• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Pembangunan .1 Sosial Budaya

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Halaman 38-44)

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

4.1 Permasalahan Pembangunan .1 Sosial Budaya

1. Permasalahan di bidang pendidikan, meliputi : (1) rendahnya tingkat pendidikan masyarakat yang ditandai dengan angka rata-rata lama sekolah (RLS) masih berada pada angka 6,8 atau setingkat Kelas 1 SMP; (2) rendahnya partisipasi sekolah pada jenjang SLTP dan SLTA yang diperlihatkan oleh APK SLTP dan SLTA; (3) Masih terdapatnya angka putus sekolah; (4) Masih rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan; (5) masih belum optimalnya penerapan tata kelola pendidikan.

2. Permasalahan di bidang kesehatan, meliputi : (1) Masih rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat; (2) Masih adanya potensi resiko kematian ibu melahirkan dan bayi yang diperlihatkan oleh Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih ada namun dalam tingkat yang relatif masih rendah dibandingkan provinsi dan nasional; (3) Masih terdapatnya penderita gizi buruk dan bayi berat badan lahir rendah; (4) intensitas penyakit berbasis lingkungan antara lain demam berdarah dan potensi penyakit fillariasis; (5) Masih belum meratanya pemenuhan akses pelayanan kesehatan dasar dan ketersediaan tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan.

3. Permasalahan di bidang pemuda dan olahraga lebih diperlihatkan pada masih minimnya sarana dan prasarana olahraga masyarakat khususnya di pedesaan.

4. Permasalahan di bidang pemberdayaan perempuan lebih diperlihatkan pada masih terdapatnya tindak kekerasaan perempuan serta kasus

5. Permasalahan di bidang kesejahteraan sosial meliputi : (1) tingkat kemiskinan masih tinggi yaitu di atas 30 persen dari jumlah penduduk; (2) kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) terutama kelompok anak jalanan, anak terlantar, lanjut usia terlantar, gelandangan dan pengemis di perkotaan, ketuna susilaan serta penyalahgunaan narkoba; (3) Belum sinerginya pemerintah bersama masyarakat dan swasta dalam pembentukan dan keberfungsian modal sosial.

4.1.2 Ekonomi

1. Permasalahan perekonomi daerah secara makro meliputi : (1) masih rendahnya daya beli masyarakat; (2) Masih rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi makro yang diperlihatkan dari kontribusi sektor industri yang tinggi namun relatif rendah dalam menyerap angkatan kerja sehingga terjadi pelimpahan tenaga kerja ke sektor-sektor informal yang memiliki nilai tambah relatif rendah.

2. Permasalahan di bidang pertanian, perikanan dan peternakan meliputi : (1) skala usaha sektor pertanian relatif rendah dan tidak

bankable dengan kepemilikan lahan rata-rata 0,3 Ha; (2) Usaha-usaha pengolahan hasil pertanian dan perikanan belum berkembang dalam skala tertentu sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja; (3)

3. Permasalahan di bidang industri dan perdagangan meliputi : (1) Belum kuatnya posisi IKM dalam rantai nilai industri daerah sehingga mampu bermitra usaha dalam penyediaan input bagi industri skala besar yang ada; (2) Masih rendahnya inovasi IKM dalam mengembangkan mutu dan desain produk yang mampu bersaing; (3) belum berkembangnya industri kreatif sebagai alternatif pengembangan industri daerah; (4) masih rendahnya skala usaha dan peluang pasar produk IKM; Masih rendahnya akses IKM dalam pembiayaan.

4. Permasalahan di bidang koperasi dan UMKM : (1) Tingkat kesejahteraan anggota relatif kecil dilihat dari rata-rata SHU yang diterima oleh anggota, sedangkan dilain pihak, koperasi belum mampu memanfaatkan peluang pasar, kemampuan ekspansi terbatas, akses kepada perbankan atau sumber pendanaan (investasi luar) masih minim terlihat komposisi modal usaha; (2) belum berkembangnya jiwa kewirausahaan UMKM yang mandiri; (3) Kelembagaan UMKM tidak bankable sehingga sulit untuk mengakses pembiayaan di sektor perbankan.

