BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Kendala dalam Perawatan Bahan Pustaka
tidak hilang karena terlepas satu dengan lainnya. Dengan gitu bahan pustaka yang telah diperbaiki dengan penjilidan ulang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna perpustakaan.
Jadi perbaikan bahan pustaka itu perlu dilakukan untuk memperpanjang umur suatu koleksi bahan pustaka dan menyelamatkan nilai informasi yang berada di dalamnya dengan cara menambal, membenahi kondisi fisik bahan pustaka agar dapat digunakan oleh lebih banyak pengguna.
2.7 Kendala dalam Perawatan Bahan Pustaka
Selain memiliki tujuan dan fungsi yang baik, ternyata dalam perawatan bhaan pustaka juga mengalami beberapa kendala. Adapun kendala dalam kegiatan perawatan bahan pustaka menurut Sulistyo-Basuki yang dikutip oleh Ni Nyoman (2015) adalah sebagai berikut :
1. Kurangnya tenaga pelestarian yang ada di Indonesia.
2. Banyak pemimpin dan pemegang kebijakan belum memahami tentang kegiatan perawatan dan pelestarian.
3. Praktek yang selama ini yang dilakukan di Indonesia masih banyak yang salah.
4. Berbagai bahan pustaka yang disimpan di perpustakaan, tercetak dengan mutu kertas yang kurang baik mutunya, namun tinggi nilai sejarahnya.
5. Ruang perpustakaan yang tidak dirancang sesuai dengan keperluan pelestarian dan perawatan bahan pustaka.
6. Belum adanya kebijakan pelestarian nasional.
Dapat diambil kesimpulan bahwa kendala dalam perawatan bahan pustaka adalah kuranngnya tenaga, ruangan, dan juga pemahaman tentang pentingnya perawatan dan pelestarian terhadap bahan pustaka.
28 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh informasi atau mencari penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalahnya.
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian deskriptif kualitatif untuk mengetahui bagaimana perawatan bahan pustaka, penyebab kerusakan, dan pencegahan kerusakan yang dilakukan oleh Perpustakaan UMSU.
“Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.”
(Moleong, 2007).
Jenis penelitian inilah yang memungkin peneliti mendapatkan informasi dengan memberikan pertanyaan kepada informan.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada UPT atau Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Kapten Muchtar Basri No.3 Glugur Darat II, Kec. Medan Timur, Kota Medan, Sumatera Utara.
29 3.3 Data dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian kualitatif adalah subjek dari mana data dapat diperoleh seperti dokumen dan lain-lain (Arikunto, 2013). Ada dua sumber data dalam penelitian yaiut sebagai berikut:
1. Data Primer
Data Primer adalah data utama yang diperoleh langsung melalui wawancara kepada narasumber atau informan di anggap dapat memberikan informasi. Sumber data primer pada penelitian ini yaitu dari staf pustakawan yang ada di Perpustakaan UMSU melalui observasi dan wawancara.
2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah data pendukung atau pelengkap yang beperoleh dari buku, jurnal, laporan, majalah, dan dokumen lain yang berhubungan masalah penelitian.
3.4 Informan
Didalam penelitian kualitatif, informan sangat memiliki peran penting sebagai narasumber atau yang memberikan informasi kepada peneliti. Informan adalah orang yang diwawancarai, diminta informasi oleh pewawancara,orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data, informasi, ataupun fakta dari suatu objek penelitian (Bungin, 2007).
30
Tabel 3. 1 Keterangan Informan
Kode Informan Jabatan
I1 Informan 1
Staff Bagian Pengolahan dan Perawatan Koleksi
I2 Informan 2
Staff Bagian Pengolahan dan Perawatan Koleksi
I3 Informan 3 Staff Bagian Pengembangan dan Perencanaan
Informan pada penelitian kali ini adalah 3 orang staf pustakawan di Perpustakaan UMSU. Peneliti mengambil dan mencari informasi dengan melakukan wawancara dan observasi langsung kepada informan yang menurut peneliti bisa memberikan jawaban yang akurat dan berhubungan dengan penelitian peneliti.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah:
1. Wawancara
Menurut Sugiyono (2008) Wawancara adalah pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit. Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan informan yang dapat memberikan keterangan yang dibutuhkan.
