• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Kandungan Bahan Baku Non Halal Pada Produk Makanan, Minuman, Obat-obatan dan Kosmetika

Dalam dokumen BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah (Halaman 31-34)

Terbatasnya pengetahuan konsumen mengenai komposisi produk yang berpotensi mengandung zat nonhalal diduga salah satunya karena tidak banyak media massa yang membahas informasi kehalalan produk. Hanya sedikit konsumen yang mengetahui adanya Jurnal Halal yang diterbitkan oleh LPPOM MUI setiap dua bulan sekali. Jurnal ini membahas berbagai informasi aktual mengenai produk halal dan memuat daftar produk yang telah memiliki sertifikat halal MUI. Daftar produk halal tersebut dibagi kedalam berbagai kelompok, yaitu: kelompok daging dan daging olahan; rumah potong hewan; ikan dan produk olahannya; susu, keju dan es krim; susu dan makanan bayi dan balita; bumbu-bumbu; flavor; minyak, lemak dan emulsi; mie instan; makanan ringan; bakery dan bahan roti; coklat dan permen; minuman dan bahan minuman; jamu; obat-obatan; vitamin; kosmetik; kelompok restoran; sayuran dan olahannya; roti dan kue; bakery ingredient; tepung-tepungan, pati-patian dan produk turunan atau olahannya; pemanis; ekstrak; selai dan jelly; pembentuk gel; protein dan asam amino; suplement; es dan es cream; enzim; bahan tambahan; telur; beras/ nasi; dan kelompok lain seperti tinta, kertas, kantong plastik, sabun pembersih, tissue, arang dan lain-lain (LPPOM MUI, 2011). Dari daftar tersebut ternyata banyak sekali produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetika serta produk lainnya seperti tinta, kertas, kantong plastik, tissue, dan arang, yang berpotensi mengandung bahan baku yang tidak halal.

Dewasa ini, perkembangan teknologi telah menciptakan aneka produk olahan yang kehalalannya patut diragukan. Karena lebih ekonomis, banyak produk olahan yang memanfaatkan bahan-bahan haram tersebut sebagai bahan baku, bahan tambahan ataupun bahan penolong. Karena bercampur aduk dengan bahan yang diragukan kehalalannya sebuah produk seringkali menjadi tidak jelas kehalalan dan keharamannyanya. Hal ini menyebabkan berbagai macam produk olahan menjadi syubhat dalam arti meragukan dan

tidak jelas status kehalalannya (Direktori LPPOM MUI, 2013). Menurut Girindra (2001), perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang makin pesat memungkinkan adanya zat tambahan dalam memproses makanan yang bukan cuma dapat dibuat secara kimiawi atau bioteknologi, tapi juga diekstraksi dari tanaman atau hewan. Disinilah kemungkinan terjadinya perubahan makanan dari halal menjadi tidak halal. Sukar bagi masyarakat membedakan produk mana yang halal dan mana yang haram, terutama jika bahan tambahan yang digunakan berasal dari ekstraksi hewan tak halal, apalagi jika makanan itu sudah mengalami proses setengah jadi ataupun sudah siap saji.

Dalam produk mi instan misalnya, menggunakan berbagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang berfungsi memperbaiki sifat dan bentuk pangan, antara lain pewarna, emulsifier, antikempal, pengawet dan penyedap rasa. Pewarna annatto yang larut air perlu diwaspadai karena biasanya menggunakan emulsifier yang dapat berasal dari turunan lemak nabati atau hewani. Untuk kestabilan selama penyimpanan, pewarna tertentu juga dilapisi bahan salut

gelatin yang berasal dari kulit atau tulang hewan. Antikepal digunakan pada tepung terigu

atau produk berbentuk pupuk/ powder untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Anti kepal yang perlu diwaspadai adalah edible bone phosphate (E-542) yang berasal dari tulang hewan, dan magnesium stearat (E-572) serta asam stearat (E-570) yang merupakan turunan lemak. Jika berasal dari hewani, harus dipastikan berasal dari hewan halal (bukan babi) yang disembelih sesuai syariat Islam. Pengawet dan penyedap rasa (flavor enhancer) yang perlu diwaspadai jika dibuat dengan proses fermentasi yang harus dipastikan media fermentasinya terbebas dari bahan haram dan najis (Haryono, Juli-Agustus 2010).

Untuk produk minuman berupa air mineral atau air putih dalam kemasan, tidak banyak konsumen yang menyadari bahwa air putih dalam kemasan berpotensi tidak halal. Hal ini sangat mungkin terjadi jika pada proses penyaringannya menggunakan media filter berupa arang aktif yang berpotensi terbuat dari tulang babi. Arang aktif dapat berasal dari tiga sumber, pertama dari tulang hewan, batu bara dan tanaman seperti tempurung kelapa, serbuk gergajian atau dari kayu (Roswiem, Juli-Agustus 2010). Arang aktif ini digunakan dalam proses penyaringan untuk menghilangkan warna dan bau pada air minum. Meskipun tidak banyak, namun penggunaan tulang babi sebagai arang aktif masih dilakukan karena harganya yang lebih murah. Jadi titik kritis keharamannya adalah tulang hewan. Menurut Wakil Direktur LPOM MUI, Ir.Muti Arintawati, apapun yang berasal dari tulang hewan

kalau untuk dikonsumsi harus dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih sesuai syariah, termasuk tulang di dalamnya (Mahmud, Juli-Agustus 2011).

