• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Keluarga

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Profil Anak Berkebutuhan Khusus

2. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Keluarga

Keluarga merupakan faktor sangat penting dalam perkembangan anak, sehingga walaupun banyak ditemukan persamaan mengenai keluarga, namun pengalaman setiap orang dalam kehidupan keluarganya berbeda-beda. Pada saat orang tua dihadapkan kenyataan akan lahirnya anak berkebutuhan khusus sebagai anggota baru, hal tersebut terkadang menimbulkan ketegangan dalam suatu keluarga.

Berbagai reaksi pun ditunjukkan orang tua ketika mendapati anak yang diidam-idamkan adalah seorang berkebutuhan khusus. Seperti halnya dialami oleh Ibu NI sebagai salah satu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus bernama ZF. Sekilas bila dilihat dari kondisi fisiknya, ZF terlihat seperti anak normal lainnya. Namun saat diajak berkomunikasi barulah terlihat kekurangan dalam diri sang anak.

Pada awalnya, ibu NI dan suaminya tidak mengetahui anaknya termasuk anak berkebutuhan khusus. Tidak ada informasi dari tenaga kesehatan yang merawat ibu NI selama kehamilan sampai proses persalinan mengenai kemungkinan kondisi anaknya setelah dilahirkan.

Mereka hanya menyimpulkan bahwa ZF mengalami kelainan dengan melihat perilakunya tidak seperti anak seusianya yakni sulit memahami sesuatu yang disampaikan, pelupa, anti sosial, terkadang mengalami gangguan emosi, kurang inisiatif, tidak mandiri dan sangat lambat dalam belajar. Kelainan tersebut diduga disebabkan karena sang anak sering sakit dan mengalami kejang-kejang waktu masih kecil. Pada saat anak sakit, orang tua membawa anak ke pengobat tradisional (dukun) dengan mengandalkan obat-obat tradisional pula karena keterbatasan biaya jika ingin berobat ke dokter. Berikut penuturannya:

”Sebenarnya sebelumnya tidak kutau kalo ana’ku termasuk anak berkebutuhan khusus. Karena sempurna ji fisiknya.

Ketika hamil tidak ada saya rasa kelainan. Masih sama waktu hamilka’ kakaknya ZF. Kalau ke puskesmas periksa na bilang ji ibu bidannya normal dan perkembangan masa kehamilanku juga sehat. Saya melahirkan dengan cara normal di puskesmas Sudu di bantu oleh bidan. Saya juga teratur bawa ke posyandu jadi dia itu imunisasinya lengkap dan pemeriksaan berat badan juga teratur. Masuk usia satu tahun pi baru sering sekali sakit. Deman tinggi dan kejang-kejang terus. Tidak kelihatanmi mata hitamnya. Kalau di sini istilahnya lillang. Sakit begitu biasa memang terjadi sama anak-balita. Setelah masuk masa kanak-kanak mulai lain perilakunya biasa seperti anak bodo’bodo’. Sering ngamuk tidak jelas, na benturkan kepalanya di lantai. Kalau na bicarai orang itu lari atau diam saja. Biasa itu ku bilangi, ZF kalau na bicarai ki orang lain di jawab jangan tunduk saja. Itumi

ganggu. Kalau di kasi tau soal pelajaran seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak ada yang tertinggal di kepalanya. Karna dia juga cepat sekali lupa baru tidak ada sekali minatnya mau belajar sendiri”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

“Pemahamanku penyebabnya anakku bodo’-bodo’ bukan karna ada kelainan sejak lahir tetapi karna waktu masih kecil sering sekali sakit dan kejang-kejang. Pernah dikira mau mi meninggal karna kejang ki mulai dari jam 5 subuh sampai jam 11 siang. Itu mata hitamnya tidak maumi turun. Jadi di panggilkan mi orang-orang tua na obati ki, di kasi mi juga obat seperti kecap dan jeruk. Karna dulu kodong susah dapat uang kalau mau ke dokter. Jadi diobati di rumah ji saja. Alhamdulillah pammase puang sadarki dikka waktu jam 11. Tidak ditaumi yang mana obat yang kasi sembuhki karna banyak sekali mi di pake obati. Itumi ku bilang, seringnya ji sakit dulu jadi kayak anak bodo’-bodo’ sekarang. Mungkin gara-gara sering minum obat juga waktu masih kecil.”

