BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG HAK PERLINDUNGAN
D. Perlindungan Konsumen Pengguna Jasa Penerbangan
Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan
Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen, sebagai benteng untuk meniadakan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pelaku usaha hanya demi untuk perlindungan konsumen.48
Meskipun disebutkan undang-undang perlindungan konsumen, namun bukan berarti kepentingan pelaku usaha tidak menjadi perhatian, teristimewa karena keberadaan perekonomian nasional banyak ditentukan oleh para pelaku usaha.49 Kesewenang-wenangan akan mengakibatkan ketidakpastian hukum, oleh karenan itu agar segala upaya memberikan jaminan kepastian hukum, ukurannya secara kualitatif ditentukan oleh undang-undang perlindungan konsumen dan undang-undang lainnya yang masih berlaku antara lain Undang-undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
Maskapai Penerbangan sebagai pelaku usaha mempunyai tugas dan kewajiban untuk ikut serta menciptakan dan menjaga iklim usaha yang sehat untuk dapat menunjang pembangunan perekonomian nasional secara menyeluruh.50 Oleh karena itu kepada badan usaha maskapai penerbangan di
47
Ahmadi Miru, Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen di Indonesia, 2011 hlm 215
48
Ahmadi Miru, 2014, Hukum Perlindungan Konsumen, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 1
49
Ibid hlm. 1
50
Janus Sidabalok, 2014 Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung hlm. 80
bebankan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan kewajiban itu, yaitu menerapkan norma-norma hukum, kepatutan dan menjunjung tinggi kebiasaan yang berlaku di kalangan dunia penerbangan. Para Maskapai Penerbangan harus senantiasa beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya, dengan demikian mereka telah menciptakan iklim usaha yang sehat demi menunjang pembangunan nasional dan menciptakan nilai-nilai keadilan dan kepatutan terhadap para konsumen pengguna maskapai udara.
Maskapai penerbangan dapat melakukan perbuatan yang tidak jujur berupa segala tingkah laku yang tidak sesuai dengan itikad baik, kejujuran di dalam usaha, antara lain menaikkan harga barang secara tidak semestinya atau pemberian harga yang tidak wajar.51 Hal ini menyebabkan konsumen membeli tiket dengan harga yang berbeda dari yang ditentukan oleh batas tertinggi harga tiket. Menurut undang-undang perlindungan konsumen pelaku usaha yang melakukan kesalahan dapat dikenakan sanksi administrasi yang dijatuhkan oleh badan penyelesaian sengketa konsumen.52 Sanksi administrasi dapat berupa penetapan ganti rugi sebanyak 200 juta rupiah. Tata cara penetapan sanksi administrasi diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan. Selama ini pemahaman terhadap sanksi adminstratif, tertuju pada sanksi yang berupa pencabutan isi atau sejenisnya, ternyata berdasarkan pasal 60 ayat 2 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, sanksi administratif juga dapat berupa penerapan ganti rugi paling banyak 200 juta rupiah.
51
Ibid hlm. 205
52
Berdasarkan Pasal 84 Undang-undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan disebutkan bahwa angkutan udara niaga dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh badan usaha angkutan udara nasional yang telah mendapat izin usaha dari angkutan udara niaga.53 Pelayanan yang diberikan badan usaha pengangkutan udara niaga berjadwal dalam menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam pelayanan dengan standar maksimum (full services), pelayanan dengan standar menengah (medium service) atau pelayanan dengan standar minimum (no frills service).54 Pelayanan dengan standar minimum ini adalah bentuk pelayanan minimum yang diberikan kepada penumpang selama penerbangan. Badan Usaha Angkutan Niaga Berjadwal yang berbasi biaya operasi rendah harus mengajukan permohonan izin kepada menteri perhubungan. Menteri akan menetapkan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang berbasis biaya operasi rendah setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Terhadap badan usaha niaga berjadwal yang berbasis biaya operasi rendah harus dilakukan evaluasi secara periodik.
