Chart Title
3. Permasalahan dan Solusi
b) Dengan memperhatikan kebutuhkan dana pembangunan dan ketersediaan dananya maka pada tahun 2014 tidak disediakan alokasi dana untuk keperluan pengeluaran pembiayaan
Tabel 3.3. Anggaran dan Realisasi Penerimaan Pembiayaan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2014.
URAIAN ANGGARAN REALISASI %
PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 1.914.702.028.590,00 1.915.230.748.210,00 100.03
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya
1.914.702.028.590,00 1.914.730.748.210,00 100.03 Penerimaan Kembali Pemberian
Pinjaman
0,00 500.000.000,00 0.00
PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH 0,00 0,00 0,00
PEMBIAYAAN NETTO 1.914.702.028.590,00 1.915.230.748.210,00 100.03 Sumber : BPKAD Kab. Kukar Tahun 2014 (Un Audited BPK)
Anggaran Perubahan terkait Pembiayaan Daerah tahun 2014 secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penerimaan Pembiayaan berjumlah Rp.1.914.702.028.590,00 dengan realisasi sebesar Rp.1.915.230.748.210,00 atau mencapai 100,03 % dari plafon anggaran.
b. Tidak ada alokasi anggaran untuk Pengeluaran Pembiayaan.
c. Dari realisasi penerimaan pembiayaan dikurangi dengan realisasi pengeluaran pembiayaan pada ahir tahun diperoleh Pembiayaan Netto sebesar Rp.1.915.230.748.210,00.
3. Permasalahan dan Solusi
Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan belanja daerah tahun anggaran 2014 adalah :
a. Penganggaran.
1) Pada umumnya SKPD kurang memperhatikan pedoman penyusunan anggaran, RPJMD, Renstra serta RKPD dan Renja SKPD yang telah ditetapkan sehingga penyusunan RKA tidak sesuai dengan dokumen perencanaan.
Solusi yang dapat ditempuh dengan melakukan sosialisasi pedoman
penyusunan anggaran kegiatan khususnya kepada Kepala SKPD, Pejabat Struktural dan disertai dengan tenaga teknis inputing RKA serta menekankan agar dalam penyusunan RKA memperhatikan pedoman penyusunan anggaran beserta dokumen perencanaan (RPJM, Renstra serta RKPD dan Renja SKPD).
2) Penetapan PPTK oleh PA pada sebagian SKPD dilakukan setelah DPA disahkan, yang mengindikasikan penyusunan RKA tidak dilakukan oleh PPTK yang mengetahui kondisi teknis di lapangan dan tersentralisir pada salah satu sub bagian pada Sekretariat masing-masing SKPD yang berakibat RKA tidak sesuai kebutuhan lapangan.
Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Bupati Kutai Kartanegara TA 2014
Solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan menginstruksikan
penetapan PPTK oleh PA dilakukan setelah KUA dan PPAS disahkan oleh DPRD.
3) Kemampuan tim asistensi masih beragam dan belum memadai. Selain itu diantara tim assistensi masih terdapat anggota yang belum konsisten dengan pedoman peraturan yang berlaku sehingga menyebabkan RKA hasil asistensi masih rawan terdapat salah penganggaran, antara lain dalam hal penetapan target kinerja, ketidakkesesuaian antara judul dengan isi/sebaran belanja dalam RKA, kesesuaian antara judul kegiatan dan rekening belanja serta tidak tepatnya pembebanan rekening belanja.
Solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan meningkatkan
pemahaman tim asistensi dan menyamakan persepsi dalam pelaksanaan asistensi, serta penekanan terhadap beberapa hal yang harus dipatuhi oleh Tim Assistensi juga melakukan pemilihan yang tepat terhadap Tim Assistensi yang mempunyai kemampuan memadai dan komitmen yang konsisten terhadap perbaikan pola assistensi.
4) Masih terdapat penyusunan RKA SKPD dilakukan oleh staf yang kurang memahami tentang dokumen perencanaan (RPJM, Renstra, RKPD dan Renja SKPD) yang bersangkutan, sehingga RKA yang disusun tidak sepenuhnya mendukung pencapaian target kinerja dalam RPJM dan Renstra.
Solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan meminta kepala SKPD
dan jajarannya (Pejabat Struktural) agar mengendalikan penyusunan RKA sesuai dengan RPJM dan Renstra.
b. Pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran
1) Terdapat kecenderungan SKPD dalam merealisasikan anggaran kegiatan lebih terkonsentrasi pada belanja, dan kurang memperhatikan pencapaian target kinerja dan pelaporan kegiatan. Bahkan laporan sering terlambat dan format yang tidak sesuai juga pada saat pelaksanaan RAKORDAL banyak Kepala SKPD tidak hadir dan mewakilkan kepada pejabat struktural dibawahnya/staf, sehingga ketika ada diskusi, banyak pejabat/staf yang tidak menguasai tupoksi dan target kinerja kegiatannya bahkan tidak dapat mengambil keputusan ataupun koreksi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Solusi yang dapat ditempuh dengan meningkatkan kontrol PA/KPA
dalam pelaksanaan anggaran belanja. PA harus melakukan evaluasi setiap tahunnya terhadap kinerja KPA dan PPTK maupun Bendahara yang tidak sesuai dengan target kinerja yang akan dicapai, sehingga akan diketahui kelemahan/kesalahan dari masing-masing pihak untuk proses perbaikan/koreksi terhadap kinerja dari masing-masing pihak. Selain itu adalah dengan menekankan komitmen kepala SKPD dan jajarannya tentang tanggung jawab pelaporan dan memberikan sanksi kepada SKPD yang tidak menyelesaikan laporan pertanggungjawaban tepat waktu sesuai ketentuan. Kehadiran Kepala SKPD adalah wajib pada saat pelaksanaan RAKORDAL agar dapat menyelesaikan permasalahan dan lebih memahami tupoksinya. 2) Masih rendahnya kemampuan PPTK dalam merencanakan dan
Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Bupati Kutai Kartanegara TA 2014
mencapai target kinerja, sehingga realisasi belanja dan pelaksanaan kegiatan terpusat di akhir tahun, termasuk kegiatan pengadaan barang dan jasa.
Solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan meningkatkan kontrol
PA/KPA, dan mengarahkan PPTK agar membuat Kerangka Acuan Kerja (KAK) beserta Time Schedulnya.
3) Kurangnya pemahaman bendahara pengeluaran dan PPTK tentang pengendalian belanja sehingga masih terjadi permasalahan pada pelaksanaan anggaran kegiatan, antara lain seperti terjadi kesalahan beban rekening belanja, lambatnya permintaan GU karena uang menumpuk pada PPTK dalam bentuk panjar dan lambat dipertanggung-jawabkan.
Solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan meningkatkan
pemahaman bendahara pengeluaran dan PPTK dan meningkatkan kontrol PA/KPA.
4) Rendahnya disiplin PPTK dalam menyelesaikan dokumen pertanggunjawaban di akhir tahun sehingga menghambat penyusunan laporan pertanggungjawaban bendahara dan laporan keuangan SKPD.
Solusi yang dapat ditempuh dengan meningkatkan kontrol terhadap
PPTK, menyusun SOP dan melaksanakan secara tegas dan memberikan sanksi kepada PPTK yang tidak menyelesaikan pertanggungjawaban belanja sesuai waktu yang telah ditentukan. 5) Belum optimalnya pelaksanaan tahapan-tahapan dalam sistem
pengelolaan keuangan daerah, sehingga pencapaian kinerja belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Solusi yang dapat
ditempuh adalah dengan mematuhi tahapan-tahapan dimaksud
secara konsisten agar pencapaian kinerja dapat terealisir secara maksimal pada akhir tahun anggaran.
6) Petunjuk pelaksanaan dana DAK dari departemen/kementerian teknis yang bersangkutan terlambat sampai ke daerah sehingga kegiatan tidak dapat segera dilaksanakan.
Solusi yang dapat ditempuh adalah agar instansi yang bersangkutan
diminta untuk aktif dengan cara menghubungi departemen/kementerian teknis untuk mengurus petunjuk pelaksanaan tersebut sehingga kegiatan yang dianggarkan di dalam APBD telah sesuai dengan juklak yang ada.
7) Terdapat kegiatan yang dananya bersumber dari DAK yang tidak dapat dilaksanakan karena belum tersedianya dokumen Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). Pelaksanaan kegiatan harus mengacu dokumen Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).
Solusi yang dapat ditempuh adalah agar Kepala SKPD beserta
jajarannya aktif mengkoordinasikan dengan pihak terkait mengenai penyusunan dokumen IKK tersebut.
8) Terdapat kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan sehingga diusulkan untuk direalokasi kembali pada tahun selanjutnya, terutama kegiatan yang diusulkan pada APBD Perubahan. Solusi yang dapat
ditempuh adalah agar pada saat penyusunan anggaran/pengusulan
kegiatan yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan adalah antara waktu penetapan/pengesahan anggaran dengan waktu pelaksanaan kegiatan. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah jenis kegiatan yang diusulkan pada APBD Perubahan adalah kegiatan yang bukan
Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Bupati Kutai Kartanegara TA 2014
fisik ataupun penyusunan dokumen perencanaan yang anggarannya cukup besar sehingga memerlukan proses lelang dan proses pelaksanaan pekerjaan yang waktunya tidak tersedia lagi diakhir tahun.
9) Keterlambatan proses administrasi SK PA, KPA, PPTK dan Bendahara juga Pembentukan Panitia Lelang dan Pemeriksa Barang berpengaruh pada percepatan pelaksanaan kegiatan.
