• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.2 Permasalahan Industri Kentang Nasional

Produksi kentang di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan

dengan produksi kentang Eropa yang rata-ratanya mencapai 25,5 ton per hektar,

produksi rata-rata kentang di Indonesia hanya sekitar 16 ton per hektar. Beberapa

kendala produksi kentang yang masih perlu ditangani diantaranya: mutu benih

yang kurang baik (terinfeksi virus), teknologi bercocok tanam yang belum

memadai, serta iklim yang kurang mendukung. Penanganan pasca panen yang

kurang baik dapat menyebabkan kerusakan umbi kentang sebesar 2-10% serta

menimbulkan bagian terbuang sekitar 10 persen. Beberapa kendala yang

menyebabkan kurang berhasilnya usaha petani kentang adalah karena rendahnya

kualitas bibit yang dipakai sedangkan untuk memperoleh bibit yang bebas virus

47

pengendalian hama dan penyakit yang kurang intensif serta tingginya biaya

produksi, terutama untuk bibit (Widjajatun, 1985).

Budidaya kentang harus diusahakan di lahan yang sesuai, agar dapat tumbuh dan berproduksi optimal. Kesesuaian lahan pada prinsipnya ditentukan oleh kecocokan antara kualiatas lahan dengan persyaratan tumbuh tanam. Produksi kentang di Indonesia tersebar di beberapa provinsi seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan (Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Republik Indonesia, 2013). Kentang dapat tumbuh dengan subur pada dataran tingggi dengan minimal ketinggian 1.000 m dpl. Kendala dalam budidaya kentang di dataran tinggi selain terbatasnya area tanam dapat juga menyebabkan erosi dan merusak kelestarian alam.

Kentang di Indonesia pada umumnya dibudidayakan di dataran tinggi, hal

ini menjadi kendala dalam menjaga kelestarian alam. Pengusahaan kentang di

dataran tinggi terus-menerus dapat merusak lingkungan, terutama terjadinya erosi

dan menurunkan produktivitas tanah. Perluasan penanaman kentang di dataran

medium merupakan salah satu langkah alternatif yang dapat diupayakan

khususnya di lahan sawah tadah hujan untuk membantu peningkatan pendapatan

petani di daerah tersebut (Subhan dan Asandhi, 1998). Teknologi budidaya

kentang di lahan sawah dataran medium Kabupaten Sleman Yogyakarta

menghasilkan usaha budidaya kentang di dataran medium beradaptasi dengan

baik, produksi cukup tinggi dan layak dikembangkan (Balai Pangkajian Teknologi

48

Perluasan lahan untuk penanaman kentang di dataran medium bisa menjadi satu langkah alternatif yang perlu diupayakan, khususnya di lahan sawah tadah hujan dapat diupayakan untuk membantu peningkatan pendapatan petani di

daerah tersebut. Penurunan jumlah tersebut terjadi karena banyak petani memilih

untuk menjual lahannya untuk dialihfungsikan, terutama pada petani gurem atau

petani yang memiliki lahan kurang dari setengah hektar. Jumlah rumah tangga

petani gurem rata-rata selama sepuluh tahun terakhir meningkat 2,39 persen per

tahun (BPS, 2003). Lahan pertanian mengalami perubahan penguasaan dari milik

menjadi sewa ataupun gadai. Perubahan penguasaan tanah menyebabkan lahan

terpecah ke dalam persil yang lebih kecil. Standar kebutuhan tenaga kerja untuk

usahatani kentang menurut Rukmana (1997) sebesar 300 HKP per hektar.

Kebutuhan kentang dalam negeri akan kentang olahan (chips, french fries,

acidantepung) berkisar 8,9 juta ton/tahun. Produksi kentang nasional masih ± 1,1

juta ton/tahun, termasuk kentang sayuran, dari luas panen 80.000 ha. Potensi ini

masih perlu dikembangkan karena potensi lahan masih sangat luas yaitu 11.331.

700 ha yang berada pada ketinggian diatas 700 m dpl (Wattimena, 2005).

Agribisnis kentang sesungguhnya menjanjikan keuntungan besar, jika dikelola

secara optimal. Dengan umur tanam tanaman kentang berkisar 3 bulan, jika

tingkat produksi 30 ton/ha (rata-rata produksi di negara maju) dengan harga

tingkat petani Rp. 2.500,-/kg maka akan diperoleh Rp.75 juta/ha/musim. Namun

sayang produktivitas kentang rata-rata nasional masih berkisar 10 ton/ha dari

49

1. Ketersediaan Bibit

Permasalahan dalam pengembangan komoditas kentang yang dihadapi

oleh petani maupun pedagang benih kentang antara lain kemampuan teknologi

produksi benih dalam jumlah besar dan berkesinambungan di tingkat petani dan

pedagang masih rendah. Masalah perbenihan di Indonesia tidak dapat disepelekan

begitu saja. Benih merupakan salah satu faktor penting dalam suatu usaha

budidaya tanaman. Benih merupakan suatu parameter keberhasilan produksi

tanaman. Undang-undang RI nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura pasal 32

ayat 1a dijelaskan bahwa sarana hortikultura terdiri atas benih bermutu dari

varietas unggul. Benih merupakan sarana produksi utama dalam budidaya

tanaman, dalam arti penggunaan benih bermutu mempunyai peranan yang

menentukan dalam usaha meningkatkan produksi dan mutu hasil. Salah satu cara

untuk meningkatkan produksi kentang disamping menggunakan pupuk yang

cukup juga dengan menggunakan bibit yang baik dan terbebas dari hama dan

penyakit.