Tarif Angkutan Udara Niaga Berjadwal Penumpang terdiri atas golongan tarif pelayanan kelas ekonomi dan ekonomi. Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi dihitung berdasarkan komponen tarif jarak, pajak, iuran wajib asuransi dan biaya tuslah/tambahan. Hasil Perhitungan tarif kelas ekonomi merupakan batas atas tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan niaga berjadwal dalam negeri. Tarif tersebut, ditetapkan oleh menteri perhubungan dengan mempertimbangkan aspek perlindungan konsumen dan
53
H.K. Martono dan Agus Pramono, 2013 Hukum Udara Perdata, PT. Rajawali Pers, Jakarta hlm. 346
54
badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dari persaingan tidak sehat. Menurut Pasal 127 ayat 3 Undang-undang No. 1 Tahun 2009, tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi niaga berjadwal dalam negeri, yang ditetapkan oleh menteri perhubungan, harus dipublikasikan kepada konsumen. Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri dilarang menjual harga tiket kelas ekonomi dilarang menjual harga tiket kelas ekonomi melebihi tarif batas atas yang ditetapkan oleh menteri.55 Badan Usaha Angkutan Udara yang melanggar ketentuan tersebut dikenakan sanksi administrasi berupa sanksi peringatan dan atau pencabutan izin rute penerbangan.
Tarif penumpang pelayanan non ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dan angkutan kargo berjadwal dalam negeri ditentukan berdasarkan mekanisme pasar. Sementara tarif angkutan udara niaga untuk penumpang dan angkutan kargo tidak berjadwal (charter) dalam negeri ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa angkutan.56
Badan usaha pengangkutan udara niaga wajib mengangkut orang setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan. Selain itu badan usaha pengangkutan tersebut wajib memberikan pelayanan yang layak kepada setiap pengguna jasa pengangkutan udara sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Perjanjian pengangkutan dibuktikan dengan tiket penumpang dan dokumen muatan. Pengangkutan udara bertanggung jawab atas kerugian yang di derita oleh penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan udara selama bagasi tercatat dalam pengawasan
55
Ibid hlm. 360
56
pengangkut.57 Selain itu pengangkutan udara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita karena keterlambatan pada pengangkutan penumpang, bagasi, atau kargo kecuali apabila pengangkut dapat membuktikan bahwa keterlambatan tersebut disebabkan oleh faktor cuaca dan teknis operasional. Pengangkutan Udara bertanggung jawab atas tidak terangkutnya penumpang sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan dengan alasan kapasitas pesawat udara. Tanggung jawab dimaksud dengan memberikan kompensasi kepada penumpang berupa mengalihkan ke penerbangan lain tanpa membayar biaya tambahan dan atau memberikan konsumsi, akomodasi dan biaya transportasi apabila tidak ada penerbangan lain ke tempat tujuan.
Setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak ke tiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan.58 Ganti kerugian terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga diberikan sesuai kerugian nyata yang dialami. Ketentuan lebih lanjut mengenai perhitungan besaran ganti kerugian, persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti kerugian diatur dalam peraturan menteri ( Pasal 184 UU No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan).
