1.2. Hasil Penelitian
1.3.2. Perlindungan Korban di Indonesia Dibandingkan dengan Declaration
of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power
Perlunya kepentingan korban kejahatan memperoleh perhatian yang lebih dapat di lihat dari dibentuknya Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power oleh PBB, sebagai hasil dari Kongres ke-7 (tujuh) PBB tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakuan Pelaku Kejahatan (The Seventh United Nation Conggres on the Prevention of Crime and the Treatment of
86
Offenders), di Milan, Italia, bulan September tahun 1985.95 Telah penulis
kemukakan sebelumnya bahwa deklarasi tersebut dibentuk berdasarkan keyakinan bahwa para korban harus diperlakukan dengan belas kasih dan dihormati martabatnya dan bahwa mereka berhak untuk segera mendapatkan ganti rugi atas kerugian yang mereka derita, melalui akses kepada sistem peradilan pidana, perbaikan dan layanan untuk membantu pemulihan mereka. Deklarasi tersebut merekomendasikan tindakan yang harus diambil atas nama korban kejahatan di tingkat internasional, regional dan nasional untuk meningkatkan akses terhadap keadilan dan perlakuan yang adil, restitusi, kompensasi dan bantuan.
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia dan bahwa korban juga merupakan warga negaranya memiliki kewajiban untuk memenuhi perlindungan korban yang sebagaimana mestinya. Perlindungan yang dapat diberikan dalam kaitannya dengan politik hukum yaitu dengan membuat kebijakan yang tidak hanya berfokus pada pelaku kejahatan melainkan juga harus berorientasi pada korban serta memastikan bahwa kebijakan perlindungan korban tersebut dijalankan melalui instansi-instansi yang berkaitan dengan perlindungan korban. Untuk itu, diperlukan suatu pembanding atau tolak ukur bagi perlindungan korban kejahatan di Indonesia yang dapat menyatakan bahwa perlindungan korbannya sudah terpenuhi atau setidak-tidaknya memiliki tolak ukur yang jelas mengenai bentuk perlindungan korban yang ada. Instrumen pembanding tersebut yaitu Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power. Di samping merupakan hasil pembahasan pada tingkat internasional, perlindungan korban yang dimuat dalam deklarasi tersebut juga merupakan hasil
87 kajian dari praktek-praktek negara lain yang melaksanakan perlindungan korban kejahatan baik praktek yang menghasilkan perlindungan korban yang efektif maupun praktek yang dianggap sudah tidak atau kurang efektif bagi korban. Seperti contoh yang disebutkan dalam Handbook on Justice for Victims: On the use and application of the Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power bahwa berbagai yurisdiksi telah mencoba menjawab tantangan perlindungan korban dan memperkuat posisi korban, serta memastikan akses pada layanan yang sesuai. Salah satu seruan paling awal untuk reformasi datang dari Margery Fry di Inggris Raya dan Irlandia Utara, yang selama awal 1950-an memperjuangkan tempat penampungan bagi wanita yang korban kekerasan, skema kompensasi negara bagi korban kejahatan, dan juga mendamaikan korban dengan pelaku. Skema kompensasi negara pertama untuk korban kejahatan kekerasan diadopsi di Selandia Baru pada tahun 1963. Contoh lain dari reformasi awal termasuk undang-undang perlindungan anak tahun 1955 di Israel, dan pendirian tempat penampungan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan pusat krisis bagi korban kekerasan seksual di Inggris Raya pada awal tahun 1970-an.96
Dalam hasil penelitian penulis, pengaturan perlindungan korban kejahatan di Indonesia sebagian besar diatur di dalam UU PSK sebagai lex specialis yaitu undang-undang yang secara khusus mengatur tentang perlindungan korban (dan juga saksi) serta peraturan pelaksananya. Pada UU PSK tersebut, perlindungan korban diberikan melalui pemenuhan hak-hak korban baik yang sebelumnya belum diatur ataupun yang sudah diatur kemudian lebih disempurnakan. Aspek
88 perlindungan pada UU PSK yang menjadi fokus analisis penulis yaitu pada keberadaan kompensasi, restitusi, dan bantuan yang diberikan kepada korban sebagai bentuk perlindungan langsung. Bahwa dalam Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power pun sudah dijelaskan mengenai kompensasi, restitusi, dan bantuan tersebut serta alasan dibalik diadakannya ketiga hal itu sebagai bentuk penguatan dari perlindungan korban yang ada selama ini.
