III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.2. Permintaan dan Penawaran dalam Pembangunan Ekonomi
Pada periode tertentu jumlah seluruh permintaan terhadap barang dan jasa disuatu daerah dan negara akan mencapai jumlah tertentu. Jumlah permintaan tersebut akan digunakan oleh sektor produksi dalam rangka kegiatan produksinya yang disebut sebagai permintaan antara. Permintaan itu digunakan untuk konsumsi akhir domestik dan selebihnya digunakan untuk ekspor (baik luar negeri maupun Provinsi lain). Dan apabila dilihat dari sisi penawaran barang dan jasa yang ditawarkan, berasal dari produksi domestik daerah tersebut atau yang berasal dari luar daerah bahkan dari luar negeri (BPS, 2008).
Berdasarkan permintaan dan penawaran pada setiap sektor dapat diketahui sektor mana yang merupakan produsen utama untuk suatu produk tertentu. Misalkan berdasarkan nilai outputnya, produsen utama adalah sektor pertanian selanjutnya dapat ditelusuri sektor mana yang mengalami surplus yang tinggi ataupun yang paling rendah yang dinilai berdasarkan selisih antara jumlah permintaan dan penawaran
3.2.1. Output
Output pengertiannya dalam Tabel Input-Output adalah output domestik yaitu nilai dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi di wilayah dalam negeri tanpa membedakan asal usul pelaku produksinya. Dalam hal ini pelaku produksi dapat berupa perusahaan dan perorangan dari dalam negeri atau perusahaan asing (BPS, 2008a).
Bagi unit usaha yang produksinya berupa barang maka output merupakan hasil perkalian kuantitas produksi yang bersangkutan dengan harga produsen perunit barang. Sedangkan bagi unit usaha yang bergerak di bidang jasa, maka output merupakan nilai persamaan dari jasa yang diberikan kepada pihak lain.
Output dinilai atas dasar harga produsen (harga pabrik), yaitu harga yang diterima oleh produsen. Penggunaan harga enceran atau harga pasar tidak tepat digunakan dalam melihat perkembangan nilai output dalam Tabel Input-Ouput, dikarenakan dalam harga pasar didalamnya sudah termasuk margin distribusi yang seharusnya menjadi output dari sektor perdagangan dan pengangkutan. Sementara itu, output untuk kegiatan jasa merupakan nilai dari jasa yang diberikan pihak lain. Dalam kerangka model Input-Output, output biasanya dinotasikan dengan X (Xiatau Xj).
3.2.2. Struktur Nilai Tambah
Input primer atau lebih dikenal dengan nilai tambah merupakan balas jasa yang diciptakan kepada faktor-faktor produksi yang berperan dalam proses produksi. Balas jasa tersebut misalnya berupa upah dan gaji karyawan, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak lansung. Upah dan gaji merupakan balas jasa yang diberikan kepada buruh dan karyawan baik dalam bentuk uang maupun barang, termasuk dalam upah dan gaji adalah semua tunjangan dan bonus yang diberikan perusahaan kepada pekerja. Semua pendapatan pekerja tersebut masih dalam bentuk bruto sebelum dipotong pajak penghasilan (BPS, 2008a).
Surplus usaha mencakup sewa properti (tanah, hak cipta/ patent), bunga netto (bunga yang diterima dikurangi bunga yang dibayar) dan keuntungan perusahaan. Keuntungan perusahaan dalam bentuk bruto adalah keuntungan sebelum dibagikan kepada pemilik saham berupa dividen dan sebelum dipotong pajak perseroan. Penyusutan merupakan nilai penyisihan keuntungan perusahaan untuk akumulasi pengganti barang modal yang habis dipakai. Sedangkan Pajak Tak Langsung merupakan pajak yang dikenakan pemerintah untuk setiap transaksi penjualan yang dilakukan oleh perusahaan seperti pajak pertambahan nilai (PPN). Dalam model Input-Output, nilai tambah biasanya dinotasikan Vj,dan untuk setiap komponennya digunakan notasi h. Artinya Vhj merupakan nilai tambah yang diciptakan di sektor j untuk komponen h.
3.2.3. Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi 3.2.3.1. Keterkaitan ke Depan
Keterkaitan ke depan (forward linkage) antar sektor ekonomi akan digunakan sebagai dasar perumusan strategi pembangunan ekonomi dengan melihat keterkaitan antar sektor dalam suatu perekonomian. Keterkaitan biasanya
dirumuskan menjadi keterkaitan langsung ke depan (direct forward linkage) dan keterkaitan tidak langsung ke depan (indirect forward linkage). Keterkaitan ke depan menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam penjualan ouput yang dihasilkan (Daryanto dan Yundy, 2010a).