Wawancara yang dilakukan merupakan wawancara mendalam yang dilakukan secara langsung dengan pustakawan dan staff bagian layanan teknis dan pengolahan dan juga pustakawan bagian perencanaan dan pengembangan di
31
Perpustakaan UMSU. Peneliti melakukan wawancara dengan mengunakan bantuan alat seperti pedoman wawancara, catatan dan alat perekam suara dengan menggunakan Handphone.
2. Observasi
Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi (Sugiyono, 2010). Teknik pengumpulan data melalui observasi ini dilakukan berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dan akurat observasi dilakukan secara langsung di Perpustakaan UMSU.
3. Studi Kepustakaan
Sebagai pendukung data penelitian melalui berbagai buku, artikel jurnal online, situs website, dan juga data-data tercatat (record) yang berhubungan dengan objek penelitian.
3.6 Analisis Data
Analisis data digunakan untuk mendapatkan data yang benar dan akurat.
“Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar” (Moleong, 2002). Adapun alur kegiatan dalam menganalisis data adalah:
1. Reduksi Data
32
Diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, peabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun yang dapat memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan suatu kesimpulan merupakan tahap akhir yang dilakukan setelah reduksi dan penyajian data. Penarikan kesimpulan berdasarkan hasil verifikasi selama penelitian berlangsung. Kesimpulan dapat ditarik dari hasil kegiatan observasi dan wawancara dengan informan.
3.7 Keabsahan Data
Untuk mengecek keabsahan data peneliti menggunakan beberapa teknik Triangulasi, yaitu teknik yang dilakukan dengan meminta penjelasan lebih lanjut dan data yang diperoleh dengan mencari informasi lebih dari 1 orang. Adapun teknik Triangulasi yang digunakan adalah sebagi berikut:
1. Triangulasi Data
Triangulasi data dengan menggunakan berbagai sumber data seperti hasil wawancara dan observasi. Jadi, peneliti harus mewawancarai informan yang tepat dan mengerti tentang objek penelitian untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.
2. Triangulasi Teori
33
Triangulasi teori adalah memanfaatkan berbagai teori untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat.
Pada penelitian ini, berbagai teori yang telah dijelaskan pada bab II untuk digunakan dalam menguji hasil dari data yang terkumpul serta diperkuat dengan artikel, jurnal, buku yang berhubungan dengan penelitian.
3. Triangulasi Metode
Triangulasi Metode merupakan usaha mengecek keabsahan data, atau mengecek keabsahan temuan penelitian. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama. Seperti peneliti, menggunakan metode wwncara dan didukung dengan metode observasi.
34 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sejarah Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Lahirnya Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kampus III dilatar belakangi oleh lahirnya kampus III UMSU. Pada awalnya UMSU hanya memiliki dua kampus pada lokasi yang berbeda, yaitu kampus I terletak di Jalan Gedung Arca, sedangkan kampus II terletak di jalan Demak Medan.
Usaha mendirikan gedung pada kampus III didasari oleh tuntutan kebutuhan dengan meningkatnya jumlah mahasiswa yang mendaftar pada tahun 1982. Hal mi didasari oleh pihak pimpinan UMSU Medan dengan berupaya untuk menyediakan dan mendirikan kampus baru.
Atas bantuan dari H. Probo Sutedjo selaku dewan kurator UMSU Medan, berdirilah kampus III yang terletak di Jalan Kapten Muchtar Basri, BA No. 3 (Kampus Mercubuana) dengan luas bangunan ± 2 hektar. Pada tahun 1992 kampus III UMSU diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Penerangan Harmoko yang sekaligus meresmikan tiga unit gedung yaitu gedung Rektorat, gedung Fakultas Ekonomi dan gedung Fakultas Hukum yang tergabung dengan Fakultas Isipol serta Rektorat UMSU Medan yang semula berada pada kampus I pindah ke kampus III.
Perpustakaan UMSU mulanya telah berdiri di lingkungan kampus I sejak tahun 1957 tepatnya pada tanggal 17 Februari bersamaan dengan berdirinya
35
Fakultas Filsafat. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, oleh karena meningkatnya jumlah manusia yang mendaftar ke UMSU Medan dimulai pada tahun 1982, pusat penyelenggaraan akademik UMSU Medan yang sebelumnya berada pada kampus I pindah ke kampus III termasuk gedung Rektorat UMSU Medan.
