Batoro, J., S. Indriyani dan B. Rahardi. 2006. Kajian etnobotani dan penentuan jenis pandan (Pandanaceae) yang bermanfaat melalui struktur morfologi dan anatomi di Jawa Timur. http://pdf-searcher.org. [12 juli 2011]
Baga, L. 2009. Koperasi dan Kelembagaan Agribisnis. Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 207 hal. Candra, A. 2011. Efek oksalat bagi kesehatan. http://health.kompas.com/. [29 juni
2011]
Eka. 2010. Kenikir, penambah nafsu makan. http://cybermed.cbn.net.id. [28 Januari 2011].
Ekawati. R. 2009. Pengaruh Naungan Tegakan Pohon Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Beberapa Tanaman Sayuran Indigenous. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 104 Hal.
Dane, F. dan C. Meric. 2004. Calcium oxalate crystals in floral organs of helianthus annuus L. and H. tuberosus L. (asteraceae). Acta Biologicas Szegediensis. Turki. 48: 19-23. http://www.sci.u-szeged.hu/abs. [29 April 2011]
Daniel, M. 2006. Medicinal Plants (chemistry and propeties). Science Publisher. USA. 250 p.
Endang, K. A.M. dan L. H. Nugroho. 1998. Bentuk, distribusi dan kerapatan kristal kalsium oksalat pada berbagai sayuran daun. Chimera. 3:1. http://journal.um.ac.id. [21 Februari 2011].
Kurniasih, D. 2010. Kajian Kandungan Senyawa Karotenoid, Antosianin dan Asam Askorbat Pada Sayuran Indigenous Jawa Barat. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 90 Hal.
Kusmana dan Suryadi. 2004. Mengenal Sayuran Indijenes. BALITSA. Bandung. 27 hal.
Lakitan, B. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 205 hal.
Lestari, M.A. 2008. Pengaruh Pemupukkan Terhadap Pertumbuhan dan Produtivitas Beberapa Sayuran Indigenous. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 50 Hal.
Onate, L.U. and J.S. Eusebio. 1986. Vegetables as food, p. 9-17. In O.K. Bautista and R.C. Mebesa (Eds.). Vegetable Production. Departement Agriculture. Los Banos.
Pambayun, R. 2008. Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Produksi Sayuran Indigenous. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 43 Hal.
Pusatlitbang Gizi dan Makanan. 2007. Tingkat Konsumsi Sayur Masyarakat Indonesia. Puslitbang Gizi dan Makanan. Jakarta. 54 hal.
Putrasamedja, S. 2003. Eksplorasi dan koleksi sayuran indigenous di kabupaten Karawang. Buletin plasma nutfah. 11(1):16:20.
Rubatzky, E. V. dan M. Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia 1 (Prinsip, Produksi dan Gizi). ITB. Bandung. 313 hal.
Siemonsma, J.S and P.C.M. Jansen. 1994. Solanum americanum Merrill, p. 252-255. In: J.S Siemonsma and K. Piluek (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. PROSEA (8): Vegetables. Prosea. Bogor.
Soedirdjoatmojo, S. 1996. Mengenal sayuran daun “poh-pohan”. Bul. Pinmr.
68:8-10.
Sutrian, Y. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan:tentang sel dan jaringan. Rineke Cipta. Jakarta. 232 hal.
Suwena, M. 2007. Keanekaragaman Tumbuhan Liar Edibel pada Ekosistem Sawah di Sekitar Kawasan Hutan Gunung Salak. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram. http://tutorial-pdf.tp.ac.id. [07 Juni 2011] Van den Bergh, M.H. 1994. Cosmos caudatus Kunth, p. 152-153. In: J.S
Siemonsma and Kasem Piluek (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. PROSEA (8): Vegetables. Prosea. Bogor.
Van den Bergh, M.H. 1994. Limnocharis flava (L.) Buchenau, p. 192-194. In: J.S Siemonsma and Kasem Piluek (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. PROSEA (8): Vegetables. Prosea. Bogor.
