3. METODE PENELITIAN
4.1 Suhu Permukaan Laut
Suhu merupakan salah satu parameter penting yang dapat mempengaruhi penyebaran sumber daya hayati laut (ikan). Setiap jenis spesies ikan mempunyai suhu optimum dan mempunyai keterbatasan toleransi terhadap perubahan suhu
yang ada (Laevestu dan Hela 1970). Selanjutnya, dikatakan bahwa perubahan suhu perairan yang sangat kecil (±0,02oC) dapat menyebabkan perubahan densitas
populasi ikan di suatu perairan. Lavestu dan Hayes (1981) juga mengatakan bahwa ikan-ikan pelagis tertentu akan bergerak menghindari suhu yang lebih tinggi atau mencari daerah yang kondisi suhunya lebih rendah.
Sverdrup et al. (1961) menyatakan bahwa pengaruh suhu secara langsung
terhadap kehidupan di laut berakibat dalam hal laju fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologis hewan, khususnya aktivitas metabolisme dan siklus reproduksi. Menurut Laevastu (1993), pengaruh suhu terhadap ikan dapat mempengaruhi proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf.
Suhu air laut di lapisan permukaan sangat dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang diterima dari sinar matahari. Menurut Laevastu dan Hela (1970) perubahan SPL, selain disebabkan oleh jumlah cahaya yang diterima dari matahari, juga dipengaruhi oleh keadaan alam dan lingkungan sekitar di daerah perairan tersebut. Pengaruh arus, keadaan awan, penaikan massa air dan pencairan es di kutub juga mempengaruhi suhu di permukaan laut.
Suhu perairan sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan (aktivitas, mobilitas), gerakan (ruaya, penyebaran), kelimpahan (penggerombolan, maturasi, fekunditas), dan pemijahan (masa inkubasi, penetasan telur serta kelulusan hidup larva ikan (Gastellu dan Mardio 1983). Suhu perairan sangat berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan sumberdaya hayati laut. Pengaruh tersebut meliputi laju fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologis hewan, khususnya metabolisme dan siklus reproduksi (Amri 2002). Menurut Nontji (1993), data suhu perairan dapat dimanfaatkan bukan saja untuk mempelajari gejala-gejala fisika di dalam wilayah perairan tersebut, melainkan dapat juga digunakan untuk mempelajari kehidupan hewan dan tumbuhan yang menempatinya.
Suhu dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menduga keberadaan organisme di suatu perairan, khususnya ikan. Tinggi rendahnya SPL pada suatu perairan, terutama, dipengaruhi oleh radiasi matahari. Perubahan intensitas cahaya
akan mengakibatkan terjadinya perubahan suhu air laut, baik secara horizontal, mingguan, bulanan maupun tahunan (Laevestu dan Hela 1970).
Harsanugraha dan Parwati (1996) menyatakan ada dua cara untuk
menentukan SPL, yaitu pertama metode perkiraan (estimasi) dengan
memanfaatkan wahana satelit penginderaan jauh dan kedua metode pengukuran langsung (konvensional) dengan menggunakan alat-alat pengukur temperatur di permukaan laut. Data SPL yang diperoleh dengan metode konvensional disebut data in-situ, sedangkan yang diperoleh dengan metode metode perkiraan (estimasi) disebut pendekatan SPL eks-situ. Dari pola distribusi SPL dengan menggunakan satelit tersebut dapat dilihat fenomena-fenomena yang terjadi di perairan tersebut, seperti upwelling, front, dan pola arus permukaan. Perairan yang mempunyai fenomena-fenomena tersebut umumnya merupakan perairan yang subur. Perairan yang subur biasanya merupakan daerah penangkapan ikan karena ikan cenderung bermigrasi ke perairan yang subur.
Laevastu dan Hela (1970) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi SPL adalah kondisi meteorologi, arus permukaan, ombak,
upwelling, divergensi, konvergensi, dan perubahan bentuk es di daerah kutub. Faktor-faktor meteorologi yang mempunyai peranan dalam hal ini adalah curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas matahari. Dengan demikian, SPL biasanya mengikuti pola musiman. Lavestu dan Hela (1970) juga mengatakan bahwa untuk meramalkan berhasil atau tidaknya suatu penangkapan ikan harus memperhatikan (1) suhu optimum dari semua jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan, (2) pengamatan hidrografi dan meteorologi untuk memberikan keterangan mengenai isothermal permukaan, dan (3) perubahan keadaan hidrografi harus dapat diramalkan.
