• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Drainase

VII - 23 Tabel .7.12

C. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Drainase

Permasalahan drainase Perkotaan Kabupaten Kupang dapat diidentifikasi sebagai berikut :

a. Belum adanya aturan yang jelas tentang sistem Drainase.

b. Belum ada alur Drainase yang dapat menampung air hujan dalam debit air yang cukup

besar,sehingga pada musim penghujan sampah- sampah berserakan memenuhi jalan, yang di bawa oleh banjir maupun yang di sebabkan oleh saluran yang tersumbat,

REVIEW RPI2-JM KABUPATEN KUPANG 2017 - 2021

VII - 33

c. Kesadaran masyarakat akan kegunaan drainase yang belum cukup sehingga dalam

membuang sampah tidak pada tempatnya, sehingga sampah di buang pada saluaran air yang dapat menyebabkan banjir.

d. Pengelolaan drainase tidak hanya berorientasi pada aspek fisik karena kenyataannya sangat sering dijumpai drainase suatu wilayah / daerah tercemar dengan kondisi tergenang tanpa aliran, atau justru dipenuhi dengan sampah yang kemudian berpotensi membahayakan lingkungan dan kesehatan.

Tantangan Pengembangan Drainase

Beberapa tantangan pengembangan sistem drainase perkotaan yang perlu diprioritaskan adalah sebagai berikut:

 pembinaan pengelolaan sistem darinase, dengan target peningkatan fungsi, peran dan

kinerja lembaga.

 pengembangan perencanaan pembangunan sistem drainase, dengan target penyusunan

masterplan sistem drainase perkotaan

 pembangunan sistem drainase perkotaan, dengan target meningkatkan sistem drainase

untuk mengurangi wilayah genangan; pengembangan jaringan drainase untuk melindungi kawasan permukiman dari resiko genangan.

 pengembangan PS drainase untuk mendukug kawasan strategis/tertentu dan pemulihan

dampak bencana alam

 pengembangan PS drainase skala kawasan/lingkungan berbasis masyarakat, dengan target

pembangunan PS drainase dalam rangka menjaga kesehatan lingkungan melalui pembangunan sumur resapan

 pengembangan PS drainase terpadu untuk mendukung konservasi sumber daya air

7.4.2. Sasaran Program 7.4.2.1. Air Limbah

Pengelolaan sektor sanitasi di Kabupaten Kupang masih membutuhkan perhatian serius terutama jika dikaitkan pencapaian target 100-0-100 maupun RPJMN 2015-2019. Menurunkan separuh dari proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2019, bukanlah pekerjaan yang mudah. Berbagai sektor pembangunan lain yang tidak kalah pentingnya menuntut untuk menjadi prioritas pembangunan yang pada dasarnya juga selalu bermuara pada perbaikan kualitas hidup masyarakat yang ada.

Kondisi ini terjadi bukan karena masyarakat BAB di sembarangan tempat melainkan karena kondisi infrastruktur jamban yang belum memenuhi standar. Data BPS tahun 2012, 74% rumah tangga di Kabupaten Kupang sudah memiliki Jamban sendiri.

REVIEW RPI2-JM KABUPATEN KUPANG 2017 - 2021

VII - 34

oleh pemerintah, termasuk 24 (dua puluh empat) unit MCK yang tersebar pada beberapa desa, dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat dengan penerima manfaat umumnya 20 RT per MCK.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian masyarakat masih belum menggunakan fasilitas jamban tersebut dan masih lebih sering menggunakan jamban cemplung/cubluk (mereka mengistilahkan WC Darurat), bahkan sebagian lagi masih BABS. Kondisi MCK yang ada masih dalam kondisi baik, bersih dengan frekuensi pemakaian yang masih minim.

Untuk Pengelolaan air limbah perkotaan dilaksanakan secara swadaya oleh masing-masing rumah tangga dan dilakukan dengan sistim On site, untuk air limbah dari dapur atau kamar mandi biasanya langsung dialirkan kedalam tanah ataupun dialirkan keselokan yang kemudian disalurkan ke drainase kota. Tentang pengelolaan limbah di kabupaten Kupang belum ada data yang memadai sehingga belum bisa diuraikan secara mendetail.

Dalam mendukung pencapaian target dalam RPJMN 2015-2019 maka Ditjen Cipta Karya menyelenggarakan kegiatan Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan (air limbah, dan drainase) serta Pengembangan Persampahan yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengembangan Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Adapun indikator kinerja programnya adalah meningkatnya kontribusi pemenuhan akses sanitasi bagi masyarakat yang terdiri dari pelayanan air limbah di Nusa tenggara Timur, disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 7.16.