Dalam deklarasi tersebut, tujuan dari diadakannya kompensasi yaitu sebagai bantuan keuangan utama yang berasal dari negara untuk memperbaiki kerugian keuangan yang bisa mengakibatkan terganggunya stabilitas keuangan yang timbul setelah menjadi korban tindak pidana. Secara umum, syarat untuk mendapatkan kompensasi yaitu korban harus tidak bersalah atas tindak pidana tersebut dan berkontribusi untuk kejahatan itu, melaporkan kejahatan tersebut segera ke polisi, bekerja sama dengan sistem peradilan pidana dan menyerahkan dokumentasi kerugian pada program kompensasi. Syarat khususnya yaitu korban yang mengalami cedera tubuh yang signifikan atau gangguan kesehatan fisik atau mental sebagai akibat dari tindak pidana berat atau keluarga yang berada dalam tanggungannya, secara khusus bagi orang yang telah meninggal atau menjadi secara fisik atau mental tidak lagi mampu sebagai akibat dari tindak pidana tersebut. dalam buku pedomannya, dinyatakan bahwa sebagai hak yang esensial dan fundamental dari semua korban kejahatan, informasi tentang ketersediaan manfaat, proses pengajuan dan persyaratan program kompensasi harus dipublikasikan secara luas. Informasi tentang keberadaan kompensasi oleh negara perlu untuk disebarluaskan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ini adalah
89 bagian di mana diperlukan sebuah kerja keras karena banyak program kompensasi oleh negara tidak diajukan sampai pada tenggat waktu pengajuan. Bahwa sangat penting bagi semua orang yang berhubungan dengan korban diberikan informasi tentang kemungkinan pengajuan kompensasi.97
Meskipun tidak ada jumlah uang yang dapat menghapus trauma dan kesedihan yang diderita oleh para korban kejahatan, bantuan keuangan dapat menjadi sangat penting dalam membantu banyak orang melalui proses pemulihan. Bagi sebagian korban, dana ini dapat membantu menjaga stabilitas dan martabat hidup mereka. Untuk dipertimbangkan sebagai pihak yang berhak untuk mendapatkan kompensasi, korban atau anggota keluarga yang masih hidup harus terlebih dahulu mengajukan formulir permohonan kompensasi. Biasanya, korban dapat belajar tentang ketersediaan manfaat kompensasi dan menerima formulir aplikasi dari polisi, penyedia bantuan korban, jaksa penuntut, atau tenaga medis dan kesehatan mental profesional. Bagi banyak korban kejahatan, melewatkan tenggat waktu pengajuan aplikasi adalah salah satu bentuk paling menyakitkan dari “secondary victimization” setelah menjadi korban.98 Hal ini dikarenakan pihak korban tidak mengetahui dan tidak diberitahu tentang keberadaan kompensasi tersebut padahal ketentuan tersebut sudah diatur dan sepatutnya menjadi haknya untuk memulihkan keadaan akibat dampat suatu tindak pidana.
Pada UU PSK sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan deklarasi tersebut mengenai kompensasi. Ketentuan di mana kompensasi diberikan kepada korban pelanggaran hak asasi manusia berat juga termuat di
97 Ibid., h. 45.
90 dalam UU PSK serta telah diatur mengenai mekanisme untuk mendapatkannya. Mengenai pengecualian bagi korban-korban tertentu untuk mendapatkan kompensasi tanpa melalui proses pengajuan juga sudah diatur dalam UU PSK. Catatan penting dari dari deklarasi tersebut yaitu pada peran aparat penegak hukum dan juga instansi-instansi terkait dalam memperjuangkan hak kompensasi bagi korban. Dinyatakan bahwa strategi pemberitahuan yang efektif dan kegiatan penyadaran publik tentang mekanisme kompensasi harus melibatkan pelatihan untuk aparat kepolisian, penasehat hukum, pekerja sosial dan semua profesional terkait lainnya, dan pengumuman layanan publik melalui berbagai media seperti radio, televisi, brosur informasi, baliho dan poster.99 Seperti yang telah penulis paparkan mengenai penguatan LPSK sebagai salah satu alasan perubahan UUU PSK 2016 yang menjadi ujung tombak perlindungan korban, bahwa kinerja LPSK sebelumnya kurang maksimal di samping keterbatasan wewenang, faktor ketidaktahuan korban dan pemberitahuan informasi yang terbatas bagi korban juga menjadi alasan. Keberadaan LPSK ini juga bisa menjadi kelemahan dari sistem pemberian perlindungan secara langsung kepada korban di Indonesia karena diajukan secara terpisah di luar proses peradilan pidana. Jika demikian, maka ha tersebut tidak memenuhi perlindungan korban sebagaimana yang diharapkan dalam deklarasi ini yaitu perlindungan korban yang dapat secara cepat, adil, murah dan mudah diakses.
