BAB III KONDISI DANAU RAWAPENING
3.1 Permasalahan Danau
3.1.1 Permasalahan Lingkungan Danau
Permasalahan yang terjadi di Danau Rawapening antara lain adalah :
a. Pemanafaatan lahan tidak sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW); b. Okupasi dan kepemilikan lahan sempadan danau;
c. Pencemaran air limbah, khususnya limbah penduduk dan pertanian;
d. Erosi, sedimentasi dan pendangkalan danau. Peta Bahaya Erosi Danau Rawapening dapat dilihat pada Gambar 3.1
e. Penurunan ketersediaan sumber daya air, penurunan muka air dan konflik pemanfaatan air;
f. Pemanfaatan lahan tidak sesuai peruntukannya;
g. Semakin tidak terkendalinya pemanfaatkan ruang terbuka untuk kepentingan pengembangan wilayah/ kota;
h. Tingkat kelerengan lahan yang curam (lebih dari 25 % ) menjadi penyebab tingginya run off dan sulit untuk dilakukan penghijauan;
i. Kerusakan hutan di lokasi perkebunan Perhutani yang belum tertangani juga menjadi penyebab meluasnya lahan kritis;
j. Masih belum seimbangnya antara upaya untuk melakukan rehabilitasi hutan dan lahan dengan luas lahan kritis. Peta tutupan lahan daerah tangkapan air (DTA) Danau Rawapening dapat dilihat pada Gambar 3.2.
k. Gulma air (enceng gondok) tumbuh dengan cepat;
l. Kebiasaan pengambilan enceng gondok membuang sisa (tangkai < 60 cm, daun, bonggol) menjadi sampah mempercepat pertumbuhan eceng gondok dan perusakan danau;
m. Penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan (menggunakan alat strom); n. Budi daya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) berjumlah 1000 buah, seluas 3,9 Ha.
sehingga limbahnya merupakan sumber beban pencemaran air;
o. Tidak ada pengaturan penambangan gambut yang berpihak kepada kepentingan masyarakat;
p. Belum ada arah untuk melakukan pengelolaan wisata dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
q. Sarana dan prasarana yang ada belum sepenuhnya mendukung usaha pariwisata; r. Manajemen usaha wisata kurang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan; s. Kesadaran SDM terhadap pengelolaan danau masih kurang.
Gambar 3.1 Peta Bahaya Erosi DTA Danau Rawapening
Sumber : Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jateng,
Salah satu permasalahan yang dominan di Danau Rawapening adalah permasalahan pertumbuhan gulma air (enceng gondok) yang tidak terkontrol akibat eutrofikasi. Kurang lebih 20–30% danau tertutup oleh Eicchornia crassipes, 10% oleh
Hydrilla verticillata dan Salvinia cucculata (Goltenboth & Timotius, 1994). Penutupan permukaan danau oleh tumbuhan air tersebut semakin besar persentasenya, bahkan pada musim kemarau dapat mencapai 70% . Pertumbuhan yang tidak terkontrol ini menyebabkan penutupan permukaan perairan, terakumulasinya seresah/ busukan enceng gondok di dasar perairan dan terperangkapnya sedimen di akar tanaman Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Zonasi Danau Rawapening
50
–
sehingga mempercepat pendangkalan danau. Satu batang enceng gondok dalam waktu 52 hari mampu menghasilkan tanaman baru seluas 1 m2 (Gutierrez et al.,
2001). Meskipun sejak tahun 1931 telah dilakukan upaya pengendaliannya namun sampai dengan saat ini belum sepenuhnya menunjukkan hasil yang memadai.