Menurut Haryono (November-Desember 2009) air minum dalam kemasan juga perlu memperhatikan bahan plastik yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan tujuan penggunaannya. Jenis plastiknya sendiri ada yang berwarna hijau atau biru transparan dan ada pula yang tidak berwarna (putih transparan). Untuk air minum dalam kemasan botol plastik yang digunakan adalah jenis polyethelene terephthalate (PET), sedangkan untuk air minum dalam kemasan gelas plastik atau cup digunakan polypropylene (PP). Produk halal tidak hanya isinya saja namun juga kemasannya. Ada alasan mengapa bahan kemasan plastik perlu disertifikasi halal. Dalam pembuatannya, kemasan plastik sering ditambahkan bahan lain seperti stabilizer dan antioksidan untuk melindungi proses aging dan oksidasi sinar. Digunakan juga plasticizer untuk memperbaiki sifat plastik dan merubah melting

point, fillers untuk memperbaiki sifat mekanis dan terkadang permeabilitas terhadap gas.

Bahan lain juga seperti colorant, reinforcements sering juga ditambahkan dalam kemasan plastik. Bahan-bahan penolong tersebut serta monomer kemasan plastik terkadang mampu bermigrasi ke dalam produk makanan dan minuman yang dikemasnya sehingga ikut dikonsumsi oleh konsumen. Dengan demikian kehalalan kemasan plastik juga perlu dipertimbangkan (Cahyana, Maret-April 2011).

Untuk obat-obatan, menurut Roswiem dan Haryono (November-Desember 2009), bahan baku obat memiliki titik kritis kehalalan sebab bisa berasal dari bahan haram dan najis seperti babi, alkohol, organ manusia maupun bahan hewani lain yang tidak jelas asal usulnya. Untuk itu perlu dikritisi kehalalan obat dari bentuk sediaannya. Untuk obat berbentuk tablet perlu diwaspadai proses pembuatannya yang sering menggunakan bahan

magnesium stearat dan monogliserida yang berasal dari turunan lemak. Demikian juga

dengan obat berbentuk serbuk dan kaplet, penggunaan laktosa dalam proses produksi obat serbuk mesti diperhatikan dimana enzim hewani dari babi bisa saja berperan dalam pembuatan laktosa ini. Termasuk juga penggunaan bahan pewarna. Cangkang kapsulpun perlu diperhatikan sebab sebagian besar bahan yang digunakan dalam proses pembuatan kapsul mempergunakan gelatin yang bisa berasal dari tulang tulang maupun kulit hewan seperti sapi, ikan ataupun babi. Sedangkan obat berbentuk cair atau liquid juga mesti diperhatikan, terutama penggunaan etanol atau alkohol dan flavor (perasa) yang digunakan. Sebab bisa saja flavor tersebut terbuat dari bahan penyusun dan dan pelarut yang tidak jelas

kehalalannya. Untuk obat berbentuk pil dan injeksi (suntik) juga sama, bahan penyusun obat

gliserin yang bisa saja berasal dari turunan lemak, temasuk juga penggunaan bahan gelatin

yang banyak digunakan. Demikian pula halnya penggunaan protein darah manusia dalam obat injeksi. Etanol dan gliserin pun dapat digunakan dalam obat berbentuk suntik tersebut. Contoh lain insulin yang bisa berasal dari pankreas babi atau lovenox (obat injeksi anti penggumpalan darah) yang juga berasal dari babi. Oleh karena itu konsumen harus cermat dalam memilih obat-obatan yang tidak hanya ingin mendapatkan kesembuhan semata namun juga ridha dari Allah SWT.

Sedangkan untuk kosmetika seperti produk pasta gigi, dalam Dyah dkk. (2010) dijelaskan bahwa pasta gigi termasuk produk kosmetika dimana menurut Peraturan Menkes RI 1976 dan sesuai dengan Federal Food and Cosmetic Act 1958, pasta gigi adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, direkatkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan, atau disemprotkan, dimasukkan dalam, digunakan pada badan manusia dengan maksud membersihkan, memelihara, menambah daya tarik, dan mengubah rupa, dan tidak termasuk golongan obat. Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, mengatakan, titik kritis keharaman dalam pasta gigi itu terkandung dalam bahan-bahannya. Pasta gigi mengandung kalsium yang diperoleh dari tulang binatang, apakah babi atau binatang yang lain. Pasta gigi juga mengandung flavor yang bisa berasal dari alkohol, bisa juga dari zat sejenis binatang berang-berang. Agar masyarakat tidak salah memilih pasta gigi yang halal, terang Lukmanul, mereka harus membeli pasta gigi yang telah memiliki sertifikat atau tanda halal.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa hewan babi dan turunannya sangat populer digunakan sebagai bahan baku dalam produksi makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika serta produk gunaan lainnya seperti tas, sepatu, dompet, tinta dan lain-lain. Hal ini terutama karena harganya yang ekonomis. Untuk mengetahui produk-produk apa saja yang berpotensi mengandung bahan baku dari hewan babi dan turunannya dapat dilihat pada Gambar 1.3.

Dalam dokumen BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah (Halaman 31-34)

Dokumen terkait