• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung)

Dalam dokumen Surat Izin Penelitian (Halaman 93-101)

4.4 Pelaksanaa Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS PAJALE)

4.4.4 Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung)

76

77 e. Fasilitasi pemerintah untuk pelaksanaan PAT jagung adalah bantuan sarana produksi lengkap berupa benih dan pupuk, diberikan kepada kelompok sasaran melalui transfer langsung dalam bentuk uang kepada kelompok sasaran pelaksana program.

Kegiatan perluasan areal tanam jagung (PAT-Jagung) dilaksanankan di lokasi yang telah ditetapkan meliputi:

a. Persiapan

1) Inventarisasi CPCL

2) Penetapan lokasi dan petani pelaksana 3) Musyawarah kelompok tani

4) Penyusunan RUKK

5) Pembukaan rekening kelompok tani 6) Transfer dana ke rekening kelompok tani b. Pelaksanaan fisik

1) Penyiapan lahan

2) Bantuan saprodi terdiri dari: benih, pupuk, kapur pertanian, dan pestisida.

3) Penanaman.

4) Pemeliharaan.

Senada dengan hasil wawancara bersama bapak Jamal selaku kepala bidang tanaman pangan sebagai berikut:

78

“Untuk kegiatanPerluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung), sama dengan kegiatan-kegiatan lainnya, diawali dari peran tim pelaksana melakukan inventarisasi, kemudian menentukan lokasi dan petani pelaksana selanjutnya dilaksanakan oleh kelompok tani terpilih, kemudian tim upsus PPL, PPK dan Kabupaten melakukan pembinaan dan pengawasan dan evaluasi, apalagi kan petani jagung kita kebanyakan petani padi juga, jadi sudah tau jelas alur penerimaan bantuan, yang membedakan system penanamannya saja” (wawancara, 8 Desember 2017)

Hasil wawancara dengan bapak Talia selaku ketua kelompok tani Padaidi 2 salah satu kelompok tani di Kecamatan Pitu Riase:

“harus memasukkan proposal dan CPCL berdasarkan arahan oleh PPL, lalu diadakan musyawarah kelompok tani untuk menyusun RUKK.Pada saat bantuannya dananya cair, di gunakan untuk membeli benih jagung, pupuk, dan keperluan lainnya. Lalupada saat penanaman di damping oleh PPL dan ada juga TNI”(wawancara, 11 Desember 2017)

Berikut ini data realisasi perluasan areal tanam jagung (PAT-Jagung)Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2015 dan 2016 sebagai berikut:

79 Tabel 16.

Realisasi produksi jagung tahun 2015

No Kecamatan

2015 Sisa

tanam akhir 2014

Tambahan tanam

(ha)

Puso (ha)

Panen (ha)

Produktivitas (Ku/ha)

Produksi (ton)

Sisa tanam

akhir 2015 1. Pitu Riawa 184 1,549 1 807 54.11 4,367 925

2. Pitu Riase 140 431 - 369 54.12 1,997 202

Jumlah 324 1,980 1 1,17 108.23 6,364 1,127

No Kecamatan

2016 Sisa

tanam akhir 2015

Tambahan tanam

(ha)

Puso (ha)

Panen (ha)

Produktivitas (Ku/ha)

Produksi (ton)

Sisa tanam

akhir 2016

1. Pitu Riawa 925 2,097 - 2,606 60.15 15,675 416

2. Pitu Riase 202 867 - 670 60.15 4,030 399

Jumlah 1,127 2,964 - 3,276 120.30 19,705 815

Sumber: Dinas pertanian, ketahanan pangan dan perkebunan, 2017 Berdasarkan tabel di atas, pada tahun 2015 tambahan tanam jagunguntuk Kecamatan Pitu Riawa dan Pitu Riase sebanyak 1,980ha dengan produktivitas 108.23ku/ha dan produksi 6,364ton.Selanjutnya pada tahun 2016 penanaman jagung sebanyak 2,964ha dengan produktivitas 120.30ku/ha dan produksi 19,705ton. Artinya dari tahun 2015 hingga 2016 terjadi peningkatan baik dari segi penanaman, produktivitas, maupun produksi.

Dapat disimpulkan berdasarkan hasil penelitian disinkronkan dengan kebijakan pelaksanaan program Upsus pajale untuk kegiatan kegiatan Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung)telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman Upsus Pajale.

80 4.4.5 Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu

(GP-PTT)

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi, melalui pendekatan inovatif secara massal kepada petani/kelompok tani untuk melaksanakan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dalam mengelola usaha tani, dengan tujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan.

Dalam mencapai tujuan Upsus Pajale tiga komoditas utama yang menjadi prioritas yaitu padi, jagung, kedelai. Berdasarkan petunjuk teknis bahwa fasilitas pemerintah untuk Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) baik itu padi, jagung dan kedelai adalah bantuan sarana produksi lengkap berupa benih, pupuk anorganik dan organik, pestisida diberikan kepada kelompok sasaran melalui transfer langsung dalam bentuk uang kepada kelompok sasaran pelaksana program.