Solusi yang dapat ditempuh adalah sejak awal tahun menyiapkan
dan mempercepat proses administrasi SK PA, KPA, PPTK dan Bendahara serta mempercepat pembentukan panitia lelang dan panitia pemeriksa barang.
10) Perlu adanya koordinasi instansi terkait dan kehati-hatian dalam menyusun perencanaan kegiatan terutama kegiatan fisik bangunan diatas tanah milik masyarakat yang belum jelas status kepemilikannya.
Solusi yang dapat ditempuh adalah pembangunan fisik bangunan
harus diatas lahan milik Pemkab Kutai Kartanegara yang dibuktikan dengan dokumen kepemilikan tanah.
11) Perlu adanya identifikasi dari Bagian Administrasi Pertanahan terhadap pelaksanaan pengadaan tanah.
Solusi yang dapat ditempuh dengan menentukan kegiatan yang
prioritas atau kegiatan yang mempunyai permasalahan yang kompleks yang telah disesuaikan dengan harga tanah.
c. Pelaporan
1) Masih kurang optimalnya koordinasi dan pelaporan oleh dinas/instansi dalam melaksanakan kegiatan yang biayanya berasal dari dana dekonsentrasi, Tugas Pembantuan, Dana Alokasi Khusus dan Bantuan Keuangan Propinsi, termasuk juga APBD Kabupaten Kutai Kartanegara sehingga kemungkinan terjadi duplikasi anggaran kegiatan, kesalahan judul, lokasi dan target kinerja dan kode rekening pada RKA dinas/instansi yang berpengaruh pada target penyelesaian pelaksanaan kegiatan dan berpengaruh pada keterlambatan transfer dari pemerintah Pusat dan pemerintah provinsi.
Solusi yang dapat ditempuh adalah dinas/instansi agar melakukan koordinasi yang lebih intens dengan pemerintah pusat dan provinsi serta dengan Panitia Anggaran. Selain itu dinas/instansi agar menyampaikan laporan progress realisasi kegiatan fisik dan keuangan secara berkala, sehingga transfer dana dari pemerintah pusat (APBN) dan pemerintah provinsi dapat terealisasi sesuai pencapaian target kinerja fisik dan keuangan.
2) Belum jelasnya pembagian tugas dalam TAPD itu sendiri dalam pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan. Hal tersebut berpengaruh pada proses perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan, juga berpengaruh terhadap realisasi anggaran.
Solusi yang dapat ditempuh adalah untuk segera menyusun dan menetapkan regulasi yang mengatur tugas, fungsi dan tanggung jawab dari masing-masing TAPD sehingga proses perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi kegiatan pembangunan dapat optimal dilaksanakan,
Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Bupati Kutai Kartanegara TA 2014
3) Pemahaman dan komitmen untuk melaksanakan aturan perencanaan dan penganggaran oleh pihak legilatif dan eksekutif belum optimal sehingga menyebabkan tidak konsistennya antara dokumen perencanaan dan penganggaran.
Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan memberikan maupun
meningkatkan pemahaman dan komitmen sehingga tercipta kesepahaman dan konsistensi antara dokumen perencanaan dan pengganggaran.
4) Petunjuk pelaksanaan dana DAK dari departemen/ kementerian teknis yang bersangkutan terlambat sampai ke daerah sehingga kegiatan tidak dapat segera dilaksanakan. Solusi yang dapat
ditempuh adalah agar instansi yang bersangkutan diminta untuk
aktif dengan cara menghubungi departemen/kementerian teknis untuk mengurus petunjuk pelaksanaan tersebut sehingga kegiatan yang dianggarkan didalam APBD telah sesuai dengan juklak yang ada. 5) Terdapat kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan sehingga diusulkan untuk direalokasi kembali pada tahun selanjutnya, terutama kegiatan yang diusulkan pada APBD Perubahan.
Solusi yang dapat ditempuh adalah agar pada saat penyusunan anggaran/pengusulan kegiatan yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan adalah antara waktu penetapan/ pengesahan anggaran dengan waktu pelaksanaan kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan oleh SKPD belum tepat waktu sehingga target pencapaian kinerja kegiatan tidak dapat terealisir pada akhir tahun anggaran. Hal ini tidak ditindaklanjuti dengan menyampaikan laporan realisasi kegiatan sehingga kegiatan dimaksud tidak dapat direalokasi pada APBD tahun berikutnya. Solusinya agar SKPD melaksanakan kegiatan dan menyampaikan laporan tepat waktu.
Dalam pelaksanaan pembangunan sebagaimana yang dituangkan di dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2014 dan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 12 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Anggaran 2013, maka pelaksanaan program – program dan kegiatan pembangunan di Kabupaten Kutai Kartanegara yang termuat kedalam 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan sebagai berikut :