3.2.3.2. Keterkaitan ke Belakang
Keterkaitan ke belakang (backward linkage) antar sektor ekonomi dipergunakan untuk perumusan strategi pembangunan ekonomi lain, dengan melihat keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkage) dan keterkaitan tidak langsung ke belakang (indirect backward linkage). Keterkaitan ke belakang menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan untuk proses produksi dan menghasilkan output suatu sektor (Daryanto dan Yundy, 2010a).
3.2.4. Dampak Penyebaran 3.2.4.1. Daya Penyebaran
Daya penyebaran (power of dispersion) mencerminkan permintaan suatu sektor terhadap sektor-sektor produksi lain. Jumlah daya penyebaran menunjukkan dampak dari satu unit permintaan akhir suatu sektor terhadap pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor secara keseluruhan (Daryanto dan Yundy, 2010a).
Daya penyebaran (power of dispersion) merupakan istilah lain dari efek pengganda output (output multiplier). Untuk keperluan perbandingan antar sektor, efek pengganda output ini dinormalkan dengan cara membagi rata-rata dampak suatu sektor dengan rata-rata dari seluruh sektor. Jumlah daya penyebaran
merupakan salah satu ukuran untuk melihat keterkaitan ke belakang (backward linkage).
3.2.4.2. Derajat Kepekaan
Derajat kepekaan (degree of sensitivity) mencerminkan suatu sektor dalam mensuplai sektor-sektor produksi lainnya. Jumlah derajat kepekaan menunjukkan pembentukan output disuatu sektor dipengaruhi oleh permintaan akhir masing-masing sektor perekonomian (Daryanto dan Yundy, 2010a).
Derajat kepekaan tidak dapat dipisahkan dari daya penyebaran karena keduanya memiliki hubungan saling keterkaitan. Sama dengan daya penyebaran untuk melihat perbandingan antar sektor, maka derajat kepekaan dapat diketahui dengan cara membagi rata-rata dampak suatu sektor dengan rata-rata dari seluruh Sektor. Jumlah derajat kepekaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat keterkaitan ke depan (forward linkage).
3.2.5. Multiplier
3.2.5.1. Multiplier Output
Multiplier output merupakan nilai total dari output atau produksi yang dihasilkan oleh perekonomian akibat adanya perubahan satu unit permintaan akhir suatu sektor. Peningkatan permintaan sektor-j tidak hanya meningkatkan output sektor tersebut, akan tetapi mampu meningkatkan output sektor lain dalam perekonomian (Daryanto dan Yundy, 2010a).
Dengan demikian angka pengganda output menunjukkan nilai total dari output yang dihasilkan oleh perekonomian untuk memenuhi adanya perubahan satu unit permintaan akhir di suatu sektor. Jika terjadi perubahan permintaan akhir
dalam model Input-Output, maka akan terjadi perubahan output yang diproduksi oleh sektor-sektor produksi di perekonomian.
3.2.5.2. Multiplier Pendapatan
Multiplier pendapatan disebut juga efek pendapatan (income effect) dari model Input-Output. Nilai multipler pendapatan sering disebut juga pendapatan rumah tangga dimana suatu sektor menunjukkan jumlah pendapatan rumah tangga total yang tercipta akibat adanya satu unit permintaan akhir, maka multipler pendapatan mencoba menterjemahkan peningkatan permintaan akhir tersebut dalam bentuk pendapatan rumah tangga (Daryanto dan Yundy, 2010a).
Dengan kata lain efek pendapatan dapat mengukur perubahan pendapatan yang diterima oleh rumah tangga (penyedia tenaga kerja dalam perekonomian) yang diakibatkan oleh perubahan dalam pengeluaran permintaan akhir. Perubahan pendapatan ini dapat dilihat dari mengkonversi setiap elemen dalam suatu kolom khusus dari (I-A)-1 yang mengukur nilai dari efek output langsung dan tidak langsung ke dalam pendapatan rumah tangga melalui koefisien-koefisien input rumah tangga.
3.2.5.3. Multiplier Tenaga Kerja
Selain terhadap pendapatan, estimasi juga bisa dilakukan terhadap hubungan nilai output dari suatu sektor dengan tenaga kerja dari sektor tersebut. Multipler tenaga kerja merupakan efek total dari perubahan lapangan pekerjaan di perekonomian akibat adanya satu unit perubahan permintaan akhir di suatu sektor tertentu (Daryanto dan Yundy, 2010a).
Multiplier tenaga kerja pada dasarnya sama dengan multiplier pendapatan. Perbedaannya yang utama adalah multiplier tenaga kerja dinyatakan dalam satuan
lapangan kerja. Sehingga efek pengganda tenarga kerja bisa dihitung untuk masing-masing sektor dalam perekonomian.