• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Tidak Tercapainya Target PAD

Dalam dokumen KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CI (Halaman 52-61)

BAB II STRATEGI KEBIJAKAN PENDAPATAN TAHUN 2015

2.3. Permasalahan Tidak Tercapainya Target PAD

Pendapatan asli daerah (PAD) merupakan semua penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Halim, 2004:96). Sektor pendapatan daerah memegang peranan yang sangat penting, karena melalui sektor ini dapat dilihat sejauh mana suatu daerah dapat membiayai kegiatan pemerintah dan pembangunan daerah.

Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mutlak harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah agar mampu untuk membiayai kebutuhannya sendiri, sehingga ketergantungan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat semakin berkurang dan pada akhirnya daerah dapat mandiri. Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah disebutkan bahwa pendapatan asli daerah bersumber dari:

1. Pajak Daerah

Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan UU nomor 28 tahun 2009 pajak kabupaten/kota dibagi menjadi beberapa sebagai berikut, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan,

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

2. Retribusi Daerah

Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah secara keseluruhan terdapat 30 jenis retribusi yang dapat dipungut oleh daerah yang dikelompokkan ke dalam 3 golongan retribusi, yaitu retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu: a. Retribusi Jasa Umum yaitu pelayanan yang disediakan atau diberikan

pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

b. Retribusi Jasa Usaha adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa usaha yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

c. Retribusi Perizinan Tertentu adalah pungutan daerah sebagai pembayarann atas pemberian izin tertentu yang khusus diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

3. Hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan

Hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 mengklasifikasikan jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik negara/BUMN dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta maupun kelompok masyarakat.

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 menjelaskan Pendapatan Asli Daerah yang sah, disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

dipisahkan. Pendapatan ini juga merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 mengklasifikasikan yang termasuk dalam pendapatan asli daerah yang sah meliputi:

1. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. 2. Jasa giro.

3. Pendapatan bunga.

4. Keuntungan adalah nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. 5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan,

pengadaaan barang ataupun jasa oleh pemerintah.

Berdasarkan data RKPD dan LKPJ Kota Cilegon tahun 2015 tentang target dan realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Cilegon tahun anggaran 2015 sebagaimana pada Tabel 2.1., terlihat bahwa target Pendapatan Asli Daerah Kota Cilegon tahun 2015 yang sebesar Rp 515.847.612.248,00 telah mampu dicapai

dengan tingkat ketercapaian sebesar 112,36 persen, atau realisasi PAD sebesar Rp 579.585.574.661,00.

Tabel 2.1

Rencana dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Cilegon Tahun Anggaran 2015

No. URAIAN ANGGARAN (Rp.) Keterangan Simbol

Rencana Realisasi (%) 1 Hasil Pajak Daerah 357.118.700.000,00 412.600.922.492,00 115,54 Tercapai 2 Hasil Retribusi Daerah 22.273.804.000,00 20.125.820.972,00 90,36 Akan Tercapai 3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 14.141.651.200,00 14.580.807.745,00 103,11 Tercapai 4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 122.313.457.048,00 132.278.023.452,00 108,15 Tercapai Jumlah 515.847.612.248,00 579.585.574.661,00 112,36 Tercapai

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

Jika dilihat dari komponen PAD, kecuali hasil retribusi daerah, terlihat bahwa seluruh target komponen PAD dapat tercapai, dengan tingkat ketercapaian sebesar 115,54 persen untuk komponen hasil pajak daerah, sebesar 103,11 persen untuk komponen hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebesar 108,15 persen. Realisasi retribusi daerah pada tahun 2015, hanya tercapai sebesar Rp 20.125.820.972,00 (90,36 persen), dari target retribusi daerah yang ditetapkan sebesar Rp 22.273.804.000,00.