Bentuk perlindungan yang kedua yaitu restitusi. Dalam deklarasi tersebut, tujuan dari diadakannya restitusi yaitu sebagai cara untuk menanggulangi beberapa kerugian yang terjadi pada korban dan untuk memberikan cara yang
91 konstruktif secara sosial bagi pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban, dan di sisi lain sambil menawarkan kemungkinan rehabilitasi seluas-luasnya.100 Restitusi adalah alat penting dalam peradilan pidana. Oleh karena itu, sangat penting bagi para korban dan untuk tujuan keadilan bahwa model yang efektif dikembangkan untuk memungkinkan banyak profesional yang terlibat dalam proses peradilan agar menjalankan tanggung jawab mereka secara efektif. Nilai yang dibangun dalam restitusi ini menurut deklarasi tersebut yaitu untuk berusaha menjalin hubungan antara korban dan pelaku dalam upaya meningkatkan rasa tanggung jawab pelaku kepada korban dan masyarakat. Dalam deklarasi tersebut, restitusi dapat diterapkan dengan berbagai cara di berbagai titik di seluruh proses peradilan pidana: sebagai syarat masa percobaan, sebagai sanksi itu sendiri atau sebagai hukuman tambahan. Meskipun restitusi sering diberlakukan secara wajib, hal itu dapat dilakukan secara sukarela oleh pelakunya juga. Ganti rugi kepada korban cedera bisa efektif sebagai tindakan hukuman dan juga ganti rugi finansial. Jika digunakan sebagai hukuman, restitusi harus berasal dari sumber pelanggar sendiri (baik sebagai uang atau sebagai layanan) dan harus menjadi bagian dari hukuman pengadilan pidana yang terkait dengan disposisi kasus.101
Penilaian korban jiwa merupakan proses kompleks yang dapat berlangsung dalam berbagai cara. Di beberapa yurisdiksi, jaksa bernegosiasi langsung dengan pembela, setelah membuktikan semua kerugian dengan korban. Dalam kasus lain, penilaian kerugian dapat dilakukan hanya oleh petugas percobaan sebagai bagian dari penyelidikan hukuman pra-sidang. Tidak peduli bagaimana prosesnya, korban pada umumnya diharuskan untuk menunjukkan tanda terima atau bukti
100 Ibid., h. 47.
92 lain untuk mendukung kerugian yang sebenarnya diderita. Di Kanada, KUHP-nya menetapkan bahwa restitusi dapat diperintahkan sebagai hukuman tambahan untuk menutupi kerugian yang “dapat dipastikan”. Beberapa yurisdiksi telah membuat pengaturan khusus untuk mendorong restitusi dini oleh pelaku, misalnya, dengan mengesampingkan tindakan lebih lanjut jika restitusi dibayarkan.102
Berkaitan dengan restitusi dalam UU PSK, perbedaan mendasar yaitu pada kemungkinan adanya pembatasan bentuk tindak pidana yang boleh menerapkan restitusi. Dalam Pasal 7A ayat (2) UU PSK berkaitan dengan korban tindak pidana yang mendapatkan restitusi, disebutkan bahwa: “Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan LPSK.” Hal tersebut berarti bahwa tidak semua tindak pidana dapat mendapatkan restitusi. Ayat (2) tersebut tidak memberikan kejelasan atau bahkan dapat dikatakan tetap memberikan batasan peluang pemberian restitusi pada korban suatu tindak pidana karena hanya terbatas pada tindak pidana-tindak pidana tertentu saja. Jika dibandingkan dengan restitusi yang ada pada Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power, justru terlihat lebih fleksibel di mana restitusi diadakan untuk berusaha menjalin hubungan antara korban dan pelaku dalam upaya meningkatkan rasa tanggung jawab pelaku kepada korban dan masyarakat. Sepanjang ada kesalahan yang perlu dipertanggungjawabkan oleh pelaku kepada korban, berarti restitusi tidak dibatasi pada tindak pidana tertentu saja. Di sinilah letak keunggulan dari restitusi di mana memberikan cara yang konstruktif secara sosial bagi pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun,
93 rasanya hal ini belum terlihat dalam restitusi yang diatur dalam UU PSK walaupun sudah diatur bahwa restitusi itu berasal dari pelaku.
