• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Izin Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Surat Izin Penelitian"

Copied!
196
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM UPAYA KHUSUS PADI, JAGUNG, KEDELAI (UPSUS PAJALE) DALAM MEWUJUDKAN SWASEMBADA

PANGAN DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG

Untuk menenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat Sarjana S-1

Oleh MUH. REZKY S.

E12113310

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2018

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Segala puji dan rasa syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat ALLAH Subhanahu Wata’ala, dzat yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Bijaksana atas segala limpahan Rahmat dan Karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengn judul “Analisis Pelaksanaan Program Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS PAJALE) Dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Hasanuddin.

Salam dan shalawat tidak lupa penulis kirimkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang mana segala tindakannya menjadi tauladan untuk kita semua.

Skripsi ini berisi hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, dan kedelai (UPSUS Pajale)dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, sekiranya ada masukan dan kritikan dari pembaca yang bersifat membangun, maka penulis akanmenerimanya dengan senang hati.

(5)

v Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu dan memberi dukungan serta motivasi. Oleh karena itu melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan mengucapkan terima kasih yang sedalam- dalamnya terkhusus kepada kedua orang tua, Ibunda Hj. Syamsiah dan Ayahanda Syamsul Bahri yang senantiasa memberi semangat dan dukungannya dalam kelancaran studi penulis. Berkat kekuatan doa luar biasa yang setiap saat beliau haturkan kepada penulis agar selalu mencapai kemudahan disegala urusan, diberi kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT. Tak lupa didikan dan perjuangannya dalam membesarkan penulis, semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan yang tiada tara di dunia maupun di akhirat kelak.

Selain itu, ucapan terima kasih dengan penuh rasa tulus dan hormat penulis haturkan kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, selaku Rektor Universitas Hasanuddin yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Hasanuddin

2. Bapak Prof. Dr. Armin Arsyad, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin beserta seluruh staf.

(6)

vi 3. Bapak Dr. H. Andi Samsu Alam, M.Si selaku Ketua Departemen

Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIP Unhas beserta seluruh staf.

4. Ibu Dr. Hj. Nurlinah, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Unhas.

5. Bapak Dr. H. Andi Samsu Alam, M.Si Pembimbing I penulis yang telah rela mengorbankan waktunya untuk membimbing penulis, memberi arahan, saran, dan kritikan terhadap penyusunan skripsi ini.

6. Dr. H. Suhardiman Syamsu, M.Si selaku Pembimbing II penulis yang telah rela mengorbankan waktunya untuk membimbing penulis, memberi arahan, saran, dan kritikan terhadap penyusunan skripsi ini serta sebagai Penasehat Akademik (PA) penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin.

7. Kepada para penguji penulis mulai dari Ujian Proposal hingga Ujian Skripsi, terima kasih atas masukan dan arahannya.

8. Para dosen pengajar Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Unhas, terima kasih atas didikan dan ilmu yang diberikan selama perkuliahan.

9. Seluruh staf tata usaha Pak Mursalim, Ibu Hasna, Ibu Nanna pada lingkup Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan beserta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unversitas Hasanuddin yang

(7)

vii telah banyak membantu penulis dalam mengurus kelengkapan administrasi.

10. Seluruh informan penulis di Kabupaten Sidenreng Rappang yakni Dinas Pertanian, ketahanan pangan, dan perikanan, Camat Pitu Riawa dan Camat Pitu Riase, PPK Pitu Riawa dan PPK Pitu Riase, serta Kelompok tani yang telah bersedia meluangkan waktunya dan membantu memberikan data kepada penulis terkait penelitian ini.

11. Kepada kakak-kakak saya, Eka Febrianto, Suci Megawati Syamsul, Andika Syamsul, dan Sutra Dewi Syamsulyang telah menjadi saudara yang perhatian dan memberi dukungan kepada penulis. Terima kasih atas waktu dan dorongannya selama ini.

12. Kepada keluarga besar CRT 02, Hj. Yurna Ye’Rammang, Herman Ye’Rammang, Sudirman Ye’Rammang, Buyung Ye’Rammang, Maradona Ye’Rammang, Anas Ramli, Sugianto, Samsuddin, dan teman-teman yang lain, terima kasih banyak atas dukungan yang diberikan kepada penulis.

13. Kepada Guru dan teman-teman di SMA N 7 Sidrap, terima kasih banyak atas dukungan yang diberikan kepada penulis.

14. Kepada saudara-saudara tak sekandung tapi sekampus penulis, Zainuddin, A. Husain Maulana, Muhammad Alif, Muhammad Rum, Hasyim Asyari, KhairulDjafri, Edwin Fardias, Wahid, Andi

(8)

viii Sutrisman, Yeyen, Muhammad Chaeroel, Andika Anas, Muhammad Oskar, Arya Utama, Andi Ferian, Najib Arifuddin, Aqil, dan Wahyu Karunia yang selalu memberikan dukungan dan membantu mengarahkan penelitian penulis.

15. Saudara-saudara tak sekandung penulis, Lebensraum, yaitu Anti,Dirga, Jusna, Dewi, Suna, Ulfi, Immang, Hanif, Dias, Zul, Yun, Febi, Erik, Ekki, Lala, Icha, Afni, Kaswandi, Fahril, Ika, Yani, Fitri, Syarif, Babba, Juwita, Dede, Aqil, Dana, Dandi, Ade, Adit, Rian, Uma, Sube, Ugi, Hendra, Fitra, Angga, Mia, Haeril, Wulan, Hillary, Mustika,Ina, Irma, Aksan, Reza, Rosandi,Sani, Wiwi, Wiwin, Yusra, Amel, Cana, Uni, Betrix,Sundari, Salfia, Ipa, Tami, Mega, Suci dan Ayyun yang telah menemani selama kurang lebih 5 tahun di kampus tercinta Universitas Hasanuddin. Terkhusus untuk Alm. Iis terima kasih atas pelajaran hidup yang telah kau titipkan. Semoga semangat merdeka militan tetap kita jaga.

16. Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAPEM) FISIP Unhas. Terima kasih atas ilmu, pengalaman, kesempatan berkarya, kebersamaan dan kekeluargaan yang telah diberikan. Jayalah Himapemku, Jayalah Himapem Kita.

17. Teman-teman KKN Reguler Gelombang 93 Unhas Kabupaten Jeneponto, Kecamatan Tamalatea, Kelurahan Tonrokassi

(9)

ix Timur,serumah selama kurang lebih 1 bulan menjalani pengabdian kepada masyarakat yaitu Etta dan Bunda, Kak Ancu, Ratu, Riani, Risanti, Ricky, Nunu, beserta seluruh masyarakat Kelurahan Tonrokassi Timur. Semoga silaturahmi tetap terjaga.

18. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis.