(Wawancara tanggal 16 Mei 2017).

Tidak adanya informasi mengenai kondisi sang anak setelah dilahirkan, menjadikan kedua orang tua ZF tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman cukup mengenai cara penanganan anak berkebutuhan khusus. Kurangnya pemahaman tersebut menyebabkan ketidaksiapan orang tua dan keluarga untuk menghadapi anak dengan kondisinya yang berbeda. Sehingga pada saat ZF lahir dan memiliki kelainan dalam perkembangannya, orang tua dan anggota keluarga lainnya berpendapat bahwa ZF adalah anak yang bodoh dan anti sosial.

Hal serupa juga dialami oleh keluarga pak SN dan ibu JU yang mempunyai anak berkebutuhan khusus bernama NU. Pada awalnya, mereka tidak mengetahui NU termasuk anak berkebutuhan khusus. Ibu JU tidak menerima informasi dari dokter atau bidan yang menanganinya

Sehingga mereka tidak mengkhawatirkan kondisi anaknya. Saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda kelainan pada masa kanak-kanak, kedua orang tua kebingungan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman orang tua mengenai cara menghadapi anak yang kondisinya berbeda dengan anak normal lainnya. Mereka berpendapat bahwa kelainan disebabkan karena anak sering jatuh saat masih kecil. Selain itu, anak juga kerap mengalami kejang-kejang dan demam tinggi. Pada saat sakit, orang tua sering mengandalkan pengobat tradisional (dukun) untuk kesembuhan anak karena terbentur biaya bila harus ke dokter. Hal tersebut diungkap dalam penggalan wawacara berikut:

“Ana’ku NU lahir secara normal di rumah tapi di bantu bidan desa waktu itu. Perkembangan masa kehamilan juga normal.

Jadi tidak pernah istriku mengeluh ada masalah yang dirasakan saat hamil. Saat masih balita, mamanya bilang imunisasinya lengkap karna rajin dibawa ke posyandu.

Masuk masa kanak-kanak itu baru biasa mi lain tingkahnya.

Tapi sudahpi sering jatuh itu baru begitu ki. Waktu jatuh dulu, terhambat ki di pembiayaan jadi tidak pernah di bawa ke rumah sakit periksa. Tidak ada uang buat bayar biaya dokter.

Cuma di urut ji saja karna sempat mengalami cedera.

Waktunya mulai mi lain tingkahnya, waktu itu belumpi ku tau termasuk pale anak inklusi. Apalagi, bisa dibilang saat itu saya masih termasuk orang tua baru karna dia anak kedua.

Belum punya banyak pengalaman dalam merawat dan mendidik anak apalagi anak berkebutuhan khusus jadi biasa ka’ kerepotan. Takkala datang sabarnya, sabar sekali kasian.

Tapi takkala rewel susah dikasi tenang. Saat itu juga tidak di tau bagaimana cara merawat anak seperti, jadi di kasi sama saja cara ta’ rawat ki dengan rawat kakaknya. Tapi meskipun pusingka’ hadapi biasaka juga na buat naik emosi ku tapi tidak pernahka saya maki-maki anakku dengan sebutan yang tidak pantas na dengar karna ucapan itu doa bagi anak”. (Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

Kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam keluarga menjadi tantangan sekaligus masalah tersendiri yang pikul oleh keluarga. Baik ibu NI maupun pak SN memiliki pendapat yang hampir sama mengenai reaksi mereka setelah mengetahui buah hati mereka memiliki kelainan. Awalnya mereka merasa sedih, bingung, tidak percaya dan merasa bersalah karena tidak maksimal dalam merawat anak. Tetapi meski anak memiliki kelainan, orang tua tidak menganggapnya sebagai kutukan bagi keluarga karena kelainannya disebabkan karena sering sakit. Mereka juga tidak membeda-bedakan anak dengan saudaranya. Ibu NI menuturkan:

“Tidak ada orang tua yang mau anaknya terlahir dalam keadaan tidak normal. Waktu dia masih kecil karna belum ada kelainan jadi saya biasa-biasa saja. Kurawat ji seperti waktu kakaknya masih kecil. Mulai pi biasa lain perilakunya baruka khawatir. Apalagi setelah anak ku menunjukkan sikaf seperti anak bodo’bodo’ sampai na bilangi orang lain anak setengah liter. Tidak kutau mau ku apa. Awalnya pasti dirasa sedih dan tidak percaya kalau anak ku jadi anak bodo’bodo’.