Untuk melengkapi fasilitas dan sarana pendidikan di lingkungan kampus III, maka pada tahun 1994 Pimpinan UMSU mendirikan sebuah perpustakaan baru. Perpustakaan didirikan dengan tujuan untuk mendukung dan menunjang misi pendidikan yang diemban lembaga induknya. Di samping itu untuk mempermudah pengguna memanfaatkan perpustakaan. Dengan berdirinya perpustakaan di lingkungan kampus III, maka sivitas akademik menjadi lebih mudah dalam memanfaatkan fasilitas perpustakaan.
Seiring dengan berkembangnya Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara lokasi kampus berkembang menjadi 3 Lokasi, masing-masing kampus mempunyai gedung perpustakaan sendiri yang dipimpin oleh satu kepemimpinan di pusat yaitu perpustakaan induk dibantu dengan koordinator perpustakaaan di masing-masing cabang yaitu :
1. Kampus I Fakultas Kedokteran di Jl. Gedung Arca No.53 2. Kampus II Pasca Sarjana di Jl. Denai
3. Kampus III (Kampus Pusat) Jl.Muchtar Basri No. 3 Medan
Luas keseluruhan Area Perpustakaan UMSU adalah 1504 m2, area baca 600 m2, area Pemustaka 450 m2, area staff 225 m2, area lainnya 225 m2, yang terbagi
36
pada tiga area yaitu Perpustakaan Induk, Perpustakaan Kedokteran dan Perpustakaan Pasca Sarjana.
4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Perpustakaan 4.2.1 Visi
“Menjadi Pusat penyedia layanan informasi yang unggul bagi civitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan global serta Islam Kemuhammadiyahan. ”
4.2.2 Misi
1. Menyediakan kebutuhan koleksi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka
2. Mengembangakan pusat repository lokal konten (deposit) yang open access
3. Menyelenggarakan pelayanan prima yang memenuhi standar pelayanan umum
4. Mengembangkan sistem otomasi perpustakaan yang standar
5. Mengembangkan total quality manajemen dalam pegelolaan perpustakaan yang terakreditas
6. Melakukan kerja sama perpustakaan tingkatnasional dan internasional.
7. Menyediakan koleksi Kemuhammadiyahan.
4.2.3 Tujuan
1. Terciptanya relevansi antara koleksi perpustakaan dengan kebutuhan pemustaka
37
2. Tersedianya semua lokal konten dalam repositori institusi
3. Tercapainya pelayanan prima yang memenuhi standar pelayanan minimum
4. Terwujudnya standarisasi sistem otomasi perpustakaan
5. Tercapainya akreditas perpustakaan yang memenuhi standar total quality manajemen.
4.3. Kondisi Bahan Pustaka
Secara umum kondisi bahan pustaka di perpustakaan UMSU cukup baik, tetapi ada juga bahan pustaka yang mengalami kerusakan dan perlu diadakannya perbaikan, dan perawatan bahan pustaka. Serta ada juga bahan pustaka yang sudah lama tetapi masih tetap dipertahankan karena masih banyak mahasiswa yang memerlukan bahan pustaka tersebut sebagai referensi dan bahan pustaka tersebut sebaiknya dirawat dan dilestarikan agar tetap bisa dipakai oleh para mahasiswa, dosen ataupun pengunjung perpustakaan lainnya. Koleksi yang terdapat di UMSU tidak hanya terdapat koleksi buku saja, terdapat pula bahan pustaka berupa:
laporan penelitian, skripsi, buku referensi, majalah, dan koran. Di perpustakaan UMSU memiliki koleksi sebanyak 19.088 judul dan 48.333 eksemplar.
4.4 Jenis Kerusakan Bahan Pustaka
Sebelum mengetahui jenis–jenis kerusakan bahan pustaka yang di alami oleh perpustakaan UMSU ada baiknya perlu mengetahui cara staff perpustakaan UMSU mengetahui bahan pustaka tersebut mengalami kerusakann yaitu dengan cara mengecek dari kondisi fisik bahan pustaka tersebut dan dari saat para pengunjung perpustakaan mengembalikan bahan pustaka yang dipinjam.
