HAL-HAL YANG PERLU DALAM PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA YANG MENYANGKUT TINDAK PIDANA PERKOSAAN KAITANNYA
B. Perlindungan Korban Untuk Memperoleh Restitus
Perlindungan hukum bagi korban kejahatan sebagai bagian dari
perlindungan kepada masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk
melalui pemberian restitusi dan kompensasi, pelayanan medis, dan bantuan
hukum.105
Selama ini banyak berkembang pemikiran bahwa dengan telah diadilinya
pelaku kejahatan dan selanjutnya pelaku menjalani hukuman, maka perlindungan
hukum terhadap korban dianggap telah sepenuhnya diberikan. Akibatnya,ketika Bentuk perlindungan terhadap korban yang dapat dilakukan
kedepannya, yaitu mengatur secara tegas mengenai pidana ganti rugi oleh pelaku
tindak pidana perkosaan tersebut (Restitusi).
105
korban kemudian menuntut adanya pemberian ganti kerugian hal tersebut
merupakan tindakan yang berlebihan.106
Pelaku kejahatan adalah pihak yang seharusnya bertanggung jawab untuk
mengganti kerugian kepada korban perkosaan. Penggantian kerugian seperti ini
termasuk pembayaran kerugian untuk pemulihan si korban. Istilah ganti kerugian
memang ada digunakan oleh KUHAP dalam Pasal 99 ayat (1) dan (2) dengan
penekanan pada penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang
dirugikan atau korban. Namun pengaturan ganti rugi dalam KUHAP ini belum
dapat mengakomodir hak korban untuk memperolehnya, karena dalam KUHAP
ganti rugi yang digabungkan dengan perkara pidananya hanya menyangkut
tentang kerugian materiil, seperti kita ketahui bahwa korban perkosaan sangat Padahal korban sesungguhnya adalah
pihak yang sangat dirugikan.
Kerugian akibat ia menjadi Korban suatu Tindak Pidana yang diatur
dalam Pasal 98 KUHAP yang dikorelasikan dengan Pasal 285 KUHP mengenai
tindak pidana perkosaan, bahwa korban tindak pidana perkosaan adalah korban
yang paling banyak mengalami kerugian terutama kerugian imateriil, bahkan jika
dihitung dengan nilai materiil nilai tersebut tidak akan mampu untuk
memenuhinya. Dari kerugian tersebut yang ia alami jarang sekali atau bahkan
tidak pernah terjadi dimana korban mendapatkan ganti rugi, seandainya pun
mendapat ganti kerugian dari pelaku dapat dipastikan tidak akan memadai atau
jumlahnya tidak seberapa dan hal tersebut tidak akan merubah keadaan dirinya
seperti semula.
106
menderita secara fisik, terutama psikis. Walaupun kita tahu bahwa korban sangat
menderita secara psikis, namun penderitaan psikis ini tidak dapat dituntut ganti
ruginya dalam penggabungan perkara pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal
99 KUHAP, padahal korban membutuhkan biaya untuk memulihkan traumatis
atau kejiwaan korban yang waktunya tidak dapat ditentukan sampai kapan.
Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas terlihatlah berbagai
pertentangan antara apa yang dicita-citakan dan kenyataan yang berhubungan
dengan permasalahan moral dan hukum. Hal ini mengakibatkan keragu-raguan
terhadap adanya keadilan bagi setiap anggota masyarakat, warga negara. Akibat
yang lain adalah dipermasalahkannya wibawa moral dan hukum terhadap setiap
penegak hukum (swasta, pemerintah, individu, kelompok) dalam pelaksanaan
panggilannya dan kewajibannya, sehingga banyak subjek dan objek hukum
menderita, menjadi korban bahkan dapat menjadi korban ganda. Berlangsungnya
kenyataan, peradilan, pengadilan bukanlah pencipta keadilan lagi. Fungsi hakim
sebagai pelindung keadilan yang bebas dalam hal ini sudah tidak berfungsi lagi
dan dipertanyakan apakah kesadaran hukumnya tidak semu/palsu. Diragukan
pula kesadaran hukum penuntut umum yang tidak menuntut ganti rugi bagi pihak
korban yang tidak mampu. Disangsikan pula kesadaran hukum pembuat undang-
undang, yang diharapkan mengikuti perkembangan hukum dan membuat hukum
yang sesuai dengan kepentingan warga negara, anggota masyarakat. Bukankah
sewajarnya kita menyadari bahwa sisitem peradilan pidana serta hukumnya adalah
warisan dari pemerintah Hindia Belanda sehingga perlu diusahakan suatu sistem
menjadi korban adalah bangsa sendiri dan kebanyakan adalah tidak mampu. Perlu
pula dipertanyakan disini kadar kesadaran hukum dan tanggung jawab moral
warga negara, anggota masyarakat yang lain sebagai penegak hukum yang
semestinya mencegah berlangsungnya sistem peradilan pidana yang tidak
mengusahakan pemenuhan kepentingan pihak korban secara memuaskan.
Membiarkan sesuatu berlangsung dapat diartikan kurang lebih sebagai suatu
pembenaran. Maka ini berarti bahwa sistem peradilan pidana yang dapat
merugikan korban tindak pidana tetap makin diperlakukan dengan
mempertaruhkan nasib korban.107
Sebagai perbandingan, maka akan diuraikan mengenai penggabungan
gugatan ganti kerugian yang disebabkan dilakukannya suatu tindak pidana
dibeberapa negara baik dinegara-negara Eropa, Amerika Latin maupun beberapa
negara Asia Timur Jauh, seperti diuraikan dalam buku “compensation of The Dalam KUHAP tidak membenarkan
dilakukannya penggabungan ganti rugi yang bersifat immateriil, karena yang
diatur adalah penggabungan ganti kerugian yang bersifat materiil saja. Bila korban
hendak menuntut ganti kerugian ini, maka korban harus mengajukan gugatan
perdata biasa. Pihak korban tindak pidana perkosaan tidaklah mudah untuk
berusaha menuntut ganti kerugian, disebabkan keadaan mereka yang mengalami
trauma, Oleh karena itu sangatlah penting diaturnya mengenai ganti kerugian ini
secara tegas dalam pengaturan tindak pidana perkosaan sehingga hak-hak korban
boleh terlindungi.
107
Victims of Crimes” yang merupakan hasil suatu survey. Menurut hasil survey tersebut, maka disimpulkan lima sistem ganti kerugian sebagai berikut:108
1 Ganti kerugian tersebut dipandang bersifat perdata dan diberikan pada
prosedur perdata;
Dalam sistem ini diadakan pemisahan antara ganti rugi dan
penyelesaian pidananya. Dalam sistem ini maka tindak pidana
dipandang semata-mata kejahatan terhadap negara atau kepentingan
umum, sehingga peranan korban tidak mendapat tempat dalam acara
pidana. Kepentingan korban sebagai individu diselesaikan menurut
acara perdata.
2 Ganti kerugian bersifat perdata, tetapi diberikan pada prosedur pidana;
Meskipun pada dasarnya diadakan pemisahan antara kepentingan
umum dan kepentingan individu seperti diuraikan pada ad.1, tetapi
sebagai perlindungan kepada korban dari tindak pidana, maka korban
diberikan cara-cara yang mudah untuk mendapat ganti kerugian itu
yaitu dengan cara menggabungkan perkara perdatanya dengan perkara
pidana. Ganti kerugian dalam KUHAP ditempuh dengan cara ini,
yaitu gugatan ganti kerugian dari korban yang sifatnya perdata
digabungkan pada perkara pidananya dan ganti rugi tersebut
dipertanggungjawabkan kepada pelaku tindak pidana. Ganti rugi
tersebut dapat dimintakan terhadap semua macam perkara yang dapat
menimbulkan kerugian materiil bagi sikorban. Sedangkan kerugian
108
yang bersifat immateriil tidak dapat dimintakan ganti kerugian lewat
prosedur ini.
3 Ganti kerugian yang bersifat perdata, tetapi terjalin dengan sifat
pidana dan diberikan pada prosedur pidana;
Berbeda dengan yang diterangkan di atas ini, maka permintaan ganti
kerugian ini harus ditentukan oleh pengadilan pidana lebih bersifat
hukuman, dalam bentuk:
a. Denda pengganti (fine like restitution atau boete);
b. Dengan pembayaran ganti kerugian kepada korban, maka
perkaranya tidak dituntut (misalnya USA).
4 Ganti kerugian yang sifatnya perdata dan diberikan pada prosedur
pidana, tetapi pembayaran jadi tanggung jawab negara;
Dalam situasi ini, negara sekaan-akan menanggung over tanggung
jawab dari terpidana untuk membayar ganti kerugian, tetapi negara
dapat meminta kembali (reimburse) dari negara.
5 Ganti kerugian yang sifatnya netral dan diberikan dengan prosedur
khusus pula. Ini merupakan prosedur baru yang diterapkan di Swiss,
dimana korban adalah orang yang sangat membutuhkan karena tidak
mampu, sedangkan terpidana juga demikian keadaannya, sehingga
pemerintah mengambil over beban terpidana tersebut demi
memberikan perlindungan bagi si korban, dalam hal ini tidak termasuk
Menurut saya ganti kerugian ini sebaiknya diberikan dalam prosedur pidana
dan juga mencakup ganti kerugian immateriil yang dirasa sangat dibutuhkan
korban.