BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional secara substansi mengatur hal mengenai perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek pada level Nasional, Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/ Kota. Dalam konteks kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Karawang, pada tahun 2010, telah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Karawang Tahun 2005 – 2025.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, kepala daerah dipilih secara langsung melalui proses demokrasi sebagai perwujudan dari bentuk creating lokal political support yang merupakan salah satu pilar utama otonomi daerah. Pada tahun 2010, telah dilaksanakan proses seleksi dan kompetisi diantara putra-putri terbaik Kabupaten Karawang dalam rangka pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Karawang periode 2010 – 2015 yang selanjutnya menetapkan pasangan H. Ade Swara dan dr. Celica Nurachdiana sebagai Bupati dan Wakil Bupati Karawang periode 2010 - 2015.
Momentum suksesi kepemimpinan di Kabupaten Karawang dimaksud secara periodisasi bersamaan dengan berakhirnya periode perencanaan pembangunan jangka menengah tahun 2006 – 2010 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006. Hal ini mengisyaratkan bahwa perlunya disusun kembali skenario masa depan yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang periode 2011 – 2015 sebagai perwujudan janji politik Bupati dan Wakil Bupati Terpilih dengan tetap berpedoman pada RPJMN periode 2009 – 2014, RPJMD Provinsi Jawa Barat periode 2008 – 2013 dan RPJPD Kabupaten Karawang tahun 2005 – 2025.
LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 8 TAHUN 2011 TANGGAL : 5 AGUSTUS 2011 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN 2011‐2015
1.2 Dasar Hukum Penyusunan
1. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Nomor 1950);
2. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (Lembaga Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47 Salinan, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4287);
4. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Perundang-undangan;
5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421);
6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) Jo. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemriantah Daerah Menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);
7. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
8. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
9. Peratuan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan; 10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tentang Pelaksanaan PP 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
15. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pembentukan Peraturan Daerah;
16. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025.
17. Peraturan Daerah Kabupaten Karawang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Karawang Tahun 2005-2025.
1.3 Hubungan Antar Dokumen
Dokumen RPJMD Tahun 2011 – 2015 merupakan penjabaran dokumen RPJPD Kabupaten Karawang Tahun 2005 – 2025 Tahap II yang dalam penyusunannnya berpedoman pada dokumen RPJM Nasional 2009 – 2014 dan RPJMD Provinsi Jawa Barat 2008 – 2013. Secara lebih terperinci, dokumen RPJMD Kabupaten Karawang dijelaskan secara teknis dan menjadi pedoman Rencana Strategis SKPD untuk periode yang sama dan selanjutnya secara operasional dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja (RENJA) SKPD untuk periode setiap tahun selama masa periode RPJMD yang brsangkutan.
Untuk menjamin keterkaitan antara dokumen RPJPD dengan RPJMD, secara garis besar untuk tahap II periode 2011 – 2015 mengarahkan pada penyiapan, penyempurnaan dan pelaksanaan pranata serta penguatan pembangunan daerah di segala bidang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten dengan menekankan pada : penguatan sarana prasarana dalam rangka pembangunan sumberdaya
manusia, penguatan struktur ekonomi melalui pengembangan potensi agribisnis, minabisnis dan industri, pengembangan infrastruktur wilayah, penataan dan penguatan penyelenggaraan pemerintahan, serta penerapan prinsip-prinsip pembangunan berbasis tata ruang secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
1.4 Sistematika Penulisan
RPJMD Kabupaten Karawang Tahun 2011-2015 disusun dengan urutan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, dasar hukum penyusunan, hubungan antar dokumen, sistematika penyusunan serta maksud dan tujuan. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Merupakan hasil analisa data dan informasi terhadap kondisi demografi, geografi dan data dasar daerah lainnya serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
Memuat hasil analisa data dan informasi pengelolaan keuangan daerah, kebijakan pengelolaan keuangan daerah untuk periode 5 tahun ke depan.
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
Memuat analisa permasalahan pembangunan yang selanjutnya dirumuskan menjadi butir-butir isu strategis daerah.
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
Memuat pernyataan dan penjelasan rumusan visi dan misi serta tujuan spesifik dan sasaran kinerja setiap misi pembangunan. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Memuat uraian hubungan antara strategi dan arah kebijakan dengan target indikator kinerja.
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
Memuat hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja.
BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
Memuat hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD.
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
Memuat indikator kinerja sebagai gambaran ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati selama periode perencanaan
BAB X PENUTUP
1.5 MAKSUD DAN TUJUAN
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Kabupaten Karawang Tahun 2011-2015 ditetapkan dengan maksud untuk memberikan arah sekaligus menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan baik bagi pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha di dalam membangun kesepahaman, kesepakatan dan komitmen bersama guna mewujudkan visi dan misi Pemerintahan Kabupaten Karawang secara berkesinambungan.
Adapun tujuan penyusunan RPJM Kabupaten Karawang adalah :
1. Menetapkan visi, misi, dan program pembangunan daerah jangka menengah;
2. Menetapkan pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Kerja (Renja) SKPD, dan perencanaan penganggaran;
3. Mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang sinergis dan terpadu antara perencanaan pembangunan Nasional, Provinsi dan Kabupaten.
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1 Karakteristik lokasi dan wilayah 2.1.1 Luas dan batas wilayah administrasi
Kabupaten Karawang termasuk dalam wilayah pantai utara Pulau Jawa dengan luas wilayah 1.753,27 Km persegi atau 175.327 ha, dengan skala perbandingan dengan luas Propinsi Jawa Barat 3,73 % serta memiliki laut seluas 4 mil x 57 Km. Letak geografis Kabupaten Karawang berada di bagian utara Provinsi Jawa Barat yang secara geografis terletak antara 107o02’ - 107o40’ BT dan 5o562’ - 6o34’ LS. Secara administrasi Kabupaten Karawang mempunyai batas-batas wilayah :
- Di sebelah Utara : Laut jawa
- Di sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Subang - Di sebelah Tenggara : Berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta - Di sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kab. Bogor dan Cianjur - Di sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Bekasi
2.1.2 Aspek Topografi
Bentuk tanah di Kabupaten Karawang sebagian besar merupakan dataran yang relatif rata dengan variasi ketinggian antara 0 – 5 m diatas permukaan laut. Hanya sebagian kecil wilayah yang bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian antara 0 – 1200 m.
Tabel 2.1
Ketinggian, Lokasi, Luas Dan Prosentase Di Kabupaten Karawang No KETINGGIAN (dpl) LOKASI LUAS (Ha) PROSENTASE (%) 1 0 - 3 Kec. Pakisjaya,
Sebagian besar Kec. Batujaya, Kec. Tirtajaya, Kec. Cilebar
Sebagian besar Kec. Cibuaya, Sebagian besar Kec. Pedes, Sebagian besar Kec. Tempuran dan Sebagian besar Kec. Cilamaya
Kulon, Sebagian besar Kec. Cilamaya Wetan
59.990 34,22
2 4 -10
Sebagian Kecil Kec. Batujaya, Kec. Rengasdengklok, Kec. Banyusari, Sebagian
kecil Kec. Cibuaya, , Sebagian kecil Kec.
No KETINGGIAN (dpl) LOKASI LUAS (Ha) PROSENTASE (%)
Sebagian kecil Kec. Cilamaya Kulon, Sebagian kecil Kec. Cilamaya Wetan, Sebagian Besar Kec. Kutawaluya, Kec. Rawamerta, Sebagian
Kec. Telagasari, Sebagian Besar Kec. Lemahabang, Kec. Jayakerta dan Kec.
Majalaya
3 11 - 25
Sebagian Besar Kec. Karawang Barat, Sebagian Besar Kec. Karawang Timur, Kec.
Kotabaru, Kec. Purwasari, Sebagian Kec. Telagasari, Sebagian Kecil Kec. Lemahabang, Sebagian Besar Kec. Jatisari, Sebagian Besar
Kec. Tirtamulya, Sebagian Kec. Klari, Sebagian Kecil Kec. Telukjambe Timur, Sebagian Kecil Kec. Telukjambe Barat, Sebagian Kecil Kec. Ciampel, dan Sebagian
Kecil Kec. Cikampek.
37.424 21,35
4 26 - 50
Sebagian Kec. Jatisari, Sebagian Kec. Cikampek, Sebagian Kec. Klari, Sebagian Kecil
Kec. Ciampel, Sebagian Kec. Telukjambe Timur, Sebagian Kec. Telukjambe Barat, dan
Sebagian Kec. Pangkalan.
19.420 11,08
5 51 - 100 Sebagian Kec. Telukjambe Timur, Sebagian Kec. Telukjambe Barat, Sebagian Kec. Ciampel dan sebagian Kec. Pangkalan
14.219 8,11
6 101 - 250 Sebagian Kec. Pangkalan dan sebagian Kecil Kec. Ciampel
4.091 1,27
7 251 - 500 Sebagian Kecil Kec. Tegalwaru 2.230 1,27 8 501 - 750 Sebagian Kecil Kec. Tegalwaru 920 0,52 9 751 - 1000 Sebagian Kecil Kec. Tegalwaru 368 0,22 10 > 1000 Sebagian Kecil Kec. Tegalwaru 231 0,13
Sumber : Bappeda Kabupaten Karawang
2.1.3 Aspek Geologi
Wilayah Kabupaten karawang sebagian besar tertutup dataran pantai yang luas, yang terhampar di bagian pantai utara dan merupakan batuan sedimen yang dibentuk oleh bahan-bahan lepas terutama endapan laut dan aluvium vulkanik. Di bagian tengah ditempati oleh perbukitan terutama dibentuk oleh batuan sedimen, sedang dibagian selatan terletak Gunung Sanggabuana dengan ketinggian ± 1.291 m diatas permukaan laut.