Apabila dalam perjanjian pengangkutan tidak diatur mengenai hak dan kewajiban tertentu, para pihak-pihak akan mengikuti ketentuan hak dan kewajiban yang diatur dalam undang-undang. Akan tetapi jika dalam perjanjian dan dalam undang-undang tidak diatur maka akan mengikuti kebiasaan yang
57
Abdulkadir Muhammad, 2013, Hukum Pengangkutan Niaga, PT Citra Aditya, Bandung. hlm. 47
58
berlaku dalam praktik pengangkutan penerbangan yaitu kebiasaan yang dianggap sebagai hukum perdata tidak tertulis. Kriteria yang dapat digunakan agar kebiasaan itu dianggap sebagai hukum perdata tidak tertulis adalah perbuatan yang memenuhi kriteria diterima oleh pihak-pihak karena adil dan masuk akal (logis) dan menuju pada akibat hukum yang dikehendaki.59
59
BAB III
PENERBANGAN DAN TIKET DI INDONESIA
A. Fungsi dan Peranan Penerbangan di Indonesia
Pengangkutan udara dengan pesawat udara diatur dengan Undang-undang Nomor 15 tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 53). Akan tetapi, undang-undang ini sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang dan karena itu dicabut serta dinyatakan tidak berlaku lagi. Sebagai penggantinya, diundangkanlah pada tanggal 12 Januari 2009 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009. 60
Menurut Pasal 1 ayat 1 UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan:
“ Penerbangan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, Bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, keselamatan dan keamanan, lingkungan hidup, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.”61
Peranan Penerbangan di Indonesia sangat besar. Adanya penerbangan jarak jauh menyebabkan jarak bukanlah lagi menjadi masalah. Hanya dalam hitungan jam, seseorang dapat melampaui satu pulau. Apalagi di masa sekarang ini, banyak orang menggunakan pesawat sebagai transportasi sehari-hari dalam urusan bisnisnya. Terdapat dua asas hukum pengangkutan, yaitu asas hukum publik dan asas hukum perdata. Berikut penjelasannya:
60
Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, (Bandung: Citra Aditya, 2013), h lm. 11
61
1. Asas Hukum Publik
Undang-undang Penerbangan berlandaskan asas-asas hukum publik. Asas-asas hukum publik adalah landasan undang-undang yang lebih
mengutamakan kepentingan umum atau kepentingan masyarakat banyak yang dirumuskan dengan istilah atau kata-kata manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, keserasian,
keselearasan, kepentingan umum, keterpaduan, tegaknya hukum,
keterbukaan dan anti monopoli, berwawasan lingkungan hidup, kedaulatan Negara, kebangsaan, dan kenusantaraan, serta keselamatan penumpang dan kargo. Azas Hukum Publik terdiri dari:
a. Asas manfaat
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan harus dapat memberikan nilai guna yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pengembangan perikehidupan yang berkeseimbangan bagi Warga Negara Indonesia. Asas usaha bersama dan kekeluargaan mengandung makna bahwa usaha
pengangkutan diselenggarakan untuk mewujudkan cita-cita dan aspirasi bangsa Indonesia yang dalam kegiatannya dapat dilakukan oleh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat kekeluaragaan.
b. Asas adil dan merata
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dapat memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat, dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. Asas keseimbangan mengandung makna bahwa penyelenggaraan
pengangkutan harus dengan keseimbangan yang serasi antara sarana dan prasarana, antara kepentingan pengguna dengan penyedia jasa, antara kepentingan individu dan masyarakat, serta antara kepentingan nasional dan internasional.
c. Asas Kepentingan umum
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus lebih mengutamakan kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat luas.
d. Asas keterpaduan
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan harus merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, terpadu, saling menunjang, dan saling mengisi, baik intra maupun antarmoda pengangkutan.
e. Asas tegaknya hukum
Asas ini mengandung makna bahwa pemerintah wajib menegakkan dan menjamin kepastian hukum serta mewajibkan kepada setiap warga Negara Indonesia agar selalu sadar dan taat pada hukum dalam penyelenggaraan pengangkutan.
f. Asas percaya diri
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan harus berlandaskan kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri serta bersendikan kepribadian bangsa.
g. Asas keselamatan penumpang
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan penumpang harus disertai dengan asuransi kecelakaan dan/atau asuransi kerugian lainnya. Asuransi kecelakaan ini termasuk dalam lingkup asuransi sosial yang bersifat wajib. Keselamatan penumpang tidak hanya diserahkan pada perlindungan asuransi, tetapi juga penyelenggara perusahaan
pengangkutan harus berupaya menyediakan dan memelihara alat pengangkut yang memenuhi standar keselamatan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan konvensi internasional.
h. Asas berwawasan lingkungan hidup
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dilakukan berwawasan lingkungan.
i. Asas kedaulatan Negara
Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dapat menjaga keutuhan wilayah Negara Republik Indonesia.