Menurut Gunarso (1985) fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting dalam upaya merangsang dan menentukan pengkonsentrasian gerombolan ikan. Oleh karena itu, suhu memegang peranan dalam penentuan daerah penangkapan ikan.
Suhu perairan berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan laut. Pengaruh tersebut meliputi laju fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya metabolisme dan siklus reproduksi. Ikan mempunyai kisaran
suhu optimum untuk hidupnya. Pengetahuan tentang suhu optimum ini bermanfaat dalam peramalan keberadaan kelompok ikan sehingga dapat dengan mudah dilakukan penangkapan (Amri 2002).
2.4.2 Klorofil-a
Klorofil-a adalah salah satu parameter yang sangat menentukan produktivitas primer di laut. Distribusi spasial dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat berhubungan dengan kondisi oseanografi suatu perairan. Terdapat beberapa parameter fisika-kimia yang dapat mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a. Parameter itu adalah intensitas cahaya, salinitas, suhu dan nutrien (terutama nitrat, fosfat dan silikat). Penyebab bervariasinya produktivitas primer di beberapa tempat di laut akibat adanya perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung ataupun tidak langsung (Sverdrup et al. 1961).
Klorofil-a erat kaitannya dengan tingkat produktivitas primer yang ditunjukkan dengan besarnya biomassa fitoplankton yang menjadi rantai pertama makanan ikan pelagis kecil. Produktivitas primer lingkungan perairan pantai umumnya lebih tinggi dari produktivitas primer perairan laut terbuka. Hal ini terjadi karena tingginya suplai nutrien pada perairan pantai yang berasal dari daratan melalui limpasan air sungai. Namun demikian, terdapat beberapa tempat di perairan laut terbuka yang masih ditemukan konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi meskipun jauh dari daratan. Kondisi tersebut diakibatkan oleh adanya proses sirkulasi massa air yang memungkinkan naik dan terangkutnya sejumlah nutrien dari tempat lain, seperti yang terjadi pada daerah upwelling (Amri 2002).
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil yang
mampu melaksanakan reaksi fotosintesis, yaitu air dan karbon dioksida dengan adanya sinar matahari dan garam hara yang dapat menghasilkan senyawa, seperti karbohidrat. Dengan kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik, fitoplankton disebut sebagai produsen primer (Nontji 1993). Oleh karena itu, kandungan klorofil-a dalam perairan merupakan salah satu indikator tinggi atau rendahnya kelimpahan fitoplankton atau tingkat kesuburan suatu perairan (Yamaji
1966). Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait dengan kondisi oseanografis suatu perairan.
Menurut Nybakken (1992), plankton memiliki peranan penting dalam ekosistem laut karena plankton menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan laut lainnya. Pada ekosistem laut, tipe jejaring makanan yang umum terjadi membentuk limas pakan (food pyramid). Hal ini diakibatkan oleh semakin bergerak ketingkat lebih tinggi, perpindahan senyawa organik yang terjadi berlangsung tidak efisien. Nontji (2005) memperkirakan bahwa tingkat efisiensi perpindahan senyawa organik dari satu tingkat ke tingkat diatasnya hanya sekitar 10% saja dan 90% lainnya hilang sebagai energi panas (Gambar 6). Pada tipe rantai makanan lautan, produsen pertama dimulai dari tumbuhan hijau atau fitoplankton, yang selanjutnya akan dimakan oleh konsumen pertama sampai kepada konsumen tertinggi (Gambar 7).
Atas : Limas pakan (food pyramid). PP = Produsen primer berupa fitoplankton. H = Herbivora berupa zooplankton. K1 = Karnivora pertama berupa ikan-ikan kecil. H2 = Karnivora kedua berupa ikan-ikan yang lebih besar. K3 = Karnivora ketiga berupa ikan besar.
Sumber: Nontji 2005
Gambar 6 Piramida makanan pada ekosistem laut.