38
Sebelum dikembalikan ke dalam rak para pustakawan atau staf memeriksa kembali bahan pustaka tersebut dan setiap seminggu sekali para staf melakukan shelving dari situlah para staf bisa mengetahui kondisi bahan pustaka tersebut apakah bahan pustaka tersebut rusak atau tidak, sehingga dapat diperbaiki, dirawat maupun dilestarikan.
Jeniis kerusakan yang pernaah dialami oleh perpustakaan UMSU adalah cover atau sampul bahan pustaka yang rusak, baik itu lepas atupun robek, jilidan bahan pustaka yang rusak, kerusakan bahan pustaka yang terbagi menjadi 2 yang bahan pustaka tersebut memang rusak karena lama dan akibat serangga ataupun memang sengaja dirusak oleh para pengunjung perpustakaan untuk kepentingannya sendiri. Jenis kerusakan juga dikelompokkan sesuai dengan tingkat kerusakannya, ada yang kerusakannya parah dan kerusakan ringan.
Perpustakaan UMSU belum mempunyai ruangan khusus yang memadai dan kegiatan perawatan terhalang oleh dana. Jadi, jika ada bahan pustaka yang rusak tersebut dikelompokkan terlebih dahulu sesuai dengan tingkat kerusakannya, agar memudahkan para pustakawan ataupun staf dalam melakukan kegiatan perawatan bahan pustaka ini.
4.5 Perawatan Bahan Pustaka pada Perpustakaan UMSU
Pentingnya nilai informasi yang terdapat pada bahan pustaka maka perlu diadakannya kegiatan perawatan bahan pustaka. Pelestarian dan Perawatan bahan pustaka meliputi segala aspek usaha merawat bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik serta penyimpanannya dengan tujuan agar koleksi selalu tersedia dan tersedia setiap saat dan siap pakai serta melestarikan
informasi-39
informasi yang terkandung didalamnya. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam merawat bahan pustaka, yaitu: manajemen, tenaga, laboraturium, dan pendanaan. Dengan perawatan bahan pustaka yang baik diharapkan agar bahan pustaka dapat bertahan lama, sehingga perpustakaan tidak perlu membeli bahan pustaka yang sama. Melalui proses perawatan yang benar, lingkungan perpustakaanyusuf dan suhendr akan menjadi sehat dan banyak menarik pengunjung untuk datang keperpustakaan.
4.5.1 Upaya Perawatan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan UMSU
Perawatan bahan pustaka berkaitan dengan perencanaan serta kegiatan mencegah dan mengurangi kerusakan bahan pustaka. Kegiatan ini mencakup pemantauan pengawasan lingkungan , pemasangan tirai kaca untuk menahan sinar, pengembangan perencanaan kesiagaan terhadap kerusakan bahan pustaka, pembuatan bentuk mikro bahan pustaka, serta pelatihan bagi staf perpustakaan.
Untuk mengurangi kerusakan pada bahan pustaka, pustakawan atau staf perpustakaan UMSU melakukan perawatan dengan menggunakan fasilitas dan alat sederhana dan seadanya. Berikut pernyataan wawancara peneliti dan informan dibawah ini :
I1 : “Perawatan yang dilakukan yaitu menjaga kebersihan ruangan dan rak penyimpanan buku dengan menggunakan sapu, kemoceng dan juga vacum cleaner agar tetap bersih dan terhindar dari hama. AC untuk mengatur suhu ruangan agar tetap terjaga, kalau alat untuk bahan pustakanya paling hanya hekter, gunting, penggaris besi, pisau cutter, lem tembak, isolatape, plastic buat menyampul buku agar tidak mudah rusak.”
40
I3 : Di perpustakaan tidak ada memiliki alat khusus untuk melakukan perawatan akan tetapi terkadang kami bekerjasama dengan beberapa pihak di UMSU untuk melakukan perawatan dengan menjaga kebersihan lingkungan perpustakaan.
Upaya perawatan bahan pustaka dimulai dengan menjaga kebersihan lingkungan dan ruangan sekitar perpustakaan, yang paling penting pada rak penyimpanan buku agar tetap terjaga kebersihan buku dan kelestarian informasinya, maka dari itu dibutuhkannya sarana dan prasarana yang memadai.