Nama Petani :
Alamat :
Umur :
Luas Lahan Total :
Pendapatan/Bln
Pendidikan :
Jumlah anggota keluarga :
Keterangan: a = luas lahan Nama
Komoditi a
Varietas
Jarak
Tanam Pola tanam Pupuk
Panen. ...(Kg) Siklus Panen Harga (Rp)/Kg Keuntu ngan Rp/bula n Tempat
Tanaman Cara Jual
Unggul Asa l Berat uran As al Mo nok ultu r Tump ang Sari Bany ak Sed ang R e n da h Tid ak Harian Mingg uan Bulan an Waktu tertentu Pek ara nga n Sa wa h Kepa sar Lai n seb ut Kenikir Genjer Poh-pohan Leunca Pucuk Kemang
Lampiran 2. Kuisioner terhadap konsumen
KUESIONER PENELITIAN
DEPARTEMEN AGRNOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Nama :
Pekerjaan :
Umur :
Jumlah anggota keluarga :
Pendapatan rata-rat/ Bulan :
Desa/ kecamatan :
Quesioner Konsumen Sayuran Indigenous
1. Berikan peringkat dari tertinggi hingga terendah dengan peringkat tertinggi 1-7.
Harga ( )
Kemudahan diperoleh ( ) Kemudahan dimasak ( )
Kesukaan ( )
Tujuan khusus ( )
Dari kebun sendiri ( ) Seadanya/terpaksa ( )
Nama Komoditi
Harga Kemudahan Menemukan Kemudahan di Konsumsi Kesukaan
Murah Sedang Mahal Mudah Jarang Sedikit Mudah
Agak
Sulit Sulit Suka sedang
tidak suka
Kenikir
Genjer
Berikan tanda ceklis (√) pada kolom yang anda pilih.
Berikan tanda ceklis (√) jika menurut anda itu jawaban anda 2. Partisipasi orang yang mengkonsumsi.
( ) Semua orang makan ( ) Orang Tua saja
3. Penjualan/pembelian sayuran indigenous. ( ) < 1 kg
( ) ≈ 1 kg
( ) > 1 kg
4. Tempat membeli sayuran indigenous. ( ) Pedagang Keliling
( ) Warung ( ) Pasar ( ) Pesanan
5. Cara Konsumsi sayuran indigenous. ( ) Lalapan
( ) Kukus
( ) Masak
( ) Tumis
6. Dampak setelah mengkonsumsi sayuran indigenous pada kesehatan. ( ) Tidak terasa
( ) Baik ( ) Tidak baik ( ) Tidak tahu
7. Frekuensi mengkonsumsi sayuran indigenous ( ) setiap satu minggu sekali
( ) setiap hari ( ) tidak tentu
( ) lebih dari 1 kali per minggu
8. Menurut anda dari kelima sayuran indigenous diatas mana yang perlu dikembangkan? Kekurangan apa yang dirasakan dan perlu diperbaiki? ... ... ... ... ...
9. Jika perlu dikembangkan sayuran tersebut, bagian manakah yang perlu dikembangkan?
( ) ukuran yang dibesarkan pohan
Leunca
Pucuk
( ) warna yang lebih menarik ( ) rasa yang lebih enak
10. Saran yang diperlukan untuk sayuran inidigenous.
... ... ... ...