Akhir kata, penulis mengucapkan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Terima Kasih, Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar,Juli 2018

(10)

x DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PENERIMAAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

DAFTAR MATRIKS... xv

INTISARI ... xvi

ABSTRAK ... xvii

BAB I... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II ... 10

TINJAUAN PUSTAKA... 10

2.1 Analisis Kebijakan ... 10

2.2 Program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE)... 18

2.2.1 Tujuan dan sasaran ... 19

2.2.2 Ruang lingkup dan indikator kerja ... 20

2.3 Swasembada pangan ... 21

2.4 Kerangka Pikir Penelitian ... 25

BAB III ... 27

METODOLOGI PENELITIAN ... 27

(11)

xi

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

3.2 Jenis Penelitian ... 28

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 28

3.4 Informan Penelitian ... 29

3.5 Sumber Data ... 30

3.6 Analisis Data ... 31

3.7 Definisi Operasional ... 31

BAB IV ... 33

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

4.1 Profil Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang ... 33

4.1.1 Letak Geografis Wilayah ... 33

4.1.2 Wilayah Administrasi ... 34

4.1.3 Kondisi Topografi ... 36

4.1.4 Kondisi Geologi ... 40

4.1.5 Kondisi Klimatologi ... 42

4.1.6 Kondisi Hidrologi ... 43

4.1.7 Penggunaan Lahan ... 45

4.1.8 Aspek Demografi ... 47

4.1.9 Visi dan Misi Kabupaten Sidenreng Rappang ... 48

4.2 Profil Wilayah Kecamatan Pitu Riawa ... 53

4.3 Profil Wilayah Kecamatan Pitu Riase ... 55

4.4 Pelaksanaa Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS PAJALE) Dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang ... 56

4.4.1 Pengembangan jaringan irigasi ... 59

4.4.2 Optimasi lahan ... 68

4.4.3 Optimasi perluasan areal tanam kedelai melalui peningkatan indeks pertanaman (PAT-PIP Kedelai) ... 71

4.4.4 Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung) ... 76

(12)

xii 4.4.5 Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-

PTT) ... 80

4.4.6 Penyediaan sarana dan prasarana pertanian (bantuan benih, pupuk, dan alat mesin pertanian) ... 84

4.4.7 Pengawalan dan pendampingan ... 95

4.5 Pencapaian Indikator Kerja Upaya Khusus Pajale (UPSUS Pajale) Di Kabupaten Sidenreng Rappang ... 97

4.6 Analisis Retrospektif terhadap kebijakan program Analisis Pelaksanaan Program Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS PAJALE) dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang ... 106

4.7 Faktor-Faktor Penghambat dan Pendukung Pelaksanaan Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS Pajale) Di Kabupaten Sidenreng Rapppang ... 109

BAB V ... 112

PENUTUP ... 112

5.1 Kesimpulan ... 112

5.2 Saran ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 115 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel 1. Sasaran produksi UPSUS Pajale Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 ...27 Tabel 2. Luas Daerah Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang menurut Kecamatan (Km2), Presentase Luas, dan Jumlah Kelurahan/Desa 2016 ...35 Tabel 3. Keadaan Topografi Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2016.. ...39 Tabel 4. Jenis Tanah per Kecamatan dalam Kabupaten Sidenreng Rappang ...40 Tabel 5. Luas Lahan Sawah Menurut Kecamatan dan Jenis Pengairan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Ha) 2016 ...41 Table 6. Nama Sungai, Panjang, Lebar dan Kedalaman Sungai Di Kabupaten Sidenreng Rappang ...44 Tabel 7. Penggunaan Lahan di Kabupaten Sidenreng Rappang ...46 Tabel 8. Jumlah Penduduk dan Ratio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan di Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2016 ...47 Tabel 9. Luas desa/kelurahan, jarak dari ibu kota menurut desa/kelurahan di Kecamatan Pitu Riawa ...54 Tabel10. Luas desa/kelurahan, jarak dari ibu kota menurut desa/kelurahan di Kecamatan Pitu Riase ...55 Tabel 11. Sasaran produksi UPSUS Pajale Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 ...58 Tabel 12. Data Pengembangan Jaringan Irigasi di Kecamatan Pitu Riawa, tahun 2015/2016 ...63 Tabel 13. Data Pengembangan Jaringan Irigasidi Kecamatan Pitu Riase, tahun 2015/2016 ...65 Tabel 14. Rekapitulasi angka tetap padi tahun 2015 dan 2016 ...69

(14)

xiv Tabel 15. Realisasi produksi kedelai tahun 2015 dan 2016 ...74 Tabel 16. Realisasi produksi jagung tahun 2015 dan 2016 ...78 Tabel 17. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) Padi Hibrida di Kab. Sidrap ...80 Tabel 18. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung Hibrida di Kab. Sidrap ...81 Tabel 19. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Kedelai di Kab. Sidrap ...81 Tabel 20. Rencana dan Realisasi Penyaluran Benih Bersubsidi Kecamatan Pitu RiawaTahun 2016 ...85 Tabel 21. Data Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Tanaman Pangan Kecamatan Pitu Riawa ...86 Tabel 22. Data alokasi alat mesin pertanian (alsintan) Kecamatan Pitu Riawa, tahun 2015 dan 2016 ...88 Tabel 23. Rencana dan Realisasi Penyaluran Benih Bersubsidi Kecamatan Pitu Riase Tahun 2015 ...90 Tabel 24. Data Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Tanaman Pangan Kecamatan Pitu Riase ...91 Tabel 25. Data alokasi alat mesin pertanian (alsintan) Kecamatan Pitu Riase, tahun 2015 dan 2016 ...92 Tabel 26. Indeks Pertanaman (IP) Padi, jagung, dan kedelai Di Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 dan 2016 ...97 Tabel 27. Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi Di Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 dan 2016 ...99 Tabel 28. Produksi dan Produktivitas Tanaman Kedelai Di Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 dan 2016 ...100 Tabel 29. Produktivitas Tanaman Jagung Di Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 dan 2016 ...101

(15)

xv DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema kerangka konsep ...26 Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Sidenreng Rappang ...34

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Izin Penelitian

Lampiran 2. PERMENTAN No. 3 tahun 2015 tentang Pedoman Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung, dan Kedelai melaui Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015

Lampiran 3. Data Pengembangan jaringan irigasi di Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2015 dan 2016

Lampiran 4. Data Bantuan Alat dan Mesin Pertaniandi Kabupaten Sedenreng Rappang tahun 2015 dan 2016

Lampiran 5. Dokumentasi penelitian

DAFTAR MATRIKS

Matriks 1. Keterkaitan Visi dan Misi Kepala Daerah………...53 Matriks 2. Pencapaian Indikator Kerja UPSUS PAJALE di Kabupaten

Sidenreng Rappang………..103

(16)

xvi INTISARI

MUH. REZKY S. nomor induk mahasiswa E12113310, Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai(UPSUS PAJALE) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang”. (dibimbing oleh Dr. H. A. Samsu Alam, M.Si sebagai pembimbing 1, dan Dr. H. Suhardiman S, M.Si sebagai pembimbing 2).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang (studi kasus : Kecamatan Pitu Riawa Dan Kecamatan Pitu Riase) serta mengetahui dan menganalisis faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang (studi kasus : Kecamatan Pitu Riawa Dan Kecamatan Pitu Riase). Jenis penelitian adalah kualitatif.Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara serta telaah dokumentasi.Teknik analisis data dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE), dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang terdapat tujuh kegiataan yang dilaksanakan yakni: Kegiatan pengembangan jaringan irigasi telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman Upsus sehingga dapat dikategorikan pelaksanaan program berjalan baik. Kegiatan optimasi lahan adalah tambahan tanam sesuai dengan kebutuhan petani dan mampu meningkatkan produktivitas dan produksi untuk komoditi padi, sehingga dapat dikategorikan pelaksanaan program berjalan baik.Kegiatan Optimasi perluasan areal tanam kedelai melalui peningkatan indeks pertanaman (PAT- PIP Kedelai) telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman upsus.Namun, PAT-PIP Kedelai belum secara maksimal bisa dilaksanakan di Kabuaten Sidenreng Rappang.Kegiatan Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT-Jagung) telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman Upsus Pajale.Kegiatan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) padi, jagung dan kedelai telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman UPSUS, kegiatan GPPTT dapat dikategorikan pelaksanaan program berjalan baik.Kegiatan Penyediaan sarana dan prasarana pertanian (benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian) telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan sehingga dapat dikategorikan berjalan baik.Kegiatan pengawalan dan pendampingan telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis pelaksanaan berdasarkan pedoman upusus peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai. Dapat dikategorikan berjalan baik namun perlu dioptimalkan dan Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) antara lain : Faktor Pengetahuan Petani dan Faktor Pembinaan dan Pengawasan.