Kebutuhan benih kentang nasional setiap tahunnya diprediksi mencapai

128. 613.000 ton dengan nilai Rp. 1,29 trilyun, jika harga benih Rp. 10.000/kg.

Selama ini kebutuhan benih yang sehat dan bermutu baru dapat tercukupi sekitar

6.430 ton (4,5%), termasuk import (Departemen Pertanian, 2007). Harga benih

import sangat mahal, dapat mencapai Rp. 20.000,-/kg untuk benih sebar (G4).

Kebutuhan benih kentang per hektar berkisar 1,0 – 1,5 ton. Minim dan mahalnya benih yang tersedia menyebabkan petani kentang enggan untuk menggunakan

benih bermutu atau bersertifikat untuk dibudidayakan sehingga produktivitas

50

2. Iklim

Terjadinya perubahan cuaca global telah mempengaruhi cuaca di wilayah

produksi kentang di Indonesia, sehingga antara musim hujan dan panas yang

kurang konsisten menyebabkan kegagalan panen di beberapa wilayah. Pemanasan

global terjadi karena siklus yang terjadi di alam semesta dari waktu ke waktu.

Perubahan iklim berdampak pada perubahan musim tanam (pola tanam), irigasi,

dan ketersediaan air yang berpengaruh terhadap pertanian. Pemanasan global

mempengaruhi kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif secara

keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Perubahan cuaca dan

pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian. Perubahan iklim di

wilayah Indonesia tidak bisa diramalkan secara tepat jauh sebelumnya, karena

sirkulasi atmosfer regional yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Keadaan iklim yang ideal untuk tanaman kentang adalah suhu rendah

(dingin) dengan suhu rata-rata harian antara 15 - 20˚C, kelembaban udara 80 - 90%, cukup mendapat sinar matahari (moderat) dan curah hujan 200 - 300 mm

per bulan atau rata-rata 1.000 selama pertumbuhan (Rukmana, 1997). Suhu tanah

optimum untuk pembentukan umbi yang normal berkisar antara 15 - 18˚C. Pertumbuhan umbi akan sangat terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10˚C dan lebih dari 30˚C. Suhu malam untuk pembentukan umbi lebih penting dibandingkan dengan suhu siang.

3. Teknologi Bercocok Tanam

Kurang berhasilnya usaha budidaya kentang yang dilakukan oleh petani

kentang disebabkan beberapa kendala selain penggunaan bibit unggul atau

51

pengendalian hama dan penyakit yang kurang intensif. Teknologi yang diterapkan

dalam usaha budidaya kentang didasarkan pada pengalaman wawasan teknik

budidaya yang dimiliki oleh petani atau pengusaha. Usaha budidaya kentang

masih menerapkan teknologi sederhana dan pengetahuan lokal. Pengendalian

hama dengan pemberian bahan kimia (pestisida/fungisida) menjadi hal yang

sangat rawan di lapangan, khususnya pada saat serangan sangat intensif di musim

penghujan. Ketersediaan bahan pengendali hama di lapangan sangat terkendala,

terkadang tidak ada pada saat dibutuhkan. Petani terkadang memberikan bahan

kimia melebihi dosis yang seharusnya, sehingga dapat menimbulkan masalah

residu yang cukup menyedot perhatian dari sisi keamanan pangan. Petani dan

pengusaha masih membutuhkan tenaga tenaga serta peran PPL untuk

mendampingi petani agar menghasilkan produksi kentang sesuai dengan mutu dan

produktivitas yang diinginkan. 4. Penanganan Pasca Panen

Umbi kentang yang telah dipanen sering kali mengalami kerusakan akibat

pengangkutan hasil produk dari lapangan atau penanganan pasca panen yang

kurang intensif sehingga tidak sedikit hasil panen terbuang sia-sia. Penanganan

pasca panen yang baik memerlukan koordinasi dan integrasi yang hati-hati dari

seluruh tahapan dari pemanenan sampai ketingkat konsumen untuk

mempertahankan mutu. Umbi kentang yang selesai dipanen harus segera

dilakukan penanganan pasca panen agar mutunya dapat dipertahankan tetap tinggi

serta kehilangan hasil dapat dikurangi atau dihilangkan. Kegiatan pasca panen

kentang dilakukan dengan penyortiran dan penggolongan umbi yang baik dan

Dokumen terkait