2.1.4 Aspek Hidrologi
Kabupaten Karawang dilalui oleh aliran sungai yang melandai ke utara. Sungai Citarum merupakan pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi, sedangkan sungai Cilamaya merupakan batas wilayah
dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat 3 buah saluran irigasi yang besar yaitu Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum tengah dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik. Kabupaten Karawang terletak pada Satuan Wilayah Sungai (SWS) 02-06 Citarum (Peraturan Menteri PU No. 39/PRINT/1989, tanggal 1 April 1989). Sistem sungai yang ada adalah Sungai Citarum dengan 3 Waduk utama yaitu Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Aliran dibawah bendungan Jatiluhur terdapat intake di Curug yang memberikan pasok air ke saluran Tarum Barat dan saluran Tarum Timur.
Tarum Barat adalah sebagai sistem utama pemberian air baik irigasi maupun kebutuhan air lainnya sepanjang jalur pantai utara sampai Jakarta. Sedangkan saluran Tarum Timur akan memberikan pasok kepada kebutuhan air ke arah Timur sampai dengan Bendung Salamandra di Sungai Cipunegara. Dibawah Bendung Curug pada Sungai Citarum terdapat Bendung Walahar yang memberikan pasok kepada Saluran Tarum Utara (NTC). Selain itu terdapat Bendung Rangon di percabangan Saluran Tarum Utara yang memberikan pasok air ke bagian tengah daerah irigasi Tarum Utara. Di bagian paling barat Kabupaten Karawang terdapat Sungai Cibeet yang mempunyai Cabang, yaitu Sungai Cipamingkis. Sungai Cibeet ini memberikan tambahan pasok kepada saluran Tarum Barat dari Bendung Beet . Di bagian batas Timur Kabupaten Karawang terdapat Sungai Cilamaya yang mempunyai Cabang Sungai Ciherang. Selain waduk yang telah ada, terdapat potensi waduk yang bisa dikembangkan yaitu waduk Pangkalan di Sungai Cibeet, waduk Ciherang di Sungai Ciherang dan waduk Maya di Sungai Cilamaya.
2.1.5 Klimatologi
Sesuai dengan bentuk morfologinya Kabupaten Karawang merupakan dataran rendah dengan temperatur udara rata-rata 27oC dengan tekanan udara rata-rata 0,01 milibar, penyinaran matahari 66% dan kelembaban nisbi 80%, sampai April bertiup angin Muson Laut dan sekitar bulan Juni bertiup Angin Muson Tenggara, kecepatan angin antara 30 – 35 km/jam, lamanya tiupan rata-rata 5 – 7 jam. Curah hujan dipengaruhi oleh iklim, keadaan
geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu jumlah curah hujan sangat beragam menurut bulan. Catatan rata-rata curah hujan di Kabupaten Karawang mencapai 2.899 mm dengan rata-rata curah hujan perbulan sebesar 121 mm.
2.1.6 Wilayah Rawan Bencana
Pesisir Pantai Karawang merupakan salah satu kawasan Pantai Utara yang mengalami laju abrasi akut. Diperkirakan, garis Pantai Karawang yang terkena abrasi telah mundur antara 50-300 meter ke arah daratan, bahkan pada beberapa kawasan telah menghancurkan sebagian pemukiman maupun sarana transportasi.
2.1.7 Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Karawang pada tahun 2010 mencapai 2.125.234 jiwa, terdiri dari 1.095.202 jiwa penduduk laki-laki dan 1.030.032 jiwa penduduk perempuan. Rata-rata kepadatan penduduk (density rate) 1.212 jiwa / km². Laju pertumbuhan penduduk per tahun selama satu dasawarsa terakhir sebesar 1,76 persen. Berdasarkan komposisi persebaran, kecamatan Klari merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 7,6 persen dari poupulasi kabupaten. Sedangkan Kecamatan Teluk Jambe Timur merupakan wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi yaitu sebesar 5,48 persen.
Rasio jenis kelamin di Kabupaten Karawang masih dalam batas seimbang berdasarkan gender (perbedaan jenis kelamin) dapat dikatakan seimbang dengan rasio sebesar 105,0372%. Dari perhitungan didapat rasio ketergantungan total adalah sebesar 47,53%, artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak + 48 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi.
2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan pemerataan ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi Karawang relatif berfluktuasi, menyesuaikan kondisi perekonomian nasional serta kebijakan fiskal dan moneter Pemerintah. Selama periode 2006 – 2008, LPE berada di atas 5
persen atau berada di atas syarat terjadinya pertumbuhan secara minimal. Namun demikian, pada tahun 2009, terjadi perlambatan yang disebabkan turunnya pertumbuhan sektor industri yang terindikasi merupakan dampak dari penurunan kinerja perekonomian global pada tahun tersebut.
Perkembangan PDRB ADHB periode 2006 - 2009 secara absolut terus mengalami peningkatan. Berdasarkan harga berlaku (current market price) pada tahun 2006 sebesar Rp. 31.348,37 Milyar meningkat hingga mencapai Rp. 47.225,24 Milyar di tahun 2009. Demikian pula atas dasar harga konstan (constant market price) dimana pada tahun 2006 dengan nilai Rp. 15.568,18 Milyar meningkat menjadi Rp. 19.195,45 Milyar di tahun 2009.
Tabel 2.2
Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Karawang Tahun 2006 – 2009 Indikator 2006 2007 2008 2009 LPE (%) 7,52 6,36 10,84 4,58 Inflasi (%) 18,18 6,12 12,49 2,05 PDRB ADHB (Juta Rp.) 15.741.115 17.619.482 20.523.558 22.585.527 PDRB ADHK (Juta Rp.) 7.817.331 8.110.954 8.874.616 9.147.647
2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial
Berdasarkan hasil survey tahun 2009 kabupaten karawang diketahui bahwa pencapaian angka melek huruf sebesar 93,14 mengalami peningkatan sebesar 4,93 poin (5,59%) jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun 2006. AMH 93,14 persen mengandung pengertian bahwa sekitar 93,14 persen masyarakat di Kabupaten Karawang sudah memiliki kemampuan untuk membaaca dan menulis huruf latin dan atau huruf lainnya, adapun sekitar 6,86 persen masyarakat lainnya masih buta huruf. Namun apabila melihat trend perkembangan data tahun 2007 – 2009, perkembangan Angka Melek Huruf (AMH) relatif stagnan pada level 93 persen, hal ini terjadi karena memang kurva AMH Karawang diperkirakan sudah mencapai titik puncak dimana hasil intervensi program sudah pada titik optimum. Adapun sisa dari jumlah penduduk yang buta aksara merupakan kategori penduduk tidak peroduktif atau lanjut usia.
Berdasarkan data tahun 2009, dari jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas sebesar 1.505.803 jiwa, terdapat jumlah sebanyak 538.023 jiwa atau 35,73% hanya lulusan SD. Bahkan sebesar 419.366 jiwa atau 27,85% tidak tamat SD. Sedangkan tingkat rata-rata lama sekolah (RLS) yang pada tahun 2009 baru mencapai 6,8 tahun atau setingkat SMP Kelas 1. Rendahnya faktor pendidikan masyarakat Karawang yang ditandai dengan rendahnya lama bersekolah menyebabkan tidak diperolehnya manfaat pendidikan (return to education), sehingga mengurangi peluang mereka untuk memperoleh pekerjaan yang memberi pendapatan lebih tinggi di daerah perkotaan.
Berdasarkan data perkembangan angka harapan hidup di Kabupaten Karawang dalam 4 tahun terakhir mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 65,50 pada tahun 2006 menjadi 66,55 pada tahun 2009. Indikator peningkatan derajat kesehatan masyarakat diperlihatkan dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2009 di Kabupaten Karawang adalah 42,00 per 1.000 kelahiran hidup. Demikian pula dengan Angka Kematian Ibu (AKI) yang bergerak naik dimana saat ini 84 per 100.000 kelahiran dibandingkan tahun 2006 sebesar 58 per 100.000 kelahiran. (Gambar 2.1).
Faktor-faktor yang menciptakan risiko pada usia bayi, balita, dan di antara anak-anak usia sekolah secara signifikan diamati lebih sering terdapat di antara rumah tangga miskin daripada rumah tangga bukan miskin antara lain kurang gizi dan kurangnya imunisasi. Gambar 2.2 memperlihatkan status gizi balita yang ditimbang masih terdapat lebih dari 10% dari jumlah anak berusia di bawah lima tahun (balita) mengalami masalah gizi.
Gambar 2.1
Perkembangan AKI dan AKB Tahun 2006 - 2008
Gambar 2.2
Perkembangan Gizi Buruk dan Gizi Kurang Tahun 2006 - 2009
2008 2007
Selain indikator mortalitas, indikator lain yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah angka kesakitan (morbidity rate). Dilihat dari intensitas pola penyakit yang diderita oleh masyarakat antara lain Tuberkulosis (TB) paru, Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, diare dan penyakit kulit. Selain itu, Karawang juga menghadapi emergency deseas seperti : Demam Berdarah Dengue (DBD), Human immunodefiency virus/ acquired immune defiency syndrome (HIV/AIDS). Untuk kasus Filariasis terdapat 32 kasus di 16 Kecamatan.
