• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA PEREMPUAN

B. Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Perempuan di Indonesia

1. Perlindungan upah bagi pekerja perempuan Indonesia

Hak untuk menerima upah63 timbul pada saat adanya hubungan kerja dan berakhir pada saat hubungan kerja putus. Upah adalah hal yang penting dalam hubungan kerja, karena bagi pekerja upah merupakan salah satu resiko perburuhan yang harus ditanggung dalam tugasnya mengelola kelanjutan dan perkembangan per-usahaan.64

Adapun perlindungan upah65 bagi pekerja terdiri dari:

63

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah (selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan PP No. 8 Tahun 1981), menyebutkan upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada buruh untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan, dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut persetujuan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan buruh, termasuk tunjangan, baik untuk buruh itu sendiri maupun keluarganya. Sedangkan menurut Pasal 1 huruf a Konvensi Nomor 100 tentang pengupahan yang sama bagi buruh laki-laki dan wanita untuk pekerjaan yang sama nilainya, sebagaimana telah diratifikasi berdasarkan Undang-undang Nomor 80 Tahun 1957, menyebutkan istilah pengupahan meliputi upah atau gaji biasa, pokok atau minimum dan pendapatan-pendapatan tambahan apapun juga, yang harus dibayar secara langsung atau tidak, maupun secara tunai atau dengan barang oleh majikan kepada buruh berhubung dengan pekerjaan buruh.

64

Suliati Rachmat, “Upaya Peningkatan Perlindungan Hukum Wanita Pekerja di Perusahaan Industri Swasta, Studi Kasus Tentang Wanita Pekerja Harian di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta”,

Disertasi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1996), hlm. 147. 65

Pengelompokan komponen upah dan pendapatan non upah diatur pada Surat Edaran Menteri Tenagakerja Nomor: SE-07/MEN/1990, tanggal 2 Agustus 1990, yang menyebutkan; 1. Termasuk komponen upah adalah; a. Upah pokok, yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada buruh menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. b. Tunjangan tetap, yaitu pembayaran-pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan secara tetap untuk buruh dan keluarganya yang dibayarkan bersamaan dengan upah pokok. Seperti tunjangan anak, tunjangan-tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, tunjangan kematian, tunjangan makan, dan tunjangan transport dapat dimasukkan dalam perjanjian pokok asal masalah tidak dikaitkan dengan kehadiran buruh dan ketentuan lain. Tunjangan yang diberikan tersebut tanpa mengindahkan kehadiran buruh dan diberikan bersamaan dengan dibayarnya upah pokok. c. Tunjangan tidak tetap, yaitu pem-bayaran yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pekerjaan, yang diberikan secara

a. Larangan diskriminasi terhadap upah.

Setiap perusahaan yang akan menetapkan besarnya upah, pengusaha tidak boleh mengadakan diskriminasi antara pekerja pria dengan wanita untuk pekerjaan yang sama nilainya. Pengaturan yang demikian ini sejalan dengan Konvensi ILO Nomor 100 Tahun 1951 mengenai Kesamaan di Bidang Pengupahan.

Konvensi ini telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Undang-undang Nomor 80 Tahun 1957, dengan demikian ketentuan ini berlaku sebagai hukum nasional Indonesia. Mengenai larangan diskriminasi ini, Pasal 6 UUKK menjamin setiap pekerja berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.66

b. Komponen dan bentuk upah.

Di dalam praktek dikenal bermacam-macam bentuk, komponen, waktu dan cara pembayaran upah. Untuk komponen upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap. Upah pokok, merupakan imbalan dasar yang dibayar-kan kepada pekerja menurut tidak tetap untuk pekerja dan keluarganya serta dibayarkan menurut satuan waktu yang tidak sama dengan waktu pembayaran upah pokok, seperti tunjangan transport yang didasarkan pada kehadiran. 2. Termasuk komponen non upah adalah; a. Fasilitas, yaitu kenikmatan dalam bentuk nyata/natura yang diberikan perusahaan oleh karena hal-hal yang bersifat khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, seperti fasilitas kendaraan (antar jemput pekerja dan lainnya), pemberian makan secara cuma-cuma, sarana ibadah, tempat penitipan bayi, koperasi kantin, dan lain-lain. b. Bonus, yaitu pembayaran yang diterima pekerja (bukan merupakan bagian dari upah) dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja menghasilkan hasil kerja lebih besar dari target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas, besarnya pembagian bonus diatur berdasarkan kesepakatan. c. Tunjangan hari raya (THR), gratifikasi dan pembagian keuntungan lainnya.