Beberapa permasalahan yang dihadapi sehingga mempengaruhi pencapaian realisasi Retribusi Daerah pada tahun 2015, diantaranya adalah;

1. Pada Retribusi Pengedalian Menara Telekomunikasi berlaku sejak awal tahun anggaran 2015 berdasarkan perda nomor 9 tahun 2013 yang ditetapkan dan diundangkan pada tanggai 20 bulan September Tahun 2013 dalam hal teknis pemungutan retribusi pengendalian menara telekomunikasi ditentukan oleh Nilai Jual Objek Pajak Menara telekomunikasi. Pada tahun 2014 Pemerintah Kota Cilegon Baru diberikan Kewenangan untuk mengelola Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan Perda nomor 23 tahun 2013, maka untuk menetukan Nilai Jual Objek Pajak Menara Telekomunikasi melalui kegiatan pendataan belum dapat dilakukan pada tahun 2014 dan 2015, namun dalam perjalanannya pihak pengusaha Menara Telekomunikasi mengajukan yudicial review terkait dasar perhitungan pengenaan tarif kepada Mahkamah Konstitusi dan hasilnya dikabulkan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU- XXI/2014 sehingga atas dasar tersebut SKPD pengelola belum dapat melakukan pemungutan.

2. Masih adanya kantung-kantung parkir yang ada di sekitar wilayah terminal sehingga banyak bus-bus lintas provinsi yang tidak masuk ke Terminal Terpadu Merak sehingga retribusinya tidak dapat dipungut masih adanya oknum penerima jasa terminal tidak mengindahkan ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Daerah, terdapat angkutan dalam kota dan lintas kabupaten/kota tidak masuk ke wilayah terminal yang sudah ditentukan, Terminal Seruni yang sudah diberlakukan belum dapat dilakukan pengelolaan secara optimal mengingat

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

perijinan terminal masih tipe C sehingga masih dikeluhkan oleh para pengguna jasa terutama bus-bus dan belum dapat dilakukan pemungutan secara efektif. Perlu disampaikan bahwa pada tahun 2015 berlangsung kegiatan Rehabilitasi Gedung Terminal Terpadu Merak yang mengakibatkan berkurangnya lahan untuk dijadikan tempat komersil, serta adanya pengaruh atas pesatnya perkembangan angkutan Travel mengakibatkan berkurangnya mobilitas kendaraan Bus Reguler AKAP di Terminal Terpadu Merak.

3. Pada Retribusi Pelayanan Kesehatan terdapat permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Kota Cilegon yakni adanya Program BPJS Kesehatan yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat, dan Program Pro Rakyat berupa bantuan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu.

4. Pada Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan mengalami permasalahan teknis pemungutan hal tersebut disebabkan karena pemerintah daerah belum memiliki sarana keplabuhanan sehingga pemerintah Kota Cilegon belum dapat meberikan pelayanan kepada pengguna jasa keplabuhanan sesuai amanat yang tertuang dalam Perda nomor 5 tahun 2013, belum ada kejelasan dengan Objek Retribusi Kepelabuhanan, maka Dinas Perhubungan pada Tahun 2015 melakukan revisi Perda sehingga pemungutan Retribusi Pelayanan Keplabuhanan tidak dapat dilakukan.

5. Pada Retribusi Pemakaiaan Kekayaan Daerah Kota Cilegon bahwa yang menjadi Objek Retribusi sesuai amanat Perda nomor 10 tahun 2013 adalah barang atau kekayaan daerah yang disewakan atau dimanfaatkan oleh Wajib Retribusi namun potensi pemanfaatan barang atau kekayaan daerah yang terjadi pada tahun 2015 yang dimanfaatkan atau disewa oleh wajib retribusi sangat relatif sedikit, dari sekian objek retribusi Pemakaiaan kekayaan daerah yang memiliki potensi untuk dimanfatkan oleh wajib retribusi hanya dari sewa alat berat namun demikian kondisi alat berat yang dimiliki oleh pemerintah Kota Cilegon nilai ekonomisnya sudah menglami penyusutan atau dalam kondisi kurang baik.

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

6. Pada Retribusi Izin Mendirikan Bangunan permasalahan yang dihadapi diantaranya kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya membuat IMB, Kurangnya Investor yang masuk ke Kota Cilegon untuk bangunan industri dan Kurangnya pemahaman permohon tentang mekanisme pengurusan IMB. 7. Pada Retribusi Trayek permasalahan yang dihadapi diantaranya kurangnya

kesadaran pemilik kendaraan angkutan kota (wajib retribusi) serta belum optimalnya pengawasan dan penertiban terkait dengan tidak anda kewenangan untuk melaksanakan pengawasan dan penertiban dijalan.