Fitoplankton Zooplankton Karnivora I Karnivora II Karnivora III Sumber: Nybakken 1992
Gambar 7 Rantai makanan di lautan. K3
K2 K1
H PP
Laju produktivitas primer di lingkungan laut ditentukan oleh berbagai faktor fisika. Faktor fisika utama yang mengontrol produksi fitoplankton di perairan eutropik adalah pencampuran vertikal, penetrasi cahaya di kolom air, dan laju tenggelam fitoplankton (Gabric dan Parslow 1989). Selanjutnya, laju produktivitas primer di laut juga dipengaruhi oleh sistem angin muson. Hal ini berhubungan dengan daerah asal massa air diperoleh. Dari pengamatan sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan Indonesia diperoleh bahwa konsentrasi klorofil-a yang tertinggi dijumpai pada muson tenggara. Pada saat tersebut terjadi upwelling
di beberapa perairan, terutama di perairan Indonesia Timur, sedangkan klorofil-a terendah dijumpai pada muson barat laut. Pada saat itu di perairan Indonesia tidak terjadi upwelling dalam skala yang besar sehingga nilai konsentrasi nutrien di perairan lebih kecil (Amri 2002).
Asikin (1971) mengatakan bahwa migrasi ikan layang secara langsung dipengaruhi oleh migrasi missal fitoplankton yang kemudian diikuti oleh zooplankton. Biasanya pada daerah yang kaya fitoplankton dan zooplankton, keberadaan ikan sangat melimpah.
Suwargana et al. (2002) menjelaskan bahwa kajian mengenai hubungan antara sebaran klorofil-a dan ikan pelagis dengan beberapa parameter oseanografi (fisika, kimia dan biologi) sangat penting untuk diketahui guna mengidentifikasi parameter fisika-kimia yang memiliki peranan besar terhadap sebaran klorofil-a pada musim tertentu. Selain itu, kajian ini juga penting untuk mengetahui karakteristik massa air di daerah itu. Informasi itu dapat dimanfaatkan dalam upaya pengembangan pengelolaan sumber daya perairan, khususnya, bagi industri penangkapan dan juga dapat digunakan untuk memudahkan dalam menentukan daerah penangkapan pada musim tertentu.
2.5 Alat Tangkap Purse Seine
Secara umum kapal-kapal yang mendaratkan hasil tangkapan ikan layang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo adalah dari jenis armada purse seine. Purse seine adalah jenis alat tangkap yang khusus digunakan untuk menangkap ikan-ikan yang bersifat pelagic schoaling species, yang ikan-ikan tersebut membentuk gerombolan (shoal) serta berada di dekat permukaan air
(Ayodhyoa 1981). Layang bersifat suka hidup bergerombol. Cara hidup yang demikian ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk melakukan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap purse seine. Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah alat tangkap purse seine.
Menurut Ayodhyoa (1981) prinsip penangkapan ikan dengan purse seine
adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, lalu jaring bagian bawah dikerutkan sehingga ikan-ikan terkumpul pada bagian kantong. Dengan kata lain, diperkecilnya ruang gerak ikan sehingga akhirnya ikan tertangkap. Jadi, mata jaring hanyalah sebagai penghadang ikan dan bukan sebagai penjerat.
Pukat cincin (purse seine) di Aceh memiliki panjang antara 600-1350 m, dan lebarnya rata-rata 60-85 m. Badan purse seine terdiri dari lima bagian, setiap bagian memiliki ukuran mata (mesh size) yang berbeda. Panjang dari setiap bagian purse seine adalah 50 m (Gambar 8).
Srampad (selvage) yang dipasang pada bagian atas, samping kiri/kanan dan bawah dari badan purse seine yang bertujuan untuk memperkuat purse seine
pada waktu dioperasikan (terutama pada saat hauling). Selvage ini terbuat dari bahan polyethylene ukuran mata 2 inci, di bagian atas 10 mata, samping kiri/kanan 20 mata dan bawah 15 mata. Bentuk tali kang (tali ring) adalah kaki tunggal yang berfungsi untuk mengantungkan cincin pada tali ris bawah. Tali ris ini terbuat dari
bahan polyethylene dengan diameter 15 mm dan panjangnya 100 cm. Tali kolor
(purse line) digunakan untuk mengerutkan purse seine bagian bawah pada waktu
hauling setelah purse seine selesai dilingkarkan. Dengan terkumpulnya ring, maka
purse seine bagian bawah akan terkumpul menjadi satu dan purse seine berbentuk seperti mangkuk. Panjang tali kolor ini 1,5 kali lebih panjang daripada purse seine, umumnya tali tersebut terbuat dari bahan polyethylene dan kuralon berwarna putih dengan diameter 35 mm (Gambar 8).