Dari hasil wawaancara dengan informan pertama dan kedua Perpustakaan UMSU masih melakukan perawatan dengan alat-alat yang seadanya dengan menggunakan alat seperti pengatur suhu ruangan, vacuum cleaner dan peralatan ATK yang biasa digunakan untuk perwatan kertas. Selain itu, mereka juga harus mengupayakan pencegahan kerusakan bahan-bahan pustaka agar terjaganya suatu informasi.
4.5.2 Upaya Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan UMSU
Pencegahan kerusakan bahan pustaka merupakan upaya untuk memperkecil atau menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan bahan pustaka, dari pada melakukan perbaikan yang kondisinya cukup parah dan memerlukan banyak biaya.
Hasil wawancara peneliti dengan pustakawan bagian pengolahan dan perawatan koleksi mengenai pencegahan kerusakan baahan pustaka yang disebaabkan faktor fisika.
41
I1 : “Dulu pernah melakukan fumigasi, karena disini ruangannya juga lembab.
Terakhir kali melakukan fumigasi tahun 2017 dan itu yang melakukannya orang dari perpustakaan daerah. Sekarang udah gak ada lagi melakukan fumigasi atau penyemprotannya, paling hanya menggunakan kapur barus dan bahan pembasmi serangga lain untuk membasmi dan mengusir hewan perusaknya dan selalu menjaga kebersihan lingkkungan sekitar perpustakaan.”
I2 : “Pustakawan di perpustakaan UMSU telah melakukan beberapa upaya untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor fisika, biota maupun manusia sperti menjaga kebersihan, mengatur suhu ruangan, menutup ruangan dengan kain tirai untuk menghalangi masuknya sinar matahari secara langsung, menyuruh pengguna untuk tidak mengenakan sepatu ketika masuk ke perpustakaan, menggunakan kapur barus dan racun pembasmi serangga lainnya, memberi sanksi kepada pemustaka apabila bahan pustaka yang dikembalikan rusak dan memasang CCTV dan rambu-rambu peraturan dimading ruang perpustakaan.”
I3 : Dengan cara meningkatkan koleksi yang sangat tinggi tingkat peminatnya dan juga memberikan sosialisasi penggunaan bahan pustaka yang baik dan benar.
Dari hasil wwancara dengan informan diatas dapat diketahui bahwa Perpustakaan UMSU pernah melakukan kerjasama dengan perpustakaan daerah dalam mencegah kerusakan bahan pustaka dengan cara fumigasi yang dilakukan oleh tenaga ahli dari perpustakaan daerah yang datang langsung ke perpustakaan UMSU, dan terakhir kali dilakukannya fumigasi pada tahun 2017. Sekarang, pustakawan UMSU melakukan pencegahan kerusakan bahan pustaka dengan
42
menjaga kebersihan lingkungan perpustakaan, fumigasi manual dengan menggunakan kapur barus dan pembasmi serangga, memasang CCTV dan meletakkan rambu-rambu peraturan dimading ruang perpustakaan. Juga memberikan himbauan untuk menumbuhkan kesadaran para pengguna akan pentingnya peduli terhadap bahan pustaka.
4.6 Perbaikan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan UMSU
Perbaikan sangat perlu dilakukan untuk memper-panjang umur suatu bahan pustaka dan menyelamatkan nilai informasi yang ada didalamnya dengan cara menambal, menyambung, menjilid, memperbaiki kondisi fisik bahan pustaka agar tahan lama dan dapat digunakan oleh lebih banyak lagi pengguna
Menambal bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan perawatan bahan pustaka. Bagian dari bahan pustaka yang rusak seperti berlubang dapat ditambal atau ditutupi dengan tissue jepang, kertas handmade, tissue berperekat atau bubur kertas.
Menyambung dilakukan untuk merekatkan bagian bahan pustaka atau kertas yang robek atau patah karena lipatan dapat dilakukan dengan cara menyambung bahan pustaka atau kertas yang robek tersebut dengan menggunakan potongan kertas atau kertas tertentu agar tidak memperlebar kerusakan pada bagian kertas yang robek.
