BAB IV DESKRIPSI KAWASAN
4.2 Permukiman Di Bantaran Sungai Medan Labuhan
Kecematan Medan Labuhan memiliki jumlah kelurahan sebanyak 6 kelurahan yang terdiri dari Kelurahan Besar, Kelurahan Tangkahan, Kelurahan Martubung, Kelurahan Sei Mati, Kelurahan Pekan Labuhan, dan Kelurahan Nelayan Indah. Batas batas kelurahan pada kecamatan Medan Labuhan ditampilkan pada gambar 4.2.
Kelurahan Tangkahan Kelurahan Nelayan Indah
Kelurahan Besar Kelurahan Martubung
Kelurahan Pekan Labuhan Deli Kelurahan Sei Mati
Sungai
Permukiman Sawah
Keterangan Gambar :
Gambar 4. 2 Kecamatan Medan Labuhan
Universitas Sumatra Utara
Pada kecematan Medan Labuhan, permukiman yang akan diteliti permukiman yang terletak pada bantaran Sungai Deli. Maka, akan dibagi 3 segmen dalam membahas permukiman yang ada pada bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan (gambar 4.3)
Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3
Kelurahan Tangkahan Kelurahan Nelayan Indah
Kelurahan Besar Kelurahan Martubung
Kelurahan Pekan Labuhan Deli Kelurahan Sei Mati
Sungai
Permukiman Sawah
Keterangan Gambar :
Gambar 4.3 Permukiman dibantaran sungai deli Kecamatan Medan Labuhan
Universitas Sumatra Utara
BAB V
ANALISA DAN PEMBAHASAN
5.1 Perkembangan Permukiman di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan
Awal munculnya permukiman pada kawasan Bantaran Sungai Kecamatan Medan Labuhan diawali dengan munculnya kerajaan Kesultanan Deli pada salah satu kelurahan Kecamatan Medan Labuhan. Dimulai dengan permukiman yang terdiri dari rumah tinggal etnis Melayu. Kemudian, berkembang menjadi kawasan permukiman yang padat dikarenakan masyarakat pendatang dari etnis lain yang meningkat. Selain itu, kawasan ini juga menjadi kawasan industri Medan.
Alasannya kota ini menjadi kawasan industry dan pengembangan permukiman karena terletak pada jalan menuju Pelabuhan Laut Belawan yang cukup strategis untuk pelaku perdagangan.
Pada perkembangan awal permukiman yang diawali dengan adanya etnis Melayu yang memiliki gaya hidup yang sama. Gaya hidup merupakan variabel utama dalam membentuk organisasi kota yang dikhususkan dalam wilayah, suatu ruang, waktu, serta memiliki tujuan dan komunikasi suatu kelompok homogen yang mempunyai karakteristik ras, asal etnis, agama, kelas, pendapatan (Rapoport,2016).
Kemudian, pendatang dari etnis-etnis lain juga memiliki gaya hidup etnis tersendiri.
Sehingga, budaya permukiman awal akan memudar dan membentuk gaya hidup baru yaitu gaya hidup gabungan dari etnis Melayu dan etnis pendatang.
Universitas Sumatra Utara
Berkaitan dengan hal tersebut, para pendatang memberikan kontribusi dalam terbentuknya permukiman di bantaran sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan.
Peneliti mengidentifikasi perkembangan permikiman dalam 3 masa yaitu masa kesultanan Deli yang didalamnya telah mengalami masa penjajahan Belanda dan masa penjajahan Jepang. Selanjutnya adalah masa Kemerdekaan Indonesia dan masa reformasi ( gambar 5.1). Tiga masa tersebut menjadi fokus perhatian Peneliti karena masa tersebut memberikan gambaran bentuk perkembangan permukiman tepi air yang terwujud tidak terencana
5.1.1 Masa Kesultanan Deli
Pada masa Kesultanan Deli, salah satu kelurahan pada kecamatan Medan Labuhan merupakan wilayah Kesultanan Deli yaitu Kelurahan Pekan Labuhan.
