BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA PEREMPUAN
B. Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Perempuan di Indonesia
2. Perlindungan terhadap hak pekerja perempuan selain pengupahan a. Pelaksanaan istirahat/cuti
Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh, yang meliputi:
1) Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja.
2) Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak cuti istirahat mingguan ini berhak atas upah yang penuh.88
3) Cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/ buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus, setiap bekerja/buruh yang menggunakan hak cuti tahunan ini berhak atas upah yang penuh. Pelaksanaan waktu cuti tahunan diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
4) Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ke tujuh dan ke delapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi
88
pekerja/ buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan:
a) Pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunan dalam 2 (dua) tahun berjalan, dan selanjutnya berhak untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun.
b) Selama menjalankan istirahat panjang, pekerja/buruh diberi uang kom-pensasi hak istirahat tahunan, tahun ke delapan sebesar ½ (setengah) bulan gaji, kecuali bagi perusahaan yang telah memberlakukan istirahat panjang yang lebih baik dari ketentuan UUKK, maka tidak boleh mengurangi dari ketentuan yang sudah ada.89
Bagi para pengusaha yang tidak menjalankan ketentuan waktu istirahat dan cuti ini, maka akan dikenakan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
Selain dari waktu istirahat dan cuti yang telah diuraikan di atas, maka berdasarkan Pasal 85 ayat (1) UUKK pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi. Hari-hari yang dimaksud adalah hari libur nasional, seperti:
89
Hardijan Rusli, Hukum Ketenagakerjaan 2003, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 111. Lihat juga Kepmenakertrans No. KEP.51/MEN/IV/2004.
1) Tahun baru 1 Januari - satu hari 2) Proklamasi kemerdekaan R.I - satu hari 3) Peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. - satu hari 4) Maulid Nabi Muhammad saw. - satu hari
5) Tahun baru Hijriyah - satu hari
6) Idul Adha - satu hari
7) Idul Fitri - dua hari
8) Hari raya natal - satu hari
9) Kenaikan Yesus Kristus - satu hari 10) Hari raya Nyepi - satu hari 11) Hari raya Waisak - satu hari 12) Tahun baru Imlek - satu hari
Di dalam pelaksanaannya, hari-hari raya tersebut dapat digeser pelaksanannya,90 hal ini dapat dilakukan bila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan dan dijalankan secara terus-menerus91 atau pada keadaan lain berdasarkan kese-pakatan antara pekerja/buruh
90
Lihat Keppres Nomor 19 Tahun 2002, SE Menakertrans No. 1173.UM.02.23.2002 jo. SE Dirjen Binawas No. SE.02/DPHI/02.
91
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi Nomor: KEP-233/MEN/ 2003, yang termasuk jenis dan sifat pekerjaan yang dijalankan secara terus menerus adalah pekerjaan di bidang; a. pelayanan jasa kesehatan, b. pelayanan jasa transportasi, c. jasa perbaikan alat trans-portasi, d. usaha pariwisata, e. jasa pos dan telekomonikasi, f. penyediaan tenaga listrik, jaringan pelayanan air bersih (PAM), dan penyediaan bahan bakar minyak dan gas bumi, g. media masa, h. pengamanan, i. Pekerjaan di usaha swalayan, pusat perbelanjaan, dan sejenisnya, j. pekerjaan di lembaga konservasi, k. pekerjaan-pekerjaan yang apabila dihentikan akan mengganggu proses produksi, merusak bahan, dan termasuk pemeliharaan/perbaikan alat produksi.
dengan pengusaha dan dengan kewajiban bagi peng-usaha untuk membayar upah kerja lembur.
Selain itu, berdasarkan Pasal 81 UUKK bagi pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Cuti haid saat ini menurut UUKK tidak lagi merupakan hak mutlak bagi pekerja perempuan, melainkan suatu izin untuk boleh tidak masuk kerja yang diberikan oleh undang-undang bila dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukannya kepada pengusaha. Pelaksanaan ketentuan izin haid ini diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
Berbeda dengan cuti melahirkan, setiap pekerja/buruh perempuan berhak mem-peroleh istirahat selama 1½ (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1½ (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Lama istirahat melahirkan ini dapat diperpanjang berdasarkan surat keterangan dokter kandungan atau bidan, baik sebelum maupun setelah melahirkan. Sedangkan untuk pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1 ½ (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.
Bagi para pengusaha yang tidak memberikan istirahat melahirkan atau ke guguran, akan dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah), dan paling banyak Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah). Dan bagi pekerja/buruh ini berhak mendapat upah penuh pada saat mengambil istirahat melahirkan ini. b. Pemberian fasilitas kesejahteraan.
Pemberian fasilitas kesejahteraan yang telah menjadi kewajiban pengusaha meliputi:
1) Kantin/ruang makan, fasilitas ini merupakan tempat atau ruang khusus yang disediakan bagi pekerja untuk dapat digunakan pada jam makan. Pemberian fasilitas kantin ini, berada di lingkungan perusahaan, dengan memperhatikan serta memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan.
Pada prakteknya fasilitas kantin ini banyak yang telah dilakukan pengusaha sekaligus dengan pemberian makan, baik secara cuma-cuma, subsidi atau dengan memberi kesempatan kepada pedagang makanan untuk berjualan ditempat yang disediakan oleh pengusaha. 2) Tempat istirahat, merupakan tempat/ruangan yang disediakan bagi
para pekerja untuk beristirahat sementara selama jam-jam kerja. Untuk fasilitas tempat/ruangan istirahat, undang-undang menganjurkan agar pengusaha menyediakan sesuai dengan kemampuan perusahaan dan kebutuhan pekerja.
3) Pelayanan keluarga berencana, diselenggarakannya pelayanan KB oleh peng-usaha diharapkan dapat memberikan pemeliharaan/pelayanan kesehatan para pekerja, meningkatkan kesadaran pekerja terhadap kepedulian dalam kegiatan KB, untuk mewujudkan masyarakat pekerja yang sehat lahir bathin.
4) Tempat penitipan anak dan menyusui, undang-undang mewajibkan kepada pengusaha untuk memberi kesempatan dan waktu istirahat bagi pekerja wanita untuk menyusukan bayinya. Ini artinya pengusaha harus memberikan kesem-
patan sepatutnya92 kepada para pekerja/buruh perempuan untuk menyusui anaknya yang masih manyusu, jika hal itu harus dilakukan selama waktu bekerja. Dengan demikian, perlu tempat bagi pekerja wanita untuk menitipkan anaknya selama menjalankan pekerjaan guna mendapatkan pemeliharaan dan perawatan, agar tidak terganggu pertumbuhan anaknya.
Tempat penitipan anak dan tempat menyusui dapat disediakan di dalam dan/atau di luar lingkungan perusahaan, sesuai dengan jenis perusahaan. Tersedianya sarana dan prasarana bermain anak yang
92
Berdasarkan penjelasan Pasal 83 UUKK yang dimaksud dengan kesempatan sepatutnya adalah lamanya waktu yang diberikan kepada pekerja/buruh perempuan untuk menyusui bayinya dengan memperhatikan tersedianya tempat yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan perusahaan, yang diatur dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
memenuhi syarat keamanan, kebersihan dan kesehatan dengan tersedianya tenaga pengasuh.
5) Fasilitas beribadah, merupakan tempat atau ruangan yang disediakan oleh perusahaan bagi pekerja untuk melaksanakan ibadah serta kegiatan rohani lainnya sesuai dengan ajaran agama masing-masing pekerja. Dengan fasilitas ini diharapkan para pekerja dapat melaksanakan ibadah dengan mudah, tenang dan khusuk, dan dapat memupuk terwujudnya kebersamaan dan persaudaraan antara pekerja melalui silaturahim dalam beribadah.
6) Fasilitas olah raga, bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan kerja dan gairah kerja para pekerja, sebagai sarana menjalin hubungan yang harmonis antara pekerja dan pimpinan perusahaan, serta mengembangkan jiwa spor-tivitas diantara pekerja.
Diharapkan tersedianya sarana olahraga dapat mengurangi kelelahan atau menghilangkan kejenuhan dalam kerja, sehingga pekerja berada dalam kondisi yang segar dan kembali bersemangat dalam melaksanakan tugas-tugas peker-jaannya.
7) Fasilitas kesehatan, merupakan sarana dan prasarana yang disediakan oleh perusahaan untuk meningkatkan derajat kesehatan pekerja dan keluarganya guna peningkatan produktivitas. Dengan melakukan perawatan kesehatan pekerja, diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan kondisi dan kesehatan phisik pekerja agar tetap
sehat, dan meningkatkan kegairahan bekerja yang pada gilirannya pekerja dapat bekerja dengan penuh semangat.
8) Rekreasi, diharapkan dapat menghilangkan kejenuhan dalam bekerja, menim-bulkan suasana segar, dan memberikan semangat baru dalam bekerja. Selain itu rekreasi diharapkan sebagai upaya untuk menyegarkan kembali suasana dan hubungan silaturrahmi antara pekerja sendiri besarta keluarganya, dengan sesama teman sekerja dan dengan pengusaha, sehingga suasana kekeluargaan di dalam perusahaan akan meningkat.
9) Perumahan pekerja, merupakan hunian atau tempat tinggal sementara/tetap yang disediakan oleh perusahaan bagi pekerja baik berupa asrama atau per-umahan cuma-cuma, sewa atau yang bersifat kepemilikan.
10) Transportasi, merupakan fasilitas angkutan yang disedikan oleh perusahaan bagi pekerja untuk datang ke tempat kerja dan pulang dari tempat kerja untuk kembali kerumah, dan bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00 maka merupa-kan kewajiban pengusaha untuk menyediakan fasilitas ini.
11) Koperasi pekerja, usaha koperasi ini dapat berupa pemenuhan kebutuhan anggota, dapat pula usaha produktif lainnya, seperti memasok bahan baku, jasa transportasi di perusahaan,
mengusahakan kantin, atau ikut memasarkan hasil produksi perusahaan. Upaya ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan produktivitas dengan dilakukan secara bersama-sama oleh sesama pekerja melalui sikap kebersamaan dan gotong-royong, sebagai salah satu perwujudan dari bukti kemampuan pekerja untuk mengurus diri sendiri dan berperan serta secara nyata bersuadaya meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan melalui kegiatan koperasi ini.
12) Pakaian seragam, pemberian pakaian seragam merupakan bentuk lain dari pemberian kesejahteraan. Dengan pemberian pakaian seragam ini diharapkan akan terwujud rasa kebersamaan, percaya diri dan jiwa korsa para pekerja dalam melakukan pekerjaan. Bagi pekerja, pemberian pakaian seragam ini diharapkan dapat mengurangi pengeluaran beban biaya membeli pakaian untuk bekerja, dan meningkatkan solidaritas diantara pekerja, serta menum-buhkan rasa bangga sebagai bagian dari perusahaan. Sedangkan ke luar diharapkan dapat menciptakan citra dan kesan yang baik dari masyarakat konsumen kepada perusahaan.93
c. Perlindungan terhadap jaminan sosial tenaga kerja.
93
Lebih lanjut lihat Mohd. Syaufii Syamsuddin, Hukum Acara Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, (Jakarta: Sarana Bhakti Persada, 2005), hlm. 46-51.
Pasal 99 UUKK menyatakan bahwa setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek).94 Dan jamsostek merupakan hak bagi setiap tenaga kerja dan merupakan kewajiban bagi setiap perusahaan.95
Bagi pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja 10 (sepuluh) orang atau lebih, atau membayar upah paling sedikit Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah) sebulan, wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam jamsostek.
Bila perusahaan tidak menyelenggarakan jamsostek yang diwajibkan, sementara sudah diberikan peringatan tetapi tetap tidak melaksanakan kewajibannya, akan dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan izin usaha.96 Selain itu ber-dasarkan Pasal 29 UUJSTK dapat dikenakan hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Adapun program jamsostek yang dapat diberikan kepada pekerja terdiri dari:
1) Jaminan kecelakaan kerja.
94
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (disingkat UUJSTK) menyebutkan jamsostek adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.
95
Ibid., dan lihat juga Pasal 3 dan 4. 96
Lihat Pasal 2 dan 47 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (disingkat dengan P4JSTJ).
Tenaga kerja yang berdasarkan keterangan dokter yang ditunjuk menyatakan menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja, berhak memperoleh jaminan kecelakaan kerja,97 meskipun hubungan kerja telah berakhir. Hak atas jaminan kecelakaan kerja diberikan bila penyakit tersebut timbul dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak hubungan kerja berakhir.98 Jaminan kecelakaan kerja diberikan kepada tenagakerja yang tertimpa kecela-kaan kerja berupa penggantian biaya, yang meliputi:
a) Biaya pengangkutan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit dan/atau ke rumahnya, termasuk biaya pertolongan pertama pada kecelakaan.
b) Biaya pemeriksaan, pengobatan, dan/atau perawatan selama di rumah sakit, termasuk rawat jalan.
c) Biaya rehabilitasi berupa alat bantu (orthese) dan/atau alat ganti (prothese) bagi tenaga kerja yang anggota badannya hilang atau tidak berfungsi akibat kecelakaan kerja.
97
Jaminan kecelakaan kerja adalah santunan berupa uang sebagai pengganti biaya pengang-kutan, biaya pemeriksaan, biaya pengobatan dan/atau perawatan, biaya rehabilitasi serta santunan sementara tidak mampu bekerja, santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya atau cacat total selama-lamanya baik fisik maupun mental, santunan kematian sebagai akibat peristiwa berupa kecelakaan kerja. Zulaini Wahab, Dana Pensiun dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia, Cet. 1, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 143. Sedangkan yang dimaksud dengan kecelakaan kerja berdasarkan Pasal 1 angka 6 UUJSTK adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
98
d) Santunan berupa uang yang meliputi:
(1) Santunan sementara tidak mampu bekerja:
(a) 4 (empat) bulan pertama sebesar 100% upah sebulan. (b) 4 (empat) bulan kedua sebesar 75% upah sebulan. (c) Bulan selanjutnya 50% upah sebulan.
(2) Santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya. Di bayarkan secara sekligus (lumpsum) sesuai tabel99 x 70 bulan upah. (3) Santunan cacat total untuk selama-lamanya, baik fisik maupun
mental. Dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan secara berkala, dengan besarnya santunan:
(a) Santunan sekaligus sebesar 70% x 70 bulan upah.
(b) Santunan berkala sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) selama 24 (dua puluh empat) bulan.
(c) Santunan cacat kekurangan fungsi dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dengan besarnya santunan adalah….% berkurangnya fungsi x % sesuai tabel100 x 70 bulan upah.
(4) Santunan kematian dibayarakan sekaligus (lumpsum) dan secara berkala dengan besarnya santunan adalah:
99
Lihat lampiran. 100
(a) Santunan sekaligus sebesar 60% x 70 bulan upah, sekurang-kurangnya sebesar jaminan kematian.
(b) Santunan berkala sebesar Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) selama 24 (dua puluh empat) bulan.
(c) Biaya pemakaman sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).101
Adapun kewajiban pengusaha sehubungan dengan jaminan kecelakaan kerja, adalah:
a) Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan bagi tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan.
b) Melaporkan setiap kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerjanya kepada kantor Depnaker dan badan penyelenggara setempat atau terdekat, sebagai laporan kecelakaan kerja tahap I dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam terhitung sejak terjadinya kecelakaan.
c) Melaporkan akibat kecelakaan kerja kepada kantor Depnaker dan badan penyelenggara setempat atau terdekat, sebagai laporan kecelakaan kerja tahap II dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam
101
Lihat Pasal 12 P4JSTK, dan Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993, serta Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2002 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993.
setelah adanya surat keterangan dokter pemeriksa atau dokter penasehat yang menyatakan bahwa tenaga kerja tersebut:
(1) Sementara tidak mampu bekerja telah berakhir. (2) Cacat sebagian untuk selama-lamanya.
(3) Cacat total untuk selama-lamanya, baik fisik maupun mental. (4) Meninggal dunia.
d) Melaporkan penyakit yang timbul karena hubungan kerja dalam waktu tidak lebh dari 2 x 24 jam setelah ada hasil diagnosis dari dokter pemeriksa. Bagi pengusaha yang tidak memenuhi kewajibannya tersebut di atas walaupun telah diberi peringatan, dikenakan sanksi berupa pen-cabutan izin usaha.
e) Mengurus hak tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja kepada badan penyelenggara sampai memperoleh hak-haknya. Barang siapa yang tidak memenuhi kewajiban melaporkan kecelakaan kerja, melaporkan kesem-buhan, cacat atau meninggal dunianya tenaga kerja yang kecelakaan tersebut atau tidak mengurus hak tenaaga kerja yang kecelakaan tersebut kepada badan penyelenggara, diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setingi-tingginya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).102
102
2) Jaminan kematian.
