• Tidak ada hasil yang ditemukan

APBD Kab/Kota

B. Permasalahan Persampahan

Beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam pengelolaan dan penanganan sampah Kabupaten Probolinggo, khususnya yang berkaitan dengan masalah pewadahan, permasalahan di TPS dan permasalahan pada pengangkutan  Permasalahan Pewadahan

Beberapa permasalahan yang sering dihadapi berkaitan dengan pewadahan adalah sebagai berikut:

a. Proses pemilahan sampah basah dan kering, di lokasi sumber sampah maupun TPS belum dilakukan, sehingga sampah tercampur dan menyulitkan proses pemilahan sampah di TPS. Hal ini disebabkan :

 Bak sampah yang ada tidak ada penyekat untuk .tempat sampah basah dan kering, sehingga ketika dibuang di bak sampah, sampah tersebut tidak dapat dibedakan karena berada dalam 1 bak sampah

 Kurangnya informasi terhadap manfaat pemilahan sampah kepada pelaku (ibu rumah tangga dan pembantu rumah tangga) serta informasi tentang kendala pengolahan sampah bila tidah dipilah

 Belum adanya kegiatan sosialisai untuk melakukan pemilahan sampah basah dan kering baik secara individu, keluarga, organisasi dan komunitas kawasan yang luas lagi, maupun belum diperlakukan ketentuan penyediaan pewadahan sampah yang memilah antara sampah basah dan kering. Sehingga masyarakat belum mengetahui pentingnya pemilahan sampah baik bagi lingkungan sekitar maupun petugas pengelola sampah.

 Adanya pemulung yang memungut sampah daur ulang di bak sampah yang tidak dipilah, akan membuat sampah makin bercampur karena sampah dibongkar dan diacak-acak untuk mencari sampah daur ulang. Hal ini mengakibatkan sampah berserakan dan mengundang kerumunan lalat serta bau yang tidak sedap. Apabila sampah sudah dipilah, maka sampah yang akan dibongkar pemulung hanyalah sampah kering.

b. Masih banyaknya masyarakat yang menggunakan model permanen, khususnya di permukiman perkotaan maupun di pedesaan Hal ini menyulitkan petugas pengumpul dalam memindahkan sampah ke gerobak serta membutuhkan waktu lebih banyak untuk memindahkan sampah ke gerobak.

c. Sebagian penduduk enggan untuk menyediakan pewadahan sampah yang layak sehingga penduduk membuang sampah di sembarang tempat, karena masih banyak lahan terbuka dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sampah akibat yang ditimbulkan oleh ulah masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Di beberapa lokasi masyarakat membuang sampah sembarangan tanpa diwadahi misalnya disekitar pasar dan terminal Sukapura masyarakat membuang sampah di pinggir sungai dan di desa Sukapura masyarakat membuang sampah di bahu jalan.

d. Pengumpulan sampah dari sumber sampah menuju TPS tidak semuanya dilakukan setiap hari sehingga mengakibatkan penumpukan pada wadah sampah yang berpotensi menimbulkan bau serta berserakan karena diacak-acak kucing, anjing dan tikus. Hal ini disebabkan terbatasnya tenaga pengumpul dan gerobak sampah sementara daerah yang dilayani cukup luas serta banyaknya volume sampah yang membuat pengumpul sampah harus membagi waktu pengangkutan.

Kurangnya informasi pewadahan dan cara untuk komposting di rumah tangga, sehingga tidak mengetahui cara membuat komposting dan desain wadah komposting, sehingga masyarakat enggan dan menganggap proses komposting menimbulkan bau dan kotor.

Permasalahan Pada TPS

Beberapa permasalahan yang sering dihadapi pada TPS adalah sebagai berikut :

1. Kapasitas beberapa TPS tidak mencukupi untuk menampung sampah dari area pelayanan dan kapasitas kontainer yang ada sering tidak mencukupi, sehingga banyak timbunan sampah di TPS dan sering meluber ke sekitarnya. Seperti di TPS Desa Leces dan sering meluber disekitarnya. Beberapa faktor yang menyebabkan kapasitas TPS tidak mencukupi antara lain :

a. Lokasi yang tidak tepat sehingga ada TPS yang kapasitasnya melebihi daya tampungnya tetapi ada TPS yang kosong karena lokasi jauh dari sumber sampah.