Kata kunci : Analisis, Program Upaya Khusus Pajale, Swasembada

(17)

xvii ABSTRAK

Muh Rezky S, Student Number, E12113310, Government Studies Program, Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University, compiled a thesis with the title of Analysis of Implementation Of Special Effort Program Rice, Corn, Soybean (UPSUS PAJALE) in Realizing Food self-sufficiency in Sidenreng Rappang Regency ". Under The Guidance of Mr. Dr. H. A. Samsu Alam, M.Si as Supervisor 1, and Mr. Dr. H. Suhardiman S, M.Si as Supervisor 2.

The aim of this research is to know and analyze the implementation of special effort program Rice, Corn, Soybean (UPSUS PAJALE) in realizing self-sufficiency of food in Sidenreng Rappang Regency (case study: Pitu Riawa and Pitu Riase sub-district) and to know and analyze what factors which influences the implementation of special effort program of Rice, Corn, Soybean (UPSUS PAJALE) in realizing food self-sufficiency in Sidenreng Rappang Regency (Case study: Pitu Riawa Sub-district and Pitu Riase Sub- district). The type of research is qualitative. Technique of collecting data by observation, interview and documentation study.Data analysis technique using qualitative descriptive approach.

The result of the research shows that the implementation of special effort program of Rice,Corn,Soybean (UPSUS PAJALE), in realizing food self-sufficiency in Sidenreng Rappang Regency there are seven activities carried out namely: Irrigation network development activities have been implemented according to technical guidance of implementation based on UPSUS guidance so that categorized the implementation of the program runs well. Land optimization activities are additional planting in accordance with the needs of farmers and able to increase productivity and production for rice commodities, so can be categorized the implementation of the program runs well.

Optimization activities of planting area extension of soybean through increased cultivation index (PAT-PIP Soybean) have been carried out in accordance with the technical guidelines of implementation based on UPSUS guidelines. However, PAT-PIP Soybean has not been maximally implemented in Sidenreng Rappang Regency. The Corn Plantation Extension (PAT-Corn) activity has been carried out in accordance with the technical guidelines for implementation based on UPSUS PAJALE guidance. Integrated Crop Management Application (GPPTT) of rice, corn and soybean activities have been implemented in accordance with the technical guidelines of implementation based on UPSUS guidance, GPPTT activities can be categorized as good program implementation. Activities Provision of agricultural facilities and infrastructure (seeds, fertilizers, pesticides, agricultural tools and machinery) has been carried out in accordance with the technical guidance of the implementation so that it can be categorized as good. Escort and mentoring activities have been carried out in accordance with the technical guidelines of implementation based on UPSUS guidelines for increasing rice, corn and soybean production. Can be categorized as good but needs to be optimized and What factors affect the implementation of special effort program of Rice, Corn, Soy (UPSUS PAJALE) include: Farmer Knowledge Factor and Coaching and Supervision Factor.

Keywords: Analysis, Special Effort Program Rice, Corn, Soy, Self-Sufficiency

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat di Indonesia berjalan beriringan dengan meningkatnya pula permintaan akan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang telah diakui secara internasional berdasarkan Generak Commentdari The Committee on Economic, Social, and Cultural Right (CESCR) hak atas pangan (the right to food).1

Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan menjelaskan bahwa pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar manusia yang member manfaat secara adil, merata dan berkelanjutan dengan berdasarkan pada kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan.

Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2015 tentang ketahanan pangan dan gizi menjelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

1 Kebijakan strategis pangan dan gizi 2015-2019 (Dewan Ketahanan Pangan) diakses dari http://bkp.pertanian.go.id/downlot.php?file=KSPG_2015-2019.pdf, pada tanggal 2 juni 2017

(19)

2 Impor pangan adalah sebuah kebutuhan karena rasionalitas ekonomi dan juga politik menghendaki demikian.Besar kecilnya impor tidak otomatis paralel dengan besar kecilnya derajad kedaulatan pangan yang dimiliki.Semakin besar impor pangan tidak berarti semakin kecil kedaulatan pangan, begitu juga sebaliknya semakin banyak mengekspor pangan tidak berarti semakin kuat kedaulatan pangan sebuah negara.2

Terganggunya ketahanan pangan dapat memicu berbagai gejolak dan berpotensi membahayakan stabilitas nasional.Ketahanan pangan merupakan isu multi-dimensi dan sangat komplek, meliputi aspek teknis, sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik. Aspek terakhir seringkali menjadi faktor dominan pada proses pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan pangan.

Mewujudkan swasembada pangan khususnya padi, jagung, dan kedelai secara berkelanjutan menjadi isu dan prioritas utama bagi Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla.

Tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 mengedepankan Ketahanan Pangan sebagai salah satu agenda prioritas nasional yang merupakan amanat TRISAKTI dan NAWACITA pada agenda prioritas ke-7 yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

2 Khaeron, Herman. 2012. Politik Ekonomi Pangan Menggapai Kemandirian, Mewujudkan Kesejahteraan. Jakarta: Pustaka Cidesindo. Halaman 90−91.

(20)

3 Untuk memperkuat dan meningkatkan ketahanan pangan, sasaran utama prioritas nasional di bidang pangan periode 2015-2019, disebutkan bahwa: 1) Tercapainya peningkatan ketersediaan pangan yang bersumber dari produksi dalam negeri; 2) Terwujudnya peningkatan distribusi dan aksesibilitas panganyang didukung dengan pengawasan distribusi pangan, serta didukung peningkatan cadangan beras pemerintah dalam rangka memperkuat stabilitas harga; 3) Tercapainya penigkatan kualitas konsumsi pangan dan gizi masyarakat; 4) Mitigasi gangguan terhadap ketahanan pangan; 5) Peningkatan kesejahteraan pelaku utama penghasil bahan pangan; dan 6) Tersedianya sarana dan Prasarana irigasi (ketahanan air).3

Kemudian dalam RENSTRA KEMENTAN tahun 2015-2019, dijelaskan bahwa kebijakan swasembada pangan diwujudkan dari membangun system ketahanan pangan yang kokoh, dengan kebutuhan prasarana yang efektif dan efisien dari hulu hingga hilir melalui berbagai tahapan yaitu : produksi dan pengolahan, penyimpanan, transportasi, pemasaran dan distribusi kepada konsumen. Langkah strategis tersebut didukung melalui : 1) pemantapan ketersediaan pangan berbasis kemandirian, 2) peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan, 3) peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang berbasis pada pangan

3 Rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019 diakses dari https://www.bappenas.go.id/files/7714/1557/5291/RT_RPJMN.PDF, pada 2 juni 2017

(21)

4 lokal, 4) peningkatan status gizi masyarakat, dan 5) peningkatan mutu dan keamanan pangan.4

Upaya swasembada pangan merupakan tahapan untuk mencapai kedaulatan pangan.Urgensi pembangunan pertanian untuk pembangunan nasional suatu negara secara teoritis telah teruji dan tidak terbantahkan lagi, namun dalam tataran impelementasi kebijakan terutama di negara-negara berkembang sering terjadi ketidak konsistenan antara apa yang secara formal tertuang dalam rumusan kebijakan dengan tataran implementasinya, sehingga pembangunan pertanian tidak berjalan seperti yang diharapkan.5

Kabupaten Sidenreng Rappang dikenal sebagai salah satu daerah pertanian di provinsi Sulawesi Selatan serta merupakan Lumbung Padi Nasional.Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian terutama tanaman pangan yang memiliki andil cukup besar dalam pertumbuhan perekonomian.