Jaminan kematian dibayar sekaligus kepada janda atau duda, atau anak, yang meliputi:
a) Santunan kematian diberikan sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
b) Biaya pemakaman sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Bila janda atau duda, atau anak tidak ada, maka jaminan kematian dibayar sekaligus kepada keturunan sedarah yang ada dari tenaga kerja, menurut garis lurus ke bawah dan garis lurus ke atas dihitung sampai derajat kedua. Dalam hal tenaga kerja tidak memiliki keturunan sedarah, maka jaminan kematian dibayarkan sekaligus kepada pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya, sedangkan bila tenaga kerja tidak memiliki wasiat maka biaya pemakaman dibayarkan kepada pengusaha atau pihak lain guna pengurusan pemakaman. Bagi tenaga kerja yang meninggal dunia, adalah tenaga kerja yang lagi magang atau murid dan mereka yang memborong pekerjaan serta narapidana, maka keluarganya yang ditinggalkan tidak berhak atas santunan jaminan kematian.
Jaminan hari tua dibayar kepada tenaga kerja yang telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun atau cacat total untuk selama-lamanya, dapat dilakukan dengan:
a) Secara sekaligus apabila jumlah seluruh jaminan hari tua yang harus dibayar kurang dari Rp. 3.000.000,- (tiga jua rupiah).
b) Secara berkala apabila seluruh jumlah jaminan hari tua mencapai Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) atau lebih, dan dilakukan paling lama 5 (lima) tahun, dan itupun tergantung atas pilihan tenaga kerja yang bersangkutan.
Bila tenaga kerja meninggal dunia, jaminan hari tua dibayarkan kepada janda atau duda, atau anak yatim piatu. Besarnya jaminan hari tua adalah ke seluruhan iuran yang di setor beserta hasil pengembangannya.
4) Jaminan pemeliharaan kesehatan.
Tenaga kerja, suami atau isteri yang sah, dan anak sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang berhak memperoleh jaminan pemeliharaan kesehatan, yang meliputi:
a) Rawat jalan tingkat pertama. b) Rawat jalan tingkat lanjutan. c) Rawat inap.
d) Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan. e) Penunjang diagnostik.
f) Pelayanan khusus.103 g) Gawat darurat.
Jaminan pemeliharaan kesehatan diselenggarakan secara terstruktur, terpadu dan berkesinambungan, serta bersifat menyeluruh, yang meliputi:
a) Pelayanan peningkatan kesehatan. b) Pencegahan.
c) Pengobatan atau penyembuhan penyakit. d) Pemulihan kesehatan atau perawatan.
Biaya rawat inap ditanggung oleh badan penyelenggara paling lama 7 (tujuh) hari sesuai dengan standar biaya yang telah ditetapkan. Dalam hal biaya rawat inap melebihi ketentuan yang ditetapkan, maka selisih biayanya menjadi tang-gung jawab tenaga kerja yang bersangutan.
103
Berdasarkan Pasal 44 P4JSTK menyatakan pelayanan khusus sebagaimana dimaksud hanya diberikan kepada tenaga kerja berupa; Pertama, kaca mata, dengan mengajukan permintaan kepada optik yang ditunjuk dan menunjukkan resep kacamata dari dokter spesialis mata yang ditunjuk serta kartu pemeliharaan kesehatan. Kedua, prothese mata, dengan mengajukan permintaan kepada rumah sakit atau perusahaan alat-alat kesehatan yang ditunjuk dan menunjukkan surat pengantar dari dokter spesialis mata serta kartu pemeliharaan kesehatan. Ketiga, prothese gigi, dengan mengajukan permintaan kepada balai pengobatan gigi, yang telah ditunjuk dan menunjukkan resep dari dokter spesialis gigi yang ditunjuk serta kartu pemeliharaan kesehatan. Keempat, alat bantu dengar, dengan mengajukan permintaan kepada rumah sakit atau perusahaan alat-alat kesehatan yang telah ditunjuk dan menunjukkan surat pengantar dari dokter spesialis THT yang ditunjuk serta kartu pemeliharaan kesehatan. Kelima, prothese anggota gerak, dengan mengajukan permintaan kepada rumah sakit rehabilitasi atau perusahaan alat-alat kesehatan yang ditunjuk dan menunjukkan surat pengantar dari dokter spesialis yang ditunjuk serta kartu pemeliharaan kesehatan.