Faktor intensitas penyakit tersebut, selain sangat dipengaruhi oleh perilaku hidup bersih dan sehat yang masih rendah juga oleh kondisi kesehatan lingkungan pemukiman. Kondisi kesehatan lingkungan sangat dipengaruhi akses rumah tangga antara lain terhadap rumah sehat, jamban keluarga yang memenuhi syarat, saluran pembuangan air yang memenuhi syarat serta ketersediaan air bersih. Berdasarkan data, prosentase rumah tangga yang memiliki kemampuan menyediakan rumah sehat, jamban keluarga yang memenuhi syarat, saluran pembuangan air yang memenuhi syarat baru mencapai 60 persen, sedangkan jumlah rumah sebanyak 486.826 dan dinyatakan sehat baru mencapai 276.432 atau sekita 56,78% persen.
Kegiatan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) belum optimal, dari jumlah posyandu sebanyak 2.183 unit terdiri dari posyandu pratama sebanyak 123 unit, posyandu madya sebanyak 1.547, posyandu purnama 473 unit dan posyandu mandiri sebanyak 30 buah. Jumlah poskestren yang berfungsi 5 unit dari total 13 unit. Jumlah kader aktif sebanyak 8.397 orang sehingga rasio kader per posyandu rata-rata 4 orang, sedangkan rasio posyandu per desa sebanyak 7 unit. Secara umum pencapaian desa siaga utama baru mencapai 20 desa atau 6,47 persen,
3. Aspek Pelayanan Umum 3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib
3.1.1 Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Karawang telah menempati skala prioritas tertinggi selama lima tahun terakhir ini. Secara pertumbuhan, angka melanjutkan telah menunjukkan hasil yang membaik, namun apabila
dilihat gap antara APK SD sebesar 109,62%, APK SLTP sebesar 86,52% dan APK SLTA sebesar 42,29% memperlihatkan angka peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah masih relatif sangat rendah.
Gambar2.3
Indikator APK SD, SLTP dan SLTA, 2006-2009
Gambar 2.4
Jumlah Putus Sekolah Jenjang SD, SLTP, SLTA Tahun 2006 -2009
Gambar 2.4 memperlihatkan jumlah anak putus sekolah terbanyak berada pada jenjang SLTP. Berdasarkan analisa kohor tahun 2006 dengan menggunakan data jumlah siswa kelas VI SD yang dinyatakan lulus sebanyak 36.560 orang, namun berdasarkan data tahun 2009 dari kelompok (kohor) yang sama turun sekitar 13,55% sehingga tinggal sebanyak 31.605 orang. Kondisi pelayanan urusan wajib pendidikan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya bidang pendidikan. Jumlah ketersediaan bangunan sekolah negeri pada jenjang SD sebanyak 872 unit, SLTP sebanyak 139 unit dan SLTA sebanyak 99 unit. Ketersediaan sekolah kejuruan sebanyak 61 sekolah yang terdiri dari sekolah kejuruan negeri sebanyak 7 sekolah sedangkan sekolah kejuruan swasta sebanyak 54 sekolah. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah kejuruan bengkel praktek seluruhnya 54 yang memiliki bengkel sebanyak 25 dan belum memiliki bengkel sebanyak 29 Kesesuaian penyediaan pendidikan kejuruan dengan dunia kerja.
Ketersediaan ruang kelas secara umum masih belum sesuai dengan standar nasional pendidikan. Untuk jenjang Sekolah Dasar, dapat dikatakan sudah menuju kepada rasio ideal sesuai dengan standar nasional pendidikan. Sedangkan upaya penuntasan wajib belajar 12 tahun saat ini lebih difokuskan pada upaya peningkatan daya tampung pada siswa SLTP dengan mengkombinasikan upaya penyediaan ruang kelas baru disertai dengan
pelaksanaan double shift. Pada jenjang SLTA, upaya pemenuhan daya tampung masih terkendala dengan rasio jumlah sekolah itu sendiri. Untuk pemerataan jumlah sekolah pun masih belum memadai dimana masih terdapat 14 kecamatan yang belum memiliki gedung SMA negeri.
.
Tabel 2.3
Jumlah Sekolah, Guru dan Murid berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2009
No Jenjang Sekolah Guru Murid
1. SD/MI 1.141 10.240 260.688 2. SMP/MT s 162 3.437 102.043 3. SMA/SM K/MA 109 1.951 50.917 Tabel 2.4
Rasio Murid terhadap Ruang Kelas kabupaten Karawang, Tahun 2006 – 2009
No Jenjang 2006 2007 2008 2009
1 SD/MI 1 : 42 1 : 42 1 : 40 1 : 35
2 SMP/MTs 1 : 55 1 : 50 1 : 48 1 : 48
3 SMA/SMK/MA 1 : 52 1 : 49 1 : 48 1 : 51
Kondisi kompetensi guru masih perlu mendapatkan perhatian, dimana dari jumlah guru berbagai jenjang di sekolah negeri sebanyak 8.628 orang, sebagian besar merupakan tamatan D2 yaitu sebanyak 4.619 atau sekitar 53,54 persen, sedangkan guru dengan tamatan S-1 dan S-2 baru mencapai 30,88 persen (gambar 2.5).
Kondisi mutu proses belajar mengajar dapat dilihat dari jumlah kelulusan siswa. Berdasarkan data tahun 2009, jumlah kelulusan siswa untuk jenjang SD telah mencapai 100 persen, jenjang SLTP mencapai 98,5 persen dan SLTA mencapai 96,3 persen (gambar 2.6).
Gambar 2.5
Jumlah Guru SD, SLTP dan SLTA berdasarkan pendidikan yang ditamatkan
Gambar 2.6
Persentase kelulusan siswa SD, SLTP dan SLTA dalam Ujian Nasional Tahun 2010
Berdasarkan Angka Melek Huruf sekitar 93,15 persen maka diperkirakan masih ada penduduk buta aksara usia, + 6,85 persen diperoleh dari BPS Kabupaten Karawang. penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas sebanyak 56.199 orang data tahun 2011. Program Pendidikan Untuk Semua
(PUS) terdiri dari kejar paket A, paket B dan paket C. Paket A (setara SD) warga belajar sebanyak 289 orang, paket B (setara SMP) sebanyak 2.401 orang, sedangkan paket C (setara SMA) warga belajar sebanyak 1.194 orang. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal, pada tahun 2010 terdapat 282.612 penduduk anak usia 0 sd 6 tahun, yang ada di dalam PAUD Lembaga penyedia pendidikan jalur non formal pada tahun 2010 dengan jumlah lembaga PAUD 489 belum terakreditasi. Sedangkan tutor PAUD sebanyak 1.070 orang untuk rasio perbandingan antara tutor dengan peserta didik PAUD 1 :10, jumlah peserta didik dalam satu kelompok yang ada 10 -20 orang untuk perbandingan rasio guru : peserta didik sebesar 1 : 25. Untuk pembiayaan operasional PAUD bersumber swadaya dari masyarakat. Sedangkan TK/RA Lembaga penyedia pendidikan jalur formal pada tahun 2010 sebanyak 96 TK Negeri sebanyak 3 sekolah dan TK Swasta sebanyak 93 sekolah, jumlah RA 135 sekolah. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan jumlah PKBM sebanyak 153 Kelompok, kelompok PKBM ini merupakan kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegaiatan belajar secara mandiri.
Upaya penumbuhkembangan minat baca masyarakat sejalan dengan strategi pelestarian keberaksaraan fungsional diarahkan pada program pelayanan perpustakaan, melalui perpustakaan daerah sebanyak 1 unit, perpustakaan desa sebanyak 128 unit, perpustakaan sekolah sebanyak 90 unit dan Taman Bacaan Masyarakat ( TBM ) terdapat 193 unit TBM sedangkan tenaga Pengelola TBM sebanyak 58 orang dan petugas khusus TBM sebanyak 30 orang.
3.1.2 Kesehatan
Upaya pelayanan bidang kesehatan, dalam rangka pelayanan kesehatan ibu dan anak, dapat dilihat dari indikator proses antara lain 70,87% desa sudah berkategori desa UCI, Cakupan Kunjungan Neonatus 89,50 persen, cakupan pelayanan bayi mencapai 82,70%, dari BBLR 35,22% dari jumlah bayi lahir seluruhnya dapat ditangani. Sedangkan cakupan imunisasi dari jumlah bayi sebanyak 57.295, telah memperoleh BCG 89,08 persen, DPT1 dan HB1 91,48 persen, DPT3 dan HB3 86,26 persen, Polio 86,82 persen, Campak 89,08 persen, Hepatitis 0-7 hari 79,74%.