Sementara itu, beberapa permasalahan dapat menjadi kendala dalam pencapaian komponen realisasi pendapatan asli daerah ke depan, diantaranya : A. Pencapaian Pajak Daerah, disebabkan:

1. Ketaatan dan kesadaran wajib pajak daerah belum optimal.

2. Penatausahaan administrasi perpajakan daerah yang belum optimal.

3. Sumber Daya manusia (SDM), perangkat penunjang/pendukung yang belum optimal.

4. Tingkat kesadaran masyarakat dalam pemahaman perpajakan serta kesadaran wajib pajak dalam melakukan pembayaran pajak derah masih belum optimal. 5. Belum optimalnya kepatuhan wajib pajak dari sisi administrasi perpajakan

daerah.

6. Masih terdapat wajib pajak yang menunggak pembayaran pajak daerah. 7. Pemahaman pegawai terhadap sistem, prosedur, dan pelayanan perpajakan

daerah yang belum optimal.

B.Pencapaian Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Pengelolaan Hasil Kekayaan Daerah, bersumber dari permasalahan yang dihadapi oleh Perusahaan Milik Daerah PDAM Cilegon Mandiri, yakni Keterbatasan suber air baku.

C.Pencapaian Hasil Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Pada Komponen Pendapatan Daerah dari sektor Lain-lain, bersumber dari; tingkat kesadaran pemilik kios untuk membayar kewajiban sewa cicilan kios sangat rendah yang mencapai 54,67%, dan realisasi pendapatan BLUD-RSUD yang hanya mencapai

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

91,74%, karena masih adanya pihak perusahaan / instansi / lembaga yang melakukan kerjasama dengan BLUD-RSUD yang belum memenuhi kewajibannya sehingga menimbulkan piutang.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dimungkinkan timbul sebagaimana tersebut di atas, dapat dilakukan beberapa upaya sebagai berikut: A. Hasil Pajak Daerah

1. Melakukan soisalisasi, penyuluhan, pemberian penghargaan untuk memotivasi dan meningkatkan kesadaran membayar pajak daerah.

2. Melakukan pendataan guna memutakhirkan basis data wajib pajak daerah 3. Meningkatkan mutu pelayanan pajak daerah melalui sistem informasi pajak daerah berbasis komputer (elektronik), petugas dinas lapangan (delevery service) dan pembentukan UPTD Pajak Daerah agar pelayanan dapat lebih cepat, tepat dan akurat.

4. Melakukan uji kepatuhan guna mengevaluasi dan meningkatkan kepatuhan administrasi perpajakan daerah.

5. Melakukan penagihan pajak daerah secara rutin dan berkesinambungan serta kerjasama dengan kejaksaan negeri cilegon dalam melakukan penagihan tunggakan pajak daerah.

6. Meningkatkan wawasan pengetahuan para pegawai terhadap sisdur dan pelayanan perpajakan daerah melalui bintek, diklat, dan pelatihan- pelatihan sejenisnya.

7. Meningkatkan pengawasan terhadap wajib pajak dalam mengoptimalkan penerimaan pendapatan pajak daerah.

B. Hasil Retribusi Daerah

Memperhatikan permasalahan yang dihadapi terkait pencapaiaan realisasi retribusi daerah Pemerintah Kota Cilegon mengupayakan hal-hal sebagai berikut:

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

1. Keterkaitan permasalahan pada realisasi retribusi Menara Telekomunikasi Pemerintah Kota Cilegon dalam hal ini SKPD Terkait yakni Dinas Perhubungan Kota Cilegon dan Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Cilegon berupaya segera melakukan pendataan terhadap objek dan wajib retribusi menara telekomunikasi yang berada di wilayah kota cilegon untuk ditetapkan NJOP Menara Telekomunikasi sehingga dikemudian pemungutan retribusi menara telekomunikasi dapat dilakukan.