Beberapa komoditas tanaman pangan andalan yang dihasilkan di Kabupaten Sidenreng Rappang antara lain: padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kacang- kacangan. Berdasarkan hasil perhitungan PDRB Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015 diperoleh angka kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB sebesar 33% terhadap total PDRB Kabupaten Sidenreng Rappang, dan memberikan kontribusi hingga 20% terhadap produksi padi Sulawesi

4 Rencana strategis kementrian pertanian 2015-2019 diakses dari http://www.pertanian.go.id/file/RENSTRA_2015-2019.pdf, pada tanggal 20 juni 2017

5http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/anjak_2015_12.pdf, diakses pada tanggal 25 juni 2017

(22)

5 Selatan.Produksi tanaman padi di Kabupaten Sidrap pada tahun 2015 mencapai 534.473 ton yang dipanen dari areal seluas 83.075 Ha atau dengan produktivitas sebesar 64,34 Ku/Ha. Bila dibandingkan dengan keadaan tahun 2014, produksi tahun 2015 mengalami peningkatan sekitar 9,33%, dimana produksi tahun 2014 sebesar 488.882,72 ton dengan areal panen seluas 86.354,42 Ha atau dengan produktivitas sebesar 56,61 Ku/Ha.

Produksi tanaman jagung pada tahun 2015 mencapai 58.643 ton dengan luas areal panen sebesar 10.834 Ha atau dengan produktivitas sebesa 54,12 Ku/Ha. Produksi tanaman jagung tahun 2014 mengalami penurunan sekitar 18,58 persen dibanding tahun 2014, dimana produksi jagung tahun 2014 sebesar 72.026,75 ton dengan luas areal panen sebesar 11.763 Ha atau dengan produktivitas sekitar 61,23 Ku/H.6

Adapun masalah-masalah krusial yang masih dihadapi dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Sidrap diantaranya menurunnya kualitas lahan yang menjadi akan mempengaruhi capaian produksi dan produktivitas pangan, pengelolaan jaringan irigasi selama ini belum dikelola secara optimal sehingga distribusi air belum merata terhadap lahan-lahan pertanian dan sistem pengadaan dan penyaluran benih yang tidak sesuai dengan musim tanam. Masih lemahnya kemampuan petani dalam memanfaatkan teknologi maju, padahal penguasaan teknologi modern

6https://sidrapkab.bps.go.id/backend/pdf_publikasi/Kabupaten-Sidenreng-Rappang-Dalam- Angka-2017.pdf, diakses pada tanggal 11 agustus 2017

(23)

6 petani, peternak dan pekebun mesti dioptimalkan sehingga mampu memacu peningkatan produksi. Keterbatasan tenaga penyuluh, pengamat OPT, pengawas benih tanaman menjadi permasalahan penting sektor pertanian.Meningkatnya biaya-biaya input produksi membuat petani mengalami kerugian dalam usahataninya karena besaran biaya produksi jauh lebih besar dibandingkan harga yang terima (pendapatan), hal ini diperparah oleh sulitnya petani dalam mengakses petani terhadap permodalan, serta terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan tentu dapat mengganggu tingkat produksi pangan.

Dalam menghadapi masalah-masalah tersebut, salah satu bentuk nyata realisasi program swasembada panganyang lahir dari agenda prioritas nasional sebagai amanat TRISAKTI dan NAWACITA yaitu melalui upaya khusus percepatan swasembada padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian.

Program upaya khusus padi, jagung, kedelai merupakan program dukungan langsung, pengawalan serta pendampingan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama tiga komoditas utama yang menjadi prioritas, sebagaimana yang dijelaskan dalam PERMENTAN No. 03 tahun 2015 tentang pedoman upaya khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai melalui program perbaikan jaringan irigasi dan sarana pendukungnya tahun anggaran 2015, kegiatan dalam UPSUS PAJALE ini dilakukan melalui perbaikan atau pembangunan

(24)

7 jaringan irigasi, pengoptimalan lahan padi, jagung dan kedelai,Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), penyediaan sarana dan prasarana (bantuan benih, pupuk,dan alat mesin pertanian), dan pengawalan/pendampingan.

Secara jelas, pertanian adalah salah satu sektor yang paling menentukan dalam keberlanjutan kehidupan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang terkhusus di Kecamatan Pitu Riawa dan Kecamatan Pitu Riase dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pertaniannya melalui program upaya khusus swasembada padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) guna menjawab permasalah pokok pertanian berupa meningkatnya penurunan kualitas lahan, pengelolaan jaringan irigasi selama ini belum dikelola secara optimal, pengadaan dan penyaluran benih yang tidak sesuai dengan musim tanam, belum optimalnya keaktifan kelompok tani, masih lemahnya kemampuan petani dalam memanfaatkan teknologi maju, biaya produksi jauh lebih besar dibandingkan harga yang terima (pendapatan), serta terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan.Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut di atas maka kami tertarik melakukan penelitian mengenai masalah tersebut dengan judul:”Analisis Pelaksanaan Program Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS PAJALE) Dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang”

(25)

8 1.2 Rumusan Masalah

Program upaya khusus padi, jagung, kedelai merupakan program dukungan langsung, pengawalan serta pendampingan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama tiga komoditas utama yang menjadi prioritas.Di Kabupaten Sidenreng Rappang, hanya dua kecamatan yang lengkap memiliki tiga komoditi lengkap padi, jagung, dan kedelai yaitu: kecamatan pitu riawa dan kecamatan pitu riase sesuai dengan sasaran UPSUS Pajale Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015, sehingga untuk melihat pelaksanaan pada program ini penelitian hanya dilaksanakan di dua kecamatan tersebut. Dari penjelasan di atas maka rumusan masalah yang di ambil penulis sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan program upaya khususpadi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang?

2. Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui dan menganalisis pelaksanaan program upaya khusus (Upsus) Pajale (Padi, Jagung, Kedelai) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

(26)

9 2. Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat pelaksanaan program upaya khusus (Upsus) Pajale (Padi, Jagung, Kedelai) dalam mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, dan perkembangan ilmu pemerintahan pada khususnya, serta menambah bahan bacaan peneliti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pemerintahan.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberkan pengetahuan dan saran serta dapat dijadikan bahan kajian bagi semua pihak terutama pemerintah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang.

3. Manfaat metodologis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat berguna untuk menambah wawasan dan menjadi referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan kajian terhadap penelitian selanjutnya yang relevan.

(27)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam membahas dan mengkaji masalah pada penelitian ini, penulis membutuhkan landasan teori yang kokoh untuk mendukung dalam penulisan ini.Konsep dan teori tersebut digunakan sebagai alat analisis terhadap permasalahan yang diangkat yang bersumber dari yang diambil dari hasil- hasil penelitian dan buku refrensi lainnya.

2.1 Analisis Kebijakan

Pengertian analisis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.7

Teori analisis merupakan uraian atas sebuah pokok permasalahan sesuai dengan penelitian atau hasil observasi yang telah dilakukan.

Selanjutanya, Wiradi dan Komaruddinmenjelaskan bahwa analisis yaitu:

“suatu aktivitas berpikir untuk menguraikan suatu permasalahan menjadi beberapa bagian dan kemudian mencari solusi secara keseluruhan”8

Dengan demikian, berdasarkan ciri-ciri tersebut, pengertian analisis adalah sebagai suatu tindakan untuk menjawab permasalahan berdasarkan

7http://kbbi.web.id/analisis diakses pada tanggal 13 agustus 2017 pukul 20.00

8 Wardi dan Komaruddin dalam http://www.bimbingan.org/teori-analisis-menurut-para- ahli.htm

(28)

11 observasi, pengolahan data, dan akhirnya penarikan kesimpulan, sehingga penyelesaian dari permasalahan tersebut dapat diketahui dengan tepat.

Analisis yang merupakan suatu komponen dalam menyelesaikan suatu permasalahan, memiliki fungsi sebagai berikut :

a. Untuk mengidentifikasi ciri-ciri permasalahan yang dihadapi, sehingga nantinya dapat diketahui langkah-langkah penyelesaiannya secara tepat dan sesuai

b. Untuk memberikan spesifikasi atau keterangan terperinci mengenai objek permasalahan yang dianalisis.

c. Memberikan gambaran dasar mengenai simpulan dan strategi yang akan dilakukan.

Secara umum, proses analisis berfungsi sebagai media menemukan alternatif atau gambaran dasar penyelesaian atas masalah yang diteliti.

Selain itu, penguraian data atau keterangan di dalam tindakan analisis harus dilakukan secara teliti dan hati-hati karena hasil analisis akan sangat mempengaruhi kesimpulan dan solusi atas masalah tersebut. Jadi, ulasan teori analisis dapat disimpulkan sebagai dasar atas perancangan suatu sistem yang dilakukan dengan cara sistematis, teliti, dan objektif.

Secara Etimologis, istilah policy (kebijakan) berasal dari bahasa Yunani, Sansekerta, dan Latin. Akar kata dalam bahasa Yunani dan Sansekerta polis (negara-kota) dan pur (kota) dikembangkan dalam bahasa Latin menjadi politia (negara) dan akhirnya dalam bahasa Inggris

(29)

12 Pertengahan Policie, yang berarti menangani berbagai masalah publik atau administrasi pemerintahan.9

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata kebijakan berarti rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak, pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran.

Menurut Carl Fredrich yangmengatakan bahwa

“Kebijakan adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintahan dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud”.10

Selanjutnya, James Anderson dalam bukunya Public Policy Making mendefinisikan kebijakan publik sebagai

“Serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan”.11

Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn sebagaimana dikutip Budi Winarno12 adalah sebagai berikut:

9 William N Dunn. Analisis Kebijakan Publik.Gadjah Mada University Press. 2003.

Yogyakarta. halaman. 51

10 Leo Agustino. Dasar-dasar kebijakan publik.Alfabeta. Bandung. 2008. halaman. 7

11 Ibid, halaman 7

12 Budi Winarno. Kebijakan public (teori, proses, dan studi kasus).CAPS (Center of Academic Publishing Service). 2014. Yogyakarta. halaman. 36-37

(30)

13 a) Tahap penyusunan agenda, Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Sebelumnya masalah ini berkompetisi terlebih dahulu untuk dapat masuk dalam agenda kebijakan. Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan para perumus kabijakan. Pada tahap ini mungkin suatu masalah tidak disentuh sama sekali, sementara masalah yang lain ditetapkan menjadi fokus pembahasan, atau ada pula masalah karena alasan-alasan tertentu ditunda untuk waktu yang lama.

b) Tahap formulasi kebijakan, Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan.

Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian di cari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan (policy alternatives/policy options) yang ada. Dalam perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini masing- masing actor akan bersaing dan berusaha untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik.

c) Tahap adopsi, kebijakan Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara direktur lembaga atau putusan peradilan.

d) Tahap implementasi, kebijakan Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit jika program tersebut tidak diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen pemerintah di tingkat bawah.

Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit- unit administrasikan yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing. Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana (implementors), namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana.

e) Tahap evaluasi kebijakan, Dalam tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau di evaluasi, unuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan, yaitu memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu ditentukan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik yang telah dilaksanakan sudah mencapai dampak atau tujuan yang diinginkan atau belum.

(31)

14 Kemudian, Pasolong menjelaskan bahwa proses pembuatan kebijakan berawal dari analisis kebijakan, pengesahan kebijakan, selanjutnya implementasi kebijakan dan setelah itu evaluasi kebijakan.13

Analisis kebijakan merupakan suatu aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan, secara kritis menilai, dan mengkomunikasikan pengetahuan tentang dan didalam proses kebijakan.14

Menurut Kent dalam Solichin Abdul:

“Analisis kebijakan adalah sejenis studi yang sistematis, berdisiplin, analitis cerdas dan kreatif yang dilakukan dengan maksud untuk menghasilkan rekomendasi yg andal berupa tindakan-tindakan dalam memecahkan masalah-masalah politik yang kongkrit.15

Kebijakan pemerintah pada hakikatnya merupakan kebijakan yang ditujukan untuk publik dalam pengertian yang seluas-luasnya (negara, masyarakat dalam berbagai status serta untuk kepentiangan umum) baik itu dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yang tercermin pada berbagai dimensi kehidupan publik.Oleh karena itu, kebijakan pemerintah sering disebut sebagai kebijakan publik.16

13 Novri Ardi Wiranata Nur. Analisis Program Gerakan Makassar Ta’ Tidak Rantasa Di Kota Makassar.Skirpsi. Sarjana Ilmu Pemerintahan. Fakultas ilmu social dan ilmu politik.

Universitas Hasanuddin. 2015. halaman. 9

14 William N Dunn, Op.cit halaman. 44

15 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Penyusunan Model-Model Implementasi Kebijakan Publik,2016, Jakarta, Bumi Aksara, halaman 40-41

16 Prof. Dr. H. Faried Ali, SH., MS., Dr. H. Andi Syamsu Alam M.Si., Studi Kebijakan Pemerintahan, 2012, Bandung, Refika Aditama, halaman 15

(32)

15 Kebijakan publik menurut Hoogerwerf adalah usaha untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dengan sarana-sarana tertentu, dan dalam urutan waktu tertentu.17

Analisa kebijakan publik adalah penentuan dalam rangka hubungan antara berbagai alternatif kebijakan, keputusan atau cara-cara lainnya, yang terbaik untuk mencapai sejumlah tujuan tertentu.Rumusan ini memberikan gambaran bahwa analisa kebijakan adalah metode atau disiplin untuk mengkaji, menemu kenali, merumuskan permasalahan yang dihadapi, kemudian mengembangkan, menilai serta memilih alternatif kebijakan, guna memecahkan permasalahan atau tujuan yang diinginkan.18

Hubungan antara komponen-komponen informasi kebijakan dan metode-metode analisis kebijakan memberikan landasan untuk membedakan tiga bentuk utama analisis kebijakan prospektif, analisis kebijakan restrospektif dan analisis kebijakan terintegrasi19.

a. Analisis Kebijakan Prospektif

Analisis ini identik dengan produksi atau transformasi informasi sebelum aksi kebijakan dimulai dan diimplementasikan cenderung menciirikan cara beroperasi para ekonom, analisis system, dan peneliti operasi.

17 Ibid, halaman 15

18 Ibid, halaman 123

19 William N Dunn, Op.cit halaman. 117

(33)

16 b. Analisis Kebijakan Retrospektif

Analisis ini dalam banyak hal sesuai dengan deskripsi penelitian kebijakan, juga dijelaskan sebagai penciptaan dan trasnformasi informasi sesudah aksi kebijakan dilakukan, hal ini mencakup berbagai tipe kegiatan yang dikembangkan oleh tiga analis, yaitu:

1). Kelompok analis yang berorienasi pada disiplin yakni, kelompok yang berusaha untuk mengembangkan dan menguji teori yang didasarkan pada teori dan menerangkan sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan, serta jarang mengidentifikasikan tujuan dan sasaran spesifik dari para pembuat kebijakan dan tidak melakukan usaha apapun untuk membedakan variabel-variabel kebijakan yang merupakan hal yang dapat diubah melalui manipulasi kebijikan, dan variabel situasional yang tidak dapat dimanipulasi.

2). Kelompok analis yang berorientasi pada masalah yakni,kelompok yang juga berusaha untuk menerangkan sebab- sebab dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan, namun kurang menaruh perhatian pada pengembangan dan pengujian teori- teori yang dianggap penting didalam disiplin ilmu sosial, tetapi lebih menaruh perhatian pada identifikasi variabel-variabel yang dapat dimanipulasi oleh para pembuat kebijakan untuk mengatasi masalah.

(34)

17 3). Kelompok analis yang berorentasi pada aplikasi yakni, kelompok yang juga berusaha untuk menerangkan sebab dan konsekuensi kebijakan-kebijakan dan program publik, tetapi tidak menaruh perhatian terhadap pengembangan dan pengujian teori-teori dasar. Lebih jauh, kelompok ini tidak hanya menaruh perhatian pada variabel-variabel kebijakan, tetapi juga melakukan identifikasi tujuan dan sasaran kebijakan dari para pembuat kebijakan dan pelaku kebijakan.

c. Analisis kebijakan yang terintegrasi

Analisis ini merupakan bentuk analisis yang mengkombinasikan gaya operasi para praktisi yang menaruh perhatian pada penciptaan dan transformasi informasi sebelum dan sesudah tindakan kebijakan diambil.

Analisis kebijakan memiliki beberapa ciri sebagai berikut :

1. Analisis kebijakan sebagai aktivitas kognitif (cognitive activity).

2. Analisis kebijakan sebagai bagian dari proses kebijakan secara kolektif sehingga merupakan hasil aktivitas kolektif.

3. Analisis kebijakan sebagai disiplin intelektual terapan.

4. Analisis kebijakan berkaitan dengan masalah-masalah publik.20

20Widodo, Joko. (2007). Analisis Kebijakan Publik.Malang :Bayu Media. Halaman 20-22

(35)

18 2.2 Program upaya khusus padi, jagung, kedelai (UPSUS PAJALE)

Masa depan kebijakan pangan kembali memperoleh tantangan yang cukup berat, yaitu berupa faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut meliputi perubahan iklim, eskalasi harga pangan strategis, dan lain-lain yang semakin nyata mengancam kinerja produksi dan ketersediaan pangan di dalam negeri.Tantangan menjadi semakin berat setelah perkembangan ekonomi pangan ditingkat global juga bergerak ke arah yang semakin tidak menentu.Struktur perdagangan komoditas pangan pokok terutama beras semakin sulit dipercaya setelah negara-negara produsen beras lebih banyak terfokus untuk mengatasi persoalan-persoalan di dalam negerinya sendiri dan tidak jarang melakukan kejutan-kejutan perdagangan (trade shock), seperti restriksi ekspor dan proteksi berlebihan, sehingga Indonesia tidak pantas menggantungkan urusan ketahanan pangannya hanya kepada beras impor.21

Peraturan Kementerian Pertanian Republik Indonesia nomor 03/Permentan/0T.140/2/2015 tentang pedoman upaya khusus (Upsus) peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai melalui program perbaikan jaringan irigasi dan sarana pendukungnya tahun anggaran 2015 telah menetapkan upaya khusus pencapaian swasembada berkelanjutan padi, jagung, dan kedelai.Program upaya khusus padi, jagung, kedelai merupakan

21 Arifin, Bustanul. 2013. Ekonomi Pembangunan Pertanian. Bogor: PT IPB Press. halaman 253

(36)

19 program dukungan langsung, pengawalan serta pendampingan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama tiga komoditas utama yang menjadi prioritas.

2.2.1 Tujuan dan sasaran

Tujuan dilaksanakannya program upaya khusus padi, jagung, dan kedelai sebagai berikut:

1. Menyediakan kebutuhan prasarana dan sarana pertanian berupa air irigasi, benih, pupuk, alsintan dan sarana produksi lainnya.

2. Meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pada lahan sawah, lahan tadah hujan, lahan kering, lahan rawa pasang surut, dan rawa lebak untuk mendukung pencapaian swasembada berkelanjutan padi, jagung dan kedelai.

Sasaran dalam pelaksanaan program upaya khusus padi, jagung, dan kedelai sebagai berikut:

a. Petugas pelaksana kegiatan upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai dalam pencapaian swasembada pangan berkelanjutan padi, jagung, dan kedelai di provinsi, kabupaten/kota, dan di tingkat lapangan.

b. Seluruh kelompok tani yang berusaha tanaman pangan, kehutanan-perhutani, dan perkebunan.

(37)

20 c. Lahan sawah, lahan tadah hujan, lahan kering, lahan rawa

pasang surut, dan lahan rawa lebak.

d. Adanya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) minimal sebesar 0,5 dan produktivitas padi meningkat minimal sebesar 0,3 ton/haGabah Kering Panen (GKP)

e. Tercapainya produktivitas kedelai minimal sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas kedelai sebesar 0,2 ton/ha pada areal existing.

f. Tercapainya produktivitas jagung minimal sebesar 5 ton/ha pada areal tanam baru dan adanya peningkatan produktivitas jagung sebesar 1 ton/ha pada areal existing.

2.2.2 Ruang lingkup dan indikator kerja

Ruang lingkup kegiatan Upsus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai dalam pencapaian swasembada pangan berkelanjutan padi, jagung, dan kedelai terdiri dari perbaikan atau pembangunan jaringan irigasi, pengoptimalan lahan padi, jagung dan kedelai,System of Rice Intensification (SRI), Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), penyediaan sarana dan prasarana (bantuan benih, pupuk,dan alat mesin pertanian), pengendalian OPT dan dampak perubahan iklim, asuransi pertanian dan pengawalan/pendampingan.

(38)

21 Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan pendampingan Upsus di lapangan meliputi :

1. Meningkatnya Indeks Pertanaman (IP) minimal sebesar 0,5.Meningkatnya produktivitas tanaman padi minimal sebesar 0,3 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP).

2. Tercapainya produktivitas kedelai minimal sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas kedelai sebesar 0,2 ton/ha pada areal existing.