Bentuk yang ketiga yaitu bantuan yang termasuk juga di dalamnya yaitu layanan. Berdasarkan buku panduan deklarasi tersebut, langkah pertama untuk memberikan bantuan kepada korban yaitu pemerintah dan/atau lembaga masyarakat harus membuat program layanan korban yang tepat, yang didedikasikan untuk memberikan layanan kepada korban dan membantu mereka mengatasi efek traumatis dari suatu tindak pidana dan akibatnya. Program harus memiliki kemampuan menyediakan sistem layanan yang komprehensif kepada korban. Jika mereka menawarkan layanan yang lebih terbatas, layanan tersebut harus dikoordinasikan dengan layanan lain untuk memastikan kesinambungan dukungan bagi para korban. Selain itu, program bantuan bagi korban harus mengupayakan untuk mempromosikan kesadaran publik yang luas tentang masalah korban. Mereka juga harus mengembangkan dan menyebarluaskan standar praktik yang dapat diterima (kode etik) untuk melindungi korban dari sensasionalisme dan publisitas, yang kemungkinan akan menambah viktimisasi mereka. Idealnya, layanan korban harus disiapkan untuk membantu semua korban. Namun, berdasarkan sumber daya, keahlian staf program, lembaga yang ada, dan analisis kebutuhan yurisdiksi, program didesak untuk memprioritaskan pelaksanaan layanan dan secara bertahap dalam layanan penuh bagi korban selama periode waktu tertentu. Dalam menetapkan prioritas, program didorong untuk menggunakan pendekatan sistematis untuk memperhitungkan tingkat keparahan peristiwa dan dampaknya pada korban. Korban harus diberitahu tentang ketersediaan layanan kesehatan dan sosial serta bantuan lain yang relevan
94 dan yang mudah diberikan akses kepada mereka.103 Kepolisian, lembaga peradilan, kesehatan, layanan sosial dan aparat lain yang terkait harus menerima pelatihan untuk membuat mereka peka terhadap kebutuhan korban, dan pedoman untuk memastikan bantuan yang tepat dan cepat.
Tampaknya, bantuan yang dikehendaki dalam deklarasi tersebut sudah cukup tergambarkan dalam UU PSK terbaru di mana terdapat pembaruan dan pengembangan layanan dan bantuan terhadap korban. Hal ini terlihat dalam pemberian bantuan yang diberikan kepada korban kejahatan yang mengalami peningkatan dari yang sebelumnya hanya berupa bantuan medis dan psikologis ditambahkan lagi satu bentuk bantuan yaitu rehabilitasi psikososial yang dalam penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf b mengartikannya sebagai semua bentuk pelayanan dan bantuan psikologis serta sosial yang ditujukan untuk membantu meringankan, melindungi, dan memulihkan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual korban sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya kembali secara wajar, antara lain LPSK berupaya melakukan peningkatan kualitas hidup korban dengan melakukan kerja sama dengan instansi terkait yang berwenang berupa bantuan pemenuhan sandang, pangan, papan, bantuan memperoleh pekerjaan, atau bantuan kelangsungan pendidikan. Bahwa bantuan dalam deklarasi tersebut melindungi korban dari sensasionalisme atau diperlakukan secara berlebihan oleh masyarakat dan publisitas, yang dikhawatirkan dapat menjadi reviktimisasi bagi korban.