Pelampung yang digunakan terbuat dari polyvinil chlorida berwarna putih atau coklat dengan diameter 12 cm, panjangnya ± 20 cm, berbentuk lonjong yang dipasang pada tali ris atas dengan jarak antar pelampung 35-40 cm. Pemberat yang digunakan terbuat dari timah dan cincin yang digantung dengan tali kang yang berfungsi sebagai tempat lewatnya tali kolor (purse line) sewaktu hauling
besi kuningan dengan diameter cincin 11,5 cm dan beratnya 450 gram/cincin, jarak antar cincin sangat bervariasi yaitu 10,11,13 dan 15 meter (Gambar 8).
Gambar 8 Konstruksi alat tangkap purse seine Aceh.
2.6 Hubungan Sumber Daya Ikan Layang dengan Faktor Oseanografi
Pada dasarnya pola dan siklus kehidupan ikan tidak bisa dipisahkan dari berbagai kondisi lingkungan dan fluktuasinya. Interaksi antara berbagai faktor lingkungan tersebut dan ikan senantiasa mengalami perubahan. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut meliputi faktor fisik, kimia, dan biologi lingkungan (Gunarso 1985).
Pada banyak habitat, spesies berinteraksi dengan lingkungan di beberapa area. Keberadaan mereka tergantung pada kondisi lingkungan. Faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, antara lain, batas suhu pada struktur panas dan kesuburan perairan. Kondisi suhu merupakan faktor terbaik untuk memilih lokasi dibandingkan kondisi oseanografi lainnya. Selanjutnya, pada banyak spesies dideterminasi melalui struktur panas pada lapisan kedalaman untuk menentukan taktik dan metode penangkapan (Laevastu dan Hayes 1982).
Lebih lanjut, Laevastu dan Hayes (1982) menjelaskan bahwa pada dasarnya hubungan yang erat antara faktor lingkungan dan distribusi ikan dapat menjadikan setiap ikan dan ukuran akan berbeda pola penangkapannya. Perbedaan ini juga memperlihatkan bahwa daerah penangkapan ikan akan
terbentuk pada wilayah-wilayah perairan yang kondisi lingkungannya sesuai dengan sumber daya ikan, termasuk ketersediaan makanan. Selain itu, juga ditunjang dengan kondisi lingkungan perairan yang mendukung habitat yang sesuai dengan spesies ikan tersebut.
2.7 Hasil Penelitian Terkait
Penelitian yang telah dilakukan mengenai daerah penangkapan ikan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dalam menentukan parameter oseanografi (SPL dan klorofil-a) menjadi bahan masukan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Andrius (2007) meneliti mengenai model spasial informasi daerah penangkapan ikan layang (Decapterus spp.) di antara perairan Selat Makasar dan Laut Jawa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa distribusi ikan layang pada bulan Juli terdapat di antara Pulau Lumu-Lumu dan Lari-Larian hingga ke Utara Pulau Bawean. Pola migrasinya dimulai dari Pulau Lumu-Lumu dan Lari-Larian hingga ke Utara Perairan Pulau Bawean dengan informasi oseanografinya 27-30oC untuk SPL, 0,01-1,5 mg/L untuk klorofil-a, 1-2
knot untuk kecepatan arus dan 33-34 ‰ untuk salinitas. Pada bulan Agustus ditunjukkan bahwa distribusi ikan layang terdapat pada Timur Pulau Sambergalang hingga mendekati Perairan Lepas Pantai Selatan Kalimantan. Pola migrasinya dimulai dari Pulau Bawean hingga ke Utara Pulau Madura dengan informasi oseanografinya 27-28oC untuk SPL, 0,5-2 mg/L untuk klorofil-a, 1,5-2 knot untuk kecepatan arus dan 33,75-34,5 ‰ untuk salinitas.
Muklis (2008) juga melakukan penelitian tentang pemetaan daerah penangkapan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dan Tongkol (Euthynnus affinis) di Perairan Utara Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan parameter SPL dan klorofil-a dengan menggunakan satelit Aqua MODIS. Hasil penelitiannya memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara SPL dan klorofil-a terhadap
hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE) ikan Cakalang dan Tongkol.
