V. GAMBARAN UMUM
5.5. Permasalahan Yang Dihadapi
Berdasarkan perhitungan yang dilansif WWF Bank Dunia, 78 persen kayu yang beredar dari hutan Indonesia berasal dari hasil praktek illegal logging. Illegal logging berdasarkan terminologi bahasa berasal dari dua suku kata, yaitu illegal yang berarti praktek tidak sah dan logging yang berarti pembalakan atau pemanenan kayu. Dari aspek simplikasi semantik illegal logging sering diartikan sebagai praktek perdagangan liar. Sedangkan dari aspek integratif, illegal logging diartikan sebagai praktek pemanenan kayu beserta proses-prosesnya secara tidak
sah atau tidak mengikuti prosedur dan tata cara yang telah ditetapkan. Berdasarkan pemahaman dari definisi-definisi tersebut, dapat didefinisikan illegal logging sebagai sebuah praktek eksploitasi hasil hutan berupa kayu dari kawasan hutan negara melalui aktivitas penebangan pohon atau pemanfaatan dan peredaran kayu yang berasal dari hasil tebangan secara tidak sah.
Evaluasi akhir tahun 2002 Direktorat Perlindungan Hutan tentang program pemberantasan illegal logging, total luas hutan yang dijarah mencapai 50,7 juta hektar per tahun. Setara dengan 51,2 juta kali luas lapangan sepakbola, dengan perkiraan kerugian negara Rp 30,42 trilyun per tahun. Secara makro, sedikitnya ada enam faktor penyebab yang mendorong terjadinya praktek illegal logging, yaitu (1) krisis ekonomi, (2) perubahan tatanan politik, (3) lemahnya koordinasi antara aparat penegak hukum (4) adanya kolusi, korupsi dan nepotisme (5) lemahnya sistem pengamanan hutan dan pengamanan hasil hutan, serta (6) harga kayu hasil tebangan liar yang lebih murah. Negara-negara utama tujuan penyelundupan kayu adalah negara yang memiliki kapasitas industri pengolahan kayu yang besar sementara sumber daya hutannya semakin menipis ataupun tidak ada sama sekali. Adapun negara yang terindikasi menampung hasil selundupan kayu tersebut adalah Malaysia, Singapura, China dan India.
5.5.2. Deforestasi dan Degradasi
Indonesia merupakan negara terbesar ketiga setelah Brazil dan Zaire yang memiliki hutan tropik yang merupakan salah satu pusat mega biodiversiti di dunia. Sementara di sisi lain fakta menunjukkan kondisi sumberdaya hutan
Indonesia sangat mengkhawatirkan. Laju deforestasi dan degradasi hutan telah mencapai 2,1 juta hektar per tahun. Deforestasi berarti suatu pengurangan secara drastis daya dukung hutan lestari pada suatu wilayah.
Permasalahan yang terakumulasi dari berbagai problematika yang melingkupi sektor ini adalah penebangan liar (illegal logging), kebakaran hutan (forest fire) dan perambahan hutan (encroachment) serta okupasi hutan. Namun kondisi ini juga dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi, kesenjangan permintaan industri untuk pasokan kayu bulat yang tinggi, rendahnya penegakan hukum, pengelolaan hutan yang birokratik dan sentralistik. Data menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2004 kawasan hutan yang terdegradasi telah mencapai luas 59,17 juta ha dengan laju kerusakan 2,84 juta/ha/tahun, sedangkan lahan kritis di luar kawasan hutan tercatat mencapai 41,47 juta hektar (Departemen Kehutanan, 2006).
5.5.3. Pengadaan Bahan baku
Pengadaan bahan baku merupakan faktor penting dalam menentukan daya saing. Industri woodworking Indonesia hingga saat ini masih menggunakan sebagian bahan bakunya dari hutan alam. Pasokan kayu dari hutan alam sudah semakin menurun baik dari segi volume maupun kualitas, dan harganya menjadi sangat mahal. Sehubungan dengan hal tersebut, maka harga kayu menjadi faktor kunci dalam menentukan daya saing industri woodworking Indonesia, karena bahan baku menempati sekitar 60 persen dari biaya produksi. Ketidakpastian bahan baku semakin dipersulit dengan adanya kebijakan pemerintah yang
membatasi tingkat produksi hutan produksi. Ketentuan itu diatur dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 19/Kpts-VI/2003, tentang Penetapan Jatah Produksi Hasil Hutan Kayu secara Nasional untuk Periode Tahun 2003 yang berasal dari Pemanfaatan Hutan Alam Produksi. SK itu ditetapkan tanggal 10 Januari 2003. Departemen Kehutanan telah membatasi tingkat produksi hutan produksi menjadi 6,89 juta meter kubik pada tahun 2003, sedangkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu mencapai 44,8 juta meter kubik per tahun.
Berdasarkan data Eksportir Terdaftar Produk Industri Kehutanan (ETPIK) tahun 2006, dari 2000 ETPIK woodworking hanya sekitar 900 ETPIK yang aktif melakukan ekspor. Sebagian lain menutup pabriknya secara permanen maupun sementara karena semakin terbatasnya pasokan bahan baku. Artinya industri woodworking yang bertahan hingga saat ini adalah industri yang mempunyai sumber pasokan bahan baku yang tetap dan mampu mencari alternatif pasokan bahan baku (hutan, hak, HTI, perkebunan dan impor). Saat ini sekitar 40 persen dari industri woodworking telah memanfaatkan kayu hutan non alam. Hal ini diperkirakan akan terus meningkat apabila pemerintah memberi kemudahan dalam pemanfaatan dan tata usaha kayu non hutan alam, menyediakan dukungan infrastruktur dan fasilitasi, dan menyelesaikan persoalan multitafsir kebijakan di lapangan, yang pada akhirnya bermuara pada ekonomi biaya tinggi.
5.5.4. Rendahnya Teknologi dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Sebagian dari industri woodworking Indonesia khususnya industri berskala besar secara teknis telah maju dan berdaya saing dengan dukungan penggunaan
mesin-mesin modern dan perbaikan metode produksinya. Namun demikian, masih banyak industri yang perlu menyesuaikan diri, baik dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia maupun terhadap perkembangan baru khususnya dalam teknologi informasi, inovasi teknologi baru dan design produk. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dapat menjadi suatu keuntungan bagi Industri woodworking terutama dalam hal biaya tenaga kerja. Namun demikian faktor lain yaitu produktivitas tenaga kerja yang terampil sangat berperan dalam menentukan daya saing industri woodworking.
Penguasaan teknologi baru seperti CAD (computer aided design), CAM (computer aided manufacturing), dan CNC (computer numerical control) telah membawa perubahan besar terhadap organisasi dan metode produksi yang diterapkan di negara maju seperti Jepang dan negara-negara Eropa. Dengan demikian produksi, otomatisasi dan modernisasi menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan industri woodworking di masa depan. Industri woodworking Indonesia memiliki peluang yang besar untuk tetap memiliki daya saing tinggi dan menjadi terkemuka di tingkat internasional melalui keahlian tradisional, keahlian teknologi, serta inovasi design dan kualitas produk. Kebijakan ini dapat ditingkatkan melalui konsentrasi pada keahlian, training, dan mengadopsi teknik-teknik operasi yang baru.