Dalam rangka Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin dan JPKM, telah dapat dicakup seluruhnya melalui program JPKM sebanyak 684.638 orang dan pelayanan jamkesda keluarga miskin sebanyak 424.561 orang. Upaya penyediaan sumberdaya kesehatan selama ini telah dilaksanakan, antara lain melalui pembangunan sarana dan prasarana kesehatan dasar, pengembangan kualitas kesehatan rujukan serta mengembangkan kemitraan dengan berbagai lembaga pelayanan kesehatan swasta dalam rangka penyediaan fasilitas kesehatan dan pemenuhan ketersediaan tenaga medis. (Tabel 2.5 dan Tabel 2.6).
Pengembangan pelayanan kesehatan primer di tingkat desa dan kecamatan tetap menjadi prioritas dalam rangka mendekatkan keterjangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama wilayah perdesaan. Untuk pelayanan kesehatan primer di perdesaan sudah berjalan melalui pelayanan bidan desa sebanyak 345 orang atau berarti rasio 1 desa 1 bidang telah terpenuhi, namun secara kelembagaan belum berfungsi secara optimal ditandai dengan keberadaan poskesdes yang baru tahap rintisan pengembangan melalui pembangunan kantor desa dengan konsep pelayanan terpadu yang didalamnya berfungsi sebagai sarana pos kesehatan desa. Pada tingkat kecamatan, dari jumlah puskesmas sebanyak 48 unit, baru 5 unit yang telah memiliki sarana PONED dengan ketersediaan dokter sebanyak 88 orang.
Tabel 2.5
Jumlah Fasilitas Kesehatan
Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah
Rumah Sakit 17
Rumah sakit bersalin 37
Poliklinik/ Balai Pengobatan 126
Puskesmas 44
Pustu 79
Praktek Dokter 96
Praktek Bidan 274
Posyandu 309
Pondok Bersalin Desa 41
Apotik 51
Toko Obat/ Jamu 72
Tabel 2.6
Jumlah Tenaga Kesehatan
Tenaga Medis Jumlah
Dokter 265
Perawat 679
Bidan 365
Tenaga Kesmas/ Sanitasi 109
Gizi 38
3.1.3 KB dan Pemberdayaan Perempuan
Dari Jumlah penduduk Kabupaten Karawang sebanyak 2.133.552 orang dan jumlah rumah tangga sebanyak 564.524, maka rata-rata dalam satu keluarga terdapat 3,8 anggota keluarga, atau dibulatkan menjadi 4 orang yang terdiri dari Ayah, ibu dan 2 orang anak. Kondisi ini relatif ideal dan memperlihatkan keberhasilan program keluarga berencana. Dalam rangka pelayanan keluarga berencana dilaksanakan berbagai upaya upaya program kesehatan reproduksi maupun pelayanan KB. Berdasarkan data, dari jumlah Pasangan Usia Subur sebanyak 423.945 pasutri, yang menjadi Peserta KB baru sebanyak 104.127 pasutri atau 24,56% persen, sedangkan Peserta KB aktif sebanyak 382.118 pasutri atau 90,13 persen. Peserta KB aktif berdasarkan Jenis Kontrasepsi MKJP terbesar menggunakan Implan sebanyak 19.094 (5,00%); Non MKJP terbesar menggunakan suntik sebanyak 222.568 (58,25%) MKJP 9,83%; Non MKJP 90,17% (total 382.118). KB Baru Berdasarkan Jenis Kontrasepsi MKJP terbesar menggunakan Implan sebanyak 2.332 (2,22%); Non MKJP terbesar menggunakan suntik sebanyak 71.622 (68,11%) MKJP 4,41%; Non MKJP 95,59% (total 105.162).
Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan, yang bertujuan untuk memitrasejajarkan peran kaum perempuan dengan kaum pria dengan sasaran meningkatnya peranan kaum perempuan di segala sektor, kegiatan-kegiatannya termasuk di lembaga pemerintah. Dari jumlah pekerja perempuan di Kabupaten Karawang sebanyak 251.256 orang sebanyak 5.803 orang atau 2,31 persen berpartisipasi di lembaga pemerintah dan sebanyak 251.256 orang sebanyak 245.453 orang atau 97,69 persen berpartisipasi di sektor swasta.
Kondisi kekerasaan dalam rumah tangga di Kabupaten Karawang dapat dilihat pada data tahun 2009 sebanyak 328 kasus. Sehingga apabila dibandingkan dengan jumlah rumah tangga yang ada di Kabupaten Karawang sebanyak 564.524, maka rata-rata kekerasan dalam rumah tangga adalah sebesar 0,00058 per keluarga atau 58 kasus per 100.000 keluarga.
3.1.4 Kependudukan dan Catatan Sipil
Pelayanan Bidang Kependudukan pada sampai dengan tahun 2009 dilakukan melalui peningkatan pelayanan dan kesadaran masyarakat terhadap administrasi kependudukan serta akta catatan sipil yang berbasis SIAK. Rasio pelayanan kependudukan dan catatan sipil dapat dilihat dari jumlah wajib KTP tahun 2009 sebanyak 1.430.700 orang dengan perbandingan penduduk yang telah mempunyai KTP sebanyak 1.203.058, sehingga rasio penduduk ber KTP sebesar 84,09%. Sedangkan untuk pelayanan akte kelahiran dilihat dari perbandingan penduduk Kabupaten Karawang sebanyak 2.133.552 jiwa, yang mempunyai akte kelahiran sebanyak 2.048.271 jiwa atau 96% penduduk karawang mempunyai akte kelahiran.
3.1.5 Ketenagakerjaan
Pada sektor ketenagakerjaan, data jumlah angkatan kerja tahun 2008 berjumlah 981.245 jiwa, dengan jumlah pengangguran sebanyak 148.051 jiwa. Apabila dibandingkan dengan data tahun 2006, memperlihatkan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan dimana angka pengangguran dapat ditekan dari sebesar 17,33% persen menjadi sebesar 15,09 persen. Sedangkan dari jumlah penduduk Kabupaten Karawang yang bekerja menurut lapangan usaha sebesar 896.640 jiwa, sekitar 29,19% atau sebesar 261.770 jiwa terserap pada lapangan usaha pertanian. Lapangan usaha perdagangan berada pada posisi kedua sebagai penyerap tenaga kerja dengan prosentase sebesar 26,27% atau sebesar 235.592 jiwa. Sedangkan pada lapangan usaha industri menyerap tenaga kerja sebesar sebesar 19,80% atau sebanyak 177.514. (lihat gambar 2.7 dan gambar 2.8).
Gambar 2.7
Jumlah Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Belum Bekerja Tahun 2006 – 2008
Gambar 2.8
Jumlah Penduduk Bekerja berdasarkan lapangan usaha tahun 2008
Upaya perlindungan ketenagakerjaan diarahkan pada penanganan kasus perselisihan ketenagakerjaan yang relatif semakin menurun, pada tahun 2006 terjadi 115 buah kasus dan pada tahun 2009 terjadi 92 kasus dan sudah tertangani. Tenaga kerja dibawah umur tentunya bertentangan dengan undang-undang ketenagakerjaan serta undang-undang pendidikan. Prosentase jumlah tenaga kerja dibawah umur di kabupaten karawang tergolong relatif kecil dari 896.640 orang pekerja hanya 0,02% atau hanya 1.828 orang tenaga kerja berusia 10-14 orang yang bekerja.
3.1.6 Pemberdayaan masyarakat dan desa
Upaya pemberdayaan masyarakat diarahkan pada peningkatan peran serta masyarakat dalam wadah organisasi kemasyarakatan untuk mendukung proses pembangunan daerah. Di tingkat desa juga dibentuk lembaga kemasyarakatan yang berfungsi sebagai wadah partisipasi masyarakat desa.
Gambar 2.9
Jumlah Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan di Kabupaten Karawang
Tabel 2.7
Jumlah personil pada Institusi Pemerintahan dan kelembagaan masyarakat desa
Institusi Pemerintahan dan
Kelembagaan Desa Jumlah
Kades dan Perangkat Desa 3.096
BPD 2.376 RW 1.837 RT 6.411 Karang Taruna 309 PKK 3.1.7 Lingkungan hidup
Potensi sampah di kabupaten karawang tiap tahun meningkat seiring dengan perkembangan penduduk untuk tahun 2009 saja tercatat 208.050 m3. Sedangkan yang tertangani oleh pemerintah daerah hanya 175.200 m3. Sehingga prosentasenya cukup signifikan juga sekitar 84,21%. Telah dikemukakan di atas bahwa pengelolaan persampahan dilakukan dengan tujuan meningkatkan jumlah sampah yang tertangani sehingga kualitas lingkungan yang baik dapat tercapai melalui pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu (Integrated Solid Waste Management), tentunya perlu ditunjang dengan saran tempat pembuangan sampah baik TPSS maupun TPA. Daya tampung tempat
pembuangan sampah sebesar 1.725.830 m3, apabila dibanding dengan jumlah penduduk maka rasio tempat pembuangan sampah ini adalah sebesar 808,9 m3 per 1.000 orang penduduk. Ini menandakan bahwa dengan perkembangan penduduk yang cukup signifikan maka dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang harus dipersiapkan tempat pembuangan sampah yang baru dengan dukungan biaya dan teknologi yang ramah lingkungan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup.
