Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Keragaman Kupu- Kupu (Lepidoptera: Ditrysia) Di Kawasan ”Hutan Koridor” Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Jawa Barat adalah benar hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Agustus 2009
Muhammad Ali Efendi NIM. G352070311
ABSTRACT
MUHAMMAD ALI EFENDI. Diversity of Butterflies (Lepidoptera: Ditrysia) in “Corridor Forest”, Gunung Halimun-Salak National Park, West Java. Supervised by RIKA RAFFIUDIN dan TRI ATMOWIDI
Gunung Halimun-Salak National Park in West Java is the largest tropical forest and one of the best national park that still exist in Java. The destruction of habitat due to the high exploitation of natural resources in this forest will cause the decreasing the butterfly population. The objectives of the research were to study the diversity of butterflies in relation to time of activities, nectar volume, and environmental factors. Characteristic scale of butterfly wings were observed as well. Diversity of butterflies were observed by using scan method in 07.00- 11.00 am and 13.00-16.00 pm. Observations were conducted from March-August 2008. Research have been conducted in three types of habitat, i.e. (1) “corridor forest”, (2) agricultural field and (3) tea plantation. Nectar volume of several species of dominant plants were measured by using micropipette. Result showed that there were seven families, that consisted of and 61 species of 7 032 individuals of butterflies. The highest frequency of butterflies was found on July between 09.00-11.00 am and 13.00-14.00 pm. High secretion of nectar of se species of plants were observed in the morning (07.00-09.00 am). Wing scale type is important character for identification of butterfly. Wings scale of Amathusidae, Hesperiidae, Nymphalidae, Papilionidae, Pieridae, and Rhiodinidae were rectangular and triangular and family Lycaenidae was dominated by rectangular wing scale.
RINGKASAN
MUHAMMAD ALI EFENDI. Keragaman Kupu-Kupu (Lepidoptera: Ditrysia) Di Kawasan “Hutan Koridor” Taman Nasional Gunung Halimun- Salak Jawa Barat. Dibimbing oleh RIKA RAFFIUDIN dan TRI ATMOWIDI.
Kupu-kupu (Lepidoptera) berperan penting dalam ekologi, antara lain sebagai polinator dan bioindikator lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari keragaman kupu-kupu di kawasan “hutan koridor” Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGH-S); mempelajari hubungan keragaman kupu-kupu dengan waktu pengamatan, volume nektar, dan faktor lingkungan; dan mempelajari karakteristik tipe sisik sayap kupu-kupu.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2008. Pengamatan ini dilakukan di tiga tipe habitat, yaitu (1) “hutan koridor”, (2) lahan pertanian dan (3) perkebunan teh di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Lokasi penelitian terletak di Desa Cipeteuy Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dan di Desa Purwabakti Cianten Kabupaten Bogor, pada koordinat 6044’00” – 6046’30” dan 106035’30” - 106037’30”. Pengamatan keragaman kupu-kupu dilakukan dengan menggunakan metode scan sampling. Pengamatan dilakukan pukul 07.00- 11.00 dan 13.00-16.00 WIB. Setiap bulan dilakukan tiga kali pengamatan dengan rute yang berbeda. Panjang setiap rute sekitar + 3 km. Pada setiap tipe habitat dilakukan pengamatan sebanyak 18 hari, sehingga total pengamatan di tiga lokasi adalah 54 hari. Pengukuran volume nektar dilakukan menggunakan mikropipet pada pukul 07.00, 09.00, 11.00 dan 14.00 WIB pada beberapa spesies tanaman dominan. Identifikasi kupu-kupu dilakukan di Bagian Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi FMIPA IPB dan di Laboratorium Entomologi LIPI Cibinong dan korespodensi dengan Department of Entomology, The Natural History Museum Londondan Zoologisk Museum The Natural History Museum of Denmark. Pengamatan karakteristik sisik kupu-kupu dilakukan dengan mikroskop binokuler. Sisik diambil dari permukaan depan dan belakang sayap kanan. Pengambilan sisik dilakukan di tiga bagian yaitu (1) dasar (basal), (2) tengah (central) dan (3) tepi (border).
Kupu-kupu yang diamati pada ketiga tipe habitat selama pengamatan terdiri dari tujuh famili dan 61 spesies dengan jumlah 7 032 individu. Famili Nymphalidae merupakan famili dengan jumlah individu yang paling banyak Nymphalidae merupakan famili kupu-kupu yang mempunyai anggota yang paling besar dan penyebaran luas dibandingkan dengan lainnya. Nymphalidae ditemukan dalam jumlah besar dikarenakan pada lokasi penelitian terdapat tumbuhan sebagai sumber pakan maupun tempat bertelur. Sumber pakan Nymphalidae adalah Annonaceae, Leguminoceae, dan Compositae. Perbedaan famili kupu-kupu dominan yang ditemukan di beberapa daerah karena penyebaran kupu-kupu dipengaruhi oleh sebaran tumbuhan inang dan ekologi.
Spesies Yphtima sp. (Nymphalidae), Eurema sp. (Pieridae) dan Delias belisama ditemukan dominan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh. Eurema hecabe mendominasi karena bersifat polifag. Sifat polifag Eurema hecabe menyebabkan spesies tersebut dapat berkembang pada habitat terganggu. Larva kupu-kupu polifag lebih bertahan hidup pada kondisi keragaman tumbuhan inang yang rendah. Tumbuhan pakan Yphtima sp. adalah Arecaceae, Cyperaceae, dan Poaceae; Eurema sp. adalah Caesalpiniaceae, Fabaceae, Euphorbiaceae, sedangkan Delias belisama adalah Poaceae.