5. Permasalahan di bidang tenaga kerja, meliputi : (1) masih terdapatnya angka pengangguran; (2) masih rendahnya kompetensi sumberdaya tenaga kerja; (3) masih adanya perselisihan ketenagakerjaan; (4) kesempatan kerja di sektor formal belum secara masif mampu menyerap angkatan kerja; (5) masih minimnya advokasi, sosialisasi dan perlindungan bagi calon tenaga kerja ke luar negeri yang diperlihatkan dengan masih rendahnya daya beli masyarakat.

4.1.3 Infrastruktur Wilayah

1. Permasalahan bidang sarana dan prasarana jalan meliputi : (1) Masih rendahnya tingkat kemantapan konstruksi jalan; (2) Masih rendahnya kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur jalan di pedesaan; Secara umum panjang jaringan jalan di Kabupaten Karawang adalah 2.737,36 km, meliputi Jalan Negara 46,34 Km (1,69 %), Jalan Propinsi 48,19 Km (1,76 %), Jalan Kabupaten 864,53 Km (31,58 %). Sedangkan jalan non-status meliputi jalan desa sepanjang 1.778,3 Km (64,96 %). Jaringan jalan sekitar 50,68% kondisinya tidak mantap meliputi Jalan Negara 23,17 Km (47,83 %), Jalan Propinsi 24,10 Km (50,01 %), Jalan Kabupaten 430,87 Km (49,96 %). Sedangkan jalan non-status meliputi jalan desa sepanjang 909,15 Km (51,12 %). Faktor penyebab ketidakmantapan jalan di Kabupaten Karawang adalah:

a. Kondisi daya dukung tanah (angka CBR) di Kabupaten Karawang yang kurang dari persyaratan teknis jalan, sebesar 1,6 – 5,98%

sementara secara teknis minimal daya dukung tanah minimal 6 %.

b. Kondisi drainase jalan belum memenuhi standar teknis dan sebagian ruas jalan belum memiliki saluran drainase.

c. Jaringan jalan kabupaten pada awalnya sebagian besar merupakan jalan inspeksi pengairan yang tidak direncanakan sebagai jalan umum dengan lebar sesuai standar.

d. Kondisi indisipliner dari para supir dengan muatan berlebih dari kendaraannya melebihi tonase jalan yang ditetapkan.

2. Permasalahan bidang perumahan dan permukiman meliputi : (1) masih rendahnya cakupan pelayanan dasar permukiman antara lain air bersih, sanitasi lingkungan dan prasarana jalan lingkungan; (2) rata-rata kondisi kepemilikan tanah di permukiman yang tidak beraturan sehingga menyebabkan munculnya potensi lingkungan kumuh. (3) Masih tingginya angka backlog serta masih rendahnya akses masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah; (4) masih rendahnya cakupan pelayanan air bersih terutama masyarakat berpenghasilan rendah; (5) masih terbatasnya cakupan pelayanan persampahan dimana pertumbuhan volume sampah dan lokasi pembuangan akhir seiring dengan semakin sempitnya ruang lahan pembuangan. pengolahan sampah di TPA belum menerapkan pola

sanitary landfill, pengelolaan sampah secara 3R belum berkembang secara luas di masyarakat.

3. Permasalahan bidang perhubungan, komunikasi dan infromatika (1) Masih rendahnya sarana dan prasarana lalu lintas; (2) Belum terwujudnya manajemen lalu lintas yang berbasis tata ruang yang secara terintegrasi menghubungkan antar moda transportasi; (3) Belum berkembangnya penerapan e-government dalam penyelenggaraan administrasi publik.