b. Jadwal pengangkutan ke TPA lebih awal dari kedatangan gerobak sehingga volume sampah di TPS berlebih karena sampah tidak terangkut ke TPA

c. Pengolahan skala TPS belum sepenuhnya dilaksanakan untuk mengurangi volume sampah

2. Tidak seluruh TPS mempunyai sarana container, sehingga untuk memindahkan sampah ke alat trasportasi tidak efisien. Akibatnya sampah sering meluber kesekitarnya dan berserakan karena diacak-acak oleh hewan dan pemulung. 3. Belum optimalnya koordinasi pelaksanaan program antara Badan Lingkungan

Hidup Bidang Kebersihan Kaupaten Probolinggo dan Dinas/Badan lain dalam menangani sampah di TPS sehingga mempengaruhi efisiensi penanganan masalah sampah.

4. Tipe TPS di Kabupaten Probolinggo sebagian besar terbuat dari pasangan batu bata dan tidak terpelihara sehingga ditumbuhi tanaman liar

5. Adanya TPS yang tidak berfungsi, hal ini dikarenakan lokasinya jauh dari permukiman, sehingga masyarakat enggan membuang sampah ke TPS tersebut, salah satu contoh dari kegaitan ini adalah pada Desa Sukapura Kecamatan Sukapura dan Desa Patokan Kecamatan Bantaran.

6. Adanya beberapa TPS yang sudah mengalami kerusakan, yang disebakan kurangnya perawatan. Salah satu TPS yang tidak terawat terdapat pada Desa Sukodadi Kecamatan Paiton.

7. Container di pasar Tonggas, sampahnya seringkali di bakar oleh petugas pasar, karena timbulannya yang besar dan tidak terangkut.

Permasalahan Saat Pengangkutan

Beberapa permasalahan sering dihadapi pada Pengangkutan adalah sebagai berikut :

a. Belum ada pembagian rute angkutan sampah yang teroganisir, selama ini tergantung pada sopir, hal ini mengakibatkan pengangkutan tidak efisien.

b. Jarak tempuh yang cukup jauh dan mendaki menyebabkan armada tidak dapat dioptimalkan. Misalnya armada yang seharusnya bisa beroperasi beberapa kali ritasi menjadi berkurang, karena jarak tempuh yang jauh dan membutuhkan banyak waktu untuk mencapai TPA ditambah kondisi jalan menanjak.

6.4.2.3. Target dan Sasaran

Target pada program persampahan di Kabupaten Probolinggo terbagi dalam 3 kurun waktu yaitu jangka pendek (tahunan), jangka menengah (3 tahunan) dan jangka panjang (5 tahunan), dimana uraian tiap kurun waktu adalah sebagai berikut :

1. Program Jangka Pendek (Tahunan)

 Optimalisasi Pengoperasian TPA dan Pembangunan TPA Baru Bila Dibutuhkan;  Pembangunan Prasarana Guna Mengamankan Lokasi Calon TPA Baru;

 Pembangunan Alat Pengolah Sampah (Incinerator) Skala Kecil Di Kelurahan-Kelurahan;

 Pengembangan Program 5R (Reuse, Recovery, Recycling, Revalue dan Reduce)

 Pengelolaan Sampah Terpadu Dengan Pendekatan Zero Waste

 Penyusunan Studi Paradigma Pengelolaan Super dari Cost Center menjadi Profil Center, dan

 Pelaksanaan Kerjasama Dengan Pihak Swasta, meliputi :  Pembangunan TPA dengan Sistem Sanitary Landfill

 Pembangunan Unit Pengolahan Sampah dengan Sistem Biomass Product.  Pembangunan unit pengolahan sampah dengan pirolisis.