Usaha penyediaan air bersih bagi penduduk di pusat-pusat permukiman dilakukan melalui instalasi air bersih ke rumah-rumah, penyediaan hidran/kran umum dan kran tangki air umum. Sebagian besar pelanggan air bersih adalah sektor non niaga sebanyak 90,54 persen diikuti oleh sektor niaga kecil (pertokoan) sebanyak 3,96 persen. Penyediaan air minum melalui sistem perpipaan dikelola oleh PDAM Kabupaten Karawang saat ini mempunyai 6 cabang dan 9 IKK, yang mencakup 22 Kecamatan, 91 Desa dengan 681.653 jiwa. Tidak ada sistem yang dikelola oleh swasta atau oleh kelompok masyarakat, kecuali untuk beberapa industri dan hotel memiliki sistem penyediaan air minum perpipaan dengan skala kecil. Tingkat total pelayanan perpipaan untuk daerah Kabupaten Karawang terdiri dari jumlah penduduk yang terlayani sebanyak 175.025 jiwa atau 27.57 persen penduduk. Saat ini PDAM baru bisa melayani Sambungan Rumah (SR) untuk 7 Kecamatan yaitu : Kecamatan Karawang Barat, Kecamatan Karawang Timur, Kecamatan Telukjambe Timur, Kecamatan Ciampel, Kecamatan Purwasari, Cikampek dan Kotabaru, sementara air minum yang bisa dilayani dengan kran umum baru 5 Kecamatan yaitu : Kecamatan Karawang Barat, Kecamatan Karawang Timur, Kecamatan Ciampel, Kecamatan Cikampek, Kecamatan Kotabaru. Berikut tabel jenis utama penggunaan air minum di Kabupaten Karawang tahun 2009.
Tabel 2.8
Jenis Utama Penggunaan Air Minum Di Kabupaten Karawang Tahun 2009
Nama Sarana 2006 2007 2008 2009
Jml % Jml % Jml % Jml %
Ledeng 37.535 15,56 33.847 13,41 34.557 12,08 43.927 9,02 Sumur Pompa Tangan (SPT) 84.571 35,07 100.136 39,68 174.840 61,09 81.730 16,79 Sumur Gali (SGL) 50.573 20,97 59.936 23,75 47.869 16,73 60.736 12,48 Penampungan Mata Air (PMA) 1.415 0,58 - - 9.437 3,38 2.069 0,42 Penampungan Air Hujan
(PAH)
3.1.8 Sarana dan Prasarana Umum
Pada Bidang Kebinamargaan, upaya pelayanan prasarana jaringan jalan dan jembatan dilakukan melalui peningkatan konstruksi jalan status kabupaten dengan konstruksi rigid serta pemeliharaan untuk mempertahankan umur teknis rencana. Panjang jalan secara hirarkhi di kabupaten karawang adalah sebagaimana tabel 2.7 Sedangkan pada bidang pengairan upaya pembangunan diarahkan pada rehabilitasi dan normalisasi saluran pembuang, muara serta jaringan irigasi guna mempertahankan Kabupaten Karawang sebagai daerah lumbung padi nasional. Dari panjang saluran sepanjang 94.385 Km, sedangkan luas lahan budidaya pertanian adalah seluas 97.529 Ha.
Tabel 2.9
Jenis dan Volume Jalan serta Jembatan di Kab. Karawang Tahun 2009
NO STATUS VOLUME KETERANGAN
Jalan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Jalan Layang Jalan Tol Jalan Desa 46,34 Km 48,19 Km 861,73 Km 2,80 Km 28,60 Km 1.778,30. Km Hotmix Hotmix
Hotmix , beton & Penetrasi Beton & Hotmix
Beton & Hotmix Sirtu & Tanah Jembatan 1. 2. 3. Jembatan Negara Jembatan Prov Jembatan Kab 2,19 Km 0,16 Km 2,55 Km 57 bh 6 bh 178 bh Sumber : LKPJ AMJ Bupati Karawang 2006-2010
Tabel 2.10
Jenis dan Volume Irigasi di Kabupaten Karawang Tahun 2009
SARANA STATUS VOLUME Jaringan Irigasi Bendung
Bangunan Bagi/Sadap dan bangunan lainnya Saluran Induk Saluran Sekunder 4 buah 382 buah 120,00 Km 589,60 Km Sumber : LKPJ AMJ Bupati Karawang tahun 2006-2010
Prosentase rumah tinggal bersanitasi pada tahun 2009 sebesar 56,78% ini dilihat dari rumah tinggal yang bersanitasi di Kabupaten Karawang tahun 2009 tercatat 276.432 rumah sedangkan seluruh rumah tinggal di Kabupaten Karawang yang tercatat sebanyak 486.825 buah. Dari data tercatat 370.583 (65,71%) rumah layak huni dari 564.524 rumah tinggal di Kabupaten Karawang sehingga rasio rumah layak huni adalah sebesar 0,17 rumah per 1 orang penduduk.
Sementara itu data dari IKK Kabupaten Karawang tercatat kawasan kumuh seluas 9,48 Km2, sementara pada laporan penggunaan tanah yang dikeluarkan oleh dinas pertanian disebutkan bahwa luas rumah, bangunan dan halaman sekitarnya adalah sebesar 22.063 Ha, atau setara 220,63 Km2, dengan demikian luas kawasan layak huni adalah 210,88 Km2, maka rasio pemukiman layak huni di Kabupaten Karawang seluas 0,96. Upaya penataan dan perbaikan lingkungan telah dilaksanakan setiap tahun dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan jalan lingkungan, perbaikan drainase, perbaikan rumah tidak layak huni dan plesterisasi.
Penyelenggaraan pembangunan penataan ruang diarahkan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang dan penatagunaan tanah yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karawang. Pada tahun 2009 Kabupaten Karawang memulai Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Sebagai akibat dari terbitnya beberapa Undang-undang, seperti Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mewajibkan pemerintah daerah untuk membuat KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) untuk memasukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi dasar dan terintegrasi dengan pembangunan suatu wialayah dan/atau kebijakan rencana atau program. Selain itu dengan keluarnya Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang mengamanatkan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan berkelanjutan harus ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah.
Luas ruang terbuka hijau di Kabupaten Karawang tercatat pad IKK seluas 23,50 Ha. dengan luas wilayah ber HPL/HGB seluas 426 Ha. maka rasio ruang terbuka hijau dibanding dengan luas wilayah yang ber HPL/HGB adalah 5,52%.
Pada sektor perhubungan Jumlah trayek yang ada di kabupaten Karawang sebanyak 55 trayek dan terealisir sebanyak 42 trayek. Dalam rangka peningkatan PAD telah dilaksanakan penerapan ijin trayek. Dari 55
trayek yang telah dikeluarkan apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk adalah sebesar 0,00003 per penduduk atau 3 trayek per 100.000 orang. Jumlah terminal di Kabupaten Karawang adalah sebanyak 4 buah dengan klasifikasi tipe C.
2.4 Aspek Daya Saing 2.4.1 Penanaman modal
Pengembangan kegiatan industri di Kabupaten Karawang dialokasikan pada bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Klari, Cikampek, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Purwasari, Karawang, Jatisari, Pangkalan dan Cikampek. Kegiatan industri yang relatif berkembang diantaranya wilayah bagian timur (Kota Bukit Indah City) Kecamatan Cikampek, Kawasan Industri (Kecamatan Telukjambe Timur, Ciampel dan Pangkalan), Zona Industri (Kecamatan Telukjambe Timur, Telukjambe Barat, Ciampel, Klari, Cikampek dan Karawang Barat serta Karawang Timur, Purwasari). Pencapaian penanaman modal PMA dan PMDN di Kabupaten Karawang menduduki peringkat ketiga di Jawa Barat setelah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Purwakarta (data sampai dengan bulan November 2009).
Perkembangan investasi di Kabupaten Karawang dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 mengalami peningkatan. Jumlah investasi pada tahun 2006 sebesar Rp 63,559 Trilyun dan pada tahun 2009 mencapai Rp 8,891 Trilyun. Sedangkan rasio daya serap tenaga kerja adalah prosentase jumlah tenaga kerja pada perusahaan PMA/PMDN dibagi dengan jumlah perusahaan PMA/PMDN yang ada. Dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 896.640 setelah dikurangi dengan PNS berjumlah 882.118 dengan porsi perusahaan PMA/PMDN di Kabupaten Karawang sebanyak 446 perusahaan sehingga rasio daya serap tenaga kerja sebesar 1.977,84 orang per perusahaan.
2.4.2 Koperasi dan UMKM
Berdasarkan data jumlah koperasi tahun 2006 sebanyak 1.160 unit dengan kondisi aktif sebanyak 816 atau 70 persen, RAT 46,57 persen , tahun 2009 sebanyak 1.288 dengan kondisi aktif sebanyak 866 unit atau 67 persen, RAT 12,70 persen dari koperasi aktif. Data tersebut memperlihatkan adanya
perkembangan jumlah total unit koperasi sebesar 11,03 persen, dengan jumlah koperasi aktif sebesar 67 persen. Sejalan dengan perkembangan koperasi aktif, jumlah anggota koperasi mengalami peningkatan sekitar 9,4 persen dari sebanyak 191.410 orang tahun 2006 dan tahun 2009 sebanyak 209.412 orang. Jumlah manajer tahun 2006, 267 dengan jumlah karyawan sebanyak 2.211 sedangkan tahun 2009 jumlah manajer 147 orang dan jumlah karyawan 1.402.