4. Permasalahan bidang sumberdaya air dan irigasi meliputi : (1) masih rendahnya fungsi koordinasi antar level pemerintahan dalam

pengelolaan air irigasi; (2) kondisi jaringan irigasi yang belum memadai dalam mendukung pembangunan sektor pertanian dan perikanan; (3) masih minimnya keterlibatan masyarakat khususnya pengguna air irigasi dalam pemeliharaan.

5. Permasalahan bidang infrastruktur listrik dan energi yaitu masih terdapatnya wilayah dan kelompok penduduk yang belum mendapat cakupan pelayanan jaringan listrik.

4.1.4 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

Permasalahan di bidang tata ruang dan pengembangan wilayah adalah belum sinerginya program-program pembangunan dalam konteks pengembangan wilayah berbasis tata ruang. Implementasi pengembangan wilayah baik berfungsi pusat kegiatan lokal (PKL) maupun pusat pelayanan lokal belum diterapkan secara nyata.

4.1.5 SDA dan Lingkungan Hidup

1. Kondisi pencemaran air dan udara memperlihatkan beberapa parameter yang menunjukkan terjadinya peningkatan titik ambang batas.

2. Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai, yaitu intrusi dan pencemaran air laut. Degradasi lingkungan di kawasan pesisir disebabkan oleh fenomena alam seperti abrasi dan akrasi pantai, konversi lahan mangrove menjadi tambak, dan tidak berkelanjutannya praktek pengelolaan lahan di daerah hulu DAS serta pendangkalan muara sungai karena sedimentasi.

4.1.6 Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan

1. Penyelenggaraan administrasi pemerintahan sudah berjalan dengan baik, namun belum secara penuh seluruh perangkat daerah menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

2. Struktur organisasi perangkat daerah belum terbentuk secara mantap sehingga sering menimbulkan inefisiensi. Dalam konteks besaran organisasi secara kriteria tergolong memadai, namun

level unit-unit kerja tanpa memperhatikan beban kerja dan ketersediaan sumberdaya aparatur.

3. Penyesuaian terhadap regulasi Pemerintah dalam kerangka penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah sering diterjemahkan dalam bentuk program kerja operasional, namun sering melupakan aspek kepranataan meliputi juklak, juknis dan Norma, Standar, Pedoman dan Ketentuan (NSPK) sebagai pedoman pelaksanaannya, sehingga keberlanjutan pelaksanaan program kebijakan menjadi tidak terarah dan bahkan berhenti di tengah jalan.

4. Pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah berbasis sistem informasi sudah berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah dan prosedur pengelolaan keuanga. Capaian akuntabilitas keuangan daerah saat ini pada level wajar dengan pengecualian yang disebabkan belum optimalnya pengelolaan neraca aset.

5. Kondisi kuantitas aparatur secara umum cukup besar, namun secara kualitas dan untuk kebutuhan kualifikasi teknis tertentu masih relatif terbatas. Sistem manajemen kepegawaian saat ini belum mampu mendorong pendayagunaan aparatur baik kinerja maupun kesejahteraan sesuai prinsip profesionalisme birokrasi . 6. Pelaksanaan fungsi koordinasi perencanaan, pelaksanaan,

pengendalian dan evaluasi pembangunan belum secara optimal dilakukan secara terpadu yang didukung adanya ketersediaan data yang valid dan akurat.

4.1.7 Pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa

Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat belum mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Secara kuantitas, sudah banyak jumlah program yang bertujuan pemberdayaan, namun seringkali justru kurang memberikan ruang bagi pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Pola pemberdayaan lebih difokuskan pada apa yang diberikan oleh pemerintah, namun tidak diarahkan untuk mendorong munculnya potensi-potensi swakarsa masyarakat menuju masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa sudah berjalan, namun masih terkendala dengan aspek

kemampuan keuangan desa. Di lain pihak, kemampuan perangkat desa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di desanya masih harus terus didorong baik aspek kemampuan SDM, aspek kinerja dan disiplin.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Halaman 38-44)

Dokumen terkait