Pada masa penjajahan Belanda, Pekan Labuhan merupakan pusat perdagangan 1800
1800
1800
1800
1942
1942
1942
1942
1980
1980
1980
1980
2015
2015
2015
2015 Gambar 5. 1 Garis Masa Perkembangan permukiman tidak terencana pada bantaran
Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan
Universitas Sumatra Utara
barang-barang ekspor dan impor yang dibawa oleh kaum pedagang kaya yang akan berlayar dan menetap di pelabuhan Belawan. Maka, pada Pekan Labuhan didirikan toko-toko dan pasar tradisonal yang pada saat sekarang ini pasar tradisional tersebut masih ada dan menjadi pasar yang ramai dikunjungi pada hari pekan.
Pada awal masa Kesultanan Deli, Melayu merupakan suku penduduk asli wilayah Kesultanan Deli. Populasi yang tumbuh umumnya didukung oleh keadaan sosial dan latar belakang ekonomi yang serupa (Hurskainen, 2004). Sebagai pusat perdagangan yang semakin berkembang, kegiatan perekonomian pada Pekan Labuhan mempengaruhi kehidupan masyarakat Melayu. Kehidupan kaum bangsawan Melayu yang selalu bermewah-mewah dari hasil perkebunan yang didagangkan. Hal ini yang mengakibatkan sebahagian masyarakat Melayu pada zaman Belanda menjadi kaum bangsawan.
Pada awal masa Kesultanan Deli muncul permukiman pada pekan Labuhan yang merupakan salah satu kelurahan pada Kecamatan Medan Labuhan.
Masyarakat kesultanan deli yang asli Melayu membentuk permukiman pada tanah kosong di wilayah Kesultanan Deli yang berada pada Bantaran Sungai. Tujuan membangun permukiman adalah untuk mengelola perkebunan yang dimana Kawasan Kesultanan Deli memiliki tanah yang gembur dan sangat layak untuk perkebunan. Adapaun hasil perkebunan tersebut diperdagangkan kepada saudagar kaya.
Universitas Sumatra Utara
Menurut Constantinos A. Doxiadis (1968: 21-35) ada lima elemen dasar pembentuk suatu permukiman yaitu nature (alam), man (manusia), society (masyarakat), shells (rumah), serta networks (jaringan atau sarana prasarana). Alam mempunyai peranan penting untuk masyarakat masa Kesultanan Deli dalam memilih lokasi untuk membangun rumah tinggal. Manusia memikirkan bagian alam yang paling tepat untuk posisi rumah tinggal. Masa kesultanan Deli, masyarakat memikirkan bahwa masa Kesultanan Deli memikirkan bahwa sungai merupakan prasarana penting yang disediakan alam pada masa itu. Sungai sebagai jaringan yang menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya di era masa Kesultanan Deli. Sungai merupakan bagian alam yang dalam pemikiran masyarakat dapat mendukung kehidupan. Keberadaan sungai sebagai prasarana penting menjadi pendukung masyarakat untuk memperoleh mata pencaharian, misalnya sebagai nelayan dan pedagang.
Pada saat rumah-rumah sudah terbangun dan membentuk area hunian, maka komunitas masyarakat di dalamnya bersama sama membangun jalan sebagai prasarana yang menghubungkan satu area hunian ke area hunian lain. Jalan sebagai
Keterangan Gambar:
Pertumbuhan bangunan rumah tinggal
Hutan
Gambar 5. 2 Jalan sebagai prasarana penghubung satu area ke hunian area lain.
Universitas Sumatra Utara
jaringan yang terbentuk alamiah di tepi sungai Labuhan Deli karena dibangun berdasarkan pemikiran penghuninya pada masa itu (Gambar 5.2).