Almuthahar (2005) melakukan penelitian dengan judul analisis SPL dan klorofil-a dari data satelit dan hubungannya terhadap hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp.) di perairan Natuna-Laut Cina Selatan. Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa validasi spasial antara daerah potensial
penangkapan ikan hasil pengolahan data satelit terhadap daerah penangkapan ikan yang dipilih nelayan memperlihatkan kecocokan daerah hingga ±40%. Akan tetapi, musim penangkapan ikan kembung adalah pada musim peralihan I. Pada penelitian ini juga diperlihatkan adanya hubungan yang mempengaruhi hasil tangkapan ikan kembung terhadap kondisi oseanografi.
Amri (2002) melakukan penelitian mengenai hubungan kondisi oseanografi (SPL, klorofil-a dan arus) dengan hasil tangkapan ikan pelagis kecil di perairan Selat Sunda. Hasil penelitain tersebut memperlihatkan hubungan yang erat antara kondisi oseanografi dan hasil tangkapan ikan pelagis kecil. Dengan kondisi SPL optimum dan kanungan klorofil-a tinggi berarti kesuburan perairan tinggi, hasil tangkapan ikan pelagis kecil juga tinggi. Pada hasil penelitian ini juga diperoleh perbedaan SPL antara hasil pengukuran satelit dan hasil pengukuran in- situ pada beberapa tempat, dan juga ada kesamaan di tempat yang lain.
Silvia (2009) melakukan penelitian mengenai analisis daerah DPI Cakalang (Katsuwonus pelamis) berdasarkan suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a di perairan Mentawai, Sumatera Barat. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa suhu permukaan laut dan klorofil-a tidak ada pengaruhnya terhadap hasil tangkapan cakalang, akan tetapi suhu permukaan laut dan klorofil-a berpengaruh terhadap ukuran panjang ikan cakalang.
Sinaga (2009) melakukan penelitian mengenai analisis hasil tangkapan pukat ikan kaitannya dengan kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut di perairan Tapanuli Tengah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penyebaran ikan di perairan Tapanuli Tengah bervariasi secara temporal dan spasial. hasil penelitian ini juga mengatakan bahwa SPL dan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap penyebaran ikan.
3 METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di Perairan Utara Aceh. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: 1) survei lapangan tempat lokasi penelitian pada bulan Desember 2011, 2) pengumpulan data lapangan pada bulan Januari- Maret 2012, 3) download citra SPL dan klorofil-a dari satelit MODIS, serta melakukan pengolahan dan analisis citra satelit MODIS pada bulan April-Mei 2012. Adapun peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Peta lokasi penelitian.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Perangkat komputer dan pencetak (printer);
(2) Perangkat lunak (software) yaitu ENVI 4.7 untuk ekstraksi citra SPL dan klorofil-a, Surfer 8.0 untuk pengolahan citra SPL dan klorofil-a, ArcGis 9.3 untuk pengolahan dan analisis secara spasial, SPSS 15.0 untuk pengolahan regresi linier.
(3) Microsoft Excel 2007, digunakan untuk tabulasi data hasil tangkapan ikan layang, waktu dan lokasi penangkapan;
(4) Kuisioner wawancara dan peta Perairan Utara Aceh dengan skala 1:300.000
digunakan sebagai pedoman pengumpulan data daerah penangkapan ikan di lapangan;
(5) Penggaris untuk pengukuran panjang ikan layang; (6) Kamera digital untuk dokumentasi penelitian;
(7) Termometer untuk pengukur suhu permukaan laut di lapangan.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
(1) Data hasil tangkapan bulanan ikan layang tahun 2011 dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo dalam bentuk data time series;
(2) Data hasil tangkapan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan di lapangan
bulan Januari – Maret 2012;
(3) Data SPL dan klorofil-a bulanan hasil pengukuran satelit MODIS level 3 dari bulan Januari 2011 – Maret 2012.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan melakukan pengamatan terhadap armada atau unit penangkapan ikan layang. Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual (Nazir 1988). Data yang dikumpulkan meliputi data lapangan (in-situ) dan data citra satelit (eks-situ). Data in-situ berupa data daerah penangkapan ikan layang, komposisi hasil tangkapan ikan layang, dan ukuran panjang (size). Daerah penangkapan dan jumlah hasil tangkapan serta ukuran panjang ikan layang diperoleh melalui observasi langsung penangkapan ikan dan juga melalui wawancara dengan nelayan yang berjumlah 7 orang dengan menunjukkan peta perairan Utara Aceh.