Berdasarkan kondisi kapasitas usaha, dapat dilihat dari perkembangan modal usaha 76,08 persen dari Tahun 2006, total modal koperasi Rp. 340,89 Milyar dan tahun 2009 sebesar 600,24 Milyar. Komposisi modal usaha tahun 2006, modal sendiri 55,0 persen dan modal luar 45,0 persen. Sedangkan tahun 2009, modal sendiri 68,17 persen dan modal luar 31,83 persen. Sedangkan perkembangan transaksi usaha koperasi dapat dilihat dari Perkembangan volume usaha 76,30 persen dari tahun 2006 sebesar Rp. 511,34 Milyar menjadi Rp. 901,51 Milyar tahun 2009. Perkembangan SHU sebesar 27,52 persen dari tahun 2006 sebesar Rp. 21,49 Milyar menjadi Rp. 27,40 Milyar atau rata-rata SHU yang diterima oleh anggota tahun 2006 Rp. 112.285,- per anggota tahun 2009 130.881,- per anggota atau naik 16,56 persen.
Pada sektor KUMKM, diperlihatkan oleh data perkembangan jumlah unit sektor UMKM sebesar 3,4 persen yaitu tahun 2007 sebanyak 3.732 unit dan tahun 2010 3.858. Secara proporsi didominasi oleh sektor industri sebesar 55,06 persen diikuti sektror perdagangan sebesar 39,51 persen dan sektor jasa sebesar 5,42 persen. Apabila dilihat dari skala usaha, sektor UMKM didominasi oleh UMKM berskala usaha mikro dengan tenaga kerja rata-rata 1 – 4 orang yaitu sebesar 84,89 persen, sedangkan Usaha Kecil dan Menengah masing-masing hanya sebesar 14,21 persen dan 0,90 persen. Penyerapan tenaga kerja, data tahun 2009, dari jumlah unit 3.732 unit mampu menyerap sebanyak 16.821 tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja terbesar pada Usaha Mikro sekitar 67,44 persen, sedangkan industri kecil dan menengah masing-masing hanya sebersar 23,62 persen dan 8,94 persen. Volume usaha, data tahun 2009, dari total nilai penjualan UMKM sebesar Rp. 812,11 Milyar , industri kecil sebesar 41,87 persen, industri mikro 33,12
persen dan industri menengah 25,01 persen. Dalam rangka memperluas akses pembiayaan mikro dan mendekatkan pada pelaku usaha khususnya di sektor perdesaan, telah dibentuk dan berfungsi 1 unit BPR dan 9 Unit PD/PK. 2.4.3 Sumberdaya Tenagakerja
Pasar tenaga kerja di Kabupaten Karawang masih dicirikan oleh tingginya sektor informal. Pada sisi yang sama, dengan rendahnya tingkat pendidikan, maka peluang untuk memasuki jenis lapangan pekerjaan yang lebih baik dengan imbalan upah yang lebih layak menjadi semakin kecil. Gambar memperlihatkan sekitar 62% jumlah penduduk bekerja merupakan tamatan SD, yang tentu saja sulit untuk memasuki lapangan pekerjaan di sektor formal. Gambar 2.11 memperlihatkan sekitar 81% berstatus berusaha dibantu buruh tidak dibayar atau biasa disebut sektor informal.
Gambar 2.10
Proporsi Daya Serap Tenaga Kerja dan Share PDRB pada sector Primer, Sekunder dan
Tersier, 2008
Gambar 2.11
Persentase jumlah penduduk bekerja berdasarkan status pekerjaan, 2008
Gambar 2.10 memperlihatkan bahwa walaupun sektor tersier secara akumulatif mampu memberikan kontribusi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja (46,26%) namun pendapatan per kapita yang disumbangkan oleh sektor jasa hanya sebesar 28,70% (bandingkan dengan sektor industri yang mampu menyumbang pendapatan per kapita sebesar 57,00% terhadap total dan hanya menyumbangkan penyerapan tenaga kerja sebesar 24,21% saja). Hal ini juga mengindikasikan bahwa sektor jasa yang berkembang dan meluas ini justru didominasi oleh sektor jasa dengan pendapatan per kapita
yang rendah sehingga menggambarkan apa yang disebut ”premature tertiarization of the agricultural labour force”, yaitu penyerapan tenaga kerja secara prematur dalam sektor jasa-jasa.
2.4.4 Komunikasi dan Informasi
Kondisi pelayanan komunikasi dan informatika diperlihatkan dari data jumlah jaringan komunikasi telepon stasioner di Kabupaten Karawang menurut data PT Telkom Wilayah Karawang tercatat sebanyak 60.187 satuan sambungan. Jumlah Wartel di Kabupaten Karawang menurut data PT Telkom Wilayah Karawang tercatat sebanyak 846 buah sedangkan jumlah warnet sebanyak 23 buah. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk karawang yang sebanyak 2.133.552 maka rasio wartel/warnet kabupaten karawang tahun 2009 sebesar 0.04%.
2.4.5 Listrik dan Energi
Rasio ketersediaan listrik adalah perbandingan antara jumlah daya listrik terpasang dibandingkan dengan jumlah kebutuhan. Untuk tahun 2009 jumlah jumlah daya listrik terpasang adalah sebesar 1.060 MVA sedangkan jumlah kebutuhan adalah sebesar 580 MVA sehingga rasio ketersediaan listrik di Kabupaten Karawang adalah 1,83, artinya pasokan lebih besar daripada kebutuhan, ini menandakan bahwa potensi di Kabupaten Karawang cukup besar, disamping itu beberapa perusahaan menggunakan listrik tersendiri. Prosentase rumah tangga yang menggunakan adalah perbandingan antara jumlah rumah tangga yang menggunakan listik dibandingkan dengan jumlah rumah tangga. Untuk tahun 2009 jumlah rumah tangga yang menggunakan listik adalah sebanyak 415.088 sedangkan jumlah rumah tangga adalah sebanyak 564.524 sehingga rasio ketersediaan listrik di Kabupaten Karawang adalah 73,53%, artinya 73 Rumah tangga memakai listrik dari 100 rumah tangga.
2.4.6 Pertanahan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah dirubah dengan Undang-undang nomor 32 Tahun 2004, serta Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, bahwa bidang pertanahan merupakan
kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh daerah akan tetapi dengan dikeluarkannya Keppres Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, penyerahan Personil, Pembiayaan, Perlengkapan dan Dokumentasi (P3D) Kantor Pertanahan Kabupaten Karawang belum dapat dilaksanakan. Secara keseluruhan luas tanah bersertifikat adalah 139.157,040 Km2, yang apabila dibandingkan dengan luas lahan Kabupaten Karawang seluas 175.327 Km2 maka prosentasenya adalah sebesar 79,37%.
BAB III
GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
3.1.1 KINERJA PELAKSANAAN APBD
APBD merupakan instrumen paling utama dalam kebijakan fiskal daerah sebagaimana kewenangan yang diserahkan sesuai undang-undang otonomi daerah. APBD dikatakan sebagai instrumen kebijakan utama pemerintah daerah karena APBD adalah intisari dari apa yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam satu tahun ke depan sebagai rangkaian tak terpisahkan dari kebijakan masa lalu dan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang. APBD Tahun 2010 telah mencapai angka Rp.1,59 Trilyun atau secara rata-rata selama periode 2006 – 2010 meningkat sebesar 18,02 persen dari angka tahun 2006 sebesar Rp. 972,89 Milyar. Rasio APBD terhadap PDRB memperlihatkan kecenderungan yang semakin menurun, hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan konsumsi masyarakat dan investasi sektor swasta semakin berkembang dalam pembentukan PDRB. Adapun fungsi APBD lebih bersifat stimulus terhadap berjalannya kinerja perekonomian makro daerah.
Tabel 3.1
Perkembangan APBD, Pertumbuhan per tahun dan rasio terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, Tahun 2006 - 2010
Tahun APBD (Rp) Growth (%) Rasio thd PDRB
ADHB (%) 2006 972.899.584.495,00 3,10 2007 1.080.857.138.242,00 11,10 2,99 2008 1.208.462.961.419,00 11,81 2,85 2009 1.341.053.546.674,00 10,97 2,84 2010 1.599.426.320.427,00 19,27
Rata-rata per pertumbuhan 18,02
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan azas desentralisasi, kepada Daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak/retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan (revenue sharing) serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal sebagai dana perimbangan sebagai sumber dana bagi APBD. Secara umum, sumber dana bagi daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan (dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus) dan pinjaman daerah, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Tiga sumber pertama langsung dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui APBD, sedangkan yang lainnya dikelola
Tabel 3.2
Realisasi pendapatan daerah (dlm milyar rupiah), rata-rata proporsi (%) dan rata-rata pertumbuhan (%) tahun 2006 – 2010
Jenis 2006 2007 2008 2009 2010 Rata‐Rata
Proporsi Growth
PAD 112,58 121,41 131,79 133,73 186,95 11,08 13,52
Dana Perimbangan 746,40 840,66 924,08 1.025,59 1.121,04 75,54 10,70
Lain2 Pend. drh yg sah 112,03 118,78 152,60 181,74 291,44 13,39 27,00
Pendapatan total 971,01 1.080,86 1.208,46 1.341,05 1.599,43
Berdasarkan data realisasi APBD, pendapatan tahun 2010 sebesar Rp. 1,59 Trilyun atau selama 5 tahun secara rata-rata tumbuh sebesar 13,29 persen dibandingkan tahun 2006 sebesar Rp. 971 Milyar. Pertumbuhan pendapatan diperoleh dari PAD dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13,52 persen, Dana Perimbangan dengan rata-rata-rata-rata pertumbuhan sebesar 10,70 persen dan Lain-lain pendapatan daerah yang sah dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 27,0 persen. Sedangkan secara proporsi, dana perimbangan merupakan penyumbang pendapatan terbesar dengan rata-rata sebesar 75,54 persen, Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar 13,39 persen, sedangkan PAD rata-rata menyumbang sekitar 11,08 persen.