Bangunan-bangunan di Permukiman tepi sungai Labuhan Deli pada masa kesultanan Deli berupa rumah panggung. Pembuatan rumah panggung tersebut dilaksanakan melalui proses panjang dan masyarakat bergotong royong mendirikan rumah tinggal-rumah tinggal penghuni yang menempati area tepi air. Kegiatan gotong royong membangun rumah tinggal diawali dengan musyawarah untuk memiliki tapak, memilih kayu serta tata ruang sesuai dengan struktur keluarga yang akan menempati tanah di tepi sungai. Persiapan membangun rumah tinggal juga sangat memperhatikan keadaan alam dalam rangka menjamin para penghuni permukiman tepi Sungai Deli di Medan Labuhan jauh dari bencana.
Perkembangan perdagangan pun semakin meningkat pada Pekan Labuhan.
Akibat perkembangan perdagangan tersebut, para pendatang dari luar mulai masuk pada wilayah Pekan Labuhan seperti Minangkabu, Arab dan Cina. Para pendatang membawa adat-istiadat dan kebiasan mereka. Interaksi antar etnis tersebut menyebabkan pengaruh budaya Melayu mulai bercampur dengan etnis pendatang seperti membangun rumah Melayu tetapi ornament Cina dan Arab masuk didalamnya. Sehingga, budaya Melayu mulai memudar pada masa itu.
Budaya melayu yang sudah memudar pada masa penjajahan Jepang diikuti denan kejayaan perdagangan pun memudar. Kekuasan Belanda beralih kedatangan Jepang. Penduduk Pekan Labuhan mengalami banyak perubahan. Penduduk tidak
Universitas Sumatra Utara
dapat lagi mengandalkan tanah dan rumah yang disewa karena telah dirampas oleh Jepang sebagai tempat markas.
Berdasarkan Rapoport tahun 2016 mengenai gaya hidup yang membentuk suatu oganisasi kota,maka gaya hidup yang membentuk suatu permukiman pada pekan labuhan oleh penduduk asli pada masa kesultanan Deli ini merupakan gaya hidup sebagai bertani dan berdagang yang mengunakan hasil kekayaan alam yang ada untuk dijual dan sebagai kuli yang bekerja pada perkebunan yang diolah.
Sehingga, membentuk kelompok masyarakat yang memiliki tujuan sama.
Kelompok bangsawan yang menerima hasil dari perkebunan dan kelompok kuli yang menjadi bawahan. Ketika etnis pendatang dengan gaya hidup yang bertujuan untuk membeli hasil bumi maka mendukung gaya hidup perdagangan yang ada.
Selain, menjadikan perdangan tersebut menjadi lebih berkembang. Kemudian perdagangan memudar akibat dari gaya hidup yang baru dari penjajah yang ingin menguasai kawasan pekan Labuhan yang dijadikan sebagai markas tanpa mengembangkan gaya hidup yang lama. Sehingga, gaya hidup perdagangan pada kawasan Medan Labuhan mulai berkembang dikarenakan penguasa yang ada.
Universitas Sumatra Utara
Pada masa kesultanan Deli, permukiman diawali dengan perkembangan pada bagian tepi sungai Deli. Sungai digunakan sebagai acuan utama dalam mendukung aktivitas masyarakat Melayu. Aktivitas utama masyarakat pada masa ini adalah berdagang. Perdagangan mengakibatkan etnis lain untuk memasuki kawasan Sungai Deli ini. Sehingga, dapat dikatakan bahwa perdagangan mempengaruhi bentuk permukiman pada masa ini
Keterangan Gambar:
Pertumbuhan bangunan rumah tinggal
Hutan
Gambar 5. 3 Permukiman Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan pada masa kesultanan Deli
Universitas Sumatra Utara
5.1.2 Masa Kemerdakaan Indonesia
Pada masa kemerdekaan, Pekan Labuhan pun mulai menjalankan pembangunan. Masyarakat diberi hak untuk memperoleh kebebasannya pada struktur masyarakat, pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Maka, sejak tahun 1950 secara administrasi Pekan Labuhan merupakan Kecamatan Labuhan Deli ( Kabupaten Deli Serdang ). Pada tahun 1969 statusnya dinaikan menjadi Desa yang awalnya disebut kampung.
