1.7. Permasalahan Dan Pertanyaan Penelitian
1.7.1. Permasalahan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka disusunlah permasalahan penelitian berikut: 1. Potensi pasar produk halal dunia sangat besar. Menurut data The Third Industrial
Master Plan 2006-2020 dari Ministry of International Trade and Industry (MITI)
halal mencapai US$666,7 miliar (Sihombing dalam Bisnis Indonesia, 20/01/2011:6). Menurut perhitungan majalah Time, nilai pasar makanan halal dunia itu setara dengan 16 persen dari total industri makanan di seluruh dunia (Sasongko dan Rachman, 2010).
2. Halal haramnya makanan merupakan permasalahan yang sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia yang 85%-nya muslim karena menyangkut masalah syariat agama. Kasus beredarnya produk nonhalal di era 80-an sangat mengejutkan masyarakat, banyak perusahaan dari skala nasional, menengah, industri kecil dan rumah tangga merugi dan gulung tikar karena diboikot konsumen muslim. Beredarnya produk nonhalal dipasaran yang mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak terus berulang beberapa kali hingga masa sekarang. Hal ini tidak hanya berdampak pada terguncangnya perekonomian nasional tetapi juga berpotensi menimbulkan gejolak yang berpengaruh pada aspek sosial dan politik.
3. Dari beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya hasil penelitian tentang perilaku konsumen terhadap pembelian produk berlabel halal yang saling bertolak belakang. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Menurut penelitian Triharja (2003), terdapat 87% masyarakat yang selalu menjadikan halal sebagai pertimbangan utama sebelum membeli produk, 4% tidak mempertimbangkan, dan 9% tidak tahu. Terdapat 63% masyarakat yang aktif mencari informasi halal ketika membeli, 23% tidak, dan 14% tidak tahu. 78% masyarakat membutuhkan adanya informasi dan daftar produk halal yang
up to date. Ada 91% masyarakat yang sangat setuju jika label halal wajib
dicantumkan pada kemasan produk dan sisanya 9% menyatakan setuju.
b. Menurut penelitian Fronteir (2001), terdapat 57.9% konsumen yang selalu memperhatikan label halal ketika membeli, 86% menginginkan pencatuman label halal diwajibkan, dan bila mendapatkan makanan yang tidak berlabel halal maka 66.2% konsumen memilih mencari alternatif lain sebagai pengganti, serta terdapat 40.6% konsumen yang bersedia membayar lebih mahal demi mendapatkan produk berlabel halal.
c. Menurut penelitian Kasali (1998), semakin penting rumor itu bagi subyek atau masyarakat, maka semakin besar pula pengaruh psikologinya, apalagi yang berkaitan dengan konsep keagamaan.
d. Data LPPOM MUI menunjukkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kehalalan produk meningkat dari hanya 70% di tahun 2009, naik menjadi sekitar 92.2% di tahun 2010 (Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim dalam Chalik dan Akbar, 2011).
Penelitian dan data di atas bertolak belakang dengan penelitian dan data berikut ini: a. Menurut penelitian Mashudi (2011) mengenai konstruksi hukum dan respon
masyarakat terhadap sertifikasi produk halal yang merupakan studi socio-legal terhadap peran LPPOM MUI dalam kaitannya dengan penerbitan sertifikat halal, menganalisis bahwa respon produsen dan konsumen terhadap sertifikasi halal rendah atau negatif. Faktor penyebab rendahnya respon produsen adalah karena peraturan yang tidak memberi kepastian, pengutamaan bisnis, dan lemahnya pengawasan. Faktor yang menyebabkan rendahnya respon konsumen adalah karena keyakinan agama, rendahnya kemampuan ekonomi, faktor budaya dan geografis, serta adanya kesenjangan antara kognitif, afektif, dan konatif yang menimbulkan adanya sikap prediposisi (mudah terpengaruh) dan pura-pura (pseudo respons) pada diri responden. Kesenjangan ini berdampak pula pada pemasang label/ logo halal yang tidak didasari kepemilikan sertifikat halal oleh pelaku usaha.