 Pembangunan unit pengolahan sampah dengan system ATAD. 2. Program Jangka Menengah (3 Tahunan)

 Pelaksanaan progam pengelolaan persampahan yang bersinergi;

 Pembangunan calon TPA sebagai lokasi pengelolaan sampah dengan teknologi tinggi yang dilengkapi dengan Sistem Sanitary Landfill

 Pelaksanaan pemilahan sampah di dalam kawasan atau Tempat Penampungan Sementara (TPS)

 Pelaksanaan kerjasama dengan pihak swasta lainnva dengan penekanan pada teknologi yang mengolah sampah organik dan pembangunan unit-unit daur ulang;

 Pengembangan Korporasi Pengolahan Sampah Dan Kerjasama Antar Daerah Yang Lebih Luas;

 Pelaksanaan Evaluasi Masterplan Sampah Pada Daerah Yang Lebih luas (Misalnya : Gerbangkertasusila);

 Pelaksanaan kampanye massal Mengenai 5R (Reuse, Recovery, Recycling, Revalue dan Reduce) Kepada masyarakat

 Pelaksanaan evaluasi terhadap kelembagaan instansi teknis pengolahan sampah;

 Pelaksanaan Evaluasi Total terhadap Sistem pengelolaan retribusi sampah dalam rangka meningkatkan perolehan retribusi; dan

 Penyusunan dan sosialisasi perangkat-perangkat hokum yang berkaitan dengan tata cara pengelolaan kebersihan

3. Program Jangka Panjang (5 tahunan)

 Pendirian korporasi pengelola sampah antar daerah  Pelaksanaan pemilahan sampah sejak di sumber sampah  Pengembangan home composting di masyarakat

 Pengembangan Alat Pengolah Sampah (Incinerator) skala besar

 Pengembangan kampanye massal mengenai 5R (Reuse, Recovery, Recycling, Revalue dan Reduce) Kepada masyarakat

 Pelaksaaan Restrukuturasi Instansi Teknis Pengelola Sampah

 Pelaksanaan penegakkan hukum secara tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran kebersihan, dan

 Pencanangan “Kabupaten Bebas Masalah Sampah”

6.4.2.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Sistem Persampahan A. Pembangunan Prasarana TPA

Kriteria kegiatan infrastruktur tempat pemrosesan akhir sampah (TPA)  Lingkup Kegiatan :

 Peningkatan Kinerja TPA

- Pembuatan tanggul keliling TPA, jalan operasional, perbaikan saluran gas dan saluran drainase serta pembuatan sel dan lapisan bawah yang kedap sesuai persyaratan sanitary landfill;

- Pengadaan alat berat setelah TPA selesai dibangun dan pemerintah kab./kota bersedia mengoperasikan TPA secara sanitary landfill;

- Pembuatan jalan akses, pagar hijau (buffer zone) di sekeliling TPA, pembangunan pos pengendali, sumur pemantau, jembatan timbang, kantor operasional oleh pemerintah kab./kota ;

- Pemerintah kab./kota bersedia menyediakan dana untuk pengolahan sampah di TPA serta pengadaan alat angkut sampah (melalui MoU Pemda dan Dit. PPLP);

- TOT kepada Tim Pelatih Kabupaten/Kota untuk dapat melaksanakan pelatihan operator Instalasi Pengolahan Leachate (IPL);

- Sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan IPL;

- Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).

 Pengembangan TPA Regional

- Penyiapan MOU antara 2 (dua) atau lebih kab./kota untuk pengelolaan TPA bersama secara regional;

- Penetapan daerah yang akan memanfaatkan TPA, serta yang bersedia menyediakan lahan sebagai lokasi TPA regional;

- Penyerahan urusan pengelolaan teknis TPA regional kepada Provinsi, selanjutnya Pemerintah Provinsi membentuk unit pelaksana teknis pengelolaan TPA regional;

- Fasilitasi pembentukan unit pelaksana teknis pengelolaan TPA regional.  Pemanfaatan Prasarana dan Sarana yang ada

- Rehabilitasi Prasarana Sarana;

- Melengkapi Prasarana Sarana yang telah ada; - Peningkatan Operasi dan Pemeliharaan.

 Penyediaan Prasarana dan Sarana Persampahan atau Pembinaan Sistem Modul Persampahan:

- Pengadaan dan penambahan peralatan; - Pembangunan Prasarana dan sarana; - Pilot Project TPA.

 Piranti Lunak

- Peningkatan kelembagaan;

- Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta; - Penyiapan hukum dan kelembagaan.

 Kriteria Kesiapan

Kondisi dan persyaratan perolehan program tersebut di atas adalah:

1. Sudah memiliki RPIJM dan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

2. Adanya minat/permohonan dari Pemerintah Kabupaten/Kota untuk prasarana yang direncanakan;

3. Adanya dokumen Master Plan Persampahan/Studi/DED; 4. Adanya kesiapan lahan;

Dokumen terkait