Nelayan yang dijadikan responden dipilih secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan nelayan melakukan penangkapan ikan layang di perairan Utara Aceh, nelayan mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki pengalaman yang cukup untuk memberikan informasi yang dibutuhkan, seperti pawang (juru mudi/tokoh kunci) dan nelayan bersedia untuk di wawancara. Penentuan sampel kapal atau armada penangkapan dalam penelitian ini yaitu menggunakan armada penangkapan purse seine yang berjumlah 7 armada dari jumlah total armada purse seine yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo yaitu 52 armada. Pemilihan armada purse seine dikarenakan purse seine merupakan armada yang paling dominan di PPP Lampulo yaitu sekitar 90% dan selebihnya terdapat pancing ulur dan rawai yang masing-masing 5%. Pertimbangan yang digunakan dalam penentuan sampel kapal adalah (1) sampel kapal purse seine beroperasi di perairan Utara Aceh, (2) sampel kapal purse seine
layak beroperasi, (3) tujuan penangkapan sampel kapal tersebut adalah ikan
layang dan (4) sampel kapal purse seine tersebut telah mendapatkan
persetujuan/izin dari pemilik kapal.
Pada PPP Lampulo armada purse seine terbagi kedalam 3 kategori berdasarkan waktu keberangkatan penangkapan yaitu pagi, malam dan apung (1 minggu). Jumlah armada purse seine dari 3 kategori tersebut adalah 11 armada untuk yang berangkat pagi, 19 armada untuk yang berangkat malam dan selebihnya yaitu 22 armada untuk apung/berangkat 1 minggu. Pada penelitian ini armada purse seine yang menjadi sampel dalam pengumpulan data yaitu termasuk kepada kategori armada purse seine yang melakukan penangkapan pada malam hari.
Data eks-situ berupa data citra SPL dan klorofil-a dari satelit MODIS level 3 rata-rata bulanan di perairan Utara Aceh pada bulan Januari 2011 – Maret 2012. Data citra yang diolah adalah citra yang bebas awan dan mencakup lintang bujur sesuai dengan cakupan yang diteliti. Secara lebih rinci, pengumpulan data pada penelitian ini disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Jenis dan sumber data perikanan yang dikumpulkan selama penelitian
Jenis Data Data yang dibutuhkan Sumber Data
in-situ Jumlah Hasil Tangkapan ikan layang per trip per hari penangkapan (Januari - Maret 2012)
Nelayan Lampulo Lokasi Daerah penangkapan ikan
layang per trip per hari penangkapan (Januari-Maret 2012)
Nelayan Lampulo Ukuran panjang ikan layang per trip per
hari penangkapan (Januari-Maret 2012) Nelayan Lampulo
Jumlah Hasil Tangkapan ikan layang
bulanan (Januari - Desember 2011). Kantor PPP Lampulo
eks-situ Data SPL dan klorofil rata-rata bulanan
(Januari 2011 – Maret 2012) Satelit Aqua MODIS Download Citra
3.4 Analisis Data
3.4.1 Citra SPL dan klorofil-a
Data citra yang digunakan untuk diolah adalah citra yang bebas awan dan merupakan data bulanan, yakni bulan Januari 2011 - Maret 2012 dan dikelompokkan berdasarkan musim, yaitu musim Barat, musim peralihan Barat- Timur, musim Timur, dan musim peralihan Timur-Barat. Data sebaran SPL dan klorofil-a secara horizontal dihitung menggunakan data citra yang telah terkoreksi, baik secara atmosferik maupun geometrik dengan resolusi 4 km x 4 km, kemudian diinterpretasikan berdasarkan karakteristik variasi menurut kenampakannya. Langkah-langkah pengolahan citra SPL dan klorofil-a meliputi pemilihan citra, pengolahan citra, pemotongan dan penajaman citra, dan perhitungan penyebaran dan pemusatan data.
(1) Pemilihan citra
Citra satelit yang digunakan adalah citra satelit Aqua MODIS level 3 dan bebas awan. Citra yang dipilih adalah citra rata-rata bulanan, yakni bulan