Gambar 3.1
Perkembangan Proporsi PAD terhadap Total pendapatan Daerah, Tahu 2007 - 2010
Gambar 3.2
Perkembangan Dana Transfer Pusat Ke Kabupaten Karawang, Tahun 2006 - 2010
Kapasitas fiskal atau kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai sendiri kegiatan pemerintahan daerah yang dijalankan, tanpa tergantung bantuan dari luar, termasuk dari pemerintah pusat. Rasio kapasitas fiskal daerah adalah komponen PAD ditambah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (DBHPBP) serta Bagi Hasil Pajak dengan Provinsi terhadap nilai pendapatan total. Berdasarkan data tahun 2007 – 2010, nilai
rendah. Rendahnya kapasitas fiskal atau tingkat kemandirian daerah terlihat dari masih rendahnya kontribusi PAD dimana nilai rata-rata Tax effort (yang diukur berdasarkan rasio antara penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap PDRB non migas) sebesar 0,25 persen atau dapat dinilai kemampuan membayar pajak masyarakat karawang relatif masih kecil (kurang dari 1 persen).
Berdasarkan data realisasi belanja daerah tahun 2010 sebesar Rp. 1,548 Milyar, untuk alokasi belanja langsung (urusan wajib) maupun tidak langsung yang bersifat pelayanan kepada masyarakat (belanja bansos, subsidi, hibah dan bankeu desa) mencapai 51,13 persen, sedangkan belanja tidak langsung komponen gaji dan tunjangan mencapai 48,87 persen. Besaran belanja gaji dan tunjangan pegawai dimaksud sebagian besar terserap untuk gaji dan tunjangan tenaga pendidik dan kependidikan sebesar Rp. 509,2 Milyar atau sekitar 67,27 persen, sedangkan belanja gaji dan tunjangan aparatur pelayanan kesehatan sebesar Rp. 48,5 Milyar atau sekitar 6,41 persen. Belanja transfer kepada pemerintah desa juga mengalami trend peningkatan baik proporsi maupun pertumbuhan yang diarahkan untuk penguatan kemampuan keuangan desa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. Adapun untuk belanja langsung dialokasikan untuk melaksanakan 24 urusan wajib dan 6 urusan pilihan.
Tabel 3.4
Perkembangan Besaran dan Proporsi Belanja Daerah, 2009 - 2010
No Uraian 2009 2010 Proporsi
(Rp) (Rp) (%)
A Belanja Tidak Langsung
Belanja Gaji dan Tunjangan 638.718.703.305 756.962.438.960 48,87% Belanja Transfer kepada Pem. Desa 66.750.317.000 81.343.363.000 5,25%
B Belanja Langsung 520.352.781.876 662.793.458.824 42,79%
Belanja Fasilitas Dasar dan Administrasi Umum
(Fixedcost)
168.887.666.124 182.313.806.550 11,77%
TOTAL BELANJA 1.274.965.822.798 1.548.841.831.712
Berdasarkan data time series dengan menggunakan rumus eksponensial diperoleh rata-rata pertumbuhan PAD per tahun sebesar 13,5 persen sehingga diproyeksi pada akhir tahun 2015 realisasi PAD mencapai angka Rp. 383,8 Milyar sebagaimana diperlihatkan gambar 3.3. Sedangkan gambar 3.4 memperlihatkan performa APBD Kabupaten Karawang yang selalu dalam keadaan defisit. Pertumbuhan pendapatan hanya sebesar 15,72 persen, sedangkan pertumbuhan belanja mencapai 16,68 persen, yang mengakibatkan defisit APBD selalu muncul dalam trend cenderung semakin besar atau rata-rata sekitar 23,86 persen. Walaupun defisit dimaksud masih dapat ditutupi dengan penerimaan pembiayaan yang sebagian besar dikontribusi melalui penerimaan SilPa tahun sebelumnya, namun hal tersebut memperlihatkan pula lemahnya kinerja perencanaan sehingga berdampak pada
dalam penyusunan formulasi APBD yang lebih mengedepankan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah tanpa menghambat investasi, pengelolaan belanja yang efektif dan efisien berbasis pada kinerja riil serta pengembangan skema alternatif pembiayaan.
Gambar 3.3
Realisasi Pendapatan, Belanja dan Silpa APBD Tahun 2006 – 2010 (dalam milyaran rupiah)
3.1.2 NERACA DAERAH
Tabel 3.3
Perkembangan Neraca Daerah Kab. Karawang, 2006 - 2009
NO URAIAN 2006 2007 2008 2009 Growt h Rate (%) 1 ASET 1.688.322.931.709,83 1.919.236.053.438,00 1.948.185.471.426,00 2.293.281.035.592,75 0,11 1.1 ASET LANCAR 178.435.614.441,83 204.223.933.897,00 195.415.362.335,00 292.573.887.155,12 0,18 1.1.1 Kas 159.683.415.604,00 185.709.588.066,00 169.568.519.583,00 256.396.961.420,96 0,17 1.1.2 Piutang 1.584.344.260,00 645.803.634,00 2.637.824.774,00 1.101.566.835,00 ‐0,11
1.1.3 Piutang Lain ‐ Lain 9.892.728.223,23 6.861.075.235,00 7.802.081.368,00 19.447.785.564,86 0,25
1.1.4 Persedian 6.215.960.207,60 8.838.896.655,00 12.624.315.732,00 15.119.264.459,30 0,34 1.1.5 Biaya Dibayar Dimuka 1.059.166.147,00 2.168.570.307,00 2.782.620.878,00 508.308.875,00 ‐0,22 1.2 INVESTASI JANGKA PANJANG 24.257.719.692,00 36.418.340.734,00 37.511.980.312,00 40.693.309.083,22 0,19 1.2.1 Investasi Non Permanen 4.185.589.047,00 9.896.210.089,00 8.830.179.667,00 7.095.192.850,22 0,19 1.2.2 Investasi Permanen 20.072.130.645,00 26.522.130.645,00 28.681.800.645,00 33.598.116.233,00 0,19 1.3 ASET TETAP 1.468.250.211.602,00 1.662.284.997.786,00 1.699.036.460.729,00 1.913.285.509.771,41 0,09 1.3.1 Tanah 257.318.069.364,00 264.393.151.593,00 258.187.198.392,00 260.098.767.406,00 0,00 1.3.2 Peralatan dan Mesin 218.005.226.410,00 245.341.481.608,00 244.670.518.762,00 250.781.222.837,85 0,05 1.3.3 Gedung dan Bangunan 440.391.880.120,00 474.354.037.802,00 419.532.024.531,00 499.049.753.660,90 0,04
1.3.4 Jalan, Jaringan dan
Instalasi
508.534.070.553,00 633.593.491.128,00 766.122.616.604,00 883.090.563.249,92 0,20
1.3.5 Aset Tetap Lainnya 44.000.965.155,00 44.602.835.655,00 9.679.295.440,00 7.026.584.227,27 ‐0,46
1.3.6 Konstruksi Dalam
Pengerjaan
NO URAIAN 2006 2007 2008 2009 Growt h Rate (%) 1.4.1 Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah 0 588.835.550,00 704.415.550,00 634.615.050,00 0,04 1.4.2 Aset Tidak Berwujud 0 ‐ ‐ 71.000.000,00
1.4.3 Aset Lain ‐ lain 17.379.385.974,00 15.719.945.471,00 15.517.252.500,00 46.022.714.533,00 0,38
2 KEWAJIBAN 12.324.946.858,28 15.476.287.076,43 11.788.357.170,78 12.058.862.859,42 ‐0,01 2.1 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 7.535.619.895,64 7.573.047.009,43 6.437.356.826,56 8.923.546.633,42 0,06 2.1.1 Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) ‐ ‐ 3.057.960,00 ‐ 2.1.2 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang 789.129.841,76 303.988.591,43 360.055.852,56 77.995.545,92 ‐0,54 2.1.3 Utang Jangka Pendek Lainya 6.746.490.053,88 7.269.058.418,00 6.074.243.014,00 8.845.551.087,50 0,09 2.2 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 4.789.326.962,64 7.903.240.067,00 5.351.000.344,22 3.135.316.226,00 ‐0,13 2.2.1 Utang Dalam Negeri 120.055.610,64 3.951.620.033,50 2.675.500.172,11 1.567.658.113,00 1,35 2.2.2 JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 4.669.271.352,00 3.951.620.033,50 2.675.500.172,11 1.567.658.113,00 ‐0,30 3 EKUITAS DANA 1.675.997.984.851,55 1.907.711.386.395,07 1.939.072.614.427,33 2.282.789.830.846,33 0,11 3.1 EKUITAS DANA LANCAR 170.899.994.546,19 196.650.886.887,57 188.978.005.508,44 283.650.340.521,70 0,18 3.1.1 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 153.404.903.132,00 185.709.588.066,00 169.565.461.623,00 246.689.472.038,00 0,17 3.1.2 Cadangan Untuk Piutang 11.477.072.483,23 9.675.449.176,00 13.222.527.020,00 21.057.661.274,86 0,22 3.1.3 Cadangan Untuk Persediaan 6.215.960.207,60 8.838.896.655,00 12.624.315.732,00 15.119.264.459,30 0,34
