• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Perkembangan Perguruan Tinggi

2.3.1 Tiga Pandangan Filosofis

Dalam membicarakan perguruan tinggi (PT) di Indonesia, dua pertanyaan dasar yang menjadi pusat perhatian adalah : (1) Untuk apa perguruan tinggi? (2) Untuk siapa perguruan tinggi?. Pertanyaan pertama berkenaan dengan

mutu pendidikan atau, dalam praksis, manfaat pendidikan. Pertanyaan kedua berkenaan dengan pemerataan pendidikan atau, dalam praksis, pendidikan itu ditujukan untuk semua anggota masyarakat atau tidak. Tiga pandangan filosofis perlu dikemukakan untuk menjelaskan kedua konsep itu, yaitu : elitisme, populisme, dan integralisme

A. Elitisme

Dilihat dari perkembangan masyarakat, elitisme terbagi atas dua aliran, yaitu elitisme tradisional dan elitisme modern. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa elitisme adalah pandangan yang mengutamakan mutu dalam pengelolaan pendidikan.

(1) Elitisme Tradisional

Elitisme tradisional bermula dan berkembang dalam era pramodern (pra industri). Dalam era ini, ekonomi masyarakat bergantung pada sector pertanian tradisional. Golongan pemilik tanah, yang umumnya kaum bangsawan sangat dominan dalam masyarakat. Disamping itu, golongan agama juga berpengaruh karena dipandang sebagai pembawa dan pembimbing kehidupan spiritual yang sangat diperlukan masyarakat praindustri. Kedua golongan ini dipandang sebagai golongan elit dalam masyarakat. Dari keduanya muncullah pemikir-pemikir yang berpendapat bahwa pendidikan sangat penting terutama untuk melestarikan tradisi kebangsawanan serta memperdalam pengetahuan tentang agama dan menyebarkannya. Melestarikan tradisi juga berarti melanjutkan dominasi kedua

golongan tersebut, terutama yang pertama mempersiapkan generasi muda melalui pendidikan formal di sekolah, termasuk perguruan tinggi.

Menurut elitisme tradisional, kemampuan seseorang untuk didik dan belajar banyak ditentukan oleh faktor keturunan yang berkaitan erat dengan status sosial. Keturunan bangsawan dan golongan agama pada umumnya dianggap lebih mampu dididik dan belajar setinggi-tinggiya ketimbang keturunan golongan masyarakat bawah pun terbatas. Berdasarkan pandangan diatas, tujuan utama perguruan tinggi adalah mutu, bukan pemerataan. Mutu diartikan sebagai kemampuan akademik mahasiswa, yang banyak dikaitkan dengan sifat-sifat keturunan dan dan kepentingan golongan bangsawan, karena yang diterima menjadi mahasiswa terutama adalah keturunan golongan itu.

(2) Elitisme Modern

Elitisme modern timbul dalam era modern (masyarakat industry), karena: (a) ada golongan masyarakat yang ingin mempertahankan nilai-nilai positif elitism tradisional, terutama mutu; (b) semakin merosotnya mutu pendidikan tinggi akibat populisme. Dalam elitisme modern, pembatasan memperoleh pendidikan tinggi bukan lagi didasari faktor keturunan yang berkaitan dengan status sosial, melainkan pada kemampuan akademik dan kemampuan ekonomi. Dasar pertama pada hakikatnya sama dengan pandangan meritokratis, yaitu mengutamakan kemampuan atau prestasi, dilihat dari IQ dan bakat yang unggul ditentukan dengan berbagai cara seperti penelusuran minat dan bakat, prestasi disekolah, tes IQ, dan ujian masuk. Dasar kedua umumnya dipergunakan oleh perguruan tinggi swasta. Mereka ingin mengutamakan mutu, tetapi kurang mampu membiayai.