Lampiran 3. Pengamatan produktivitas tanaman sayuran indigenous
Variabel yang diamati Cara pengamatan Keterangan
1
Bobot basah tanaman (akar, daun, buah)
Menimbang (akar, daun, buah) berasal dari lahan
Timbangan digital 2
Bobot kering tanaman (akar, daun, buah)
Menimbang (akar, daun, buah) setelah di oven
Timbangan digital 3 Panjang daun
Mengukur daun secara vertikal daun
terbesar yang muncul pada tanaman Penggaris
4 Lebar daun
Mengukur daun secara horizontal daun terbesar yang muncul pada
tanaman Penggaris
5 Tinggi tanaman
Mengukur dari pangkal akar hingga
pucuk tanaman Penggaris
6 Diameter batang
Mengukur pertengahan batang
tanaman Jangka sorong
7 Jumlah daun
Menghitung jumlah daun
Lampiran 4. Tahapan analisis GC-MS pada tanaman indigenous
Di maserasi atau dihaluskan tanpa menggunakan air
Di rendam menggunakan ethanol 70 % selama 24 jam
Di uapkan menggunakan gas Nitrogen
Di inject menggunakan
autosampler GC-MS Sayuran dalam kondisi segar
Lampiran 5. Metode pengambilan stomata pada tanaman indigenous
Memilih daun dalam kondisi baik
Melapisi daun dengan menggunakan pewarna kuku (kutek)
Daun yang telah dilapisi lalu dikelupas menggunakan lakban
Kemudian lakban ditempel kedalam preparat
Lampiran 6. Tahapan pengamatan kristal oksalat Sayuran dalam kondisi segar
maserasi tanpa menggunakan air
Peras cairan setelah sayuran tersebut dimaserasi
Cairan tersebut ditaruh diatas preparat
Amati dibawah mikroskop
Lampiran 7. Ringkasan hasil sidik ragam beberapa peubah pada tanaman kenikir
Peubah T1 Vs T2 T2 Vs T3 T1 Vs T3
Bobot Basah Akar tn ** **
Bobot Kering Akar tn * *
Bobot Basah Daun ** ** **
Bobot Kering Daun ** ** **
Tinggi Tanaman tn ** **
Diameter Batang tn ** **
Panjang Daun ** ** **
Lebar Daun tn ** **
Jumlah Daun tn ** *
Keterangan: tn : tidak beda nyata T1: keikir yang diperoleh dari Ciapus *) : beda nyata pada taraf 5 % T2 : kenikir yang diperoleh dari Cipanas **): beda nyata pada taraf 1 % T3: kenikir yang diperoleh dari Ciampea
Lampiran 8. Ringkasan hasil sidik ragam beberapa peubah pada tanaman genjer
Peubah T1 Vs T2 T2 Vs T3 T1 Vs T3
Bobot Basah Daun ** ** tn
Bobot Kering Daun tn tn *
Bobot Basah Akar * ** tn
Bobot Kering Akar tn tn tn
Tinggi Tanaman ** ** ** Jumlah Rumpun tn * ** Jumlah Bunga tn tn tn Diameter Rumpun ** ** tn Panjang Daun ** ** * Lebar Daun ** ** *
Keterangan: tn : tidak beda nyata T1: Genjer yang diambil dari Tasikmalaya *) : beda nyata pada taraf 5 % T2: Genjer yang diambil dari Cipanas **): beda nyata pada taraf 1 % T3: Genjer yang diambil dari Ciampea
Lampiran 9. Ringkasan hasil sidik ragam berapa peubah pada tanaman poh-pohan
Peubah T1 Vs T2 T2 Vs T3 T1 Vs T3
Bobot Basah Daun * * tn
Bobot Kering Daun tn tn tn
Bobot Basah Akar * ** *
Bobot Kering Akar tn * **
Lebar Daun ** tn ** Tinggi Tanaman ** tn ** Panjang Daun ** * tn Diameter Batang ** tn ** Jumlah Daun * * tn Jumlah Bunga tn tn tn Jumlah Cabang ** tn *
Keterangan: tn : tidak beda nyata T1: Poh-pohan yang diambil dari Ciapus *) : beda nyata pada taraf 5 % T2: Poh-pohan yang diambil dari Cipanas **): beda nyata pada taraf 1 % T3: Poh-pohan yang diambil dari Tasikmalaya
Lampiran 10. Ringkasan hasil sidik ragam berapa peubah pada tanaman leunca
Peubah T1 Vs T2 T2 Vs T3 T1 Vs T3
Bobot Basah Buah * tn *
Bobot Kering Buah tn tn *
Bobot Basah Daun * tn **
Bobot Kering Daun tn tn **
Bobot Basah Akar * tn tn
Bobot Kering Akar tn tn *
Jumlah Bunga * * ** Jumlah Cabang tn tn tn Tinggi Tanaman * tn ** Jumlah Buah * tn tn Diameter Batang * tn * Panjang Daun ** * tn Lebar Daun ** ** tn Diameter Buah tn tn tn
Keterangan: tn : tidak beda nyata T1: Leunca yang diperoleh dari Ciapus *) : beda nyata pada taraf 5 % T2: Leunca yang diperoleh dari Cipanas **): beda nyata pada taraf 1 % T3: Leunca yang diperoleh dari Ciampea