j. Asas Kebangsaan
Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dapat mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistic (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. 62
2. Asas Hukum Perdata
Undang-undang penerbangan juga berlandaskan asas-asas hukum perdata. Asas-asas hukum perdata adalah landasan undang-undang yang lebih
62
Abdulkadir Muhammad, 2013, Hukum Pengangkutan Niaga, PT Citra Aditya, Bandung. hlm. 12
mengutamakan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan, yang dirumuskan dengan kata-kata: perjanjian (kesepakatan), koordinatif, campuran, retensi dan pembuktian dengan dokumen. Asas Hukum Perdata terdiri dari :
a. Asas perjanjian
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan diadakan dengan perjanjian antara pihak perusahaan pengangangkutan dan penumpang atau pemilik barang. Tiket/karcis penumpang dan dokumen pengangkutan merupakan tanda bukti telah terjadi perjanjian antara pihak-pihak. Perjanjian pengangkutan tidak diharuskan dalam bentuk tertulis, sudah cukup dengan kesepakatan pihak-pihak. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa perjanjian itu sudah terjadi dan mengikat harus dibuktikan dengan atau didukung oleh dokumen pengangkutan. b. Asas Koordinatif
Asas ini mengandung makna bahwa pihak-pihak dalam pengangkutan mempunyai kedudukan setara atau sejajar, tidak ada pihak yang mengatasi atau membawahi yang lain. Walaupun pengangkut
menyediakan jasa dan melaksanakan perintah penumpang atau pemilik barang, pengangkut bukan bawahan penumpang atau pemilik barang . Asas ini menunjukkan bahwa pengangkutan adalah perjanjian
pemberian kuasa (agency agreement). c. Asas campuran
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian, yaitu pemberian kuasa,
penyimpanan barang, dan melakukan pekerjaan dari penumpang atau pemilik barang kepada pengangkut. Ketentuan ketiga jenis perjanjian ini berlaku pada pengangkutan, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian pengangkutan.
d. Asas retensi
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan tidak menggunakan hak retensi (hak menahan barang). Penggunaan hak retensi
bertentangan dengan tujuan dan fungsi pengangkutan. Pengangkutan hanya mempunyai kewajiban menyimpan barang atas biaya
pemiliknya.
e. Asas pembuktian dengan dokumen
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan selalu dibuktikan dengan dokumen pengangkutan. Tidak ada dokumen pengangkutan berarti tidak ada perjanjian pengangkutan, kecuali jika
ada kebiasaan yang sudah berlaku umum, misalnya, pengangkutan dengan pengangkut perkotaan (angkot) tanpa tiket/karcis penumpang. 63 Pengangkutan udara adalah setiap kegiatan yang menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang, kargo, dan/atau pos untuk satu perjalanan atau lebih dari satu Bandar udara ke Bandar udara yang lain atau beberapa Bandara. Perjanjian pengangkutan Udara adalah perjanjian antara pengangkut dan pihak penumpang dan/atau pengirim kargo untuk mengangkut penumpang dan/atau kargo dengan pesawat udara dengan imbalan bayaran atau dalam bentuk imbalan jasa yang lain.
Fungsi Penerbangan bagi Indonesia: 1. Keadaan Grafis Indonesia
Secara Geografis Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri atas beribu-ribu pulau besar dan kecil berupa daratan dan sebagian besar perairan yang terdiri atas perairan laut, sungai dan danau. Di atas territorial daratan dan perairan tersebut membentang pula teritorial udara yang semuanya itu merupakan wilayah Negara Indonesia yang sangat luas. Keadaan wilayah Negara Indonesia yang demikian luas ini sangat membutuhkan pengangkutan udara yang mampu menjangkau seluruh wilayah Negara Indonesia, bahkan ke Negara-negara lain. Kenyataan ini mengakibatkan kebutuhan pengangkutan di Indonesia makin meningkat sesuai dengan lajunya pembangunan fisik ataupun psikis serta perkembangan penduduk Indonesia yang tersebar di seluruh pulau yang diselingi laut.
