sebagai masa operasi konkret, masa berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir
konkret (berkaitan dengan dunia nyata). b) Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bahasa, semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Menurut Yusuf (2010:179) pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir (usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata. Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan sehingga perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara mereka menggunakan kata dan kalimat bertambah kompleks serta lebih menyerupai bahasa orang dewasa.
c) Perkembangan Emosi
Yusuf (2010:181) berpendapat bahwa emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk
konsentrasi pada aktivitas belajarnya. Dan sebaliknya, apabila yang menyertai proses itu emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar menalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar.
Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidak dapat diterima oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, anak mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya yang diperoleh melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh.
d) Perkembangan Kepribadian
Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu
personality. Sedangkan istilah personality secara etimolog berasal dari bahasa Latin “person” (kedok) dan dan personarei (menembus). Persona biasanyadipakai para pemain sandiwarapada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan personare adalah bahwa para pemain sandiwara tersebut dengan melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu seperti; seorang yang pemurung, pendiam, periang, peramah dan lain sebagainya.
Lingkungan rumah yang tidak stabil tidak banyak pengaruhnya dalam perkembangan kepribadian anak yang lebih besar daripada terhadap anak yang lebih muda. Sedangkan lingkungan sosial yang tidak stabil
pengaruhnya sama dengan pengaruh ketidakstabilan lingkungan rumah terhadap anak yang lebih muda. Perasaan tidak mempunyai akar dan perasaaan tidak mempunyai tempat membuat anak tidak aman. Ini mendorong individuality yang sangat penurut dan terkekang.
Sejumlah faktor baru mempengaruhi konsep diri pada anak saat masuk sekolah dan ketika pola hidupnya berubah. Semua faktor ini secara tidak langsung dan langsung berhubungan dengan kondisi lingkungan baru yang merupakan bagian dari lingkungan sosial yang sangat luas.
1) Perkembangan Konsep Diri Ideal
Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak mulai mengagumi tokoh-tokoh dalam sejarah, dalam cerita-cerita khayal, dalam sandiwara, film,olahraga dunia atau tokoh-tokoh nasional. Anak ingin menjadi seperti tokoh ideal itu. Pada mulanya, konsep diri yang ideal mengikuti pola yang digariskan oleh orang tua, guru dan orang-orang lain yang berada dalam lingkungannya. Kemudian dengan meluasnya dunia cakrawala, juga mengikuti pola atau tokoh-tokoh yang dibaca, dilihat, dan didengar.
2) Mencari Identitas
Anak-anak pada umumnya memasuki periode anak besar dan berminat dalam keanggotaan kelompok, mereka sangat terpukau dengan anggapan bahwa ereka harus menyesuaikan diri dengan standar dalam penampilan, berbiara dan berperilaku seperti yang ditetapkan oleh kelompok. Karena takut kehilangan dukungan dari anggota-anggota kelompok, mereka berusaha menyesuaikan dengan baik bahkan kadang-
kadang berlebihan. Cepat atau lambat anak mulai merasa bahwa ia tidak mengikuti pola yang sama dengan teman-teman sebayanya dan kurang memiliki individualitas dan tidak memiliki identitas. Pencarian identitas ini dimulai pada anak besar dan mencapai tahap kritis dalam masa remaja. Menurut Erikson (dalam Husdarta dan Kusmaedi, 2010:202) identitas diri berarti perasaan dapat berfungsi sebagai seseorang yan tersendiri tetapi berhubungan erat dengan orang lain. Hal ini berarti menjadi seorang dari kelompok teetapi sekaligus memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan kelompok yang merupakan bersifat khusus dari individu itu sendiri. Untuk memperoleh identitas diri, anak harus mempunyai keyakinan bahwa ia harus dapat bertindak mandiri, sehingga sebelum anak memiliki keyakinan ini ia mencoba melepaskan diri dari kedekatan dengan orang tua dan mendekatkan diri dengan teman-teman.
e) Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial menurut Hurlock (1978:250) adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Kemudian Syah (2013:36) berpendapat bahwa perkembangan sosial adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain, perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayatnya. Berdasarkan pengertian mengenai perkembangan sosial tersebut, berarti siswa usia sekolah dasar akan melakukan hubungan yang lebih banyak dengan siswa lain dibandingkan dengan sebelum sekolah, minat pada kegiatan keluarga berkurang. Pada saat yang sama permainan
bersifat individual menggantikan permainan kelompok, karena prmainan kelompok membutuhkan sejumlah teman bermain dengan begitu lingkungan pergaulan siswa menjadi semakin luas.
Pada waktu mulai sekolah, siswa memasuki usia yang kesadaran kegiatan sosialnya berkembang pesat. Siswa menjadi anggota baru dalam suatu kelompok teman sebaya yang secara bertahap menggantikan keluarga dalam mempengaruhi perilaku. Kelompok teman sebaya didefinisikan oleh Havighurst (dalam Hurlock, 1978:264) sebagai suatu kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama, yang berpikir dan bertindak bersama-sama.