Intropeksi diri sendiri apa yang salah dari penjagaan ku sehingga anak jadi seperti ini. Tetapi meskipun anak ku kondisinya beda dengan anak normal, saya tidak pernah berfikir kalau anak ku ini semacam kutukan untuk saya dan keluarga. Karna saya tau dia jadi seperti itu gara-gara waktu kecilnya sering sakit. Saya sama keluarga juga menerima keadaannya dengan ikhlas tanpa ku beda-bedakan dengan saudaranya yang lain. Meski sebelumnya merasa sedih tapi itu tidak berlangsung lama. Karna mau bagaimana lagi, bukan kita yang menentukan. Semua sudah ada yang atur.

Sempat takut juga waktu mau melahirkan adeknya. Saya takut kalau adeknya setelah lahir seperti kakaknya juga”.

(Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Hal serupa juga dituturkan oleh SN. Dia berpendapat bahwa semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak. Awalnya, merasa sedih dan kecewa. Beliau intropeksi diri dan berusaha lebih memperhatikan

anak agar hal sama tidak terjadi kembali pada anaknya yang lain. Meski memiliki kelainan, SN menerima keberadaannya sebagai amanah yang harus diperlakukan dengan baik. Berikut penuturannya:

“Semua orang tua mau yang baik-baik untuk anak. Sedih dan kecewa itu hal yang wajar dirasakan orang tua pada awalnya. Begitu juga saya dan keluarga sedih saat melihat tingkah laku anak kami menunjukkan seperti dia memiliki kondisi berbeda dengan anak seusianya. Saya berusaha intropeksi diri dan lebih memperhatikan anak supaya tidak terjadi lagi kejadian seperti ini sama adek-adenya kelak. Tapi meski begitu saya ikhlas menerima keberadaan anak ku dalam keluarga karena saya tau kalau NU ini amanah yang harus saya jaga dan perlakukan dengan baik”. (Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

Meskipun keluarga ibu NI dan pak SN sama-sama mempunyai anak berkebutuhan khusus, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan perlakuan yang diberikan kepada anak. Seperti terlihat saat pertama kali mendatangi rumah Ibu NI, ZF waktu itu baru pulang dari sekolah. Setelah mempersilahkan duduk, beliau kemudian berteriak memanggil ZF dan menyuruhnya membuat teh. Pada saat yang bersamaan, ada beberapa saudara ZF yang sedang bersantai menonton di depan televisi. Ada juga yang asyik memainkan handphone sambil mendengarkan musik di dekat ruang tamu. Tak berselang lama, ZF datang membawa secangkir teh dan menyuguhkannya sesuai perintah dari ibunya. Ibu NI sempat protes kepada ZF karna membawanya tanpa menggunakan baki’. Setelah itu, ZF berlalu ke dalam rumah, melanjutkan aktivitasnya. (Observasi tanggal 15 Mei 2017).

Ibu NI sering meminta bantuan pada ZF untuk membuat minuman untuk tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Selain itu, ZF juga telaten membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu kolong rumah.

menggoreng lauk seperti ikan, tahu dan tempe. Bahkan ZF setiap pagi memiliki rutinitas yang harus dikerjakan sebelum berangkat sekolah yakni mengambil air bersih di sumur milik tetangga. Hal ini seperti dituturkan ibu NI dalam penggalan wawancaranya sebagai berikut:

“Kalau ada tamu atau teman kakaknya datang di rumah, dia mi itu yang di suruh buatkan air minum seperti kopi. Pintar sekali mi bikin kopi karna dia juga suka minum kopi. Di rumah dia juga yang rajin ku suruh bantu ka’. Biasa cuci piring sama menyapu di rumah kalau pulang sekolah.

Menyapu di kolong rumah dan cuci baju juga kalau hari libur.