66 Penjelasan Pasal 6 UUKK menyatakan pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban pekerja/buruh tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, warna kulit, dan aliran politik.

tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

Tunjangan tetap adalah suatu imbalan yang diterima oleh pekerja secara tetap jumlahnya dan teratur pembayarannya tidak dikaitkan dengan kehadiran maupun prestasi. Diberikan secara tetap untuk pekerja dan/atau keluarganya yang dapat berupa tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan perumahan, dan tunjangan transport. Suatu tunjangan, baru dapat dikatakan sebagai tunjangan tetap dan dapat dimasukkan dalam komponen upah apabila pemberian tunjangan tersebut tidak dikaitkan dengan kehadiran, dan diterima secara tetap oleh pekerja menurut satuan waktu, harian atau bulanan.

Adapun tunjangan tidak tetap adalah imbalan yang diterima oleh pekerja ber-dasarkan kehadiran yang dapat berupa uang atau fasilitas. Tunjangan tidak tetap merupakan pembayaran yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pekerja, yang diberikan secara tidak tetap baik untuk pekerja dan/atau keluarganya serta dibayarkan menurut satuan waktu yang tidak sama dengan waktu pembayaran upah pokok, seperti tunjangan transport yang didasarkan pada kehadiran. Tunjangan makan dapat masuk ke dalam tunjangan tidak tetap apabila tunjangan tersebut diberikan atas dasar kehadiran.67

67

Bila dilihat dari bentuknya, maka upah dapat berupa uang atau berbentuk imbalan lainnya. Pada dasarnya upah diberikan dalam bentuk uang yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Jika upah ditetapkan dalam mata uang asing, maka pembayaran harus dilakukan berdasarkan kurs resmi dari Bank Indonesia pada saat pembayaran upah. Upah yang diberikan dalam bentuk lain dapat berbentuk apa saja terkecuali dalam bentuk minuman keras, obatan atau bahan obat-obatan, dengan ketentuan nilainya tidak boleh melebihi 25% dari nilai upah yang seharusnya diterima.68

c. Sistem pemberian upah.

Di dalam pemberian upah dikenal ada beberapa macam, dapat berupa upah jangka waktu, upah potongan, upah permufakatan, skala upah berubah, upah indeks, atau sistem pembagian keuntungan.

Berdasarkan upah jangka waktu, pemberian upah dilakukan menurut jangka waktu tertentu. Waktu pelaksanaan pembayaran upah dalam prakteknya diberi-kan:

1) Kurang dari satu minggu atau setiap hari. 2) Satu minggu sekali.

3) Paling lambat satu bulan sekali.

Berdasarkan cara pelaksanaan pembayaran upah menurut satuan waktu, melahir-kan istilah:

68

1) Upah harian, untuk upah yang diperhitungkan tiap-tiap hari kerja. 2) Upah mingguan, yaitu upah yang dibayarkan setiap seminggu sekali. 3) Upah bulanan, yaitu upah yang diperhitungkan tiap-tiap bulanan.

Peraturan ketenagakerjaan mengatur bahwa jangka waktu pembayaran upah secepat-cepatnya dapat dilakukan seminggu sekali atau selambat-lambatnya sebulan sekali, kecuali bila perjanjian kerja untuk waktu kurang dari satu minggu. Bila mana upah tidak ditetapkan menurut jangka waktu tertentu, pembayaran upah disesuaikan dengan keperluan, dengan pengertian bahwa upah dibayar sesuai dengan hasil pekerjaannya dan/atau sesuai dengan jumlah hari atau waktu bekerja.69

d. Pembayaran upah tepat waktu.