Kemudian dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 1973, mengenai perluasan wilayah Kotamadya Medan maka dimasukkanlah beberapa wilayah yang ada dilingkungan Kabupaten Deli serdang termasuk didalamnya Desa Pekan Labuhan. Desa Pekan Labuhan pun berkembang dan terus mengalami peningkatan sehingga pada tahun 1981 statusnya dinaikan menjadi Kelurahan. Setelahnya, melalui Peraturan Pemerintah nomor 35 tahun 1992 tentang pembentukan beberapa kecamatan di Sumatera Utara, Kelurahan Pekan Labuhan masuk Kecamatan Medan Labuhan. Pekan Labuhan pun berkembang sehingga kecamatan medan Labuhan berkembang dengan 6 Kelurahan.
Perkembangan suatu permukiman pada saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Constantinos A. Doxiadis disebutkan bahwa perkembangan permukiman (development of human settlement) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: growth of density (pertambahan jumlah penduduk) dan urbanization (urbanisasi). Pada tahun 1974, akibat dari perluasan kotamadya Medan mendorong permukiman orang Melayu kearah pinggiran kota. Dengan adanya perubahan perluasan kota tersebut tidak membuat etnis Melayu menjadi bangkit ekonominya,
Universitas Sumatra Utara
telah digantikan dengan pertumbuhan toko-toko dan pabrik-pabrik industry yang dikuasi oleh etnis Cina dan Minang. Penduduk tidak lagi bercocok tanam ataupun melaut mencari ikan karena tanah telah menjadi permukiman serta toko-toko yang didirikan oleh para pendatang. Sehingga, penduduk asli menjual tanah mereka dan berpindah ke wilayah lain mengandalkan hasil penjualan tanah.
Berdasarkan Rapoport tahun 2016 mengenai gaya hidup yang membentuk suatu oganisasi kota maka pada tahun 1980an, gaya hidup berkembang menjadi perkembangan teknologi informal dan komunikasi, perubahan cepat terjadi dengan semakin berkembangnya pendirian pabrik-pabrik, sarana pendidikan umum, perumahan-perumahan dari mulai yang sederhana sampai area permukiman permanen dengan pengelompok-pengelompokan yang dibatasi oleh tembok menjulang tinggi seolah terkesan kaum pendatang sebagai masyarakat eksklusif bagi penduduk setempat. Hingga saat ini tembok itu masih ada sebagai pemisah antara pabrik atau toko-toko dengan permukiman masyarakat asli. Permukiman asli rumah pangguna melayu pun mulai hilang.
Universitas Sumatra Utara
Perkembangan permukiman bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan ditunjukan dengan perkembangan menuju kearah jalan yang terbentuk.
Permukiman pada masa kemerdekaan berkembang menjadi bagian dari kota Medan. Perkembangan kota Medan pada masa ini mengakibatkan permukiman berkembang ke arah kota Medan.
5.1.3 Masa Reformasi sampai sekarang
Pada masa revolusi, pemerintah mulai membangun tanggul dan menanam rumput pada tepi sungai di sepanjang kecamatan Medan Labuhan. Pemerintah Keterangan Gambar:
Pertumbuhan bangunan rumah tinggal
Hutan
Gambar 5. 4 Permukiman Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan pada masa Kemerdekaan Indonesia
Universitas Sumatra Utara
sudah menjadikan kawasan garis sempadan sungai sebagai kawasan lahan milik negara. Dimana pada kawasan tersebut masyarakat dilarang untuk mendirikan bangunan, menanam tanaman dan menggambalakan ternak. Selain itu, pembangunan pabrik-pabrik dan menjadi Kawasan Industri Medan (KIM).
Sedangkan permukiman dibangun dibelakang pabrik-pabrik dan toko toko yang ada pada jalan menuju pelabuhan Belawan.