Target Kinerja Air Limbah di Provinsi NTT Tahun 2015-2019

Sumber : RAD 100-0-100 NTT 2016

Sasaran kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan / Output / Sub Output Satuan Volume 2015 2016 2017 2018 2019 Total

Pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Skala Kota

Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat 10 2 4 4 10

Pengadaaan lahan IPLT lokasi 22 2 5 5 5 5 20

Perencanaan IPLT paket 22 2 5 5 5 5 20

Pembangunan IPLT paket 22 2 5 5 5 5 20

OP IPLT paket 110 2 27 27 27 27 108

Mobil Tinja unit 44 4 10 10 10 10 40

OP Mobil Tinja ls 110 10 25 25 25 25 100

Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat KK

Pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Skala Kawasan/Lingkungan

Sistem Pengolahan Air Limbah berbasis

institusi KK

Sistem Pengolahan Air Limbah berbasis

masyarakat KK

MCK++ paket 40 10 10 10 10 40

IPAL Komunal paket 60 15 15 15 15 60

Septictank Komunal paket 200 50 50 50 50 200

Pembangunan Sistem Penanganan Persampahan Skala Kawasan

Sistem Pengurangan Sampah Berbasis

Institusi KK

Sistem Pengurangan Sampah Berbasis

Masyarakat KK

Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)

Jumlah Kab/kota yang dibangun instalasi pengolahahn Lumpur Tinja (IPLT)

Infrastruktur Air Limbah dengan sistem Terpusat Skala kota, kawasan dan komunal

Jumlah Kab/kota yang dibangun infrastruktur air limbah terpusat skala kota

REVIEW RPI2-JM KABUPATEN KUPANG 2017 - 2021

VII - 35 7.4.2.2. Persampahan

Berdasarkan orientasi kerja dan kesepadanan tupoksi SKPD maka pengelolaan sub sektor persampahan secara operasional berkaitan langsung dengan Dinas Pekerjaan Umum, sedangkan Badan Lingkungan Hidup dan Bappeda lebih berperan dalam perumusan kebijakan serta perencanaan secara makro.

Pengelolaan sub sektor persampahan tidak cukup hanya berorientasi pada upaya-upaya penyediaan sarana dan prasarana serta penyelamatan lingkungan tetapi juga sangat diintervensi oleh aspek penyehatan lingkungan dan perilaku hidup masyarakat sehingga Dinas Kesehatan juga memegang peranan penting terutama dalam tahap preventif dan promotif.

Pengawasan Lingkungan, serta Pengawasan dan Pengendalian adalah bidang pada Badan Lingkungan Hidup yang memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan sub sektor persampahan. Hal tersebut tergambar dari tupoksi yang diemban antara lain merumuskan kebijakan operasional, melaksanakan pembinaan, evaluasi implementasi program pencegahan dan pengendalian serta pemulihan kualitas lingkungan. Tupoksi tersebut kemudian menempatkan Badan Lingkungan Hidup pada posisi regulator dalam pengelolaan sub sektor persampahan.

Merumuskan kebijaksanaan, program dan kegiatan pembangunan daerah bidang Perencanaan

Wilayah meliputi sumber daya alam dan lingkungan hidup, perumahan dan pemukiman, merupakan tupoksi Bidang Perencanaan Wilayah pada Bappeda Kabupaten Kupang sehingga juga memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan sub sektor persampahan.

Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (Seksi Promosi Kesehatan) adalah bidang dan seksi yang berkaitan erat dengan pengelolaan sub sektor persampahan.

Pengelolaan persampahan dilakukan melalui berbagai tahapan yakni perencanaan, pengadaan sarana dan prasarana, pengelolaan, pengaturan dan pembinaan serta monitoring dan evaluasi. Dalam konteks Kabupaten Kupang, hal tersebut belum seluruhnya dapat dilakukan. Pemerintah kabupaten sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam hal ini masih mengalami berbagai keterbatasan, baik sumberdaya manusia, ketersediaan sarana dan prasarana, penganggaran, regulasi hingga aspek kelembagaan. Disisi lain, pihak swasta yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan sub sektor persampahan terutama pada posisi pengadaan sarana dan pengelolaannya, juga belum memberikan partisipasi nyata. Demikian pula dengan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam tahapan fungsi pengelolaan persampahan, masih sangat minim. Sebagian besar masih mengelola sampah dengan membakar atau bahkan membuang begitu saja ke lingkungan.

Untuk menjawab kebutuhan gerakan 100-0-100 sektor persampahan maka diperlukan indikator kinerja program untuk meningkatnya kontribusi pemenuhan akses sanitasi bagi masyarakat sektor pelayanan persampahan di Nusa tenggara Timur yang disajikan dalam tabel berikut :

REVIEW RPI2-JM KABUPATEN KUPANG 2017 - 2021

VII - 36

Dokumen terkait