2. Menunjang Pembangunan Berbagai Sektor
Kemajuan dan kelancaran pengangkutan akan menunjang pelaksanaan pembangunan berupa penyebaran kebutuhan, pemerataan, dan
pendistribusian hasil pembangunan berbagai sektor ke seluruh pelosok tanah air Indonesia, misalnya, sektor industri, perdagangan, pariwisata dan
pendidikan. 3. Mendekatkan Jarak
Dengan adanya pesawat terbang, seluruh kota di Indonesia akan terkoneksi satu dengan yang lain dengan baik. Jarak bukan lagi masalah. 64
63
H.K. Martono dan Agus Pramono, 2013 Hukum Udara Perdata, PT. Rajawali Pers, Jakarta hlm. 169
Berikut adalah Karakteristik Kinerja Transportasi Udara:
1. Kecepatan didefinisikan sebagai perbandingan jarak tempuh perjalanan terhadap besaran waktu ketika suatu moda transportasi mulai bergerak hingga menuju ke titik tujuannya. Transportasi udara memiliki keunggulan dalam kecepatan hingga sepuluh kali lebih cepat dibandingkan moda tranportasi lainnya.
2. Kelengkapan moda didefinisikan sebagai jaringan moda dan jumlah moda yang terkait dengan suatu transportasi. Transportasi udara sangat luas aksesnya, meskipun dari fungsi pencapaian, transportasi udara mampu bergerak melalui batasan Negara dengan cepat. Transportasi udara memerlukan Bandar udara yang biasanya terletak jauh dari daerah pemukiman, dan Bandar udara tidak selalu ada disetiap lokasi tujuan. Dengan demikian, transportasi udara memerlukan kelengkapan moda transportasi darat yang terlibat di dalamnya, khususnya untuk akses darat menuju ke tempat tujuan yang lebih spesifik.
3. Ketergantungan Transportasi udara dalam operasinya sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Asap, kabut dan awan biasanya dapat menyebabkan tertundaf atau berhenti sementara pengoperasian penerbangan. Meskipun terdapat sistem navigasi yang canggih dan pengawas lalu lintas udara, pada kondisi cuaca tertentu tetap dapat menyebabkan terhentinya penerbangan. 4. Kapasitas Pesawat udara memiliki kapasitas berat untuk terbang dan ukuran
fisik terbatas, sehingga kapasitas angkut pesawat sangat dibatasi. Selain berat, ukuran dan jenis barang yang dimuat pun sangat terbatas.
5. Frekuensi didefinisikan sebagai jumlah perjalanan yang dapat dilakukan pada periode waktu tertentu. Karena memiliki keunggulan dalam kecepatannya, transportasi udara memiliki potensi frekuensi perjalanan yang tinggi. Meskipun demikian, waktu tunggu muat barang dan penumpang terkadang menyebabkan penurunan frekuensi. Dalam sisi ini juga, sebenarnya perbandingan frekuensi perjalanan antar moda berbasis ukuran kecepatan tidak mudah. Frekuensi penerbangan bisa lebih dari satu tujuan setiap harinya dengan jarak yang jauh, walaupun jika diukur tingkat frekuensi terhadap waktunya menjadi kurang baik.
64
Abdulkadir Muhammad, 2013, Hukum Pengangkutan Niaga, PT Citra Aditya, Bandung , hlm. 49
6. Biaya, Biaya merupakan jumlah uang yang harus dibayarkan oleh pelaku perjalanan atau penerima jasa terhadap perjalanan yang dialaminya. Untuk pengoperasian pesawat diperlukan komponen utama dan pendukung yang tidak sedikit. Selain penilaian biaya operasi pesawat dan faktor pengembalian investasi, penerbangan juga memerlukan fasilitas pendukung penerbangan misalnya ATC, airport yang memerlukan biaya yang besar. Dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, transportasi udara memerlukan biaya operasional yang tinggi, sehingga pengguna jasa penerbangan biasanya akan membayarkan uang yang jumlahnya lebih besar daripada menggunakan moda transportasi lainnya. 65
Dan juga dengan adanya Transportasi udara, memberikan manfaat untuk menunjang hal-hal sebagai berikut:
1. Perekonomian, Adanya angkutan udara mengakibatkan faktor jarak dan geografis daratan bukan lagi menjadi batasan pergerakan manusia atau barang untuk pencapaian yang cepat. Kondisi ini mengakibatkan hubungan antara aktivitas produksi dan konsumsi dapat dicapai dengan lebih cepat dan waktu yang lebih singkat.