Gambar 3.2. Peta Tutupan Lahan DTA Danau Rawapening
Sumber: KLH Tahun 2010
3.1.2 Permasalahan Kelembagaan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, beberapa persoalan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan Rawapening bersifat multidimensional. Beberapa permasalahan di bidang manajemen kelembagaan antara lain:
a. Adanya pergeseran sistem pemerintahan yang menuntut kesiapan para pihak untuk mengelola kawasan Rawapening dengan baik;
b. Kebijakan otonomi daerah yang menekankan pada batas administrasi, sementara pengelolaan kawasan Danau Rawapening tidak sama dengan batas administrasi sehingga menghambat pengelolaan apalagi ada undang-undang otonomi daerah; c. Kelembagaan dan koordinasi dalam rangka menangani pengelolaan sumberdaya
air belum berjalan secara optimal, peran kelembagaan yang ada (Rembug Rawapening) belum mantap, akibatnya setiap benefecieries bertindak bebas tanpa ada peraturan yang mengatur setiap aktifitas baik di daerah tangkapan air maupun inti danau Rawapening, yang cenderung menimbulkan konfllik;
d. Kegiatan-kegiatan pembangunan yang selama ini dilakukan masih menggunakan pendekatan kebijakan topdown approach dan bersifat sektoral serta kedaerahan. Oleh karena itu, perlu ada koordinasi antara bottom up dan top-down approach;
e. Masih adanya ego sektoral dan kepentingan sehingga menimbulkan potensi konflik yang tinggi;
f. Belum terciptanya pengelolaan sumberdaya air dengan menggunakan pendekatan regional;
g. Belum tersedianya data base pengelolaan lingkungan hidup yang mengintegrasikan antara teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dengan sistem informasi geografi yang lebih akurat;
h. Belum tersosialisasinya misi pelayanan pemerintah kepada masyarakat,
i. Kurang optimalnya komitmen masing-masing para pihak yang terus menerus mengupayakan pelestarian Danau Rawapening;
j. Tidak tegaknya pengaturan air oleh pintu air (PLTA) Tuntang menimbulkan konflik antara petani lahan pasang surut rawa (Kabupaten Semarang) dengan petani hilir (terutama Kabupaten Grobogan);
k. Tidak ada pengaturan penambangan gambut di Danau Rawapening yang memberikan keuntungan besar bagi pengusahanya;
Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Zonasi Danau Rawapening 52
l. Belum dimilikinya grand design mengakibatkan arah action plan tidak jelas bagi dinas/ instansi yang terkait, sehingga program-program yang dijalankan bersifat sektoral yang mengakibatkan tumpang tindih program dan pemborosan.
Berdasarkan persoalan tersebut diatas maka permasalahan kelembagaan, dapat dibagi menjadi 2, yaitu kelembagaan baik formal maupun informal dan belum adanya grand design. Belum optimalnya kelembagaan yang ada baik formal maupun informal mengakibatkan belum optimalnya proses kebijakan pengelolaan air yang mantap, ditambah belum adanya peraturan bagi setiap aktivitas baik di daerah tangkapan air maupun pada inti danau sehingga memicu timbulnya konflik. Peran kelembagaan informal berupa kearifan lokal merupakan potensi kekuatan yang masih dapat lebih ditingkatkan. Nilai kearifan local Ngepen dan Wening telah ditinggalkan baik oleh masyarakat di sekitar Danau Rawapening maupun oleh negara.
Belum dimilikinya grand design menyebabkan arah action plan tidak jelas bagi dinas/ instansi yang terkait, sehingga program-program yang dijalankan bersifat sektoral yang mengakibatkan tumpang tindih program, kerancuan kewenangan dan tanggungjawab program dan pemborosan.
Diperlukan kerjasama dan partisipasi aktif dari para pihak lainnya terutama masyarakat yang berada di kawasan Danau Rawapening. Hal ini perlu ada dukungan kerjasama yang baik antara berbagai para pihak yang ada serta didukung dengan dana yang memadai, di samping itu pedoman penanganan kawasan Danau Rawapening yang terpadu dan operasional sangat diperlukan. Gambaran permasalahan Danau Rawapening secara umum dapat dilihat pada Gambar 3.3 di bawah ini.
Gambar 3.3.
Permasalahan Danau Rawapening
Sumber BLH Kab Semarang, 2011