3. Tercapainya produktivitas jagung minimal sebesar 5 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas jagung sebesar 1 ton/ha pada areal existing.

2.3 Swasembada pangan

Suatu kebijakan seperti kebijakan pangan setidaknya memperhatikan empat aspek sebagai berikut: Pertama, nilai yang melandasi kebijakan tersebut, ingat bahwa kebijakan tidak bisa lepas dari sebuah nilai yang dibawa, nilai ini mencakup nilai moral dan nurani. Kedua, pengetahuan yang melandasinya diantaranya pengetahuan tentang sebab-akibat dari keputusan dan implikasinya.Ketiga, politik dalam pengertian kepentingan siapa yang dimenangkan-dikalahkan dari kebijakan itu.Keempat, institusi sebagai alat operasional kebijakan.Keempat aspek tersebut tidak bisa dilepaskan satu

(39)

22 persatu tetapi perlu dilihat, dipikirkan, dan dipahami secara utuh dan terintegrasi.22

Kebijakan pangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas atau lebih dikenal dengan strategi swasembada bahan pangan sambil memanfaatkan perubahan teknologi dalam bidang pertanian yang berkembang sangat cepat pada waktu itu. Ada tiga kebijakan yang penting dalam kebijakan pangan, yaitu: (1) Intensifikasi, dalam konteks usaha tani intensifikasi sering diterjemahkan dengan penggunaan teknologi biologi dan kimia (pupuk, benih unggul, pestisida dan herbisida) dan teknologi mekanis (traktorisasi dan kombinasi manajemen air irigasi dan drainase); (2) Ekstensifikasi adalah perluasan area yang mengkonversi hutan tidak produktif menjadi areal persawahan, lahan kering, perkebunan dan lainnya;

dan (3) Diversifikasi adalah penganekaragaman usaha pertanian untuk menambah pendapatan rumah tangga petani, usaha tani terpadu peternakan dan perikanan yang telah menjadi andalan masyarakat pedesaan pada umumnya.23

Mewujudkan swasembada pangan tersebut tidaklah mudah karena kompleksnya interaksi faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari sisi suplai maupun sisi permintaan pangan.Walaupun demikian, pada hakekatnya

22 Nouval F, Zacky. 2010. Petaka Politik Pangan Indonesia. Malang: Intrans Publishing.

Halaman 16−17.

23 Arifin, Bustanul. 2005. Ekonomi Kelembagaan Pangan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Halaman 34.

(40)

23 Indonesia mempunyai kemampuan berswasembada pangan. Kemampuan swasembada dapat dimaknai dalam tiga aspek, yaitu: Pertama, kemampuan menghasilkan produksi yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan faktor-faktor produksi yang sepenuhnya dapat dikendalikan oleh sistem produksi yang ada pada berbagai jenjang; Kedua, kemampuan swasembada yang bersifat responsif yaitu kemampuan melakukan pemulihan yang cepat setelah terjadinya goncangan produksi yang menyebabkan berkurangnya produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat; dan Ketiga, kemampuan swasembada yang bersifat antisipatif yaitu kemampuan mengantisipasi terjadinya goncangan produksi yang menyebabkan berkurangnya produksi dan kemampuan antisipatif dalam pengadaan stok untuk mengatasi kekurangan kebutuhan konsumsi.24

Ada empat landasan yang perlu menjadi perhatian untuk penguatan kemampuan swasembada dan kemandirian pangan, yaitu (a) adanya kecenderungan bahwa ketersedian lahan merupakan kendala umum yang dihadapi untuk peningkatan produksi.Pergeseran peran pulau Jawa dalam areal panen dan produksi menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kebijakan investasi untuk produksi pangan harus diarahkan keluar Jawa. (b) adanya pergeseran peran wilayah dalam kontribusinya terhadap pembangunan pertanian berbasis pangan. (c) pembangunan pertanian

24BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Memperkuat kemampuan swasembada pangan/Editor, Effendi Pasandaran...[et al.].--Jakarta: IAARD Press, 2015 diakses 24 agustus 2017

(41)

24 berbasis pangan dalam jangka panjang tidak perlu hanya dibatasi pada sistem sawah beririgasi tetapi di arahkan untuk memanfaatkan semua potensi yang tersedia. Lahan kering merupakan salah satu potensi yang segera perlu dipetakan mengingat adanya peluang-peluang yang muncul dalam pengembangan teknologi, dan (d) pembangunan pertanian berbasis pangan dalam wilayah luas hendaknya merupakan bagian integral pembangunan pangan dan pertanian wilayah jangka panjang yang perlu disiapkan melalui penyiapan Blue Print sebagai pegangan bagi semua pihak yang terkait dengan pembangunan wilayah tersebut.25

25ibid

(42)

25 2.4 Kerangka Pikir Penelitian

Program upaya khusus padi, jagung, kedelai merupakan program dukungan langsung, pengawalan serta pendampingan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama tiga komoditas utama yang menjadi prioritas melalui Peraturan Kementerian Pertanian Republik Indonesia nomor 03/Permentan/0T.140/2/2015 tentang pedoman upaya khusus (Upsus) peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai melalui program perbaikan jaringan irigasi dan sarana pendukungnya tahun anggaran 2015.

Pelaksanaan program upaya khusus (UPSUS) padi, jagung, kedelai di Kabupaten Sidenreng Rappang yang dimaksud adalah pelaksanaan program pencapaian swasembada berkelanjutan tiga komoditi yakni padi, jagung, dan kedelaimelalui kegiatan pengembangan jaringan irigasi, optimasi lahan padi, jagung dan kedelai,Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP- PTT), penyediaan sarana dan prasarana (bantuan benih, pupuk,dan alat mesin pertanian), dan pengawalan/pendampingan.Adapun Kerangka Pikir Penelitian ini sebagai berikut:

(43)

26 Gambar 1. Skema Kerangka Pikir

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI :

1. Pendukung

• Faktor pembinaan dan pengawasan

2. Penghambat

Pengetahuan Petani Minim

PERMENTAN No. 03 tahun 2015 tentang pedoman upaya khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai melalui program perbaikan jaringan irigasi dan

sarana pendukungnya tahun anggaran 2015

Pelaksanan program upaya khusus (UPSUS) Pajale (padi, jagung, kedelai) di Kabupaten

Sidenreng Rappang 1. Pengembangan jaringan irigasi 2. Optimasi lahan

3. Optimasi perluasan areal tanaman kedelai melalui peningkatan indeks pertanaman.

4. Perluasan areal tanam jagung

5. Gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPPTT)

6. Penyediaan sarana dan prasarana pertanian (benih, pupuk, dan alat mesin pertanian)

7. Pendampingan/Pengawalan

ANALISIS KEBIJAKAN RETROSPEKTIF Analisis kebijakan retrospektif adalah sebagai penciptaan dan transformasi informasi sesudah

aksi kebijakan

SWASEMBADA PANGAN

Kemampuan dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

(44)

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perkebunan sebagai organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dalampembinaan, pengawasan dan pengendalian di bidang pertanian, ketahanan pangan, dan perkebunan serta sebagai objek penelitian di Kecamatan Pitu Riawa dan Kecamatan Pitu Riase dengan pertimbangan di kedua kecamatan ini semua tanaman padi, jagung, kedelai ada, berbeda dengan kecamatan lainnya.secara rinci pada tabel berikut ini :

Tabel1.