Perbedaan perlindungan korban yang ada di antara Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power dan UU PSK
95 menurut penulis bukanlah perbedaan yang menunjukkan perbedaan nilai perlindungan korban yang signifikan. Pada satu sisi deklarasi tersebut mengharapkan perlindungan korban yang lebih maksimal dan di sisi lain UU PSK sudah ada dalam jalur tersebut tetapi masih membutuhkan beberapa pengembangan baik pada pengaturan dan juga pelaksanaannya. Secara struktur, UU PSK sudah memiliki tiga bentuk atau mekanisme perlindungan korban yang terdapat di dalam deklarsi tersebut yaitu kompensasi, restitusi, dan bantuan. Akan tetapi, UU PSK kurang memiliki fleksibilitas dari segi pelaksanaannya. Di satu sisi keberadaan LPSK merupakan angin segar perlindungan korban di Indonesia namun di sisi lain bisa berpeluang menjadi penghambat proses perlindungan korban karena alasan prosedural. Dalam hal lain, penerapan khususnya berkaitan dengan restitusi juga bersifat terbatas. Bahwa kompensasi dan bantuan diberikan pada korban kejahatan tertentu dapat dipahami karena adanya skala priositas dan menggunakan anggaran negara. Namun, restitusi dalam UU PSK juga hanya untuk tindak pidana tertentu saja yang berarti bahwa ketiga mekanisme yang semuanya bersifat terbatas. Faktanya, kerugian pasti akan selalu ada dan melekat pada korban tindak pidana manapun. Pembedanya yaitu pada tingkat kerugiannya yang artinya bahwa seharusnya opsi untuk menuntut ganti kerugian tetap harus dibuka untuk setiap korban tindak pidana. Tujuan itulah yang ada dalam Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power mengenai restitusi, di samping memberikan ganti kerugian kepada korban, restitusi juga merupakan juga cara yang konstruktif secara sosial bagi pelaku dan korban. Bahwa dengan pelaksanaan kewajiban memberikan restitusi oleh pelaku, telah terdapat keinginan pelaku untuk bertanggung jawab yang memungkinkan
96 dapat terjadinya penangguhan tindak pidana yang mana berarti juga sudah memenuhi salah satu asas hukum pidana yaitu ultimum remidium atau sebagai upaya terakhir.
Hal lain dalam deklarasi yang belum sepenuhnya diatur dalam perundang-undangan Indonesia yaitu berkaitan dengan perlindungan korban penyalahgunaan kekuasaan. Bahwa korban masih tetap berpotensi dikorbankan kembali dalam proses peradilan pidana maupun saat kembali ke masyarakat. Dalam konteks Indonesia, tindakan untuk menghadapi kemungkinan tersebut belum memiliki standar baku yang harus dijalankan oleh aparat penegak hukum maupun masyarakat. Esensi dari adanya perlindungan korban penyalahgunaan kekuasaan ini sebenarnya yaitu untuk melindungi korban karena tidak mendapatkan perlindungan dari pihak-pihak yang seharusnya diharapkan dapat melindungi korban tersebut. Di mana alasan terbesar dari hal tersebut yaitu bahwa mereka yang bertanggung jawab untuk menjalankan proses dan prosedur peradilan pidana melakukannya tanpa mempertimbangkan perspektif korban.104 Dengan demikian, dapat penulis katakan bahwa perlindungan korban kejahatan di Indonesia pada dasarnya sudah berada pada politik hukum yang sudah lebih berorientasi pada korban daripada sebelumnya namun belum sepenuhnya menjangkau perkembangan hukum hak asasi manusia internasional terutama dalam hal perlindungan korban kejahatan.
Hal lain yang menjadi catatatan penting dari deklarasi tersebut yang patut untuk diperhatikan dalam pelaksanaan perlindungan korban di Indonesia yaitu ketersediaan informasi terkait dengan mekanisme perlindungan korban yang ada.
97 Akan menjadi sia-sia jika pihak korban tidak mengetahui dan tidak diberitahu tentang keberadaan kompensasi tersebut padahal ketentuan tersebut sudah diatur dan sepatutnya menjadi haknya untuk memulihkan keadaan akibat dampat suatu tindak pidana. Bahwa memang keberadaan pembaruan perlindungan korban kejahatan ini menambah kompleksitas perkara pidana, tetapi menurut penulis hak-hak korban yang baru saja ditingkatkan seharusnya patut diperjuangkan agar terpenuhinya hasrat akan pemberian perlindungan terhadap korban. Keberadaan sumber daya manusia yang mendukung juga disebutkan oleh deklarasi tersebut di mana kebijakan sebaik apapun tidak akan berjalan maksimal jika pelaksananya tidak memiliki kemampuan tersebut. Adanya pergeseran perspektif perlindungan korban yang sudah mengalami pembaruan ke arah yang lebih berorientasi pada korban ini sudah sepatutnya menjadi momentum untuk semakin memperbaiki tatanan hukum pidana Indonesia baik dari segi kebijakannya maupun aparat penegak hukum dan instansi-instansi terkait.