b. Menurut penelitian Sukmawati (2006), terdapat 55% konsumen yang menyatakan ingin menggunakan kosmetik berlabel halal, namun hanya 8% konsumen yang menyatakan bahwa label halal adalah faktor terpenting dalam pembelian dan perpindahan merek pada produk kosmetik. Pangsa pasar produk kosmetik halal di Indonesia diprediksi hanya sebesar 11,85%. Meskipun terdapat 56% konsumen yang menyadari adanya label halal pada produk kosmetik, namun hanya 24% responden yang benar-benar mengetahui bahwa kosmetik berpotensi mengandung komposisi bahan baku nonhalal.
c. Data The Third Industrial Master Plan 2006-2020, Ministry of International
Trade and Industry Malaysia menunjukkan bahwa daya beli penduduk muslim
Perancis yang hanya 3,554 juta jiwa lebih besar dibanding daya beli penduduk muslim Indonesia yang berjumlah 208,8 juta jiwa lebih, ditambah, penduduk muslim Malaysia, Filipina dan Thailand (Sihombing dalam Bisnis Indonesia, 20/01/2011:6).
d. Data LPPOM MUI menunjukkan bahwa sebanyak 50% produk impor bersertifikat halal MUI adalah produk asal China dan hanya 36,7% produk lokal yang beredar dipasaran dan telah teregistrasi, yang memiliki sertifikasi halal MUI. Dari 113.515 produk makanan teregistrasi Badan POM saja, yang memiliki sertifikat halal MUI hanya 41.695 produk (Lukmanul Hakim, Direktur LPPOM MUI dalam Sihombing, Bisnis Indonesia, 20/01/2011:6).
4. Dari satu sisi menurut Islam, kewajiban umat muslim mengkonsumsi produk halal adalah bagian dari sistem kehidupan manusia yang didasari oleh tiga komponen terpenting, yaitu akidah, akhlak dan syariah. Aspek akidah menekankan bahwa seorang muslim yang meyakini kebesaran Allah akan memilih mengkonsumsi produk halal demi mempertahankan hidupnya dengan batasan yang telah ditetapkan oleh Allah. Aspek akhlak menekankan bahwa seorang muslim yang terbiasa mengkonsumsi produk halal, dirinya akan terhindar dari akhlak madzmumah (tercela). Aspek syariah menekankan pada pelaksanaan ibadah dan muamalah (perilaku hablumminallah dan hablumminannas) yang baik dan benar dengan mengaplikasikan perilaku hanya mengkonsumsi produk yang halal dalam kehidupannya sehari-hari sebagai salah satu wujud ketaatannya dalam menjalankan syariat Islam secara sempurna/ kaaffah (Antonio, 2006:39). Hal ini sejalan dengan teori Tawhidi String Relation (TSR) yang memandang adanya proses interaktif, integratif dan pengalaman pembelajaran evolusioner yang timbul dari interrelasi antara hukum Islam yang berasal dari alQuran dan Hadits dengan sistem kehidupan manusia yang mengaitkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan di akhirat, dimana manusia yang memiliki perilaku yang baik akan tercermin dari pengetahuannya yang mendalam tentang syariat Islam dan upayanya dalam menjalankan syariat tersebut, termasuk dalam hal keputusannya untuk membeli dan mengkonsumsi produk halal yang semata-mata bertujuan untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat (Choudhury, 2006 dan Harahap, 2010).
5. Belum ada penelitian tentang perilaku konsumen yang menggunakan model perspektif Islam terutama konsep Islam sebagai suatu sistem kehidupan manusia yang sempurna (Islam as a comprehensive way of live) dan Tawhidi String Relation (TSR) metodologi. Dengan meneliti pengaruh lingkungan eksternal di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan formal, masyarakat, peer groups dan media massa,
terhadap kecenderungan membeli produk berlabel halal, yang dimediasi perilaku religius konsumen yang terdiri dari perilaku hablumminallah (perilaku keimanan dan ibadah) dan perilaku hablumminannas (perilaku muamalah), maka akan dapat dibuktikan secara empirik, lingkungan eksternal dan perilaku religius mana yang paling dominan mempengaruhi kecenderungan konsumen membeli produk berlabel halal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya sehubungan dengan upaya meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk berlabel halal.