• Tidak ada hasil yang ditemukan

 Pembangunan PSD

KEPALA DINAS SEKRETARIAT

C. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Drainase

a. Identifikasi Permasalahan Drainase Perkotaan

Pada prinsipnya ini merupakan bagian awal dari proses pendefinisian masalah yang menjadi bagian awal dari proses perencanaan sistem secara keseluruhan. Indikasi permasalahan menyangkut isu – isu penting yang terkait dengan Program Investasi Jangka Menengah untuk komponen drainase di wilayah studi, yaitu meliputi permasalahan genangan, kebijakan pembangunan antar kawasan, koordinasi pengawasan pembangunan dan kondisi eksisting sistem drainase. 1. Genangan

Genangan dengan parameter luas genangan, tinggi genangan, dan lamanya genangan merupakan permasalahan utama yang menjadi fokus perhatian studi. Terjadinya genangan pada beberapa lokasi di wilayah studi secara pasti akan menimbulkan permasalahan berkelanjutan pada system interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan aspek interkasi masyarakat lainnya. Dari hasil inventarisasi terdapat 89 lokasi genangan di Kabupaten Bontang. Data selengkapnya mengenai lokasi, parameter genangan, dampak, dan masalah atau penyebabnya dapat dilihat pada tabelserta gambar berikut :

Tabel 6.36

Wilayah Genangan di Kota Bontang

No Lokasi Genangan Penyebab

Luas Lama Tinggi

1 Kawasan Guntung ± 4.67 ha ± 1 jam 0.5 – 1 m

- Penyempitan Alur

- Tumbuhnya permukiman di sebagian badan sungai 2 Kawasan Blimbing ± 0.20 ha ± 1 jam -

- Kapasitas bangunan persilangan kurang memadai

VI-92

No Lokasi Genangan Penyebab

3 Kawasan Tanjung

Limau ± 5.50 ha ± 1 jam 0.5 – 0.75 m

- Wilayah pasang surut - Pemukiman padat

4 Kawasan Telihan ± 0.40 ha ± 1 jam 1 – 2 m

- Kapasitas bangunan persilangan kurang memadai

- Perubahan kemiringan tajam

5 Kawasan Kanaan ± 6.36 ha ± 2 jam 1 – 2 m

- Kapasitas bangunan persilangan kurang memadai - Permukiman mulai berkembang 6 Kawasan Perum Disnaker ± 0.5 ha ± 2 jam 1 – 1.5 m

- Merupakan daerah depresi - Bangunan persilangan kurang memadai 7 Kawasan Bethlehem& Perum Bontang Permai ± 1.5 ha ± 1 jam 0.5 – 1 m

- Pengelakan alur Sungai Bontang di kawasan Perum PT. Badak

- Kurangnya kapasitas bangunan persilangan 8 Kawasan Imam

Bonjol ± 0.02 ha ± 1 jam 0.5 m

- Merupakan daerah depresi - Kurangnya kapasitas

bangunan persilangan 9 Kawasan A. Yani ± 1.2 ha ± 1 jam 0.5 m - Kurangnya kapasitas

bangunan persilangan 10 Kawasan Awang

Long& Sendawar ± 0.20 ha ± 1 jam 0.3 m

- Pengaruh Pasang Surut - Daerah cekungan 11

Kawasan KS. Tubun& Rawa Indah

± 2.80 ha ± 1 jam 0.5 m - Pengaruh Pasang Surut - Pemukiman Padat

Sumber : DPU, 2013

2. Koordinasi Pengawasan Pembangunan

Koordinasi pengawasan pembangunan diperlukan untuk mencegah terjadinya permasalahan yang menimbulkan dampak merugikan dari aspek drainase (termasuk mencegah terjadinya banjir). Sebagai contoh suatu kawasan dengan elevasi di bawah muka air banjir sungai terdekat, maka perencanaan pembangunan sarana dan prasarana di kawasan tersebut harus sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir, yaitu dengan melakukan penimbunan sampai batas peil banjir sebelum prasarana tersebut dibangun. Pembangunan suatu jaringan drainase di suatu kawasan tidak bisa hanya didasarkan pada data masukan dari kawasan internal. Kapasitas saluran yang direncanakan harus memperhatikan kapasitas saluran yang sudah ada di kawasan lain, sehingga sistem yang dibangun tidak memberikan dampak