Kalau mauka pergi ke suatu tempat, baru dia pulang mi dari sekolah. Biasa ku kasi tau kalau sebentar cuci piring nah kalau sudah makan siang. Karna ada mau ku pergi, pasti tambah capekka kodong nanti kalau datang ma di rumah baru masih saya yang mau cuci piring. Kalau datang ma nanti itu di rumah sudah mi na cuci piringnya. Pintarmi juga di suruh goreng ikan, tahu, dan tempe. Memasak nasi ji yang belum bisa. Tapi tetap harus di awasi saat dia pakai kompor karna kalau di suruh menggoreng biasa na tinggalkan kompor pergi menonton. Biasa mi na lupa yang na goreng karna asyik menonton. Dari dulu memang sudah kubiasakan supaya bisa bantuka karna kalau di rumah menonton tv terusji saja na kerja. Apalagi setelah menikah mi itu anak ku yang perempuan. Biarpun masih sama ka’ tinggal tapi dia pergi berdagang di pasar jadi capek mi kalau sampai di rumah. Tidak ada juga kebun mau di olah kalau mau di bawa ke kebun. Na tidak bisa juga pergi bantu bapaknya bawa mobil seperti kakak pertamanya (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

”Tugasnya ZF setiap pagi sebelum berangkat sekolah, pergi ambil air sumur di rumahnya tetanggaku. Biasa keruh air kran di rumahku, jadi harus ke rumahnya tetangga yang ada

kasi naik gerobak sampai di rumah. Kalau capek mi ambil air baru masih di suruh lagi, biasa marah-marah, na pukul-pukul tangga atau dinding pake gallon sampai pernah rusak gallon ku na pukulkan tangga. Biasa na bilang suruh juga BN atau saudaraku yang lain pergi ambil air. Tapi kalau tidak ada saudaranya yang mau pergi, dia kembali ji nanti yang pergi sendiri sambil marah-marah. Sering itu ku ingatkan kalau di suruhki nak janganki suka marah-marah terus, nanti tambah na bilangiki orang lain anak bodo’-bodo’ kalau suka ki mengamuk. Diam ji saja kalau di bilangi begitu, biasa mengangguk, biasa juga tidak ada responnya”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Ibu NI mengungkapkan bahwa ZF sudah dibiasakan membantunya melakukan pekerjaan di rumah karena ZF tidak punya lain kesibukan lain selain menonton tv saat di rumah. Sebelumnya pernah melihat ZF datang dengan membawa pasir. Pasir dimasukkan ke dalam karung dan dipikul di pundaknya sampai ke rumah. Saat itu ibu NI ingin membuat pot bunga yang baru tetapi kehabisan pasir. Jadi ZF yang sudah pulang sekolah diberi tugas pergi mengambil pasir di sungai. (Observasi tanggal 15 Mei 2017)

Saat wawancara berlangsung, baik ibu NI maupun kakak ZF dalam beberapa percakapan sering menyebutnya anak bodoh dan setengah liter.

Beliau juga mengungkapkan bahwa ZF penyabar bila tidak diganggu, pendiam, pemalu sering menunduk atau bahkan diam saja bila diajak berkomunikasi oleh orang lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karna dia tidak mengerti apa yang ditanyakan jadi tidak bisa menjawab pertanyaan. Sehingga saat diberi tahu harus berulang-ulang. Dia juga

dengan adu mulut tetapi mengamuk sambil merusak dan membanting barang. Kalau kemauannya tidak dituruti, dia sering mengamuk sambil membenturkan kepalanya dan berguling-guling di lantai. Dia juga sangat suka menonton jarak sangat dekat dengan tv. Seringnya bila dilarang, dia akan marah dan membanting remot televisi. Saat dia marah, hanya NI yang bisa membujuk dan menenangkan ZF. Berikut salah satu penuturan ibu NI :

“Ini ana’ku anak bodo’-bodo’ kasian. Biasa dibilang anak setengah-setengah liter. Terkadang sabar sekali jadi anak kalau tidak adaji yang ganggu. Sangat pendiam, suka menunduk dan pemalu kalau ketemu orang lain. Itumi kalau kita ajak cerita nanti harus ki sabar-sabar kalau diam terus ji karna memang begitu. Biasami mungkin gara-gara tidak mengerti apa yang di tanyakan jadi diam ji saja. Harus di ulang-ulang karna tidak cepat tangkap anaknya. Biasa mi itu lain di bilangi lain juga na kerja. Dia di rumah tidak suka berkelahi sama saudaranya. Cuma biasa baru marah sama saudaranya kalau ada yang tidak sesuai keinginanya atau ada salahnya baru na bentak saudaranya. Tapi caranya ekspresikan rasa marahnya itu bukan dengan adu mulut tapi dengan merusak atau banting barang-barang. Kalau ada na minta baru tidak dituruti kemauannya biasa mengamuk seperti anak kecil. Na guling-guling badannya di lantai. Biar hal sepele kalau tidak sesuai kemauannya biasami marah-marah. Seperti saat menonton film kartun, baru duduknya dekat sekali depan televisi. Di larang tidak mau mendengar.

Kalau ada saudaranya ambil remot tv baru na kasi pindah siaran lain, marah-marah. Na ambil remot na lemparkan.

Sering mi rusak itu remot na lempar. Saat di suruh haruski sabar bujuk-bujuk sampai mau, di kasi tau baik-baik karna dia juga cepat lupa dan tidak cepat tangkap. Jadi harus di ulang-ulang Tapi dia juga kadang marah-marah kalau di ulang-ulang terus yang di bilang. Waktu kecil biasa na benturkan kepalanya di dinding kalau marah. Pernah sampai berdarah itu kepalanya na benturkan. Biasami juga tidak mau makan. Baru susah di kasi tenang kalau takkala ngamuk. lama sekali baru berhenti menangis. Saya ji yang selalu bisa bujuk ki, karna kalau kakaknya yang bujuk baru

ngamuk baru dimarahi tambah parah”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Meski selalu memanggil ZF dengan sebutan bodoh, hal tersebut bukan berarti Ibu NI tidak bisa menerima keadaan anaknya. Pada saat mengetahui anak memiliki kelainan, tidak lantas membuat ibu NI dan suami putus asa. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan anak tanpa membedakannya dengan anak lainnya. Dalam keluarga, ZF paling dekat dengan NI sehingga setiap akan bepergian, NI sering mengajak anaknya tersebut. Tetapi ZF biasa menolak bila mengunjungi tempat ramai karna dia tidak menyukai hal tersebut. Kalaupun ZF ikut bepergian, dia selalu memegang ujung baju NI dan mengikuti kemana NI pergi. Dia tidak mau bermain dengan anak sebayanya dan bila di ajak komunikasi oleh orang lain, dia lebih banyak diam. NI sering mengajarkan untuk berbicara bila diajak berinteraksi dan menjawab pertanyaan orang lain supaya tidak dianggap sebagai anak bodo’-bodo’. Hal tersebut dituturkan dalam penggalan wawancara berikut:

“Sembilan ana’ku, ZF anak ke tujuh dan dia ji yang anak bodo’-bodo’. Kakak sama adeknya yang lain alhamdulillah normal semua. Kalo kita mauki semua yang baik-baik, tapi saat Tuhan berkehendak lain, kita hanya bisa lapang dada menerima. Sebagai orang tua yang jadi proritas adalah kebahagiaannya anak-anak. Saat anak-anak merasa sakit, orang tua juga bisa merasakan. Mungkin karna darah daging sendiri. Jadi apapun itu saya sama bapaknya berusaha lakukan supaya bisai juga jadi seperti orang lain. Berusaha ka’ penuhi kebutuhannya sehari-harinya. Kalau masih bisa dikabulkan yang na minta, pasti dituruti. Dia juga tidak susah apa yang mau na makan. Bakso na suka sekali. Biasa itu

yang di televisi. Daripada di bilangi tidak di belikanko biasa menangis mengamuk na lama di bujuk baru berhenti kalau takkala menangis. Biasa memang ada orang tua yang na anggap dirinya tidak beruntung atau dapat teguran kalau ada kekurangan sama anaknya. Ada tetanggaku biasa bertanya sama saya adakah anakmu kau beda-bedakan? Ku bilangi kenapa mau ku beda-bedakan na sama semua ji, saya yang lahirkanki. Itu saja ana’ku ZF bodo’-bodo’ na tidak ku bedakan sama saudaranya. Bagi saya dia itu tetap amanah.

Apalagi kelainannya itu bukan dari lahir, tapi gara-gara sering sakit waktu kecil”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

“ZF itu paling dekat sama saya kalau ada di rumah. Saya ji yang selalu na temani. Itumi rajin kalo saya yang suruh.

