• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN KONVENSI JENEWA 1949 DAN

B. Perlindungan Hukum Konvensi Jenewa 1949 dan

Statuta Pengadilan Internasional (the Statute of the International Court of Justice) mengumumkan hasrat keinginan mereka yang sungguh-sungguh untuk melihat terwujudnya perdamaian diantara rakyat-rakyat.

Protokol Tambahan I adalah Protokol bawaan yang menjadi pelengkap dan penjelas bagi Konvensi Jenewa 1949, selain mengkodifikasi aturan-aturan yang sudah ada dalam Konvensi Jenewa Tahun 1949 juga meletakkan dasar bagi pembentukan aturan-aturan baru dalam hukum tersebut.

Sebuah aturan baru lain yang diberlakukan dalam Protokol Tambahan I ialah larangan dengan cara atau penggunaan sarana berperang yang dimaksudkan untuk menimbulkan kerusakan hebat yang meluas dan berjangka panjang terhadap lingkungan hidup atau yang bisa diperkirakan akan menimbulkan kerusakan semacam itu. Jelas saja, hal ini bisa menimbulkan dampak korban yang jauh lebih banyak daripada serangan dengan senjata api.

Di dalam Konvesi Jenewa Tahun 1949 diatur ketentuan-ketentuan mengenai Perlindungan Korban Perang. Terdapat empat bentuk konfensi, diantaranya Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat, Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka, Sakit dan Korban Karam, Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perlakuan

Terhadap Tawanan Perang, Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perlindungan Orang-orang Sipil diwaktu Perang.Konvensi Jenewa Tahun 1949 mengatur ketentuan-ketentuan khusus, yang setiap Konvensinya diikuti Bab yang menjadi turunan di dalam Konvensi tersebut.

Perlindungan terhadap korban perang yang sejak pertamakali dituangkan kedalam bentuk Konvensi pada tahun 1684menegaskan bahwa :

1. Ambulan, rumah sakit militer, dan personil yang melayani mereka harus diakui sebagai netral dan dilindungi selama konflik;

2. Warganegara yang membantu orang yang luka harus dilindungi;

3. Kombatan yang luka dan sakit harus dikumpulkan dan dirawat oleh salah satu pihak pesengketa;

4. Lambang palang merah di atas latar putih berfungsi sebagai lambang perlindungan untuk mengenali personil, perlengkapan, dan fasilitas kesehatan yang dilarang untuk diserang.

Lalu ketentuan ini diperluas lagi kedalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang, dan Protokol-protokol Tambahannya. Perlindungan ini untuk sebagian besar ditujukan kepada sengketa bersenjata internasional, diatur dengan rinci, dan sebagian lainnya, mengatur secara garis besar perlindungan korban perang dalam sengekata bersenjata non internasional atau perang saudara (civil war). Pengaturan mengenai perang saudara (civil war) ini diatur dalam Pasal 3 yang Bersamaan (Common Articles 3) pada Konvensi Jenewa 1949. Tujuan Konvensi-konvensi Jenewa dan Protokol-protokol Tambahannya adalah untuk melindungi pihak lawan “yang dikuasai suatu pihak yang bersengketa” seperti tawanan perang, personil kesehatan atau orang-orang sipil.

Hukum Jenewa memberikan perlindungan bagi semua mereka, yang sebagai pesengketa bersenjata, jatuh ketangan musuh, seperti “Tawanan perang, personil kesehatan, dan orang-orang sipil.”53 Perlindungan ini bukan terhadap kekerasan perangnya sendiri, tetapi atas kekuasaan sewenang-wenang yang dilakukan salah satu pihak dalam sengketa bersenjata terhadap pihak lawannya.

Perlindungan jenis ini diberikan pertama kali dalam tahun 1864, kepada ‘tentara yang terluka di medan perang darat’. Sejak tahun 1949 perlindungan ini diperluas hingga semua kategori orang yang disebutkan di dalam empat Konvensi Jenewa 1949.Keempat Konvensi Jenewa tersebut adalah :

Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat (the Convention (I) for the Amelioration of the Condition of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field) yang di dalamnya terbagi ; Bab I tentang Ketentuan-ketentuan Umum, Bab II tentang Yang Luka dan Sakit, Bab III tentang Kesatuan-kesatuan dan Bangunan-bangunan Kesehatan, Bab IV tentang Anggota Dinas Kesehatan, Bab V tentang Gedung dan Perlengkapan, Bab VI tentang Pengangkutan Kesehatan, Bab VII tentang Lambang Pengenal, Bab VIII tentang Pelaksanaan Konvensi, dan Bab IX tentang Tindakan Terhadap Penyalahgunaan dan Pelanggaran. Batang Tubuh Konvensi (Body of Convention)Jenewa I.

Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka, Sakit dan Korban Karam (the Convention (II) for the Amelioration of the Condition of Wounded, Sick and Shipwrecked Members of Armed Forces at Sea) yang di dalamnya terbagi ; Bab I tentang Ketentuan Umum,

53 Theodor Meron, “The Hague Academy Of International Law The Humanization Of International Law”, Martinus Nijhoff Publishers, Leiden Boston, p. 53.

Bab II tentang Yang Luka, Sakit dan Korban Karam, Bab III tentang Kapal Kesehatan, Bab IV tentang Pesonel Dinas Keagaamaan, Kesehatan dan Rumah sakit, Bab V tentang Transportasi Kesehatan, Bab VI tentang Lambang Pengenal, Bab VII tentang Pelaksanaan Konvensi, dan Bab VIII tentang Tindakan Terhadap Penyalahgunaan dan Pelanggaran.

Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perlakuan Terhadap Tawanan Perang (the Convention (III) Relative to the Treatment of Prisoners of War) yang di dalamnya terbagi ; Bab I tentang Ketentuan Umum, Bab II tentang Perlidungan Umum Bagi Tawanan Perang, Bab III tentang Penawanan, Bab IV tentang Berakhirnya Penawanan, Bab V tentang Biro Penerangan dan Perhimpunan-perhimpunan Penolong bagi Tawanan Perang, dan Bab VI tentang Pelaksanaan Konvensi.

Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perlindungan Orang-orang Sipil diwaktu Perang (the Convention (IV) Relative to the Protection of Civilian Persons in Time of War) yang di dalamnya terbagi ; Bab I tentang Ketentuan Umum, Bab II tentang Perlindungan Umum Penduduk Terhadap Akibat-akibat Perang Tertentu, Bab III tentang Kedudukan dan Perlakuan dari Orang-orang yang dilindungi, dan Bab IV tentang Pelaksanaan Konvensi.

Konvensi I sampai III terkait dengan petempur (combatant) yang jatuh ke tangan musuh (dan beberapa kelompok terkait). Konvensi I dan II secara khusus melindungi para kombatan yang memerlukan perlindungan dikarenakan mereka terluka, sakit atau karam. Konvensi III menetapkan peraturan umum mengenai status, perlindungan dan perlakuan terhadap tawanan perang, baik sehat maupun

terluka. Sedangkan Konvensi IV membahas tentang perlindungan yang diberikan untuk warga sipil.

Mengenai perlindungan terhadap para tawanan perang ini, Pasal 4 Konvensi III menyebutkan daftar kepada mereka yang diberikan perlindungan sebagai tawanan perang adalah sebagai berikut:

1. Para anggota angkatan bersenjata dari suatu pihak yang bersengketa, sekalipun pemerintah atau penguasa mereka tidak diakui oleh pihak lawan:

2. Para anggota milisi lainnya atau korp relawan termasuk anggota gerakan perlawanan yang terorganisir, yang tergolong kepada satu pihak pesengketa dan beroperasi di luar atau di dalam atau di luar wilayah mereka, walaupun wilayah ini adalah wilayah pendudukan; dengan ketentuan kelompok tersebut memenuhi empat syarat Pasal 1 Konvensi Den Haag (the Hague Regulations)54 yang diulangi dalam pasal-pasal yang terkait dengan Konvensi-konvensi (Jenewa 1949):

a. dipimpin oleh seorang yang bertanggung jawab atas (tindakan) bawahannya ;

b. memiliki tanda pengenal yang dapat dikenali dari jauh ; c. membawa senjata secara terang-terangan ;

3. Melaksanakan operasi mereka sesuai dengan hukum dan kebiasaan peran ;

54 Pasal 1 Konvensi Den Haag : Para Pihak Peserta harus mengeluarkan instruksi-instruksi kepada Angkatan Daratnya, yang harus sesuai dengan Regulasi mengenai Hukum dan Kebiasaan perang di Darat, yang dilampirkan pada Konvensi ini.

4. Para peserta dalam leve´e en masse55, dengan syarat membawa senjata secara terbuka dan menghormati hukum dan kebiasaan perang:

5. Orang yang menyertai angkatan bersenjata yang bukan anngota, seperti para wartawan perang yang diakreditasi sebagaimana mestinya dan para anggota dinas kesejahteraan;

6. Para anggota anak buah, kapal dagang dan awak pesawat terbang sipil dari pihak-pihak pesengketa.

Mereka semua masuk kedalam kategori “Orang yang ikut bertempur”, karena itu mereka mengambil bagian langsung dalam tindakan permusuhan dan, apabila tertangkap oleh musuh, biasanya ditahan sebagai tawanan perang selama masa konflik. Dan, mereka yang termasuk kategori 4 dan 5, adalah orang-orang sipil, namun mereka ditangkap dalam keadaan yang menunjukkan adanya hubungan erat dengan angkatan bersenjata di pihak musuh yang tengah berkonflik. Sekalipun pihak penangkap dapat memutuskan membiarkan mereka pergi, berdasarkan pertimbangan penangkapan pihak yang menahan berhak menahan mereka untuk beberapa lama, bahkan selama sengketa bersenjata berlanjut. Jika keputusannya demikian, maka pihak penahan harus memperlakukan mereka sebagai tawanan perang.

Konvensi Keempat melindungi orang-orang sipil dalam kategori tertentu.

Pasal 4 menentukan orang-orang yang dilindungi adalah mereka yang pada waktu

55Leve´e en masse adalah penduduk di wilayah yang belum diduduki yang tatkala musuh datang mendekat, atas kemauan sendiri dan dengan serentak mengangkat senjata untuk melawan pasukan-pasukan yang menyerbu, tanpa mempunyai waktu untuk membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata antara mereka yang teratur, asal saja mereka membawa senjata secara terang-terangan dan menghormati hukum dan kebiasaan perang. Lihat pada Pasal 2 Regulasi Den Haag 1907.

tertentu dan dengan cara apa pun, dalam kasus sengketa bersenjata atau penduduk menemukan diri mereka dalam kekuasan suatu pihak yang bersengketa atau negara penduduk tersebut sedangkan mereka bukan warganegara dari pihak tersebut. Ada beberapa pengecualian dari prinsip umum ini, termasuk, misalnya, ada warganegara netral di wilayah suatu pihak bersengketa dan warga negara dari negara yang turut berperang (co-belligerent), asalkan negara dari orang-orang yang menjadi warga negara tersebut memiliki perwakilan diplomatik dengan negara yang menahan mereka, dan tentu saja mereka semua dilindungi oleh Konvensi I sampai dengan Konvensi III.

Ada beberapa hal yang memerlukan penjelasan di sini.Pertama, lingkup terbatas dari Konvensi tentang Orang-orang Sipil. Konvensi ini tidak dimaksdukan untuk melindungi orang-orang sipil dari bahaya perang, seperti pemboman udara juga tidak memberikan mereka perlindungan dari tidakan Negara mereka sendiri. Perlindungan ini diberikan kepada orang-orang sipil dalam kekuasaan musuh.

Kedua, para pejuang perlawanan, atau pejuang gerilya yang tidak memenuhi empat syarat sebagai petempur tidak dapat menuntut hak diperlakukan sebagai tawanan perang. Di sisi lain, mereka berhak atas perlindungan yang lebih sedikit dari Konvensi Sipil.

Ketiga, ada pertanyaan penting menyangkut hal-hal di atas, yang tidak mudah dijawab.Siapa yang memberikan jawaban ini? Dan bagaimana orang-orang yang terkait (katakanlah pejuang perlawanan di wilayah pendudukan) diperlakukan sementara? Pasal 5 Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perlakuan Terhadap Tawanan Perang menjawab pertanyaan ini sebagai berikut: “Apabila

timbul keraguan mengenai apakah orang yang telah melakukan tindakan kepada pihak yang berperang yang jatuh ke dalam kekuasaan musuh, masuk dalam kategori yang disebutkan dalam Pasal 4, orang-orang tersebut mendapatkan perlindungan dari Konvensi ini sampai status mereka ditentukan oleh pengadilan yang berwenang”. Aturan ini, yang diterapkan misalnya oleh Amerika Serikat dalam Perang Vietnam, menghilangkan risiko keputusan sewenang-wenang oleh komandan perang dan menyerahkan urusannya pada pengadilan.56

Terkait dengan hal ini, maka dalam perlindungan terhadap korban perang ini dibicarakan mengenai: perlindungan korban perang di darat, perlindungan korban karam, perlindungan terhadap tawanan perang; perlindungan terhadap orang atau penduduk sipil, dan perlindungan orang-orang sipil diwaktu perang.

Konvensi ini juga yang menjadi pedoman utama International Committee of the Red Cross dalam tugasnya melindungi para korban dari pihak yang tengah berkonflik sebagai salah satu dasar dari hukum organisasi mereka.Konvensi Jenewa adalah hukum mutlak yang harus dihargai dan di hormati serta dijalankan oleh semua pihak.

1. Perlindungan Korban Perang di Darat

Perlindungan atas korban perang di darat sebagaimana telah diuraikan di atas diatur dalam Konvensi Jenewa I 1949 untuk Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Luka dan Sakit di Darat. Konvensi ini tidak menegaskan apa yang dimaksud dengan sakit. Apa yang dimaksud dengan orang sakit ditegaskan dalam Protokol Tambahan I 1977. Pasal 8 (a) berbunyi:

56 https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Vietnam diakses pada tanggal 3 November 2016.

"Persons, whether military or civilian, who, because of trauma, disease or other physical or mental disorder or disability, are in need of medical assistance or care and who refrain from any act of hostility."

“Yang dimaksud dengan “yang luka” dan “yang sakit” adalah orang-orang, baik militer ataupun sipil yang karena trauma, penyakit atau gangguan mental atau ketidakmampuan jasmani, memerlukan bantuan atau perawatan kesehatan, dan yang menjauhkan diri dari setiap tindakan permusuhan.” Istilah-istilah ini juga meliputi hal-hal kesehatan ibu, bayi-bayi yang baru lahir dan orang-orang lainnya yang mungkin memerlukan bantuan atau perawatan kesehatan yang segera, seperti halnya ibu-ibu yang lemah atau sedang mengandung, dan yang menjauhkan diri dari setiap tindakan permusuhan.

Jadi “sakit” adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh trauma, penyakit, atau kecacatan mental yang memerlukan bantuan atau perawatan kesehatan dan yang tidak melakukan tindakan permusuhan.

Mereka yang mendapat perlindungan karena sakit atau luka berdasarkan Pasal 13 Konvensi Jenewa adalah:

1. Members of armed forces of a Party to the conflict, … militias [and]

volunteer corps forming part of such armed forces.

2. Members of other militias and members of other volunteer corps, including those of organized resistance movements, belonging to a Party to the conflict … provided [they] fulfill the following conditions:

a. That of being commanded by a person responsible for his subordinates ;

b. That of having a fixed distinctive sign recognizable at a distance;

c. That of carrying arms openly ;

d. That of conducting their operations in accordance with the laws and customs of war.

3. Members of regular armed forces who profess allegiance to a government or an authority not recognized by the Detaining Power.

4. Persons who accompany the armed forces without actually being members thereof. … provided they have received authorization from the armed forces which they accompany. …

5. Members of crews ... of the merchant marine and … civil aircraft of the Parties to the conflict, who do not benefit by more favorable treatment under any other provisions of international law.

6. Inhabitants of a non-occupied territory, who on the approach of the enemy spontaneously take up arms to resist the invading forces ... provided they carry arms openly and respect the laws and customs of war.

Mereka yang luka dan sakit harus: (a) dihormati dan dilindungi tanpa pembedaan atas dasar jenis kelamin, ras, kebangsaan, agama, keyakinan politik atau patokan-patokan lainnya; (b) tidak dibunuh, dimusnahkan, disiksa atau dijadikan percobaan biologi; menerima perawatan yang memadai; (d) dilindungi dari penjarahan, dan perlakuan tidak baik. Pasal ini juga memberi wewenang penadatanganan perjanjian lokal untuk penghapusan atau pertukaran mereka yang

sakit atau terluka dari kawasan yang terkepung, dan memberikan jalan bagi personil dan perlengkapan kesehatan dan agama ke tempat tersebut.57

Pasal 16 menegaskan ketentuan terkait dengan identifikasi yang luka, sakit dan mati, dan pasal 17 terkait dengan pengurusan orang yang mati.

Penguburan atau kremasi dilakukan secara perorangan jika keadaan memungkinkan, tetapi kremasi hanya diperbolehkan dengan alas an kesehatan yang mendesak berdasarkan agama mendiang.

Pasal 15 juga bersama dengan pasal 16 mewajibkan para pihak yang tengah berkonflik mencari dan mengumpulkan mereka yang luka dan sakit khususnya setelah perempuran usai, dan memberikan informasi kepada the Central Tracing Agency of the International Committee of the Red Cross.

Dalam mengurus orang yang sakit dan terluka, pasal 18 juga menekankan peranan penduduk.Pasal ini juga menegaskanbahwa penduduk sipil juga harus menghormati yang luka dan sakit dari tindakan kekerasan.

Mengenai perawatan kesehatan terhadap mereka yang luka dan sakit, ini menjadi tanggung jawab utama dinas kesehatan militer. Dalam hal ini mereka memiliki fungsi ganda,di satu sisi, memberikan sumbangan atas kekuatan tempur kepada angkatan bersenjata mereka, di sisi lain, memberikan bantuan kesehatan kepada para pihak yang tengah berperang baik kombatan sendiri maupun kombatan lawan yang membutuhkan perawatan sebagai akibat dari sengketa bersenjata. Pengutamaan bantuan medis hanya didasarkan pada alasan mendesak bagi peratan kesehatan, bukan karena yang bersangkutan termasuk dalam angkatan bersenjatanya.

57 Mr. Mansfield, Report all for Geneva Conventions For The Protection Of War Victims, Report, June 27, 1955, p.8.

Untuk memungkinkan pelaksanaan tugas mereka, dinas kesehatan militer, bersama-sama membangun bangunan tetap dan unit-unit bergerak (rumah sakit, ambulan dan lainnya). Pasal 24 menentukan bahwa personil kesehatan dan administratif dari dinas kesehatan militer (dokter, perawat, pengusung mayat dan sebagainya) serta tokoh agama (ustad, pendeta, biksu dan lainnya) yang ikut pada angkatan bersenjata harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan.Dalam pasal 28 ditegaskan jika mereka jatuh kedalam kekuasaan musuh, mereka harus ditahan hanya jika keadaan kesehatan, kebutuhan spiritual dan jumlah tawanan perang membutuhkannya.Terkait dengan personil bantuan yang dilatih untuk melaksanakan fungsi yang sama, seperti perawat, pasal 25 menyatakan bahwa

“Mereka juga harus dihormati dan dilindungi jika mereka melaksanakan tugas mereka pada waktu mereka terlibat kontak dengan musuh atau jatuh ke dalam kekuasaannya. Jika ini terjadi, mereka harus dijadikan tawanan, tetapi harus dipekerjakan dalam tugas kesehatan apabila hal ini diperlukan.”58

Para anggota staf Perhimpunan Palang Merah atau Bulan Sabit Merah dari pihak-pihak pesengketa, yang dipekerjakan dengan tugas yang sama dengan personil dinas kesehatan militer sebagaimana disebutkan dalam Pasal 24, mendapat perlindungan yang sama dengan personil tersebut, dengan ketentuan bahwa mereka tunduk kepada peraturan perundang-undangan militer.59

Perhimpunan yang diakui dari sebuah Negara netral yang mau memberikan bantuan personil dan unit-unit kesehatannya kepada suatu pihak yang bersengketa memerlukan persetujuan lebih dahulu dari pemerintahnya, serta

58 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa untuk Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat. Pasal 29

59 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa untuk Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat.Pasal 26.

pengesahan dari pihak terkait. Dalam pasal 27 disebutkan personil dan unit yang diberikan tugas ini ditempatkan di bawah kontrolpihak tersebut, dan pemerintah harus netral dalam memberitahukan persetujuannya kepada pihak lawan.Jika para anggota personil ini jatuh ke dalam kekuasaan pihak lawan, pada prinsipnya, mereka diperbolehkan kembali ke negara mereka, atau jika ini tidak mungkin melakukan pemulangan kenegara asal, pihak yang menahan bisa memberikan pelayanan dan segera mengambil rute pengembalian mereka secara terbuka dan dengan pertimbangan militer jika memungkinkan.60

Bangunan-bangunan kesehatan dan unit-unit kesehatandari dinas militer seperti rumah sakitdan ambulan tidak boleh diserang.61Bangunan dan unit kesehatan tidak boleh digunakan untuk melakukanperbuatan di luar tugas mereka yang berhubungan dengan kemanusiaan, juga tidak diperbolehkan melakukan usaha yang membahayakan orang atau dirinya sendiri.62

Pasal 23 menentukan pembentukan daerah atau zona rumah sakit dan perkampungan (hospital zones and localities) untuk melindungi mereka yang terluka dan sakit serta personil yang dijamin perawatan mereka karena perang.

Agar tindakan tersebut dapat dijalankan, diperlukan pengakuan tegas oleh pihak lawan mengenai status perlindungan kawasan dan daerah tempat tinggal tersebut.

Di antara peraturan-peraturan dalam konvensi mengenai perlindungan alat pengangkutan mereka yang terluka atau sakit juga untuk menangkut perlengkapan

60 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa untuk Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat.Pasal 32.

61 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa untuk Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka dan Sakit di Medan Pertempuran Darat.Pasal 19.

62 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka, Sakit dan Korban Karam.Pasal 27.

kesehatan, alat pengangkutan dan perlengkapan terkait dengan pesawat terbang, kesehatan pantas memperoleh perhatian khusus.

Peraturan yang terkait dengan ini,63 sangat kaku karena untuk menggunakan pesawat terbang adalah hal yang tidak mungkin.Pesawat terbang harus digunakan khusus untuk memindahkan mereka yang terluka dan sakit dan untuk pengangkutan personil dan perlengkapan kesehatan; setiap rincian atas penerbangan yang dilakukan (lintang, waktu dan rute) harus disetujui secara khusus dia antara pihak-pihak yang tengah berkonflik tersebut, mereka tidak boleh terbang di atas wilayah musuh atau wilayah yang diduduki musuh dan mereka harusmematuhi setiap perintah untuk mendarat.

Sistem perlindungan personil, perlengkapan, rumah sakit dan ambulans, serta pengangkutan tetap dalam penggunaan dan penghormatan lambang pengenal, yakni Palang Merah atau Bulan Sabit Merah di atas dasar kain berwarna putih. Pasal 38 juga menyebut simbol Singa dan Matahari merah di atas kain berwarna putih yang pernah digunakan Iran sebelum era Republik Islam Iran juga menggunakan dasar bahwa daerah yang terkibar bendera ini dan sejauh radiusnya merupakan daerah yang tidak boleh diserang. Israel juga menggunakan perisai Merah Daud di atas kain berwarna putih sebagai simbol akan hal itu.

Akhirnya, Pasal 46 melarang pembalasan (reprisal) terhadap mereka yang luka, sakit, ataupun menyerang balik bangunan atau perlengkapan yang dilindungi oleh konvensi.Ini dimaksudkan untuk menghindari suatu pihak yang berkonflik untuk menuntut hak yang menyimpangi peraturan konvensi, agar nantinya bisa membujuk pihak lawan kembali menghormati hukum sengketa bersenjata.

63 Konvensi Jenewa Tahun 1949. Konvensi Jenewa Tahun 1949 tentang Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Perang yang Luka, Sakit dan Korban Karam. Pasal 36

2. Perlindungan Korban Karam

Dalam Konvens Jenewa dibuat pembedaan terkait dengan pengaturan

Dalam Konvens Jenewa dibuat pembedaan terkait dengan pengaturan

Dokumen terkait