Berdasarkan Rapoport tahun 2016 mengenai gaya hidup yang membentuk suatu oganisasi kota maka pada tahun 1997an, perkembangan permukiman semakin meningkat. Para pendatang yang berada diluar Medan mulai ikut membangun rumah pada daerah bantaran sungai deli di Kecamatan Medan Labuhan. Para pendatang dengan kondisi ekonomi yang menengah ke bawah dan tidak memiliki tanah, mereka mulai menempati tanah milik negara sebagai lahan untuk membangun rumah mereka. Sedangkan para pendatang dengan kondisi ekonomi menengah keatas mereka membeli tanah dari penduduk asli tersebut dan membangun ruko. Penduduk asli yang menjual tanahnya tersebutpun membangun rumah pada tanah milik negara dan menggunakan uang yang dimiliki dari hasil penjualan tanah untuk kelangsungan hidup. Selain pendatang, penduduk asli yang tetap menetap pada daerah tersebut mengajak keluarganya yang lain untuk bertempat tinggal dan membangun rumah berjajar.
Pada tahun 2015 pun permukiman pada bantaran sungai kecamatan Medan Labuhan semakin padat dan dibangun tanpa perencencanaan yang baik.
Perkembangan suatu permukiman pada saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Constantinos A. Doxiadis disebutkan bahwa perkembangan permukiman
Universitas Sumatra Utara
(development of human settlement) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: growth of density (pertambahan jumlah penduduk) dan urbanization (urbanisasi).
(Constantinos A. Doxiadis,1968). Permukiman semakin berkembang dengan tidak terencana dikarenakan pertambahan penduduk yang semakin meningkat dan menambah jumlah keluarga. Semakin bertambah jumlah keluarga, maka rumah tinggal terus dibangun didekat rumah keluarga lain. Hal ini yang menjadikan perkembangan permukiman semakin pesat dan menjadi permukiman yang tidak teratur.
Permukiman tidak terencana pada bantaran sungai deli Medan Labuhan memiliki kualitas rumah tinggal tersendiri. Di permukiman tak terencana, kondisi sosial penghuni sangat berpengaruh dalam membentuk permukiman. Karakteristik yang paling menonjol permukiman tidak terencana terlihat pada kualitas rendah rumah tinggal yang tidak memiliki infrastruktur dan fasilitas sosial yang memadai (Ali dan Sulaiman,2006: 2). Kualitas rumah tinggal pada bantaran sungai deli Medan Labuhan yang terletak pada lahan negara memiliki kualitas rumah tinggal yang rendah dikarenakan mereka merupakan masyarakat yang dikalangan bawah.
Sedangkan masyarakat yang menengah keatas memiliki kualitas rumah tingal yang cukup baik. Bahkan banyak dibangunnya ruko-ruko yang dibangun oleh para pendatang. Berdasarkan kualitas rumah tinggal tersebut dapat dikatakan lingkungan pada rumah tinggal tersebut juga sama halnya dengan kualitas rumah tinggalnya.
Jalan-jalan yang berada pada permukiman menengah keatas akan dibuat secara baik dengan pengaspalan yang bagus. Sedangkan pada permukiman menengah ke bawah belum dibuat pengaspalan yang baik.
Universitas Sumatra Utara
Keberadaan rumah pada permukiman bantaran sungai Medan Labuhan juga mengalami perubahan. Pada saat sekarang ini keberadaan rumah pada permukiman sudah tidak lagi menganggap sungai sebagai orientasi akibat perkembangan perkotaaan kearah kawasan daratan dan pada akhirnya sungai dijadikan sebagai kawasan belakang. ( Budi Prayitno,2003). Sungai sebagai bagian belakang bangunan cenderung terjadi pada permukian tepi sungai Labuhan Deli. Bangunan didirikan menghadap sungai dan membangun tempat berkumpul didekat sungai untuk bersantai pada sore hari. Tetapi, hal ini masih digunakan pada masyarakat golongan bawah. Sedangkan masyarakat golongan menegah ke atas berorientasi pada jalan besar, bahkan manjadikan bagian yang menghadap sungai menjadi area belakang rumah. Semakin mendekati area jalan lintas menuju pelabuhan Belawan maka orientasi rumah mengikuti bentuk pola jalan yang terbentuk pada daerah permukiman tersebut.