2. Upaya penyelesaiaan masalah terkait retribusi terminal Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Perhubungan melakukan kegiatan-kegiatan penunjang berkaitan upaya agar bus-bus lintas antar provinsi masuk ke terminal perlu dilakukan penertiban agar seluruh bus yang masuk wilayah Kota Cilegon dapat masuk ke Terminal Terpadu Merak dan Petugas lapangan dalam hal ini DLLAJ harus mengendalikan dan mengarahkan angkutan dalam kota dan lintas kabupaten/kota untuk memasuki terminal yang sudah ditentukan. Serta Meningkatkan sarana dan prasarana yang ada di Terminal Seruni agar dapat ditingkatkan menjadi tipe B dan segera merevisi peraturan-peraturan mengenai retribusi terminal agar pemungutan retribusi di terminal seruni dapat dilakukan secara optimal. 3. Guna mengatasi permasalahan teknis pemungutan pada retribusi

Keplabuhanan pemerintah kota cilegon mendorong untuk segera membangun pelabuhan milik pemerintah kota cilegon. Serta mengajukan usulan perubahan Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2013 tentang Retribusi Pelayanan Keplabuhanan khususnya pada objek retribusi sedapat mungkin bisa diterapakan pemungutannya. Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Perhubungan melakukan koordinasi dan sosialisasi kepada seluruh stake holder dan para calon pengguna jasa pelayanan kepelabuhanan.

4. Dalam rangka upaya mengatasi permasalahan dan upaya peningkatan penerimaan dari sektor retribusi Pemakaiaan Kekayaan Barang Daerah Pemerintah Kota Cilegon melalui SKPD terkait melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa sesuai amanat Perda 10 tahun 2013 tentang retribusi Pemakaiaan Kekayaan Barang Daerah dapat dimanfaatkan oleh

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

masyarakat, serta meningkatkan kondisi barang daerah/kekayaan daerah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khusus perlu adanya pengadaan Unit baru alat-alat berat.

5. Guna meningkatkan penerimaan dan upaya penyelesaiaan masalah- masalah terkait Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diantaranya mengadakan sosialisasi tentang pentingnya membuat IMB ditingkat Kecamatan yaitu Kecamatan Citangkil dan Kecamatan Ciwandan serta melakukan kerjasama dengan BPTPM untuk mengundang Investor agar berinvestasi di Kota Cilegon.

6. Guna meningkatkan penerimaan dan upaya penyelesaiaan masalah- masalah terkait Retribusi Trayek Dinas Perhubungan Kota Cilegon melaksanakan sosialisasi dan penyebaran informasi secara intensif kepada pemilik angkutan umum, serta meningkatkan koordinasi dengan aparatur terkait untuk melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum dijalan. C. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Solusi yang dilakukan oleh Perusahaan Milik Daerah diantaranya:

1. Mencari Alternatif sumber air baku dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kepada masyarakat.

2. Secara umum penerimaan dari Laba Perusahaan Milik Daerah capaian sudah diatas 100% sesuai target yang ditetapkan namun khusnya pada Laba BPRS tercapai 99,50% atau sebesar Rp. 1.457.527.726,- dari target sebesar Rp. 1.464.851.985,- namun hal tersebut merupakan hasil dari perhitungan konsultan audit independen.

-

D. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Guna meningkatkan penerimaan pendapatan dari sektor Lain- lain pendapatan Asli daerah yang Sah khususnya sektor lain- lain PAD yang Sah Cicilan Kios serta untuk mengatasi masalah terkait masih rendahnya kesadaran pemilik kios dalam membayar kewajiban cicilan kios pemerintah kota cilegon melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi melakukan pendekatan baik secara kekeluargaan maupun pendekatan secara hukum agar para pemilik kios dapat memenuhi kewajibannya.

KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CILEGON TAHUN 2015

2.4. Permasalahan Tidak Tercapainya Target Program Bantuan dari Pusat

Dalam dokumen KAJIAN REKOMENDASI ATAS LKPJ WALIKOTA CI (Halaman 52-61)

Dokumen terkait