Sasaran produksi UPSUS Pajale Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2015

No Kecamatan Padi

(ha)

Jagung (ha)

Kedelai (ha)

1. Panca Lautang 53,275.81 11,761.25

2. Tellu LimpoE 29,678.58 25,613.40

3. Watang Pulu 42,003.35 9,513.55

4. Baranti 47,147.48 261.38

5. Panca Rijang 26,202.18 2,352.23

6. Kulo 42,468.44 15,148.47

7. MaritenggaE 72,828.20 1,254.54

8. Watang Sidenreng 84,930.77 7,840.83

9. Pitu Riawa 86,045.33 10,663.56 1,487.83

10. Dua PituE 67,895.47 601,14

11. Pitu Riase 44,989.30 5,419.71 1,611.82

Total 597,464.91 90,430.08 3,099.65 Sumber : Dinas pertanian, ketahanan pangan dan perkebunan, 2017

(45)

28 3.2 JenisPenelitian

Jenis penelitian yang digunakan yakni penelitian kualitatif. Data yang digunakan adalah data kualitatif yang diperoleh melalui metode dan analisis data kualitatif. Penelitian Kualitatif adalahpenelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati Meskipun demikian data kuantitatif tetap diperlukan sebagai data pendukung untuk kelengkapan analisis data penelitian.26

3.3 Teknik Pengumpulan Data 1) Observasi

Observasi yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek penelitian yang dilakukan secara sistematis dan sengaja.

2) Wawancara

Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan melalui interview secara langsung dengan informan. Teknik ini akan menggunakan pedoman wawancara agar wawancara yang dilakukan tetap berada pada fokus penelitian, meskipun tidak menutup kemungkinan akan adanya pertanyaan-pertanyaan yang berlanjut yang berhubungan dengan masalah penelitian.

3) Dokumen dan Arsip

26Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

(46)

29 Pada teknik ini akan dilakukan telaah pustaka, dimana peneliti mengumpulkan data dari penelitian sebelumnya berupa buku dan jurnal. Metode dokumenter ini merupakan metode pengumpulan data yang berasal dari sumber non-manusia.Dokumen dan arsip yang berkaitan dengan fokus penelitian merupakan salah satu sumber data yang paling penting dalam penelitian.Dokumen yang dimaksud adalah dokumen tertulis, gambar/foto, atau film audio-visual, data statistik, laporan penelitian sebelumnya maupun tulisan-tulisan ilmiah.

3.4 Informan Penelitian

Informan merupakan salah satu anggota kelompok pastisipan yang berperan sebagai pengarah dan penerjemah muatan-muatan budaya atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian.Informan dalam penelitian ini dipilih karena paling banyak mengetahui atau terlibat langsung.

Pemilihan informan dalam penelitian ini dengan cara purposive sampling. Yaitu, teknik penarikan sample secara subjektif dengan maksud atau tujuan tertentu, yang mana menganggap bahwa informan yang diambil tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitian yang akan dilakukan.Adapun yang menjadi informan adalah :

1) Kepala bidang tanaman pangan dinas pertanian, ketahanan pangan, dan perikanan selaku anggota tim pelaksana teknis UPSUS Pajale tingkat kabupaten Sidenreng Rappang.

(47)

30 2) Camat Pitu Riwa dan Camat Pitu Riase

3) Pimpinan Pertanian Kecamatan (PPK) selaku anggota timpelaksanaa teknis UPSUS tingkat kecamatan Pitu Riawa dan Kecamatan Pitu Riase.

4) Kelompok Tani sebanyak 10 orang 3.5 Sumber Data

Data yang digunakan dalam proposal penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder :

1) Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber asalnya atau di lapanganyang merupakan data empirik. Data empirik yang dimaksud adalah hasil wawancara dengan beberapa pihak atau informan yang benar-benar berkompeten dan bersedia memberikan data dan informasi yang dibutuhkan yang relevan dengan kebutuhan penelitian.Salah satunya kepala bagian atau instansi yang terkait dalam penelitian.

2) Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil telaah bacaan ataupun kajian pustaka, buku-buku atau literature yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti, internet, dokumen atau arsip, dan laporan yang bersumber dari lembaga terkait yang relevan dengan kebutuhan data dalam penelitian.

(48)

31 3.6 Analisis Data

Analisis Data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Proses analisa data dilakukan melalui tahapan identifikasi menurut kelompok tujuan penelitian, mengelola dan menginterpretasikan data, kemudian dilakukan abstraksi, reduksi dan memeriksa keabsahan data. Penyajian data dalam bentuk tabel, skema, grafik, maupun dalam bentuk narasi.

3.7 Definisi Operasional

Setelah beberapa konsep diuraikan dalam hal yang berhubungan dengan kegiatan ini, maka untuk mempermudah dalam mencapai tujuan penelitian disusun definisi operasional yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini yakni ;

a. Program upaya khusus (UPSUS) padi, jagung, kedelai merupakan program dukungan langsung, pengawalan serta pendampingan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama tiga komoditas utama yang menjadi prioritas dalam hal ini komoditas padi, jagung dan kedelai.

b. Pelaksanaan program upaya khusus (UPSUS) padi, jagung, kedelai di Kabupaten Sidenreng Rappang yang dimaksud adalah pelaksanaan program pencapaian swasembada berkelanjutan tiga komoditi yakni padi, jagung, dan kedelai sesuai dengan PERMENTAN No.03 tahun 2015 melalui kegiatan pengembangan jaringan irigasi, optimasi lahan padi, jagung dan kedelai,Gerakan

(49)

32 Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), penyediaan sarana dan prasarana (bantuan benih, pupuk,dan alat mesin pertanian), dan pengawalan/pendampingan.

c. Pelaksanaan program upaya khusus (UPSUS) padi, jagung, kedelaidapat dianalisis dengan analisis kebijakan retrospektif.

Analisis kebijakan retrospektif adalah sebagai penciptaan dan transformasi informasi sesudah aksi kebijakan dilakukan.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari program upaya khusus (UPSUS) padi, jagung, kedelai yang dilakukan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Referensi

Dokumen terkait

Mereka tentu tahu apa itu kejujuran, sopan santun, kebaikan, menolong teman, dan sebagainya.Karena sudah ada di dalam diri siswa, maka menjadi tugas kita bersama untuk

Simpulan dari penelitian ini adalah (1) semakin tinggi jenjang soal, semakin banyak aspek kemampuan komunikasi yang dieksplorasi oleh siswa, kecuali pada jenjang tertinggi

Dari hasil penelitian ini agar ayah menjalankan peran ayah dengan baik, yaitu dengan cara memberikan bimbingan dan arahan kepada anak laki-lakinya sebagai bekal dan

Fungsi partikel kasus dalam kalimat di atas, dan dalam kalimat-kalimat bahasa Jepang lainnya adalah memberikan peran semantis pada nomina yang dilekatinya..

diatas ditarik kesimpulan bahwa bagaimana tentang keberhasilan masyarakat dalam menggunakan program pupuk subsidi di Kelurahan Batu Kecamatan Pitu Riase

Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam bentuk pekerjaan masyarakat di Desa Betao Riase tergolong cukup tinggi dengan

(Lutfia Dwi Rahanyani, 2007 : (Lutfia Dwi Rahanyani, 2007 : 31) 31) Herpes Zoster adalah radang kulit akut dan setempat, terutama Herpes Zoster adalah radang kulit akut dan

Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan utama mengenai perubahan persepsi setelah memanfaatkan media sosial instagram pada akun @vespasoy untuk mencari