Keterangan Gambar:
Pertumbuhan bangunan rumah tinggal
Hutan
Gambar 5. 5 Permukiman Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan
Universitas Sumatra Utara
5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Permukiman di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan
Berdasarkan hasil dari perkembangan permukiman bantaran sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan yang terdiri dari 3 masa perkembangan, maka pertumbuhan permukiman dipengaruhi oleh aspek kehidupan. Menurut Eldefrawi tahun 2003 aspek kehidupan yang mempengaruhi bentuk dan posisi tempat tinggal pada permukiman adalah aspek sosial dan tingkat ekonomi masyarakat. Sedangkan, menurut Constantinos A. Doxiadis (1968: 21-35) terdapat lima elemen dasar membentuk suatu permukiman yaitu nature (alam), man (manusia), society (masyarakat), shells (rumah), serta networks (jaringan atau sarana prasarana). Oleh karena itu, kedua teori ini akan dibandingkan faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan permukiman.
Masyarakat permukiman bantaran sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan memiliki alasan tersendiri dalam memilih tempat tinggal. Berdasarkan keterangan ibu Misba yang tinggal pada bantaran sungai di Kelurahan Besar menyatakan bahwa alasan mereka memilih untuk bertempat tinggal pada kawasan tersebut dikarenakan tanah yang ditempati merupakan tanah milik keluarga. Tanah yang sudah dimiliki dari nenek mereka terhadulu dan terbilang cukup lama. Maka, kondisi ekonomi yang dimiliki oleh keluarga ibu Misba dan ketersediaan alam merupakan faktor pertumbuhan yang keluarga ibu Misba alami.
Pertambahan angka kelahiran pada anggota keluarga mengakibatkan keluarga ibu Misba semakin berkembang dan menjadi beberapa keluarga. Kondisi sosial yang terjadi antar keluarrga yang ini berkembang. Hal ini menghendakan keluarga
Universitas Sumatra Utara
tersebut membangun rumah pada tanah peninggalan mereka. Kemudian tumbuh keluarga lain dan membangun rumah lain pada tanah milik keluarga tersebut.
Sehingga, pada satu kapling yang cukup besar dapat terdiri beberapa rumah yang terdapat keterikatan keluarga. Keluarga yang memiliki tanah keluarga sendiri hanya saling bersosialiasasi antar sesama keluarga. Tetapi, mereka tidak atau bahkan jarang bersosialisasi dengan orang yang tidak memiliki tanah peduduk lain.
Penduduk lain yang dimaksudkan adalah penduduk yang tinggal pada tanah illegal.
Pada pertumbuhan permukiman bantaran sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan juga dialami oleh penduduk pendatang (urbanisasi). Para penduduk pendatang bantaran sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan memiliki alasan tersendiri untuk memilih bertempat tinggal pada kawasan tersebut. Salah satu
Kondisi sosial menjadikan keluarga untuk berkumpul
Keluarga yang tinggal dalam satu kapling
Gambar 5. 6 Kondisi ekonomi dan kondisi sosial keluarga yang sama mempengaruhi pertumbuhan permukiman
Universitas Sumatra Utara
penduduk pendatang bernama ibu Fatmawati memilih tempat tinggalnya dikarenakan kondisi ekonomi yang rendah. Harga tanah yang mahal menjadikan sebagaian para pendatang untuk mencari tanah yang murah. Bahkan, para pendatang menjadikan tanah pemerintah untuk membangun rumah mereka.
Para pendatang pada awalnya mengetahui adanya tanah kosong pada bantaran sungai Medan Labuhan. Mereka tidak sanggup lagi membiayai sewa tanah yang mereka tempati. Kemudian, mereka pindah untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang lebih baik di tanah milik pemerintah. Pendatang tersebut pun mulai membangun rumah pada daerah bantaran sungai. Mereka juga mengajak keluarga atau kerabat mereka untuk tinggal berdekatan dengan mereka.