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2-JM) BIDANG CIPTA KARYA KOTA BONTANG

VI-93

negatif terhadap kawasan lain. Dengan koordinasi pengawasan yang efektif dampak negatif tersebut dapat dihindarkan.

Lemahnya koordinasi pengawasan pembangunan merupakan masalah yang sering terjadi dalam pembangunan wilayah. Lemahnya koordinasi pengawasan pembangunan dapat dilihat pada uraian berikut ini :

Pada dasarnya, peruntukan lahan pada suatu kawasan sudah ditentukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah disyahkan oleh Bappeda. Namun pada prakteknya, ketentuan tersebut tidak selalu dipatuhi oleh berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pembangunan di Wilayah Studi. Hal yang paling sering terjadi adalah kawasan penampungan/resapan air atau kawasan hijau terbuka dirubah peruntukannya menjadi kawasan perumahan atau kawasan lainnya. Akibat dari perubahan peruntukan lahan tersebut, maka

luasan dari kawasan ”parkir” air hujan akan berkurang secara sistematis dan

pada akhirnya akan memperparah masalah banjir di wilayah studi.

KDB atau Koefisien Dasar Bangunan adalah suatu rasio yang menunjukan perbandingan antara luas bangunan terhadap luas lahan yang tersedia. Sehingga untuk luas lahan yang sama, apabila rasio tersebut semakin besar maka bangunan yang boleh didirikan juga semakin luas. Rasio KDB ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dengan mengacu pada kondisi dan peruntukan lahan pada lahan yang akan didirikan bangunan. Dengan demikian, rasio KDB merupakan batas maksimum yang diperbolehkan oleh Dinas Tata Kota untuk mendirikan bangunan pada suatu wilayah. Namun pada umumnya, batas rasio tersebut seringkali dilanggar oleh para pemilik bangunan dalam upaya untuk mendapatkan bangunan yang lebih luas. Apabila pelanggaran rasio KDB tersebut dilakukan secara massal dan terus menerus, maka luas lahan terbuka akan menurun secara drastis dan pada akhirnya akan memperparah masalah banjir di wilayah studi.

Salah satu penyebab banjir di wilayah studi adalah elevasi kawasan perumahan yang berada di bawah muka air banjir sungai maupun di bawah muka air normal, sehingga kawasan atau area perumahan tersebut menjadi kawasan yang rawan banjir. Kondisi tersebut terjadi karena pelaksanaan pembangunan kawasan perumahan oleh Pengembang tidak memperhatikan peil banjir yang ada. Pengembang seharusnya melakukan penimbunan sampai pada batas peil banjir sebelum mulai melaksanakan pembangunan perumahan.

Hal lain yang sering terlihat dari lemahnya koordinasi pengawasan pembangunan adalah digunakannya lahan yang berada pada kawasan konservasi untuk keperluan pembangunan. Pelanggaran tersebut mengakibatkan berkurangnya luasan dari kawasan konservasi dan pada akhirnya akan mengurangi luasan dari kawasan resapan atau ruang hijau terbuka.

3. Kebijakan Pembangunan Antar Kawasan

Permasalahan yang terkait dengan kebijakan pembangunan antar kawasan antara lain adalah :

VI-94 Belum adanya kebijakan yang terpadu antar wilayah kota dan kabupaten di

Provinsi Kaltim untuk pengendalian kawasan resapan di daerah hulu sungai.