Kalau bepergian dia yang selalu saya kasi ikut. Karna tidak merepotkanji anaknya kalau di bawa ke rumahnya orang lain. Tidak seperti ji anak yang lain yang suka ribut sana sini dan lari kesana kemari. Dia itu ada terus ji di belakangku ikutika. Biasa sambil pegang ujung baju ku. Sering ku bawa-bawa ke tempat rumah orang atau tempat acara yang ramai supaya dia terbiasa ketemu keluarga dan banyak orang. Dia sering tidak mau ikut kalau mauka pergi ke tempat ramai.

Karna dia tidak suka dengan suasana yang ramai. Kalau adami di rumahnya orang biasa ku bilangi pergiki main sama anak-anak lain. Dia geleng-geleng saja tidak mau. Ku ajarkan juga jawab pertanyaannya orang lain kalau ada yang bertanya sama dia. Karna kalau ada orang bertanya sama dia, diam saja. Tunduk tidak mau di liat mukanya. Biasa mi ku bilangi memang di rumah sebelum pergi kalau di tempat acara nanti tidak boleh menangis atau marah-marah kalau mau minta pulang. Na ketawaiki orang nanti. Kalau ada yang bertanya sama kita bicara ki jangan diam saja. Itumi na bilangiki orang lain bodo’-bodo’ kalau di bicarai baru tidak di jawab. Tapi biasa biar sudah di ingatkan begitu terus, kalau ada yang tanya di diam saja atau geleng kepala. Di bantu pi karna biar na jawab hampir tidak di dengar suaranya. Dari kecilnya itu ku biasakan memang kalau salaman itu cium tangan, sekarang kalau ada yang salaman sama dia tanpa di ingatkan lagi dia cium tangan”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari sang anak, ibu NI juga memilih tetap menyekolahkan ZF meskipun nilai akademiknya selalu rendah di sekolah. Berikut penuturannya Ibu NI:

“Sebenarnya waktu ZF masih kecil ragu ka’ ada sekolah yang mau terima anak ku dengan keadaannya yang begitu.

Tidak ada apa na tau. Tapi itu tetangga ku yang berprofesi sebagai guru bilang coba mendaftar saja di tempatnya mengajar. Kebetulan lokasi sekolah dekat ji dari rumahku, jadi ku daftarkan di sana dan alhamdulillah di terima. Waktu di SD mi sering lagi berkelahi, datang biasa itu orang tua murid mengeluh karna sudah lagi di pukul anaknya. tapi itupi berkelahi kalau di ganggu duluanki. Kalau na suruh gurunya naik mi di meja marah-marah. Pusing ma di situ. Mau ku kasi berhenti dari sekolah karna biar juga sekolah tidak ada na tau, tapi tambah tidak adami na tau kalau tinggalji di rumah.

Gurunya juga masih na terima. Jadi terus na lanjutkan sekolahnya. Apalagi lewat sekolah ji baru bisa dapat ijasah.

Kalau di rumah mi itu ku ajar terus mi kalau di sekolah tidak boleh marah-marah sama guru. Kalau suka marah-marah nanti na bilangi ki orang ka bodo’bodo’ ini ZF karna marah terus. Kalau suka marah sama guru dan suka pukul-pukul orang di kasi keluarki sekolah, tidak di kasi maki itu uang jajan seperti kakak kalau pergi sekolah. Ku bujuk terus dan nasehati supaya tidak berkelakuan buruk lagi di sekolah. Itu terus ku ulang-ulang ku ingatkan sampainya naik kelas dari tahun ke tahun tidak sukami memukul temannya dan na bilang gurunya sopan dan diam terus mi kalau ada di bicarai guru. Di ajarkan mi juga di rumah membaca dan menulis.

Kalau menonton mi itu selalu bapaknya di suruh itu ZF baca itu tulisan dalam televisi. Baru na kasi liat uang lima ribu rupiah (Rp. 5.000,-) di tangannya. Kalau bisa ZF baca itu tulisan dikasi’ ki itu uang. Begitumi awalnya mulai belajar membaca. Begitu terus menerus di ulang-ulang. Itumi ada ji na tau kalau membaca tapi belum terlalu lancar. Menulis juga tidak terlalu lancarpi. Tidak kutau bagaimana penilaian gurunya sampai ana’ku bisa lulus”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

“Lulus SD mau lagi masuk SMP, saya sama bapaknya mulai pusing lagi cari sekolah yang mau terima kondisinya.