Penjilidan ulang perlu dilakukan pada buku atau bahan pustaka yang sudah mengalami kerusakan. Hal ini dilakukan agar susunan buku itu tidak hilang karena terlepas dari satu sama yang lain. Dengan begitu bahan pustaka yang telah
43
diperbaiki dengan penjilidan ulang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna perpustakaan.
Seperti yang diungkapkan informan kedua dan ketiga dalam wawancara:
I2 : “Pustakawan UMSU melakukan perbaikan dengan menambal,menyambung, dan menjilid bagian buku. Jika kerusakan ringan cukup dengan menggunakan lem, isolatape dan hekter seadanya saja, walau kita tau kalau menggunakan isolatape dan hekter dapat membuat lembaran bahan pustaka itu rusak kembali.
Apabila ada sampul buku yang rusak atau halaman yang rusak maka difotokopi atau ambil dari internet atau koleksi yang masih bagus dirak, kemudian dijilid kembali dan disampul. Mengganti sampul buku dengan dilapisi plastik agar bahan pustakanya menjadi lebih rapi dan menarik, juga akan memudahkan dalam mencari informasi yang ingin dicari atau temu kembalinya. Kalau untuk memperkuat punggung buku yang longgar kita menggunakan lem seadanya atau menggunakan solatape hitam dan juga menjahitnya dengan benang agar lebih kuat.”
I3 : “Perbaikan yang dilakukan pada bahan pustaka harus disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka tersebut. Makanya harus dipilih dan dikelompokkan dahulu mana bahan pustaka yang kerusakannya ringan dan yang kerusakannya parah. Jika kerusakan ringan kami dapat memperbaikinya sendiri, seperti menambal, menyambung, memperbaiki cover dan kertas buku yang rusak atau sobek, melakukan penjilidan, menyampul buku menggunakan plastic agar tidak mudah rusak dan rapi. Namun, jika kerusakan parah perpustakaan akan
44
memberikan bahan pustaka yang rusak kebagian fotokopi yang memiliki peralatan lebih lengkap dan memerlukan biaya. ”
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa perbaikan bahan pustaka yang dilakukan pada Perpustakaan UMSU deng.an mengelompokkan bahan pustaka sesuai dengan tingkat kerusakannya. Staf pustakawan UMSU melakukan perbaikan dengan cara menambal, menyambung, memperbaiki cover buku yang lepas atau pun sobek, melakukan penjilidan, menyampul buku agar tidak mudah rusak. Perpustakaan UMSU menambal, menyambung, dan menjilid buku dengan menggunakan alat yang masih sederhana seperti lem, isolatape, hekter, dan juga benang untuk memperkuat engsel buku yang mana alat-alat itu dapat membuat bahan pustaka itu rusak kembali. Jika kerusakan parah pusktakawan UMSU akan melakukannya ke tukang fotokopi dan dibutuhkan biaya yang lebih lagi untuk memperbaikinya.
4.7 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan UMSU Kondisi bahan pustaka dikatakan rusak apa bila terjadi menurunnya kualitas yang dimiliki oleh suatu bahan pustaka sehingga tidak dapat dimanfaatjkan secara optimal. Ada beberapa faktor kerusakan bahan pustaka yang biasanya terjadi di perpustakaan. Kerusakan bahan pustaka sesungguhnya bukan sekedar dikarenakan faktor keusangan yang dimakan oleh waktu saja. Banyak faktor yang mendorong terjadinya kerusakan bahan pustaka tersebut, mulai dari pengaruh fisika/lingkungan, biota, faktor manusia yang salah dalam penanganan,
4.7 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan UMSU Kondisi bahan pustaka dikatakan rusak apa bila terjadi menurunnya kualitas yang dimiliki oleh suatu bahan pustaka sehingga tidak dapat dimanfaatjkan secara optimal. Ada beberapa faktor kerusakan bahan pustaka yang biasanya terjadi di perpustakaan. Kerusakan bahan pustaka sesungguhnya bukan sekedar dikarenakan faktor keusangan yang dimakan oleh waktu saja. Banyak faktor yang mendorong terjadinya kerusakan bahan pustaka tersebut, mulai dari pengaruh fisika/lingkungan, biota, faktor manusia yang salah dalam penanganan,