Tiga komoditas utama yang menjadi prioritas yaitu padi, jagung, kedelai terdapat pada Kecamatan Pitu Riawa dan Pitu Riase.Berikut ini wawancara dengan kelompok tani di Kecamatan Pitu Riawa yaitu bapak Abd. Hakim ketua ketua kelompok tani Subur Harapan II mengatakan bahwa ;

81

“Kalau terkait Upsus Pajale pada tahun 2015 sudah dulu pernah kami laksanakan, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dan optimalisasi lahan termasuk di dalamnya berupa biaya penggarapan dan pegolahan tanah, biaya tanam, pestisida, termasuk pupuk dan benih, artinya sudah komplit dalam satu kali musim tanam. Untuk prosesnya, setelah dana bantuannya sudah di transfer ke rekening kelompoktani itu nanti kami yang tebus. Kalau untuk pupuk kami tebus ke distributor yang sudah ada di sini, dan untuk benih itu langsung datang dari dinas pertanian yang kami tebus lewat bank”(Wawancara, 22 Desember 2017).

Berikut ini data Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) Padi Hibrida di Kabupaten Sidenreng Rappang:

Tabel 17.

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) Padi Hibrida di Kab. Sidrap

No Kecamatan

Jumlah desa / kelurahan

Jumlah penerima

manfaat (POKTAN)

Luas

(ha) Realisasi (ha)

1. Baranti 9 26 650 650

2. Pitu Riawa 7 26 650 650

3. Dua Pitue 10 28 650 650

Total 26 80 2000 2000

Sumber : Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sidrap, 2017 Berdasarkan tabel di atas untuk Kecamatan Pitu Riawa terdapat 7 desa/kelurahan yang mendapatkan program gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GP-PTT) padi hibrida, dengan kelompok penerima manfaat sebanyak 26 kelompok tani dengan luas areal 650 ha. Sedangkan Kecamatan Pitu Riase tidak mendapat program ini.

82 Tabel 18.

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung Hibrida di Kab. Sidrap

No Kecamatan

Jumlah desa / kelurahan

Jumlah penerima

manfaat (POKTAN)

Luas (ha)

Realisasi (ha)

1. Kulo 4 10 250 250

2. Pitu Riase 4 7 250 250

Total 8 17 500 500

Sumber : Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sidrap, 2017 Berdasarkan tabel di atas untuk Kecamatan Pitu Riase terdapat 4 desa/kelurahan yang mendapatkan program gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPPTT) jagung hibrida, dengan kelompok penerima manfaat sebanyak 7 kelompok tani dengan luas areal 250 ha. Sedangkan Kecamatan Pitu Riawa tidak mendapat program ini.

Tabel 19.

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Kedelai di Kab. Sidrap

No Kecamatan

Jumlah desa / kelurahan

Jumlah penerima

manfaat (POKTAN)

Sasaran Luas

(ha)

Realisasi (ha)

1. Pitu Riawa 6 36 1000 212

2. Pitu Riase 6 34 1000 4

Total 12 70 2000 216

Sumber : Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sidrap, 2017 Berdasarkan tabel di atas untuk Kecamatan Pitu Riawa terdapat 6 desa/kelurahan yang mendapatkan program gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GP-PTT) kedelai, dengan kelompok

83 penerima manfaat sebanyak 36 kelompok tani dengan luas areal 1.000 ha dengan realisasi penanaman 212 ha. Sedangkan Kecamatan Pitu Riase terdapat 6 desa/kelurahan yangmendapatkan program gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPPTT) kedelai, dengan kelompok penerima manfaat sebanyak 34 kelompok tani dengan luas areal 1.000 ha dan realisasi penanaman 4 ha.

Dapat disimpulkan berdasarkan hasil penelitian disinkronkan dengan kebijakan pelaksanaan program upsus pajale untuk kegiatan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) padi, jagung telah dilaksanakan sesuai pedoman Upsus.Pelaksanaan kegiatan ini pada dua Kecamatan yaitu Pitu Riawa dan Pitu Riase yang sesuai dengan prosedur persyaratan penerima program yang memenuhi hanya pada dua kecamatan ini.Namun, pada komoditi kedelai secara garis besar pelaksanaannya masih kurang, terlihat dari realisasi penanaman belum memenuhi sasaran di Kabuaten Sidenreng Rappang.Hal ini dikarena minat petani untuk menanam komoditi kedelai sangat kurang sebab sangat rentan terhadap hama dan penyakit, serta keuntungan yang di dapatkan petani dari hasil tanaman ini tergolong kurang dari pada tanaman seperti jagung dan kacang kacangan.Pelaksanaannya juga sangat membantu petani karena bantuan total pada satu musim tanam, penyalurannya berupa uang yang langsung kepada petani sesuai areal lahannya sehingga

84 kegiatan GPPTT dapat dikategorikan pelaksanaan program berjalan baik.

4.4.6 Penyediaan sarana dan prasarana pertanian (bantuan

Dalam dokumen Surat Izin Penelitian (Halaman 93-101)

Dokumen terkait