Beberapa spesies kupu-kupu ditemukan dengan frekuensi yang rendah dan hanya ditemukan pada salah satu tipe habitat. Spesies kupu-kupu dengan frekuensi rendah dan distribusi terbatas bersifat sensitif terhadap gangguan habitat. Kerusakan habitat menyebabkan fragmentasi dan kepunahan tumbuhan sebagai sumber nektar dan inang kupu-kupu spesialis.
Keragaman kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh masuk dalam kategori sedang (1<H’<3). Pada umumnya, hutan koridor mempunyai keragaman lebih besar dibandingkan di lahan pertanian dan perkebunan teh. Tetapi berdasarkan jumlah individu, di lahan pertanian (2 793 individu) lebih tinggi dibandingkan di hutan koridor (2664 individu), dan perkebunan teh (1575 individu). Sedangkan berdasarkan jumlah famili dan spesies kupu-kupu, di hutan koridor (tujuh famili, 53 spesies) lebih banyak daripada di lahan pertanian (enam famili, 51 spesies), dan perkebunan teh (lima famili, 39 spesies).
Kemerataan (evenness) spesies kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh tinggi (E=0.69, E=0.71, dan E=0.63). Nilai kemerataan yang tinggi untuk tiap habitat menunjukkan tidak ada spesies kupu- kupu yang dominan. Semakin kecil nilai kemerataan spesies, maka penyebaran spesies tidak merata dan terjadi dominasi oleh spesies kupu-kupu tertentu.
Kesamaan Jaccard (Cj) dan Sorensen (Cs) spesies kupu-kupu antara hutan koridor-lahan pertanian, hutan koridor-perkebunan teh dan lahan pertanian- perkebunan teh cukup tinggi, yaitu berturut-turut sebesar Cj=0.76 (Cs=0.85), Cj=0.61 (Cs=0.80), dan Cj=0.64 (Cs=0.78). Hal ini disebabkan karena beberapa spesies tumbuhan inang ditemukan di ketiga habitat tersebut. Selain itu, ketiga tipe habitat letaknya berdekatan, sehingga spesies kupu-kupu dapat melakukan aktivitas di ketiga habitat tersebut.
Nilai estimasi kupu-kupu yang dikoleksi dari hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh mencapai 95.69%. Hasil ini mengindikasikan pengamatan keragaman kupu-kupu dengan metode scan sampling dengan alat jaring adalah efektif. Hal ini berarti pengambilan contoh kupu-kupu yang dilakukan dapat menggambarkan 95.69% spesies kupu-kupu yang ada di ketiga lokasi.
Selama penelitian dari bulan Maret sampai Agustus 2008, kisaran waktu pukul 09.00-11.00 dan 13.00-13.59 WIB ditemukan kupu-kupu dengan kelimpahan tinggi. Jumlah individu, spesies, dan indeks keragaman spesies kupu- kupu berbeda setiap bulan. Perbedaan keragaman kupu-kupu setiap bulan berkaitan dengan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan dalam keberadaan dan keragaman kupu-kupu diantaranya musim, suhu, curah hujan,
cahaya, kelembaban, vegetasi, predator, dan parasit. Jumlah individu dan spesies kupu-kupu lebih banyak ditemukan di musim penghujan daripada musim kemarau. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan kematian larva dan pupa spesies kupu-kupu.
Hasil penelitian menunjukkan keragaman spesies kupu-kupu tertinggi terjadi pada pukul 09.00-09.59 dan terendah pada pukul 07.00-07.59. Kupu-kupu merupakan hewan poikiloterm, dimana suhu tubuh dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Kupu-kupu umumnya memerlukan suhu tubuh 25o-41oC untuk melakukan aktivitasnya. Kupu-kupu akan berjemur (basking) sebelum terbang untuk memperoleh suhu tubuh optimal .
Keragaman spesies kupu-kupu berkorelasi negatif dengan suhu dan berkorelasi positif dengan curah hujan dan ketinggian. Hal ini berarti semakin tinggi suhu lingkungan maka semakin rendah kelimpahan spesies kupu-kupu. Semakin rendah curah hujan dan ketinggian, semakin tinggi kelimpahan spesies kupu-kupu.
Pada penelitian ini, keragaman kupu-kupu dalam kaitannya dengan volume nektar, menunjukkan tingginya volume nektar di pagi hari tidak diikuti oleh tingginya keragaman kupu-kupu. Keragaman kupu-kupu berhubungan dengan keragaman tumbuhan penghasil nektar dan kandungan gula dalam nektar.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka perlu adanya perhatian khusus terhadap spesies spesifik kupu-kupu agar tidak mengalami kepunahan dengan konservasi. Konservasi spesies spesifik kupu-kupu dilakukan dengan mengkonservasi tumbuhan inang, tidak menangkap kupu, menjaga habitat kupu- kupu dan melakukan penangkaran kupu-kupu.
Sisik sayap kupu-kupu memiliki bentuk dan tipe yang berbeda pada setiap spesies. Tipe sisik sayap kupu-kupu berfungsi dalam pola dan warna pada permukaan sayap. Pola warna sayap kupu-kupu adalah unik dan bersifat individual. Warna sisik sayap tergantung pada struktur dan sifat optik sisik. Struktur sisik berkorelasi dengan pigmentasi. Pigmen melanin dan pterin memberikan warna kuning, merah, cokjlat, dan hitam. Warna sayap kupu-kupu berbeda memiliki fungsi yang berbeda. Pola dan warna sisik merupakan faktor penting dalam termoregulasi.
© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
2. Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.