3.1.4 Dana yang Harus
Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek (7.535.619.895,64) (7.573.047.009,43) (6.434.298.866,56) (8.923.546.633,42) 0,07 3.1.5 Pendapatan yang Ditangguhkan ‐ ‐ ‐ 9.707.489.382,96 3.1.6 Cadangan Biaya Dibayar Dimuka 1.059.166.147,00 ‐ ‐ ‐ 3.1.7 Cadangan Kas Dipemegang Kas 6.278.512.472,00 ‐ ‐ ‐ 3.2 EKUITAS DANA INVESTASI 1.505.097.990.305,36 1.711.060.499.507,50 1.750.094.608.918,89 1.999.139.490.324,63 0,10 3.2.1 Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang 24.257.719.692,00 36.418.340.734,00 37.511.980.312,00 40.693.309.083,22 0,19 3.2.2 Diinvestasiakan
Dalam Aset Tetap
1.468.250.211.602,00 1.662.284.997.786,00 1.699.036.460.729,00 1.913.285.509.771,41 0,09
3.2.3 Diinvestasikan
Dalam Aset Lainya
(Tidak Termasuk
Dana Cadangan)
17.379.385.974,00 16.308.781.021,00 16.221.668.050,00 46.728.329.583,00 0,39
3.2.4 Dana yang Harus
Disediakan Untuk
Pembanyaran
(4.789.326.962,64) (3.951.620.033,50) (2.675.500.172,11) (1.567.658.113,00) (0,36)
NO URAIAN 2006 2007 2008 2009
Growt
h Rate
(%)
JUMLAH KEWAJIBAN DAN
EKUITAS DANA
1.688.322.931.709,83 1.923.187.673.471,50 1.950.860.971.598,11 2.294.848.693.705,75 0,11
Tabel 3.4
Perkembangan Performa APBD Kabupaten Karawang Tahun 2007 - 2010
NO URAIAN 2007 2008 2009 2010
1. PENDAPATAN 1.080.857.138.242,00 1.208.462.961.386,00 1.341.053.546.674,00 1.599.426.320.427,00
1.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 121.414.897.648,00 131.785.038.542,00 133.730.718.100,00 186.949.234.601,00
1.1.1 Pajak Daerah 53.093.214.205,00 58.543.986.502,00 63.949.267.931,00 77.626.636.142,00
1.1.2 Retribusi Daerah 49.708.456.044,00 52.974.024.598,00 17.636.421.183,00 19.969.650.248,00
1.1.3 HslPeng. Kekayaan daerah yg
dipisahkan 1.466.159.328,00 1.995.947.570,00 2.679.111.584,00 3.618.249.854,00
1.1.4 Lain‐lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah 17.147.068.071,00 18.271.079.872,00 49.465.917.402,00 85.734.698.357,00
1.2 DANA PERIMBANGAN 840.659.182.647,00 924.076.915.725,00 1.025.587.475.224,00 1.121.038.108.120,00
1.2.1 Bagi Hasil Pajak 199.155.195.954,00 205.318.343.386,00 215.802.184.352,00 275.428.565.327,00
1.2.2 Bagi Hasil Bukan Pajak SDA 9.410.986.693,00 19.745.579.339,00 35.063.318.872,00 34.108.344.793,00
1.2.3 Dana Alokasi Umum (DAU) 622.602.000.000,00 689.521.993.000,00 722.098.972.000,00 714.360.098.000,00
1.2.4 Dana Alokasi Khusus (DAK) 9.491.000.000,00 9.491.000.000,00 52.623.000.000,00 97.141.100.000,00
1.3 LAIN‐LAIN PENDAPATAN
DAERAH YG SAH 118.783.057.947,00 152.601.007.119,00 181.735.353.350,00 291.438.977.706,00
1.3.1 Hibah 0,00 0,00 0,00 8.000.000.000,00
1.3.2 Dana Darurat 100.000.000,00 0,00 0,00 950.000.000,00
1.3.3 Dana Bagi Hasil dari Provinsi 69.788.900.000,00 86.326.500.000,00 97.365.500.000,00 106.791.943.306,00
1.3.4 Dana Penyesuaian Otonomi 5.975.065.200,00 6.560.457.800,00 22.641.225.000,00 100.540.868.400,00
Khusus
1.3.5 Dana bantuan Keuangan dari
Provinsi 42.919.092.747,00 59.714.049.319,00 61.728.628.350,00 75.156.166.000,00
1.3.7 Bagi hasil Retribusi dari Provinsi 0,00 0,00 0,00 0,00
BELANJA DAERAH 1.052.226.593.083,00 1.224.128.958.465,00 1.274.965.822.798,00 1.548.841.831.712,00
1 BELANJA TIDAK LANGSUNG 623.658.515.771,00 792.051.901.400,00 823.191.311.610,00 1.016.633.303.301,00
5.1.1 Belanja Pegawai 417.558.147.105,00 517.334.704.734,00 580.026.751.948,00 729.085.871.251,00
5.1.2 Belanja Bunga 0,00 0,00 0,00 0,00
5.1.3 Belanja Subsidi 8.784.456.000,00 14.215.864.000,00 43.371.534.300,00 42.626.170.700,00
5.1.4 Belanja Hibah 0,00 154.471.715.666,00 76.222.318.330,00 97.209.855.278,00
5.1.5 Belanja Bantuan Sosial 129.545.341.791,00 37.221.140.000,00 56.820.390.032,00 66.368.043.072,00
5.1.6 Belanja Bagi Hasil Kpd Pem.
Desa 67.770.570.875,00 0,00 31.726.317.000,00 25.852.586.000,00
5.1.7 Belanja Ban. Keuangan Kpd
Pem. Desa 0,00 68.808.477.000,00 35.024.000.000,00 55.490.777.000,00
5.1.8 Belanja Tidak Terduga 0,00 0,00 0,00 0,00
5.2 BELANJA LANGSUNG 428.568.077.312,00 432.077.057.065,00 451.774.511.188,00 532.208.528.411,00
5.2.1 BELANJA PEGAWAI 52.489.187.281,00 67.901.612.350,00 72.491.323.013,00 101.736.632.306,00
5.2.2 BELANJA BARANG DAN JASA 182.603.737.682,00 193.075.720.631,00 181.017.055.026,00 214.812.874.415,00
5.2.3 BELANJA MODAL 193.475.152.349,00 171.099.724.084,00 198.266.133.149,00 215.659.021.690,00
SURPLUS/DEFISIT 28.630.545.159 (15.665.997.079) 66.087.723.876 50.584.488.715
3.1 PENERIMAAN PEMBIAYAAN
DAERAH 156.884.803.055,00 186.833.446.152,00 184.903.461.098,00 246.880.425.861,00
NO URAIAN 2007 2008 2009 2010
3.1.6 Penerimaan Piutang Daerah 3.292.760.473,00 8.506.174.438,00 16.654.917.335,00 184.953.823,00
3.2 PENGELUARAN PEMBIAYAAN
DAERAH 7.250.000.000,00 2.956.610.000,00 4.302.683.983,00 13.548.653.410,00
3.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) 6.450.000.000,00 2.154.000.000,00 3.160.000.000,00 11.952.765.260,00
3.2.3 Pembayaran Pokok Utang 800.000.000,00 802.610.000,00 1.142.683.983,00 1.595.888.150,00
PEMBIAYAAN NETO 149.634.803.055,00 183.876.836.152,00 180.600.777.115,00 233.331.772.451,00
SILPA 178.265.348.214,00 168.210.839.073,00 246.688.500.991,00 283.916.261.166,00
3.1.3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Dengan pertimbangan tersebut di atas, maka mengharuskan Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang untuk berupaya meningkatkan PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah secara wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah perlu terus diupayakan melalui proses analisa dan perencanaan yang matang tanpa menimbulkan high cost economy terhadap perkembangan arus investasi.
Pelaksanaan Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, secara legal formal, dituangkan dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Selain itu, terdapat juga UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mengatur hal-hal mengenai kewenangan Pemerintah Daerah dalam melakukan pemungutan kepada masyarakat daerah guna mendapatkan sumber pendanaan bagi pembangunan daerah. Dalam prakteknya, instrumen utama yang digunakan adalah pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak (taxing power)
dan transfer ke daerah. UU Nomor 28 Tahun 2009 yang baru saja dikeluarkan dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2010 merupakan salah satu wujud upaya penguatan taxing power
daerah, yaitu dengan perluasan basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada, penambahan jenis pajak daerah dan retribusi daerah, peningkatan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah, dan pemberian diskresi penetapan tarif pajak.
3.1.3.1 Kerangka Kebijakan Pendapatan daerah melalui :
1. Optimalisasi pendapatan asli daerah yang diarahkan pada :
a. Penyesuaian berbagai peraturan dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
b. Pendekatan intensifikasi dalam bentuk perubahan regulasi guna peningkatan nilai objek pajak tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan