• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

Dalam dokumen Konstitus ionalisme Dalam Dinamika Negara (Halaman 122-125)

HAK ASASI MANUSIA

2) Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

Dalam kaitannya dengan perlindungan wartawan, UU Pers dengan tegas menyatakan bahwa dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapatkan perlindungan hukum8. Lebih lanjut dari

penjelasan UU Pers diketahui bahwa perlindungan hukum yang dimaksud adalah jaminan perlindungan pemerintah dan atau masyarakat kepada wartawan dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku9. Dari frasa “sesuai dengan peraturan perundangan

yang berlaku” tulisan ini menyimpulkan bahwa sepanjang tidak dijumpai pengaturannya di dalam UU Pers, maka perlindungan terhadap wartawan akan menggunakan sarana hukum lain di luar UU Pers. Dalam terjadinya tindak pidana penganiayaan maupun pembunuhan yang kerap menimpa wartawan misalnya, KUHP lah yang akan berbicara.

Namun begitu sampai di sini dapat dikritisi apakah wartawan dalam menjalankan profesinya telah benar-benar terlindungi secara hukum sebagaimana dinyatakan dalam UU Pers? Alih- alih protektif, kerapkali peraturan pidana justeru digunaan untuk mengkriminalisasi jurnalis, suatu fenomena yang biasanya dijumpai di berbagai negara yang tak demokratis. Apa yang dialami oleh Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO Bambang Harymurti yang dipidana 1 tahun menggunakan pasal pencemaran nama baik (Pasal 310 dan 311 KUHP) terhadap pengusaha Tommy Winata menjadi contoh fenomenal aplikasi hukum yang tak ramah pada kebebasan pers10. Dikriminalisasinya karya jurnalistik seperti yang

dapat dilakukan atau tidak.

8Lihat Pasal 8.

9Lihat penjelasan Pasal 8.

10Bambang Harymurti dijatuhi pidana karena pencemaran nama baik kepada Tommy

Winata atas laporan investigasi karya Ahmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali yang dimuat TEMPO tertanggal 16 September 2004 berjudul “Terbakar”. Diindikasikan dalam karya jurnalistik tersebut bahwa pengusaha Tommy Winata menangguk keuntungan dari

dialami oleh Erwin Ananda dari majalah Playboy akibat pengadilan yang tunduk pada tekanan kelompok ekstrim pula menunjukkan bahwa kemerdekaan pers di Indonesia masih amatlah mahal. Selain itu masih terdapat rancangan undang- undang yang jika disahkan akan mengancam kebebasan pers11 dan tiadanya keharusan hukum

untuk menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa yang dikenal dalam dalam UU Pers seperti hak jawab dan hak koreksi telah memberi celah bagi pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan untuk mengadukan insan pers termasuk wartawan secara pidana12. Impak dari kesemua hal di atas tentu tidaklah

remeh: langgengnya kriminalisasi atas karya jurnalistik. Kendati telah memiliki UU Pers lebih dari satu dasawarsa, kemerdekaan pers di Indonesia tak juga mencapai titik maksimal. Freedom House, sebuah NGO yang mengawasi kebebasan di seluruh dunia menempatkan kebebasan pers Indonesia di tahun 2011 pada peringkat ke 108. Posisi ini sejajar dengan dengan Sierra Leone, Lebanon, Marituania13.

terbakarnya Pasar Tanah Abang di Jakarta. Bambang akhirnya dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung dalam putusan kasasi. Namun begitu, putusan Mahkamah Agung sekalipun amat ambigu karena pada satu sisi menyatakan bahwa dalam kasus pers jika dirasa tidak perlu sebaiknya menggunakan pendekatan dalam hukum pers. Selengkapnya mengenai ini bacalah International Federation of Journalist & Aliansi Jurnalis Independen, Dekriminalisasi Pencemaran Nama Baik: Sebuah Acuan Kampanye IFJ Untuk Penghapusan Pasal Pencemaran Nama Baik, 2005, hal. 23-26. Bambang Harymurti sendiri mengkritik ketidakpastian hukum soal apakah UU Pers merupakan Lex Speciali ataukah tidak. Hal ini karena implikasi dari keyakinan itu amat besar. Banyak jurnalis dipidana ketika hakim yang mengadilinya tidak meyakini bahwa UU Pers merupakan Lex Speciali. Lihat Bambang Harymurti,

11RUU Rahasia Negara misalnya mengancam adanya pidana penjara maupun denda

pada pers.

12Majalah TEMPO diadukan oleh Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia terkait

ilustrasi sampul depan majalah TEMPO edisi 28 Juni – 4 Juli 2010 yang menggambarkan seorang polisi sedang menggembala celengan berbentuk babi, dengan judul “Rekening Gendut Perwira Polisi”. Kendati kemudian menempuh mediasi, kasus ini memberi contoh betapa kepolisian selaku penegak hukum sekalipunlebih memilih pendekatan hukum pidana ketimbang pendekatan yang dikenal dalam dunia jurnalistik yakni dengan menggunakan hak jawab dan atau hak koreksi.Baca Manunggal K. Wardaya, “Kriminalisasi TEMPO”, dalam Suara Merdeka, 2 Juli 2010.

Hal lain terkait dengan perlindungan hukum terhadap wartawan adalah terkait dengan pertanyaan: apakah misalnya, kebutuhan khusus wartawan telah cukup diatur dengan berbagai ketentuan di luar UU Pers misalnya KUHP? Orang bisa memberi jawaban “ya” untuk pertanyaan ini, akan tetapi tulisan ini meyakini bahwa perlindungan terhadap wartawan demikian lebih kepada perlindungan yang represif, yakni manakala telah terjadi peristiwa pelanggaran pidana terhadap wartawan. Akan halnya perlindungan preventif dengan memenuhi kebutuhan wartawan dalam kaitannya dengan keselamatan selama menjalankan tugas misalnya, tidak ditemukan pengaturannya dalam UU Pers.

Ketentuan mengenai perlindungan wartawan hanya ditemukan dalam Peraturan Dewan Pers No. 5/Peraturan-DP/ IV/ Tahun 2007. Peraturan tersebut memuat ketentuan yang amat baik mengatur mengenai perlindungan wartawan. Disebutkan di sana bahwa wartawan dilindungi dari kekerasan, pengambilan, penyitaan, dan atau perampasan alat kerja serta tidak boleh dihambat dan diintimidasi oleh pihak manapun. Disebutkan pula dalam peraturan dewan pers tersebut bahwa wartawan yang ditugaskan di daerah konflik harus dibekali surat penugasan, peralatan keamanan yang memenuhi syarat, dan asuransi.

Persoalannya kemudian adalah peraturan dewan pers ini bukanlah suatu produk hukum yang mengikat dan mempunyai kekuatan memaksa. Ia berada di ranah etik saja, yang kepatuhannya mendasarkan kepada kebaikan hati perusahaan media.

Dengan kata lain, semisal perusahaan tidak memberikan alat keselamatan maupun tak memberikan tanda pengenal sebagai wartawan yang penting dimiliki sebagai identitas di kala konflik, maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran hukum yang bersanksi yang oleh karenanya dapat memaksa perusahaan pers untuk mematuhinya. Sekalipun kalangan

perusahaan pers pernah menyatakan bahwa peraturan dewan pers mengenai standar perlindungan wartawan dan berbagai peraturan dewan pers lainnya akan menjadi kebijakan perusahaan pers, suatu pernyataan yang dimuat dalam apa yang disebut sebagai Piagam Palembang14namun tetap saja piagam itu lebih kepada moral saja

pemenuhannya yang kalaulah tidak dipenuhi, tidak mengandung sanksi yang berarti bagi perusahaan pers.

3) Identitas Kewartawanan, Relasi Wartawan-Media,

Dalam dokumen Konstitus ionalisme Dalam Dinamika Negara (Halaman 122-125)