Kondisi sosial para pendatang pun berawal dari mereka mengajak kerabat mereka. Mereka bergotong royong membuka lahan kosong dan mendirikan bangunan. Letak rumah antar kerabat juga berdekatan. Dengan kondisi ekonomi dan sosial yang sama ini juga yang mengakibatkan pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk ini mengakibatkan pertumbuhan permukiman pada bantaran sungai kecamatan Medan Labuhan.
Para pendatang yang memiliki kondisi ekonomi yang cukup baik, maka akan mencari tanah yang layak untuk ditempati. Mereka akan membeli tanah kosong ataupun membeli rumah yang sudah jadi. Alasan para pendatang yang memiliki kondisi ekonomi yang cukup baik tersebut yaitu untuk mencari tempat tinggal pada bantaran sungai kecamatan Medan Labuhan yang berdekatan dengan kerabat atau tempat kerja. Para pendatang tersebut yaitu pendatang yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai pada salah satu pabrik atau kantor dinas lainnya.
Universitas Sumatra Utara
Berdasarkan kondisi ekonomi dan sosial yang terjadi maka mempengaruhi letak dari suatu tempat tinggal. Pada gambar 5.8,kelompok-kelompok masyarakat Medan Labuhan dengan tingkat sosial dan tingkat ekonomi yang sama menghasilkan kelompok-kelompok rumah tinggal yang saling berhubungan.
Dimulai dari ada ketersediaan alam untuk membangun rumah mereka. Ketersediaan tanah pada Medan Labuhan memiliki tingkat harga tanah yang berbeda.
Selain harga tanah yang mempengaruhi masyarakat untuk membangun rumah, kerabat atau keluarga yang tinggal pada Medan Labuhan juga mempengaruhi. Adanya bentuk keterikatan antara satu sama lain menjadikan masyarakat membangun rumah berdekatan. Hal ini yang juga menyebabkan rumah
Rumah pendatang berderet dengan kerabat yang mereka ajak.
Kondisi sosial menjadikan mereka untuk berkumpul
Gambar 5. 7 Kondisi ekonomi dan kondisi sosial para pendatang yang sama mempengaruhi pertumbuhan permukiman
Universitas Sumatra Utara
tinggal pada Medan Labuhan terjadi secara berkelompok dalam satu titik. Titik-titik kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi dan sosial yang sama ini membentuk permukiman Medan Labuhan semakin beragam.
5.3 Bentuk Permukiman di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan
Pada bentuk pola setiap segmen permukiman bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan memiliki bentuk permukiman tersendiri. Bentuk pola permukiman akan diidentifikasikan berdasarkan teori Taylor (1980) mengenai struktur ruang permukiman terdapat 3 pola yaitu linear, cluster dan kombinasi. Tiga pola ini digunakan dalam mengkaji struktur ruang pada permukiman di sepanjang sungai karena aktivitas antara luar ruang dan area permukiman yang saling terkait antar pola struktur ruang.
5.3.1 Bentuk Pola Permukiman di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan pada Segmen 1
Bentuk pola permukiman pada segmen 1 di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan membentuk pola linear,pola cluster dan pola kombinasi. Pada pola linear didapai dari permukiman yang terletas pada tepi sungai dan menjadikan sumbu linearnya berupa sungai. Pola linear terhadap sungai terbentuk akibat permukiman tumbuh mengikuti bentuk alam. Jalan yang terbentuk
Bentuk pola permukiman pada segmen 1 di Bantaran Sungai Deli Kecamatan Medan Labuhan membentuk pola linear,pola cluster dan pola kombinasi. Pada pola linear didapai dari permukiman yang terletas pada tepi sungai dan menjadikan sumbu linearnya berupa sungai. Pola linear terhadap sungai terbentuk akibat permukiman tumbuh mengikuti bentuk alam. Jalan yang terbentuk