2. Sosial Kemasyarakatan, Angkutan udara menyebabkan interaksi budaya (sosial) menjadi lebih dekat dan cepat dengan mengeleminasi fungsi jarak. Masyarakat di suatu daerah dapat dengan mudah mengenal secara langsung kondisi sosial di masyarakat daerah lainnya. Hal ini juga dapat menyebabkan berkembangnya interaksi sosial (pertukaran budaya) bahkan dapat memungkinkan adanya perubahan karakter sosial kemasyarakatan suatu komunitas yang dipengaruhi oleh komunitas lainnya.
3. Politik dan Keamanan/Pertahanan Peranan angkutan udara pada bidang politik dan khususnya pada keamanan/pertahanan di suatu wilayah negara menjadi
65
sangat penting. Mobilisasi pasukan dan peralatan tempur menggunakan angkutan udara menjadi semakin cepat. 66
Sebuah maskapai penerbangan adalah sebuah organisasi yang menyediakan jasa penerbangan bagi penumpang atau barang. Mereka menyewa atau memiliki pesawat terbang untuk menyediakan jasa tersebut dan dapat membentuk kerja sama atau aliansi dengan maskapai lainnya untuk keuntungan bersama.67
Dunia Internasional telah membentuk suatu asosiasi yaitu International Air Transport Association (Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional; disingkat IATA) yang merupakan sebuah organisasi perdagangan internasional yang terdiri dari maskapai-maskapai penerbangan. IATA bermarkas di Montreal, Kanada. Maskapai-maskapai penerbangan anggotanya diberikan kelonggaran khusus sehingga dapat mengkonsultasikan harga antara sesama anggota melalui organisasi ini. IATA juga bertugas menjalankan peraturan dalam pengiriman barang-barang berbahaya dan menerbitkan panduan Peraturan Barang-barang Berbahaya IATA (IATA Dangerous Goods Regulations).
Didirikan pada April 1945 di Havana, Kuba, IATA adalah penerus Asosiasi Lalu Lintas Udara Internasional (International Air Traffic Association) yang didirikan di Den Haag pada tahun 1919, tahun saat penerbangan berjadwal internasional yang pertama di dunia dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah untuk membantu maskapai-maskapai penerbangan untuk bersaing secara sah dan mencapai keseragaman dalam penetapan harga.
66
Ibid hlm. 31
67
Saat didirikan, IATA beranggotakan 57 anggota dari 31 negara, sebagian besar di Eropa dan Amerika Utara. IATA kini mempunyai lebih dari 270 anggota dari lebih dari 140 negara di dunia.68
Selain itu, juga terdapat Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization, ICAO) adalah sebuah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lembaga ini mengembangkan teknik dan prinsip-prinsip navigasi udara internasional serta membantu perkembangan perencanaan dan pengembangan angkutan udara internasional untuk memastikan pertumbuhannya terencana dan aman.69
Dewan ICAO mengadopsi standar dan merekomendasikan praktik mengenai penerbangan, pencegahan gangguan campur tangan yang ilegal, dan pemberian kemudahan prosedur lintas negara untuk penerbangan sipil internasional. ICAO sangat berperan untuk menjaga dan menciptakan keselamatan penerbagan sipil, melalui penciptaan pedoman SOP yang harus dipatuhi oleh Seluruh Maskapai Penerbangan Sipil di Dunia. Selanjutnya secara periodic ICAO ini akan melakukan audit secara periodic terhadap pelaksanaan SOP yang dimiliki oleh maskapai penerbangan sipil, sehingga dipastikan setelah dilakukan audit dan dinyatakan layak maka maskapai penerbangan sudah dinyatakan memenuhi persyaratan keselamatan penumpang.
Maskapai penerbangan yang kita gunakan untuk melakukan perjalanan antar kota maupun Negara umumnya adalah maskapai Penerbangan niaga