Karena itu, disamping kemampuan akademik, kemampuan ekonomi merupakan syarat penting penerimaan mahasiswa. Pada mulanya pelaksanaan pembatasan itu berjalan dengan baik, karena kemampuan akademik yang lebih diperhatikan. Tapi, lama kelamaan terjadi kecendrungan untuk mengutamakan kemampuan keuangan (ekonomi), dalam arti siapa yang mampu membayar mahal dia yang di prioritaskan. Dalam perkembangan ini, arti elitisme berubah. Bukan lagi elit dalam arti yang berkaitan dengan keturunan, melainkan mutu yang dikaitkan dengan kemampuan keuangan. Dengan kata lain kelompok elit adalah kelompok “the have” .

B. Populisme

Populisme timbul dan berkembang dalam era modern (masyarakat industri). Setelah revolusi industri, liberalisme berkembang dan pada gilirannya, mendorong perkembangan demokrasi, egaliterisme, individualisme, dan sekulerisme. Pertumbuhan ekonomi menyebabkan peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan pendapat yang semakin baik, kelas menengah dan atas berkembang. Sejalan dengan itu, kesadaran akan persamaan hak dalam semua bidang kehidupan termasuk pendidikan, meningkat. Di samping itu, industrialisasi juga membuka berbagai lapangan kerja yang memerlukan tenaga-tenaga kerja berpendidikan. Dengan demikian, peranan perguruan tinggi dan pendidikan umumnya semakin penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk industri, dan bukan lagi melestarikan tradisi kebangsawanan dan keagamaan seperti dimasa lalu. Dengan menduduki berbagai posisi dalam industri, status ekonomi dan sosial para lulusan perguruan tinggi meningkat.

Dari masyarakat industri tersebut, terutama dari kelas menengah dan atas, tampil pemikir-pemikir populis yang menyadari benar ketidakadilan elitisme tradisional. Mereka berpendapat kesempatan untuk dididik dan belajar ditentukan oleh faktor keturunan yang berkaitan dengan status sosial, tetapi terutama oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk proses belajar-mengajar itu sendiri. Karena itu, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi dan pendidikan pada umumnya, harus diberikan kepada semua orang (warga negara). Seleksi masuk perguruan tinggi tak perlu ada, tapi seleksi akhir dan ujian-ujian pengendalian selama proses belajar-mengajar diadakan. Anak pintar (unggulan) tak perlu dipisahkan dari yang kurang pintar agar secar wajar solidaritas, rasa saling menghargai dan menghormati berkembang dalam diri peserta didik kelas-kelas elit tidak perlu berkembang.

Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pemikiran-pemikiran di atas, tujuan utama perguruan tinggi adalah pemerataan. Mutu juga diusahakan, tetapi sering diabaikan karena mengutamakan pemerataan demi penyesuaian terhadap tuntutan masyarakat akan kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi. Mutu tetap diartikan sebagai kemampuan akademik, karena dengan kemampuan itu para lulusan diharapkan dapat bekerja diberbagai industri.

C. Integralisme

Pengalaman menunjukkan bahwa elitisme meninbulkan kesenjangan sosial-ekonomi dan politik serta ekslusivisme, walaupun mutu lulusan terjmin baik. Sebaliknya, populisme cenderung menimbulkan pengangguran karena banyak lulusan yang tidak bermutu sehingga tidak diterima bekerja didunia usaha. Dengan demikian, mutu tanpa pemerataan dan pemerataan tanpa mutu sama-sama

menimbulkan masalah social-ekonomi dan politik. Karena itu, dalam penyelenggaraan pendidikan, mutu dan pemerataan harus sama-sama mendapat perhatian, dengan kata lain harus terpadu atau diintegrasikan. Pandangan ini disebut integralisme.

Integralisme timbul dalam dekade terakhir era modern dan terus berkembang pada era pascaindustri (pascamodern). Menurut pandangan ini, tujuan perguruan tinggi adlah mutu dan pemerataan secara terpadu. Dan mutu diartikan sebagai kesesuaian produknya dengan kebutuhan mahasiswa, masyarakat dan dunia kerja (Tampubolon, 2001:11).

2.4 Usaha peningkatan kualitas Perguruan Tinggi

Dokumen terkait