Masih kurangnya koordinasi dari para pelaku pengelolaan dari setiap komponen infrastruktur dalam perencanaan maupun pembangunannya.

4. Tinjauan Terhadap Sistem Penyaluran Air Hujan Yang Ada

Tinjauan terhadap sistem penyaluran air hujan yang ada akan mencakup tinjauan terhadap sungai sebagai badan penerima air utama, dan sistem saluran sebagai badan pembawa :

a. Perhitungan mengenai kapasitas DAS berdasarkan profil DAS yang ada untuk kemudian dibandingkan dengan debit banjir hasil perhitungan dengan periode ulang 10 tahun, akan memberikan gambaran mengenai kemungkinan terjadinya atau tidak terjadinya luapan pada DAS dimaksud. b. Tinjauan terhadap saluran yang ada meliputi tinjauan dimensi, keadaan

saluran, perlengkapan saluran yang ada, serta hal – hal lain yang dianggap perlu sehingga dapat diharapkan akan didapat dimensi saluran yang sesuai. Hasil pengamatan lapangan adalah sebagai berikut :

Tingkat pelayanan sistem yang ada masih rendah dalam konteks perbandingan antara luas yang harus dilayani dengan panjang sistem yang sudah terbangun/terpasang.

Kapasitas saluran belum di disain menurut sistem blok kawasan yang harus dilayani, sehingga ada beberapa saluran yang melayani suatu kawasan terlalu luas.

Sedimentasi dan timbunan sampah menyebabkan kapasitas pengaliran saluran berkurang, akibatnya terjadi luapan.

Genangan yang terjadi dari hasil pengamatan disebabkan oleh luapan, baik dari jaringan tersier, sekunder maupun primer.

Sistem jaringan belum tertata menurut hirarki saluran, dimana hirarki ini akan menentukan besarnya kapasitas pengaliran yang direncanakan. Dari hasil pengamatan ada sistem sekunder yang dimensinya lebih kecil dari sistem tersiernya.

Ukuran gorong – gorong yang terlalu kecil, kerusakan gorong – gorong maupun kerusakan pada saluran merupakan salah satu penyebab terjadinya luapan dan genangan.

5. Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Drainase

Akibat keterbatasan dana, selama ini pemeliharaan prasarana/sarana drainase kurang mendapat perhatian yang cukup dari Instansi yang berwenang. Pemeliharaan prasarana/sarana tidak dilakukan menurut suatu pola yang teratur. Biasanya pemeliharaan akan dilakukan apabila kondisi kerusakan sudah parah atau untuk mengatasi kondisi darurat dan pemeliharaan tersebut dilakukan secara partial tidak secara menyeluruh. Akibat dari tidak teraturnya pemeliharaan yang dilakukan, maka :

Prasarana/sarana drainase tidak berfungsi dengan optimal.

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2-JM) BIDANG CIPTA KARYA KOTA BONTANG

VI-95 Meningkatnya biaya pemeliharaan.

Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai arti penting sarana drainase untuk menjaga kesehatan lingkungan juga merupakan salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Semua pihak paham bahwa membuang sampah di selokan akan dapat menimbulkan banjir karena kapasitas saluran menjadi berkurang. Namun faktanya hal – hal tersebut masih terus terjadi.

Tabel 6.37

Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Drainase

No Aspek Pengelolaan Drainase Permasalahan Yang Dihadapi Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan A. Kelembagaan :

1.Bentuk Organisasi Pengelola 2.Tata Laksana (Tupoksi, SOP, dll) 3.Kuantitas dan Kualitas SDM

- - SDM masih terbatas - - - - - Peningkatan SDM B. Pembiayaan : - Sumber-sumber pembiayaan (APBD Prov/Kab.kota/Swasta/Masy.dll) - Retribusi Dana terbatas Tidak Ada Peningkatan pendanaan Tidak Ada Peningkatan pendanaan Tidak Ada

C. Perundangan terkait sektor