Hak pekerja untuk menerima upah timbul sejak saat dimulainya hubungan kerja dan berakhir karena hubungan kerja putus. Pada saat dimulainya suatu hubungan kerja lazimnya disepakati pula waktu pembayaran upah. Dengan disepakatinya waktu pembayaran upah, akan dapat dengan mudah diketahui apabila pengusaha telah terlambat membayar upah. Karena upah merupakan kewajiban utama pengusaha dan nafkah bagi pekerja, setiap keterlambatan upah dapat dikenakan sanksi sebagai berikut:

69

1) Keterlambatan hari ke 4 sampai dengan hari ke 8 ditambah 5% tiap hari.

2) Keterlambatan sesudah hari ke 8 ditambah 1% tiap hari dan dengan ketentuan tambahan itu untuk satu bulan tidak boleh melebihi 50% dari upah yang dibayar.

3) Apabila sesudah satu bulan upah belum terbayar, di samping membayar tambahan juga membayar bunga yang ditetapkan oleh bank untuk kredit perusahaan yang bersangkutan.70

e. Upah minimum.

Bila dilihat dari Pasal 88 UUKK, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak71 bagi kemanusiaan. Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap. Penetapan upah minimum berdasarkan satuan bulanan. Dengan demikian, bagi pekerja yang berupah bulanan, tidak timbul lagi masalah untuk pembayaran upah pada hari istirahat dan pada hari libur resmi.72

Upah minimum ditujukan terhadap pekerja yang baru diterima dengan pendidikan dan jabatan terendah, yang belum mempunyai pengalaman

70

Lihat Pasal 19 PP No. 8 Tahun 1981. 71

Berdasarkan penjelasan Pasal 88 ayat (1) UUKK, menyatakan yang dimaksud dengan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak adalah jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar yang meliputi makanan dan minuman, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan jaminan hari tua.

72

kerja, merupakan pekerja pemula, dan baru pertama sekali memasuki pasar kerja, termasuk yang bekerja dengan masa percobaan, dan hanya boleh diberikan kepada pekerja yang bekerja kurang dari satu tahun. Untuk pekerja yang di atas satu tahun upahnya dirundingkan bersama antara pengusaha dan pekerja/serikat pekerja.73

Selama ini dalam penetapan besarnya upah pemerintah menjalankan kebijakan dengan menetapkan upah minimum. Berdasarkan Pasal 89 ayat (1) UUKK, upah minimum terdiri atas:

1) Upah minimum berdasarkan wilayah propinsi atau kabupaten/kota, 2) Upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah propinsi atau

kabupaten/ kota.

Upah minimum sektoral dapat ditetapkan untuk kelompok lapangan usaha beserta pembagiannya menurut klasifikasi lapangan usaha Indonesia untuk kabupaten/ kota, propinsi, beberapa propinsi atau nasional dan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum regional daerah yang bersangkutan. Dan perlu dicatat bahwa setiap penetapan upah minimum harus diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup yang layak.

Upah pokok minimum sebagimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenagakerja No. 05 /MEN/1989 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenagakerja No. 03/MEN/1996 jo Peraturan Menteri Tenagakerja No.03/ MEN/1997 jo Peraturan Menteri Tenagakerja No. 01/MEN/1999 jo

73

Keputusan Menteri Tenagakerja Dan Transmigrasi Nomor: KEP- 226/MEN/2000 tentang Perubahan Pasal 1, Pasal 3, Pasal 8, Pasal 11, Pasal 20, dan Pasal 21 Peraturan Menteri Tenagakerja Nomor: PER-01/MEN/1999 tentang Upah Minimum, pada Pasal 1 menyebutkan beberapa jenis upah pokok minimu, yaitu:

1) Upah minimum propinsi adalah upah minimum yang belaku untuk seluruh kabupaten/kota disuatu propinsi.

2) Upah minimum kabupaten/kota adalah upah minimum yang berlaku di daerah kabupaten/kota.

3) Upah minimum sektoral propinsi (UMS propinsi) adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di seluruh kabupaten/kota di satu propinsi.

4) Upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMS kabupaten/kota) adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di daerah kabupaten kota. Berdasarkan Keputusan Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi Nomor : KEP-226/MEN/2000 ini yang berwenang menetapkan upah minimum propinsi atau upah minimum kabupaten/kota adalah Gubernur berdasarkan usulan dari komisi penelitian pengupahan dan jaminan sosial dewan ketenagakerjaan daerah. Dan Gubernur juga yang berwenang menetapkan upah minimum sektoral propinsi atau upah minimum sektoral kabupaten/kota atas kesepakatan organisasi perusahaan dengan serikat pekerja/serikat buruh.

Upah minimum yang telah ditetapkan Gubernur74 wajib ditaati oleh pengusaha, bahkan berdasarkan Pasal 90 UUKK pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum yang telah ditetapkan dan bila hal ini dilanggar maka bedasarkan Pasal 185 ayat (1) UUKK akan dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah). Kecuali pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum, dapat dikecualikan dari kewajiban tersebut. Akan tetapi berdasarkan keputusan Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi Nomor: KEP-231/MEN/2003 harus terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Gubernur melalui kepala kantor Wilayah Deprtemen Tenagakerja/Instansi Peme-rintah yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan di Propinsi.

Akan tetapi, permohonan penangguhan pelaksanaan upah minimum tersebut harus terlebih dahulu didasrkan atas kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh yang

74

Berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/034.K Tahun 2004, menetapkan upah minimum propinsi (UMP) Sumatera Utara tahun 2004 sebesar Rp. 537.000,-/bulan. Keputusan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 3654/2003, menetapkan UMP tahun 2004 di Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebesar Rp. 671.550,45,-/bulan. Keputusan Gubernur Banten No. 561/Kep. 271-Hak/2003, menetapkan UMP Kabupaten Tanggerang tahun 2004 sebesar Rp. 660.000,-/bulan. Selanjutnya lihat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, (Jakarta: Eka Jaya, 2004), hlm. 249-386.

tercatat.75 Selanjutya Gubernur dapat meminta akuntan publik untuk memeriksa keadaan keuangan guna pembuktian ketidak mampuan perusahaan. Sebelum Gubernur menetapkan penolakan atau persetujuan penangguhan pelaksanaan upah minimum, harus terlebih dahulu Gubernur menerima saran dan pertimbangan dari Dewan Peng-upahan Propinsi.

Bila Gubernur menyetujui permohonan tersebut, maka persetujuan penangguhan hanya berlaku paling lama 12 (dua belas) bulan, dengan memberikan:

1) Membayar upah minimum sesuai upah minimum yang lama atau; 2) Membayar upah minimum lebih tinggi dari upah minimum lama tetapi

lebih rendah dari upah minimum baru, atau; 3) Menaikkan upah minimum secara bertahap.

Setelah berakhirnya izin penangguhan, maka pengusaha wajib melaksanakan ketentuan upah minimum yang baru.

f. Upah karena alasan penting.

75

Selain itu berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Keputusan Tenagakerja dan Transmigrasi No: KEP-231/MEN/2003, menetapkan permohonan harus disertai dengan; a. Naskah asli kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh atau pekerja/buruh perusahaan yang bersangkutan. b. Laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari neraca, perhitungan rugi/laba beserta penjelasan-penjelasan untuk 2 (dua) tahun terakhir. c. Salinan akte pendirian perusahaan. d. Data upah menurut jabatan pekerja/buruh. e. Jumlah pekerja/buruh seluruhnya dan jumlah pekerja/buruh yang dimohonkan penangguhan pelaksanaan upah minimum. f. Perkembangan produksi dan pemasaran selama 2 (dua) tahun terakhir, serta rencana produksi dan pemasaran untuk 2 (dua) tahun yang akan datang.

Pasal 93 ayat (4) UUKK memberikan perlindungan kepada kehidupan sosial dan kerohanian pekerja, dengan mewajibakan kepada pengusaha untuk memberi istirahat kepada pekerja dengan tetap memberikan upah. Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh adalah sebagai berikut: 1) Pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari. 2) Menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari. 3) Mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari. 4) Membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari.

5) Istrei melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 (dua) hari.

6) Suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari.

7) Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, dibayar untuk selama 1 (satu) hari.

g. Upah lembur.

Selain upah yang disebutkan di atas, adalagi jenis upah yang harus dipenuhi pengusaha, yaitu upah lembur. Upah kerja lembur diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-72/MEN/84, tanggal 31 Maret 1984. Kom-ponen-komponen upah sebagai dasar penghitungan upah lembur adalah:

2) Tunjangan jabatan. 3) Tunjangan kematian.

4) Nilai pemberian catu untuk karyawan sendiri.

Jumlah nilai komponen yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan upah lem-bur tidak boleh kurang dari 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah kese-luruhan upah yang dibayarkan di dalam satuan waktu yang sama.76 Cara per-hitungan upah lembur adalah:

1) Upah lembur pada hari biasa:

a) Jam kerja lembur pertama dibayar 1½ (satu setengah) kali upah sejam.

b) Jam kerja lembur berikutnya (kedua dan selanjutnya) dibayar 2 (dua) kali upah sejam.

2) Upah lembur pada hari istirahat minggu dan atau hari raya resmi: a) Jam kerja lembur dalam batas 7 (tujuh) jam atau 5 (lima) jam bila

hari libur tersebut jatuh pada hari kerja terpendek pada salah satu hari dalam 6 (enam) hari kerja seminggu dibyar sedikit-dikitnya 2 (dua) kali upah sejam.

b) Jam kerja lembur pertama selebih dari 7 (tujuh) jam atau 5 (lima) jam bila hari libur tersebut jatuh pada hari kerja terpendek pada salah satu hari dalam 6 (enam) hari kerja seminggu dibayar sebesar 3 (tiga) kali upah sejam.

c) Jam kerja lembur kedua selebih dari 7 (tujuh) jam atau 5 (lima) jam bila hari libur tersebut jatuh pada hari kerja terpendek pada salah satu hari dalam 6 (enam) hari kerja seminggu dibayar 4 (empat) kali upah sejam.

Perhitungan upah sejam untuk perhitungan upah lembur77 adalah: 1) Upah sejam bagi pekerja bulanan: 1/173 upah sebulan.

2) Upah sejam bagi pekerja harian: 3/20 upah sehari.

3) Upah sejam bagi pekerja borongan atau satuan: 1/7 rata-rata hasil kerja sehari.

h. Upah selama sakit.

UUKK menganut asas “tidak bekerja tidak dibayar”, artinya bila buruh tidak bekerja maka upah tidak dibyar. Akan tetapi berdasarkan Pasal 93 ayat (3) UUKK, apabila pekerja/buruh tidak bekerja bukan karena kesalahannya maka pengusaha wajib membayar upah apaila:

76

Lihat Kepmenakertrans No. KEP.102/MEN/VI/2004. 77

Contoh penghitungan upah lembur, Nani seorang pekerja mendapat upah harian seperti berikut: a. Upah pokok ……… Rp. 3.000,- b. Tunjangan jabatan………… Rp. 1.500,- c. Nilai cuti ……….. Rp. 750,- d. Tunjangan hadir ………….. Rp. 2.250,- e. Tunjangan transport ……… Rp. 4.500,- J u m l a h ………… Rp. 12.000,-

Dari jumlah tersebut, maka nilai komponen upah adalah mencakup; upah pokok, tunjangan jabatan, nilai cuti, yang jumlahnya Rp. 5.250,- dari (Rp. 3.000 + Rp. 750), dan ini kurang dari Rp. 9.000,- dari (75 % dari total jumlah penghasilan, yakni Rp. 12.000). Karena itu nilai komponen upah harian untuk perhitungan upah lembur yang dihitung adalah 75% X Rp. 12.000 = Rp. 9.000,-. Upah satu jam Nani untuk perhitungan upah lemburnya adalah 3/20 X Rp. 9.000 = Rp. 1.350,- (seribu tiga ratus lima puluh rupiah).

1) Pekerja/buruh sakit78 sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan. Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit adalah sebagai berikut:

a) Untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus perseratus) dari upah.

b) Untuk 4 (empat) bulan ke dua, dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari upah.

c) Untuk 4 (empat) bulan ke tiga, dibyar 50% (lima puluh perseratus) dari upah.

d) Untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus) dari upah, sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha.

2) Pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan.

i. Upah selama menjalankan ibadah.

Pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaan karena menjalankan ibadah yang

diperintahkan agamanya.79 Bahkan menurut ketentuan Pasal 80 UUKK, peng-usaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada

78

Berdasarkan penjelasan Pasal 93 ayat (2) huruf a, yang dimaksud pekerja/buruh sakit ialah sakit menurut keterangan dokter. Akan tetapi sakit disini bukan karena kecelakaan kerja atau akibat pekerjaan. Dalam hal pekerja sakit karena kecelakaan kerja tau karena akibat pekerjaan maka hal ini menjadi tanggung jawab penyelenggara program jamsostek.

pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. Untuk itu, peng-usaha wajib membayar upah tersebut dengan penuh, dengan ketentuan bahwa waktunya tidak melebihi 3 (tiga) bulan dan di dalam satu hubungan kerja hanya berlaku satu kali saja.

Bila ketentuan Pasal 93 ayat (2) huruf e UUKK ini dilanggar maka bedasarkan Pasal 185 ayat (1) UUKK pengusaha dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah).

j. Upah selama menjalankan kewajiban negara.

Berdasarkan Pasal 93 ayat (2) huruf d UUKK apabila pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara.80 Dan tidak melebihi waktu satu tahun, seperti wajib militer, panitia pemilu, pembayaran upahnya ditentukan sebagai berikut: 1) Apabila negara tidak melakukan pembayaran upah, maka pengusaha

mem-bayar penuh.

79

Berdasarkan penjelasan Pasal 93 ayat (2) huruf e UUKK, yang dimaksud dengan menjalan-kan kewajiban ibadah menurut agamanya adalah melaksanamenjalan-kan kewajiban ibadah menurut agamanya yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan.

80

Berdasarkan penjelasan Pasal 93 ayat (2) huruf d UUKK, yang dimaksud dengan menjalankan kewajiban terhadap negara adalah melaksanakan kewajiban negara yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan.

2) Apabila negara membayar upah akan tetapi kurang dari upah yang biasa diterima pekerja/buruh, dalam hal ini maka pengusaha wajib membayar kekurangannya.

3) Apabila negara membayar penuh maka pengusaha tidak membayarnya.

k. Upah karena kelalaian pengusaha.

Berdasarkan Pasal 93 ayat (2) butir f UUKK apabila pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerja-kannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha, seperti bahan yang tidak tersedia, ada kerusakan mesin produksi, atau ada halangan lain yang membuat pekerja tidak dapat melakukan pekerjaannya, maka pekerja tetap berhak atas upah penuh.

l. Upah selama libur resmi.

Pada hari libur resmi semua pekerja yang bekerja di perusahaan berhak mendapat istirahat dengan upah sebagaimana biasa diterima tanpa membedakan status pekerja. Dalam hal hari libur resmi jatuh pada hari minggu atau hari istirahat mingguan, pekerja tetap berhak mendapat upah. Apabila pekerjaan menurut sifat-nya dijalankan pada hari libur

resmi, bagi pekerja yang bekerja pada hari libur tersebut juga dibayarkan upah lemburnya, sesuai dengan ketentuan yang ber-laku.81

Apabila dilakukan penggeseran pelaksanaan libur resmi, upah yang dibayar adalah pada hari penggeseran hari raya itu. Apabila pada hari penggeseran itu pekerja dipekerjakan, di samping mendapat upah pada hari raya, juga mendapat pembayaran upah lembur untuk bekerja pada hari raya. Sedangkan apabila ada pekerja yang dipekerjakan pada hari-hari palaksanaan cuti bersama, pada hari-hari itu dianggap pekerja bekerja